Carousel

Selasa, 09 Juni 2026

Dari Pesisir Jember, Mahasiswa Teknik Informatika Unmuh Jember Gali Suara Nelayan tentang Korupsi dan Bahaya NAPZA


Perspektif masyarakat terhadap korupsi dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) menjadi perhatian mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember). Melalui wawancara lapangan yang dilaksanakan pada 30 Mei dan 1 Juni 2026, mahasiswa menggali pandangan komunitas nelayan mengenai dua persoalan yang masih menjadi tantangan besar bangsa Indonesia tersebut.

Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas Mata Kuliah Pendidikan Antikorupsi dan NAPZA. Sebanyak tujuh mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok 5 turun langsung ke masyarakat pesisir untuk berdialog dan memperoleh pemahaman mengenai dampak korupsi serta bahaya penyalahgunaan narkoba dari sudut pandang masyarakat.

Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Firdaus, seorang nelayan yang sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil laut. Menurutnya, korupsi merupakan tindakan mengambil sesuatu yang bukan haknya dan memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi.

“Korupsi itu merugikan banyak orang. Dana yang seharusnya digunakan untuk masyarakat bisa tidak sampai kepada yang membutuhkan,” ujarnya.

Sebagai masyarakat yang bergantung pada berbagai program bantuan dan pembangunan, Firdaus menilai praktik korupsi dapat berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Ia berharap setiap pihak yang diberi amanah dapat menjalankan tugasnya dengan jujur, transparan, dan bertanggung jawab.

Dalam wawancara tersebut, para nelayan juga menyoroti pentingnya menjaga nilai kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Menurut mereka, kepercayaan merupakan modal utama dalam membangun hubungan sosial dan kerja sama di lingkungan masyarakat.

Selain membahas korupsi, diskusi turut mengangkat isu penyalahgunaan NAPZA yang dinilai sebagai ancaman serius bagi generasi muda. Firdaus menyampaikan bahwa narkoba dapat merusak kesehatan, menghancurkan masa depan, serta menghilangkan kesempatan generasi muda untuk berkembang dan meraih cita-cita.

Menurutnya, keluarga memiliki peran penting dalam mencegah penyalahgunaan narkoba. Orang tua perlu memberikan perhatian, pengawasan, serta pendidikan karakter kepada anak-anak sejak dini agar tidak mudah terpengaruh lingkungan yang negatif.

“Anak-anak harus rajin belajar, memilih teman yang baik, dan menjauhi narkoba. Masa depan mereka masih panjang dan harus dijaga,” pesannya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh data untuk memenuhi tugas akademik, tetapi juga mendapatkan pelajaran berharga dari masyarakat. Hasil wawancara menunjukkan bahwa kesadaran terhadap pentingnya integritas, kejujuran, dan bahaya penyalahgunaan NAPZA telah tumbuh di tengah masyarakat pesisir.

Kegiatan wawancara ini dilaksanakan oleh Kelompok 5 Mata Kuliah Pendidikan Antikorupsi dan NAPZA Program Studi Teknik Informatika Unmuh Jember yang beranggotakan Putri Suci Rahmadhani, Yulian Adinda, Nafila, Nabila Senja Ramadhani, Mohammad Putra Fernanda, Chyka Mey Tree Ahmad, dan Firli Aisyah Faridatul Arifah atas arahan dosen pengampu mata kuliah yaitu, Rohimatush Shofiyah, S.Si., M.Si., dan Miftahul Huda, S.H., M.Kn..

Melalui interaksi langsung dengan masyarakat, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa upaya pemberantasan korupsi dan pencegahan penyalahgunaan NAPZA bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

Kamis, 28 Mei 2026

Idul Adha Ramah Lingkungan, Unmuh Jember Bagikan Daging Kurban dengan Besek Bambu

 

Ada suasana berbeda dalam pelaksanaan Idul Adha 1447 Hijriah di Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember). Jika umumnya daging kurban dibagikan menggunakan kantong plastik, tahun ini panitia memilih memakai besek bambu sebagai wadah distribusi kepada masyarakat dan karyawan kampus.

