Senin, 26 Oktober 2026

Hadirkan English Corner, Mahasiswa KKN-T Mandiri Unmuh Jember Bangun Kepercayaan Diri Anak Berbahasa Inggris


Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Mandiri Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menghadirkan program English Corner di Dusun Semboro Lor, RT 002/RW 024, Desa Semboro, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember. Program ini bertujuan meningkatkan kepercayaan diri anak-anak dalam berbicara bahasa Inggris melalui pembelajaran yang interaktif, menyenangkan, dan mudah dijangkau masyarakat.

Kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Minggu tersebut bertempat di kediaman Fadhila Nurul Fazriyah, mahasiswa KKN-T Mandiri Unmuh Jember sekaligus pelaksana program. Sebelum kegiatan dimulai, sosialisasi kepada orang tua calon peserta telah dilaksanakan pada Minggu (11/10/2026).

Pertemuan pertama English Corner berlangsung pada Minggu (18/10/2026), pukul 18.00–19.30 WIB, dengan mengusung topik “My Super Introduction”. Sebanyak 10 anak dari jenjang kelas II sekolah dasar (SD) hingga kelas I sekolah menengah pertama (SMP) mengikuti kegiatan tersebut.

Pada pertemuan awal, mahasiswa melakukan pengamatan terhadap kemampuan dasar peserta, terutama dalam memperkenalkan diri, menggunakan kosakata sederhana, dan melafalkan kata-kata bahasa Inggris (pronunciation). Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memahami kemampuan peserta sekaligus menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan mereka.

Program kemudian berlanjut pada pertemuan kedua, Minggu (25/10/2026), dengan topik “Find Someone Who: Asking and Answering about Personal Experiences”. Kegiatan ini kembali diikuti oleh 10 peserta yang diajak berlatih mengajukan dan menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris mengenai pengalaman pribadi melalui permainan interaktif Find Someone Who.

Melalui permainan tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan bahasa Inggris secara langsung, melatih keterampilan menyimak, serta membangun keberanian berkomunikasi dalam suasana yang lebih santai. Metode pembelajaran berbasis permainan dipilih agar anak-anak dapat belajar tanpa merasa takut melakukan kesalahan.

Fadhila Nurul Fazriyah menjelaskan bahwa English Corner tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembentukan kepercayaan diri anak dalam menggunakan bahasa Inggris.

“Tujuan utama kami bukan sekadar teori, tetapi membangun kepercayaan diri anak. Kami ingin mereka berani berbicara bahasa Inggris terlebih dahulu, kemudian secara bertahap memperbaiki kosakata dan pronunciation. Karena itu, kegiatan dirancang melalui permainan dan interaksi agar anak-anak merasa nyaman saat belajar,” ujarnya.

Inisiatif ini mendapat sambutan positif dari Pemerintah Desa Semboro. Kepala Desa Semboro, Antony, menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan program yang dinilai memberikan kesempatan belajar tambahan bagi anak-anak di wilayahnya.

“Kami dari Pemerintah Desa Semboro sangat mendukung program English Corner ini. Kegiatan ini sangat positif untuk anak-anak di Dusun Semboro Lor. Semoga bisa berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata untuk meningkatkan kualitas pendidikan,” tuturnya.

Dukungan juga datang dari orang tua peserta. Program ini dinilai dapat menjadi alternatif pembelajaran di luar jam sekolah dan lembaga kursus. Dengan pelaksanaan yang dekat dengan lingkungan tempat tinggal, anak-anak diharapkan memiliki kesempatan lebih luas untuk berlatih bahasa Inggris tanpa harus mengikuti pembelajaran formal di tempat kursus.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN, Dr. Dzarna, M.Pd., menambahkan bahwa program tersebut merupakan bentuk penerapan kompetensi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

“English Corner adalah implementasi langsung dari ilmu yang didapatkan mahasiswa FKIP. Kendala perbedaan jenjang SD dan SMP justru menjadi tantangan pedagogis untuk melakukan penyesuaian materi dan pendampingan,” jelasnya.

Melalui dua pertemuan awal, English Corner mulai mengembangkan pembelajaran secara bertahap, dari keterampilan memperkenalkan diri hingga kemampuan mengajukan dan menjawab pertanyaan tentang pengalaman pribadi. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu peserta meningkatkan keterampilan komunikasi sekaligus menumbuhkan motivasi untuk terus belajar bahasa Inggris.

Fadhila menegaskan bahwa program English Corner direncanakan berlangsung secara rutin setiap hari Minggu dan diupayakan tetap berlanjut setelah masa KKN-T berakhir. Keberlanjutan program diharapkan dapat menghadirkan ruang belajar bahasa Inggris yang menyenangkan, mudah diakses, dan bermanfaat bagi anak-anak di Dusun Semboro Lor.

Melalui program ini, mahasiswa KKN-T Mandiri Unmuh Jember tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga berkontribusi dalam memperluas akses pembelajaran bahasa Inggris di lingkungan masyarakat. Langkah sederhana ini diharapkan menjadi awal bagi tumbuhnya generasi muda yang lebih percaya diri, berani berkomunikasi, dan siap menghadapi tantangan di era global.

Kamis, 15 Oktober 2026

Dosen Unmuh Jember Raih Gelar Doktor di Jepang, Teliti Resiliensi Rantai Pasok untuk Bantu Masyarakat Pulau Terisolasi

Upaya menghadirkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat menjadi salah satu semangat yang mengiringi perjalanan akademik Fitriana Dina Rizkina, S.T.P., M.Sc., Ph.D. Dosen Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) tersebut berhasil menyelesaikan studi doktoral di Ehime University, Jepang, dengan fokus penelitian pada manajemen dan resiliensi rantai pasok (supply chain resilience) komoditas perikanan di wilayah pulau terisolasi.

Penelitian ini mengkaji bagaimana sistem rantai pasok perikanan berjalan di Pulau Bawean, Indonesia, dan Pulau Uo atau Uoshima, Jepang. Kedua lokasi tersebut menjadi ruang bagi Fitriana untuk mempelajari tantangan distribusi hasil tangkapan, keterbatasan fasilitas penyimpanan, hubungan antara nelayan dan pembeli, serta kemampuan sistem rantai pasok dalam menghadapi berbagai hambatan.

Riset tersebut berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di wilayah kepulauan. Bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor perikanan, keberhasilan menangkap ikan belum tentu berbanding lurus dengan keuntungan yang diperoleh. Biaya operasional, keterbatasan fasilitas penanganan hasil tangkapan, dan ketidakpastian penyerapan pasar dapat memengaruhi keberlanjutan usaha nelayan.

Melalui penelitian komparatif di Indonesia dan Jepang, Fitriana berupaya memahami perbedaan kondisi dan praktik pengelolaan rantai pasok di kedua wilayah. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk merumuskan rekomendasi yang relevan bagi masyarakat di pulau terisolasi, sekaligus membuka peluang penelitian baru mengenai ketahanan sistem rantai pasok dalam menghadapi persoalan serupa.

Perjalanan akademik Fitriana dalam bidang manajemen agroindustri telah dimulai sejak menempuh pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada jenjang tersebut, ia telah menaruh perhatian pada bidang manajemen agroindustri yang kemudian menjadi landasan bagi pengembangan risetnya di jenjang pendidikan berikutnya.

Ketertarikan terhadap bidang tersebut berlanjut ketika Fitriana menempuh pendidikan magister di Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat menjalani studi S2, ia memperoleh kesempatan mengikuti program joint degree selama satu tahun di Jepang. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada lingkungan akademik internasional, membuka kesempatan melakukan penelitian di luar negeri, sekaligus membangun jejaring dengan para profesor di Ehime University.

Pengalaman itu menjadi salah satu fondasi yang mendorongnya melanjutkan pendidikan doktoral di universitas yang sama. Selain telah mengenal lingkungan akademiknya, Fitriana juga memiliki landasan riset yang selaras dengan bidang keilmuan yang terus dikembangkannya.

Konsistensi tersebut terlihat dari kesinambungan fokus penelitian yang ditekuni sejak jenjang sarjana hingga doktoral. Dari manajemen agroindustri, kajian Fitriana berkembang pada persoalan manajemen rantai pasok dan logistik, dengan komoditas serta konteks penelitian yang berbeda pada setiap jenjang pendidikan.

Pada jenjang magister, ia meneliti rantai pasok komoditas jeruk dengan membandingkan konteks Indonesia dan Jepang. Sementara itu, pada jenjang doktoral, fokus penelitiannya beralih pada rantai pasok perikanan di wilayah pulau terisolasi. Kesinambungan ini memberinya kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai pengelolaan rantai pasok sekaligus melihat bagaimana sistem tersebut bekerja dalam karakteristik wilayah yang berbeda.

