Rabu, 12 Agustus 2026

Dr. Wahyudi Widada Soroti Peran Spiritual Care dalam Pelayanan Keperawatan Kritis Pada Webinar Ners Angkatan XVI Unmuh Jember


Pelayanan keperawatan tidak hanya berfokus pada kondisi fisik pasien, tetapi juga perlu memperhatikan aspek spiritual dalam proses pemulihan. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Webinar Ners Angkatan XVI Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember.

Dalam webinar tersebut, Dosen Fikes Unmuh Jember, Dr. Wahyudi Widada, S.Kp., M.Ked., menyampaikan materi bertajuk “Evidence Based Spiritual Care dan Tantangan Implementasi pada Pelayanan Keperawatan Kritis.” Materi tersebut menyoroti pentingnya pendekatan spiritual sebagai bagian dari pelayanan keperawatan kepada pasien, khususnya pada kondisi kritis.

Dr. Wahyudi menjelaskan bahwa profesi perawat memiliki peran penting dalam mendampingi pasien yang menghadapi kondisi sakit. Pendampingan tidak hanya dilakukan melalui tindakan medis dan keperawatan, tetapi juga dapat diberikan melalui dukungan spiritual, termasuk doa dan pendampingan ketika pasien maupun keluarga menghadapi situasi sulit.

Dalam materinya, ia mengangkat sejumlah kisah pasien sebagai gambaran mengenai pengalaman spiritual dalam menghadapi penyakit, di antaranya kisah pasien kanker payudara stadium 3B, anak yang mendampingi ayahnya menjelang ajal, pasien yang mengalami pergulatan kondisi spiritual, serta pasien kanker pankreas.

Salah satu landasan yang disampaikan dalam materi tersebut adalah hadis qudsi mengenai kemuliaan menjenguk orang sakit. Hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah tersebut menggambarkan kedekatan Allah SWT dengan hamba-Nya yang sedang sakit serta pentingnya kehadiran dan kepedulian terhadap mereka.

Selain memberikan pendampingan secara emosional dan spiritual, materi webinar juga membahas berbagai bentuk doa yang dapat diberikan dalam pendampingan pasien. Di antaranya doa ketika menjenguk orang sakit, doa pengobatan, doa meruqyah, hingga doa penjagaan.

Salah satu pendekatan yang dibahas adalah ruqyah syar'iyah sebagai bentuk intervensi spiritual. Dalam penerapannya, perawat atau pendamping terlebih dahulu melakukan wawancara kepada pasien untuk mengetahui keluhan yang dirasakan, termasuk kondisi emosional maupun keluhan yang dianggap berkaitan dengan gangguan nonmedis.

Pendekatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan edukasi mengenai pengobatan berbasis Al-Qur'an, ajakan untuk menghindari perbuatan maksiat, serta penguatan sikap sabar dan menerima takdir dalam menghadapi sakit.

Dalam materi praktiknya, spiritual care juga mencakup pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an dan doa tertentu. Materi tersebut antara lain memuat pembacaan Surah Al-Fatihah, sejumlah ayat dari Surah Al-Baqarah, At-Taubah, serta tiga surah yang dikenal sebagai Al-Mu'awwidzat atau tiga Qul, yakni Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.

Selain itu, peserta diperkenalkan dengan sejumlah ayat yang disebut sebagai ayat-ayat syifa atau ayat pengobatan, yaitu dari Surah At-Taubah ayat 14, Yunus ayat 57, An-Nahl ayat 69, Al-Isra' ayat 82, Ash-Syu'ara ayat 80, dan Al-Fushilat ayat 44.

Dr. Wahyudi juga mengangkat doa Nabi Ayyub AS sebagai salah satu contoh doa dalam menghadapi penyakit. Kisah Nabi Ayyub menjadi gambaran mengenai kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi ujian sakit serta berserah diri kepada Allah SWT.

Melalui materi tersebut, Webinar Ners XVI Fikes Unmuh Jember menekankan bahwa pelayanan keperawatan dapat dipandang secara lebih menyeluruh dengan memperhatikan kebutuhan pasien, termasuk kebutuhan spiritual. Spiritual care diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat menjadi bagian dari pengamalan dalam memberikan pendampingan kepada pasien sesuai dengan konteks dan kompetensi pelayanan keperawatan.

Webinar Ners XVI Fikes Unmuh Jember Soroti Pentingnya Asuhan Keperawatan Spiritual bagi Pasien Kritis


Pelayanan keperawatan pada pasien kritis tidak hanya berfokus pada kondisi fisik, tetapi juga perlu memperhatikan aspek mental, sosial, dan spiritual. Pendekatan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Webinar Ners XVI Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember yang diselenggarakan di Aula Darusy Syifa', RSD dr. Subandi, Kecamatan Patrang, pada (12/08).

Dalam kegiatan tersebut, Ns. Imam Sanusi, S.Kep., MM.Kes. mempresentasikan materi bertajuk “Implementasi Asuhan Keperawatan Spiritual pada Pasien Kritis”. Materi tersebut membahas pentingnya pendekatan keperawatan secara holistik dalam memberikan pelayanan kepada pasien, terutama mereka yang berada dalam kondisi kritis.

Ns. Imam menjelaskan bahwa praktik keperawatan profesional pada hakikatnya merupakan pelayanan yang menyeluruh atau holistik. Pelayanan tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, yakni fisik, mental, sosial, dan spiritual. Menurut materi yang disampaikan, pendekatan keperawatan holistik semakin dibutuhkan masyarakat dan dipandang sebagai salah satu kecenderungan pelayanan keperawatan di masa mendatang.

Aspek spiritual menjadi perhatian karena merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Dalam kondisi sakit, terutama ketika tubuh mengalami kelemahan dan pasien menghadapi kondisi yang berat, kebutuhan untuk memperoleh ketenangan dan bergantung kepada Tuhan dapat semakin kuat.

Pembahasan kemudian diarahkan pada kondisi kritis yang dapat terjadi secara tiba-tiba, tidak diharapkan, serta mengancam kehidupan pasien. Kondisi tersebut dapat berupa penyakit akut, trauma, maupun perburukan akut dari penyakit kronis. Situasi ini tidak hanya berdampak kepada pasien, tetapi juga dapat mengancam kesejahteraan keluarga dan memicu respons stres.

Pada pasien kritis, berbagai dampak psikologis dapat muncul, seperti stres akibat penyakit, kecemasan dan ketakutan terhadap ancaman kematian, perasaan terisolasi, depresi, serta perasaan rapuh akibat ketergantungan secara fisik dan emosional. Pasien juga dapat mengalami kegelisahan, kebingungan, delusi, ilusi, maupun halusinasi.

Perhatian terhadap kebutuhan spiritual menjadi semakin penting ketika pasien memasuki kondisi menjelang ajal atau sakaratul maut. Dalam pemaparannya, Ns. Imam menjelaskan sejumlah tanda yang dapat menyertai kondisi tersebut, antara lain penurunan kesadaran, perubahan tanda vital, keringat dingin, tidak adanya respons pada bola mata, gerakan tanpa sadar, serta melemahnya otot.

