Carousel

Senin, 02 November 2026

Bekali Orang Tua Pemahaman Pengelolaan Emosi Anak, Mahasiswa KKN Unmuh Jember Gelar Edukasi Manajemen Konflik


Mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), Akhadah Handayani, menggelar edukasi dan sosialisasi mengenai manajemen konflik pada anak usia dini bagi wali murid KBIT Ar Rahmah, Tukum, Tekung, Kabupaten Lumajang.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pentingnya pendampingan anak dalam mengenali emosi, mengendalikan diri, dan menyelesaikan perselisihan dengan teman sebaya. Pada masa usia dini, konflik seperti berebut mainan, perbedaan keinginan, dan kesalahpahaman saat bermain merupakan bagian dari proses perkembangan sosial dan emosional anak.

Dalam kegiatan tersebut, Akhadah mengajak para wali murid memahami cara mendampingi anak ketika menghadapi konflik. Pembahasan juga mencakup perilaku anak usia 3–4 tahun yang suka memukul, langkah yang tepat ketika anak melakukan tindakan tersebut, serta cara menghadapi anak yang masih mengulangi perilaku memukul meskipun telah dinasihati.


Orang tua juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menerapkan pola pengasuhan positif melalui komunikasi yang baik, kesabaran, dan keteladanan. Pendampingan yang tepat diharapkan dapat membantu anak belajar mengenali perasaannya, mengelola emosi, serta menyelesaikan masalah secara sehat.

Kegiatan berlangsung interaktif. Setelah pemaparan materi, para wali murid diberikan kesempatan menyampaikan pertanyaan melalui lembar pertanyaan yang telah dibagikan. Sejumlah peserta juga menyampaikan tanggapan dan komentar terkait materi yang dibahas.

Melalui kegiatan edukasi ini, Akhadah berharap orang tua semakin memahami perannya dalam mendampingi perkembangan sosial dan emosional anak. Pemahaman tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari sehingga anak memiliki kesempatan belajar mengelola konflik dengan cara yang positif sejak usia dini.

Ubah Sampah Jadi Berkah, Mahasiswa KKN RPL Unmuh Jember Hadirkan Program Bank Sampah di PAUD Al-Hikmah Bondowoso


Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), Fatatik, menghadirkan program Bank Sampah Cilik di PAUD Al-Hikmah, Desa Sumber Anyar, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Kabupaten Bondowoso. Program yang berlangsung mulai 5 Oktober hingga 11 November 2026 ini bertujuan menanamkan kepedulian lingkungan sekaligus mengenalkan kebiasaan menabung kepada anak usia dini.

Melalui program tersebut, anak-anak diajak mengenali sampah yang masih memiliki nilai guna dan nilai ekonomis. Mereka dibiasakan memilah serta mengumpulkan sampah kering, seperti botol plastik, kardus, dan gelas plastik, untuk disetorkan melalui posko bank sampah di lingkungan sekolah.

Kegiatan yang dilaksanakan setiap akhir pekan ini melibatkan pendampingan orang tua. Sampah yang dibawa anak-anak kemudian ditimbang, dipilah berdasarkan jenisnya, dan dicatat dalam buku tabungan khusus. Mekanisme sederhana tersebut menjadi sarana pembelajaran bagi anak untuk mengenal pengelolaan sampah sekaligus konsep menabung sejak dini.

“Saya ingin menanamkan pola pikir kepada anak-anak bahwa sampah bukanlah sesuatu yang tidak berguna. Sampah tertentu masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis,” ujar Fatatik.

Hasil tabungan dari pengumpulan sampah tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah anak, seperti alat tulis, buku gambar, dan kebutuhan pembelajaran lainnya.

Kepala PAUD Al-Hikmah, Nur Faizeh, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kegiatan bank sampah memberikan pengalaman baru bagi anak-anak dalam membangun kebiasaan disiplin dan peduli terhadap lingkungan.

