Upaya menghadirkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi
masyarakat menjadi salah satu semangat yang mengiringi perjalanan akademik
Fitriana Dina Rizkina, S.T.P., M.Sc., Ph.D. Dosen Universitas Muhammadiyah
Jember (Unmuh Jember) tersebut berhasil menyelesaikan studi doktoral di Ehime
University, Jepang, dengan fokus penelitian pada manajemen dan resiliensi
rantai pasok (supply chain resilience) komoditas perikanan di wilayah pulau
terisolasi.
Penelitian ini mengkaji bagaimana sistem rantai pasok
perikanan berjalan di Pulau Bawean, Indonesia, dan Pulau Uo atau Uoshima,
Jepang. Kedua lokasi tersebut menjadi ruang bagi Fitriana untuk mempelajari
tantangan distribusi hasil tangkapan, keterbatasan fasilitas penyimpanan,
hubungan antara nelayan dan pembeli, serta kemampuan sistem rantai pasok dalam
menghadapi berbagai hambatan.
Riset tersebut berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi
masyarakat di wilayah kepulauan. Bagi masyarakat yang menggantungkan
penghidupan pada sektor perikanan, keberhasilan menangkap ikan belum tentu
berbanding lurus dengan keuntungan yang diperoleh. Biaya operasional,
keterbatasan fasilitas penanganan hasil tangkapan, dan ketidakpastian
penyerapan pasar dapat memengaruhi keberlanjutan usaha nelayan.
Melalui penelitian komparatif di Indonesia dan Jepang,
Fitriana berupaya memahami perbedaan kondisi dan praktik pengelolaan rantai
pasok di kedua wilayah. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar
untuk merumuskan rekomendasi yang relevan bagi masyarakat di pulau terisolasi,
sekaligus membuka peluang penelitian baru mengenai ketahanan sistem rantai
pasok dalam menghadapi persoalan serupa.
Perjalanan akademik Fitriana dalam bidang manajemen
agroindustri telah dimulai sejak menempuh pendidikan sarjana di Institut
Pertanian Bogor (IPB). Pada jenjang tersebut, ia telah menaruh perhatian pada
bidang manajemen agroindustri yang kemudian menjadi landasan bagi pengembangan
risetnya di jenjang pendidikan berikutnya.
Ketertarikan terhadap bidang tersebut berlanjut ketika
Fitriana menempuh pendidikan magister di Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat
menjalani studi S2, ia memperoleh kesempatan mengikuti program joint degree
selama satu tahun di Jepang. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada
lingkungan akademik internasional, membuka kesempatan melakukan penelitian di
luar negeri, sekaligus membangun jejaring dengan para profesor di Ehime
University.
Pengalaman itu menjadi salah satu fondasi yang mendorongnya
melanjutkan pendidikan doktoral di universitas yang sama. Selain telah mengenal
lingkungan akademiknya, Fitriana juga memiliki landasan riset yang selaras
dengan bidang keilmuan yang terus dikembangkannya.
Konsistensi tersebut terlihat dari kesinambungan fokus
penelitian yang ditekuni sejak jenjang sarjana hingga doktoral. Dari manajemen
agroindustri, kajian Fitriana berkembang pada persoalan manajemen rantai pasok
dan logistik, dengan komoditas serta konteks penelitian yang berbeda pada
setiap jenjang pendidikan.
Pada jenjang magister, ia meneliti rantai pasok komoditas
jeruk dengan membandingkan konteks Indonesia dan Jepang. Sementara itu, pada
jenjang doktoral, fokus penelitiannya beralih pada rantai pasok perikanan di
wilayah pulau terisolasi. Kesinambungan ini memberinya kesempatan untuk
memperdalam pemahaman mengenai pengelolaan rantai pasok sekaligus melihat
bagaimana sistem tersebut bekerja dalam karakteristik wilayah yang berbeda.
Seluruh perjalanan pendidikan tersebut juga ditopang oleh
beasiswa. Fitriana memperoleh dukungan beasiswa sejak jenjang sarjana,
magister, hingga doktoral. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari
perjalanannya dalam mengembangkan kapasitas akademik tanpa menjadikan
keterbatasan ekonomi sebagai alasan untuk menghentikan cita-cita pendidikan.
Perjalanan Fitriana menuju studi doktoral tidak berlangsung
tanpa hambatan. Setelah menyelesaikan pendidikan magister, ia melanjutkan
perjalanan karier akademiknya di tengah situasi pandemi COVID-19 yang membawa
perubahan besar bagi banyak keluarga.
Pada 2021, keluarganya mengalami musibah terkait COVID-19
sehingga Fitriana harus kembali ke Jember dan mengundurkan diri dari pekerjaan
sebelumnya. Situasi tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan
hidupnya sebelum kembali menata karier dan mempersiapkan pendidikan doktoral.
Di tengah masa sulit itu, Fitriana mengingat kepedulian
warga Muhammadiyah yang hadir untuk membantu keluarganya. Ia menyampaikan rasa
terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan ketika keluarganya
menghadapi musibah.
