Carousel

Rabu, 09 September 2026

Mahasiswa KKN Kolaborasi UNMUH Jember dan UAD Sukses Dampingi Anak TPQ Raih Prestasi di Festival Anak Sholih

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember bersama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta turut berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang berprestasi dan berakhlak Islami melalui kegiatan Festival Anak Sholih yang digelar di Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, Ahad (6/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja kolaboratif mahasiswa KKN UAD dan Unmuh Jember yang melibatkan peserta didik dari berbagai Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) di Desa Sumberasri. Para peserta merupakan perwakilan dari TPQ yang menjadi lokasi pelaksanaan program kerja mahasiswa KKN Kolaborasi.

Festival Anak Sholih menghadirkan sejumlah cabang perlombaan keagamaan, meliputi kaligrafi, Pildacil (Pidato Anak Sholeh), adzan, dan hafalan Juz ‘Amma. Perlombaan tersebut menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan, kreativitas, keberanian tampil di depan umum, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai keislaman.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN Kolaborasi UAD dan Unmuh Jember terlibat aktif sejak tahap persiapan hingga kegiatan berakhir. Mahasiswa berperan sebagai panitia sekaligus juri yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan lomba, proses penilaian, hingga pengumuman pemenang. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Desa Sumberasri, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumberasri, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Sumberasri, serta sejumlah Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari UAD.

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Sumberasri. Menurutnya, Festival Anak Sholih menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan bakat dan potensi yang dimiliki sekaligus melatih kepercayaan diri melalui pengalaman tampil di hadapan banyak orang.

“Kami sangat mengapresiasi adanya kegiatan Festival Anak Sholeh yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Kolaborasi antara UAD Yogyakarta dan Unmuh Jember. Kegiatan ini akan menjadi wadah bagi anak-anak di Desa Sumberasri untuk menunjukkan bakat dan potensi yang selama ini mungkin belum terlihat,” ungkapnya.

Salah satu capaian membanggakan datang dari mahasiswa KKN Kolaborasi Unmuh Jember dan UAD Unit I.D.1 Sumberasri. Melalui pendampingan dan pembinaan yang dilakukan selama pelaksanaan program KKN, mahasiswa berhasil mengantarkan peserta didik dari TPQ Miftahul Jannah Sumberasri meraih prestasi pada seluruh cabang perlombaan yang diikuti.

Adapun prestasi yang berhasil diraih meliputi Juara 1 Kaligrafi, Juara 3 Pildacil, Juara 2 Adzan, dan Juara 1 Hafalan Juz ‘Amma. Capaian tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan pendampingan mahasiswa KKN dalam membina dan mengembangkan potensi anak-anak TPQ di Desa Sumberasri.

Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para peserta didik, tetapi juga bagi mahasiswa KKN, ustadz dan ustadzah TPQ, serta masyarakat Desa Sumberasri. Prestasi yang diraih menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun rasa percaya diri.

Melalui kegiatan Festival Anak Sholih, mahasiswa KKN Kolaborasi Unmuh Jember dan UAD berharap kegiatan pembinaan serupa dapat terus memberikan pengalaman positif bagi anak-anak serta mendorong mereka untuk semakin giat belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang keagamaan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa Unmuh Jember dalam mengimplementasikan ilmu dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung terbentuknya generasi muda yang religius, berprestasi, percaya diri, dan berakhlak mulia.

Senin, 07 September 2026

Mahasiswa Baru Unmuh Jember Diajak Belajar Berdemokrasi Lewat Simulasi Demo

Pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru tak selalu harus berlangsung di dalam ruangan dengan rangkaian materi dan presentasi. Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menghadirkan pendekatan berbeda dalam kegiatan Seminaria Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKPIMB) 2026 yang digelar selama tiga hari, Senin-Rabu (7-9/9/2026).

Setelah mendapatkan pembekalan mengenai Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dan sistem kehidupan akademik di kampus, mahasiswa baru diajak mengenal berbagai isu strategis yang tengah menjadi perhatian publik. Tidak berhenti pada diskusi, mereka kemudian diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi melalui simulasi demonstrasi.