Langkah tersebut menjadi bagian dari kampanye ecogreen yang tengah dikembangkan Unmuh Jember untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sekaligus menghadirkan pelaksanaan kurban yang lebih ramah lingkungan.

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, M.Pd., mengatakan penggunaan besek bambu bukan sekadar alternatif kemasan, tetapi juga bentuk kepedulian kampus terhadap persoalan limbah plastik yang terus meningkat di masyarakat.

“Kami ingin momentum Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah, tetapi juga menjadi sarana membangun kesadaran menjaga lingkungan,” ujarnya usai meninjau proses penyembelihan hewan kurban di lingkungan kampus, Rabu (27/5/2026).

Menurutnya, penggunaan besek bambu dipilih karena lebih ramah lingkungan dan dapat digunakan kembali oleh masyarakat setelah menerima daging kurban. Selain mengurangi sampah plastik, langkah ini juga dinilai lebih selaras dengan nilai keberlanjutan yang mulai diterapkan di lingkungan kampus.

Tak hanya berdampak pada lingkungan, penggunaan besek turut memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku UMKM perajin anyaman bambu. Unmuh Jember diketahui menggandeng perajin lokal untuk memenuhi kebutuhan besek pada momentum Idul Adha tahun ini.

“Kami ingin kegiatan kurban juga memberi dampak ekonomi kepada masyarakat, khususnya pelaku UMKM yang memproduksi anyaman bambu,” tambah Hanafi.

Pada pelaksanaan Idul Adha 1447 H, panitia kurban Unmuh Jember menerima empat ekor sapi dan dua ekor kambing untuk disembelih dan dibagikan kepada masyarakat sekitar serta keluarga besar kampus.

Penggunaan besek bambu pun mendapat respons positif dari warga penerima daging kurban. Selain dinilai lebih unik dan menarik, wadah tersebut juga dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan rumah tangga.

Melalui inovasi sederhana ini, Unmuh Jember berharap pelaksanaan kurban dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas, tidak hanya dalam aspek ibadah dan sosial, tetapi juga dalam menjaga lingkungan serta mendukung keberlangsungan UMKM lokal.

 

Rabu, 27 Mei 2026

Ribuan Jamaah Padati Lapangan Unmuh Jember, Khutbah Idul Adha Tekankan Makna Kurban yang Sesungguhnya


Universitas  Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menggelar Sholat Idul Adha 1447 Hijriah di Lapangan Sepak Bola Unmuh Jember, Rabu (27/5/2026). Ribuan jamaah yang terdiri dari sivitas akademika, warga Muhammadiyah, dan masyarakat umum memadati area lapangan sejak pagi untuk menunaikan ibadah hari raya Idul Adha.

Bertindak sebagai imam dalam pelaksanaan sholat Idul Adha kali ini adalah M. Khotib Firdaus, S.Pd., Kepala Sekolah SD Mudisa Jember. Sementara khutbah Idul Adha disampaikan oleh Prof. Dr. Aminullah El-Hady, M.Ag., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jember.

Mengusung tema “Ritual Kurban: Makna Kesalehan Spiritual dan Kepedulian Sosial”, khutbah mengajak umat Islam untuk memaknai Idul Adha tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai momentum memperkuat ketakwaan dan kepedulian terhadap sesama.

Dalam khutbahnya, Prof. Aminullah menjelaskan bahwa ibadah haji, Idul Adha, dan kurban merupakan rangkaian syariat yang saling berkaitan dan dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah. Ketiganya mengandung pelajaran tentang ketakwaan, kepatuhan, dan pengorbanan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya.

