Carousel

Senin, 30 Maret 2026

Mahasiswa Unmuh Jember Dilatih Berbicara Percaya Diri di Forum Internasional

 

Kemampuan berbicara di depan publik dan menyampaikan gagasan ilmiah secara efektif menjadi fokus utama sesi keempat International Partnership Collaborative Extension Program yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) bersama Ifugao State University (IFSU), Filipina. Berlangsung pada Kamis (12/03/2026) secara daring melalui Zoom Meeting, sesi bertema Public Speaking and Academic Presentation Skills ini menjadi salah satu yang paling ditunggu dan terbukti menjadi yang paling interaktif sepanjang program berlangsung.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB atau 09.00 Philippine Time dan dihadiri oleh 90 peserta, jumlah tertinggi sejak program ini bergulir. Mereka berasal dari mahasiswa dan dosen Unmuh Jember, IFSU, serta sejumlah peserta dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang turut bergabung memperkaya dinamika diskusi.

Dua narasumber tampil membawakan perspektif yang saling melengkapi. Sesi pertama dibuka oleh Mary Grace Acosta Santiago dari College of Teacher Education, Ifugao State University, dengan materi Public Speaking Across Culture. Dalam pemaparannya, Santiago membawa peserta memahami bahwa kemampuan berbicara di depan publik jauh lebih dari sekadar soal kelancaran berbahasa atau teknik penyampaian pesan. Ada dimensi budaya yang tak kalah penting untuk dipahami.

Santiago menjelaskan bahwa gaya komunikasi, ekspresi nonverbal, penggunaan jeda, hingga struktur logis dalam menyampaikan argumen dapat berbeda secara signifikan antara satu budaya dan budaya lainnya. Apa yang dianggap tegas dan meyakinkan dalam satu konteks budaya bisa dipersepsi berbeda dalam konteks budaya yang lain. Oleh karena itu, mahasiswa yang bercita-cita tampil di forum internasional perlu membekali diri bukan hanya dengan kemampuan teknis berbicara, tetapi juga dengan kepekaan dan kesadaran budaya yang mendalam.

Sesi dilanjutkan oleh Dr. Dian Rahma Santoso, M.Pd. dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan materi Academic Presentation Skills. Dr. Dian memandu peserta melalui anatomi presentasi akademik yang efektif, mulai dari cara merumuskan ide utama yang tajam, mengembangkan argumen yang kohesif dan meyakinkan, hingga memilih dan menyusun media visual yang mendukung pesan tanpa mengalihkan perhatian audiens.

Tak berhenti di situ, Dr. Dian juga membahas aspek-aspek yang sering menjadi tantangan bagi mahasiswa: bagaimana mengelola rasa gugup sebelum dan saat presentasi, menjaga kontak mata dengan audiens tanpa membuat diri sendiri gelisah, serta membangun kepercayaan diri yang tumbuh dari persiapan yang matang, bukan dari kepura-puraan. Tips-tips praktis yang dibagikannya disambut antusias oleh peserta yang merasa mendapat panduan konkret yang selama ini mereka cari.

Puncak dari sesi ini adalah kesempatan yang diberikan kepada peserta untuk langsung mempraktikkan apa yang mereka pelajari melalui simulasi presentasi akademik singkat. Satu per satu, peserta tampil menyampaikan gagasan di hadapan rekan-rekan dari dua negara, lalu mendapatkan umpan balik langsung dari narasumber. Momen ini menjadi ruang latihan yang berharga, tidak hanya untuk mengasah teknik, tetapi juga untuk membiasakan diri tampil di depan audiens internasional dalam suasana yang suportif.

Diskusi yang berlangsung setelah sesi simulasi semakin memperlihatkan kedalaman ketertarikan peserta terhadap topik ini. Berbagai pertanyaan praktis mengalir: bagaimana mempersiapkan diri untuk presentasi di konferensi internasional, strategi terbaik dalam mengelola waktu presentasi agar pesan tersampaikan tuntas tanpa melampaui batas waktu, serta cara menyesuaikan gaya penyampaian ketika berhadapan dengan audiens dari latar belakang budaya yang beragam.

"Sesi ini membantu saya memahami bagaimana menyampaikan gagasan secara jelas dalam forum akademik internasional," ungkap salah satu mahasiswa IFSU setelah kegiatan berakhir.