Dengan mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol solidaritas, mahasiswa baru dibagi dalam kelompok untuk menyuarakan pandangan mereka. Mereka membawa berbagai atribut aksi yang dipersiapkan secara mandiri, mulai dari poster-poster bernada kritis hingga spanduk panjang bertuliskan "ALIANSI MAHASISWA UNMUH JEMBER" yang dibentangkan di tengah lapangan.

Suasana semakin menarik ketika mereka melakukan simulasi demonstrasi tersebut di bawah terik matahari, dipimpin oleh orator berjas almamater merah tua dengan menggunakan megafon. Mereka berorasi dan menyampaikan tuntutan secara langsung di hadapan pihak “pemerintah” yang diperankan oleh panitia melalui roleplay.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam rangkaian PKKPIMB Unmuh Jember. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai bagaimana menyampaikan pendapat, tetapi juga memahami bahwa demonstrasi merupakan salah satu bentuk penyampaian aspirasi yang harus dilakukan secara tertib, kritis, dan bertanggung jawab.


Ketua Panitia PKKPIMB Unmuh Jember, Putra Kurniawan, S.Hub.Int., M.A., mengatakan bahwa konsep simulasi demonstrasi tersebut lahir dari evaluasi terhadap pelaksanaan PKKPIMB pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, kegiatan pengenalan mahasiswa baru selama ini cenderung didominasi aktivitas di dalam ruangan dan penyampaian materi melalui presentasi. Karena itu, panitia mencoba menghadirkan metode yang lebih partisipatif dan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa baru.

“Simulasi demo ini berangkat dari kejenuhan kegiatan PKKPIMB tahun-tahun sebelumnya yang terlalu banyak kegiatan indoor dan presentasi. Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada mahasiswa baru,” jelas Putra.

Melalui simulasi tersebut, mahasiswa baru diperkenalkan pada proses menyampaikan aspirasi dengan cara yang benar. Mereka belajar berkelompok di dalam ruangan untuk menyusun tuntutan dan melukis media aksi secara kreatif, sebelum akhirnya turun ke ruang publik untuk berorasi, sekaligus memahami batas-batas agar aksi tidak berkembang menjadi tindakan anarkis.

“Tujuannya juga untuk memberi tahu mahasiswa baru bagaimana melakukan demo yang baik dan benar, tidak anarkis, serta tetap menyampaikan aspirasi secara kritis dan bertanggung jawab,” lanjutnya.

Lebih jauh, Putra menyebut simulasi tersebut menjadi bagian dari upaya panitia membangun karakter mahasiswa baru sebagai agent of change. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memahami kehidupan akademik di kampus, tetapi juga didorong agar memiliki kepekaan terhadap persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kami ingin build mahasiswa baru sebagai agent of change yang peka terhadap isu dan mampu menentukan sikap terhadap isu tersebut. Salah satu bentuknya adalah bagaimana mereka bisa menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi dengan cara yang baik,” ungkap Putra.

Dalam prosesnya, mahasiswa diberikan isu-isu strategis yang sedang menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. Mereka kemudian berdiskusi, menentukan sikap, merumuskan tuntutan, serta menerjemahkannya dalam bentuk tulisan-tulisan tajam di atas karton kuning dan kain putih.

Pendekatan tersebut membuat mahasiswa baru tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi turut menjadi aktor yang mengolah informasi dan mengambil posisi terhadap persoalan yang sedang dibahas.

Salah satu isu yang menjadi materi dalam simulasi adalah persoalan penanganan bencana. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan terkait keselamatan masyarakat, respons pemerintah, distribusi bantuan, keterbukaan informasi, kesiapsiagaan, hingga mekanisme pemulihan masyarakat terdampak. Dari isu ini, mereka menuntut pemerintah untuk membuka data anggaran penanganan bencana serta menghentikan pencitraan.

Selain itu, isu ketidakadilan sosial dan hak asasi manusia juga disuarakan dengan lantang. Terlihat dari atribut aksi yang mereka buat, mahasiswa mengangkat isu konflik agraria dengan tulisan tegas, "HENTIKAN PERAMPASAN TANAH ADAT, PAPUA BUKAN TANAH KOSONG".

Kritik terhadap kinerja pemerintah secara umum juga mewarnai jalannya aksi simulasi. Beberapa poster yang dibentangkan oleh mahasiswa memuat tuntutan-tuntutan seperti "Mundur Atau Mendengar! Suara Rakyat Bukan Pajangan", "Tegakkan Keadilan", dan "Rakyat Butuh Solusi Bukan Sekedar Janji!!!".