“Anak-anak jadi lebih disiplin. Kalau melihat botol plastik di jalan atau di rumah, mereka langsung memungutnya dan bilang, 'Ini untuk ditabung di sekolah'. Ini merupakan pembentukan karakter cinta lingkungan yang sangat baik, sekaligus mengenalkan mereka pada konsep menabung sejak dini,” ungkap Nur Faizeh.

Selain melibatkan anak-anak, program ini juga mendorong partisipasi orang tua dalam membiasakan pengelolaan sampah dari rumah. Pendampingan orang tua saat anak mengumpulkan dan membawa sampah menjadi bentuk kolaborasi antara keluarga dan sekolah dalam mengenalkan perilaku peduli lingkungan.

Melalui program Bank Sampah Cilik, Fatatik berharap kebiasaan memilah dan mengumpulkan sampah dapat terus berlanjut meskipun masa KKN telah berakhir. Inisiatif ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa Unmuh Jember dalam menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.

Tingkatkan Kompetensi Pendidik PAUD, Mahasiswa KKN Unmuh Jember dan HIMPAUDI Maesan Gelar Study Collaborative

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) bersama Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kecamatan Maesan menggelar kegiatan Study Collaborative bertema “Menginspirasi Pendidik melalui Cipta Lagu dan Teknik Mendongeng untuk Pembelajaran PAUD yang Menyenangkan”, Selasa (20/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Pendopo KB Kartini 02, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, tersebut diikuti oleh 133 tenaga pendidik Kelompok Bermain (KB) dan Satuan PAUD Sejenis (SPS) dari berbagai wilayah di Kecamatan Maesan.

Untuk memperkuat kapasitas peserta, kegiatan ini menghadirkan Lutfi Dian Wahyuni, G.S.Pd., M.Pd., atau yang akrab disapa Bunda Dian, sebagai narasumber. Ia membagikan materi mengenai teknik mendongeng dan cipta lagu anak sebagai media pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan menyenangkan.

Dalam pemaparannya, Bunda Dian menjelaskan bahwa dunia anak usia dini lekat dengan aktivitas bermain dan berimajinasi. Karena itu, mendongeng dapat menjadi salah satu pendekatan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan bahasa, konsentrasi, serta kecerdasan emosional anak.

Melalui intonasi suara, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh, pendidik dapat membangun suasana cerita yang menarik. Anak-anak pun tidak hanya menjadi pendengar, tetapi dapat diajak berinteraksi dan memahami pesan yang terkandung dalam cerita.

“Dunia anak usia dini adalah dunia bermain dan berimajinasi. Melalui dongeng yang kita tuturkan dan lagu sederhana yang kita ciptakan bersama mereka, kita sedang membuka gerbang kreativitas yang tanpa batas. Mengajar PAUD bukan sekadar mentransfer ilmu, tapi memantik rasa ingin tahu mereka lewat nada dan cerita,” tutur Bunda Dian.

Selain mendongeng, peserta juga mendapatkan materi tentang teknik menciptakan lagu anak. Bunda Dian menekankan bahwa lagu untuk pembelajaran PAUD tidak harus memiliki komposisi musik yang rumit. Pendidik dapat memulainya dari tema-tema sederhana yang dekat dengan kehidupan anak, menggunakan lirik pendek, rima yang menarik, dan melodi yang mudah diingat.

Tema seperti buah-buahan, hewan, pelangi, kebiasaan menyikat gigi, hingga kasih sayang kepada orang tua dapat dikembangkan menjadi lagu pembelajaran. Dengan demikian, lagu dapat menjadi media untuk menyampaikan pesan sekaligus mendorong kreativitas dan keberanian anak dalam berekspresi.

“Jangan takut menciptakan lagu atau mendongeng karena merasa tidak berbakat. Bagi anak-anak, media terbaik adalah ketulusan dan ekspresi kita. Cipta lagu untuk PAUD itu sederhana, cukup ambil tema dari keseharian mereka, gunakan lirik yang berulang, dan padukan dengan dongeng yang interaktif. Di situlah stimulasi otak dan motorik anak bekerja paling optimal,” tambahnya.