Dari pihak Unmuh Jember, seorang peserta menyampaikan, "Materi tentang public speaking sangat membantu saya untuk lebih percaya diri ketika harus presentasi di depan kelas maupun forum akademik."

Seorang peserta lain menambahkan, "Saya belajar bahwa pemahaman budaya sangat penting ketika berbicara di hadapan audiens internasional."

Peningkatan partisipasi yang konsisten dari sesi ke sesi, dari 60 peserta di sesi pertama hingga 90 peserta di sesi keempat ini, menjadi indikator yang berbicara sendiri. Program yang awalnya mempertemukan dua institusi kini telah berkembang menjadi ruang belajar yang semakin banyak diminati, karena peserta merasakan langsung manfaat nyata yang mereka bawa pulang setelah setiap pertemuan.

Dengan dua sesi tersisa yang akan memuncak pada proyek kolaboratif mahasiswa lintas negara dan sesi refleksi evaluasi bersama, program ini terus melangkah menuju penyelesaian yang diharapkan tidak hanya meninggalkan kenangan baik, tetapi juga dokumen kerja sama resmi dan artikel ilmiah yang akan menjadi warisan akademik dari kolaborasi bersejarah antara Unmuh Jember dan Ifugao State University.

Linguistik Bukan Sekadar Teori: Unmuh Jember dan IFSU Buktikan Relevansinya dalam Pengajaran Bahasa Global

Sesi ketiga dalam rangkaian International Partnership Collaborative Extension Program yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) dan Ifugao State University (IFSU), Filipina, kembali mencatat partisipasi yang terus meningkat. Berlangsung pada Sabtu (07/03/2026) secara daring melalui platform Zoom Meeting, sesi ini mengangkat tema Linguistics and Language Teaching, sebuah topik yang langsung menyentuh jantung bidang studi sebagian besar peserta yang hadir.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB atau 09.00 Philippine Time dan kali ini dihadiri oleh 87 peserta, naik secara signifikan dibandingkan sesi-sesi sebelumnya. Para peserta berasal dari kalangan mahasiswa dan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa, Linguistik, dan Pendidikan Guru dari kedua institusi. Peningkatan jumlah peserta ini sekaligus mencerminkan tumbuhnya kepercayaan dan antusiasme terhadap program yang kini telah berjalan tiga sesi.

Sesi pertama dibawakan oleh Jhon Nery S. Martin dari College of Teacher Education, Ifugao State University, dengan judul materi Empowering Global Educators: Linguistics Meets Classroom Practice. Dalam pemaparannya, Martin menekankan bahwa pemahaman mendalam terhadap cabang-cabang ilmu linguistik, mulai dari fonologi, morfologi, sintaksis, hingga pragmatik, bukanlah bekal yang hanya relevan di ruang kuliah teori. Sebaliknya, penguasaan terhadap prinsip-prinsip linguistik dapat secara langsung membantu seorang pendidik merancang strategi pembelajaran bahasa yang lebih efektif, komunikatif, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.

Martin juga mengajak peserta memahami bagaimana pendekatan linguistik dapat menjadi alat untuk memupuk kemampuan berpikir kritis dan analitis mahasiswa dalam memandang bahasa bukan sekadar sebagai alat komunikasi sehari-hari, melainkan sebagai sistem yang kompleks dan sarat makna. Di tangan seorang pendidik yang memahami linguistik, sebuah kelas bahasa bisa berubah menjadi ruang eksplorasi intelektual yang hidup.

Sesi kedua menampilkan Dr. Astri Widyaruli Anggraeni, M.A., Ketua Program PKMKI sekaligus dosen dari FKIP Unmuh Jember, dengan materi Bridging Linguistics, Communication, and Global Language Pedagogy. Dr. Astri membawa diskusi ke dimensi yang lebih luas: bagaimana linguistik, komunikasi akademik, dan pedagogi bahasa global saling berkelindan dalam praktik pengajaran bahasa masa kini.