Simulasi demonstrasi tersebut menjadi ruang belajar mengenai praktik demokrasi bagi mahasiswa baru. Mereka tidak hanya belajar bagaimana menyampaikan kritik, tetapi juga memahami pentingnya argumentasi, koordinasi, dan tanggung jawab dalam menyuarakan kepentingan publik. Kritik terhadap pemerintah, sebagaimana ditegaskan dalam dokumen sikap mereka, merupakan bagian dari tanggung jawab publik untuk memastikan negara menjalankan kewajibannya.

Namun, seluruh proses demonstrasi tetap dikemas dalam konteks edukasi. Secara teknis, kegiatan dikawal oleh panitia PKKPIMB yang merupakan gabungan mahasiswa dan BEM Universitas Muhammadiyah Jember. Panitia berperan mengarahkan jalannya simulasi, mendampingi mahasiswa yang duduk melingkar saat aksi, sekaligus memastikan aspirasi tersampaikan dengan tertib.

Bagi mahasiswa baru, pengalaman tersebut menjadi cara baru memahami bahwa kehidupan kampus tidak hanya berbicara tentang ruang kelas, organisasi, dan kegiatan akademik. Kampus juga menjadi ruang untuk belajar membaca persoalan masyarakat, berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan mengambil peran sebagai bagian dari perubahan sosial.

Melalui konsep PKKPIMB yang lebih interaktif tersebut, Unmuh Jember berupaya menanamkan sejak awal bahwa mahasiswa bukan sekadar peserta didik, melainkan bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab intelektual dan sosial.

Jumat, 04 September 2026

Presiden ke Luar Negeri di Tengah Krisis Bencana, Dosen Unmuh Jember: Prioritasnya Perlu Dipertanyakan


Perdebatan mengenai prioritas Presiden antara agenda internasional dan krisis domestik menjadi perhatian publik. Dalam perspektif ilmu pemerintahan, hal ini berkaitan dengan kemampuan Presiden menentukan prioritas, mendelegasikan kewenangan, dan memastikan pemerintahan tetap berjalan efektif.

Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Binaridha Kusuma Ningtyas, S.IP., M.IP., menilai bahwa kunjungan Presiden ke luar negeri perlu dilihat secara proporsional. Menurutnya, dalam sistem presidensial, Presiden memiliki dua fungsi sekaligus, yakni sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

“Dalam sistem presidensial, Presiden memang memiliki dua fungsi sekaligus, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Karena itu, ketika Presiden hadir dalam forum internasional, apalagi ketika ada undangan khusus sebagai tamu kehormatan utama, tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa kunjungan tersebut tidak penting,” jelas Binaridha.

Meski demikian, menurutnya, publik tetap memiliki ruang untuk mempertanyakan dasar pertimbangan Presiden dalam menentukan agenda yang membutuhkan kehadiran langsung dan agenda yang dapat didelegasikan kepada pejabat lain.

Ia mencontohkan adanya agenda kenegaraan yang sebelumnya pernah didelegasikan Presiden kepada Menteri Luar Negeri dan Ketua MPR. Menurut beliau, perbandingan tersebut bukan untuk menentukan bahwa salah satu keputusan benar atau salah, melainkan untuk melihat bagaimana prioritas kepemimpinan ditentukan ketika terdapat berbagai agenda yang sama-sama penting.

“Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah memang agenda tersebut harus dihadiri langsung atau diwakilkan dan bagaimana Presiden mendelegasikan tugasnya kepada menteri saat beliau di luar negeri ketika ada krisis di dalam negeri,” ujarnya.

Dalam menentukan prioritas antara agenda internasional dan persoalan domestik, Binaridha menjelaskan setidaknya terdapat tiga pertanyaan penting yang perlu menjadi pertimbangan Presiden.

Pertama, seberapa besar dampak persoalan tersebut terhadap keselamatan dan kehidupan masyarakat. Kedua, apa konsekuensinya apabila Presiden tidak memberikan perhatian langsung pada saat itu. Ketiga, apakah agenda tersebut dapat didelegasikan tanpa mengurangi kepentingan nasional maupun kepentingan domestik.

