Carousel

Selasa, 01 September 2026

Doomscrolling Berlebihan, Dosen Psikologi Unmuh Jember Ungkap Dampaknya bagi Kesehatan Mental



Kebiasaan menggulir media sosial secara terus-menerus untuk mendapatkan informasi, termasuk berita negatif, dapat memberikan dampak terhadap kondisi psikologis seseorang. Fenomena yang dikenal sebagai doomscrolling tersebut dinilai berkaitan erat dengan penggunaan gawai dan media sosial yang tidak terkontrol.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Maulana Arif Muhibbin, S.Psi., M.Si., menjelaskan bahwa doomscrolling terjadi ketika seseorang terus mencari dan mengonsumsi informasi tanpa melakukan penyaringan secara sadar. Hal tersebut dapat berkembang menjadi kecanduan apabila penggunaan gawai sudah melampaui batas yang seharusnya hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Doomscrolling itu artinya kita mencari informasi dengan cara membabi buta, tidak difilter. Karena sudah tidak sadar, informasi terasa menarik dan akhirnya kita terbawa sampai menghabiskan waktu, bahkan mengabaikan tugas-tugas yang ada,” jelasnya dalam wawancara pada Selasa (1/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut juga tidak terlepas dari cara kerja media sosial yang dirancang untuk menyesuaikan informasi dengan ketertarikan penggunanya. Algoritma kemudian membuat pengguna terus mendapatkan konten yang dianggap menarik sehingga tanpa kemampuan mengontrol diri, penggunaan media sosial dapat berlangsung semakin lama.

Beliau menilai dampak doomscrolling dan penggunaan gawai berlebihan dapat berbeda pada setiap kelompok usia. Pada anak-anak, penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat memengaruhi perkembangan psikomotorik, kemampuan berbicara, fokus, serta kemampuan mengelola emosi.

Ia menyebut, anak yang terlalu banyak berfokus pada layar dapat kehilangan kesempatan untuk mendapatkan stimulasi dari lingkungan sekitar. Paparan konten berdurasi pendek yang terus berganti juga dapat membuat anak terbiasa menerima stimulasi secara cepat sehingga lebih mudah bosan dan mengalami gangguan fokus.

“Sedikit-sedikit ganti, sedikit-sedikit ganti. Makanya biasanya kalau kita mendampingi anak kecil itu, dia akan tahan dengan apa yang dia lihat. Itu nanti akan berdampak ke gangguan fokus, kemudian gangguan emosi. Sedikit-sedikit gampang marah,” ungkapnya.

Pada kelompok remaja, dampaknya dapat terlihat dari berkurangnya interaksi sosial dan meningkatnya kecenderungan untuk menarik diri. Remaja yang terlalu banyak mengonsumsi informasi negatif juga dapat memandang dunia secara lebih buruk dan penuh ancaman.

Akumulasi informasi negatif tersebut, menurut beliau, dapat membuat remaja menjadi terlalu waspada hingga mengalami overthinking. Kondisi tersebut bahkan dapat membuat seseorang kesulitan membedakan orang yang dapat dipercaya dan orang yang perlu diwaspadai.

Sementara pada usia dewasa, penggunaan gawai secara berlebihan dapat memengaruhi kemampuan membangun relasi sosial, hubungan interpersonal, hingga karier. Kurangnya interaksi langsung dapat membuat seseorang kesulitan membangun hubungan dengan orang lain. Bahkan, ekspektasi terhadap pasangan dapat terbentuk berdasarkan standar yang sering ditampilkan di media sosial.

Selain hubungan sosial, produktivitas juga dapat terdampak. Paparan informasi yang berlebihan membuat otak mengalami overstimulasi dan over-informasi, sehingga seseorang dapat mengalami kelelahan dan kesulitan berkonsentrasi dalam aktivitas belajar maupun pekerjaan.

Kelompok lanjut usia juga tidak luput dari dampak penggunaan media digital. Menurut beliau, keterbatasan kemampuan digital pada sebagian lansia dapat membuat mereka lebih mudah menerima informasi palsu atau hoaks. Informasi yang memicu emosi tersebut kemudian dapat meningkatkan stres dan kecemasan.