“Ritual kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi ujian ketakwaan dan kerelaan seseorang dalam melepaskan kecintaan berlebihan terhadap harta dan materi demi mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan jamaah mengenai kisah Habil dan Qabil, dua putra Nabi Adam AS, yang menunjukkan bahwa Allah menerima amal berdasarkan ketulusan dan ketakwaan pelakunya. Menurutnya, nilai utama dari kurban terletak pada keikhlasan hati dan kesungguhan dalam menjalankan perintah Allah.

Selain memiliki dimensi spiritual, Prof. Aminullah menegaskan bahwa ibadah kurban juga mengandung dimensi sosial yang sangat kuat. Melalui pembagian daging kurban, umat Islam diajak membangun solidaritas, mempererat persaudaraan, dan meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.

“Kesalehan spiritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial. Orang yang bertakwa tidak hanya baik hubungannya dengan Allah, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi sesama manusia,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat yang maju tidak hanya dibangun melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga melalui budaya saling menghormati, berbagi, dan peduli terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.

Pelaksanaan Sholat Idul Adha berlangsung khidmat dan tertib. Sejak sebelum pelaksanaan sholat, jamaah telah memadati lapangan untuk mengikuti rangkaian ibadah hari raya. Momentum Idul Adha di lingkungan Unmuh Jember ini sekaligus menjadi sarana mempererat silaturahmi antara sivitas akademika dengan masyarakat sekitar.

Melalui peringatan Idul Adha 1447 H, Unmuh Jember berharap nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial yang terkandung dalam ibadah kurban dapat terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas.

Senin, 18 Mei 2026

Perempuan Tangguh Peternak Domba, Kisah Yesita Alumni Unmuh Jember

Dunia peternakan kerap dianggap identik dengan pekerjaan laki-laki. Namun anggapan itu berhasil dipatahkan oleh Yesita Karel, alumni Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) asal Sidomulyo, Kabupaten Jember, yang sukses membangun bisnis peternakan dan penjualan domba bernama Artisnya Domba Jember sejak masih duduk di bangku kuliah.

Sebagai perempuan muda, Yesita memilih jalan yang tidak biasa. Di tengah banyak mahasiswa yang fokus mencari pekerjaan setelah lulus, ia justru berani terjun langsung ke dunia peternakan.

Usaha tersebut dirintis sejak tahun 2017, berawal dari latar belakang keluarganya yang merupakan peternak domba. Lingkungan tempat tinggalnya di Sidomulyo, Kabupaten Jember yang mayoritas dihuni oleh peternak, membuatnya akrab dengan kandang, pakan ternak, hingga proses jual beli domba sejak kecil.

Melihat peluang itu, Yesita memutuskan memulai usaha sendiri saat masih berada di semester awal perkuliahan. Ia ingin mandiri secara finansial dan tidak hanya bergantung pada orang tua.

“Saya ingin punya penghasilan sendiri. Dari kecil sudah melihat peluang itu ada di sekitar rumah, jadi saya memberanikan diri untuk mulai,” ujarnya.

Namun, memilih menjadi peternak perempuan bukan tanpa tantangan. Ia mengaku sempat dihantui rasa takut, mulai dari khawatir dagangannya tidak laku, takut ditipu, hingga ancaman pencurian ternak.

Selain itu, keterbatasan pengetahuan tentang dunia peternakan juga menjadi tantangan tersendiri. Ia harus belajar memahami usia domba, bobot ideal, jenis-jenis domba unggulan, hingga menentukan jasa pengiriman yang tepat untuk pembeli luar daerah.



Sebagai perempuan, ia juga sering menghadapi pandangan bahwa bisnis peternakan bukan bidang yang lazim digeluti perempuan. Namun Yesita memilih membuktikan lewat kerja nyata.

Ia belajar langsung di lapangan, mengamati, bertanya, hingga memahami seluk-beluk usaha ternak secara perlahan.