“Kalau sebuah agenda luar negeri memang hanya efektif jika Presiden sendiri yang hadir, tentu kehadiran Presiden dapat dibenarkan. Tetapi kalau agenda tersebut secara substantif masih bisa diwakilkan, sementara di dalam negeri ada krisis yang membutuhkan keputusan dan political attention Presiden, maka menurut saya prioritasnya perlu dipertanyakan,” katanya.

Menurutnya, kekuatan seorang Presiden tidak semata-mata diukur dari seberapa sering dirinya hadir secara langsung dalam setiap persoalan. Kepemimpinan yang kuat justru ditunjukkan melalui kemampuan membangun institusi pemerintahan yang tetap mampu bekerja secara efektif ketika Presiden tidak berada di lokasi.

“Presiden yang kuat bukanlah Presiden yang harus hadir secara fisik atau secara simbolik di semua persoalan. Justru Presiden yang kuat adalah Presiden yang mampu membangun institusi yang tetap bekerja efektif ketika dirinya tidak berada di tempat,” ungkapnya.

Beliau menilai kehadiran Presiden di lokasi bencana tetap memiliki arti penting, terutama dari sisi psikologis dan politik. Masyarakat yang tengah menghadapi bencana membutuhkan kepastian bahwa pemerintah melihat, mendengar, dan hadir bersama mereka.

Namun demikian, kehadiran tersebut menurutnya tidak boleh berhenti pada aspek simbolik. Yang jauh lebih penting adalah memastikan masyarakat benar-benar merasakan kehadiran negara melalui respons yang nyata.

“Kita perlu membedakan antara kehadiran simbolik dan kehadiran substantif. Secara simbolik, kehadiran Presiden penting. Masyarakat yang sedang mengalami bencana ingin melihat bahwa pemerintah melihat, mendengar, dan hadir bersama mereka,” jelasnya.

Ia menambahkan, persoalan yang perlu menjadi perhatian adalah ketika pemerintah daerah maupun lembaga terkait seolah baru bergerak secara maksimal setelah Presiden datang ke lokasi bencana.

“Dalam pemerintahan yang kuat, sistem seharusnya tetap mampu bekerja secara efektif meskipun Presiden tidak hadir secara langsung di lokasi terdampak,” tegas Binaridha.

Dalam menghadapi bencana yang terjadi di sejumlah daerah sekaligus, Presiden menurutnya tidak harus hadir secara fisik di seluruh lokasi terdampak. Presiden justru perlu mengambil alih fungsi-fungsi yang tidak dapat ditangani secara efektif oleh pemerintahan di bawahnya.

Ketika bencana masih dapat ditangani pemerintah daerah dan kementerian terkait, Presiden tidak perlu melakukan micro management. Namun, apabila bencana telah melampaui kapasitas daerah, melibatkan persoalan lintas wilayah, membutuhkan sumber daya besar, atau terjadi kebuntuan koordinasi antarlembaga, maka keterlibatan Presiden menjadi semakin penting.

Dalam kondisi tersebut, terdapat tiga hal yang perlu dipastikan. Pertama, adanya prioritas nasional yang jelas. Kedua, adanya lembaga yang mendapatkan mandat untuk mengambil keputusan dan mengoordinasikan respons di wilayah terdampak. Ketiga, tersedianya sumber daya yang benar-benar digerakkan untuk mempercepat penanganan dan pemulihan.

Selain bantuan material, menurut beliau, masyarakat juga membutuhkan rasa aman dan kepastian bahwa pemerintah mengetahui kondisi yang sedang terjadi serta memiliki kendali dalam menangani situasi.

Apabila agenda internasional dan penanganan bencana sama-sama berada dalam kondisi mendesak, Presiden tidak harus selalu memilih salah satunya secara hitam putih. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan mana yang benar-benar membutuhkan kehadiran personal Presiden dan mana yang masih dapat didelegasikan.

Jika agenda internasional bersifat strategis dan kehadiran Presiden tidak dapat digantikan, agenda tersebut tetap dapat dijalankan dengan catatan struktur koordinasi penanganan persoalan nasional harus dipastikan berjalan kuat.

Sebaliknya, apabila situasi domestik telah mencapai tingkat krisis yang membutuhkan keputusan, legitimasi, atau koordinasi langsung Presiden, sementara agenda internasional masih memungkinkan untuk diwakilkan, maka persoalan domestik perlu menjadi prioritas.

