Jumat, 13 Maret 2026

Tim RisetMu Unmuh Jember Kembangkan Inovasi Program Bi’ah Lughawiyyah di MBS Al Islam Paleran

Tim hibah RisetMu IX dari Universitas Muhammadiyah Jember melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al Islam Paleran pada Sabtu (7/2/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Inovasi Program Bi’ah Lughawiyyah: Strategi Keberlanjutan Pengembangan Bahasa Arab dan Pembinaan Akhlak Santri.”

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Hasna’ Huwaida sebagai ketua tim pengusul bersama Moh. Alfan, serta melibatkan tiga mahasiswa dari lintas program studi. Program ini merupakan implementasi dari hibah RisetMu IX yang berangkat dari hasil penelitian sebelumnya mengenai pembelajaran bahasa Arab berbasis lingkungan atau bi’ah lughawiyyah.

Sebelum pelaksanaan kegiatan, tim terlebih dahulu melakukan observasi untuk memetakan kondisi serta kebutuhan pengembangan lingkungan bahasa Arab di pesantren.

Bi’ah lughawiyyah merupakan pendekatan pembelajaran bahasa Arab yang menekankan pada pembentukan lingkungan bahasa secara sistematis. Lingkungan ini dirancang secara sengaja agar santri memperoleh pengalaman langsung dalam menggunakan bahasa Arab dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui interaksi sehari-hari di lingkungan pesantren.

Hasna’ menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan sebelumnya menunjukkan adanya pengaruh positif pembelajaran bahasa Arab berbasis bi’ah lughawiyyah terhadap pembinaan akhlak santri. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk mengembangkan inovasi program yang dapat menjaga keberlanjutan pembelajaran bahasa Arab sekaligus memperkuat pendidikan karakter di lingkungan pesantren.

Menurutnya, pendidikan akhlak memiliki urgensi yang semakin besar di tengah tantangan era modern yang ditandai dengan berbagai fenomena degradasi moral di masyarakat. Dalam perspektif Islam, pendidikan akhlak tidak hanya berfungsi membentuk perilaku baik, tetapi juga menumbuhkan kemampuan individu dalam menghadapi berbagai kontradiksi kehidupan antara kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kebatilan, serta keadilan dan kezaliman dengan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Pendidikan ini juga mencakup pembinaan hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah) serta hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas).

Kegiatan ini mendapatkan sambutan positif dari pihak pesantren dan peserta yang terdiri atas ustadz, ustadzah, serta pengurus bahasa Arab santri. Direktur MBS Al Islam Paleran, Rizky Pahlevi, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat semakin memotivasi para guru dan santri dalam mempelajari bahasa Arab.

“Kami berharap para guru dan santri tidak hanya memandang bahasa Arab sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebagai kunci untuk membuka khazanah keilmuan Islam yang lebih luas,” ujarnya.

Sementara itu, Siti Nur Arfatika selaku ustadzah penggerak bahasa Arab di MBS Al Islam Paleran mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan banyak wawasan baru terkait strategi pengajaran bahasa Arab melalui penguatan bi’ah lughawiyyah.

Sebagai penutup kegiatan, tim pengabdian menyerahkan sejumlah produk pendukung program, di antaranya modul implementasi bi’ah lughawiyyah di lingkungan MBS Al Islam Paleran, poster bahasa Arab sebagai media pembelajaran visual, serta buku-buku bacaan dan pembelajaran bahasa Arab guna menambah literasi santri dan santriwati.

Melalui kegiatan ini, tim RisetMu IX Universitas Muhammadiyah Jember berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan pembelajaran bahasa Arab sekaligus memperkuat pembinaan akhlak santri. Program ini juga menjadi bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Selasa, 10 Maret 2026

Waspada Lonjakan Campak, Dokter Anak RSU Unmuh Jember Ingatkan Pentingnya Imunisasi

Meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Lebaran berpotensi mempercepat penyebaran penyakit campak, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Hal ini diingatkan oleh dr. Fiqi Isnaini Nurul Hikmah, Sp.A, dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Jember.