Melalui kegiatan Study Collaborative ini, mahasiswa KKN Unmuh Jember bersama HIMPAUDI Kecamatan Maesan berharap para pendidik dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam kegiatan pembelajaran di lembaga masing-masing.

Kolaborasi ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan penguatan kompetensi tenaga pendidik PAUD. Dengan pembelajaran yang lebih kreatif dan menyenangkan, para pendidik diharapkan dapat terus berkontribusi dalam mendukung tumbuh kembang anak serta menyiapkan generasi penerus bangsa.

Cegah Stunting Sejak Dini, Mahasiswa KKN Unmuh Jember Edukasi Warga di Situbondo


Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), Mar’atus Sholehah, menggelar sosialisasi pencegahan stunting bagi masyarakat Kampung Kesambi RT 02/RW 02, Desa Jetis, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Minggu (18/10/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut menyasar orang tua yang memiliki bayi dan balita, ibu hamil, ibu menyusui, serta keluarga yang terlibat dalam pengasuhan anak. Sosialisasi ini menghadirkan Nur Hidayatiningsih, A.Md.Keb., sebagai narasumber.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai pengertian, faktor penyebab, dan dampak stunting terhadap pertumbuhan serta perkembangan anak. Materi juga membahas pentingnya pemenuhan gizi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, serta pola asuh yang mendukung kesehatan anak.

Selain itu, masyarakat diingatkan untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan dan memantau pertumbuhan anak melalui posyandu maupun fasilitas pelayanan kesehatan. Pemantauan secara berkala penting agar orang tua dapat mengetahui perkembangan anak dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan masalah pertumbuhan.

Kegiatan berlangsung melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, dan tanya jawab. Kader posyandu juga dilibatkan untuk mendukung penyampaian informasi kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Mar’atus berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pemenuhan gizi, pola asuh yang tepat, dan kebersihan lingkungan sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting. Edukasi tersebut juga diharapkan mendorong keluarga untuk lebih aktif memanfaatkan layanan kesehatan demi mendukung tumbuh kembang anak.

Anak PAUD Harus Cepat Bisa Membaca? Mahasiswa KKN Unmuh Jember Ajak Orang Tua Pahami Tahap Perkembangan Anak


Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan pendidikan anak usia dini. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk bermain, bereksplorasi, berinteraksi, serta mengembangkan keterampilan sosial dan kemandirian sesuai tahap perkembangannya.

Pemahaman tersebut menjadi materi utama dalam kegiatan edukasi bertema “Pentingnya Pembelajaran Sesuai Tahap Perkembangan Anak Usia Dini” yang dilaksanakan Ana Wasilatul Mahmudah, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), di KB Harapan Bunda, Desa Gading Sari, Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB tersebut merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri dan diikuti oleh wali murid KB Harapan Bunda. Dalam pelaksanaannya, Ana bertugas sebagai pelaksana kegiatan sekaligus pembawa acara (MC), sedangkan materi disampaikan oleh Sri Sulastri, S.Pd., selaku Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kecamatan Binakal.

Dalam pemaparannya, Sri Sulastri menjelaskan bahwa pendidikan anak usia dini tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, seperti membaca, menulis, berhitung, dan menghafal. Anak perlu mendapatkan ruang untuk bermain, mencoba hal baru, berinteraksi dengan teman sebaya, serta belajar melalui aktivitas yang menyenangkan.

Menurutnya, setiap anak memiliki kemampuan dan tahapan perkembangan yang berbeda. Karena itu, orang tua dan pendidik perlu memberikan stimulasi sesuai usia dan kesiapan anak, bukan memaksakan penguasaan kemampuan tertentu sebelum waktunya.