Seluruh perjalanan pendidikan tersebut juga ditopang oleh beasiswa. Fitriana memperoleh dukungan beasiswa sejak jenjang sarjana, magister, hingga doktoral. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanannya dalam mengembangkan kapasitas akademik tanpa menjadikan keterbatasan ekonomi sebagai alasan untuk menghentikan cita-cita pendidikan.

Perjalanan Fitriana menuju studi doktoral tidak berlangsung tanpa hambatan. Setelah menyelesaikan pendidikan magister, ia melanjutkan perjalanan karier akademiknya di tengah situasi pandemi COVID-19 yang membawa perubahan besar bagi banyak keluarga.

Pada 2021, keluarganya mengalami musibah terkait COVID-19 sehingga Fitriana harus kembali ke Jember dan mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya. Situasi tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya sebelum kembali menata karier dan mempersiapkan pendidikan doktoral.

Di tengah masa sulit itu, Fitriana mengingat kepedulian warga Muhammadiyah yang hadir untuk membantu keluarganya. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan ketika keluarganya menghadapi musibah.

Pengalaman tersebut menjadi bagian bermakna dalam perjalanan hidupnya, sekaligus memperlihatkan pentingnya kepedulian sosial dan dukungan antarsesama ketika menghadapi situasi yang tidak mudah.

Setelah kembali ke Jember, Fitriana melanjutkan karier akademiknya dan mempersiapkan diri untuk menempuh pendidikan doktoral. Ia mengikuti seleksi beasiswa yang disponsori pemerintah Jepang. Pada percobaan pertama, ia belum berhasil lolos seleksi yang kompetitif.

Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti. Fitriana mengevaluasi dan memperbaiki rekam jejak akademik, publikasi, serta portofolio penelitian sebelum kembali mencoba pada kesempatan berikutnya. Proses persiapan dan seleksi berlangsung panjang, hingga akhirnya ia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi doktoral di Jepang.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan akademik membutuhkan persiapan yang matang, konsistensi, dan kesediaan untuk memperbaiki diri ketika menghadapi kegagalan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Fitriana dalam penelitiannya adalah bagaimana nelayan di pulau terisolasi menghadapi keterbatasan sistem distribusi dan fasilitas penanganan ikan.

Di Pulau Bawean, nelayan menghadapi tantangan berupa biaya bahan bakar yang tinggi, risiko selama melaut, serta keuntungan yang relatif tipis. Hasil tangkapan juga harus melewati sejumlah pelaku distribusi sebelum sampai kepada konsumen. Kondisi tersebut memengaruhi pembagian margin keuntungan di sepanjang rantai pasok, termasuk bagi nelayan yang berada di bagian hulu.

Persoalan lain berkaitan dengan ketersediaan fasilitas rantai dingin (cold chain). Ikan membutuhkan penanganan yang cepat setelah ditangkap agar kualitasnya tetap terjaga. Namun, keterbatasan fasilitas penyimpanan dan pasokan es dapat menyulitkan nelayan ketika hasil tangkapan melimpah.

Fitriana menceritakan bahwa kebutuhan es di Bawean pernah harus dipenuhi dengan mendatangkannya dari Pulau Jawa. Pada kondisi tertentu, pasokan ikan yang melimpah juga tidak selalu diikuti kemampuan pasar untuk menyerap seluruh hasil tangkapan. Akibatnya, ikan yang tidak terserap pasar berisiko terbuang.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan perikanan tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan hasil tangkapan. Diperlukan sistem yang saling terhubung, mulai dari penanganan ikan setelah ditangkap, ketersediaan fasilitas penyimpanan, distribusi, hingga kepastian penyerapan pasar.

Dalam konteks inilah resiliensi rantai pasok menjadi penting. Sistem rantai pasok yang tangguh perlu memiliki kemampuan untuk menghadapi hambatan dan menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi, sehingga gangguan pada satu bagian tidak serta-merta menimbulkan kerugian besar bagi keseluruhan pelaku.

Perbandingan dengan Pulau Uo atau Uoshima di Jepang memberikan perspektif berbeda. Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian, Fitriana melihat praktik penanganan hasil tangkapan yang lebih tertata, mulai dari pembersihan dan pengemasan ikan hingga penyimpanan dalam wadah berpendingin.


Ia juga menemukan adanya perjanjian antara nelayan dan pembeli yang memberikan kepastian penyerapan hasil tangkapan sesuai kesepakatan. Praktik tersebut menjadi salah satu pembelajaran mengenai pentingnya hubungan yang terorganisasi antara nelayan dan pasar.

Meski demikian, kondisi di Jepang juga menghadirkan tantangan tersendiri. Jumlah nelayan di wilayah yang diteliti cenderung menurun dan didominasi kelompok usia lanjut. Sementara itu, kondisi di Bawean menunjukkan kecenderungan yang berbeda, dengan jumlah nelayan yang relatif stabil berdasarkan data yang digunakan dalam penelitian.

Perbedaan tersebut membuka pertanyaan lanjutan mengenai faktor yang memengaruhi keberlanjutan profesi nelayan di wilayah terisolasi. Dengan memahami perbedaan karakteristik kedua lokasi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pijakan untuk mengembangkan kajian berikutnya, baik mengenai sistem distribusi maupun keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir.

Bagi Fitriana, salah satu nilai penting dari penelitian ini adalah potensinya untuk diterapkan dalam memahami kasus-kasus serupa di wilayah lain. Karakteristik pulau terisolasi dapat ditemukan di berbagai daerah dengan tantangan geografis, infrastruktur, dan akses pasar yang berbeda-beda.

Karena itu, hasil penelitian di Bawean dan Uoshima diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi kedua lokasi tersebut, tetapi juga menjadi referensi awal untuk mengkaji persoalan rantai pasok di wilayah lain yang memiliki kondisi sejenis.

Penelitian ini juga berpotensi menjadi pintu gerbang bagi riset baru. Temuan mengenai perbedaan sistem distribusi, fasilitas penanganan hasil tangkapan, dan keberlanjutan profesi nelayan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui penelitian yang mempertimbangkan karakteristik masing-masing wilayah.

Dengan demikian, penelitian doktoral tidak berhenti pada penyusunan rekomendasi, tetapi juga dapat mendorong lahirnya pertanyaan ilmiah baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi penting agar pengembangan ilmu pengetahuan dapat terus mengikuti perubahan persoalan di lapangan.

Fitriana juga melihat peluang pengembangan kajian rantai pasok pada sektor perikanan di kawasan Tapal Kuda, khususnya Jember dan Banyuwangi. Kedua wilayah tersebut memiliki potensi di sektor pertanian maupun perikanan yang dapat dikembangkan melalui pendekatan pengelolaan industri secara terintegrasi.

Ia mencontohkan keterkaitan antara pengolahan jeruk dan budidaya ikan yang pernah diamatinya di Jepang. Ampas jeruk dari kegiatan pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ikan. Pemanfaatan hasil samping tersebut menjadi salah satu gambaran penerapan ekonomi sirkular (circular economy), yaitu pendekatan yang berupaya menggunakan kembali sumber daya agar menghasilkan nilai tambah dan mengurangi pemborosan.

Gagasan tersebut membuka peluang untuk mengkaji integrasi antara industri pertanian dan perikanan berdasarkan potensi lokal. Namun, penerapannya di Jember dan Banyuwangi tetap memerlukan penelitian lanjutan agar sesuai dengan karakteristik komoditas, pelaku usaha, dan kebutuhan masyarakat setempat.

Bagi Fitriana, inilah salah satu manfaat penelitian akademik: mengidentifikasi persoalan nyata, membandingkan pengalaman dari konteks berbeda, serta membuka kemungkinan solusi yang dapat dikembangkan melalui kajian lanjutan.

Selain menghadapi tantangan penelitian, Fitriana juga harus beradaptasi dengan kehidupan sebagai mahasiswa internasional di Jepang. Perbedaan bahasa dan budaya, keterbatasan interaksi sosial, serta penyesuaian dalam menjalankan ibadah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi pengalaman yang membentuk perjalanan studinya.

Ia mengakui bahwa kesehatan mental merupakan salah satu tantangan penting selama menjalani pendidikan doktoral. Kesibukan akademik dan keterbatasan kesempatan berinteraksi dapat membuat mahasiswa internasional merasa sendiri, terutama ketika harus menghadapi berbagai persoalan secara mandiri.

Dari sisi penelitian, ia juga menghadapi proses pengujian gagasan oleh para profesor. Rancangan riset, teori, pengolahan data, hingga hasil penelitian harus siap dipertanyakan dan dikritisi. Meski tidak selalu mudah, proses tersebut memberinya perspektif baru dan membantu memperdalam pemahaman terhadap bidang keilmuannya.