Menurut dr. Fiqi, campak merupakan penyakit infeksi virus akut yang sangat menular dan disebabkan oleh virus dari kelompok paramyxovirus. Penularannya terutama melalui udara (airborne) ketika penderita batuk, bersin, atau bernapas di dekat orang lain. Selain itu, virus juga dapat menyebar melalui percikan air liur maupun benda-benda yang telah terkontaminasi, seperti mainan atau permukaan yang disentuh penderita.

“Campak bisa menular sejak empat hari sebelum munculnya ruam hingga empat hari setelah ruam muncul,” jelasnya. Kondisi ini membuat penyebaran penyakit menjadi sangat cepat, terutama pada lingkungan dengan mobilitas tinggi seperti momen silaturahmi Lebaran.

Secara global, kasus campak masih menjadi perhatian serius. Indonesia bahkan tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus campak yang tinggi di dunia. Pada tahun 2025 tercatat 69 kematian akibat campak, dan hingga awal 2026 telah dilaporkan beberapa kasus kematian tambahan akibat penyakit tersebut.

dr. Fiqi menjelaskan, gejala awal campak yang perlu diwaspadai orang tua antara lain demam tinggi yang disertai batuk dan pilek, mata merah atau berair (konjungtivitis), serta munculnya ruam kemerahan pada kulit. Ruam biasanya muncul sekitar tiga hingga empat hari setelah demam, dimulai dari belakang telinga atau kepala, kemudian menyebar ke wajah, badan, hingga seluruh anggota tubuh.

“Ruam akan muncul dari kepala kemudian menyebar ke badan dan seluruh anggota tubuh. Dalam beberapa hari ruam akan menggelap lalu memudar,” ungkapnya.

Risiko penularan menjadi lebih tinggi apabila seseorang memiliki riwayat kontak dengan penderita campak sekitar 10 hingga 12 hari sebelum gejala muncul. Jika gejala tersebut ditemukan, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan lebih cepat.

Imunisasi menjadi langkah pencegahan paling efektif untuk melindungi anak dari penyakit campak. Vaksin campak atau MR tidak hanya dapat mencegah infeksi, tetapi juga dapat mengurangi risiko komplikasi berat hingga kematian apabila seseorang tetap terinfeksi.

Selain imunisasi, masyarakat juga diimbau menerapkan protokol kesehatan selama momen Lebaran. Penggunaan masker di tempat ramai, menjaga kebersihan tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, serta menghindari kontak langsung dengan bayi merupakan langkah penting untuk mencegah penularan.

Bayi dan anak kecil termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap campak. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak sembarangan menyentuh atau mencium bayi saat bersilaturahmi.

Apabila terdapat anggota keluarga yang terinfeksi campak, sebaiknya dilakukan isolasi atau dipisahkan sementara dari anggota keluarga lain yang sehat agar tidak terjadi penularan lebih lanjut.

“Pesan saya kepada masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki anak-anak, pastikan imunisasi campak sudah lengkap. Jika belum, segera lakukan imunisasi. Jika sudah imunisasi dasar, segera lengkapi dengan imunisasi lanjutan,” pungkas dr. Fiqi.

Ia juga berharap masyarakat tetap menjaga kesehatan selama momen Lebaran. “Semoga Lebaran tahun ini kita semua diberikan kesehatan dan terhindar dari penyakit campak,” tutupnya.

Kamis, 05 Maret 2026

Lawan Brainrot dengan Puasa! Dosen Unmuh Jember Ungkap Cara Medis Lindungi Sel Otak dari Konten Absurd

Fenomena brainrot kian marak diperbincangkan di tengah derasnya arus konten digital. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika pikiran terasa tumpul akibat paparan video pendek, meme repetitif, hingga tren absurd yang dikonsumsi secara terus-menerus. Tanpa disadari, kebiasaan scrolling tanpa henti di platform seperti TikTok dan Instagram Reels dapat mengganggu konsentrasi, menurunkan fokus, bahkan memengaruhi kesehatan otak dalam jangka panjang.