Ia menegaskan bahwa pembelajaran bahasa tidak bisa lagi dipersempit hanya pada penguasaan struktur gramatikal. Di era globalisasi yang menuntut interaksi lintas budaya, seorang pengajar bahasa perlu membekali mahasiswanya dengan kemampuan berkomunikasi yang peka terhadap konteks sosial dan budaya. Dr. Astri juga membagikan contoh-contoh konkret bagaimana pendekatan pragmatik dan komunikasi lintas budaya diterapkan dalam pengajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di lingkungan akademik internasional.

Sesi diskusi yang mengikuti kedua pemaparan berlangsung dengan sangat dinamis. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari peserta, menyentuh isu-isu yang sangat relevan dengan realitas di lapangan: bagaimana mengajar bahasa di kelas multilingual yang peserta didiknya memiliki latar belakang linguistik berbeda-beda, strategi apa yang paling efektif dalam mendampingi mahasiswa internasional menguasai bahasa baru, serta seberapa besar peran kesadaran budaya dalam proses pembelajaran bahasa asing.

Hasil observasi selama sesi berlangsung menunjukkan bahwa kedekatan tema dengan bidang studi peserta menjadi faktor kunci tingginya tingkat keterlibatan. Mahasiswa yang sehari-harinya bergelut dengan ilmu bahasa menemukan relevansi langsung antara apa yang mereka pelajari di kelas dan apa yang dipaparkan oleh para narasumber.

"Sesi ini membantu saya memahami bahwa linguistik bukan hanya bersifat teoritis, tetapi juga sangat praktis dalam pengajaran bahasa," kata salah satu mahasiswa IFSU yang mengikuti sesi tersebut.

Hal senada disampaikan peserta dari Unmuh Jember. "Saya jadi lebih memahami bagaimana linguistik dapat membantu guru menjelaskan struktur bahasa dengan lebih mudah kepada siswa," ujarnya.

Seorang mahasiswa lain dari IFSU menambahkan, "Diskusi tentang pedagogi bahasa global sangat menginspirasi bagi kami yang akan menjadi pendidik di masa depan."

Refleksi-refleksi itu bukan sekadar ungkapan sopan di akhir sesi. Mereka adalah bukti bahwa ketika dua institusi dengan tradisi akademik yang berbeda duduk bersama untuk mendiskusikan hal yang sama-sama mereka cintai, bahasa dan pengajarannya, yang lahir bukan hanya pertukaran pengetahuan, tetapi juga percikan inspirasi yang bisa mengubah cara seorang calon pendidik memandang perannya di masa depan.

Sesi ketiga ini sekaligus semakin mempertegas pola yang terbentuk sepanjang program: setiap pertemuan tidak hanya meninggalkan pengetahuan baru, tetapi juga mempererat hubungan antara Unmuh Jember dan IFSU sebagai dua institusi yang berbagi visi dalam memajukan pendidikan bahasa di tingkat global.

Belajar Saling Menjaga Warisan Budaya, Mahasiswa Unmuh Jember dan Filipina Temukan Banyak Kesamaan

Kegiatan sesi kedua dalam rangkaian International Partnership Collaborative Extension Program yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) bersama Ifugao State University (IFSU), Filipina, kembali berlangsung dengan penuh semangat pada Rabu (05/03/2026). Berbeda dari sesi sebelumnya yang berfokus pada etika akademik, sesi kali ini mengangkat tema yang lebih dekat dengan identitas dan jati diri kedua bangsa: budaya nasional dan pelestarian warisan leluhur.

Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting, dimulai pukul 08.00 WIB atau 09.00 Philippine Time, dan diikuti oleh mahasiswa serta dosen dari kedua institusi. Dua materi utama disajikan secara berurutan dalam sesi yang berlangsung selama dua jam tersebut.

Sesi pertama dibawakan oleh Dr. Leonardo I. Cabauatan dari IFSU dengan topik Introduction to National Culture and History. Dalam pemaparannya, Dr. Cabauatan mengajak peserta untuk menyelami keragaman budaya Filipina, mulai dari sejarah pembentukan identitas nasional, kekayaan tradisi lokal di berbagai wilayah, hingga bagaimana nilai-nilai budaya tersebut terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sesi ini diikuti oleh 60 peserta, terdiri dari 30 mahasiswa Unmuh Jember dan 30 mahasiswa IFSU.

