Carousel

Selasa, 15 September 2026

Sambut Mahasiswa Baru, Ilmu Komunikasi Unmuh Jember Bekali Maba dengan Skill Digital dan Riset Lewat PKKPIMB Commpowerment

Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus dan Pembinaan Ideologi Mahasiswa Baru Program Studi (PKKPIMB Prodi) Ilmu Komunikasi tersebut resmi dimulai pada Senin (14/9/2026) di UPT Laboratorium Terpadu Komputer Unmuh Jember. Pada hari pertama, mahasiswa baru tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan akademik, tetapi langsung diajak mengasah keterampilan teknis yang akan menjadi bekal selama menempuh studi perkuliahan di Ilmu Komunikasi.

Beragam materi diberikan melalui format mini workshop, mulai dari Microsoft Office, Google Workspace, dasar-dasar penelitian, hingga dasar desain dalam ilmu komunikasi.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Unmuh Jember, Kukuh Pribadi, S.I.Kom., M.A., menjelaskan bahwa pelaksanaan PKKPIMB Prodi secara khusus ini merupakan program perdana yang lahir dari hasil evaluasi kurikulum serta masukan dari para mitra.

Menurutnya, terdapat kebutuhan untuk memperkuat skill dasar mahasiswa sebelum mereka memasuki proses perkuliahan secara penuh maupun menghadapi dunia magang.

“Kami ingin memastikan seluruh mahasiswa baru memiliki kesiapan teknis dan skill dasar yang memadai sebelum memasuki bangku perkuliahan secara penuh. Keterampilan dasar ini akan menjadi modal utama mereka selama menempuh studi di Ilmu Komunikasi dan ketika mereka magang nanti,” ujar Kukuh.

Konsep Commpowerment dirancang agar mahasiswa memperoleh pengalaman belajar melalui praktik secara langsung.

Mahasiswa baru dibagi ke dalam dua kelas di Laboratorium Komputer 3.5 dan Laboratorium Komputer 3.6. Pembagian tersebut memungkinkan mahasiswa memperoleh materi yang berbeda pada hari pertama.

Di Laboratorium Komputer 3.5, mahasiswa mendapatkan pelatihan Microsoft Office dan Google Workspace yang dipandu oleh Deni Arifianto, M.Kom. Materi diarahkan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan menggunakan perangkat lunak produktivitas yang akan banyak digunakan dalam aktivitas akademik, mulai dari pengolahan dokumen hingga kolaborasi tugas.

Sementara itu, mahasiswa yang berada di Laboratorium Komputer 3.6 mendapatkan materi Dasar Penelitian yang dipandu Ari Susanti, S.Sos., S.Med.Kom., serta materi Dasar Desain bersama Dwimay Fawzy, S.I.Kom., M.Hsc.


Materi dasar penelitian diberikan untuk mulai membangun pola pikir kritis dan analitis mahasiswa. Adapun dasar desain menjadi fondasi keterampilan visual yang dinilai relevan dengan kebutuhan mahasiswa Ilmu Komunikasi di tengah perkembangan industri kreatif dan media digital.

Suasana pelatihan pun berlangsung interaktif. Mahasiswa baru tidak hanya menerima penjelasan dari pemateri, tetapi juga mengikuti praktik dan mencoba secara langsung berbagai keterampilan yang diperkenalkan.

PKKPIMB Prodi Commpowerment tidak berhenti pada pelaksanaan hari pertama. Pada Kamis (17/9/2026), mahasiswa akan kembali mengikuti materi yang sama dengan mekanisme perpindahan kelas.

Mahasiswa yang pada hari pertama mengikuti materi Microsoft Office dan Google Workspace akan berpindah ke kelas Dasar Penelitian dan Dasar Desain. Begitu pula sebaliknya.

Dengan sistem tersebut, seluruh mahasiswa baru nantinya diharapkan memperoleh empat keterampilan dasar yang diberikan selama rangkaian PKKPIMB Prodi.

Hari pertama kegiatan kemudian ditutup dengan penugasan singkat sebagai bentuk praktik dan evaluasi awal terhadap materi yang telah diberikan.