Menurut materi yang disampaikan, pendampingan terhadap pasien menjelang kematian merupakan bagian dari pendampingan dalam kehidupan. Karena itu, diperlukan langkah yang sistematis dan terstruktur dalam pemberian asuhan keperawatan spiritual, termasuk kolaborasi dengan tim bimbingan rohani rumah sakit.

Implementasi asuhan keperawatan spiritual dilakukan melalui tahapan pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, dan implementasi. Pada tahap pengkajian, perawat dapat mengidentifikasi status agama, tingkat keyakinan, ketakutan terhadap kematian, perasaan hampa dan putus asa, riwayat ibadah sebelum dan setelah sakit, serta harapan pasien terhadap Tuhan.

Khusus pada pasien kritis, pengkajian spiritual juga mencakup status kesadaran, status agama atau kepercayaan, tingkat keyakinan atau keimanan, kemampuan dan kemauan menjalankan ibadah, serta kesadaran terhadap makna hidup. Salah satu diagnosis yang dapat ditemukan dalam pengkajian tersebut adalah distres spiritual.

Selain memberikan asuhan keperawatan, perawat juga dapat berkolaborasi dengan tim bimbingan rohani rumah sakit. Kolaborasi tersebut dilakukan melalui koordinasi dan pengaturan kunjungan tim untuk memberikan bimbingan spiritual kepada pasien.

Bagi pasien yang berada dalam kondisi menjelang ajal, materi menekankan pentingnya memberikan perlakuan sebaik mungkin dan dukungan spiritual. Keluarga dapat dilibatkan untuk mendampingi pasien, sementara pasien diberikan nasihat untuk bersabar, mengingatkan tentang wasiat, memperbanyak istighfar, tidak berputus asa, serta senantiasa berharap terhadap rahmat Allah.

Melalui materi tersebut, Webinar Ners Angkatan XVI Fikes Unmuh Jember menegaskan pentingnya melihat pelayanan keperawatan secara utuh. Asuhan keperawatan spiritual menjadi salah satu pendekatan yang dapat melengkapi pelayanan kepada pasien kritis dengan memperhatikan kebutuhan manusia tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga mental, sosial, dan spiritual.

Webinar Ners Angkatan XVI Bahas Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Bina Rohani Pasien

 

Pelayanan kesehatan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisik pasien, tetapi juga mencakup aspek mental, sosial, dan spiritual. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Webinar Ners Angkatan XVI Fakultas Ilmu Kesehatan(Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember yang dilaksanakan pada (12/8) di Aula Darus Syifa’, RSD dr. Subandi Jember.

Dalam webinar tersebut, materi bertajuk “Kebijakan Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Bina Rohani” dipresentasikan oleh Ns. Mustakim, S.Kep., M.MKes., Sp.KMB. Materi menekankan pentingnya pendekatan pelayanan kesehatan yang holistik dengan memperhatikan kebutuhan spiritual pasien sebagai bagian dari proses perawatan.

Menurut materi yang disampaikan, kesehatan merupakan suatu kesatuan yang tidak hanya mencakup kondisi jasmani, tetapi juga mental, sosial, dan spiritual. Pelayanan spiritual diperlukan untuk membantu pasien dan keluarga menghadapi krisis akibat penyakit. Pendampingan kerohanian juga dinilai dapat membantu mengurangi kecemasan, memberikan ketenangan batin, serta mendukung proses pemulihan pasien.


Pembahasan juga menyoroti pemenuhan hak pasien dalam memperoleh pelayanan yang menghargai harkat, martabat, serta nilai dan keyakinan yang dianut. Rumah sakit memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi kebutuhan spiritual pasien tanpa membedakan latar belakangnya.

Dalam pelaksanaannya, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam pelayanan bina rohani. Perawat atau dokter dapat melakukan skrining dan pengkajian awal untuk mengidentifikasi kebutuhan spiritual pasien sejak proses admisi. Selanjutnya, tenaga kesehatan dapat membantu menghubungkan pasien dengan rohaniwan yang berwenang atau petugas bina rohani sesuai agama dan keyakinan pasien.

Pelayanan bina rohani juga perlu dilaksanakan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan dan rohaniwan. Kolaborasi tersebut bertujuan mendukung ketenangan pasien dengan tetap menjaga batas antara pelayanan spiritual dan keputusan medis. Rohaniwan tidak diperkenankan memberikan arahan yang bertentangan dengan keterangan dokter maupun memengaruhi keputusan pasien dalam memberikan persetujuan tindakan medis atau informed consent.

Sasaran pelayanan bina rohani antara lain pasien yang akan menjalani tindakan medis yang menimbulkan ketakutan, seperti operasi besar dan kemoterapi, pasien dalam kondisi kritis di ruang ICU, pasien paliatif atau terminal, serta pasien dengan penyakit kronis yang membutuhkan dukungan mental.

Materi webinar juga menjelaskan alur standar pelayanan bina rohani di rumah sakit. Proses tersebut dimulai dari pengkajian kebutuhan spiritual dan pencatatan agama serta preferensi pasien, dilanjutkan dengan permintaan layanan oleh pasien atau keluarga, pelaksanaan bimbingan oleh petugas bina rohani atau rohaniwan yang ditunjuk, hingga dokumentasi pelayanan dalam catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT).

Dari sisi regulasi, pelayanan bina rohani berkaitan dengan pemenuhan hak pasien dan standar akreditasi rumah sakit. Materi menyebutkan Standar Hak Pasien dan Keluarga (HPK) 1.2, yang mengatur kewajiban rumah sakit untuk menanggapi permintaan pasien terkait keyakinan agama dan spiritual. Rumah sakit juga perlu menyediakan fasilitas ibadah atau bimbingan rohani yang memadai serta mendokumentasikan permintaan dan pelaksanaan pelayanan tersebut dalam rekam medis terintegrasi.

Landasan hukum yang dipaparkan antara lain Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, yang menegaskan hak pasien untuk menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaannya serta hak untuk menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama atau kepercayaannya. Selain itu, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menempatkan kesehatan dalam cakupan aspek fisik, jiwa, dan sosial serta mempertimbangkan nilai moral dan agama dalam penyelenggaraan kesehatan.

Aspek dokumentasi juga menjadi bagian penting dalam pelayanan bina rohani. Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis disebut sebagai salah satu dasar dalam penyelenggaraan dan pendokumentasian pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan bina rohani yang berkaitan dengan kebutuhan dan kondisi pasien sesuai kebijakan serta prosedur rumah sakit.

Selain aspek kebijakan dan regulasi, materi webinar turut mengangkat hasil penelitian mengenai spiritual care. Wang et al. (2024) menunjukkan pentingnya kompetensi perawat dalam aspek spiritual dan kemampuan mengintegrasikan kebutuhan spiritual pasien ke dalam pelayanan keperawatan. Sementara itu, tinjauan sistematis Dos Santos et al. (2022) menunjukkan bahwa perawat dapat berperan dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien melalui berbagai intervensi yang disesuaikan dengan kondisi dan keyakinan pasien.