Paparan Dr. Cabauatan langsung memantik diskusi yang hidup. Mahasiswa dari Unmuh Jember aktif mengajukan pertanyaan seputar keberagaman etnis di Filipina dan bagaimana masyarakat di sana menjaga harmoni di tengah perbedaan. Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan ketertarikan yang tulus dari mahasiswa Indonesia terhadap budaya negara tetangga yang selama ini mungkin hanya mereka kenal dari permukaan.

Sesi kedua menghadirkan Kristi Nuraini, S.Pd., M.Pd. dari Unmuh Jember yang membawakan materi Preserving Cultural Heritage in Students' Life. Materi ini mengajak peserta merenungkan peran generasi muda, khususnya mahasiswa, dalam menjaga dan mewariskan budaya lokal di tengah arus modernisasi yang terus mengalir deras. Kristi Nuraini mengupas bagaimana mahasiswa dapat menjadi agen pelestarian budaya bukan hanya melalui kegiatan formal, tetapi juga dalam keseharian dan pilihan-pilihan hidup mereka. Sesi ini mencatat kehadiran 59 peserta dari dua negara.

Apa yang kemudian menjadi momen paling berkesan dari sesi kedua ini adalah penemuan bersama, sebuah kesadaran yang tumbuh secara organik di tengah diskusi, bahwa Indonesia dan Filipina menyimpan banyak kesamaan nilai budaya. Semangat kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan kecintaan terhadap tradisi lokal ternyata bukan milik satu bangsa saja. Temuan ini menjadi pemantik diskusi yang mengalir jauh melampaui waktu yang dijadwalkan.

Mahasiswa dari wilayah Ifugao yang dikenal dengan tradisi pertanian terasering dan kekayaan budaya adat yang kuat menunjukkan ketertarikan besar terhadap konsep budaya Pandalungan yang dipaparkan oleh tim Unmuh Jember, sebuah budaya yang lahir dari akulturasi antara suku Jawa dan Madura di Jawa Timur dan merepresentasikan nilai-nilai toleransi serta keharmonisan multietnis.

"Melalui kegiatan ini saya dapat memahami lebih banyak tentang budaya Filipina dan menyadari bahwa banyak nilai budaya yang sebenarnya mirip dengan budaya Indonesia," ungkap salah satu mahasiswa Unmuh Jember yang hadir dalam sesi tersebut.

Dari sisi lain layar, mahasiswa IFSU pun menyampaikan kesan yang tak kalah dalam. "Sangat menarik untuk melihat bagaimana mahasiswa Indonesia menjaga warisan budaya mereka sembari menjalani kehidupan di kampus. Hal ini memberi saya gagasan baru tentang bagaimana menghargai budaya sendiri," ujar salah satu peserta dari Filipina.

Analisis partisipasi selama kegiatan menunjukkan hasil yang memuaskan. Mahasiswa tidak hanya hadir secara fisik di depan layar, tetapi terlibat aktif dalam diskusi mengenai sejarah dan budaya nasional, berbagi pengalaman mengenai upaya pelestarian budaya lokal di masing-masing daerah, serta merefleksikan peran generasi muda dalam menjaga warisan yang telah diwariskan para pendahulu.

Kegiatan ini juga semakin mempertegas relevansi program PKMKI yang diusung Unmuh Jember, bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi bukan sekadar soal meningkatkan kompetensi akademik, tetapi juga tentang membangun jembatan antarbangsa melalui pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman budaya. Ketika dua bangsa duduk bersama dan menemukan bahwa nilai-nilai yang mereka junjung ternyata banyak yang serupa, itulah saat di mana diplomasi budaya yang sesungguhnya terjadi.

Unmuh Jember dan Ifugao State University Resmi Buka Program Kolaborasi Internasional, Bahas Etika Akademik hingga Kehidupan Kampus

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) resmi memulai program kolaborasi akademik internasional bersama Ifugao State University (IFSU), Filipina, pada Jumat (28/02/2026). Program yang berjalan di bawah skema Program Kemitraan Masyarakat Kolaborasi Internasional (PKMKI) ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan internasionalisasi Unmuh Jember, sekaligus membuka ruang dialog akademik lintas budaya yang selama ini dinantikan oleh mahasiswa dari kedua negara.