Bagi Program Studi Ilmu Komunikasi Unmuh Jember, kehadiran Commpowerment menjadi langkah awal untuk membangun mahasiswa baru yang mampu memahami teori komunikasi, dan juga memiliki keterampilan teknis yang dapat langsung diterapkan dalam aktivitas akademik maupun profesional.

Melalui konsep tersebut, Commpowerment diharapkan menjadi pijakan awal bagi mahasiswa baru untuk tumbuh sebagai insan komunikasi yang adaptif, kreatif, kritis, sekaligus siap menghadapi dinamika dunia akademik dan industri komunikasi yang terus berkembang.

 

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unmuh Jember, Satria Bagaskoro Raih Juara 1 Nasional Feature SEMISTIK 2026

Cerita tentang keterbatasan, inovasi, dan kegigihan seorang warga Jember berhasil mengantarkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember meraih prestasi di tingkat nasional. Satria Bagaskoro, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, berhasil meraih Juara 1 Nasional Kategori Feature dalam SEMISTIK 2026 yang diselenggarakan oleh UKMPK Tegalboto Universitas Jember.

Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena kompetisi berlangsung di lingkungan kampus yang secara geografis berdekatan dengan Universitas Muhammadiyah Jember. Alih-alih menjadi beban, situasi tersebut justru menjadi motivasi bagi Satria untuk membawa nama kampusnya bersaing dengan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

“Saya tentu merasa sangat bersyukur dan bangga bisa meraih Juara 1 Nasional Kategori Feature di SEMISTIK 2026. Apalagi kompetisi ini diselenggarakan di lingkungan Universitas Jember yang secara geografis cukup dekat dengan kampus saya,” ungkap Satria.

Menurutnya, kemenangan tersebut bukan sekadar persoalan mendapatkan gelar juara. Lebih dari itu, prestasi tersebut menjadi pembuktian bahwa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi memiliki kesempatan yang sama untuk menghasilkan karya jurnalistik yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Dalam kompetisi tersebut, Satria mengangkat feature berjudul “Asap yang Tak Pernah Padam”. Karya tersebut bercerita tentang Andrieyono atau yang akrab disapa Pak Andrie, warga Dusun Kantong, Desa Kemiri, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, yang mengembangkan usaha asap cair organik melalui alat produksi yang dirakitnya sendiri.

Bagi Satria, daya tarik cerita tersebut bukan hanya terletak pada produk asap cair yang dihasilkan. Ada perjalanan hidup dan perjuangan panjang yang membuat kisah tersebut layak untuk diangkat.

Sejak kecil, Pak Andrie mengalami polio dan baru dapat berjalan pada usia tujuh tahun. Ia juga sempat menjalani berbagai pekerjaan serabutan, mulai dari menjadi tukang tambal ban, mengamen, hingga memelitur kusen. Pendidikan formalnya pun hanya ditempuh hingga tingkat sekolah menengah pertama.

Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Pada 2009, Pak Andrie mulai tertarik pada teknologi asap cair setelah membaca sebuah artikel mengenai penelitian Universitas Gadjah Mada.

Ketika mengetahui harga alat produksi komersial yang menurut informasi yang diperolehnya mencapai sekitar Rp30 juta, ia memilih mencari jalan lain. Dengan memanfaatkan bahan sederhana seperti drum bekas dan pipa PVC, ia mencoba merakit alat produksi sendiri.

“Saya merasa cerita ini penting dibawa ke tingkat nasional karena di dalamnya terdapat isu yang lebih luas daripada sekadar kewirausahaan. Ada persoalan mengenai keterbatasan, inovasi, kemandirian, pemberdayaan masyarakat, dan bagaimana seseorang dapat menciptakan peluang dari kondisi yang sangat sederhana,” jelas Satria.

Karya tersebut tidak lahir hanya dari penelusuran informasi di internet. Satria bersama teman-temannya dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Jember datang langsung ke rumah produksi CV Prima Rosandries pada 9 April 2026.

Di lokasi tersebut, ia mengamati proses produksi sekaligus berbincang langsung dengan Pak Andrie. Dari pertemuan itu, Satria menemukan cerita manusia yang kemudian menjadi fondasi utama feature-nya.

Ia menggali perjalanan hidup Pak Andrie, mulai dari pengalaman menghadapi polio, pekerjaan serabutan, proses menemukan pengetahuan mengenai asap cair, eksperimen merakit alat produksi, hingga alasan mempertahankan usahanya di lingkungan desa.

“Awalnya saya tidak ingin hanya menulis tentang asap cair sebagai sebuah produk. Kalau hanya membahas produk, menurut saya ceritanya akan cenderung menjadi tulisan informatif biasa. Karena itu, saya mencoba mencari sisi manusia di balik inovasi tersebut,” ujarnya.

Dari proses tersebut, ia kemudian menentukan angle cerita: bagaimana seseorang dengan keterbatasan mampu menciptakan inovasi dan peluang bagi dirinya sekaligus memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.

Keikutsertaan Satria dalam SEMISTIK 2026 sejak awal bukan semata-mata untuk mengejar gelar juara. Ia ingin menguji kemampuan jurnalistiknya, khususnya dalam penulisan feature, sekaligus membawa karya tersebut ke ruang kompetisi yang lebih luas.

Menurutnya, kategori feature memberikan ruang untuk mengangkat cerita manusia secara lebih mendalam.

“Target utamanya adalah mengikuti dan menghasilkan karya terbaik, sedangkan juara adalah hasil yang ingin dicapai tetapi tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran. Justru fokus pada proses membuat saya lebih leluasa dalam mengembangkan karya,” katanya.

Pengalaman bertemu dengan peserta dari berbagai daerah juga menjadi pembelajaran tersendiri. Ia melihat setiap peserta memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengolah sebuah isu, baik dari sisi data, visual, human interest, maupun karakter cerita.

Kemenangan tersebut justru membuatnya semakin menyadari bahwa dunia jurnalistik masih memiliki banyak hal untuk dipelajari.

Setelah meraih Juara 1 Nasional, Satria tidak ingin berhenti berkarya. Ia berencana terus melakukan liputan langsung dan mengangkat cerita-cerita yang selama ini mungkin belum mendapatkan perhatian luas.

Ia ingin mengeksplorasi berbagai isu, terutama persoalan sosial, masyarakat, kebijakan publik, lingkungan, serta kisah inspiratif yang memiliki dampak nyata di sekitar masyarakat.

Bagi Satria, kompetisi bukanlah satu-satunya tujuan. Kemampuan melakukan riset, wawancara, observasi, menulis, dan menyajikan cerita harus terus diasah.

Ia pun mengajak mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember untuk tidak takut mencoba mengikuti kompetisi.

“Jangan menunggu merasa sudah hebat atau sudah menjadi penulis yang sempurna baru kemudian mengikuti kompetisi. Kemampuan justru berkembang ketika kita berani mencoba, menerima kritik, dan terus memperbaiki karya,” pesannya.

Satria juga menekankan pentingnya turun langsung ke lapangan. Menurutnya, cerita yang kuat tidak selalu berasal dari isu besar. Cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pun dapat memiliki nilai jurnalistik tinggi ketika digali secara mendalam.

“Jangan terlalu terobsesi dengan mencari isu yang terlihat besar. Terkadang cerita yang sangat dekat dengan kita justru memiliki nilai yang kuat apabila digali secara mendalam,” tuturnya.

Keberhasilan Satria menjadi Juara 1 Nasional SEMISTIK 2026 sekaligus menunjukkan bahwa karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember mampu menembus kompetisi jurnalistik nasional. Lebih dari sekadar prestasi, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa cerita-cerita dari lingkungan sekitar dapat memiliki makna yang luas ketika disampaikan melalui riset, observasi, dan keberanian untuk turun langsung ke lapangan.

 

Senin, 14 September 2026

Dari Losida hingga Biopori, KKN Unmuh Jember dan UAD Dorong Desa Sambimulyo Kelola Sampah


Sebanyak sembilan unit Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember bersama mahasiwa KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD)
berkolaborasi memperkenalkan berbagai inovasi pengelolaan sampah kepada masyarakat Desa Sambimulyo, Banyuwangi pada Jumat (28/8/2026).

Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa KKN untuk memperkenalkan berbagai program dan solusi praktis dalam menangani permasalahan sampah di lingkungan Desa Sambimulyo. Kegiatan dihadiri oleh perwakilan dari sembilan unit KKN, Ibu-Ibu PKK, Kepala Desa Sambimulyo, tokoh masyarakat, serta Camat yang turut hadir untuk menyimak pemaparan program kerja mahasiswa.

Dalam kegiatan tersebut, masing-masing unit KKN mempresentasikan program kerja sesuai dengan fokus yang telah disusun. Secara keseluruhan, terdapat lima program pengelolaan sampah yang diperkenalkan, yaitu Losida (Lodong Sisa Dapur), Ember Tumpuk Sampah Organik, Biopori, Tong Pembakaran Sampah Minim Asap, serta pembuatan tempat sampah anorganik dari galon bekas.

Salah satu program tersebut diperkenalkan oleh Unit I.C.1 yang diketuai oleh Abdul Muhyi Nasution, dengan fokus pada pengolahan sampah organik rumah tangga melalui Losida dan Ember Tumpuk.

Losida memanfaatkan pipa yang ditanam di tanah sebagai sarana pengolahan limbah dapur langsung dari sumbernya. Metode ini dapat menjadi alternatif pengelolaan sampah organik rumah tangga tanpa membutuhkan lahan yang luas.

Sementara itu, Ember Tumpuk diperkenalkan sebagai metode pengolahan sampah dapur menjadi pupuk organik cair (POC) dan kompos. Dalam prosesnya, sampah organik diberikan EM4 sebagai bahan tambahan untuk membantu mempercepat proses penguraian atau fermentasi. Dengan bantuan EM4, sampah organik dapat lebih cepat terurai dan menghasilkan cairan yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair. Metode ini diharapkan dapat membantu masyarakat mengolah sampah dapur secara lebih praktis, efisien, dan higienis.

Abdul mengatakan bahwa program tersebut tidak hanya ditujukan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat, tetapi juga mendorong adanya solusi sederhana yang dapat diterapkan secara langsung di tingkat rumah tangga.

 “Kami berharap program yang kami kenalkan tidak berhenti pada sosialisasi saja. Losida dan Ember Tumpuk ini kami pilih karena relatif sederhana dan dapat diterapkan dari lingkungan rumah masing-masing. Harapannya, masyarakat bisa mulai mengelola sampah dari sumbernya dan program ini dapat terus dilanjutkan setelah KKN selesai,” ujar Abdul.

Selain Losida dan Ember Tumpuk, mahasiswa KKN dari unit lainnya turut memperkenalkan Biopori, Tong Pembakaran Sampah Minim Asap, dan tempat sampah anorganik berbahan galon bekas. Berbagai program tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat dalam mengurangi serta mengelola sampah sesuai dengan kondisi lingkungan desa.

Camat Bangorejo, Khoirul Anam, S.H., M.H., memberikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa KKN yang mengangkat persoalan pengelolaan sampah di tingkat desa.

 “Kami mengapresiasi mahasiswa KKN yang telah membawa gagasan dan program terkait pengelolaan sampah. Persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, sehingga diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, PKK, dan mahasiswa. Kami berharap program yang disampaikan dapat memberikan manfaat dan bisa diterapkan secara berkelanjutan di masyarakat,” ujar Khairul Anam.

Setelah pemaparan program, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama peserta Pokja dan tamu undangan. Pemerintah desa, pihak kecamatan, Ibu-Ibu PKK, serta tokoh masyarakat menyambut positif berbagai gagasan yang disampaikan oleh mahasiswa KKN.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap pengetahuan dan keterampilan mengenai pengelolaan sampah dapat diteruskan oleh pengurus Pokja, kader PKK, dan tokoh masyarakat kepada warga di lingkungan masing-masing. Kolaborasi sembilan unit KKN bersama pemerintah desa, PKK, tokoh masyarakat, dan pihak kecamatan diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong terciptanya Desa Sambimulyo yang lebih bersih, sehat, dan mandiri dalam mengelola sampah.

Kegiatan sosialisasi kemudian ditutup dengan sesi foto bersama mahasiswa KKN dan Ibu-Ibu PKK. Momen tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus komitmen awal untuk mendukung keberlanjutan program pengelolaan sampah di Desa Sambimulyo.