Cobaan terbesar datang saat pandemi dan wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) menyerang. Saat itu, pengiriman domba mengalami lockdown, sementara beberapa ternak di kandangnya terserang penyakit hingga mati.

“Pernah merasa sangat berat. Saat wabah PMK, pengiriman terhambat, beberapa domba sakit bahkan mati. Tapi saya memilih tetap bertahan karena saya percaya usaha ini bisa berkembang,” katanya.

Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil. Tahun 2022 menjadi titik balik penting ketika omzet penjualannya meningkat drastis. Dari yang awalnya hanya menjual domba lokal, Yesita mulai meningkatkan kualitas produknya dengan menghadirkan domba Merino, Dormas, hingga Sopas.

Perkembangan usaha tersebut juga terlihat dari aset yang dimiliki. Jika awalnya hanya memiliki satu kandang, kini ia telah memiliki tiga kandang aktif untuk menunjang bisnisnya.

Dari hasil usaha itu, Yesita mampu membayar uang kuliah (UKT) sendiri sejak semester satu hingga lulus. Bahkan, ia juga berhasil membeli motor, handphone, hingga membantu renovasi rumah.

“Bangga sekali bisa sampai di titik ini. Saya sangat berterima kasih kepada kedua orang tua dan kakak-kakak saya yang selalu memberi support dan doa,” ungkapnya.

Bagi Yesita, perjalanan kuliah di Unmuh Jember bukan hanya soal mengejar nilai akademik, tetapi juga proses membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Ia mengaku banyak belajar tentang disiplin, komunikasi, manajemen waktu, kerja tim, hingga keberanian mengambil keputusan.

Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi saat semester akhir ketika ia hampir mengalami kendala besar dalam proses skripsi akibat perubahan judul tanpa koordinasi penuh dengan dosen pembimbing.

Saat itu, ia merasa sangat takut kelulusannya tertunda. Namun dari pengalaman tersebut, ia justru mendapatkan pelajaran berharga tentang komunikasi dan tanggung jawab.

“Dari situ saya belajar, jangan seenaknya mengubah sesuatu tanpa komunikasi yang jelas. Dalam bisnis juga begitu, jangan diam-diam mengganti produk atau harga ke klien. Kalau salah, cepat minta maaf dan beri solusi,” jelasnya.


Yesita percaya bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Baginya, langkah pertama adalah keberanian untuk memulai.

“Mengambil langkah pertama adalah awal untuk mewujudkan cita-cita menjadi pengusaha. Saya percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil, dan Allah SWT tidak menunda, tetapi menata,” tuturnya.

Kini, ia terus mengembangkan Artisnya Domba Jember dengan target menjadi ahli di bidang peternakan sekaligus pengusaha sukses yang mampu membuka peluang bagi banyak orang.

Kisah Yesita menjadi bukti bahwa perempuan bisa kuat, mandiri, dan sukses bahkan dari kandang domba. Bahwa menjadi peternak bukan soal gender, tetapi soal keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk bertahan.

 

Minggu, 17 Mei 2026

Delegasi Unmuh Jember Raih Best Team Kedua Nasional di Ajang Literasi Internasional SEALNET PI25

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional hingga Asia Tenggara. Setelah terpilih sebagai salah satu dari lima perguruan tinggi terbaik di Indonesia dalam program SEALNET Project Indonesia 2025 (PI25) Read to Lead, delegasi Unmuh Jember berhasil meraih predikat Best Team Kedua Nasional pada ajang literasi internasional bergengsi SEALNET PI25 (Southeast Asian Service Leadership Network Program Initiative 2025).

Prestasi tersebut diumumkan dalam Closing Ceremony SEALNET PI25 yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis, 10 April 2026 pukul 19.00 WIB, menandai berakhirnya proyek literasi yang telah berjalan selama kurang lebih enam bulan.

Tim delegasi Unmuh Jember terdiri dari Muhammad Sulton Al Gifari, mahasiswa Fakultas Psikologi, Lutfiah Indah Fardiyatin, mahasiswa Program Studi PGPAUD, serta Helmy Maulana Wahid, pustakawan Unmuh Jember.