Pengalaman tersebut menjadi bagian bermakna dalam perjalanan
hidupnya, sekaligus memperlihatkan pentingnya kepedulian sosial dan dukungan
antarsesama ketika menghadapi situasi yang tidak mudah.
Setelah kembali ke Jember, Fitriana melanjutkan karier
akademiknya dan mempersiapkan diri untuk menempuh pendidikan doktoral. Ia
mengikuti seleksi beasiswa yang disponsori pemerintah Jepang. Pada percobaan
pertama, ia belum berhasil lolos seleksi yang kompetitif.
Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti. Fitriana
mengevaluasi dan memperbaiki rekam jejak akademik, publikasi, serta portofolio
penelitian sebelum kembali mencoba pada kesempatan berikutnya. Proses persiapan
dan seleksi berlangsung panjang, hingga akhirnya ia memperoleh kesempatan untuk
melanjutkan studi doktoral di Jepang.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan
akademik membutuhkan persiapan yang matang, konsistensi, dan kesediaan untuk
memperbaiki diri ketika menghadapi kegagalan.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Fitriana dalam
penelitiannya adalah bagaimana nelayan di pulau terisolasi menghadapi
keterbatasan sistem distribusi dan fasilitas penanganan ikan.
Di Pulau Bawean, nelayan menghadapi tantangan berupa biaya
bahan bakar yang tinggi, risiko selama melaut, serta keuntungan yang relatif
tipis. Hasil tangkapan juga harus melewati sejumlah pelaku distribusi sebelum
sampai kepada konsumen. Kondisi tersebut memengaruhi pembagian margin
keuntungan di sepanjang rantai pasok, termasuk bagi nelayan yang berada di
bagian hulu.
Persoalan lain berkaitan dengan ketersediaan fasilitas
rantai dingin (cold chain). Ikan membutuhkan penanganan yang cepat setelah
ditangkap agar kualitasnya tetap terjaga. Namun, keterbatasan fasilitas
penyimpanan dan pasokan es dapat menyulitkan nelayan ketika hasil tangkapan
melimpah.
Fitriana menceritakan bahwa kebutuhan es di Bawean pernah
harus dipenuhi dengan mendatangkannya dari Pulau Jawa. Pada kondisi tertentu,
pasokan ikan yang melimpah juga tidak selalu diikuti kemampuan pasar untuk
menyerap seluruh hasil tangkapan. Akibatnya, ikan yang tidak terserap pasar
berisiko terbuang.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan perikanan tidak
cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan hasil tangkapan. Diperlukan sistem
yang saling terhubung, mulai dari penanganan ikan setelah ditangkap,
ketersediaan fasilitas penyimpanan, distribusi, hingga kepastian penyerapan
pasar.
Dalam konteks inilah resiliensi rantai pasok menjadi
penting. Sistem rantai pasok yang tangguh perlu memiliki kemampuan untuk
menghadapi hambatan dan menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi, sehingga
gangguan pada satu bagian tidak serta-merta menimbulkan kerugian besar bagi
keseluruhan pelaku.
Perbandingan dengan Pulau Uo atau Uoshima di Jepang
memberikan perspektif berbeda. Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian,
Fitriana melihat praktik penanganan hasil tangkapan yang lebih tertata, mulai
dari pembersihan dan pengemasan ikan hingga penyimpanan dalam wadah
berpendingin.
Ia juga menemukan adanya perjanjian antara nelayan dan
pembeli yang memberikan kepastian penyerapan hasil tangkapan sesuai
kesepakatan. Praktik tersebut menjadi salah satu pembelajaran mengenai
pentingnya hubungan yang terorganisasi antara nelayan dan pasar.
Meski demikian, kondisi di Jepang juga menghadirkan
tantangan tersendiri. Jumlah nelayan di wilayah yang diteliti cenderung menurun
dan didominasi kelompok usia lanjut. Sementara itu, kondisi di Bawean
menunjukkan kecenderungan yang berbeda, dengan jumlah nelayan yang relatif
stabil berdasarkan data yang digunakan dalam penelitian.
Perbedaan tersebut membuka pertanyaan lanjutan mengenai
faktor yang memengaruhi keberlanjutan profesi nelayan di wilayah terisolasi.
Dengan memahami perbedaan karakteristik kedua lokasi, penelitian ini diharapkan
dapat memberikan pijakan untuk mengembangkan kajian berikutnya, baik mengenai
sistem distribusi maupun keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir.
Bagi Fitriana, salah satu nilai penting dari penelitian ini
adalah potensinya untuk diterapkan dalam memahami kasus-kasus serupa di wilayah
lain. Karakteristik pulau terisolasi dapat ditemukan di berbagai daerah dengan
tantangan geografis, infrastruktur, dan akses pasar yang berbeda-beda.
Karena itu, hasil penelitian di Bawean dan Uoshima
diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi kedua lokasi tersebut, tetapi juga
menjadi referensi awal untuk mengkaji persoalan rantai pasok di wilayah lain
yang memiliki kondisi sejenis.