Jumat, 11 September 2026

Siap Buka Fakultas Kedokteran, Unmuh Jember Gandeng RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso

Langkah besar diambil oleh Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember dalam mewujudkan berdirinya Fakultas Kedokteran. Pada Jumat (11/9/2026), Unmuh Jember resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau Perjanjian Kerja Sama dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Koesnadi Bondowoso.  

Penandatanganan kesepakatan tentang pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi Program Pendidikan dan Profesi Kedokteran ini dilangsungkan di Aula Puspa Indah RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani langsung oleh Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, M.Pd., bersama dengan Direktur RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso, dr. Yus Priyatna Adryanto, Sp.P., FISR..  

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terwujudnya kolaborasi yang telah dipersiapkan secara matang ini. Ia menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan tonggak krusial dalam persiapan pembukaan Fakultas Kedokteran Unmuh Jember. Pihaknya berupaya bergerak cepat demi mengantisipasi adanya wacana moratorium pembukaan program studi kedokteran di akhir tahun.

"Kerja sama ini sangat kami butuhkan untuk saling bahu-membahu mewujudkan Fakultas Kedokteran yang unggul." ungkap Dr. Hanafi.

Menyambut komitmen tersebut, Direktur RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso, dr. Yus Priyatna Adryanto, Sp.P., FISR., menegaskan kesiapan institusinya untuk beralih status menjadi Rumah Sakit Pendidikan Utama bagi FK Unmuh Jember.


"Kami sudah memiliki fasilitas kelengkapan untuk semua stase pendidikan, termasuk forensik yang sudah ada di kami sendiri. Semoga proses penyusunan kurikulum lancar. Ke depannya, kami juga berharap kita sama-sama bergerak meningkatkan akreditasi, baik untuk fakultas maupun rumah sakit," ujar dr. Yus. 

Terkait detail ruang lingkup pembelajaran klinik yang disepakati, pihak rumah sakit akan memfasilitasi berbagai kebutuhan praktik peserta didik Unmuh Jember yang mencakup:  

  • Praktik Kedokteran dan Praktik Keperawatan, termasuk profesi Ners, keperawatan gawat darurat, kritis, hingga maternitas.  
  • Praktik Analisis Kesehatan di area Instalasi Laboratorium.  
  • Praktik Asuhan Kefarmasian pada Instalasi Farmasi dan Asuhan Gizi di Instalasi Gizi.  
  • Praktik Kesehatan Lingkungan, Perekaman Medis, serta Praktik Informasi dan Teknologi.  

Untuk menjamin mutu dan efektivitas pembelajaran klinik, Unmuh Jember dan RSUD dr. H. Koesnadi juga menyepakati pembatasan rasio pembimbingan. Dalam satu periode praktik, satu orang tenaga pembimbing klinis ditetapkan untuk membimbing maksimal lima orang peserta didik.

Sebagai institusi pendidikan yang mengedepankan etika dan kenyamanan belajar, Unmuh Jember mengapresiasi adanya komitmen "Anti Perundungan" yang dicantumkan secara khusus dalam perjanjian ini. Kesepakatan ini mewajibkan terciptanya lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan fisik maupun mental, lengkap dengan prosedur pelaporan yang aman, sanksi bagi pelaku, serta mekanisme dukungan bagi korban perundungan. Selain itu, jaminan perlindungan hukum juga diberikan kepada peserta didik selama masa pendidikan.  

Melalui sinergi berkelanjutan ini, Unmuh Jember optimistis dapat merealisasikan Fakultas Kedokteran yang unggul dan mencetak tenaga medis profesional untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat.

Kamis, 10 September 2026

Mahasiswa PBSI Unmuh Jember Raih Juara 1 Essay Writing 3rd ASEAN FUSION 2026


Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Faizatul Khoiriyah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, berhasil meraih Juara 1 Essay Writing dalam kompetisi 3rd ASEAN FUSION 2026 yang diselenggarakan oleh Ifugao State University (IFSU), Filipina.