Sebelumnya, pada Juli 2025, Unmuh Jember terpilih sebagai salah satu dari hanya lima perguruan tinggi di Indonesia yang lolos dalam program mentoring intensif SEALNET PI25 bersama Universitas Perbanas, UIN Sunan Gunung Djati, Universitas Multimedia Nusantara, dan Universitas Buddhi Dharma.

Program yang diselenggarakan oleh Southeast Asian Service Leadership Network (SEALNET) ini berfokus pada penguatan budaya literasi, kepemimpinan sosial, serta pengembangan program berbasis komunitas melalui proposal gerakan literasi bertajuk “Literazine.”

Melalui proposal tersebut, Unmuh Jember dinilai memiliki potensi besar dalam membangun ekosistem literasi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi masyarakat kampus maupun masyarakat luas.

Selama lima hari, pada 16–20 Juli 2025, tim delegasi mengikuti mentoring intensif di Jakarta bersama mentor internasional dari berbagai negara Asia Tenggara, seperti Vietnam, Thailand, Myanmar, Filipina, Singapura, dan Indonesia.

Tidak hanya menerima materi, peserta juga melakukan kunjungan studi ke Perpustakaan Jakarta dan HB Jassin, Perpustakaan Universitas Indonesia, serta Gramedia Pustaka Utama, guna memperluas wawasan mengenai ekosistem literasi dan kepemimpinan berbasis layanan (service leadership).

Dalam proses pendampingan tersebut, para delegasi mendapatkan pembekalan mengenai pendekatan berbasis komunitas, strategi advokasi, serta praktik kepemimpinan sosial yang mampu menciptakan perubahan nyata.

Keberhasilan meraih predikat Best Team Kedua Nasional tidak datang secara instan. Tim Unmuh Jember dinilai menunjukkan performa terbaik melalui komunikasi aktif dengan mentor, konsistensi implementasi program, serta inovasi gerakan literasi yang kolaboratif dan inklusif.

Beberapa program unggulan yang berhasil dijalankan antara lain Library Tour bagi mahasiswa baru, Galeri Tour hasil kolaborasi dengan komunitas literasi lokal seperti Kanca Aksara, Literaya, Pena, dan PNE, hingga integrasi literasi dengan edukasi lingkungan melalui program Kunang-Kunang dan Nara Garden Tour.

Selain itu, tim juga mengembangkan gerakan literasi inklusif berbasis bahasa isyarat bersama BISINDO dan JBP, serta memperluas jejaring internasional melalui program English Mentoring yang berkolaborasi dengan Teaching Beyond Borders Singapura.

Lutfiah Indah Fardiyatin menyampaikan bahwa penghargaan ini menjadi bukti bahwa gerakan literasi kampus dapat berkembang menjadi gerakan sosial yang berdampak luas jika dikelola dengan kolaborasi dan konsistensi.

“Literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi bagaimana ilmu itu bisa hidup di masyarakat, menyentuh banyak orang, dan menjadi ruang perubahan sosial yang nyata,” ujarnya.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Unmuh Jember mampu bersaing di level nasional maupun internasional, sekaligus memperkuat posisi kampus sebagai institusi yang aktif mendorong inovasi sosial, kepemimpinan muda, dan budaya literasi berkelanjutan.

Melalui capaian ini, Unmuh Jember tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai penggerak perubahan yang membawa semangat literasi dari kampus menuju jejaring Asia Tenggara.

Dua Mahasiswa Unmuh Jember Terlibat dalam Proyek Ketangguhan Bencana PMI dan JRCS Jepang

Komitmen mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) dalam bidang kemanusiaan kembali terlihat melalui keterlibatan dua mahasiswa dalam program School Community Resilience Project (SCR) yang diselenggarakan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember bekerja sama dengan Japanese Red Cross Society (JRCS) Jepang.