Pengalaman tersebut membuat Fitriana menilai bahwa studi doktoral membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik. Mahasiswa juga perlu mempersiapkan mental, mengembangkan disiplin, serta memiliki strategi untuk mengelola emosi ketika menghadapi tekanan dan kegagalan.

Ia berpesan kepada dosen muda yang ingin melanjutkan pendidikan doktoral agar memiliki tekad kuat dan kesiapan untuk menjalani proses secara mandiri. Dukungan finansial, dukungan moral dari keluarga dan lingkungan akademik, serta kemampuan mengatur waktu juga menjadi faktor penting untuk menyelesaikan studi.

Sementara itu, kepada mahasiswa yang bermimpi melanjutkan pendidikan ke luar negeri, Fitriana mengingatkan agar tidak langsung menyerah ketika menghadapi keterbatasan. Pengalamannya memperoleh beasiswa sejak jenjang sarjana hingga doktoral menjadi bukti bahwa kesempatan dapat diperjuangkan melalui persiapan dan strategi yang tepat.

“Yang penting kita mau berkorban dan siap berjuang, karena jalan ini tidak mudah. Teman-teman harus yakin bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan,” pesannya.

Kini, setelah menyelesaikan studi doktoral dan kembali mengajar di Unmuh Jember, Fitriana membawa pengalaman akademik dan penelitian yang diharapkan dapat memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan serta membuka ruang kontribusi yang lebih luas.

Melalui penelitian tentang resiliensi rantai pasok di pulau terisolasi, ia berupaya menjadikan riset sebagai bagian dari ikhtiar memahami dan menyelesaikan persoalan masyarakat. Semangat tersebut sejalan dengan peran perguruan tinggi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Rabu, 16 September 2026

Mahasiswa Keperawatan Unmuh Jember Raih Predikat Peserta Terbaik Beasiswa Cendekia BAZNAS


Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember. Gilang Arya Mahmudi, mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes), berhasil meraih predikat sebagai peserta terbaik dalam program Beasiswa Cendekia BAZNAS.

Penghargaan tersebut secara resmi diserahkan pada 9 September 2026 di Auditorium Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Jakarta. Momen tersebut menjadi pencapaian penting bagi Gilang setelah menjalani rangkaian program Beasiswa Cendekia BAZNAS selama dua tahun.

Gilang menerima Beasiswa Cendekia BAZNAS saat duduk di semester 5. Baginya, beasiswa tersebut bukan sekadar bantuan finansial untuk menunjang pendidikan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan akademik, organisasi, penelitian, hingga kegiatan sosial.

Perjalanan Gilang mendapatkan beasiswa tersebut memiliki cerita tersendiri. Saat itu, keluarganya tengah menghadapi kondisi ekonomi yang cukup berat setelah sang ayah meninggal dunia. Dukungan yang diberikan melalui Beasiswa Cendekia BAZNAS kemudian menjadi salah satu hal yang membantunya untuk tetap melanjutkan pendidikan.

“Beasiswa Cendekia BAZNAS merupakan program beasiswa yang tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga pembinaan dan pengembangan bagi mahasiswa,” ujar Gilang.

Selama menjadi penerima beasiswa, Gilang mengikuti berbagai kegiatan pembinaan dan pengembangan diri. Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih disiplin, bertanggung jawab, serta aktif berkontribusi di lingkungan akademik maupun masyarakat.

Menurutnya, salah satu hal yang paling berharga adalah kesempatan bertemu dengan mahasiswa berprestasi dari berbagai daerah. Ia juga mendapatkan pendampingan dari dosen pembimbing, Ari Sita Nastiti, yang turut memberikan pembelajaran, motivasi, dan dukungan selama menjalani program.


Selama dua tahun menjadi penerima beasiswa, Gilang berusaha memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk terus mengembangkan potensi. Konsistensi tersebut kemudian mengantarkannya meraih predikat sebagai peserta terbaik.

Ia menilai pencapaian tersebut bukan hasil dari satu prestasi, melainkan akumulasi dari berbagai aktivitas yang dilakukan selama menjadi penerima beasiswa. Selain aktif dalam organisasi dan kegiatan sosial, Gilang juga menekuni penelitian serta kompetisi ilmiah.

Hingga saat ini, ia telah menorehkan total 32 prestasi dalam bidang esai dan Karya Tulis Ilmiah (LKTI) di tingkat nasional maupun internasional.

“Saya rasa pencapaian ini bukan karena satu prestasi saja, tetapi karena konsistensi saya selama menjadi penerima beasiswa. Selama kuliah saya aktif dalam organisasi, penelitian, kegiatan sosial, dan kompetisi ilmiah,” ungkapnya.

Bagi Gilang, predikat peserta terbaik tidak semata-mata diukur dari jumlah penghargaan yang diraih. Lebih dari itu, ia memandang kesempatan yang diberikan BAZNAS sebagai amanah untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata.

Ke depan, mahasiswa S1 Keperawatan Fikes Unmuh Jember tersebut memiliki target untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister Ilmu Biomedik. Ia ingin mengembangkan penelitian di bidang kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan infeksi dan resistensi antimikroba.

Gilang berharap pengalaman dan kesempatan yang diperolehnya melalui Beasiswa Cendekia BAZNAS dapat terus dikembangkan menjadi kontribusi yang lebih luas, baik melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun pengembangan solusi kesehatan berbasis ilmiah.

“Saya berharap dapat terus membawa nilai yang diajarkan BAZNAS, yaitu menjadi pribadi yang berprestasi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Senin, 18 Mei 2026

Perempuan Tangguh Peternak Domba, Kisah Yesita Alumni Unmuh Jember

Dunia peternakan kerap dianggap identik dengan pekerjaan laki-laki. Namun anggapan itu berhasil dipatahkan oleh Yesita Karel, alumni Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) asal Sidomulyo, Kabupaten Jember, yang sukses membangun bisnis peternakan dan penjualan domba bernama Artisnya Domba Jember sejak masih duduk di bangku kuliah.

Sebagai perempuan muda, Yesita memilih jalan yang tidak biasa. Di tengah banyak mahasiswa yang fokus mencari pekerjaan setelah lulus, ia justru berani terjun langsung ke dunia peternakan.

Usaha tersebut dirintis sejak tahun 2017, berawal dari latar belakang keluarganya yang merupakan peternak domba. Lingkungan tempat tinggalnya di Sidomulyo, Kabupaten Jember yang mayoritas dihuni oleh peternak, membuatnya akrab dengan kandang, pakan ternak, hingga proses jual beli domba sejak kecil.

Melihat peluang itu, Yesita memutuskan memulai usaha sendiri saat masih berada di semester awal perkuliahan. Ia ingin mandiri secara finansial dan tidak hanya bergantung pada orang tua.

“Saya ingin punya penghasilan sendiri. Dari kecil sudah melihat peluang itu ada di sekitar rumah, jadi saya memberanikan diri untuk mulai,” ujarnya.

Namun, memilih menjadi peternak perempuan bukan tanpa tantangan. Ia mengaku sempat dihantui rasa takut, mulai dari khawatir dagangannya tidak laku, takut ditipu, hingga ancaman pencurian ternak.

Selain itu, keterbatasan pengetahuan tentang dunia peternakan juga menjadi tantangan tersendiri. Ia harus belajar memahami usia domba, bobot ideal, jenis-jenis domba unggulan, hingga menentukan jasa pengiriman yang tepat untuk pembeli luar daerah.



Sebagai perempuan, ia juga sering menghadapi pandangan bahwa bisnis peternakan bukan bidang yang lazim digeluti perempuan. Namun Yesita memilih membuktikan lewat kerja nyata.

Ia belajar langsung di lapangan, mengamati, bertanya, hingga memahami seluk-beluk usaha ternak secara perlahan.

Cobaan terbesar datang saat pandemi dan wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) menyerang. Saat itu, pengiriman domba mengalami lockdown, sementara beberapa ternak di kandangnya terserang penyakit hingga mati.

“Pernah merasa sangat berat. Saat wabah PMK, pengiriman terhambat, beberapa domba sakit bahkan mati. Tapi saya memilih tetap bertahan karena saya percaya usaha ini bisa berkembang,” katanya.

Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil. Tahun 2022 menjadi titik balik penting ketika omzet penjualannya meningkat drastis. Dari yang awalnya hanya menjual domba lokal, Yesita mulai meningkatkan kualitas produknya dengan menghadirkan domba Merino, Dormas, hingga Sopas.

Perkembangan usaha tersebut juga terlihat dari aset yang dimiliki. Jika awalnya hanya memiliki satu kandang, kini ia telah memiliki tiga kandang aktif untuk menunjang bisnisnya.

