Belajar Saling Menjaga Warisan Budaya, Mahasiswa Unmuh Jember dan Filipina Temukan Banyak Kesamaan
Kegiatan sesi kedua dalam rangkaian International Partnership Collaborative Extension Program yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) bersama Ifugao State University (IFSU), Filipina, kembali berlangsung dengan penuh semangat pada Rabu (05/03/2026). Berbeda dari sesi sebelumnya yang berfokus pada etika akademik, sesi kali ini mengangkat tema yang lebih dekat dengan identitas dan jati diri kedua bangsa: budaya nasional dan pelestarian warisan leluhur.
Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom
Meeting, dimulai pukul 08.00 WIB atau 09.00 Philippine Time, dan diikuti oleh
mahasiswa serta dosen dari kedua institusi. Dua materi utama disajikan secara
berurutan dalam sesi yang berlangsung selama dua jam tersebut.
Sesi pertama dibawakan oleh Dr. Leonardo I. Cabauatan dari
IFSU dengan topik Introduction to National Culture and History. Dalam
pemaparannya, Dr. Cabauatan mengajak peserta untuk menyelami keragaman budaya
Filipina, mulai dari sejarah pembentukan identitas nasional, kekayaan tradisi
lokal di berbagai wilayah, hingga bagaimana nilai-nilai budaya tersebut terus
hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sesi ini diikuti oleh 60
peserta, terdiri dari 30 mahasiswa Unmuh Jember dan 30 mahasiswa IFSU.
Paparan Dr. Cabauatan langsung memantik diskusi yang hidup.
Mahasiswa dari Unmuh Jember aktif mengajukan pertanyaan seputar keberagaman
etnis di Filipina dan bagaimana masyarakat di sana menjaga harmoni di tengah
perbedaan. Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan ketertarikan yang tulus dari
mahasiswa Indonesia terhadap budaya negara tetangga yang selama ini mungkin
hanya mereka kenal dari permukaan.
Sesi kedua menghadirkan Kristi Nuraini, S.Pd., M.Pd. dari
Unmuh Jember yang membawakan materi Preserving Cultural Heritage in Students'
Life. Materi ini mengajak peserta merenungkan peran generasi muda, khususnya
mahasiswa, dalam menjaga dan mewariskan budaya lokal di tengah arus modernisasi
yang terus mengalir deras. Kristi Nuraini mengupas bagaimana mahasiswa dapat
menjadi agen pelestarian budaya bukan hanya melalui kegiatan formal, tetapi
juga dalam keseharian dan pilihan-pilihan hidup mereka. Sesi ini mencatat
kehadiran 59 peserta dari dua negara.
Apa yang kemudian menjadi momen paling berkesan dari sesi
kedua ini adalah penemuan bersama, sebuah kesadaran yang tumbuh secara organik
di tengah diskusi, bahwa Indonesia dan Filipina menyimpan banyak kesamaan nilai
budaya. Semangat kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan kecintaan
terhadap tradisi lokal ternyata bukan milik satu bangsa saja. Temuan ini
menjadi pemantik diskusi yang mengalir jauh melampaui waktu yang dijadwalkan.
Mahasiswa dari wilayah Ifugao yang dikenal dengan tradisi
pertanian terasering dan kekayaan budaya adat yang kuat menunjukkan
ketertarikan besar terhadap konsep budaya Pandalungan yang dipaparkan oleh tim
Unmuh Jember, sebuah budaya yang lahir dari akulturasi antara suku Jawa dan
Madura di Jawa Timur dan merepresentasikan nilai-nilai toleransi serta
keharmonisan multietnis.
"Melalui kegiatan ini saya dapat memahami lebih banyak
tentang budaya Filipina dan menyadari bahwa banyak nilai budaya yang sebenarnya
mirip dengan budaya Indonesia," ungkap salah satu mahasiswa Unmuh Jember
yang hadir dalam sesi tersebut.
Dari sisi lain layar, mahasiswa IFSU pun menyampaikan kesan
yang tak kalah dalam. "Sangat menarik untuk melihat bagaimana mahasiswa
Indonesia menjaga warisan budaya mereka sembari menjalani kehidupan di kampus.
Hal ini memberi saya gagasan baru tentang bagaimana menghargai budaya
sendiri," ujar salah satu peserta dari Filipina.
Analisis partisipasi selama kegiatan menunjukkan hasil yang
memuaskan. Mahasiswa tidak hanya hadir secara fisik di depan layar, tetapi
terlibat aktif dalam diskusi mengenai sejarah dan budaya nasional, berbagi
pengalaman mengenai upaya pelestarian budaya lokal di masing-masing daerah,
serta merefleksikan peran generasi muda dalam menjaga warisan yang telah
diwariskan para pendahulu.
Kegiatan ini juga semakin mempertegas relevansi program
PKMKI yang diusung Unmuh Jember, bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi
bukan sekadar soal meningkatkan kompetensi akademik, tetapi juga tentang
membangun jembatan antarbangsa melalui pemahaman dan penghargaan terhadap
keberagaman budaya. Ketika dua bangsa duduk bersama dan menemukan bahwa
nilai-nilai yang mereka junjung ternyata banyak yang serupa, itulah saat di
mana diplomasi budaya yang sesungguhnya terjadi.


Posting Komentar