“Jadi dalam pandangan saya, kemampuan Presiden bukan diuji dari apakah dia memilih kunjungan luar negeri atau memilih berada di Indonesia. Kemampuan kepemimpinan justru diuji dari bagaimana Presiden mengelola dua kepentingan, luar negeri dan nasional,” pungkasnya.

Wani Ngimpi, Wani Ngelakoni : Ribuan Mahasiswa Baru Unmuh Jember Antusias Ikuti Opening PKKPIMB 2026

Sebanyak 1.584 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember mengikuti Opening Pengenalan Kehidupan Kampus dan Pembinaan Ideologi Mahasiswa Baru (PKKPIMB) 2026, pada Jumat (4/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik sekaligus memulai perjalanan mereka sebagai bagian dari keluarga besar Unmuh Jember.

Antusiasme peserta telah terlihat sejak pagi. Mereka datang sejak pukul 05.00 WIB untuk mengikuti persiapan dan proses checking sebelum rangkaian kegiatan dimulai. Meski harus hadir lebih awal, semangat mahasiswa baru tetap terlihat sepanjang pelaksanaan opening.

Dalam kegiatan tersebut, seluruh mahasiswa baru disambut oleh jajaran sivitas akademika Unmuh Jember, mulai dari pimpinan fakultas hingga jajaran rektorat. Kehadiran para pimpinan menjadi bentuk penyambutan sekaligus penegasan bahwa mahasiswa baru merupakan bagian penting dalam perjalanan Unmuh Jember ke depan.

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, menyampaikan kebahagiaannya atas kehadiran mahasiswa baru yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti rangkaian Opening PKKPIMB 2026.

“Selamat datang di kampus unggul, kampus yang akan menjadi tempat kalian untuk meraih mimpi. Saya bangga dengan antusias yang kalian tunjukkan,” ujarnya.

Dr. Hanafi juga berpesan agar semangat yang ditunjukkan mahasiswa baru pada hari pertama tersebut tidak berhenti setelah kegiatan PKKPIMB berakhir. Menurutnya, semangat tersebut perlu terus dijaga dan dikobarkan selama mahasiswa menjalani proses perkuliahan.

“Terus jaga semangat untuk nanti saat melaksanakan perkuliahan,” lanjutnya.

Opening PKKPIMB 2026 menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru dalam memulai kehidupan akademik di Unmuh Jember. Tidak sekadar mengenalkan kehidupan kampus, kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses membangun karakter dan menumbuhkan semangat mahasiswa dalam mempersiapkan masa depan.

Semangat tersebut selaras dengan jargon PKKPIMB 2026, “Wani Ngimpi, Wani Ngelakoni.” yang menjadi pesan bagi mahasiswa baru agar tidak pernah takut untuk bermimpi setinggi langit dan tidak ragu untuk memulai langkah nyata dalam mewujudkan impian tersebut.

Dengan semangat yang telah ditunjukkan sejak hari pertama, mahasiswa baru Unmuh Jember diharapkan mampu menjalani perjalanan perkuliahan dengan penuh optimisme, keberanian, dan kesungguhan untuk meraih cita-cita.

Rabu, 02 September 2026

PAUD Yasmin Unmuh Jember Terima Hibah Kemendikdasmen, Pembangunan Fasilitas Mulai Digarap

 


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Yasmin Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menerima dana hibah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Hibah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan.

Program revitalisasi dilaksanakan dalam jangka waktu 120 hari, mulai 1 September hingga 31 Desember 2026, dengan total anggaran sebesar Rp506.873.000. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan ruang kelas, fasilitas sanitasi, serta penataan lingkungan sekolah.

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, menyampaikan bahwa revitalisasi tersebut merupakan buah dari perjuangan bersama dalam mewujudkan sarana pembelajaran yang lebih baik.

“Ini adalah perjuangan kita semua untuk meningkatkan fasilitas yang dari beberapa waktu lalu kita ajukan kepada Kemendikdasmen, dan akhirnya saat ini kita berhasil menerima dana hibah ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah PAUD Yasmin, Chusnul Wardani Apriyanti, S.Pd., menjelaskan bahwa ruang kelas baru yang dibangun nantinya dirancang sebagai ruang serbaguna.