Pembahasan tersebut diperkuat oleh kajian Mohd Asri et al. (2024) yang menjelaskan bahwa pengkajian kebutuhan spiritual dan pemberian spiritual care merupakan bagian penting dalam pelayanan keperawatan. Namun, penerapannya di ruang perawatan masih menghadapi tantangan, salah satunya keterbatasan kompetensi tenaga keperawatan dalam memberikan spiritual care secara optimal.

Melalui webinar ini, pemahaman mengenai pelayanan bina rohani diharapkan dapat memperkuat perspektif tenaga kesehatan, khususnya perawat, bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan bagian dari pelayanan yang menghargai manusia secara utuh. Pelayanan tersebut perlu diberikan secara profesional, berdasarkan kebutuhan dan keyakinan pasien, serta tetap mengedepankan etika dan keselamatan dalam proses pelayanan kesehatan.

Merawat Lebih dari Sekadar Fisik, Webinar Ners XVI Bahas Pentingnya Kebutuhan Spiritual Pasien

 

Pemenuhan kebutuhan spiritual pasien menjadi salah satu aspek penting dalam memberikan pelayanan keperawatan secara menyeluruh. Hal tersebut dibahas dalam Webinar Ners Angkatan XVI Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember yang dilaksanakan pada (12/8) di Aula Darus Syifa’, RSD dr. Subandi Jember.

Dalam webinar tersebut, mahasiswa Profesi Ners Angkatan XVI Fikes Unmuh Jember, Silviana Ziqro, S.Kep., mempresentasikan materi bertajuk “Implementasi Pemenuhan Spiritual di Ruang Rawat Inap”. Materi tersebut membahas pentingnya pemenuhan kebutuhan spiritual sebagai bagian dari pendekatan keperawatan holistik dan patient-centered care.

Materi menekankan bahwa model keperawatan merupakan kerangka konseptual yang menjadi pedoman dalam pemberian asuhan keperawatan, mulai dari pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi hingga evaluasi. Dalam pendekatan holistik, pasien dipandang sebagai individu secara utuh yang memiliki dimensi biologis, psikologis, sosial, budaya, dan spiritual.

Dalam pemenuhan kebutuhan spiritual, perawat memiliki peran penting melalui komunikasi terapeutik, empati, penghormatan terhadap keyakinan pasien, serta membantu memfasilitasi kebutuhan ibadah. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Theory of Human Caring yang menekankan pentingnya hubungan terapeutik, kasih sayang, dan kehadiran perawat secara utuh dalam mendampingi pasien.

Spiritualitas sendiri dipahami sebagai dimensi fundamental kehidupan yang berkaitan dengan makna dan tujuan hidup, nilai, harapan, hubungan dengan diri sendiri maupun orang lain, alam, serta Tuhan atau sesuatu yang bersifat transenden. Dalam konteks pasien rawat inap, kebutuhan spiritual dapat berupa kebutuhan akan makna dan tujuan hidup, harapan, kedamaian batin, hubungan yang baik, kesempatan beribadah, hingga dukungan dari rohaniwan sesuai keyakinan pasien.

Pemenuhan kebutuhan spiritual dinilai penting karena dapat membantu pasien memperoleh ketenangan, meningkatkan kemampuan koping, mengurangi stres, kecemasan, dan depresi, serta meningkatkan kualitas hidup. Selain itu, pemenuhan spiritual juga menjadi bagian dari patient-centered care dan asuhan keperawatan holistik yang mendukung proses pelayanan kepada pasien secara menyeluruh.

Materi tersebut juga mengidentifikasi sejumlah kelompok pasien yang memiliki kebutuhan spiritual tinggi, di antaranya pasien dengan penyakit kronis, pasien kritis, pasien paliatif, dan lanjut usia. Pada kelompok tersebut, dukungan spiritual dapat menjadi bagian penting dalam membantu pasien menghadapi kondisi penyakit dan proses perawatan yang dijalani.

Keberhasilan pemenuhan kebutuhan spiritual dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain kepuasan pasien terhadap pelayanan spiritual, kemampuan pasien menjalankan ibadah sesuai kondisi dan keyakinannya, serta peningkatan spiritual well-being. Kondisi tersebut ditandai dengan pasien merasa lebih tenang, ikhlas, memiliki harapan, dan tidak lagi diliputi rasa takut secara berlebihan.

Dalam pembahasannya, mahasiswa juga menyoroti bahwa penerapan spiritual care di ruang rawat inap masih belum terintegrasi secara konsisten. Pelayanan keperawatan masih cenderung berfokus pada aspek biologis, sementara intervensi spiritual umumnya terbatas pada doa bersama dan pendampingan rohani, terutama ketika pasien berada dalam kondisi terminal. Beban kerja perawat yang tinggi dan keterbatasan waktu menjadi salah satu hambatan dalam penerapan pelayanan spiritual secara optimal.

Karena itu, spiritual care perlu diintegrasikan secara lebih optimal ke dalam pelayanan keperawatan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penguatan kompetensi perawat, penyediaan pedoman dan fasilitas pendukung, serta optimalisasi peran perawat sebagai fasilitator kebutuhan spiritual pasien. Dengan demikian, pendekatan patient-centered care dapat diterapkan secara lebih holistik dengan memperhatikan kebutuhan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual pasien secara seimbang.

Pembahasan mengenai implementasi pemenuhan spiritual tersebut melengkapi materi “Kebijakan Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Bina Rohani” yang turut dipresentasikan dalam kegiatan. Materi tersebut menegaskan bahwa pelayanan spiritual merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan holistik pasien serta perlu dilaksanakan dengan menghormati harkat, martabat, dan keyakinan pasien.

Melalui Webinar Ners Angkatan XVI, pembahasan mengenai spiritual care diharapkan dapat memperkuat pemahaman calon perawat mengenai pentingnya memberikan asuhan yang tidak hanya berorientasi pada kondisi fisik pasien, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan keperawatan yang komprehensif, manusiawi, dan berpusat pada kebutuhan pasien.

Fikes Unmuh Jember Gelar Webinar Ners Angkatan XVI, Perkuat Kompetensi Keperawatan Holistik

 

Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember terus mendorong mahasiswa Profesi Ners untuk memiliki kemampuan memberikan pelayanan keperawatan secara holistik. Upaya tersebut diwujudkan melalui Webinar Ners Angkatan XVI yang dilaksanakan di Aula Darus Syifa’, RSD dr. Subandi Jember pada 12 Agustus 2026 .

Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa Profesi Ners Angkatan XVI untuk memperdalam wawasan dan pengalaman mengenai pelayanan keperawatan, khususnya pemenuhan kebutuhan spiritual pasien. Webinar menghadirkan sejumlah materi yang membahas spiritual care, pelayanan bina rohani, hingga implementasi asuhan keperawatan spiritual pada pasien kritis.