Program ini diawali dengan kegiatan Pelatihan Dasar Disaster Risk Reduction (DRR) dan Enhanced Vulnerability Capacity Assessment (EVCA) yang berlangsung selama empat hari, pada 16–20 Januari 2025, di Hotel Safari Jember. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proyek kolaborasi jangka panjang yang dirancang berjalan selama kurang lebih tiga tahun, mulai awal 2025 hingga 2027.

Pelatihan ini diikuti oleh 20 staf dan relawan PMI Kabupaten Jember, termasuk dua mahasiswa Unmuh Jember yang menjadi perwakilan dari KSR (Korps Sukarela) PMI Unit Unmuh Jember, yakni Lutfiah Indah Fardiyatin, mahasiswa Program Studi PGPAUD, dan Nur Alfiah, mahasiswa Program Studi Keperawatan.

Keterlibatan keduanya menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung penguatan ketangguhan masyarakat terhadap risiko bencana, khususnya di wilayah pesisir selatan Jember yang memiliki potensi ancaman gempa bumi dan tsunami.

Program SCR sendiri akan difokuskan di wilayah Kecamatan Puger dan Gumukmas, dua kawasan pesisir selatan Jember yang dinilai memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam.

Saat itu, Ketua PMI Kabupaten Jember, Dr. Muhammad Thamrin, S.E., M.M., menegaskan bahwa pelatihan ini bukan hanya soal teori kebencanaan, tetapi juga membentuk karakter relawan yang tangguh dan siap terjun langsung ke masyarakat.

Menurutnya, relawan harus memiliki rasa percaya diri, komunikasi yang efektif, serta militansi dalam menjalankan tugas kemanusiaan.

Sementara itu, Weni Catur selaku Koordinator School and Community Resilience (SCR) menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman teknis yang mendalam sebelum menjalankan pendampingan di lapangan.

Berbagai materi diberikan oleh fasilitator dari PMI Pusat, PMI Jawa Timur, PMI Kabupaten Jember, serta JRCS Jepang. Materi tersebut meliputi pengelolaan bencana, kesiapsiagaan, tanggap darurat, satuan pendidikan aman bencana, hingga kajian risiko.

Tidak hanya teori, peserta juga mengikuti simulasi lapangan, pelatihan teknik komunikasi, serta koordinasi respons kebencanaan agar mampu menjalankan tugas secara efektif saat berhadapan langsung dengan masyarakat.

Bagi Lutfiah dan Nur Alfiah, keterlibatan dalam proyek internasional ini menjadi pengalaman berharga yang tidak hanya memperluas wawasan kebencanaan, tetapi juga mengasah kemampuan kepemimpinan, komunikasi, dan pengabdian sosial sebagai mahasiswa.

Melalui program ini, Unmuh Jember menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya berperan di ruang akademik, tetapi juga hadir sebagai bagian dari solusi sosial dan kemanusiaan. Keterlibatan dalam School Community Resilience Project menjadi langkah nyata dalam membangun generasi muda yang tangguh, peduli, dan siap menghadapi tantangan kebencanaan di masa depan.

 

Usai Youth Diplomacy Forum Jakarta, Delegasi IMM Unmuh Jember Lahirkan Agent of Diplomation

Semangat diplomasi dan kepemimpinan global terus digaungkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember). Setelah mengikuti Youth Diplomacy Forum (YDF) 2025 di Jakarta, dua mahasiswi delegasi dari Koordinator Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Korkom IMM) Unmuh Jember, yakni Lutfiah Indah Fardiyatin dari Program Studi PGPAUD dan Zahra Hakim dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), menghadirkan tindak lanjut nyata melalui kegiatan bertajuk “Agent of Diplomation”.