Pembahasan ini menjadi penting karena masih terdapat anggapan di kalangan orang tua bahwa anak yang telah memasuki lembaga pendidikan harus segera mampu membaca, menulis, dan berhitung. Padahal, proses pendidikan anak usia dini juga mencakup perkembangan bahasa, sosial-emosional, motorik, kemandirian, serta pembentukan karakter.

Kepala KB Harapan Bunda, Syamsiyah, menyambut baik pelaksanaan edukasi tersebut. Ia menilai materi yang disampaikan relevan dengan kondisi yang masih dijumpai di lingkungan sekolah, yakni adanya orang tua yang menuntut anak segera mampu membaca serta menginginkan anak lulus meskipun usianya belum sesuai.

Melalui kegiatan ini, wali murid diajak memahami bahwa keberhasilan pendidikan anak usia dini perlu dilihat secara menyeluruh. Kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, mengelola diri, dan melakukan aktivitas sehari-hari juga merupakan bagian penting dari perkembangan anak.

Edukasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kerja sama antara orang tua dan guru dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Dengan pemahaman yang tepat, orang tua diharapkan lebih sabar dalam memberikan stimulasi serta menciptakan pengalaman belajar yang positif dan menyenangkan, baik di rumah maupun di sekolah.

Melalui program KKN Mandiri ini, Ana Wasilatul Mahmudah berupaya memberikan kontribusi kepada masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pemahaman tentang pendidikan anak usia dini yang sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Tumbuhkan Kemandirian Belajar Anak, Mahasiswa KKN Unmuh Jember Edukasi Wali Murid PPT Al Wardah di Surabaya


Kemandirian belajar anak usia dini tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi perlu dibangun melalui pola pengasuhan yang tepat dan konsisten, terutama di lingkungan keluarga. Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan edukasi pengasuhan bertema “Pemberdayaan Wali Murid melalui Edukasi Pengasuhan untuk Menumbuhkan Kemandirian Belajar Anak Usia Dini” yang digelar di PPT Al Wardah, Surabaya, Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 16.00 WIB tersebut diikuti oleh wali murid peserta didik PPT Al Wardah. Program ini bertujuan membekali orang tua dengan pemahaman dan keterampilan dalam mendampingi anak belajar di rumah, sekaligus mendorong tumbuhnya kemandirian anak sejak dini.

Dalam pemaparan materi, Lilis Setiyawati menjelaskan bahwa kemandirian belajar bukan berarti anak harus belajar sendirian tanpa pendampingan orang tua. Sebaliknya, kemandirian ditunjukkan melalui tumbuhnya inisiatif, keberanian mencoba hal baru, serta tanggung jawab anak terhadap aktivitas yang dilakukannya.

Ia menekankan bahwa kemampuan tersebut dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, membiasakan anak menyiapkan tas sendiri, merapikan mainan setelah digunakan, serta mencoba menyelesaikan persoalan sederhana sebelum meminta bantuan orang lain.

“Belajar mandiri itu dimulai dari hal-hal kecil: membiarkan anak menyiapkan tasnya sendiri, merapikan mainan, atau mencoba menyelesaikan masalah sederhana sebelum kita membantu. Wali murid perlu sabar dan konsisten, bukan langsung mengerjakan untuk anak,” ujar Lilis.

Kegiatan berlangsung melalui pemaparan materi, diskusi interaktif, dan sesi tanya jawab. Para wali murid tampak antusias menyampaikan pengalaman serta berbagai kendala yang dihadapi ketika mendampingi anak belajar di rumah.

Melalui diskusi tersebut, peserta diajak memahami bahwa pola pengasuhan yang mendorong kemandirian membutuhkan kesabaran, kesempatan bagi anak untuk mencoba, serta pendampingan yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Orang tua juga perlu memberikan ruang bagi anak untuk melakukan kegiatan sederhana secara mandiri tanpa terburu-buru mengambil alih.

Kegiatan diprakarsai oleh Lilis Setiyawati bersama jajaran pengelola dan pendidik PPT Al Wardah. Pada akhir kegiatan, para peserta menyepakati pentingnya menerapkan pola pengasuhan yang mendukung kemandirian belajar di rumah serta memperkuat komunikasi antara keluarga dan pihak lembaga.

Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun keselarasan antara pola pengasuhan di rumah dan proses pembelajaran di lembaga. Keterlibatan aktif wali murid diharapkan dapat membantu anak mengembangkan inisiatif, rasa percaya diri, dan tanggung jawab sebagai bekal dalam proses belajar pada tahap berikutnya.

Bangun Lingkungan Berbahasa Santun Sejak Dini, Mahasiswa KKN RPL PG PAUD Unmuh Jember Latih Guru KB-TK Delima Surabaya


Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 2026 Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), Delya Alyssa Tuffahati, menggelar pelatihan Five Language Continuum bagi guru KB-TK Delima Surabaya, Jumat (30/10/2026).

Pelatihan bertema “Membangun Lingkungan Berbahasa Santun dan Positif Sejak Dini melalui Pelatihan Five Language Continuum bagi Guru PAUD” tersebut menyasar kepala sekolah dan tenaga pendidik. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman guru mengenai pentingnya komunikasi positif, pengelolaan emosi, serta penciptaan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang bagi anak usia dini.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan menghadirkan Isfa Mustaqimah, S.Psi., sebagai narasumber. Peserta memperoleh pemahaman mengenai penerapan konsep Five Language Continuum atau kontinuum lima bahasa dalam interaksi sehari-hari di lingkungan PAUD.

Pendidikan anak usia dini merupakan fase penting dalam pembentukan karakter, kepribadian, dan keterampilan berbahasa. Pada masa golden age, anak menyerap berbagai informasi, norma, serta kebiasaan komunikasi dari lingkungan sekitarnya. Karena itu, guru memiliki peran penting dalam menghadirkan contoh penggunaan bahasa yang santun, positif, dan membangun kepercayaan diri anak.

Melalui pelatihan ini, guru diajak membiasakan ungkapan sederhana yang mengandung nilai positif, seperti “Saya bisa!”, “Permisi”, dan “Terima kasih”. Ungkapan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari pembelajaran bahasa, tetapi juga sarana menanamkan kesantunan, empati, kemandirian, serta keberanian anak dalam berkomunikasi.

Selain pembekalan materi, peserta juga mendapatkan contoh penerapan komunikasi positif dalam kegiatan pembelajaran. Di antaranya merespons pertanyaan anak dengan kalimat yang membangun, memberikan dorongan ketika anak menghadapi kesulitan, serta membiasakan budaya antre dan meminta izin dengan santun.

Pihak KB-TK Delima Surabaya menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Perwakilan sekolah menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa KKN RPL PG PAUD Unmuh Jember, khususnya Delya Alyssa Tuffahati, atas materi dan praktik yang diberikan kepada tenaga pendidik.

“Pelatihan Five Language Continuum ini memberikan wawasan yang sangat berharga bagi para tenaga pendidik kami. Melalui materi dan praktik yang diberikan, guru-guru kami semakin memahami cara mengelola emosi dan menerapkan ungkapan-ungkapan positif seperti ‘Saya bisa!’, ‘Permisi’, dan ‘Terima kasih’ dalam interaksi sehari-hari bersama anak,” ungkap perwakilan pihak sekolah.

Pihak sekolah berharap pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan tersebut dapat diterapkan secara konsisten dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, lingkungan sekolah dapat menjadi ruang yang aman, nyaman, santun, dan mendukung tumbuh kembang anak.

Melalui program KKN Tematik 2026 ini, Delya berharap penerapan Five Language Continuum dapat menjadi bagian dari kebiasaan komunikasi positif di lingkungan KB-TK Delima Surabaya. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk pengabdian mahasiswa Unmuh Jember dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini.

Sejalan dengan semangat Unmuh Jember, Knowledge, Morality, Civilization, kegiatan ini menegaskan pentingnya pendidikan yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai moral dan kesantunan sejak usia dini.

Connect