Sesi perdana program bertajuk International Partnership Collaborative Extension Program: Exploration and Preservation of Pandalungan Culture Based on Multi-Ethnic Values ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting dan diikuti oleh sekitar 60 peserta, terdiri dari 30 mahasiswa Unmuh Jember dan 30 mahasiswa IFSU. Kegiatan berlangsung pada pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, atau setara pukul 09.00 hingga 11.00 waktu Filipina.

Program ini diketuai oleh Dr. Astri Widyaruli Anggraeni, S.S., M.A. dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unmuh Jember, dengan anggota tim Kristi Nuraini, S.Pd., M.Pd., serta dua mahasiswa, dan 2 orang mahasiswa; Charissa Wahyu Qomala Rahma dan Aryanti Nafasatuz Zukhli. Koordinasi awal antara kedua institusi sendiri telah dilakukan sejak Jumat (07/02/2026) untuk menyepakati konsep program, jadwal kegiatan, dan pembagian tugas narasumber.

Sesi pertama pada hari Sabtu (28/02/20260) mengangkat tema Academic Ethics and Formal Communication, disampaikan oleh Dr. Maribel T. De Guzman dari IFSU. Dalam pemaparannya, Dr. De Guzman membahas secara mendalam pentingnya integritas akademik sebagai fondasi kehidupan ilmiah di perguruan tinggi. Ia mengupas konsep academic integrity, etika penulisan ilmiah, hingga standar komunikasi formal yang berlaku dalam lingkungan akademik global.

Tak hanya berhenti pada tataran konseptual, kedua narasumber juga menghadirkan contoh kasus nyata seputar plagiarisme dan berbagai bentuk pelanggaran etika akademik, sembari memberikan panduan praktis bagi mahasiswa agar terhindar dari praktik-praktik tersebut. Selain itu, peserta mendapat pembekalan mengenai cara menulis surat elektronik akademik kepada dosen, etika dalam presentasi ilmiah, serta bagaimana membangun komunikasi profesional saat tampil di forum internasional.

Sesi ini berlangsung interaktif dan hidup. Mahasiswa dari kedua institusi begitu  antusias mengajukan pertanyaan, terutama mengenai persamaan dan perbedaan standar etika akademik yang berlaku di Indonesia dan Filipina. Diskusi yang mengalir hangat itu menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi benar-benar terlibat sebagai peserta yang ingin belajar dan berbagi.

Memasuki  materi kedua, Dr. Astri Widyaruli Anggraeni, M.A yang memaparkan tema Academic life in Indonesian Universities giliran dari Unmuh Jember tampil membawakan materi Academic Life in Indonesian Universities. Sesi ini dirancang untuk memperkenalkan sistem pendidikan tinggi di Indonesia kepada mahasiswa Filipina, sekaligus membuka jendela bagi kedua belah pihak untuk saling memahami dinamika kehidupan kampus di masing-masing negara. Topik yang dibahas mencakup struktur pembelajaran di perguruan tinggi, sistem penilaian akademik, kehidupan mahasiswa di lingkungan kampus, hingga ragam kegiatan organisasi kemahasiswaan.

Yang menarik, sesi ini tidak hanya menyentuh aspek sistem pendidikan secara formal Dr.Astri juga a memperkenalkan nilai-nilai budaya yang melekat dalam kehidupan akademik Indonesia, seperti semangat gotong royong, penghormatan kepada tenaga pengajar, dan tradisi kerja sama dalam kegiatan belajar. Nilai-nilai ini rupanya menjadi titik menarik bagi mahasiswa IFSU yang penasaran dengan cara mahasiswa Indonesia menjalani keseharian di kampus.

"Kegiatan ini sangat menarik karena kami dapat berdiskusi langsung dengan mahasiswa dari negara lain dan belajar tentang budaya serta sistem pendidikan mereka," ujar salah satu mahasiswa Unmuh Jember yang berpartisipasi dalam sesi tersebut.

Ketertarikan mahasiswa IFSU pun tak kalah besar. Mereka aktif mengajukan pertanyaan seputar sistem pembelajaran di Indonesia, kegiatan mahasiswa di luar kelas, hingga bagaimana organisasi kemahasiswaan berperan dalam membentuk karakter dan kompetensi mahasiswa. Interaksi yang terjadi bukan sekadar tanya jawab formal, melainkan percakapan yang tulus antara dua kelompok mahasiswa yang tengah membangun jembatan pemahaman lintas budaya.