Program ini menjadi bentuk output action sekaligus pertanggungjawaban publik atas keikutsertaan mereka dalam forum diplomasi nasional yang diselenggarakan oleh kolaborasi antara Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), Islamic Cooperation Youth Forum (ICYF), dan OIC Youth Indonesia.

Sebelumnya, pada 26–28 September 2025, Lutfiah dan Zahra menjadi delegasi resmi Unmuh Jember dalam Youth Diplomacy Forum 2025 yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta Pusat. Forum tersebut mengusung tema “Muhammadiyah Diplomats as Catalysts of Global Change”, yang berfokus pada pelatihan dasar diplomasi, literasi hubungan internasional, serta simulasi sidang Organisasi Kerja Sama Islam melalui Model OIC (MOIC).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Anis Matta dan dihadiri sejumlah diplomat senior Kemlu RI serta tokoh nasional Muhammadiyah dan MUI. Selama tiga hari, para peserta mendapatkan materi eksklusif dari direktur Kemlu RI dan para duta besar, sekaligus mengikuti simulasi sidang internasional yang melatih kemampuan negosiasi, diplomasi publik, dan penyusunan resolusi global.

Menurut Lutfiah, pengalaman tersebut menjadi ruang belajar yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk memahami peran diplomasi dalam menghadapi isu-isu global.

“Forum ini membuka cara pandang kami bahwa mahasiswa tidak hanya berperan di lingkungan kampus, tetapi juga harus siap menjadi bagian dari perubahan global melalui komunikasi, negosiasi, dan diplomasi publik,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut dari pengalaman tersebut, Korkom IMM Unmuh Jember kemudian menggelar kegiatan “Agent of Diplomation” pada Minggu, 1 Maret 2026, bertempat di Ruang Rapat G.A Universitas Muhammadiyah Jember.

Kegiatan ini diikuti oleh kader pilihan yang merupakan tiga orang perwakilan dari masing-masing komisariat IMM di lingkungan Unmuh Jember. Sebanyak sembilan komisariat turut terlibat, sehingga puluhan kader muda IMM berpartisipasi dalam proses transfer ilmu dan penguatan kapasitas organisasi.

Mengusung tema “Menginternalisasi Nilai Adab dan Etika dalam Menciptakan Kolaborasi Organisasi yang Efektif, Produktif, dan Profesional,” kegiatan ini menghadirkan Dr. Sudahri, S.Sos., M.I.Kom. sebagai pemateri utama, dengan Faiq Nizamuddin sebagai fasilitator diskusi.

Dalam pemaparannya, Dr. Sudahri menekankan pentingnya adab, komunikasi taktis, dan etika organisasi sebagai fondasi utama dalam membangun kolaborasi yang sehat dan profesional di lingkungan mahasiswa.

Kegiatan berlangsung secara semi-formal dan interaktif. Para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif berdiskusi, bertukar gagasan, serta mempelajari bagaimana teknik diplomasi dapat diterapkan dalam menyelesaikan tantangan organisasi di tingkat komisariat.

Zahra Hakim menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar ilmu yang diperoleh dari forum nasional tidak berhenti pada delegasi yang berangkat, tetapi dapat menyebar dan memberikan dampak lebih luas.

“Kami ingin keterampilan diplomasi, negosiasi, dan etika berorganisasi ini bisa dirasakan seluruh kader IMM di Unmuh Jember. Ini bukan hanya soal forum nasional, tetapi bagaimana ilmu itu bisa kembali ke kampus dan menguatkan organisasi,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, IMM Unmuh Jember berharap lahir kader-kader muda yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kapasitas diplomasi, kepemimpinan, dan kepekaan sosial yang kuat dalam menjawab tantangan zaman.

Program “Agent of Diplomation” menjadi bukti bahwa pengalaman mahasiswa di tingkat nasional dapat diolah menjadi gerakan nyata di lingkungan kampus membangun kolaborasi, memperkuat adab organisasi, dan menyiapkan generasi pemimpin masa depan.

Connect