Ketua panitia, Mohammad Washli Manash, S.Kep., menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan uapaya meningkatkan pemahaman tentang pentingnya integrasi spiritual dalam mendukung pelayanan holistik.

"Webinar ini berupaya meningkatkan pengetahuan tentang integrasi spiritual dalam pelayanan kesehatan yang khususnya dalam mendukung pelayanan holistik dan berpusat pada kebutuhan pasien" jelasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Dekan Fikes Unmuh Jember, Ns. Sri Wahyuni, M.Kep., Sp.Kep.Kom., sebagai bentuk dukungan terhadap mahasiswa Profesi Ners dalam mengembangkan kompetensi profesionalnya. Kehadiran pimpinan fakultas sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kelembagaan antara Fikes Unmuh Jember dan RSD dr. Subandi Jember, khususnya dalam mendukung proses pendidikan dan praktik klinik mahasiswa.

Beliau menyebutkan Fikes Unmuh Jember akan berkolaborasi dan bermitra dengan RSD dr. Subandi dalam berbagai kegiatan akademik, termasuk kegiatan akreditasi.

"Tentunya, kami akan menjadikan RSD dr. Sbandi sebagai mitra kami yang akan kami libatkan dalam proses akreditasi" ujarnya.

Dukungan terhadap kolaborasi tersebut dinilai penting mengingat lingkungan rumah sakit menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi mahasiswa Profesi Ners untuk mengembangkan kemampuan profesional sekaligus memahami kebutuhan pasien secara langsung. Sinergi antara institusi pendidikan dan rumah sakit diharapkan dapat terus diperkuat dalam mendukung pendidikan, pelayanan, dan pengembangan kompetensi tenaga kesehatan.

Salah satu materi yang dipresentasikan mahasiswa Profesi Ners Angkatan XVI adalah “Implementasi Pemenuhan Spiritual di Ruang Rawat Inap”. Materi ini menekankan bahwa pasien perlu dipandang sebagai individu secara utuh, tidak hanya dari aspek biologis, tetapi juga psikologis, sosial, budaya, dan spiritual.

Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan bagian dari pendekatan keperawatan holistik dan patient-centered care. Perawat memiliki peran dalam memberikan komunikasi terapeutik, empati, menghormati keyakinan pasien, serta memfasilitasi kebutuhan ibadah sesuai kondisi dan keyakinan pasien.

Kebutuhan spiritual pasien dapat mencakup kebutuhan akan makna dan tujuan hidup, harapan, kedamaian batin, hubungan yang baik, kesempatan menjalankan ibadah, serta dukungan rohaniwan. Pemenuhan kebutuhan tersebut diharapkan dapat membantu pasien memperoleh ketenangan, meningkatkan kemampuan koping, mengurangi stres dan kecemasan, serta mendukung kualitas hidup pasien.

Materi lainnya, “Kebijakan Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Bina Rohani”, dipresentasikan oleh Ns. Mustakim, S.Kep., M.MKes., Sp.KMB. Materi ini membahas pentingnya pelayanan kesehatan yang memperhatikan aspek fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Dalam pemaparannya, pelayanan bina rohani ditempatkan sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan holistik pasien. Tenaga kesehatan memiliki peran dalam melakukan skrining dan pengkajian awal kebutuhan spiritual pasien, kemudian memfasilitasi pasien untuk memperoleh pendampingan dari rohaniwan atau petugas bina rohani sesuai agama dan keyakinannya.

Pelayanan bina rohani juga membutuhkan kolaborasi antara tenaga kesehatan dan rohaniwan. Kolaborasi dilakukan untuk memberikan dukungan spiritual kepada pasien dengan tetap menjaga batas profesional serta tidak mengintervensi keputusan medis maupun informed consent pasien.

Materi berikutnya, “Implementasi Asuhan Keperawatan Spiritual pada Pasien Kritis”, disampaikan oleh Ns. Imam Sanusi, S.Kep., MM.Kes. Materi tersebut menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam memberikan pelayanan kepada pasien kritis.

Pasien kritis dapat mengalami berbagai persoalan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga psikologis dan spiritual. Kondisi seperti kecemasan, ketakutan terhadap kematian, perasaan terisolasi, depresi, hingga ketergantungan secara fisik dan emosional dapat muncul pada pasien yang berada dalam kondisi kritis.

Karena itu, kebutuhan spiritual perlu menjadi bagian dari pengkajian keperawatan. Perawat dapat mengidentifikasi status agama dan kepercayaan, tingkat keyakinan, kemampuan menjalankan ibadah, ketakutan terhadap kematian, hingga harapan pasien terhadap Tuhan. Dalam pelaksanaannya, perawat juga dapat berkolaborasi dengan tim bimbingan rohani rumah sakit untuk memberikan pendampingan sesuai kebutuhan pasien.

Sementara itu, Dr. Wahyudi Widada, S.Kp., M.Ked., dosen Fikes Unmuh Jember, menyampaikan materi “Evidence Based Spiritual Care dan Tantangan Implementasi pada Pelayanan Keperawatan Kritis.” Materi tersebut mengangkat pentingnya dukungan spiritual dalam mendampingi pasien dan keluarga yang menghadapi kondisi sulit.

Dr. Wahyudi menjelaskan bahwa perawat tidak hanya berperan dalam memberikan tindakan medis dan keperawatan, tetapi juga dapat memberikan pendampingan emosional dan spiritual. Dalam materi tersebut dibahas sejumlah pengalaman pasien dalam menghadapi penyakit serta berbagai bentuk doa dan pendampingan spiritual.

Materi juga mengangkat praktik spiritual care melalui doa, pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, serta penguatan kesabaran dan penerimaan terhadap kondisi sakit. Pendekatan tersebut ditempatkan sebagai bentuk pendampingan spiritual yang perlu dilakukan dengan memperhatikan konteks dan kompetensi pelayanan keperawatan.

Rangkaian materi dalam Webinar Ners Angkatan XVI menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memberikan pelayanan keperawatan secara menyeluruh. Pendekatan tersebut menempatkan pasien sebagai individu yang memiliki kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.

Melalui kegiatan ini, Fikes Unmuh Jember mendorong mahasiswa Profesi Ners untuk tidak hanya menguasai kompetensi klinis, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap kebutuhan pasien secara utuh. Pemahaman mengenai spiritual care diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam memberikan pelayanan yang profesional, manusiawi, dan berpusat pada pasien.

Di sisi lain, pelaksanaan webinar di RSD dr. Subandi Jember menjadi momentum untuk terus memperkuat sinergi antara Fikes Unmuh Jember dan rumah sakit dalam mendukung pendidikan profesi Ners. Kolaborasi yang berkelanjutan diharapkan dapat memberikan ruang pembelajaran yang semakin baik bagi mahasiswa sekaligus mendukung peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.