Penggunaan gawai hingga menjelang waktu tidur juga dapat mengganggu pola istirahat. Paparan berita negatif dapat membuat seseorang terus berada dalam kondisi waspada, sedangkan konten yang menyenangkan dapat mendorong seseorang terus mencari stimulasi sehingga sulit berhenti menggunakan gawai.

“Tidur ini kan sebagai pengobatan, sebagai jeda untuk rileks semua organ-organ tubuh. Ketika itu terstimulasi, orang itu ketika melihat berita buruk akan selalu siap-siaga,” jelasnya.

Gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus kemudian dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikologis. Seseorang dapat menjadi lebih mudah cemas, kemampuan menerima informasi secara positif menurun, serta kondisi fisik ikut melemah.

Kenali Tanda Ketika Membutuhkan Bantuan Profesional

Beliau menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gawai pada anak. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain perubahan perilaku menjadi antisosial, gangguan fokus, serta keterlambatan perkembangan kemampuan berbicara dan kosakata.

Jika kondisi tersebut sudah mengganggu kesehatan psikologis, bantuan profesional diperlukan. Beberapa tanda yang perlu menjadi perhatian antara lain halusinasi, kemarahan yang tidak terkendali, distorsi kognitif, serta kecemasan berlebihan.

Untuk remaja, perubahan prestasi akademik, cara bergaul, kondisi fisik, serta kebiasaan menggunakan gawai dapat menjadi indikator yang perlu diperhatikan. Menurutnya, penanganan juga membutuhkan sinergi antara orang tua dan sekolah, termasuk melalui pengaturan penggunaan gawai serta perhatian terhadap lingkungan pertemanan.

Sementara pada orang dewasa, tanda yang dapat diperhatikan antara lain meningkatnya kecemasan, perubahan emosional, dan menurunnya produktivitas. Penurunan kemampuan menyelesaikan pekerjaan atau pencapaian target dapat menjadi salah satu tanda bahwa penggunaan media sosial mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, bantuan profesional diperlukan ketika seseorang sudah tidak mampu mengendalikan diri dan kondisi tersebut mulai berdampak kepada orang-orang di sekitarnya. Misalnya, emosi yang dilampiaskan kepada pasangan atau anak.

Karena itu, kemampuan mengontrol penggunaan gawai dan media sosial menjadi hal penting. Penggunaan teknologi seharusnya tetap diimbangi dengan aktivitas fisik, interaksi sosial, waktu bersama keluarga, serta istirahat yang cukup agar tidak berkembang menjadi kebiasaan yang mengganggu kesehatan psikologis.

Enam Mahasiswa Asing Bergabung, Unmuh Jember Perkuat Langkah Menuju Kampus Go International

Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember terus memperkuat langkah menuju kampus berorientasi internasional. Tahun ini, sebanyak enam mahasiswa baru dari luar negeri resmi bergabung dan akan menempuh pendidikan di Unmuh Jember.

Keenam mahasiswa tersebut berasal dari dua negara, yakni tiga mahasiswa asal Bangladesh (Noorsanee Samae, Phidawatee Chedoloh, dan Eilham Marong) dan tiga mahasiswa asal Thailand (Faizanul Hoque, Kazi Md Abdullah, dan Md Tamjid Hossen). Kehadiran mahasiswa asing ini menjadi salah satu bagian dari upaya Unmuh Jember memperluas jejaring dan meningkatkan eksposur pendidikan tinggi di tingkat internasional.

Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) Unmuh Jember, Kristi Nuraini, M.Pd, mengatakan mahasiswa asing memiliki peran penting dalam mendukung cita-cita Unmuh Jember untuk menjadi perguruan tinggi yang semakin dikenal di kancah internasional.

“Indikator utama dari go international salah satunya adalah memiliki mahasiswa asing,” ujarnya.

Menurutnya, mahasiswa asal Thailand dapat bergabung melalui kerja sama Unmuh Jember dengan Dinas Pendidikan Thailand. Sementara itu, tiga mahasiswa asal Bangladesh mengetahui informasi mengenai pendidikan di Jember melalui senior mereka yang sebelumnya telah menempuh pendidikan di wilayah tersebut.

Keberadaan mahasiswa asing diharapkan tidak hanya menjadi capaian internasionalisasi, tetapi juga membuka peluang bagi Unmuh Jember untuk memperluas jangkauan calon mahasiswa dari berbagai belahan dunia.