Dari hasil usaha itu, Yesita mampu membayar uang kuliah (UKT) sendiri sejak semester satu hingga lulus. Bahkan, ia juga berhasil membeli motor, handphone, hingga membantu renovasi rumah.

“Bangga sekali bisa sampai di titik ini. Saya sangat berterima kasih kepada kedua orang tua dan kakak-kakak saya yang selalu memberi support dan doa,” ungkapnya.

Bagi Yesita, perjalanan kuliah di Unmuh Jember bukan hanya soal mengejar nilai akademik, tetapi juga proses membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Ia mengaku banyak belajar tentang disiplin, komunikasi, manajemen waktu, kerja tim, hingga keberanian mengambil keputusan.

Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi saat semester akhir ketika ia hampir mengalami kendala besar dalam proses skripsi akibat perubahan judul tanpa koordinasi penuh dengan dosen pembimbing.

Saat itu, ia merasa sangat takut kelulusannya tertunda. Namun dari pengalaman tersebut, ia justru mendapatkan pelajaran berharga tentang komunikasi dan tanggung jawab.

“Dari situ saya belajar, jangan seenaknya mengubah sesuatu tanpa komunikasi yang jelas. Dalam bisnis juga begitu, jangan diam-diam mengganti produk atau harga ke klien. Kalau salah, cepat minta maaf dan beri solusi,” jelasnya.


Yesita percaya bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Baginya, langkah pertama adalah keberanian untuk memulai.

“Mengambil langkah pertama adalah awal untuk mewujudkan cita-cita menjadi pengusaha. Saya percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil, dan Allah SWT tidak menunda, tetapi menata,” tuturnya.

Kini, ia terus mengembangkan Artisnya Domba Jember dengan target menjadi ahli di bidang peternakan sekaligus pengusaha sukses yang mampu membuka peluang bagi banyak orang.

Kisah Yesita menjadi bukti bahwa perempuan bisa kuat, mandiri, dan sukses bahkan dari kandang domba. Bahwa menjadi peternak bukan soal gender, tetapi soal keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk bertahan.

 

Sabtu, 25 April 2026

Anak Sopir Jadi Wisudawati Teladan, Kisah Inspiratif Sesilia Tristianti di Wisuda ke-54 Unmuh Jember


Riuh tepuk tangan menggema di Gedung Ahmad Zainuri saat Sesilia Tristianti melangkah menuju podium Rapat Terbuka Senat Wisuda ke-54 Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember). Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi ini terpilih mewakili rekan-rekannya untuk menyampaikan pesan dan kesan wisudawan. Di balik selempang predikat Wisudawan Berprestasi Kategori Teladan yang ia kenakan, Sesilia membawa sebuah cerita perjuangan yang membuktikan bahwa latar belakang sederhana bukanlah penghalang untuk mencapai puncak prestasi.

Dalam pidatonya yang lugas, Sesilia mengungkapkan jati dirinya sebagai anak seorang sopir bernama Bok Tarmidi dan ibu rumah tangga bernama Istikomah. Keberhasilannya meraih gelar sarjana hari ini adalah sebuah tonggak sejarah baru, sebab ia merupakan wisudawan pertama di dalam keluarganya.

 "Ayah dan ibu saya tidak menempuh pendidikan sarjana, namun hari ini mereka membuktikan bahwa mereka mampu mengantarkan anaknya menjadi sarjana," ungkapnya dengan terharu.

Selama menempuh studi di Program Studi Ilmu Komunikasi, Sesilia tidak hanya fokus pada perkuliahan di kelas, tetapi juga aktif mengukir prestasi di kancah nasional. Ia tercatat sebagai pemenang Duta Kampus Unmuh Jember 3.0, Miss Intelligensia Muslimah Jawa Timur 2023, hingga sukses meraih posisi Runner Up 5 Putri Kampus Indonesia 2026. Tak hanya di bidang pageant, nalar kritisnya pun teruji melalui berbagai kemenangan dalam forum diskusi dan presentasi tingkat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia. Rentetan prestasi inilah yang mengukuhkan dirinya sebagai lulusan teladan yang mampu menyelaraskan aspek wawasan global, religiusitas, dan kompetensi bidang.


Sesilia menegaskan bahwa Unmuh Jember telah menjadi ruang bagi dirinya dan ratusan wisudawan lain untuk mewujudkan mimpi yang semula terasa mustahil. Dengan prinsip “there is a will, there is a way,” ia meyakini bahwa setiap lulusan Unmuh Jember memiliki daya saing yang tinggi dan tidak perlu gentar untuk berkompetisi dengan lulusan dari universitas ternama lainnya. Keberanian untuk melangkah dan mencoba, menurutnya, adalah awal dari setiap kesuksesan yang akan diraih di masa depan.

Mengakhiri masa studinya dengan penuh keceriaan, Sesilia bahkan sempat membawakan pantun yang mencairkan suasana di hadapan Rektor dan seluruh anggota senat. Namun, di balik keceriaan itu, ia meninggalkan pesan mendalam bagi mahasiswa yang masih berjuang di kampus. Ia mengingatkan bahwa pengalaman, rintangan, dan kesulitan yang dilalui selama kuliah adalah bekal berharga untuk menghadapi kehidupan di masyarakat.

Bagi mahasiswa yang saat ini masih berjuang, Sesilia menitipkan pesan motivasi agar tetap bertahan dan berani menyelesaikan apa yang telah dimulai. 

"Jangan pernah takut melangkah dan mencoba, karena keberanian adalah awal dari kesuksesan. Teruslah berjuang, karena pada akhirnya keberhasilan tidak ditentukan dari mana kita berasal, melainkan dari bagaimana kita terus berusaha untuk bertumbuh dan memberikan kontribusi nyata," pungkasnya. 

Toga Sempurna untuk Ayah Ibu di Surga, Kisah Haru Tria Fenda Wisudawati Dengan IPK 3,99 Unmuh Jember


Momen wisuda umumnya menjadi hari bahagia yang dirayakan bersama keluarga inti. Namun, realita berbeda harus dihadapi oleh Tria Fenda Afi Wijaya pada Rapat Terbuka Senat Wisuda ke-54 Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember). Berdiri tanpa pendampingan ayah dan ibu, mahasiswi Program Studi S1 Manajemen ini justru sukses membuktikan diri dengan menyandang predikat Wisudawan Terbaik Tingkat Universitas berbekal IPK nyaris sempurna, 3,99. Rentetan pencapaian yang ia raih menjadi wujud nyata bahwa kehilangan sosok kedua orang tua tidak menghentikan langkahnya untuk terus mencetak prestasi.

Ujian berat dalam hidup Tria sudah datang sejak ia masih duduk di kelas tiga SMA. Tepat saat ia tengah bersiap menghadapi ujian kelulusan, sang ibu meninggal dunia. Kehilangan tersebut tentu menjadi pukulan telak. Namun, ia menolak menjadikan duka sebagai alasan untuk menyerah. Tria justru mengubah kesedihannya menjadi energi pembuktian. Hasilnya, ia berhasil meraih nilai ujian kelulusan tertinggi dan mempertahankan posisi juara satu berturut-turut di sekolahnya, sebelum akhirnya memantapkan langkah melanjutkan pendidikan ke Unmuh Jember.

Sayangnya, takdir kembali menguji ketangguhan Tria di masa-masa paling krusial dalam perkuliahannya. Memasuki semester tujuh, tepat saat ia baru akan memulai proses penyusunan skripsi, sang ayah menghembuskan napas terakhirnya. Berpulangnya ayahanda membuat Tria sangat terpukul dan menyisakan trauma mendalam. Di tengah situasi yang berat tersebut, Tria teringat dan berpegang erat pada pesan yang selalu ditekankan oleh kedua orang tuanya semasa hidup.

"Terus fokus dan jangan pernah lari dari tanggung jawab," kenangnya mengulangi pesan tersebut saat diwawancarai.

Prinsip itulah yang kemudian memacunya untuk kembali bangkit, mengerjakan skripsinya, dan bertekad mewujudkan impian almarhum kedua orang tuanya untuk melihatnya menjadi mahasiswa terbaik.

Hebatnya, di tengah perjuangan menyelesaikan tugas akhir dengan kondisi batin yang sedang berduka, langkah Tria tidak melambat sama sekali. Ia tidak sekadar mengejar nilai di dalam kelas, melainkan terus aktif memperluas kapasitas dirinya di berbagai bidang.

Ketekunannya tersebut mengantarkan Tria lolos sebagai salah satu penerima program prestisius Djarum Beasiswa Plus (Beswan Djarum) 2024/2025. Ia juga berhasil menyabet gelar Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) mulai dari tingkat program studi, fakultas, hingga universitas, yang memberinya kesempatan berharga mewakili Unmuh Jember di ajang Pilmapres tingkat nasional. Di sela-sela kesibukannya, Tria juga aktif mengabdi sebagai relawan Duta Kepemudaan, rajin memberikan edukasi dan advokasi kepada para pelajar di sekolah-sekolah mengenai pentingnya personal branding dan bahaya narkoba.