Gejalanya tampak sederhana namun mengganggu: sulit fokus membaca atau menyimak materi serius, perhatian mudah terpecah, hingga pikiran terus terngiang potongan audio viral. Jika dibiarkan, kondisi ini bukan sekadar persoalan kebiasaan digital, melainkan berpotensi memicu gangguan fungsi kognitif.

Dosen Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember, Dr. Wahyudi Widada, menjelaskan bahwa fenomena brainrot berkaitan dengan penurunan kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). BDNF merupakan bagian dari neurotrofin yang berperan penting dalam pertumbuhan, kelangsungan hidup, serta diferensiasi sel saraf.

“BDNF sangat vital dalam menjaga plastisitas dan fungsi neuron,” ujarnya.

 Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kadar BDNF yang rendah ditemukan pada pasien depresi, skizofrenia, hingga penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer's disease dan Parkinson's disease. Pada pasien stroke, rendahnya BDNF juga berkorelasi dengan peningkatan risiko depresi pasca stroke serta penyusutan volume hipotalamus bagian otak yang berperan dalam memori dan pengaturan emosi.

Penurunan dukungan neurotrofik akibat rendahnya BDNF dapat memicu perubahan struktural, termasuk atrofi jaringan otak. Pada kasus depresi mayor, volume hipotalamus dilaporkan menyusut hingga 5–10 persen.

Namun demikian, terdapat kabar baik. Berbagai studi dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa puasa dan intermittent fasting berpotensi meningkatkan kadar BDNF, khususnya di area hipotalamus. Mekanisme ini berkaitan dengan fase ketosis yang terjadi setelah 12–16 jam tanpa asupan kalori.

Saat cadangan glikogen tubuh menipis, tubuh mulai memecah lemak dan menghasilkan B-hydroxybutyrate (BHB). Senyawa ini tidak hanya menjadi sumber energi alternatif bagi otak, tetapi juga berperan sebagai molekul sinyal yang memicu ekspresi gen BDNF. Peningkatan BDNF inilah yang memberikan efek neuroprotektif atau perlindungan pada sel-sel otak.

Dengan demikian, puasa bukan sekadar ibadah atau pola makan, melainkan juga strategi biologis yang mendukung kesehatan otak di tengah gempuran konten digital berlebihan.

“Peningkatan BDNF membantu menjaga plastisitas neuron, memperbaiki fungsi jaringan saraf, serta berpotensi melindungi otak dari dampak brainrot akibat paparan konten digital yang berlebihan,” pungkasnya.

 

Selasa, 03 Maret 2026

Unmuh Jember Beri Pendampingan Kepemimpinan Remaja Berbasis Nilai Islam di Panti Asuhan Budi Mulia Jember

Upaya membentuk generasi muda yang berkarakter dan berjiwa pemimpin terus dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada Jumat, (13/2/2026), di Panti Asuhan Muhammadiyah Budi Mulia Jember. Kegiatan bertajuk Pendampingan Kepemimpinan Remaja Berbasis Nilai-Nilai Islam Kemuhammadiyahan sebagai Model Leadership Smart Social Care ini menjadi bagian dari skema Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Internal 2025/2026 Program Kemitraan Masyarakat Stimulus (PKMS).

Program ini diinisiasi oleh tim pengusul yang terdiri dari Dr. Akbar Maulana, S.IP., M.Si. dan Dr. Sudahri, S.Sos., M.I.Kom., dengan melibatkan mahasiswa Nina Anggel Febrianti dan Achmad Rifqi Hidayat sebagai bagian dari implementasi program. Kolaborasi ini memperkuat integrasi antara tridarma perguruan tinggi dan penguatan kapasitas kelembagaan panti asuhan.

Program tersebut lahir dari keprihatinan terhadap berbagai tantangan yang dihadapi remaja panti, mulai dari keterbatasan figur teladan, rendahnya kepercayaan diri, minimnya pengalaman kepemimpinan, hingga kurangnya ruang aktualisasi diri. Di tengah dinamika era governance modern yang menuntut pemimpin adaptif, kolaboratif, dan berintegritas, kebutuhan akan pembinaan kepemimpinan yang terstruktur menjadi semakin mendesak. Terlebih, panti asuhan sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah belum memiliki model pembinaan kepemimpinan yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam Kemuhammadiyahan secara sistematis.

Melalui pendekatan berbasis nilai amanah, tanggung jawab sosial, dan keteladanan, konsep Leadership Smart Social Care diperkenalkan sebagai model kepemimpinan sosial yang empatik, responsif, dan relevan dengan perkembangan era digital. Pelaksanaan kegiatan dirancang melalui lima tahapan utama, yakni analisis kebutuhan, pelatihan kepemimpinan, pendampingan praktik melalui simulasi kegiatan panti, penyusunan modul dan model pendampingan, serta evaluasi komprehensif menggunakan observasi, pre-post test, dan wawancara.

Pendekatan experiential learning menjadi metode utama dalam proses pendampingan. Para remaja tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga belajar melalui praktik langsung, refleksi, dan umpan balik yang berkelanjutan. Luaran kegiatan ini ditargetkan mencakup publikasi media massa, artikel ilmiah pada jurnal terindeks Sinta 4, modul pelatihan Leadership Smart Social Care, serta satu produk Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa model pendampingan kepemimpinan remaja berbasis nilai Islam Kemuhammadiyahan.

Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat karakter remaja panti sebagai calon pemimpin muda yang berakhlak, berintegritas, dan siap menghadapi dinamika sosial di era modern, sekaligus menjadi model penguatan kepemimpinan berbasis nilai yang dapat direplikasi di berbagai Amal Usaha Muhammadiyah lainnya.

  

Resmi Terakreditasi Unggul, Prodi Ilmu Pemerintahan Unmuh Jember Proyeksikan Program Magister dan Perkuat Dampak Tata Kelola Lokal

Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Jember resmi meraih predikat Unggul berdasarkan SK LAMSPAK Nomor 022/AK.03.05/2026 dengan masa berlaku 2 Desember 2025 hingga 2 Desember 2030. Capaian ini menjadi tonggak penting dalam penguatan mutu akademik sekaligus penegasan komitmen prodi dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang adaptif dan berdampak di bidang tata kelola pemerintahan. 

Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan, Dr. Iffan Gallant El Muhammady, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja panjang yang telah dimulai sejak 2022. Proses tersebut diawali dengan evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum lama, yang dinilai perlu disesuaikan dengan perkembangan keilmuan dan kebutuhan pemangku kepentingan. Melalui pendampingan Asosiasi Ilmu Pemerintahan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AIPPTM), Asosiasi Dosen Ilmu Pemerintahan (ADIPSI), dan Kesatuan Program Studi Ilmu Pemerintahan Indonesia (KAPSIPI), serta forum diskusi dengan stakeholder internal dan eksternal, prodi berhasil menyusun kurikulum baru yang disahkan pada 2024. Kurikulum tersebut kemudian menjadi fondasi utama dalam proses akreditasi hingga akhirnya berhasil meraih predikat Unggul.

Menurut Dr. Iffan, raihan ini bukan akhir, melainkan awal dari kerja strategis menuju akreditasi berikutnya pada 2030. Prodi telah menyiapkan perencanaan jangka menengah hingga lima tahun ke depan, termasuk melakukan perbaikan atas sejumlah rekomendasi asesor, khususnya dalam aspek internasionalisasi. Ke depan, peningkatan kolaborasi internasional bagi dosen dan mahasiswa menjadi prioritas agar tidak hanya satu atau dua individu yang terlibat, melainkan lebih luas dan sistematis. Selain itu, paradigma pengelolaan program juga akan bergeser dari berbasis anggaran menjadi berbasis data dan kebutuhan riil. Artinya, setiap kegiatan dirancang berdasarkan analisis yang kuat demi mencapai target mutu yang lebih tinggi.