“Harapannya, cakupan mahasiswa Unmuh Jember tidak hanya dari kawasan Asia, tetapi ke depan bisa semakin meluas hingga Amerika, Eropa, dan benua lainnya,” jelasnya.

Perluas Jejaring melalui Kolaborasi Internasional

Untuk menarik lebih banyak mahasiswa asing, Unmuh Jember terus membangun kerja sama dengan berbagai mitra internasional. Salah satu strategi yang dilakukan adalah melalui pelaksanaan program bersama dengan perguruan tinggi maupun institusi mitra di luar negeri.

Salah satu program yang saat ini dikembangkan adalah Collaboration Online International Learning (COIL). Program tersebut tidak hanya dilaksanakan dengan satu mitra, tetapi melibatkan beberapa mitra internasional.

Menurutnya, kolaborasi semacam ini memberikan manfaat strategis bagi Unmuh Jember, terutama dalam memperluas jaringan internasional.

“Dengan COIL, kita tidak hanya bekerja sama dengan satu mitra, tetapi beberapa mitra. Benefit-nya adalah jaringan kita semakin luas,” tuturnya.

Selain memperluas jejaring, program kolaborasi internasional juga menjadi sarana bagi sivitas akademika untuk berinteraksi dan belajar bersama dengan mitra dari berbagai negara tanpa terbatas oleh jarak.

Unmuh Jember juga memberikan perhatian terhadap proses adaptasi mahasiswa asing. Kristi menjelaskan, komunikasi dengan mahasiswa telah dilakukan secara intensif bahkan sebelum mereka tiba di Jember.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan mahasiswa asing mendapatkan informasi dan pendampingan yang memadai sejak awal, sehingga tidak mengalami kesulitan ketika mulai menjalani kehidupan akademik maupun beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Komunikasi intens dengan mahasiswa dilakukan bahkan sebelum mereka tiba di Unmuh Jember. Ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kita dalam hal layanan kepada mereka,” katanya.

Khusus bagi tiga mahasiswa asal Thailand, Unmuh Jember memberikan dukungan pembiayaan selama menjalani pendidikan. Dukungan tersebut mencakup biaya hidup, makan, hingga tempat tinggal.

Siapkan Pendaftaran Mandiri bagi Mahasiswa Asing

Ke depan, Unmuh Jember secara bertahap juga akan membuka jalur pendaftaran mandiri bagi mahasiswa internasional. Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan akses yang lebih luas bagi calon mahasiswa dari berbagai negara yang ingin melanjutkan pendidikan di Unmuh Jember.

Kehadiran enam mahasiswa asing pada tahun ini menjadi langkah awal dalam memperkuat internasionalisasi kampus. Dengan pengembangan kerja sama, program internasional, serta peningkatan layanan bagi mahasiswa asing, Unmuh Jember menargetkan jangkauan internasional yang semakin luas.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Unmuh Jember untuk tidak hanya menjadi perguruan tinggi yang berdaya saing di tingkat nasional, tetapi juga mampu berkembang dan dikenal di lingkungan pendidikan tinggi global.

Kamis, 27 Agustus 2026

Mahasiswa Unmuh Jember Edukasi Penggunaan Gawai Sehat bagi Anak PMI di Malaysia


Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Muhammad Zackakhal Wafda, memimpin workshop literasi digital tentang penggunaan gawai secara sehat bagi siswa Sanggar Bimbingan Muhammadiyah (SBM) Kampung Bharu, Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (10/8/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program International Community Service (KKN Internasional) hasil kolaborasi lima Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (5 PTMA), yakni UMJ, Unmuh Jember, UM Bandung, UNIMUGO, dan UM Bima, bersama PCIM Malaysia.

Dengan pendekatan komunikatif dan ramah anak, Wafda mengajak siswa memahami pentingnya membatasi penggunaan gawai agar tidak mengganggu waktu tidur, belajar, aktivitas fisik, ibadah, dan interaksi sosial. Para siswa juga diajak berdiskusi menentukan waktu yang sebaiknya bebas dari gawai, seperti saat belajar, makan bersama, menjelang tidur, dan waktu salat.

Selain edukasi, Wafda memperkenalkan fitur pembatas waktu aplikasi pada ponsel serta aplikasi penata rutinitas yang dikembangkannya. Ia menekankan bahwa teknologi dapat menjadi alat bantu, tetapi kebiasaan digital yang sehat tetap membutuhkan kesadaran diri, komunikasi keluarga, dan keteladanan orang dewasa.

Kegiatan mendapat sambutan positif dari para pendidik SBM Kampung Bharu. Seusai workshop, mahasiswa bersama dewan guru berdiskusi mengenai strategi penerapan kebiasaan digital sehat di lingkungan belajar.

Keterlibatan Wafda menjadi bagian dari upaya Unmuh Jember mendorong mahasiswa mengimplementasikan ilmu sekaligus berkontribusi bagi masyarakat Indonesia di luar negeri. KKN Internasional 5 PTMA yang berlangsung pada 8–13 Agustus 2026 di Malaysia dan Singapura juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, membangun kolaborasi, dan mengembangkan empati sosial.

Rabu, 26 Agustus 2026

Karhutla Tak Hanya Ancam Lingkungan, Dosen Unmuh Jember Soroti Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan dari kebakaran dapat membawa berbagai polutan dan menyebar dalam wilayah yang luas, sehingga masyarakat yang berada jauh dari titik kebakaran pun tetap berpotensi terdampak.

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan(Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Dr. Ns. Cipto Susilo, M.Kep., menjelaskan bahwa dampak kesehatan akibat karhutla terutama berasal dari paparan asap. Asap tersebut mengandung berbagai polutan, salah satunya partikulat halus berdiameter 2,5 mikrometer atau PM2,5 yang dapat masuk hingga bagian terdalam paru-paru.

“Karhutla tidak tepat dipandang hanya sebagai persoalan lingkungan. Ketika asap telah mencemari udara yang dihirup masyarakat, kebakaran tersebut telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat,” jelasnya dalam kajiannya mengenai dampak karhutla terhadap kesehatan.

Menurut beliau, tingkat keparahan dampak kesehatan sangat dipengaruhi oleh konsentrasi polutan, lama paparan, frekuensi paparan, hingga aktivitas masyarakat di luar ruangan. Seseorang yang bekerja di luar ruangan selama berjam-jam, misalnya, berpotensi menerima dosis paparan lebih tinggi dibandingkan masyarakat yang lebih banyak berada di dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih baik.

Gangguan Pernapasan hingga Kardiovaskular

Paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata dan tenggorokan hingga gangguan pernapasan. Keluhan yang dapat muncul antara lain mata merah dan berair, hidung tersumbat, batuk, sesak napas, mengi, hingga rasa berat di dada.

Pada masyarakat yang telah memiliki penyakit pernapasan seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), paparan asap dapat memperburuk kondisi yang sudah ada. Dalam kondisi tertentu, paparan asap juga dapat meningkatkan risiko gangguan respirasi yang lebih berat dan kebutuhan rawat inap.

Dampaknya juga tidak berhenti pada sistem pernapasan. Partikulat PM2,5 dapat memicu inflamasi dan stres oksidatif sistemik yang berpotensi memengaruhi sistem kardiovaskular. Sementara itu, paparan komponen asap tertentu seperti karbon monoksida dapat menimbulkan keluhan berupa sakit kepala, pusing, lemah, mual, kelelahan, hingga gangguan konsentrasi.

Karhutla juga berpotensi memberikan dampak psikologis, terutama bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, maupun harta benda atau harus menjalani evakuasi. Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, stres, gangguan tidur, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma.

Anak hingga Pekerja Lapangan Jadi Kelompok Rentan

Cipto menekankan bahwa kerentanan terhadap asap karhutla tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga kondisi kesehatan, tingkat paparan, pekerjaan, kondisi sosial ekonomi, dan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Anak-anak, bayi, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti asma, PPOK, dan penyakit jantung termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Pekerja luar ruangan juga memiliki risiko tinggi karena menghabiskan waktu lebih lama di lingkungan yang tercemar. Petugas pemadam kebakaran dan relawan bahkan menghadapi risiko lebih besar karena dapat berada dekat dengan sumber asap dan api.

“Kelompok rentan tidak boleh hanya ditentukan berdasarkan usia. Seorang pekerja dewasa yang sehat tetapi terpapar asap selama berjam-jam dapat mempunyai dosis pajanan yang lebih tinggi dibandingkan seorang lansia yang berada di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih,” ungkapnya.

Risiko Tidak Berakhir Ketika Asap Menghilang

Menurut beliau, masyarakat juga perlu memahami bahwa risiko kesehatan akibat karhutla tidak selalu berakhir ketika asap sudah tidak terlihat. Risiko jangka pendek umumnya berupa iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak, mengi, peningkatan produksi dahak, serta memburuknya kondisi penderita asma dan PPOK.

Sementara itu, paparan yang berulang atau berkepanjangan dapat berkaitan dengan gangguan fungsi paru, penyakit respirasi, mortalitas, serta gangguan kesehatan mental. Karena itu, hilangnya asap secara visual tidak selalu berarti seluruh dampak kesehatan telah berakhir.

Kurangi Paparan, Jangan Hanya Mengandalkan Masker

Ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla, Cipto menyarankan masyarakat untuk memprioritaskan pengurangan paparan, terutama terhadap PM2,5.

Masyarakat perlu memantau informasi resmi mengenai kualitas udara dan perkembangan kebakaran. Aktivitas luar ruangan, khususnya olahraga dan aktivitas fisik berat, juga perlu dikurangi ketika kualitas udara berada pada kondisi tidak sehat.

Selain itu, kelompok rentan perlu mendapatkan perlindungan lebih. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai dan memiliki kecocokan dengan wajah. Namun, penggunaan masker bukan pengganti upaya mengurangi paparan.

Kualitas udara di dalam rumah juga perlu dijaga dengan mengurangi masuknya asap, menutup pintu dan jendela ketika kualitas udara luar sangat buruk, serta menghindari sumber polusi tambahan seperti merokok dan membakar sampah di dalam ruangan. Penderita penyakit kronis juga perlu memastikan obat rutin tetap tersedia dan digunakan sesuai instruksi tenaga kesehatan.

Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, napas cepat atau kesulitan bernapas, nyeri dada, penurunan kesadaran, kebingungan, bibir atau kulit kebiruan, mengi berat, serangan asma yang tidak membaik, maupun perburukan penyakit kronis.

Beliau menilai penanganan karhutla dari perspektif kesehatan masyarakat perlu dilakukan secara menyeluruh. Penanganan tidak cukup hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga perlu mencakup upaya promotif, preventif, responsif, dan rehabilitatif.

“Dalam perspektif kesehatan masyarakat, penanganan karhutla harus bergerak dari paradigma kuratif menuju pendekatan promotif, preventif, responsif, dan rehabilitatif,” tutupnya.

Senin, 24 Agustus 2026

Unmuh Jember Kembangkan TirtaSmart, Teknologi Cerdas Pantau Kualitas Air Berbasis Energi Surya


Bagaimana jika kualitas air bersih di desa bisa dipantau secara real-time, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada listrik PLN? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu persoalan yang coba dijawab Universitas Muhammadiyah Jember melalui pengembangan TirtaSmart, sebuah prototipe sistem cerdas pemantauan kualitas air berbasis Wireless Sensor Network (WSN), kecerdasan buatan, dan energi surya.

TirtaSmart dikembangkan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas – Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026 dengan pendanaan dari Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.

Pengembangan teknologi tersebut diketuai oleh Dr. Bagus Setya Rintyarna, M.Kom. dari Universitas Muhammadiyah Jember. TirtaSmart dirancang untuk menjawab persoalan pemantauan kualitas air di wilayah perdesaan yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual dan berkala.

Kondisi tersebut membuat perubahan kualitas air berpotensi terlambat diketahui. Melalui TirtaSmart, data dari sejumlah sensor dapat dikumpulkan dan dikirim secara nirkabel sehingga kondisi air dapat dipantau secara lebih cepat dan berkelanjutan.



“TirtaSmart kami arahkan bukan sekadar menjadi alat ukur kualitas air, tetapi menjadi sistem monitoring yang dapat bekerja secara berkelanjutan dan membantu pengelola air desa memperoleh informasi berbasis data untuk mengambil keputusan,” ujar Bagus.

TirtaSmart dikembangkan sebagai sebuah sistem yang terintegrasi. Sensor yang ditempatkan pada sumber air akan mengukur sejumlah parameter kualitas air. Data hasil pengukuran kemudian dikirim melalui jaringan sensor nirkabel menuju sistem pengolahan dan ditampilkan melalui dashboard monitoring.

Pada pengembangan tahun 2026, teknologi tersebut diperkuat dengan sensor multi-parameter, sistem komunikasi WSN, gateway, sistem kendali energi surya, serta dashboard monitoring.

Pengembangan juga dilakukan pada sisi kecerdasan sistem. Jika prototipe sebelumnya menggunakan pendekatan weighted ensemble classifier, TirtaSmart kini dikembangkan dengan algoritma Neural Network untuk mengenali hubungan yang lebih kompleks dari data berbagai sensor.

Tidak hanya kualitas, sistem juga dikembangkan untuk memantau kuantitas air. Dengan demikian, TirtaSmart diharapkan dapat berkembang dari sekadar alat pembaca kondisi air menjadi instrumen pendukung pengambilan keputusan bagi pengelola air bersih desa.

Salah satu tantangan penerapan teknologi monitoring di wilayah perdesaan adalah ketersediaan sumber listrik. Terlebih, lokasi sumber air tidak selalu berada dekat dengan permukiman atau jaringan listrik.

Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan tim mengintegrasikan sistem kendali energi surya ke dalam TirtaSmart.

Dengan memanfaatkan energi matahari, perangkat monitoring diharapkan mampu bekerja lebih mandiri dan kontinu di lapangan tanpa sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik PLN.

Pengembangan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari prototipe sebelumnya yang telah mencapai Level 5 menuju Level 6–7. Tahapan tersebut diarahkan agar teknologi tidak hanya teruji secara teknis, tetapi juga dapat diuji dan didemonstrasikan dalam lingkungan operasional yang nyata.

Untuk memastikan teknologi benar-benar mampu bekerja di kondisi lapangan, tim peneliti menjadikan Desa Sukogidri, Kabupaten Jember, sebagai lokasi pengujian prototipe.

Pengujian dilakukan secara bertahap, mulai dari finalisasi desain, pengujian fungsional, kalibrasi ulang sensor, instalasi prototipe, hingga pengujian lapangan.

Sejumlah aspek akan menjadi perhatian, mulai dari kinerja sensor dan jaringan WSN, stabilitas sistem energi surya, kontinuitas pengiriman data, hingga keandalan sistem secara keseluruhan.

Sistem selanjutnya juga akan didemonstrasikan kepada pengelola air desa sebagai pengguna akhir. Pelibatan pengguna menjadi bagian penting dalam proses hilirisasi agar teknologi yang dikembangkan tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mudah digunakan dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Target kami adalah teknologi ini dapat digunakan oleh pengelola air desa secara mandiri. Informasi kualitas air harus bisa dibaca dengan mudah, sehingga teknologi benar-benar hadir sebagai alat bantu pengelolaan air, bukan justru menambah kerumitan bagi pengguna,” jelas Bagus.

TirtaSmart merupakan hasil pengembangan berkelanjutan, bukan teknologi yang dibangun dari nol pada 2026. Tim telah melakukan rangkaian penelitian sejak 2021, khususnya dalam bidang pemantauan kualitas air berbasis WSN, analitik data, dan sistem cerdas.


Riset sebelumnya telah menghasilkan prototipe yang melalui proses kalibrasi sensor, pengujian fungsional, serta validasi pada lingkungan relevan hingga mencapai TKT Level 5.

Sejumlah hasil penelitian tersebut juga telah menghasilkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), termasuk teknologi monitoring kualitas air berbasis WSN dan ensemble learning.

Melalui program tahun 2026, fokus penelitian kemudian bergeser lebih jauh menuju hilirisasi, yakni menyempurnakan teknologi yang telah dikembangkan agar semakin dekat dengan kebutuhan pengguna dan siap diterapkan pada lingkungan nyata.

Jika seluruh tahapan pengujian dan validasi berjalan sesuai target, TirtaSmart memiliki peluang untuk dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain.

Teknologi ini berpotensi dimanfaatkan oleh pemerintah desa, BUMDes, KPSPAMS, maupun lembaga lain yang memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan layanan air bersih perdesaan.

Penggunaan komponen teknologi yang tersedia di pasar juga menjadi salah satu pertimbangan agar sistem relatif mudah dikembangkan kembali sesuai kebutuhan di lapangan.

Dalam jangka panjang, hasil pengujian TirtaSmart dapat menjadi pijakan untuk membangun kerja sama dengan pemerintah daerah, BUMDes, maupun lembaga pengelola air bersih lainnya.

Bagi Universitas Muhammadiyah Jember, pengembangan TirtaSmart menjadi salah satu contoh bagaimana hasil riset perguruan tinggi dapat didorong keluar dari ruang laboratorium dan dihadirkan untuk menjawab persoalan masyarakat.

Melalui dukungan Program Hilirisasi Riset Prioritas Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026, TirtaSmart diharapkan tidak berhenti sebagai prototipe penelitian. Lebih jauh, teknologi ini ditargetkan menjadi teknologi tepat guna yang membantu desa mengelola layanan air bersih secara lebih cerdas, mandiri, dan berkelanjutan.


Mahasiswa KKN Unmuh Jember Gandeng Dinas Pertanian, Sulap Kotoran Sapi Jadi Pupuk Kompos di Desa Sumber Kemuning

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 03 Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember bersama Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso menggelar sosialisasi pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk kompos. Kegiatan tersebut berlangsung di Dusun Karang Tengah, Desa Sumber Kemuning, Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso.

Kegiatan ini dihadiri Kepala Desa Sumber Kemuning, perangkat desa, serta masyarakat setempat. Sosialisasi digelar sebagai upaya memberikan edukasi kepada warga mengenai pemanfaatan kotoran sapi yang selama ini dianggap sebagai limbah agar dapat diolah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi pertanian.

Selain mengurangi limbah peternakan, pemanfaatan kotoran sapi menjadi kompos dinilai dapat memberikan nilai guna bagi masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso memberikan pemaparan mengenai teknik pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk kompos. Materi juga dilengkapi dengan praktik langsung di lapangan, mulai dari proses pengolahan, pemanfaatan kompos, hingga manfaatnya bagi tanaman dan kesuburan tanah.

Masyarakat turut diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menyampaikan pertanyaan terkait kendala yang dihadapi dalam pengolahan limbah peternakan.

Kepala Desa Sumber Kemuning, Roby, menyambut positif kegiatan yang diinisiasi mahasiswa KKN Unmuh Jember tersebut. Menurutnya, kotoran sapi selama ini masih menjadi persoalan bagi sebagian warga karena belum mengetahui cara pengelolaan dan pemanfaatannya.

“Sosialisasi dari adik-adik KKN ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Selama ini, kotoran sapi menjadi salah satu permasalahan bagi warga karena masih bingung bagaimana cara mengelolanya dan harus dibuang ke mana. Dengan adanya sosialisasi ini, kami berharap warga dapat menerapkan ilmu yang telah diberikan serta memanfaatkan kotoran sapi yang ada di lingkungan sekitar menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat,” ujar Roby.

Sementara itu, perwakilan Dinas Pertanian menjelaskan bahwa kotoran sapi memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk kompos apabila dikelola dengan metode yang tepat.

“Kotoran sapi memiliki potensi untuk dijadikan pupuk kompos. Kalau dikelola dengan baik, limbah ini bisa memberikan manfaat bagi pertanian dan lingkungan, khususnya bagi kesuburan tanah,” jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Dusun Karang Tengah memperoleh pengetahuan dan keterampilan dasar mengenai pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk kompos. Edukasi ini diharapkan dapat mendorong warga untuk mulai mengubah limbah peternakan menjadi sumber pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.

KKN Unmuh Jember berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat. Dengan demikian, pengolahan kotoran sapi dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi limbah peternakan sekaligus mengoptimalkan potensi lokal dalam mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Jumat, 21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan Terus Berulang, Dosen Teknik Lingkungan Unmuh Jember: Jangan Tunggu Api Muncul


Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dinilai tidak lagi dapat dipandang sebagai bencana yang terjadi secara insidental setiap musim kemarau. Fenomena tersebut telah menjadi pola berulang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, tak hanya dari faktor cuaca.

Kaprodi Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Dr. Ir. Latifa Mirzatika Al-Rosyid, S.T., M.T., mengatakan bahwa musim kemarau bukan menjadi satu-satunya penyebab terjadinya kebakaran hutan. Menurutnya, kemarau hanya menciptakan kondisi lingkungan yang lebih rentan terhadap kebakaran, faktor lain seperti persoalan tata kelola lahan, degradasi lingkungan, hingga aktivitas manusia.