“Rencananya nanti ruang kelasnya juga akan dapat digunakan sebagai aula sehingga bisa dipergunakan dalam acara yang skalanya lebih besar,” jelasnya.

Menurut beliau, peningkatan fasilitas menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas proses pembelajaran. Dengan sarana dan prasarana yang lebih lengkap dan memadai, kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat berlangsung secara lebih optimal.

Selain mendukung proses pembelajaran, penambahan fasilitas tersebut juga dinilai dapat memperkuat daya tarik PAUD Yasmin dalam penerimaan peserta didik baru.

“Dengan adanya tambahan fasilitas ini, tentu akan membantu dalam promosi dan pendaftaran siswa baru,” pungkasnya.

Proses pengerjaan pembangunan sudah mulai dikerjakan sejak 1 September kemarin dan direncanakan untuk segera selesai sebelum tenggat waktu yang telah ditentukan oleh Kemendikdasmen, yaitu 31 Desember 2026.

Pihak kampus diminta untuk selalu memantau proses pembangunan fasilitas tersebut untuk memastikan proyek berjalan sesuai prosedur yang telah ditetakan.

Selasa, 01 September 2026

Doomscrolling Berlebihan, Dosen Psikologi Unmuh Jember Ungkap Dampaknya bagi Kesehatan Mental



Kebiasaan menggulir media sosial secara terus-menerus untuk mendapatkan informasi, termasuk berita negatif, dapat memberikan dampak terhadap kondisi psikologis seseorang. Fenomena yang dikenal sebagai doomscrolling tersebut dinilai berkaitan erat dengan penggunaan gawai dan media sosial yang tidak terkontrol.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Maulana Arif Muhibbin, S.Psi., M.Si., menjelaskan bahwa doomscrolling terjadi ketika seseorang terus mencari dan mengonsumsi informasi tanpa melakukan penyaringan secara sadar. Hal tersebut dapat berkembang menjadi kecanduan apabila penggunaan gawai sudah melampaui batas yang seharusnya hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Doomscrolling itu artinya kita mencari informasi dengan cara membabi buta, tidak difilter. Karena sudah tidak sadar, informasi terasa menarik dan akhirnya kita terbawa sampai menghabiskan waktu, bahkan mengabaikan tugas-tugas yang ada,” jelasnya dalam wawancara pada Selasa (1/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut juga tidak terlepas dari cara kerja media sosial yang dirancang untuk menyesuaikan informasi dengan ketertarikan penggunanya. Algoritma kemudian membuat pengguna terus mendapatkan konten yang dianggap menarik sehingga tanpa kemampuan mengontrol diri, penggunaan media sosial dapat berlangsung semakin lama.

Beliau menilai dampak doomscrolling dan penggunaan gawai berlebihan dapat berbeda pada setiap kelompok usia. Pada anak-anak, penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat memengaruhi perkembangan psikomotorik, kemampuan berbicara, fokus, serta kemampuan mengelola emosi.

Ia menyebut, anak yang terlalu banyak berfokus pada layar dapat kehilangan kesempatan untuk mendapatkan stimulasi dari lingkungan sekitar. Paparan konten berdurasi pendek yang terus berganti juga dapat membuat anak terbiasa menerima stimulasi secara cepat sehingga lebih mudah bosan dan mengalami gangguan fokus.

“Sedikit-sedikit ganti, sedikit-sedikit ganti. Makanya biasanya kalau kita mendampingi anak kecil itu, dia akan tahan dengan apa yang dia lihat. Itu nanti akan berdampak ke gangguan fokus, kemudian gangguan emosi. Sedikit-sedikit gampang marah,” ungkapnya.

Pada kelompok remaja, dampaknya dapat terlihat dari berkurangnya interaksi sosial dan meningkatnya kecenderungan untuk menarik diri. Remaja yang terlalu banyak mengonsumsi informasi negatif juga dapat memandang dunia secara lebih buruk dan penuh ancaman.

Akumulasi informasi negatif tersebut, menurut beliau, dapat membuat remaja menjadi terlalu waspada hingga mengalami overthinking. Kondisi tersebut bahkan dapat membuat seseorang kesulitan membedakan orang yang dapat dipercaya dan orang yang perlu diwaspadai.