Penelitian ini juga berpotensi menjadi pintu gerbang bagi
riset baru. Temuan mengenai perbedaan sistem distribusi, fasilitas penanganan
hasil tangkapan, dan keberlanjutan profesi nelayan dapat dikembangkan lebih
lanjut melalui penelitian yang mempertimbangkan karakteristik masing-masing
wilayah.
Dengan demikian, penelitian doktoral tidak berhenti pada
penyusunan rekomendasi, tetapi juga dapat mendorong lahirnya pertanyaan ilmiah
baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi
penting agar pengembangan ilmu pengetahuan dapat terus mengikuti perubahan
persoalan di lapangan.
Fitriana juga melihat peluang pengembangan kajian rantai
pasok pada sektor perikanan di kawasan Tapal Kuda, khususnya Jember dan
Banyuwangi. Kedua wilayah tersebut memiliki potensi di sektor pertanian maupun
perikanan yang dapat dikembangkan melalui pendekatan pengelolaan industri
secara terintegrasi.
Ia mencontohkan keterkaitan antara pengolahan jeruk dan
budidaya ikan yang pernah diamatinya di Jepang. Ampas jeruk dari kegiatan
pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ikan. Pemanfaatan
hasil samping tersebut menjadi salah satu gambaran penerapan ekonomi sirkular
(circular economy), yaitu pendekatan yang berupaya menggunakan kembali sumber
daya agar menghasilkan nilai tambah dan mengurangi pemborosan.
Gagasan tersebut membuka peluang untuk mengkaji integrasi
antara industri pertanian dan perikanan berdasarkan potensi lokal. Namun,
penerapannya di Jember dan Banyuwangi tetap memerlukan penelitian lanjutan agar
sesuai dengan karakteristik komoditas, pelaku usaha, dan kebutuhan masyarakat
setempat.
Bagi Fitriana, inilah salah satu manfaat penelitian
akademik: mengidentifikasi persoalan nyata, membandingkan pengalaman dari
konteks berbeda, serta membuka kemungkinan solusi yang dapat dikembangkan
melalui kajian lanjutan.
Selain menghadapi tantangan penelitian, Fitriana juga harus
beradaptasi dengan kehidupan sebagai mahasiswa internasional di Jepang.
Perbedaan bahasa dan budaya, keterbatasan interaksi sosial, serta penyesuaian
dalam menjalankan ibadah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi pengalaman
yang membentuk perjalanan studinya.
Ia mengakui bahwa kesehatan mental merupakan salah satu
tantangan penting selama menjalani pendidikan doktoral. Kesibukan akademik dan
keterbatasan kesempatan berinteraksi dapat membuat mahasiswa internasional
merasa sendiri, terutama ketika harus menghadapi berbagai persoalan secara
mandiri.
Dari sisi penelitian, ia juga menghadapi proses pengujian
gagasan oleh para profesor. Rancangan riset, teori, pengolahan data, hingga
hasil penelitian harus siap dipertanyakan dan dikritisi. Meski tidak selalu
mudah, proses tersebut memberinya perspektif baru dan membantu memperdalam
pemahaman terhadap bidang keilmuannya.
Pengalaman tersebut membuat Fitriana menilai bahwa studi
doktoral membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik. Mahasiswa juga
perlu mempersiapkan mental, mengembangkan disiplin, serta memiliki strategi
untuk mengelola emosi ketika menghadapi tekanan dan kegagalan.
Ia berpesan kepada dosen muda yang ingin melanjutkan
pendidikan doktoral agar memiliki tekad kuat dan kesiapan untuk menjalani
proses secara mandiri. Dukungan finansial, dukungan moral dari keluarga dan
lingkungan akademik, serta kemampuan mengatur waktu juga menjadi faktor penting
untuk menyelesaikan studi.
Sementara itu, kepada mahasiswa yang bermimpi melanjutkan
pendidikan ke luar negeri, Fitriana mengingatkan agar tidak langsung menyerah
ketika menghadapi keterbatasan. Pengalamannya memperoleh beasiswa sejak jenjang
sarjana hingga doktoral menjadi bukti bahwa kesempatan dapat diperjuangkan
melalui persiapan dan strategi yang tepat.
“Yang penting kita mau berkorban dan siap berjuang, karena
jalan ini tidak mudah. Teman-teman harus yakin bahwa setiap kesulitan pasti ada
kemudahan,” pesannya.
Kini, setelah menyelesaikan studi doktoral dan kembali
mengajar di Unmuh Jember, Fitriana membawa pengalaman akademik dan penelitian
yang diharapkan dapat memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan serta membuka
ruang kontribusi yang lebih luas.
Melalui penelitian tentang resiliensi rantai pasok di pulau
terisolasi, ia berupaya menjadikan riset sebagai bagian dari ikhtiar memahami
dan menyelesaikan persoalan masyarakat. Semangat tersebut sejalan dengan peran
perguruan tinggi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya bernilai
akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat.