Carousel

Jumat, 04 September 2026

Presiden ke Luar Negeri di Tengah Krisis Bencana, Dosen Unmuh Jember: Prioritasnya Perlu Dipertanyakan


Perdebatan mengenai prioritas Presiden antara agenda internasional dan krisis domestik menjadi perhatian publik. Dalam perspektif ilmu pemerintahan, hal ini berkaitan dengan kemampuan Presiden menentukan prioritas, mendelegasikan kewenangan, dan memastikan pemerintahan tetap berjalan efektif.

Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Binaridha Kusuma Ningtyas, S.IP., M.IP., menilai bahwa kunjungan Presiden ke luar negeri perlu dilihat secara proporsional. Menurutnya, dalam sistem presidensial, Presiden memiliki dua fungsi sekaligus, yakni sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

“Dalam sistem presidensial, Presiden memang memiliki dua fungsi sekaligus, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Karena itu, ketika Presiden hadir dalam forum internasional, apalagi ketika ada undangan khusus sebagai tamu kehormatan utama, tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa kunjungan tersebut tidak penting,” jelas Binaridha.

Meski demikian, menurutnya, publik tetap memiliki ruang untuk mempertanyakan dasar pertimbangan Presiden dalam menentukan agenda yang membutuhkan kehadiran langsung dan agenda yang dapat didelegasikan kepada pejabat lain.

Ia mencontohkan adanya agenda kenegaraan yang sebelumnya pernah didelegasikan Presiden kepada Menteri Luar Negeri dan Ketua MPR. Menurut beliau, perbandingan tersebut bukan untuk menentukan bahwa salah satu keputusan benar atau salah, melainkan untuk melihat bagaimana prioritas kepemimpinan ditentukan ketika terdapat berbagai agenda yang sama-sama penting.

“Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah memang agenda tersebut harus dihadiri langsung atau diwakilkan dan bagaimana Presiden mendelegasikan tugasnya kepada menteri saat beliau di luar negeri ketika ada krisis di dalam negeri,” ujarnya.

Dalam menentukan prioritas antara agenda internasional dan persoalan domestik, Binaridha menjelaskan setidaknya terdapat tiga pertanyaan penting yang perlu menjadi pertimbangan Presiden.

Pertama, seberapa besar dampak persoalan tersebut terhadap keselamatan dan kehidupan masyarakat. Kedua, apa konsekuensinya apabila Presiden tidak memberikan perhatian langsung pada saat itu. Ketiga, apakah agenda tersebut dapat didelegasikan tanpa mengurangi kepentingan nasional maupun kepentingan domestik.

“Kalau sebuah agenda luar negeri memang hanya efektif jika Presiden sendiri yang hadir, tentu kehadiran Presiden dapat dibenarkan. Tetapi kalau agenda tersebut secara substantif masih bisa diwakilkan, sementara di dalam negeri ada krisis yang membutuhkan keputusan dan political attention Presiden, maka menurut saya prioritasnya perlu dipertanyakan,” katanya.

Menurutnya, kekuatan seorang Presiden tidak semata-mata diukur dari seberapa sering dirinya hadir secara langsung dalam setiap persoalan. Kepemimpinan yang kuat justru ditunjukkan melalui kemampuan membangun institusi pemerintahan yang tetap mampu bekerja secara efektif ketika Presiden tidak berada di lokasi.

“Presiden yang kuat bukanlah Presiden yang harus hadir secara fisik atau secara simbolik di semua persoalan. Justru Presiden yang kuat adalah Presiden yang mampu membangun institusi yang tetap bekerja efektif ketika dirinya tidak berada di tempat,” ungkapnya.

Beliau menilai kehadiran Presiden di lokasi bencana tetap memiliki arti penting, terutama dari sisi psikologis dan politik. Masyarakat yang tengah menghadapi bencana membutuhkan kepastian bahwa pemerintah melihat, mendengar, dan hadir bersama mereka.

Namun demikian, kehadiran tersebut menurutnya tidak boleh berhenti pada aspek simbolik. Yang jauh lebih penting adalah memastikan masyarakat benar-benar merasakan kehadiran negara melalui respons yang nyata.

“Kita perlu membedakan antara kehadiran simbolik dan kehadiran substantif. Secara simbolik, kehadiran Presiden penting. Masyarakat yang sedang mengalami bencana ingin melihat bahwa pemerintah melihat, mendengar, dan hadir bersama mereka,” jelasnya.

Ia menambahkan, persoalan yang perlu menjadi perhatian adalah ketika pemerintah daerah maupun lembaga terkait seolah baru bergerak secara maksimal setelah Presiden datang ke lokasi bencana.

“Dalam pemerintahan yang kuat, sistem seharusnya tetap mampu bekerja secara efektif meskipun Presiden tidak hadir secara langsung di lokasi terdampak,” tegas Binaridha.

Dalam menghadapi bencana yang terjadi di sejumlah daerah sekaligus, Presiden menurutnya tidak harus hadir secara fisik di seluruh lokasi terdampak. Presiden justru perlu mengambil alih fungsi-fungsi yang tidak dapat ditangani secara efektif oleh pemerintahan di bawahnya.

Ketika bencana masih dapat ditangani pemerintah daerah dan kementerian terkait, Presiden tidak perlu melakukan micro management. Namun, apabila bencana telah melampaui kapasitas daerah, melibatkan persoalan lintas wilayah, membutuhkan sumber daya besar, atau terjadi kebuntuan koordinasi antarlembaga, maka keterlibatan Presiden menjadi semakin penting.

Dalam kondisi tersebut, terdapat tiga hal yang perlu dipastikan. Pertama, adanya prioritas nasional yang jelas. Kedua, adanya lembaga yang mendapatkan mandat untuk mengambil keputusan dan mengoordinasikan respons di wilayah terdampak. Ketiga, tersedianya sumber daya yang benar-benar digerakkan untuk mempercepat penanganan dan pemulihan.

Selain bantuan material, menurut beliau, masyarakat juga membutuhkan rasa aman dan kepastian bahwa pemerintah mengetahui kondisi yang sedang terjadi serta memiliki kendali dalam menangani situasi.

Apabila agenda internasional dan penanganan bencana sama-sama berada dalam kondisi mendesak, Presiden tidak harus selalu memilih salah satunya secara hitam putih. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan mana yang benar-benar membutuhkan kehadiran personal Presiden dan mana yang masih dapat didelegasikan.

Jika agenda internasional bersifat strategis dan kehadiran Presiden tidak dapat digantikan, agenda tersebut tetap dapat dijalankan dengan catatan struktur koordinasi penanganan persoalan nasional harus dipastikan berjalan kuat.

Sebaliknya, apabila situasi domestik telah mencapai tingkat krisis yang membutuhkan keputusan, legitimasi, atau koordinasi langsung Presiden, sementara agenda internasional masih memungkinkan untuk diwakilkan, maka persoalan domestik perlu menjadi prioritas.

“Jadi dalam pandangan saya, kemampuan Presiden bukan diuji dari apakah dia memilih kunjungan luar negeri atau memilih berada di Indonesia. Kemampuan kepemimpinan justru diuji dari bagaimana Presiden mengelola dua kepentingan, luar negeri dan nasional,” pungkasnya.

Wani Ngimpi, Wani Ngelakoni : Ribuan Mahasiswa Baru Unmuh Jember Antusias Ikuti Opening PKKPIMB 2026

Sebanyak 1.584 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember mengikuti Opening Pengenalan Kehidupan Kampus dan Pembinaan Ideologi Mahasiswa Baru (PKKPIMB) 2026, pada Jumat (4/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik sekaligus memulai perjalanan mereka sebagai bagian dari keluarga besar Unmuh Jember.

Antusiasme peserta telah terlihat sejak pagi. Mereka datang sejak pukul 05.00 WIB untuk mengikuti persiapan dan proses checking sebelum rangkaian kegiatan dimulai. Meski harus hadir lebih awal, semangat mahasiswa baru tetap terlihat sepanjang pelaksanaan opening.

Dalam kegiatan tersebut, seluruh mahasiswa baru disambut oleh jajaran sivitas akademika Unmuh Jember, mulai dari pimpinan fakultas hingga jajaran rektorat. Kehadiran para pimpinan menjadi bentuk penyambutan sekaligus penegasan bahwa mahasiswa baru merupakan bagian penting dalam perjalanan Unmuh Jember ke depan.

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, menyampaikan kebahagiaannya atas kehadiran mahasiswa baru yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti rangkaian Opening PKKPIMB 2026.

“Selamat datang di kampus unggul, kampus yang akan menjadi tempat kalian untuk meraih mimpi. Saya bangga dengan antusias yang kalian tunjukkan,” ujarnya.

Dr. Hanafi juga berpesan agar semangat yang ditunjukkan mahasiswa baru pada hari pertama tersebut tidak berhenti setelah kegiatan PKKPIMB berakhir. Menurutnya, semangat tersebut perlu terus dijaga dan dikobarkan selama mahasiswa menjalani proses perkuliahan.

“Terus jaga semangat untuk nanti saat melaksanakan perkuliahan,” lanjutnya.

Opening PKKPIMB 2026 menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru dalam memulai kehidupan akademik di Unmuh Jember. Tidak sekadar mengenalkan kehidupan kampus, kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses membangun karakter dan menumbuhkan semangat mahasiswa dalam mempersiapkan masa depan.

Semangat tersebut selaras dengan jargon PKKPIMB 2026, “Wani Ngimpi, Wani Ngelakoni.” yang menjadi pesan bagi mahasiswa baru agar tidak pernah takut untuk bermimpi setinggi langit dan tidak ragu untuk memulai langkah nyata dalam mewujudkan impian tersebut.

Dengan semangat yang telah ditunjukkan sejak hari pertama, mahasiswa baru Unmuh Jember diharapkan mampu menjalani perjalanan perkuliahan dengan penuh optimisme, keberanian, dan kesungguhan untuk meraih cita-cita.

Rabu, 02 September 2026

PAUD Yasmin Unmuh Jember Terima Hibah Kemendikdasmen, Pembangunan Fasilitas Mulai Digarap

 


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Yasmin Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menerima dana hibah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Hibah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan.

Program revitalisasi dilaksanakan dalam jangka waktu 120 hari, mulai 1 September hingga 31 Desember 2026, dengan total anggaran sebesar Rp506.873.000. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan ruang kelas, fasilitas sanitasi, serta penataan lingkungan sekolah.

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, menyampaikan bahwa revitalisasi tersebut merupakan buah dari perjuangan bersama dalam mewujudkan sarana pembelajaran yang lebih baik.

“Ini adalah perjuangan kita semua untuk meningkatkan fasilitas yang dari beberapa waktu lalu kita ajukan kepada Kemendikdasmen, dan akhirnya saat ini kita berhasil menerima dana hibah ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah PAUD Yasmin, Chusnul Wardani Apriyanti, S.Pd., menjelaskan bahwa ruang kelas baru yang dibangun nantinya dirancang sebagai ruang serbaguna.

“Rencananya nanti ruang kelasnya juga akan dapat digunakan sebagai aula sehingga bisa dipergunakan dalam acara yang skalanya lebih besar,” jelasnya.

Menurut beliau, peningkatan fasilitas menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas proses pembelajaran. Dengan sarana dan prasarana yang lebih lengkap dan memadai, kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat berlangsung secara lebih optimal.

Selain mendukung proses pembelajaran, penambahan fasilitas tersebut juga dinilai dapat memperkuat daya tarik PAUD Yasmin dalam penerimaan peserta didik baru.

“Dengan adanya tambahan fasilitas ini, tentu akan membantu dalam promosi dan pendaftaran siswa baru,” pungkasnya.

Proses pengerjaan pembangunan sudah mulai dikerjakan sejak 1 September kemarin dan direncanakan untuk segera selesai sebelum tenggat waktu yang telah ditentukan oleh Kemendikdasmen, yaitu 31 Desember 2026.

Pihak kampus diminta untuk selalu memantau proses pembangunan fasilitas tersebut untuk memastikan proyek berjalan sesuai prosedur yang telah ditetakan.

Selasa, 01 September 2026

Doomscrolling Berlebihan, Dosen Psikologi Unmuh Jember Ungkap Dampaknya bagi Kesehatan Mental



Kebiasaan menggulir media sosial secara terus-menerus untuk mendapatkan informasi, termasuk berita negatif, dapat memberikan dampak terhadap kondisi psikologis seseorang. Fenomena yang dikenal sebagai doomscrolling tersebut dinilai berkaitan erat dengan penggunaan gawai dan media sosial yang tidak terkontrol.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Maulana Arif Muhibbin, S.Psi., M.Si., menjelaskan bahwa doomscrolling terjadi ketika seseorang terus mencari dan mengonsumsi informasi tanpa melakukan penyaringan secara sadar. Hal tersebut dapat berkembang menjadi kecanduan apabila penggunaan gawai sudah melampaui batas yang seharusnya hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Doomscrolling itu artinya kita mencari informasi dengan cara membabi buta, tidak difilter. Karena sudah tidak sadar, informasi terasa menarik dan akhirnya kita terbawa sampai menghabiskan waktu, bahkan mengabaikan tugas-tugas yang ada,” jelasnya dalam wawancara pada Selasa (1/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut juga tidak terlepas dari cara kerja media sosial yang dirancang untuk menyesuaikan informasi dengan ketertarikan penggunanya. Algoritma kemudian membuat pengguna terus mendapatkan konten yang dianggap menarik sehingga tanpa kemampuan mengontrol diri, penggunaan media sosial dapat berlangsung semakin lama.

Beliau menilai dampak doomscrolling dan penggunaan gawai berlebihan dapat berbeda pada setiap kelompok usia. Pada anak-anak, penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat memengaruhi perkembangan psikomotorik, kemampuan berbicara, fokus, serta kemampuan mengelola emosi.

Ia menyebut, anak yang terlalu banyak berfokus pada layar dapat kehilangan kesempatan untuk mendapatkan stimulasi dari lingkungan sekitar. Paparan konten berdurasi pendek yang terus berganti juga dapat membuat anak terbiasa menerima stimulasi secara cepat sehingga lebih mudah bosan dan mengalami gangguan fokus.

“Sedikit-sedikit ganti, sedikit-sedikit ganti. Makanya biasanya kalau kita mendampingi anak kecil itu, dia akan tahan dengan apa yang dia lihat. Itu nanti akan berdampak ke gangguan fokus, kemudian gangguan emosi. Sedikit-sedikit gampang marah,” ungkapnya.

Pada kelompok remaja, dampaknya dapat terlihat dari berkurangnya interaksi sosial dan meningkatnya kecenderungan untuk menarik diri. Remaja yang terlalu banyak mengonsumsi informasi negatif juga dapat memandang dunia secara lebih buruk dan penuh ancaman.

Akumulasi informasi negatif tersebut, menurut beliau, dapat membuat remaja menjadi terlalu waspada hingga mengalami overthinking. Kondisi tersebut bahkan dapat membuat seseorang kesulitan membedakan orang yang dapat dipercaya dan orang yang perlu diwaspadai.

Sementara pada usia dewasa, penggunaan gawai secara berlebihan dapat memengaruhi kemampuan membangun relasi sosial, hubungan interpersonal, hingga karier. Kurangnya interaksi langsung dapat membuat seseorang kesulitan membangun hubungan dengan orang lain. Bahkan, ekspektasi terhadap pasangan dapat terbentuk berdasarkan standar yang sering ditampilkan di media sosial.

Selain hubungan sosial, produktivitas juga dapat terdampak. Paparan informasi yang berlebihan membuat otak mengalami overstimulasi dan over-informasi, sehingga seseorang dapat mengalami kelelahan dan kesulitan berkonsentrasi dalam aktivitas belajar maupun pekerjaan.

Kelompok lanjut usia juga tidak luput dari dampak penggunaan media digital. Menurut beliau, keterbatasan kemampuan digital pada sebagian lansia dapat membuat mereka lebih mudah menerima informasi palsu atau hoaks. Informasi yang memicu emosi tersebut kemudian dapat meningkatkan stres dan kecemasan.

Penggunaan gawai hingga menjelang waktu tidur juga dapat mengganggu pola istirahat. Paparan berita negatif dapat membuat seseorang terus berada dalam kondisi waspada, sedangkan konten yang menyenangkan dapat mendorong seseorang terus mencari stimulasi sehingga sulit berhenti menggunakan gawai.

“Tidur ini kan sebagai pengobatan, sebagai jeda untuk rileks semua organ-organ tubuh. Ketika itu terstimulasi, orang itu ketika melihat berita buruk akan selalu siap-siaga,” jelasnya.

Gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus kemudian dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikologis. Seseorang dapat menjadi lebih mudah cemas, kemampuan menerima informasi secara positif menurun, serta kondisi fisik ikut melemah.

Kenali Tanda Ketika Membutuhkan Bantuan Profesional

Beliau menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gawai pada anak. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain perubahan perilaku menjadi antisosial, gangguan fokus, serta keterlambatan perkembangan kemampuan berbicara dan kosakata.

Jika kondisi tersebut sudah mengganggu kesehatan psikologis, bantuan profesional diperlukan. Beberapa tanda yang perlu menjadi perhatian antara lain halusinasi, kemarahan yang tidak terkendali, distorsi kognitif, serta kecemasan berlebihan.

Untuk remaja, perubahan prestasi akademik, cara bergaul, kondisi fisik, serta kebiasaan menggunakan gawai dapat menjadi indikator yang perlu diperhatikan. Menurutnya, penanganan juga membutuhkan sinergi antara orang tua dan sekolah, termasuk melalui pengaturan penggunaan gawai serta perhatian terhadap lingkungan pertemanan.

Sementara pada orang dewasa, tanda yang dapat diperhatikan antara lain meningkatnya kecemasan, perubahan emosional, dan menurunnya produktivitas. Penurunan kemampuan menyelesaikan pekerjaan atau pencapaian target dapat menjadi salah satu tanda bahwa penggunaan media sosial mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, bantuan profesional diperlukan ketika seseorang sudah tidak mampu mengendalikan diri dan kondisi tersebut mulai berdampak kepada orang-orang di sekitarnya. Misalnya, emosi yang dilampiaskan kepada pasangan atau anak.

Karena itu, kemampuan mengontrol penggunaan gawai dan media sosial menjadi hal penting. Penggunaan teknologi seharusnya tetap diimbangi dengan aktivitas fisik, interaksi sosial, waktu bersama keluarga, serta istirahat yang cukup agar tidak berkembang menjadi kebiasaan yang mengganggu kesehatan psikologis.

Enam Mahasiswa Asing Bergabung, Unmuh Jember Perkuat Langkah Menuju Kampus Go International

Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember terus memperkuat langkah menuju kampus berorientasi internasional. Tahun ini, sebanyak enam mahasiswa baru dari luar negeri resmi bergabung dan akan menempuh pendidikan di Unmuh Jember.

Keenam mahasiswa tersebut berasal dari dua negara, yakni tiga mahasiswa asal Bangladesh (Noorsanee Samae, Phidawatee Chedoloh, dan Eilham Marong) dan tiga mahasiswa asal Thailand (Faizanul Hoque, Kazi Md Abdullah, dan Md Tamjid Hossen). Kehadiran mahasiswa asing ini menjadi salah satu bagian dari upaya Unmuh Jember memperluas jejaring dan meningkatkan eksposur pendidikan tinggi di tingkat internasional.

Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) Unmuh Jember, Kristi Nuraini, M.Pd, mengatakan mahasiswa asing memiliki peran penting dalam mendukung cita-cita Unmuh Jember untuk menjadi perguruan tinggi yang semakin dikenal di kancah internasional.

“Indikator utama dari go international salah satunya adalah memiliki mahasiswa asing,” ujarnya.

Menurutnya, mahasiswa asal Thailand dapat bergabung melalui kerja sama Unmuh Jember dengan Dinas Pendidikan Thailand. Sementara itu, tiga mahasiswa asal Bangladesh mengetahui informasi mengenai pendidikan di Jember melalui senior mereka yang sebelumnya telah menempuh pendidikan di wilayah tersebut.

Keberadaan mahasiswa asing diharapkan tidak hanya menjadi capaian internasionalisasi, tetapi juga membuka peluang bagi Unmuh Jember untuk memperluas jangkauan calon mahasiswa dari berbagai belahan dunia.

“Harapannya, cakupan mahasiswa Unmuh Jember tidak hanya dari kawasan Asia, tetapi ke depan bisa semakin meluas hingga Amerika, Eropa, dan benua lainnya,” jelasnya.

Perluas Jejaring melalui Kolaborasi Internasional

Untuk menarik lebih banyak mahasiswa asing, Unmuh Jember terus membangun kerja sama dengan berbagai mitra internasional. Salah satu strategi yang dilakukan adalah melalui pelaksanaan program bersama dengan perguruan tinggi maupun institusi mitra di luar negeri.

Salah satu program yang saat ini dikembangkan adalah Collaboration Online International Learning (COIL). Program tersebut tidak hanya dilaksanakan dengan satu mitra, tetapi melibatkan beberapa mitra internasional.

Menurutnya, kolaborasi semacam ini memberikan manfaat strategis bagi Unmuh Jember, terutama dalam memperluas jaringan internasional.

“Dengan COIL, kita tidak hanya bekerja sama dengan satu mitra, tetapi beberapa mitra. Benefit-nya adalah jaringan kita semakin luas,” tuturnya.

Selain memperluas jejaring, program kolaborasi internasional juga menjadi sarana bagi sivitas akademika untuk berinteraksi dan belajar bersama dengan mitra dari berbagai negara tanpa terbatas oleh jarak.

Unmuh Jember juga memberikan perhatian terhadap proses adaptasi mahasiswa asing. Kristi menjelaskan, komunikasi dengan mahasiswa telah dilakukan secara intensif bahkan sebelum mereka tiba di Jember.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan mahasiswa asing mendapatkan informasi dan pendampingan yang memadai sejak awal, sehingga tidak mengalami kesulitan ketika mulai menjalani kehidupan akademik maupun beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Komunikasi intens dengan mahasiswa dilakukan bahkan sebelum mereka tiba di Unmuh Jember. Ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kita dalam hal layanan kepada mereka,” katanya.

Khusus bagi tiga mahasiswa asal Thailand, Unmuh Jember memberikan dukungan pembiayaan selama menjalani pendidikan. Dukungan tersebut mencakup biaya hidup, makan, hingga tempat tinggal.

Siapkan Pendaftaran Mandiri bagi Mahasiswa Asing

Ke depan, Unmuh Jember secara bertahap juga akan membuka jalur pendaftaran mandiri bagi mahasiswa internasional. Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan akses yang lebih luas bagi calon mahasiswa dari berbagai negara yang ingin melanjutkan pendidikan di Unmuh Jember.

Kehadiran enam mahasiswa asing pada tahun ini menjadi langkah awal dalam memperkuat internasionalisasi kampus. Dengan pengembangan kerja sama, program internasional, serta peningkatan layanan bagi mahasiswa asing, Unmuh Jember menargetkan jangkauan internasional yang semakin luas.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Unmuh Jember untuk tidak hanya menjadi perguruan tinggi yang berdaya saing di tingkat nasional, tetapi juga mampu berkembang dan dikenal di lingkungan pendidikan tinggi global.

Kamis, 27 Agustus 2026

Mahasiswa Unmuh Jember Edukasi Penggunaan Gawai Sehat bagi Anak PMI di Malaysia


Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Muhammad Zackakhal Wafda, memimpin workshop literasi digital tentang penggunaan gawai secara sehat bagi siswa Sanggar Bimbingan Muhammadiyah (SBM) Kampung Bharu, Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (10/8/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program International Community Service (KKN Internasional) hasil kolaborasi lima Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (5 PTMA), yakni UMJ, Unmuh Jember, UM Bandung, UNIMUGO, dan UM Bima, bersama PCIM Malaysia.

Dengan pendekatan komunikatif dan ramah anak, Wafda mengajak siswa memahami pentingnya membatasi penggunaan gawai agar tidak mengganggu waktu tidur, belajar, aktivitas fisik, ibadah, dan interaksi sosial. Para siswa juga diajak berdiskusi menentukan waktu yang sebaiknya bebas dari gawai, seperti saat belajar, makan bersama, menjelang tidur, dan waktu salat.

Selain edukasi, Wafda memperkenalkan fitur pembatas waktu aplikasi pada ponsel serta aplikasi penata rutinitas yang dikembangkannya. Ia menekankan bahwa teknologi dapat menjadi alat bantu, tetapi kebiasaan digital yang sehat tetap membutuhkan kesadaran diri, komunikasi keluarga, dan keteladanan orang dewasa.

Kegiatan mendapat sambutan positif dari para pendidik SBM Kampung Bharu. Seusai workshop, mahasiswa bersama dewan guru berdiskusi mengenai strategi penerapan kebiasaan digital sehat di lingkungan belajar.

Keterlibatan Wafda menjadi bagian dari upaya Unmuh Jember mendorong mahasiswa mengimplementasikan ilmu sekaligus berkontribusi bagi masyarakat Indonesia di luar negeri. KKN Internasional 5 PTMA yang berlangsung pada 8–13 Agustus 2026 di Malaysia dan Singapura juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, membangun kolaborasi, dan mengembangkan empati sosial.

Rabu, 26 Agustus 2026

Karhutla Tak Hanya Ancam Lingkungan, Dosen Unmuh Jember Soroti Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan dari kebakaran dapat membawa berbagai polutan dan menyebar dalam wilayah yang luas, sehingga masyarakat yang berada jauh dari titik kebakaran pun tetap berpotensi terdampak.

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan(Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Dr. Ns. Cipto Susilo, M.Kep., menjelaskan bahwa dampak kesehatan akibat karhutla terutama berasal dari paparan asap. Asap tersebut mengandung berbagai polutan, salah satunya partikulat halus berdiameter 2,5 mikrometer atau PM2,5 yang dapat masuk hingga bagian terdalam paru-paru.

“Karhutla tidak tepat dipandang hanya sebagai persoalan lingkungan. Ketika asap telah mencemari udara yang dihirup masyarakat, kebakaran tersebut telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat,” jelasnya dalam kajiannya mengenai dampak karhutla terhadap kesehatan.

Menurut beliau, tingkat keparahan dampak kesehatan sangat dipengaruhi oleh konsentrasi polutan, lama paparan, frekuensi paparan, hingga aktivitas masyarakat di luar ruangan. Seseorang yang bekerja di luar ruangan selama berjam-jam, misalnya, berpotensi menerima dosis paparan lebih tinggi dibandingkan masyarakat yang lebih banyak berada di dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih baik.

Gangguan Pernapasan hingga Kardiovaskular

Paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata dan tenggorokan hingga gangguan pernapasan. Keluhan yang dapat muncul antara lain mata merah dan berair, hidung tersumbat, batuk, sesak napas, mengi, hingga rasa berat di dada.

Pada masyarakat yang telah memiliki penyakit pernapasan seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), paparan asap dapat memperburuk kondisi yang sudah ada. Dalam kondisi tertentu, paparan asap juga dapat meningkatkan risiko gangguan respirasi yang lebih berat dan kebutuhan rawat inap.

Dampaknya juga tidak berhenti pada sistem pernapasan. Partikulat PM2,5 dapat memicu inflamasi dan stres oksidatif sistemik yang berpotensi memengaruhi sistem kardiovaskular. Sementara itu, paparan komponen asap tertentu seperti karbon monoksida dapat menimbulkan keluhan berupa sakit kepala, pusing, lemah, mual, kelelahan, hingga gangguan konsentrasi.

Karhutla juga berpotensi memberikan dampak psikologis, terutama bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, maupun harta benda atau harus menjalani evakuasi. Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, stres, gangguan tidur, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma.

Anak hingga Pekerja Lapangan Jadi Kelompok Rentan

Cipto menekankan bahwa kerentanan terhadap asap karhutla tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga kondisi kesehatan, tingkat paparan, pekerjaan, kondisi sosial ekonomi, dan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Anak-anak, bayi, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti asma, PPOK, dan penyakit jantung termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Pekerja luar ruangan juga memiliki risiko tinggi karena menghabiskan waktu lebih lama di lingkungan yang tercemar. Petugas pemadam kebakaran dan relawan bahkan menghadapi risiko lebih besar karena dapat berada dekat dengan sumber asap dan api.

“Kelompok rentan tidak boleh hanya ditentukan berdasarkan usia. Seorang pekerja dewasa yang sehat tetapi terpapar asap selama berjam-jam dapat mempunyai dosis pajanan yang lebih tinggi dibandingkan seorang lansia yang berada di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih,” ungkapnya.

Risiko Tidak Berakhir Ketika Asap Menghilang

Menurut beliau, masyarakat juga perlu memahami bahwa risiko kesehatan akibat karhutla tidak selalu berakhir ketika asap sudah tidak terlihat. Risiko jangka pendek umumnya berupa iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak, mengi, peningkatan produksi dahak, serta memburuknya kondisi penderita asma dan PPOK.

Sementara itu, paparan yang berulang atau berkepanjangan dapat berkaitan dengan gangguan fungsi paru, penyakit respirasi, mortalitas, serta gangguan kesehatan mental. Karena itu, hilangnya asap secara visual tidak selalu berarti seluruh dampak kesehatan telah berakhir.

Kurangi Paparan, Jangan Hanya Mengandalkan Masker

Ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla, Cipto menyarankan masyarakat untuk memprioritaskan pengurangan paparan, terutama terhadap PM2,5.

Masyarakat perlu memantau informasi resmi mengenai kualitas udara dan perkembangan kebakaran. Aktivitas luar ruangan, khususnya olahraga dan aktivitas fisik berat, juga perlu dikurangi ketika kualitas udara berada pada kondisi tidak sehat.

Selain itu, kelompok rentan perlu mendapatkan perlindungan lebih. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai dan memiliki kecocokan dengan wajah. Namun, penggunaan masker bukan pengganti upaya mengurangi paparan.

Kualitas udara di dalam rumah juga perlu dijaga dengan mengurangi masuknya asap, menutup pintu dan jendela ketika kualitas udara luar sangat buruk, serta menghindari sumber polusi tambahan seperti merokok dan membakar sampah di dalam ruangan. Penderita penyakit kronis juga perlu memastikan obat rutin tetap tersedia dan digunakan sesuai instruksi tenaga kesehatan.

Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, napas cepat atau kesulitan bernapas, nyeri dada, penurunan kesadaran, kebingungan, bibir atau kulit kebiruan, mengi berat, serangan asma yang tidak membaik, maupun perburukan penyakit kronis.

Beliau menilai penanganan karhutla dari perspektif kesehatan masyarakat perlu dilakukan secara menyeluruh. Penanganan tidak cukup hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga perlu mencakup upaya promotif, preventif, responsif, dan rehabilitatif.

“Dalam perspektif kesehatan masyarakat, penanganan karhutla harus bergerak dari paradigma kuratif menuju pendekatan promotif, preventif, responsif, dan rehabilitatif,” tutupnya.

Connect