“Ketika faktor ini bertemu dengan musim kering, maka risiko kebakaran akan meningkat drastis. Kalau kita hanya fokus memadamkan api setiap kali kebakaran terjadi, kita sebenarnya hanya menangani gejalanya saja,” ujar Dr. Latifah.

Ia menjelaskan, persoalan tata kelola lahan dan degradasi lingkungan menjadi faktor penting yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah pengeringan lahan gambut yang membuat kawasan tersebut kehilangan kemampuan untuk menyimpan air sehingga menjadi jauh lebih mudah terbakar.

Dalam kondisi kemarau panjang, kadar air pada vegetasi dan tanah akan menurun. Akibatnya, material alami yang terdapat di kawasan hutan menjadi lebih mudah terbakar. Kondisi tersebut akan semakin berisiko ketika terdapat sumber api dan angin yang dapat mempercepat penyebaran api.

“Sedikit saja sumber api akan cepat memicu kebakaran, terlebih lagi adanya angin akan membuat api merambat,” jelasnya.

Menurut Dr. Latifah, aktivitas manusia juga memiliki pengaruh besar terhadap terjadinya karhutla. Beberapa di antaranya adalah pembukaan lahan dengan cara membakar, pengeringan lahan gambut, perubahan penggunaan lahan, serta lemahnya upaya pencegahan dan pengawasan.

Karena itu, ia menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan melalui pemadaman ketika api telah muncul. Pendekatan pengelolaan lingkungan perlu diarahkan pada pencegahan dan pengurangan risiko sejak sebelum musim kemarau berlangsung.

“Seharusnya indikator cuaca tidak hanya digunakan untuk mengetahui apakah hari ini panas atau hujan. Indikator tersebut harus dapat menjadi peringatan dini atau early warning system,” katanya.

Jika periode kering telah diprediksi akan berlangsung, menurutnya, langkah pencegahan harus segera diperkuat sebelum muncul titik api. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memetakan wilayah yang memiliki potensi tinggi mengalami kebakaran.

Pemetaan tersebut dapat mencakup lahan yang memiliki riwayat kebakaran, kawasan gambut yang mulai mengering, hingga wilayah dengan aktivitas pembukaan lahan yang tinggi. Hasil pemetaan kemudian dapat menjadi dasar untuk menentukan wilayah prioritas patroli, pemantauan, dan pengawasan.

Selain itu, masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan lahan tanpa menggunakan metode pembakaran. Menurut Dr. Latifah, larangan saja tidak cukup apabila tidak disertai dengan alternatif yang realistis dan dapat diterapkan masyarakat.

“Tidak bisa hanya dengan melarang pembakaran, tetapi harus diberikan solusi yang realistis dan dapat diterapkan,” ungkapnya.

Khusus kawasan lahan gambut, pengelolaan air menjadi salah satu aspek yang sangat krusial. Lahan yang sehat dan mampu menyimpan air memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap kebakaran. Karena itu, pembasahan kembali dan pengelolaan kelembapan lahan perlu menjadi bagian dari strategi pencegahan.

“Kebakaran gambut ini tidak cukup ditangani dengan memadamkan api di permukaannya. Pembasahan dan pengelolaan air menjadi bagian yang krusial,” jelasnya.

Ia menambahkan, kesiapan sebelum musim kemarau juga harus mencakup ketersediaan sumber air, peralatan pemadaman, serta personel yang siap melakukan tindakan cepat, khususnya di wilayah yang memiliki risiko kebakaran tinggi.

Bagi Dr. Latifah, langkah paling realistis untuk memutus siklus karhutla adalah memperkuat pencegahan di wilayah yang secara historis memiliki risiko tinggi. Patroli, pemantauan, dan pengawasan harus dilakukan sebelum api muncul.

“Jangan sampai menunggu api muncul. Kebakaran harus dicegah ketika risikonya meningkat, bukan menangani ketika asap sudah menyebar,” tegasnya.

Ia menyebut terdapat tiga hal utama yang perlu diputus untuk mengurangi kejadian karhutla secara berulang, yakni lahan yang terlalu kering, sumber api, dan keterlambatan respons.

Dengan demikian, penanganan karhutla membutuhkan perubahan paradigma dari yang semula berfokus pada pemadaman menjadi pencegahan dan pengurangan risiko. Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan akan terus berulang apabila penanganan hanya dilakukan setelah api muncul.

Connect