Hasil observasi selama kegiatan berlangsung mencatat tingkat partisipasi yang sangat baik dari seluruh peserta. Kehadiran peserta terpantau penuh, diskusi berjalan aktif, dan antusiasme peserta dinilai sangat tinggi sejak menit pertama kegiatan dibuka. Ini menjadi sinyal kuat bahwa program kolaborasi internasional semacam ini memang dibutuhkan dan disambut hangat oleh mahasiswa dari kedua negara.

Sesi perdana ini menjadi awal yang menjanjikan bagi keseluruhan program yang direncanakan berlangsung hingga bulan April 2026. Dengan tujuh sesi yang telah dirancang mencakup topik-topik strategis mulai dari linguistik, komunikasi lintas budaya, public speaking, hingga proyek kolaboratif mahasiswa, program ini diharapkan mampu menjadi model pengembangan kolaborasi internasional berbasis pengabdian masyarakat yang dapat direplikasi oleh program studi lain di lingkungan Unmuh Jember. 

Jumat, 20 Maret 2026

Sholat Idul Fitri 1447 H di Unmuh Jember Tekankan Tanggung Jawab Membangun Masyarakat Berkemajuan

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menggelar Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah yang dilaksanakan di halaman depan Gedung A kampus setempat pada Jumat (20/3/2025). Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 1.000 jamaah yang terdiri dari civitas akademika, masyarakat sekitar, serta keluarga besar Muhammadiyah.

Bertindak sebagai imam dalam pelaksanaan sholat Idul Fitri tersebut adalah Muhammad Lutfi, S.E., yang merupakan alumni Program Studi Ekonomi Syariah Unmuh Jember. Sementara itu, khutbah Idul Fitri disampaikan oleh H. Kusno, S.Ag., M.Pd.I, yang juga merupakan anggota Badan Pembina Harian (BPH) Unmuh Jember.

Adapun tema khutbah yang disampaikan yakni “Idul Fitri dan Tanggung Jawab Membangun Masyarakat Berkemajuan.”

Dalam khutbahnya, Kusno menekankan bahwa Idul Fitri bukan hanya momentum kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan, tetapi juga saat yang tepat untuk memperkuat tanggung jawab dalam membangun masyarakat yang maju, berkeadaban, serta berlandaskan nilai-nilai keimanan.

Ia menyampaikan bahwa kemajuan masyarakat harus dimulai dari kekuatan iman dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT.

Menurutnya, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan yang dilakukan di dunia, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

“Kita diajarkan bahwa segala amal perbuatan manusia tercatat dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, iman dan ketakwaan harus menjadi landasan dalam membangun kehidupan yang lebih baik,” ujarnya dalam khutbah.

Kusno juga mengingatkan bahwa umat Islam yang telah melewati “Madrasah Ramadan” seharusnya memiliki kepedulian sosial yang lebih tinggi terhadap sesama. Ia mengajak jamaah untuk menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat serta menghargai perbedaan yang ada.

Menurutnya, perbedaan merupakan bagian dari sunnatullah yang harus disikapi dengan bijak dan penuh kedewasaan.

“Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Bukan mereka yang memperdebatkan perbedaan, tetapi mereka yang mampu menjaga persaudaraan dan membangun kebersamaan,” jelasnya.

Selain itu, ia juga mengajak jamaah untuk memperbaiki hubungan dalam keluarga dan lingkungan sekitar sebagai langkah awal membangun masyarakat yang berkemajuan.

Di akhir khutbahnya, Kusno menegaskan pentingnya meningkatkan kepedulian dan semangat berbagi kepada sesama sebagai wujud nyata dari nilai-nilai yang diajarkan selama bulan Ramadan.

Pelaksanaan Sholat Idul Fitri berlangsung dengan khidmat dan tertib. Dalam sholat tersebut, imam membaca Surah Al-A’la pada rakaat pertama dan Surah Al-Ghasiyah pada rakaat kedua, sebagaimana yang dianjurkan dalam pelaksanaan Sholat Idul Fitri.

Momentum Idul Fitri di lingkungan Unmuh Jember ini diharapkan dapat mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat komitmen civitas akademika dalam mewujudkan kampus yang berdampak bagi masyarakat.