Kini, berdiri tegak membawa gelar kelulusan tertinggi, Tria tak menampik adanya rasa rindu karena tidak bisa mempersembahkan pencapaiannya langsung ke tangan kedua orang tuanya. Meski demikian, ia merasa bersyukur karena telah berjuang maksimal menuntaskan amanah mereka.

Mengakhiri masa studinya, Tria menitipkan pesan kuat bagi rekan-rekan mahasiswa yang tengah berjuang menghadapi hambatan akademiknya masing-masing. Ia menegaskan pentingnya menjaga fokus agar tidak mudah goyah apalagi menyerah oleh keadaan. Baginya, sesulit dan setidak enak apa pun proses bimbingan maupun hambatan yang datang, tetaplah fokus pada proses dan tujuan akhir, karena usaha tersebut pada akhirnya pasti akan membawa hasil.

 

Selasa, 17 Maret 2026

Detik-Detik Persalinan Darurat di Pesawat, Alumni Unmuh Jember Bantu Selamatkan Ibu dan Bayi

Febrian (kemeja dengan motif hitam-coklat) saat foto bersama setelah proses persalinan darurat.

Perjalanan pulang ke Indonesia yang seharusnya menjadi momen istirahat bagi Febrian Rahmatulloh justru berubah menjadi pengalaman tak terlupakan. Alumni Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) itu harus membantu proses persalinan darurat seorang penumpang di dalam pesawat yang sedang mengudara.

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, (12/3/2026) yang lalu, saat Febrian melakukan penerbangan dari Jeddah menuju Jakarta menggunakan pesawat Saudia Airlines. Saat itu ia tengah dalam perjalanan pulang untuk mengambil cuti tahunan dari pekerjaannya di Arab Saudi.

Sekitar satu jam setelah pesawat lepas landas, awak kabin mengumumkan melalui pengeras suara dan menanyakan apakah ada dokter atau perawat di dalam pesawat. Tanpa ragu, Febrian langsung melapor kepada pramugari dan memperkenalkan diri sebagai seorang perawat.

Ia kemudian diarahkan menuju area salat di dalam pesawat. Di tempat itu, seorang penumpang perempuan sudah dalam kondisi akan melahirkan.

“Saat saya sampai di sana, posisi kepala bayi sudah keluar,” kenang Febrian.

Dengan kondisi tersebut, ia segera mengambil inisiatif untuk membantu proses persalinan. Ia meminta sarung tangan kepada awak kabin serta meminta agar ibu tersebut dipasangi oksigen dan alat pengukur oksigen dalam darah.

Beberapa menit kemudian, bayi tersebut lahir dengan selamat di dalam pesawat yang masih berada di ketinggian ribuan kaki. Dalam proses tersebut, pakaian Febrian bahkan sempat terkena cipratan air ketuban.

Untuk mencegah bayi mengalami hipotermia, ia segera meminta selimut dari awak kabin untuk membungkus bayi yang baru lahir. Tak lama kemudian, dua dokter dan satu perawat lain turut datang membantu proses penanganan.

Dengan peralatan seadanya, mereka bersama-sama memotong tali pusar bayi dan memastikan kondisi ibu serta bayi dalam keadaan stabil. Setelah berkoordinasi dengan kapten pesawat, awak kabin memutuskan melakukan pendaratan darurat kembali di Bandara Jeddah.

Setelah pesawat mendarat, tim medis bandara melanjutkan penanganan dengan membantu proses pengeluaran plasenta sebelum akhirnya ibu dan bayi tersebut dibawa ke rumah sakit terdekat.

Penerbangan kemudian dilanjutkan kembali menuju Jakarta pada pukul 08.00 pagi dan seluruh penumpang tiba dengan selamat.

Menurut informasi dari awak kabin, penumpang perempuan tersebut merupakan warga Indonesia asal Lombok yang sedang melakukan perjalanan pulang seorang diri. Ia bahkan mengaku tidak menyadari bahwa dirinya sedang hamil.

Bagi Febrian, pengalaman tersebut menjadi momen pertama sekaligus paling menegangkan selama dirinya bekerja sebagai tenaga kesehatan.

“Jujur saya kaget, cemas, dan deg-degan karena ini pengalaman pertama membantu persalinan di dalam pesawat. Tapi sebagai tenaga kesehatan kita harus tetap profesional dan melakukan yang terbaik dengan ilmu yang kita punya,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam situasi tersebut adalah keterbatasan alat medis.

“Kalau di fasilitas kesehatan tentu alat sudah lengkap dan steril. Tapi di atas pesawat berbeda, kita hanya punya peralatan seadanya. Jadi harus bisa berpikir cepat dan tetap menjaga kebersihan dalam setiap tindakan,” jelasnya.

Febrian sendiri merupakan alumni Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Unmuh Jember yang memulai kuliah pada tahun 2015 dan menyelesaikan pendidikan S1 Keperawatan serta Profesi Ners pada tahun 2021.

Selama masa kuliah, ia aktif di organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Asy-Syifa dan sempat menjabat sebagai Ketua Umum pada periode 2017–2018.

Setelah lulus, Febrian bekerja di berbagai fasilitas kesehatan di Jember, mulai dari RS Siloam Jember, klinik di wilayah Panti, hingga pernah terlibat sebagai enumerator kesehatan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Saat ini ia juga bekerja di RS Bina Sehat Jember.

Pada tahun 2025, ia mendapatkan kesempatan bekerja di Armed Forces Hospital – Taif Region, Arab Saudi, sebuah rumah sakit pemerintah di bawah Kementerian Pertahanan Arab Saudi. Di sana ia bertugas di Psychiatric Center, yang menangani pasien dengan gangguan kesehatan mental serta kasus kecanduan obat-obatan.

Febrian mengaku pengalaman tersebut semakin mengingatkannya tentang tanggung jawab profesi tenaga kesehatan.

“Sebagai perawat, di mana pun dan kapan pun kita harus siap membantu orang yang membutuhkan pertolongan medis. Ilmu yang kita miliki bisa sangat bermanfaat bahkan menyelamatkan nyawa orang lain,” katanya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para dosen di Universitas Muhammadiyah Jember yang telah membekalinya dengan ilmu dan nilai profesionalisme selama masa perkuliahan.

“Saya bisa berada di posisi sekarang karena jasa para dosen yang telah mendidik kami menjadi tenaga kesehatan yang profesional,” ujarnya.

Bagi Febrian, menjadi perawat bukan hanya soal keahlian medis, tetapi juga tentang nilai kemanusiaan.

“Menjadi tenaga kesehatan harus profesional, tetapi tetap mengedepankan nilai-nilai Islami dalam melayani pasien dan masyarakat,” tutupnya.

Rabu, 11 Februari 2026

Perjalanan Hotijatul Munauwaroh, Winner Sis Duta Kampus Unmuh Jember 5.0

Hotijatul Munauwaroh, mahasiswa Semester 4 Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Jember, membuktikan bahwa latar belakang teknologi tidak membatasi ruang aktualisasi diri. Di tengah kesehariannya yang lekat dengan logika, sistem, dan pemrograman, ia memilih melangkah ke ruang representasi publik melalui ajang Duta Kampus 5.0, hingga akhirnya meraih Juara 1.

Hari-hari Hotijatul sebelum mengikuti ajang ini diisi dengan ritme yang padat. Kuliah, organisasi, dan kompetisi berjalan beriringan. Di Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HUMANIKA), ia dipercaya menjadi Ketua Divisi Sumber Daya Manusia, posisi yang menuntutnya mengelola dinamika manusia, bukan sekadar sistem. Ia terlibat langsung sebagai Ketua Panitia Management Training dan LKMM 2025, sekretaris makrab, hingga presidium sarasehan. Di tengah kesibukan itu, ia tetap menjaga identitasnya sebagai mahasiswa teknik dengan mengikuti berbagai ajang kompetisi dan meraih medali perak KMM dan PKMM.

Keputusan mengikuti Duta Kampus 5.0 bukanlah ambisi semata, melainkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Hotijatul merasa ada sisi dirinya yang belum sepenuhnya terasah. “Saya terbiasa berpikir dengan data dan logika. Tapi saya ingin belajar berbicara, menyampaikan gagasan, dan berdampak lebih luas,” katanya. Duta Kampus 5.0 menjadi ruang yang ia anggap tepat untuk menempa sisi itu.