Sabtu, 21 Februari 2026

Menteri Kehutanan Paparkan Penguatan Polisi Hutan saat Kajian Ramadhan di Unmuh Jember

Raja Juli Antoni menegaskan komitmennya untuk melakukan reformasi menyeluruh tata kelola kehutanan nasional saat memberikan sambutan dalam Kajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), Sabtu (21/2/2026). Dalam forum bertema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” tersebut, ia menyebut kehadirannya bukan sekadar memberi sambutan formal, melainkan sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban seorang kader Muhammadiyah yang kini mengemban amanah sebagai Menteri Kehutanan.

Raja Juli yang mengaku tumbuh dalam lingkungan pendidikan Muhammadiyah sejak Ikatan Pelajar Muhammadiyah hingga sekolah formal Muhammadiyah, menegaskan bahwa Islam memiliki fondasi teologis yang kuat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, ajaran Islam secara kaffah memiliki kompatibilitas yang solid dengan isu-isu lingkungan hidup dan kehutanan. Ia mengutip berbagai ayat Al-Qur’an serta praktik para khalifah yang melarang perusakan alam, bahkan dalam kondisi perang sekalipun. Larangan menebang pohon berbuah dan merusak tanaman, menurutnya, menunjukkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ajaran fundamental Islam yang relevan dengan konsep ekoteologi hari ini.

Dalam kesempatan tersebut, Raja Juli juga menyinggung tragedi bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai momentum evaluasi besar terhadap tata kelola hutan nasional. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai “lecutan bahkan tamparan” untuk melakukan pembenahan total terhadap forest governance. Mengutip pandangan Albert Einstein tentang definisi kegilaan, melakukan hal yang sama berulang kali dan berharap hasil berbeda, ia menegaskan bahwa tata kelola kehutanan tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama jika menginginkan hasil yang berbeda.


Ia memaparkan kondisi riil yang dinilainya memprihatinkan. Indonesia memiliki sekitar 125 juta hektar kawasan hutan, namun hanya diawasi sekitar 4.800 polisi hutan. Di Aceh, 3,5 juta hektar hutan hanya dijaga 64 personel, sementara di Sumatera Utara 3 juta hektar hutan diawasi sekitar 240 personel. Menurutnya, dengan keterbatasan sumber daya manusia tersebut, mustahil pengawasan terhadap illegal logging, perkebunan sawit ilegal, perburuan liar, dan pelanggaran lainnya dapat berjalan optimal. Karena itu, ia mengusulkan penambahan signifikan jumlah polisi hutan dengan rasio ideal satu petugas untuk setiap 2.000–2.500 hektar kawasan hutan, yang jika terealisasi akan menambah puluhan ribu personel baru.

Selain penguatan sumber daya manusia, Raja Juli juga menyoroti persoalan struktur kelembagaan yang dinilai kurang efektif. Ia berencana membentuk Pusat Koordinasi Wilayah (Puskorwil) di setiap provinsi guna memperkuat rentang kendali antara kementerian di pusat dan unit teknis di daerah. Skema ini diharapkan menjadi solusi koordinatif tanpa berbenturan dengan regulasi otonomi daerah, sekaligus menghadirkan layanan terpadu satu pintu dalam penanganan berbagai persoalan kehutanan di daerah.

Upaya modernisasi pengawasan juga akan dilakukan melalui pemanfaatan teknologi, termasuk pengadaan pesawat ringan dan drone untuk mendukung sistem patroli cerdas (smart patrol). Dengan pendekatan ini, deteksi dini terhadap kebakaran hutan, penebangan ilegal, hingga aktivitas tambang ilegal di kawasan hutan diharapkan dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.

Dalam konteks perguruan tinggi, Raja Juli juga membuka peluang pengelolaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) bagi kampus, termasuk bagi Universitas Muhammadiyah Jember. Skema tersebut memungkinkan kawasan hutan dimanfaatkan untuk riset sekaligus dikembangkan secara produktif. Ia menyebut enam Universitas Muhammadiyah telah menerima KHDTK dan membuka peluang serupa bagi Unmuh Jember sebagai tuan rumah Kajian Ramadhan tahun ini.

Menutup sambutannya, Raja Juli menegaskan bahwa amanah menjaga hutan bukan sekadar tanggung jawab administratif, melainkan bagian dari ibadah dan tugas kekhalifahan manusia di muka bumi. Ia memohon doa dan dukungan seluruh warga Muhammadiyah agar dapat menjalankan tugasnya dengan istiqamah dalam membenahi tata kelola kehutanan nasional demi mencegah bencana serupa terulang di masa mendatang.

Selasa, 23 Desember 2025

Unmuh Jember dan MGMP PJOK Jember Gelar Seminar Pendidikan Jasmani

Program Studi Pendidikan Jasmani (Penjas) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) bekerja sama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PJOK SMA Kabupaten Jember sukses menggelar seminar bertajuk “From Campus to School: Implementasi Deep Learning dalam Praktik Mengajar Pendidikan Jasmani”, Sabtu (20/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di Lobby Gedung FKIP Universitas Muhammadiyah Jember ini menjadi ruang strategis untuk menjembatani dunia akademik kampus dengan realitas pembelajaran di sekolah.

Sejak pagi, ratusan mahasiswa tampak antusias mengikuti rangkaian acara yang diawali dengan registrasi peserta dan persiapan panitia. Seminar dibuka secara resmi melalui opening ceremony yang dipandu oleh MC, Vina. Suasana khidmat terasa saat peserta bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan Mars Patriot Olahraga, dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia, Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani sekaligus dosen pembimbing, serta sambutan dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Jember sebagai pembina kegiatan. Acara pembukaan ditutup dengan doa bersama.

Memasuki sesi inti, seminar menghadirkan Andika Fence, H.A., S.Or., S.Pd., Gr, guru Pendidikan Jasmani SMAN 3 Jember sekaligus Sekretaris MGMP PJOK Kabupaten Jember, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Andika menjelaskan konsep deep learning serta urgensinya dalam pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah. Ia menekankan bahwa pembelajaran tidak hanya berorientasi pada capaian fisik, tetapi juga pada pemaknaan, keterlibatan aktif, serta pengembangan karakter peserta didik.

“Pembelajaran pendidikan jasmani harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna, mendorong siswa berpikir kritis, aktif bergerak, dan memahami nilai di balik setiap aktivitas,” jelasnya di hadapan peserta seminar.

Antusiasme peserta semakin terlihat pada sesi tanya jawab. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan dan berdiskusi mengenai tantangan penerapan deep learning di sekolah, mulai dari keterbatasan sarana, karakter peserta didik, hingga strategi mengelola kelas pendidikan jasmani secara efektif dan inovatif.

Seminar ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani angkatan 2023 sebagai bekal awal dalam menghadapi magang kependidikan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memiliki gambaran nyata tentang praktik pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dan dinamika sekolah saat ini. Sementara itu, pelaksanaan seminar menjadi bagian dari implementasi pembelajaran mata kuliah Seminar Olahraga yang diampu oleh mahasiswa angkatan 2022 sebagai bentuk pembelajaran berbasis proyek.