Selasa, 17 Maret 2026

Detik-Detik Persalinan Darurat di Pesawat, Alumni Unmuh Jember Bantu Selamatkan Ibu dan Bayi

Febrian (kemeja dengan motif hitam-coklat) saat foto bersama setelah proses persalinan darurat.

Perjalanan pulang ke Indonesia yang seharusnya menjadi momen istirahat bagi Febrian Rahmatulloh justru berubah menjadi pengalaman tak terlupakan. Alumni Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) itu harus membantu proses persalinan darurat seorang penumpang di dalam pesawat yang sedang mengudara.

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, (12/3/2026) yang lalu, saat Febrian melakukan penerbangan dari Jeddah menuju Jakarta menggunakan pesawat Saudia Airlines. Saat itu ia tengah dalam perjalanan pulang untuk mengambil cuti tahunan dari pekerjaannya di Arab Saudi.

Sekitar satu jam setelah pesawat lepas landas, awak kabin mengumumkan melalui pengeras suara dan menanyakan apakah ada dokter atau perawat di dalam pesawat. Tanpa ragu, Febrian langsung melapor kepada pramugari dan memperkenalkan diri sebagai seorang perawat.

Ia kemudian diarahkan menuju area salat di dalam pesawat. Di tempat itu, seorang penumpang perempuan sudah dalam kondisi akan melahirkan.

“Saat saya sampai di sana, posisi kepala bayi sudah keluar,” kenang Febrian.

Dengan kondisi tersebut, ia segera mengambil inisiatif untuk membantu proses persalinan. Ia meminta sarung tangan kepada awak kabin serta meminta agar ibu tersebut dipasangi oksigen dan alat pengukur oksigen dalam darah.

Beberapa menit kemudian, bayi tersebut lahir dengan selamat di dalam pesawat yang masih berada di ketinggian ribuan kaki. Dalam proses tersebut, pakaian Febrian bahkan sempat terkena cipratan air ketuban.

Untuk mencegah bayi mengalami hipotermia, ia segera meminta selimut dari awak kabin untuk membungkus bayi yang baru lahir. Tak lama kemudian, dua dokter dan satu perawat lain turut datang membantu proses penanganan.

Dengan peralatan seadanya, mereka bersama-sama memotong tali pusar bayi dan memastikan kondisi ibu serta bayi dalam keadaan stabil. Setelah berkoordinasi dengan kapten pesawat, awak kabin memutuskan melakukan pendaratan darurat kembali di Bandara Jeddah.

Setelah pesawat mendarat, tim medis bandara melanjutkan penanganan dengan membantu proses pengeluaran plasenta sebelum akhirnya ibu dan bayi tersebut dibawa ke rumah sakit terdekat.

Penerbangan kemudian dilanjutkan kembali menuju Jakarta pada pukul 08.00 pagi dan seluruh penumpang tiba dengan selamat.

Menurut informasi dari awak kabin, penumpang perempuan tersebut merupakan warga Indonesia asal Lombok yang sedang melakukan perjalanan pulang seorang diri. Ia bahkan mengaku tidak menyadari bahwa dirinya sedang hamil.

Bagi Febrian, pengalaman tersebut menjadi momen pertama sekaligus paling menegangkan selama dirinya bekerja sebagai tenaga kesehatan.

“Jujur saya kaget, cemas, dan deg-degan karena ini pengalaman pertama membantu persalinan di dalam pesawat. Tapi sebagai tenaga kesehatan kita harus tetap profesional dan melakukan yang terbaik dengan ilmu yang kita punya,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam situasi tersebut adalah keterbatasan alat medis.

“Kalau di fasilitas kesehatan tentu alat sudah lengkap dan steril. Tapi di atas pesawat berbeda, kita hanya punya peralatan seadanya. Jadi harus bisa berpikir cepat dan tetap menjaga kebersihan dalam setiap tindakan,” jelasnya.

Febrian sendiri merupakan alumni Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Unmuh Jember yang memulai kuliah pada tahun 2015 dan menyelesaikan pendidikan S1 Keperawatan serta Profesi Ners pada tahun 2021.

Selama masa kuliah, ia aktif di organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Asy-Syifa dan sempat menjabat sebagai Ketua Umum pada periode 2017–2018.