Langkah strategis lainnya adalah rencana pembukaan Program Magister (S2) Ilmu Pemerintahan yang akan didaftarkan pada Maret 2026. Rencana ini didasarkan pada hasil survei kebutuhan di wilayah Tapal Kuda yang menunjukkan tingginya permintaan terhadap lulusan S2 Ilmu Pemerintahan, terutama dari kalangan aparatur pemerintahan daerah. Jika proses berjalan sesuai rencana, izin operasional diharapkan terbit pada Juli dan penerimaan mahasiswa baru dapat dimulai Agustus 2026.

Untuk menghidupkan suasana akademik, Prodi Ilmu Pemerintahan berencana meluncurkan forum akademik bulanan 'Raboan' sekaligus menghidupkan kembali diskusi publik 'Cangkir' (Cangkruk dan Berfikir). Forum ini akan menjadi ruang diskusi kepakaran dosen dan mahasiswa dalam membahas isu-isu strategis seperti administrasi publik, tata kelola pemerintahan, kebijakan publik, hingga politik dan sosial politik. Melalui forum ini, prodi ingin membangun budaya akademik yang dinamis dan terbuka, sekaligus memperkuat identitas keilmuan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Lebih jauh, Dr. Iffan menegaskan bahwa capaian Unggul harus berdampak nyata bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa dosen tidak boleh hanya berada di “menara gading”, tetapi harus menjadi intelektual yang hadir di tengah masyarakat, memberikan sumbangsih pemikiran dan strategi dalam menjawab persoalan kebijakan publik. Visi keilmuan prodi yang mengusung adaptive local governance diarahkan untuk memperkuat tata kelola pemerintahan lokal, termasuk melalui kerja sama dengan pusat studi desa dan pengembangan program pemberdayaan di tingkat desa.

Dengan predikat Unggul yang kini disandang hingga 2030, Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Jember optimistis mampu memperluas jejaring, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menghadirkan kontribusi nyata dalam pembangunan pemerintahan yang adaptif dan berkelanjutan di tingkat lokal maupun nasional.

Rabu, 25 Februari 2026

Mahasiswa KKN Tematik Posko 17 Unmuh Jember Resmi Mengabdi di Desa Tutul, Paparkan Program Kerja dan Hadirkan Inovasi Biopori

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Posko 17 Universitas Muhammadiyah Jember menggelar seremonial pembukaan dan pemaparan program kerja pada Senin (2/2/2026) di Balai Desa Tutul, Kecamatan Balung. Kegiatan ini menjadi langkah awal pelaksanaan KKN sekaligus bentuk koordinasi resmi dengan pemerintah desa.

Acara dihadiri Kepala Desa Tutul beserta perangkat desa dan seluruh anggota KKN Posko 17. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan diri satu per satu beserta program studi masing-masing guna mempermudah koordinasi selama masa pengabdian.

Koordinator KKN Tematik Posko 17 menyampaikan bahwa program kerja yang disusun merupakan hasil observasi lapangan dan identifikasi kebutuhan desa. Program tersebut mencakup bidang pendidikan, lingkungan, serta sosial kemasyarakatan. “Seluruh program kami rancang untuk mendukung pembangunan desa dan akan dilaksanakan melalui koordinasi bersama pemerintah desa,” ujarnya.

Kepala Desa Tutul dalam sambutannya mengapresiasi keterbukaan mahasiswa dalam memaparkan rencana kerja secara terstruktur. Ia berharap seluruh kegiatan dapat berjalan lancar dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Seremonial ini menjadi penanda resmi dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa KKN Tematik Posko 17 di Desa Tutul, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa.

Sebagai implementasi program lingkungan, mahasiswa KKN Tematik Posko 17 juga melaksanakan pembuatan lubang biopori di sejumlah titik Desa Tutul. Kegiatan ini difokuskan sebagai solusi sederhana dan ramah lingkungan untuk mengatasi genangan air yang kerap muncul saat musim hujan, termasuk di area Balai Desa.