Proses seleksi berjalan panjang dan menguras energi. Jadwal kuliah yang padat, tanggung jawab organisasi, serta persiapan kompetisi sering kali bertabrakan. Rasa ragu sempat muncul, apalagi ketika berhadapan dengan peserta lain yang tampil begitu percaya diri. Namun, satu prinsip membuatnya bertahan: tanggung jawab. Baginya, melangkah sejauh ini berarti harus menuntaskan perjalanan dengan sebaik mungkin.

Titik balik itu datang saat sesi presentasi gagasan. Di hadapan juri, Hotijatul memaparkan ide tentang digitalisasi kampus dan dampaknya bagi mahasiswa. Di momen itu, ia merasa menemukan irisan antara keilmuannya dan visi kampus. Teknik Informatika tidak lagi berdiri di pinggir, tetapi justru menjadi fondasi gagasan. “Di situ saya sadar, latar belakang saya bukan kelemahan. Itu nilai tambah,” ujarnya.

Kemenangan sebagai Juara 1 Duta Kampus 5.0 ia maknai bukan sebagai garis akhir, melainkan awal. Bagi Hotijatul, Kampus 5.0 adalah tentang harmonisasi teknologi dan nilai kemanusiaan. Teknologi hadir untuk memberdayakan, membantu menyelesaikan persoalan sosial, dan memperkuat peran mahasiswa di tengah masyarakat.

Pasca kemenangan, perubahan paling terasa adalah cara ia memandang dirinya sendiri. Jika sebelumnya ia lebih nyaman “berbicara” melalui sistem dan kode, kini ia belajar menyampaikan ide secara persuasif dan inklusif. Dukungan dari orang-orang terdekat ia sambut dengan rasa syukur, namun ia memilih untuk tidak cepat puas.

Ke depan, Hotijatul ingin mengambil peran nyata sebagai jembatan informasi dan inspirasi bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember. Ia membawa gagasan “UM Jember Digital Impact Hub”, sebuah wadah kolaborasi yang memungkinkan mahasiswa menyalurkan kreativitas digital untuk memberi dampak nyata bagi kampus dan masyarakat.

Baginya, kemenangan ini adalah amanah. Sebuah pengingat bahwa potensi sering kali tersembunyi di balik keraguan. “Jangan batasi diri sebelum mencoba,” pesannya. Dari barisan kode hingga panggung representasi kampus, Hotijatul Munauwaroh telah membuktikan bahwa keberanian untuk melangkah bisa membuka jalan menuju versi diri yang lebih utuh.


Rabu, 14 Januari 2026

Raih Juara 1 Essay Nasional, Mahasiswa Unmuh Jember Angkat Inovasi EcoFuture Catalys untuk Atasi Mikroplastik

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember). Gilang Arya Mahmudi, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan semester 7 angkatan 2022, berhasil meraih Juara 1 Lomba Essay Public Health Festival (PHV IV) yang diselenggarakan oleh UIN Jakarta pada 3 Januari 2025, melalui karya ilmiah berjudul “EcoFuture Catalys: Disruptive Green Technology Bionanofilter AI-IoT Berbasis Bioenzim untuk Transformasi Mikroplastik menjadi Asam Organik sebagai Circular Bioeconomy Lingkungan Berkelanjutan.”

Essay tersebut mengangkat isu global terkait tingginya paparan mikroplastik di lingkungan. Berdasarkan riset yang dilakukan, saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 51 triliun partikel mikroplastik di lautan, sekitar 4,5 juta ton terakumulasi di tanah pertanian, serta 3,2 juta ton berada di atmosfer global. Kondisi ini menjadikan mikroplastik sebagai ancaman nyata bagi kesehatan lingkungan dan manusia, sehingga memerlukan solusi teknologi yang inovatif dan berkelanjutan.

Melalui konsep EcoFuture Catalys, Gilang merancang pendekatan teknologi hijau yang mengintegrasikan bioteknologi, nanomaterial, serta sistem digital berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT). Teknologi ini tidak hanya berfokus pada mitigasi pencemaran mikroplastik, tetapi juga pada proses konversi mikroplastik menjadi asam organik berbasis bioenzim, sehingga mendorong terciptanya circular bioeconomy yang berkelanjutan.

Dalam proses penulisan, satu karya ilmiah diselesaikan dalam rentang waktu dua hingga tiga hari. Sementara itu, tahapan kompetisi—mulai dari seleksi, penetapan finalis, presentasi, hingga pengumuman—rata-rata berlangsung selama dua minggu. Intensitas mengikuti kompetisi yang tinggi membuat Gilang kerap menghadapi tantangan fisik dan mental, termasuk kelelahan dan burnout akibat ambisi mencapai target prestasi sebelum lulus.

Dukungan dari berbagai pihak turut menjadi faktor penting dalam konsistensinya meraih prestasi. Bimbingan akademik serta motivasi dari dosen pembimbing, guru pendamping, dan rekan-rekan tim menjadi bagian dari proses panjang yang ia jalani dalam dunia kompetisi karya ilmiah.

Dalam kurun waktu dua minggu terakhir, Gilang mencatatkan empat prestasi nasional di bidang essay ilmiah, yakni:

  1. Juara 2 Health Essay Competition (HEC), Universitas Tadulako, 30 Desember 2025.
  2. Juara 1 Lomba Essay Public Health Festival (PHV IV), UIN Jakarta, 3 Januari 2025.
  3. Juara 2 Public Health Award Competition (PHAC), Universitas Muslim Indonesia dalam Rapat Tahunan IKSMI, 9 Januari 2025.
  4. Juara 3 Lomba Essay ANESCO 01, Ansa Academy, 12 Desember 2025.

Secara keseluruhan, hingga semester tujuh, Gilang telah mengoleksi 22 prestasi karya ilmiah, dengan tujuh di antaranya diraih melalui kompetisi offline. Capaian tersebut menjadi bukti konsistensi mahasiswa Unmuh Jember dalam berkompetisi di tingkat nasional sekaligus memperkuat posisi universitas sebagai kampus yang mampu melahirkan mahasiswa berdaya saing tinggi.

Ke depan, Gilang menargetkan untuk terus menjaga konsistensi prestasi hingga mencapai 40 karya ilmiah sebelum lulus, serta menorehkan pencapaian pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) sebagai puncak target akademiknya.

 

Selasa, 06 Januari 2026

Perjalanan Hidup Atlet Muda Maba Unmuh Jember: Dedikasi dan Disiplin Muhammad Vito Maulana di Dunia Sepak Bola

 

Perjalanan hidup Muhammad Vito Maulana, mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), menjadi kisah inspiratif tentang dedikasi, disiplin, dan semangat pantang menyerah dalam meraih prestasi di dunia sepak bola.

Lahir dan dibesarkan di Wuluhan, Vito tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Namun kondisi tersebut tidak pernah memadamkan semangatnya untuk terus berjuang. Dukungan penuh dari orang tua, khususnya sang ayah yang juga pernah menekuni sepak bola, menjadi sumber motivasi utama dalam perjalanan kariernya.

Vito mulai mengenal sepak bola sejak usia 12 tahun, berawal dari bermain bola di depan rumah. Ketertarikannya semakin serius ketika ia bergabung dan berlatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) PBJ Desa Karang Duren. Meski berlatih di lingkungan desa, Vito menilai materi latihan yang ia dapatkan berkualitas dan mampu bersaing dengan klub-klub dari perkotaan.

Latihan keras dan disiplin yang dijalani membuahkan hasil. Pada tahun 2022, Vito bersama timnya berhasil menjuarai Turnamen Soeratin KU-17 di Bali. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita menjadi pemain sepak bola profesional.

Memasuki masa sebagai mahasiswa baru Unmuh Jember, Vito kembali menguji kemampuannya dengan mengikuti Liga 4 bersama tim Academy Blayu FC. Pada babak kualifikasi, timnya tergabung dalam grup yang cukup berat dengan persaingan ketat antar tim.

Pada pertandingan pertama, Blayu FC harus menghadapi tim unggulan Triple’s Kediri. Laga berlangsung sengit sejak menit awal. Kedua tim mampu menjaga keseimbangan permainan hingga menit ke-70. Namun, insiden pelanggaran keras di menit-menit akhir membuat salah satu pemain Blayu FC menerima kartu merah. Situasi tersebut dimanfaatkan Triple’s Kediri yang berhasil mencetak gol pada menit ke-86 dan menutup laga dengan skor 1–0.

Di pertandingan kedua, Blayu FC berhadapan dengan tim asal Mojokerto yang diperkuat pemain berlevel Liga 3. Meski kalah dalam penguasaan permainan, Blayu FC mampu membaca kelemahan lini pertahanan lawan. Strategi tersebut membuahkan hasil ketika pada menit ke-89, striker Blayu FC berhasil memanfaatkan kesalahan bek tengah lawan dan mencetak gol penentu kemenangan. Skor 1–0 mengantarkan Blayu FC meraih tiga poin penting.