Mengusung tema “Navigating Our Future, Together”, ASEAN FUSION 2026 menjadi ajang bagi mahasiswa se-ASEAN untuk menyampaikan gagasan kritis mengenai berbagai isu strategis, mulai dari diplomasi kawasan, keberlanjutan lingkungan, hingga integrasi teknologi. Selain Essay Writing, kompetisi ini juga menghadirkan cabang seni digital, pidato, dan tari budaya yang selaras dengan capaian Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.

Faizatul mengaku awalnya mengikuti kompetisi tersebut tanpa memasang target untuk menjadi juara. Dorongan dari Kaprodi menjadi langkah awal baginya untuk berani mencoba sekaligus menguji kemampuan dan keluar dari zona nyaman.

“Yang penting berani mencoba dan ambil pengalaman dulu,” ungkap Faizatul. Ia bahkan baru mengetahui dirinya meraih Juara 1 setelah mendapat kabar langsung dari Kaprodi.

Dalam kompetisi tersebut, Faizatul mengangkat isu tata kelola lingkungan dan krisis iklim di kawasan ASEAN melalui esai berjudul “Epistemological Pluralism and Epistemic Resilience: Reimagining ASEAN’s Sustainable Future Through Indigenous Knowledge Systems and Regional Governance”.

Melalui esainya, ia menekankan bahwa penyelesaian krisis lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi modern. Kearifan lokal masyarakat adat juga perlu dipandang sebagai sumber pengetahuan yang dapat melengkapi riset akademis dan teknologi dalam merumuskan kebijakan lingkungan.

Faizatul juga menawarkan gagasan AIKERP (ASEAN Indigenous Knowledge and Ecological Resilience Platform) sebagai platform regional yang menjembatani akademisi, generasi muda, dan masyarakat adat. Gagasan tersebut mendorong integrasi teknologi modern dengan pengetahuan lokal, seperti sistem Muyong di Filipina, Subak di Bali, dan Sasi di Maluku.

Menurutnya, keberlanjutan ASEAN tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga keterlibatan berbagai sistem pengetahuan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.

Proses penyusunan esai dilakukan Faizatul secara mandiri, mulai dari riset literatur, merumuskan gagasan AIKERP, hingga menulis dalam bahasa Inggris. Tantangan tersebut semakin besar karena proses pengerjaan berlangsung bersamaan dengan kegiatan KKN MAs di Malang.

Di tengah padatnya aktivitas KKN, Faizatul memanfaatkan waktu luang untuk melakukan riset dan menyusun draf esai. Meski tidak mendapatkan bimbingan intensif, dukungan Kaprodi sejak awal menjadi motivasi baginya untuk mengikuti kompetisi tersebut.

Bagi Faizatul, pencapaian tersebut bukan sekadar memperoleh E-Certificate of Recognition tingkat internasional. Pengalaman mengatur waktu, merumuskan gagasan pada tingkat regional, serta menaklukkan keraguan terhadap kemampuan diri menjadi pelajaran penting yang ia dapatkan dari kompetisi tersebut.

Faizatul pun mengajak mahasiswa Unmuh Jember untuk tidak ragu mengambil kesempatan yang ada.

“Jangan pernah minder atau ragu dengan potensi diri sendiri. Sering kali musuh terbesar kita bukanlah persaingan yang ketat, melainkan rasa ragu sebelum mencoba.”

Menurutnya, kesibukan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Pengalaman menyelesaikan esai di tengah KKN MAs membuktikan bahwa dengan niat, kemampuan mengatur waktu, doa orang tua, dan arahan dosen, mahasiswa tetap dapat menghasilkan karya terbaik.

Mahasiswa Psikologi Unmuh Jember Raih Juara 3 Essay Internasional ASEAN FUSION 2026


Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember. Lydia Febiyanti, mahasiswa Program Studi Psikologi Unmuh Jember, berhasil meraih Juara 3 Essay Writing dalam rangkaian kegiatan internasional 3rd ASEAN FUSION 2026 yang diselenggarakan oleh Ifugao State University (IFSU), Filipina.

ASEAN FUSION merupakan salah satu rangkaian kegiatan pertukaran budaya yang dikemas dalam bentuk kompetisi dengan berbagai cabang lomba, salah satunya Essay Writing. Selain mengikuti kompetisi tersebut, Lydia juga berpartisipasi dalam program ASEAN Language and Culture Exchange (LACE).