Sementara pada usia dewasa, penggunaan gawai secara berlebihan dapat memengaruhi kemampuan membangun relasi sosial, hubungan interpersonal, hingga karier. Kurangnya interaksi langsung dapat membuat seseorang kesulitan membangun hubungan dengan orang lain. Bahkan, ekspektasi terhadap pasangan dapat terbentuk berdasarkan standar yang sering ditampilkan di media sosial.

Selain hubungan sosial, produktivitas juga dapat terdampak. Paparan informasi yang berlebihan membuat otak mengalami overstimulasi dan over-informasi, sehingga seseorang dapat mengalami kelelahan dan kesulitan berkonsentrasi dalam aktivitas belajar maupun pekerjaan.

Kelompok lanjut usia juga tidak luput dari dampak penggunaan media digital. Menurut beliau, keterbatasan kemampuan digital pada sebagian lansia dapat membuat mereka lebih mudah menerima informasi palsu atau hoaks. Informasi yang memicu emosi tersebut kemudian dapat meningkatkan stres dan kecemasan.

Penggunaan gawai hingga menjelang waktu tidur juga dapat mengganggu pola istirahat. Paparan berita negatif dapat membuat seseorang terus berada dalam kondisi waspada, sedangkan konten yang menyenangkan dapat mendorong seseorang terus mencari stimulasi sehingga sulit berhenti menggunakan gawai.

“Tidur ini kan sebagai pengobatan, sebagai jeda untuk rileks semua organ-organ tubuh. Ketika itu terstimulasi, orang itu ketika melihat berita buruk akan selalu siap-siaga,” jelasnya.

Gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus kemudian dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikologis. Seseorang dapat menjadi lebih mudah cemas, kemampuan menerima informasi secara positif menurun, serta kondisi fisik ikut melemah.

Kenali Tanda Ketika Membutuhkan Bantuan Profesional

Beliau menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gawai pada anak. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain perubahan perilaku menjadi antisosial, gangguan fokus, serta keterlambatan perkembangan kemampuan berbicara dan kosakata.

Jika kondisi tersebut sudah mengganggu kesehatan psikologis, bantuan profesional diperlukan. Beberapa tanda yang perlu menjadi perhatian antara lain halusinasi, kemarahan yang tidak terkendali, distorsi kognitif, serta kecemasan berlebihan.

Untuk remaja, perubahan prestasi akademik, cara bergaul, kondisi fisik, serta kebiasaan menggunakan gawai dapat menjadi indikator yang perlu diperhatikan. Menurutnya, penanganan juga membutuhkan sinergi antara orang tua dan sekolah, termasuk melalui pengaturan penggunaan gawai serta perhatian terhadap lingkungan pertemanan.

Sementara pada orang dewasa, tanda yang dapat diperhatikan antara lain meningkatnya kecemasan, perubahan emosional, dan menurunnya produktivitas. Penurunan kemampuan menyelesaikan pekerjaan atau pencapaian target dapat menjadi salah satu tanda bahwa penggunaan media sosial mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, bantuan profesional diperlukan ketika seseorang sudah tidak mampu mengendalikan diri dan kondisi tersebut mulai berdampak kepada orang-orang di sekitarnya. Misalnya, emosi yang dilampiaskan kepada pasangan atau anak.

Karena itu, kemampuan mengontrol penggunaan gawai dan media sosial menjadi hal penting. Penggunaan teknologi seharusnya tetap diimbangi dengan aktivitas fisik, interaksi sosial, waktu bersama keluarga, serta istirahat yang cukup agar tidak berkembang menjadi kebiasaan yang mengganggu kesehatan psikologis.

Enam Mahasiswa Asing Bergabung, Unmuh Jember Perkuat Langkah Menuju Kampus Go International

Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember terus memperkuat langkah menuju kampus berorientasi internasional. Tahun ini, sebanyak enam mahasiswa baru dari luar negeri resmi bergabung dan akan menempuh pendidikan di Unmuh Jember.

Keenam mahasiswa tersebut berasal dari dua negara, yakni tiga mahasiswa asal Bangladesh (Noorsanee Samae, Phidawatee Chedoloh, dan Eilham Marong) dan tiga mahasiswa asal Thailand (Faizanul Hoque, Kazi Md Abdullah, dan Md Tamjid Hossen). Kehadiran mahasiswa asing ini menjadi salah satu bagian dari upaya Unmuh Jember memperluas jejaring dan meningkatkan eksposur pendidikan tinggi di tingkat internasional.

Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) Unmuh Jember, Kristi Nuraini, M.Pd, mengatakan mahasiswa asing memiliki peran penting dalam mendukung cita-cita Unmuh Jember untuk menjadi perguruan tinggi yang semakin dikenal di kancah internasional.

“Indikator utama dari go international salah satunya adalah memiliki mahasiswa asing,” ujarnya.

Menurutnya, mahasiswa asal Thailand dapat bergabung melalui kerja sama Unmuh Jember dengan Dinas Pendidikan Thailand. Sementara itu, tiga mahasiswa asal Bangladesh mengetahui informasi mengenai pendidikan di Jember melalui senior mereka yang sebelumnya telah menempuh pendidikan di wilayah tersebut.

Keberadaan mahasiswa asing diharapkan tidak hanya menjadi capaian internasionalisasi, tetapi juga membuka peluang bagi Unmuh Jember untuk memperluas jangkauan calon mahasiswa dari berbagai belahan dunia.

“Harapannya, cakupan mahasiswa Unmuh Jember tidak hanya dari kawasan Asia, tetapi ke depan bisa semakin meluas hingga Amerika, Eropa, dan benua lainnya,” jelasnya.

Perluas Jejaring melalui Kolaborasi Internasional

Untuk menarik lebih banyak mahasiswa asing, Unmuh Jember terus membangun kerja sama dengan berbagai mitra internasional. Salah satu strategi yang dilakukan adalah melalui pelaksanaan program bersama dengan perguruan tinggi maupun institusi mitra di luar negeri.

Salah satu program yang saat ini dikembangkan adalah Collaboration Online International Learning (COIL). Program tersebut tidak hanya dilaksanakan dengan satu mitra, tetapi melibatkan beberapa mitra internasional.

Menurutnya, kolaborasi semacam ini memberikan manfaat strategis bagi Unmuh Jember, terutama dalam memperluas jaringan internasional.

“Dengan COIL, kita tidak hanya bekerja sama dengan satu mitra, tetapi beberapa mitra. Benefit-nya adalah jaringan kita semakin luas,” tuturnya.

Selain memperluas jejaring, program kolaborasi internasional juga menjadi sarana bagi sivitas akademika untuk berinteraksi dan belajar bersama dengan mitra dari berbagai negara tanpa terbatas oleh jarak.

Unmuh Jember juga memberikan perhatian terhadap proses adaptasi mahasiswa asing. Kristi menjelaskan, komunikasi dengan mahasiswa telah dilakukan secara intensif bahkan sebelum mereka tiba di Jember.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan mahasiswa asing mendapatkan informasi dan pendampingan yang memadai sejak awal, sehingga tidak mengalami kesulitan ketika mulai menjalani kehidupan akademik maupun beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Komunikasi intens dengan mahasiswa dilakukan bahkan sebelum mereka tiba di Unmuh Jember. Ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kita dalam hal layanan kepada mereka,” katanya.

Khusus bagi tiga mahasiswa asal Thailand, Unmuh Jember memberikan dukungan pembiayaan selama menjalani pendidikan. Dukungan tersebut mencakup biaya hidup, makan, hingga tempat tinggal.

Siapkan Pendaftaran Mandiri bagi Mahasiswa Asing

Ke depan, Unmuh Jember secara bertahap juga akan membuka jalur pendaftaran mandiri bagi mahasiswa internasional. Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan akses yang lebih luas bagi calon mahasiswa dari berbagai negara yang ingin melanjutkan pendidikan di Unmuh Jember.

Kehadiran enam mahasiswa asing pada tahun ini menjadi langkah awal dalam memperkuat internasionalisasi kampus. Dengan pengembangan kerja sama, program internasional, serta peningkatan layanan bagi mahasiswa asing, Unmuh Jember menargetkan jangkauan internasional yang semakin luas.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Unmuh Jember untuk tidak hanya menjadi perguruan tinggi yang berdaya saing di tingkat nasional, tetapi juga mampu berkembang dan dikenal di lingkungan pendidikan tinggi global.

Connect