Namun, pada pertandingan terakhir melawan tuan rumah Persema Malang, Blayu FC kembali menghadapi tantangan berat. Meski bertahan dengan disiplin, pelanggaran di dalam kotak penalti pada menit ke-65 membuat Persema Malang unggul melalui titik putih. Skor 1–0 bertahan hingga akhir laga dan memastikan Blayu FC harus tersingkir di fase grup.

Meski perjalanan di Liga 4 harus terhenti di babak penyisihan, semangat Vito tidak pernah padam. Pengalaman tersebut justru menjadi pembelajaran berharga dalam perjalanan kariernya sebagai atlet muda sekaligus mahasiswa.

Kisah Muhammad Vito Maulana diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan pelajar lainnya, bahwa dengan kerja keras, disiplin, dan dukungan keluarga, prestasi dapat diraih baik di bidang olahraga maupun akademik. Semangat juang Vito menjadi cerminan nilai sportivitas dan ketekunan yang sejalan dengan semangat pendidikan di Universitas Muhammadiyah Jember.


Senin, 21 April 2025

Dari Dojo ke Panggung Akademik: Zinatul Hayati, Karateka Mahasiswa Juarai Pilmapres Unmuh Jember 2025

Di balik setiap tendangan yang dilatih berulang di atas matras, tersimpan semangat belajar yang tak kalah kuat. Zinatul Hayati mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) membuktikan bahwa antara fisik yang tangguh dan otak yang cemerlang, tak ada jurang yang memisahkan. 

Pada Senin (21/4/2025), ia dinobatkan sebagai Juara 1 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Unmuh Jember tingkat universitas. Kini, ia bersiap melangkah mewakili kampus biru di ajang Pilmapres Wilayah Jawa Timur.

Mahasiswi yang akrab disapa Inay ini tak asing dengan podium juara. Namun kali ini, bukan di gelanggang karate ia berdiri, melainkan di panggung akademik, mempersembahkan gagasan dan inovasi untuk kemajuan pendidikan Indonesia.

Inay tumbuh di dua dunia, persilangan antara mikrofon organisasi, buku kuliah, dan suara hentakan kaki di dojo. Ia kini menjabat sebagai Ketua Umum HIMAKOM (Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi) sekaligus menyandang sabuk hitam karate yang telah mengantarkannya menjuarai berbagai kompetisi. Teranyar, ia membanggakan almamaternya dengan meraih Juara 2 Mageti Open International Karate Championship 2024, sebuah ajang bergengsi yang mempertemukan lebih dari 2000 atlet dari dalam dan luar negeri.

Dalam kategori Kumite -68kg, Inay sukses menumbangkan lawan-lawan tangguh dari kampus ternama seperti Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), hingga Politeknik Negeri Malang (Polinema).

“Awalnya saya hanya mengikuti saran orang tua untuk ikut bela diri,” ungkapnya. “Tapi dari sana saya belajar tentang kedisiplinan, tentang jatuh dan bangkit, dan tentang semangat untuk terus berkembang.”

Siapa sangka, awal keikutsertaan Inay dalam Pilmapres justru bermula dari sebuah tantangan. Seorang dosen memintanya mencoba, dan alih-alih ragu, ia menyambutnya dengan yakin. “Saya ingin membuktikan bahwa mahasiswa yang aktif organisasi dan olahraga juga bisa unggul di bidang akademik,” katanya.

Dengan disiplin khas karateka dan ketekunan mahasiswa komunikasi, ia menyusun proposal gagasan inovatif dan berdiskusi intens dengan dosen pembimbing. Gagasannya lahir dari pengalaman masa SMA, saat ia pernah membuat aplikasi sederhana. 

Kini, ia mengembangkan Vidya Samskara, sebuah aplikasi pembelajaran membaca untuk anak-anak SD di Kabupaten Situbondo.

Aplikasi ini memadukan konten lokal dan metode interaktif untuk membantu mengurangi angka buta aksara. Tak hanya ide, aplikasi ini mencerminkan empati dan keberpihakan pada masyarakat. “Saya ingin inovasi ini benar-benar bisa diterapkan, bukan sekadar jadi konsep,” tuturnya.

Membagi waktu antara rapat organisasi, jadwal latihan karate, dan target akademik tentu bukan perkara mudah. Namun Inay punya kunci: manajemen waktu dan prioritas. Kuliah selalu menjadi yang utama, sementara waktu lainnya dialokasikan untuk kegiatan non-akademik yang menunjang soft skill.

Kini, Inay tengah bersiap menghadapi kompetisi Pilmapres tingkat wilayah. Ia ingin mempersembahkan yang terbaik, tak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi Unmuh Jember dan komunitas pendidikan tempat ia tumbuh. Ia berharap inovasinya tak hanya diapresiasi, tetapi juga bisa berdampak nyata.

Untuk mahasiswa lain, Inay menyampaikan pesan sederhana namun dalam: “Jangan batasi diri. Organisasi, olahraga, akademik, semua bisa dijalani kalau kamu mau berusaha. Prestasi itu bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling konsisten dan punya semangat belajar.”

Dari Dojo ke podium akademik, kisah Zinatul Hayati menjadi bukti bahwa prestasi sejati tidak lahir dari satu jalur saja. Ia ditempa oleh latihan, disusun oleh mimpi, dan dijalani dengan hati yang tekun.

Jumat, 10 Januari 2025

Unmuh Jember Upaya Tingkatkan Visibilitas dan Diseminasi Karya Dosen lewat International Book Review and Book Talk

    UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Jember sukses menggelar acara "International Book Review and Book Talk in Natural Science, Social, and Humanities". Acara ini berlangsung di Ruang Rapat Gedung A Lantai 2 dan diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, baik secara langsung maupun daring (10/1).

    Kegiatan ini menghadirkan dua panelis internasional, yaitu John G. Pagaddut, CPA., Ph.D., dari Ifugao State University, Filipina, serta A.R. Sali Alongan, RSW., Ph.D., dari Mindanao State University, Filipina. Dengan format hybrid, acara ini bertujuan membahas ulasan buku dan topik-topik terkait ilmu pengetahuan alam, sosial, serta humaniora.

    Acara terbagi menjadi dua sesi utama. Sesi pertama, Book Review, mengulas buku "Environment Moving from Linear to Circular Business" karya Dr. Harris Hermawan, M.M. Buku ini mengupas konsep transformasi lingkungan bisnis dari pendekatan linier ke pendekatan sirkular yang lebih berkelanjutan. Para panelis memberikan wawasan mengenai relevansi buku ini terhadap isu global terkait keberlanjutan lingkungan.


    Sesi kedua, Book Talk, membahas dua buku. Buku pertama, "Numeric Study of Concrete," karya Dr. Ir. Muhtar, M.T., IPM., mengeksplorasi studi numerik pada material beton. Buku kedua, "Perilaku Organisasi dan Organizational Citizenship Behavior (Teori dan Praktek)" karya Dr. Trias Setyowati, M.M., membahas perilaku organisasi dan kontribusi ekstra karyawan dalam mendukung kesuksesan organisasi.

    Para peserta memberikan respons positif terhadap acara ini. Sesi tanya jawab yang interaktif menjadi salah satu momen penting, di mana mahasiswa dan akademisi menyampaikan pertanyaan kritis mengenai relevansi materi dengan kebutuhan lokal maupun global. Peserta daring dari luar negeri juga turut berkontribusi dalam diskusi.

    Dengan terselenggaranya "International Book Review and Book Talk," Universitas Muhammadiyah Jember semakin mempertegas perannya sebagai pusat pendidikan yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan secara global.

Rabu, 20 November 2024

"Perahu Layar" Jadi Salah Satu Lagu Tradisional Jawa Favorit Mahasiswa Summer Fest 2024

Sebanyak 33 mahasiswa asing yang tergabung dalam program Summer Festival 2024 Universitas Muhammadiyah Jember tampil memukau saat membawakan lagu tradisional Jawa berjudul Perahu Layar. Acara ini digelar di Sanggar Kartika Budaya, Ambulu, Jember, sebagai bagian dari pelestarian seni tradisional Jawa yang diinisiasi oleh sanggar bersama universitas.

Para mahasiswa yang berasal dari berbagai negara, seperti India, Cina, Filipina, dan Malaysia, tampak antusias dalam mempelajari seni sinden. Mereka dibimbing langsung oleh pengurus sanggar dan pelatih utama, Enys Kartika, S.Pd., seorang lulusan Pendidikan Seni Tari FPBS IKIP Surabaya. Acara ini juga menghadirkan workshop seni tari dan musik tradisional, memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami lebih dalam tentang seni budaya Indonesia.