Kegiatan seminar ditutup dengan sesi penutup dan dokumentasi bersama. Melalui kolaborasi antara Program Studi Pendidikan Jasmani Universitas Muhammadiyah Jember dan MGMP PJOK SMA Kabupaten Jember, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kesiapan mahasiswa sebagai calon pendidik profesional, sekaligus mempererat sinergi antara kampus dan sekolah dalam pengembangan pendidikan jasmani yang adaptif dan bermakna.

Rabu, 17 Desember 2025

Inovatif! PBSI Unmuh Jember Gelar Seminar Terbuka Tugas Akhir Non-Skripsi di Area Terbuka

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menghadirkan inovasi unik dalam pelaksanaan kegiatan akademik. Pada Selasa, (16/12/2025), suasana di Lapangan Mandalika Unmuh Jember tampak berbeda dengan diadakannya seminar terbuka tugas akhir bagi mahasiswa yang menempuh jalur non-skripsi. Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini menjadi wadah bagi para mahasiswa tingkat akhir untuk mempresentasikan karya ilmiah mereka di hadapan para dosen penguji serta disaksikan secara langsung oleh mahasiswa dari berbagai angkatan.

Pemilihan konsep outdoor atau ruang terbuka merupakan langkah berani dari Prodi PBSI untuk menciptakan atmosfer akademik yang lebih segar, komunikatif, dan inovatif. Melalui format ini, seminar tidak lagi terasa kaku di dalam aula atau ruang kelas, melainkan lebih mendekatkan aktivitas riset dengan lingkungan sosial kampus. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mengasah mental dan keterampilan berbicara di depan umum (public speaking) bagi mahasiswa, sekaligus menarik minat mahasiswa angkatan bawah untuk menyimak dan belajar dari proses penyelesaian tugas akhir kakak tingkat mereka.

Dalam suasana yang interaktif, sejumlah mahasiswa memaparkan hasil penelitian yang sangat beragam dan menarik. Novi Afriliya mempresentasikan artikel berjudul “Representasi Trauma dalam Novel Kidung Rindu di Tapal Batas Aguk Irawan: Analisis Sigmun Freud” di bawah bimbingan Dr. Eka Nova Ali Vardani dan Dr. Hasan Suaedi. Selain itu, Yuniar Firjinia Fatwa membawakan kajian lanskap linguistik mengenai penggunaan eponim pada penamaan jalan di Kota Jember, yang dibimbing oleh Dr. Astri Widyaruli Anggraeni dan Dina Merdeka Citraningrum. Tak kalah menarik, Jasmin Fauzia memaparkan konstruksi makna kiasan dalam dialog film populer Home Sweet Loan di bawah bimbingan tim dosen yang sama.

Diskusi berlangsung secara dinamis di bawah terik matahari yang menambah semangat para peserta. Mahasiswa angkatan 22, 23, dan 24 yang hadir turut aktif memberikan pertanyaan terkait temuan-temuan unik dalam penelitian tersebut. Para penguji pun memberikan masukan serta kritik konstruktif sebagai bentuk apresiasi terhadap karya non-skripsi yang dihasilkan, yang menunjukkan kualitas penelitian yang tetap terjaga meski dalam format yang berbeda.

Melalui terlaksananya seminar terbuka di Lapangan Mandalika ini, Program Studi PBSI Unmuh Jember berharap dapat terus menghadirkan terobosan dalam kegiatan akademik. Harapannya, lulusan PBSI tidak hanya unggul dalam penguasaan teori bahasa dan sastra, tetapi juga memiliki karakter yang kreatif, komunikatif, dan siap berkontribusi nyata di tengah masyarakat luas. Kegiatan ini menegaskan posisi Unmuh Jember sebagai kampus yang dinamis dan adaptif terhadap perkembangan metode pembelajaran masa kini.

Rabu, 10 Desember 2025

Agribisnis Harumanis Tembus Puluhan Miliar: Ketua Koperasi Y.A. Bagikan Rahasia Potensi Ekonomi Tinggi di Unmuh Jember

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menghadirkan perspektif bisnis yang menjanjikan melalui Cocoa Segment Lecture Voice pada Rabu (3/12/2025). Acara ini menghadirkan praktisi sekaligus wirausahawan agribisnis, Mr. Mohd Asri Bin Yusoff, Ketua Koperasi Y.A. Harumanis, untuk berbagi wawasan mengenai Agribusiness Entrepreneurship.

Dalam paparannya, Mohd Asri Yusoff, yang beroperasi di Kg Baru Panggas, Chuping, Perlis, Malaysia, menegaskan bahwa Industri Harumanis memiliki peluang dan potensi yang sangat tinggi dalam menjana ekonomi. Ia memaparkan bahwa agribisnis Harumanis Y.A. diproyeksikan mencapai pendapatan total RM 10 Juta (sekitar IDR 33 Miliar) pada tahun 2027.

Mohd Asri menjelaskan bahwa potensi pendapatan tinggi dalam agribisnis Harumanis tidak hanya bergantung pada penjualan buah segar, tetapi bertumpu pada tiga cabang bisnis utama.

Pertama adalah Penjualan Buah Langsung atau buah segar. Penjualan ini dilakukan secara langsung atau online dan sangat bergantung pada kualitas gred buah. Koperasi Y.A. menjual buah berdasarkan gred A hingga D, dengan Gred A memiliki harga tertinggi (RM 45/kg) dan kontribusi persentase terbesar dari hasil per pokok (60%). Koperasi ini juga menyediakan layanan kurir untuk pengiriman ke seluruh Semenanjung Malaysia.

Kedua, adalah Produk Hiliran (Downstream Products). Untuk meningkatkan nilai tambah dan meminimalkan kerugian buah non-premium, Koperasi Y.A. mengembangkan berbagai produk hiliran. Produk-produk ini memanfaatkan isi mangga Harumanis, termasuk Isi Sejuk Beku, Serbuk Harumanis, Kordial, Jem, Cheese Tart, Sirap, Sos Salad, dan Sos Mangga Harumanis.

Ketiga, adalah Agropelancongan. Cabang ini memanfaatkan ladang mangga sebagai daya tarik wisata, dengan menawarkan aktivitas seperti wisata ke ladang mangga dan kegiatan event publik seperti Harumanis Y.A Family Fun Run 5km. Sektor Agropelancongan diprediksi menyumbang sekitar 20% dari estimasi pendapatan di tahun 2027.

Mohd Asri memproyeksikan pertumbuhan pendapatan yang sangat agresif dalam tiga tahun ke depan. Total pendapatan dari tiga cabang agribisnis diperkirakan naik signifikan dari RM 1.2 Juta (sekitar IDR 4 Miliar) di tahun 2025 menjadi RM 2.5 Juta (sekitar IDR 8.3 Miliar) di tahun 2026, dan mencapai RM 10 Juta (sekitar IDR 33 Miliar) pada tahun 2027. Presentasi ini membuktikan bahwa Mangga Harumanis adalah salah satu bidang agro-bisnis yang cukup berpotensi tinggi jika dikelola melalui diversifikasi produk dan strategi pemasaran yang kuat.