Lubang biopori merupakan lubang resapan berbentuk silinder vertikal dengan diameter sekitar 10–15 cm dan kedalaman kurang lebih 100 cm. Fungsinya untuk mempercepat penyerapan air hujan ke dalam tanah sekaligus menjadi media pengolahan sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan rumah tangga.

Kegiatan ini melibatkan mahasiswa KKN bersama perangkat desa dan warga setempat. Pembuatan dilakukan menggunakan bor tanah manual, kemudian lubang diisi sampah organik dan ditutup dengan penutup khusus agar tetap aman.

Program biopori tidak hanya membantu mengurangi genangan air, tetapi juga menghasilkan kompos alami dari proses penguraian sampah organik. Salah satu warga Desa Tutul, Ibu Siti, mengungkapkan manfaat yang dirasakan. “Biasanya kalau hujan deras, air sering menggenang di halaman rumah. Setelah ada biopori, air lebih cepat meresap. Sampah dapur juga bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Melalui program ini, mahasiswa berharap masyarakat dapat melanjutkan pembuatan biopori secara mandiri di lingkungan masing-masing. Kolaborasi antara mahasiswa dan warga diharapkan mampu menciptakan perubahan kecil yang berdampak besar bagi kelestarian lingkungan Desa Tutul secara berkelanjutan.

Mahasiswa KKN Unmuh Jember Lakukan Studi Lapangan UMKM Tempe di Desa Rambipuji

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Jember melaksanakan studi lapangan pada sejumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) produksi tempe di Desa Rambipuji. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekonomi lokal sekaligus pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa di tengah masyarakat.

Desa Rambipuji diketahui memiliki belasan produsen tempe aktif yang menjalankan usaha secara mandiri. Tingginya jumlah produsen membuat distribusi tempe dari desa ini tidak hanya beredar di wilayah lokal, tetapi juga menjangkau kota-kota lain di luar Jember, mengingat ketatnya persaingan pasar tempe di kawasan perkotaan.

Salah satu UMKM yang menjadi lokasi studi adalah usaha milik Bu Ani. Produsen ini menjalankan produksi setiap hari dengan kapasitas sekali produksi mencapai 90 kilogram kedelai. Dari jumlah tersebut dihasilkan tempe dengan berat sekitar 1,25 kilogram per balok, dengan total produksi kurang lebih 100 potong per hari.

Mahasiswa KKN tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga menyaksikan langsung proses fermentasi dan penyimpanan tempe, serta membantu penimbangan dan pengemasan kedelai. Proses pematangan tempe memerlukan waktu dua hingga tiga hari, tergantung kondisi lingkungan. Tahap perebusan kedelai pun dipengaruhi kualitas bahan bakar; kayu bakar kering dinilai mampu mempercepat proses dibandingkan kayu yang masih basah.

Secara umum, tahapan produksi tempe dimulai dari perendaman kedelai, perebusan, penggilingan, perendaman ulang, perebusan kembali, penggilingan kedua, hingga penambahan ragi sebelum fermentasi berlangsung. Komposisi ragi yang digunakan adalah satu sendok untuk setiap satu kilogram kedelai agar fermentasi berjalan optimal.

Usaha tempe milik Bu Ani telah berjalan sekitar 10 tahun dan menjadi sumber penghasilan utama keluarga, selain usaha ternak yang dijalankan bersamaan. Dalam satu bulan, UMKM ini mampu mencatat omzet kotor sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta. Produksi dilakukan setiap hari dan hanya berhenti pada malam takbiran, dengan dukungan satu orang karyawan dalam operasionalnya.

Melalui studi lapangan ini, mahasiswa KKN memperoleh gambaran nyata mengenai peran strategis UMKM tempe dalam menopang perekonomian desa. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap potensi ekonomi lokal sekaligus mendorong pengembangan UMKM sebagai sektor penting dalam pembangunan desa yang berkelanjutan.

Connect