Puncak acara adalah penampilan sinden lagu Perahu Layar yang dibawakan oleh pelatih sanggar, diikuti oleh para mahasiswa asing. Penampilan ini disambut hangat oleh penonton, menunjukkan kolaborasi apik antara pelatih lokal dan mahasiswa internasional.

Salah satu peserta, Jothy Letchummi A/P D Ganditasan asal India, berbagi kesannya terhadap lagu tersebut.
"Lagu ini sangat berbeda dengan musik tradisional di negara saya," ujar Jothy.
"Saya merasa terhubung dengan irama dan melodi lagu Jawa ini, meskipun budaya kami sangat berbeda. Musik dan liriknya begitu khas, dan saya belajar banyak tentang seni tradisional Indonesia melalui pengalaman ini."

Meski awalnya kesulitan dengan pengucapan dan melodi, Jothy merasa sangat terbantu oleh bimbingan dari pelatih dan dukungan teman-temannya. "Ini adalah pengalaman luar biasa yang membuka mata saya tentang kekayaan budaya Indonesia, dan saya merasa terhormat bisa menjadi bagian dari pertunjukan ini,” tambahnya.

Pelatih utama, Enys Kartika, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan mengenalkan dan melestarikan seni tradisional Jawa kepada generasi muda, baik lokal maupun internasional.
"Ini adalah upaya kami untuk melestarikan budaya Jawa di tengah tantangan zaman sekarang," ungkapnya.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran seni, tetapi juga mempererat hubungan lintas budaya antara mahasiswa dari berbagai negara. Selain itu, acara ini menjadi langkah penting dalam memperkenalkan seni tradisional Indonesia ke panggung internasional, sekaligus membangkitkan apresiasi terhadap kekayaan budaya lokal.

Senin, 18 November 2024

Unmuh Jember dan RSU Unmuh Jember Pilar Amal Usaha untuk Kemakmuran Umat

 

dr. Bambang Indra H., Sp. THT dan Prof. Aminullah Elhady, M.Ag., dalam podcast RRI Jember

Perayaan Milad Muhammadiyah ke-112 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kontribusi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dengan tema “Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua”, Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) dan Rumah Sakit Umum (RSU) Unmuh Jember menegaskan peran mereka sebagai bagian dari upaya mewujudkan Islam berkemajuan yang bermanfaat bagi umat manusia. 

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jember, Prof. Aminullah Elhady, M.Ag., dalam podcastnya dengan RRI Jember pada (18/11/24) menyampaikan bahwa usia 112 tahun Muhammadiyah merupakan perjalanan panjang yang membuktikan kiprah organisasi ini dalam membangun masyarakat. 

“Islam berkemajuan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga bagaimana mempererat hubungan antar manusia. Muhammadiyah telah menunjukkan ini dalam sejarahnya, dan kita harap terus bertumbuh untuk memberi manfaat lebih luas,” ujar Prof. Aminullah. 

Semangat ini terlihat jelas dalam peran Unmuh Jember dan RSU Unmuh Jember, dua pilar penting yang menjadi bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah di Jember. 

Dr. Sofyan Rofi, M.Pd.I dalam podcast RRI Jember

Wakil Rektor III Unmuh Jember, Dr. Sofyan Rofi, M.Pd.I., menegaskan bahwa pendidikan yang diberikan oleh Unmuh Jember bukan sekadar transfer pengetahuan. “Kami mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan yang membangun karakter dan moral. Ini sejalan dengan tema milad, bahwa pendidikan harus berkontribusi langsung kepada masyarakat,” jelasnya. 

Unmuh Jember juga aktif dalam berbagai program pengabdian masyarakat, mulai dari pemberdayaan ekonomi desa hingga pengembangan teknologi ramah lingkungan. Semua ini dirancang untuk menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan masyarakat. 

Sementara itu, RSU Unmuh Jember berperan signifikan di bidang kesehatan, tidak hanya melalui layanan medis tetapi juga melalui program promotif seperti penyuluhan kesehatan di berbagai komunitas. 

“RSU Unmuh Jember ingin menjadi lebih dari sekadar rumah sakit. Kami membina lingkungan melalui kesehatan promotif dan berkomitmen meningkatkan pelayanan tanpa membedakan siapa pun,” ungkap dr. Bambang Indra H., Sp. THT, Direktur RSU Unmuh Jember. 

Dengan layanan yang terus dikembangkan, RSU Unmuh Jember menjadi harapan bagi masyarakat Jember dan sekitarnya untuk mendapatkan akses kesehatan berkualitas yang terjangkau. 

Sinergi antara Unmuh Jember dan RSU Unmuh Jember mencerminkan visi besar Muhammadiyah untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin. Keduanya membuktikan bahwa pendidikan dan kesehatan dapat menjadi motor penggerak dalam menciptakan kemakmuran yang inklusif. 

Perayaan Milad ke-112 ini menjadi pengingat bahwa semangat Islam berkemajuan harus terus menjadi pijakan, tidak hanya untuk internal Muhammadiyah tetapi juga bagi masyarakat luas. Dengan semangat yang sama, Muhammadiyah terus hadir membawa manfaat yang nyata, menghadirkan kemakmuran untuk semua. 

Rabu, 30 Oktober 2024

Mahasiswa Unmuh Jember Ciptakan Inovasi Rombong Lipat 3D Berkonsep Infinity Mirror

Mohammad Falentino Rossy saat memamerkan Hyrosybothportable

Mohamad Falentino Rossy, mahasiswa semester 7 Prodi Manajemen di Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), berhasil membawa ide bisnis unik ke KMI Expo dengan produk inovatif “Hyrosybothportable.” Produk ini merupakan rombong lipat yang praktis dan mudah dibawa, serta dilengkapi desain lampu 3D dengan konsep Infinity Mirror untuk menarik perhatian konsumen, terutama saat berjualan di malam hari.

Konsep Infinity Mirror, yang menjadi daya tarik utama Hyrosybothportable, adalah teknologi pencahayaan dengan efek visual mendalam. Lampu LED diletakkan di antara cermin dua arah yang memantulkan cahaya berulang kali, menciptakan ilusi ruang tanpa batas. Efek ini menghasilkan tampilan tiga dimensi yang unik dan futuristik, membuat rombong terlihat seolah-olah bercahaya dalam, seakan-akan terdapat lorong cahaya tanpa ujung. Dengan inovasi ini, rombong Hyrosybothportable memberikan tampilan menarik yang tidak ditemukan pada rombong lipat konvensional, menjadikannya sorotan di area penjualan malam hari.

Rossy menemukan ide tersebut setelah melihat berbagai konsep wirausaha di luar negeri di platform YouTube, dan tertarik dengan inovasi rombong yang mudah dilipat dan dibawa ke mana saja. Berawal dari desain rombong lipat standar, dirinya mengembangkan produk yang lebih menarik dengan bantuan dana dari Pusat Pengembangan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) senilai Rp19.900.000. Dana ini digunakan untuk eksperimen dan pengembangan model, termasuk pemilihan LED dan jenis kaca yang tepat guna mendapatkan efek visual terbaik. Selain rombong, Rossy juga merancang aksesoris logo dengan teknologi serupa, yang masih dalam tahap prototipe.

Perjalanan untuk menciptakan rombong lipat 3D ini tidaklah mudah. Sebelum mendapatkan dukungan dari P2MW, Rossy dan tim menghadapi tantangan besar, termasuk seringnya pesanan konsumen yang dibatalkan karena keterbatasan stok. 

Selain itu, banyak konsumen luar kota tertarik, namun terkendala biaya pengiriman dan risiko kerusakan produk selama perjalanan. Namun, berkat bimbingan dari Inkubator Wirausaha Unmuh Jember, Rossy dapat mematangkan produk ini dan menyelesaikan simulasi pemaparan bisnis sebelum KMI Expo.

Dengan dukungan penuh dari keluarga, teman, dan dosen, Rossy berhasil meraih juara harapan pertama di kompetisi Kewirausahaan  Mahasiswa Indonesia (KMI) dalam kategori industri kreatif, seni, dan budaya. 

“Saya sangat berterima kasih kepada semua yang telah mendukung saya. Ini baru awal, dan saya berharap Hyrosybothportable dapat terus berkembang hingga dikenal di seluruh Indonesia,” ujar Rossy penuh optimisme. 

Melalui Hyrosybothportable, Rossy berharap dapat berkontribusi dalam mengembangkan UMKM dengan memperkenalkan inovasi yang tidak hanya menarik secara visual, namun juga mudah dan terjangkau bagi para pelaku usaha kecil di Indonesia.

Baca juga : Patin Fish Farm: Kisah Sukses Usaha Budidaya Ikan Patin dengan Teknologi RAS

Connect