Prof. Subash UniMAP Ungkap Revolusi Pertanian dengan Plasma Dingin di Unmuh Jember

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) kembali mengadakan sesi akademik internasional melalui Cocoa Segment Lecture Voice pada Rabu (3/12/2025). Kegiatan ini menghadirkan profesor terkemuka, Prof. Dr. Subash Gopinath dari Universiti Malaysia Perlis (UniMAP), yang dikenal sebagai salah satu ilmuwan top dunia dari tahun 2020 hingga 2024.

Prof. Subash Gopinath, yang bertugas di Fakultas Kejuruteraan & Teknologi Kimia (FKTK) dan Institute of Nano Electronic Engineering (INEE) UniMAP, mempresentasikan materi berjudul “Advancing Agricultural Performance with Nanotechnology and Cold Plasma Technologies”. Presentasi ini menyoroti bagaimana teknologi skala nano dapat mentransformasi efisiensi dan keamanan pangan, sebuah konsep yang sangat relevan dengan industri pertanian.

Dalam paparannya, Prof. Subash menjelaskan dua pilar teknologi yang dikembangkan timnya untuk meningkatkan kinerja pertanian:

Prof. Subash memperkenalkan konsep nanoteknologi, yaitu produksi dan manipulasi nanomaterial (dimensi kurang dari 100 nm) yang digunakan dalam pengembangan Biosensor. Biosensor adalah perangkat yang mampu mendeteksi berbagai jenis biomarker penyakit dengan sensitivitas tinggi.

Pekerjaan timnya mencakup sintesis nanomaterial seperti Graphene Oxide (GO), Carbon Nanotubes (CNTs), Zinc Oxide (ZnO), dan Silicon Nanowires (SiNW) sebagai transduser biosensor. Meskipun awalnya berfokus pada diagnosis biomedis (seperti deteksi Diabetes, DENV, HIV, dan berbagai jenis kanker), potensi akurasi dan kecepatan deteksi biosensor ini sangat relevan untuk mengukur kondisi kesehatan tanaman dan tanah secara cepat dan tepat.

Aspek kedua yang disorot adalah penggunaan Cold Plasma Technologies (Plasma Dingin). Perlakuan Atmospheric Cold Plasma telah terbukti efektif dalam inaktivasi mikroba. Sebagai contoh, perlakuan ini dapat mengurangi pertumbuhan Aspergillus Flavus (jamur) pada sereal beras merah secara signifikan, sebuah indikasi bahwa teknologi ini sangat potensial dalam pertanian dan keamanan pangan untuk mengurangi pertumbuhan jamur dan mikroba pada hasil panen pasca-panen.

Selain teknologi sensor, Prof. Subash juga memaparkan kontribusi timnya dalam menghadapi Zero-waste Challenge melalui pemanfaatan limbah menjadi nanomaterial berharga. Beberapa contoh pemanfaatan limbah meliputi ekstraksi Silica Nanopartikel dari abu ampas jerami padi (rice straw fly ash), pemanfaatan abu kertas sembahyang (Joss paper dan Holly stick) untuk menghasilkan Aluminosilikat Nanokomposit, serta produksi Tembaga Oksida Nanopartikel dari limbah papan sirkuit tercetak (Printed Circuit Board).

Acara Cocoa Segment Lecture Voice di Unmuh Jember ini menegaskan komitmen institusi untuk memfasilitasi wawasan global tentang teknologi maju, memicu kolaborasi internasional, dan mendorong pengembangan riset mahasiswa dan dosen di bidang agroteknologi dan nanoteknologi.

Peningkatan Hasil 9 Kali Lipat! Dosen UniMAP Malaysia Kupas Tuntas Transformasi Industri Mangga Harumanis di Unmuh Jember

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) kembali menjadi pusat diskusi akademik ASEAN melalui penyelenggaraan Cocoa Segment Lecture Voice pada Rabu (3/12/2025). Bertempat di Aula Fakultas Pertanian Unmuh Jember, acara ini menghadirkan Ts. Ahmad Radi Wan Yaakub dari Universiti Malaysia Perlis (UniMAP). Ts. Ahmad Radi, seorang Jurutera Pengajar dan Penyelidik Mangga Harumanis dari Fakultas Kejuruteraan & Teknologi Kimia UniMAP, memaparkan risetnya yang berjudul “Transformasi Industri Harumanis Melalui Penyelidikan, Teknologi & Kesan kepada Komuniti” (Transformation of the Harumanis Industry Through Research, Technology & Impact on the Community).

Mangga Harumanis dikenal sebagai komoditas premium di Malaysia, dengan harga jual mencapai MYR 35.00 per kilogram (sekitar IDR 141.000) untuk Gred AAA. Namun, industri ini menghadapi tantangan besar, terutama serangan jamur (kulat) pada bunga saat musim hujan (Oktober), yang menyebabkan kegagalan panen yang signifikan.

Ts. Ahmad Radi menjelaskan, kunci transformasi industri Harumanis terletak pada pengendalian hama dan penyakit yang efektif di fase kritis, yaitu saat musim berbunga di bulan Oktober yang identik dengan curah hujan tinggi. Melalui penyelidikan ilmiah, tim UniMAP berhasil mengidentifikasi spesis jamur utama yang menyerang bunga Harumanis, termasuk Oidium species, Aspergillus species, dan Fusarium species. Setelah pengujian, mereka menemukan bahwa bahan aktif Propineb merupakan anti-jamur yang paling efektif untuk melawan spesis tersebut. Riset ini menghasilkan protokol penting, yakni merekomendasikan penyemprotan anti-jamur secara berkala, yaitu setiap 2-3 hari sekali (48 jam), untuk memastikan bunga terlindungi sepenuhnya dari serangan jamur yang fatal.

Penerapan teknologi dan protokol penyemprotan yang disarankan oleh UniMAP ini membuahkan hasil yang luar biasa di lapangan. Dalam uji coba di Lot Cubaan (kebun percontohan) seluas kurang dari 1 Relung (sekitar 47 pohon), dengan penerapan protokol penyemprotan yang ketat saat musim berbunga, Bunga Harumanis berhasil terlindungi, sehingga panen sukses dilakukan pada akhir bulan Januari. Jumlah buah yang dipanen mencapai 1.2 Ton. Hasil ini menunjukkan peningkatan jumlah buah hingga 9 kali lipat dibandingkan hasil rata-rata tanpa kontrol yang memadai. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan hasil panen dan kualitas Gred AAA Harumanis, tetapi juga memberikan dampak positif yang signifikan pada pendapatan dan ketahanan komunitas petani Harumanis di Perlis.

Acara Cocoa Segment Lecture Voice di Fakultas Pertanian Unmuh Jember ini diharapkan dapat menginspirasi peneliti, mahasiswa, dan pelaku agribisnis di Indonesia untuk mengadopsi teknologi berbasis riset guna mengoptimalkan hasil pertanian tropis lokal. 