Setelah lulus, Febrian bekerja di berbagai fasilitas kesehatan di Jember, mulai dari RS Siloam Jember, klinik di wilayah Panti, hingga pernah terlibat sebagai enumerator kesehatan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Saat ini ia juga bekerja di RS Bina Sehat Jember.

Pada tahun 2025, ia mendapatkan kesempatan bekerja di Armed Forces Hospital – Taif Region, Arab Saudi, sebuah rumah sakit pemerintah di bawah Kementerian Pertahanan Arab Saudi. Di sana ia bertugas di Psychiatric Center, yang menangani pasien dengan gangguan kesehatan mental serta kasus kecanduan obat-obatan.

Febrian mengaku pengalaman tersebut semakin mengingatkannya tentang tanggung jawab profesi tenaga kesehatan.

“Sebagai perawat, di mana pun dan kapan pun kita harus siap membantu orang yang membutuhkan pertolongan medis. Ilmu yang kita miliki bisa sangat bermanfaat bahkan menyelamatkan nyawa orang lain,” katanya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para dosen di Universitas Muhammadiyah Jember yang telah membekalinya dengan ilmu dan nilai profesionalisme selama masa perkuliahan.

“Saya bisa berada di posisi sekarang karena jasa para dosen yang telah mendidik kami menjadi tenaga kesehatan yang profesional,” ujarnya.

Bagi Febrian, menjadi perawat bukan hanya soal keahlian medis, tetapi juga tentang nilai kemanusiaan.

“Menjadi tenaga kesehatan harus profesional, tetapi tetap mengedepankan nilai-nilai Islami dalam melayani pasien dan masyarakat,” tutupnya.

Senin, 16 Maret 2026

Bakti Sosial di Desa Binaan, Fakultas Teknik Unmuh Jember Salurkan Puluhan Paket Sembako untuk Warga Dusun Plampang

Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Teknik dan sejumlah organisasi nonpemerintah melaksanakan kegiatan bakti sosial di Dusun Plampang, Desa Klekehan, Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso pada Sabtu dan Minggu (14–15/3/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program desa binaan Fakultas Teknik yang telah berjalan selama dua tahun terakhir. Sasaran kegiatan adalah masyarakat kaum duafa yang tinggal di wilayah Dusun Plampang, salah satu daerah terpencil di Desa Klekehan.

Dalam kegiatan tersebut, panitia menyalurkan berbagai bantuan kepada masyarakat, di antaranya 43 paket sembako, baju baru Lebaran untuk 25 anak-anak, baju baru Lebaran untuk 35 perempuan dewasa, serta sarung, jilbab, dan mukena.

Desa Klekehan sendiri merupakan desa binaan Fakultas Teknik yang selama ini menjadi lokasi program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam upaya penyediaan air bersih bagi warga Dusun Plampang yang selama ini mengalami keterbatasan pasokan air.

Selama dua tahun terakhir, Fakultas Teknik bersama sejumlah mitra organisasi nonpemerintah seperti Gana Indonesia dan Ducati Owners Club Indonesia telah melaksanakan berbagai program pembangunan sarana air bersih. Program tersebut meliputi pembangunan bendung (dam), saluran intake, jaringan perpipaan air bersih, instalasi pompa hydram, penampungan air hujan, uji kualitas dan kuantitas air baku, hingga pembangunan sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK).

Pendanaan kegiatan bakti sosial ini diperoleh melalui kegiatan penggalangan dana (fundraising) dengan mengirimkan flyer dan proposal kepada berbagai perusahaan maupun donatur perorangan.

Masyarakat Dusun Plampang menyambut kegiatan ini dengan penuh antusias. Warga mengaku sangat senang dan bahagia atas bantuan yang diberikan, terlebih menjelang Hari Raya Idulfitri.

Kegiatan bakti sosial ini merupakan kegiatan kedua yang dilaksanakan sebagai bagian dari program rutin desa binaan Fakultas Teknik. Melalui kegiatan ini, Fakultas Teknik Unmuh Jember berharap dapat terus memperkuat kontribusi nyata perguruan tinggi dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah terpencil yang masih membutuhkan dukungan pembangunan infrastruktur dasar seperti air bersih.

Connect