Senin, 08 Desember 2025

Dosen UniMAP Malaysia Hadir di Unmuh Jember, Bagikan Inovasi Strategi Enkapsulasi pada Buah Tropis

 

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) kembali mengadakan kegiatan akademik berkelas internasional dengan menyelenggarakan Cocoa Segment Lecture Voice pada Rabu (3/12/2025). Acara yang diselenggarakan di Aula Fakultas Teknik Unmuh Jember ini, menghadirkan narasumber dari luar negeri, yaitu Dr. Lee Boon Beng, Dosen Senior dari Universiti Malaysia Perlis (UniMAP).

Dr. Lee Boon Beng, yang merupakan perwakilan dari Fakultas Teknik dan Teknologi Kimia (FKTK) UniMAP, memaparkan risetnya yang berjudul “Encapsulation Strategies in Tropical Fruit Systems: Fruit Ripeness Control and Functional Juice Fortification” (Strategi Enkapsulasi Dalam Sistem Buah Tropis: Kontrol Kematangan Buah dan Fortifikasi Jus Fungsional).

Riset ini berfokus pada pemanfaatan teknologi enkapsulasi mikro untuk memecahkan dua masalah krusial di industri pangan tropis, yaitu pengendalian kematangan buah pascapanen dan peningkatan nilai fungsional produk minuman.

Dua Fokus Utama Inovasi Enkapsulasi. Dalam paparannya, Dr. Lee Boon Beng merinci dua inovasi utama yang telah dikembangkan timnya yaitu, Kontrol Kematangan Mangga Harumanis dengan “Ripener Beads” Dr. Lee menjelaskan, butiran pematang buah atau Harumanis Ripener Beads diciptakan sebagai alternatif yang lebih aman dan terukur dibandingkan penggunaan bahan pematang tradisional seperti kalsium karbida (calcium carbide). Metode tradisional tersebut memiliki potensi risiko kesehatan (health concerns).

Ripener Beads menggunakan agen pematangan yang dienkapsulasi, kemudian dilepaskan secara terkontrol (controlled release). Teknologi ini memastikan mangga mengalami pematangan yang lebih seragam dan stabil selama beberapa hari.

Fortifikasi Jus Nanas Probiotik Inovasi kedua adalah produksi Probiotics Royale Sweet™ Pineapple Juice, yaitu jus nanas MD2 yang diperkaya dengan bakteri probiotik (Lacticaseibacillus paracasei strain Shirota). Tantangan utama adalah menjaga viabilitas probiotik agar tetap hidup dalam lingkungan jus yang asam dan saat melewati sistem pencernaan manusia. Solusinya, bakteri probiotik dienkapsulasi dalam butiran mikro Ca-alginat yang terbukti meningkatkan ketahanan hidup probiotik.

Kegiatan Cocoa Segment Lecture Voice ini merupakan bagian dari upaya Fakultas Teknik Unmuh Jember untuk mendorong budaya riset dan membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi terkemuka di ASEAN, sekaligus memberikan wawasan teknologi pangan mutakhir kepada mahasiswa dan dosen.

 

Kamis, 08 Mei 2025

Seminar Nasional Fakultas Hukum Unmuh Jember Bahas Paradigma Baru Sistem Peradilan Pidana


Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional dan Call for Paper bertajuk “Paradigma Baru Sistem Peradilan Pidana dalam Rangka Penguatan Masyarakat Sipil”di gedung aula Ahmad Zinuri pada Kamis (8/5/2025). Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk mendiskusikan arah baru reformasi sistem peradilan pidana di Indonesia.

Mengusung sembilan subtema strategis, mulai dari relasi nekegara dan warga negara, perlindungan HAM, hingga peran artificial intelligence dalam penegakan hukum, seminar ini mencerminkan kompleksitas isu hukum kontemporer.

Adapun tamu yang diundang dalam acara ini Polres Jember, Pengadilan Negeri Jember, Kejaksaan Negeri Jember, Peradi, PBH Peradi, Kepala LAPAS Jember, Kepala BAPAS Jember, DP3AKB Jember dan beberapa organisasi mahasiswa.

Prof. Dr. Ibnu Sina Chandranegara, S.H., M.H.,

Diskusi utama menghadirkan sejumlah tokoh nasional di bidang hukum. Prof. Dr. Ibnu Sina Chandranegara, S.H., M.H., Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta, menekankan urgensi membedakan secara tegas antara yang bersalah dan yang tidak bersalah dalam sistem peradilan pidana

Sementara itu, Jani Takarianto, S.H., M.H., C.M.C., Koordinator Wilayah PERADI dan IKADIN Jawa Timur, menyoroti pentingnya pendidikan tinggi hukum bagi aparat penegak hukum, khususnya kepolisian.

Ketua pelaksana sekaligus Dekan Fakultas Hukum Unmuh Jember, Ahmad Suryono, S.H., M.H., dalam sambutannya menekankan pentingnya kesetaraan dan koordinasi antar lembaga dalam sistem peradilan pidana.

Ahmad Suryono, S.H., M.H.,

"Kami ingin menegaskan bahwa di dalam sistem peradilan pidana kita itu tidak ada yang dominan, dan positioning semua itu setara serta saling berkoordinasi," ujarnya.

Lebih lanjut, Ahmad Suryono menyoroti posisi strategis Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam konstitusi sebagai penyidik utama dalam Sistem Peradilan Pidana". Ia juga menyinggung Undang-Undang Kepolisian Nomor 2 Tahun 2002 yang mengamanatkan aspek penegakan hukum, sehingga Polri harus memiliki kesetaraan dalam sistem peradilan pidana.

"Kami ingin memastikan bahwa pembentuk undang-undang itu sudah on the track. Rancangan terakhir yang kami terima hari ini menunjukkan aparatur negara hukum sudah setara, baik polisi, kejaksaan, hakim, maupun advokat," imbuhnya.

Ia juga berharap adanya peningkatan kualifikasi pendidikan anggota Polri menjadi sarjana, dan Unmuh Jember siap menjalin kerja sama dalam hal ini.

Dr. Auliya Khasanofa, S.H., M.H.,

Dalam sesi diskusi, Dr. Auliya Khasanofa, S.H., M.H., Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Tangerang, membahas dampak potensial RUU KUHAP terhadap pemenuhan hak tersangka, khususnya yang tidak mampu memperoleh bantuan hukum.

Acara dibuka dengan laporan dari Dekan FH Unmuh Jember dan ditutup dengan closing steatment oleh setiap pemateri. Diskusi berlangsung dinamis dengan moderator Dr. Aris Yuni Pawestri, S.H., M.H., dosen FH Unmuh Jember, yang mengarahkan dialog secara kritis dan konstruktif.

Seminar ini menjadi bukti komitmen FH Unmuh Jember dalam memperkuat peran akademisi sebagai motor pembaruan hukum nasional yang lebih adaptif dan inklusif terhadap perubahan sosial dan teknologi.


Connect