Melalui program tersebut, peserta dari berbagai negara ASEAN melakukan pertukaran budaya melalui presentasi dan interaksi antarpeserta. Kegiatan ini juga ditutup dengan Expo Showcase sebagai wadah untuk memperkenalkan potensi budaya dari masing-masing negara ASEAN.

Lydia mengaku ketertarikannya terhadap budaya menjadi alasan utama dirinya mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Baginya, kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah untuk menyalurkan minat terhadap budaya melalui kompetisi, tetapi juga membuka kesempatan membangun relasi sosial dalam lingkup internasional.

“Hal yang membuat saya tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut adalah karena saya memiliki ketertarikan yang cukup tinggi jika berbicara terkait budaya. Program ini dapat menjadi wadah untuk menyalurkan ketertarikan saya, baik dalam bentuk kompetisi maupun membangun relasi sosial, terlebih lagi dalam lingkup internasional,” ujarnya.

Dalam kompetisi Essay Writing, Lydia mengangkat gagasan mengenai peran budaya dalam memengaruhi masa depan ASEAN, khususnya dalam membangun relasi dan kolaborasi untuk menjaga serta memperkuat keutuhan kawasan.

Ia menjadikan salah satu ritual adat Banyuwangi, Seblang Olehsari, sebagai pondasi dalam penyusunan esainya. Menurut Lydia, kolaborasi di era saat ini tidak seharusnya hanya terpaku pada perkembangan teknologi.

Adat, tradisi, dan budaya yang telah hidup sejak dahulu, menurutnya, juga memiliki potensi besar dalam membangun kolaborasi antarnegara ASEAN.

“This is why resilience should mean more than economic strength, technological advancement, or institutional capacity. A resilient ASEAN also needs communities with a strong sense of identity, young people who understand their roots, and cultures capable of adapting without disappearing,” tulis Lydia dalam esainya.

Melalui gagasan tersebut, ia menekankan bahwa ketahanan ASEAN tidak hanya berkaitan dengan kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi, maupun kapasitas kelembagaan, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang memiliki identitas kuat, generasi muda yang memahami akar budayanya, serta budaya yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Bagi Lydia, karya tulis tersebut juga menjadi salah satu bentuk kebanggaannya sebagai bagian dari masyarakat Banyuwangi.

Lydia menyampaikan bahwa tidak ada bimbingan khusus dalam proses penyusunan esainya. Pengalaman mengikuti berbagai kompetisi essay dan karya tulis ilmiah sejak SMA menjadi bekal yang dimanfaatkannya dalam menyusun karya tersebut.

Meski demikian, ia mengapresiasi dukungan dari Kantor Urusan Internasional (KUI) Unmuh Jember yang telah mengenalkannya pada rangkaian kegiatan ASEAN FUSION dan LACE.

Bagi Lydia, pencapaian sebagai juara bukanlah satu-satunya hal berharga yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Ia juga mendapatkan pengalaman serta kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada peserta dari berbagai negara.

“Hal yang saya dapatkan selain juara dalam kompetisi ini adalah pengalaman yang berharga dan kesempatan yang luar biasa untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada mancanegara,” ungkapnya.

Lydia pun berpesan kepada mahasiswa Unmuh Jember agar tidak takut memulai dan mencoba berbagai kesempatan.

“Don’t be afraid to start something. Awal mula dari seorang juara adalah mereka yang berani mencoba.” pesannya.

BEM Unmuh Jember Bersama BEM PTMA Kawal Aspirasi BEM PTMAI Zona V ke DPRD Jawa Timur


Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (BEM PTMAI) Zona V Jawa Timur–Bali menyampaikan aspirasi dan kritik kepada DPRD Provinsi Jawa Timur, Senin (7/9/2026).

Aksi yang berlangsung di Gedung DPRD Provinsi Jawa Timur tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa mendorong pemerintah dan DPRD agar lebih responsif terhadap berbagai persoalan masyarakat. BEM PTMAI Zona V membawa sejumlah isu utama, meliputi demokrasi dan ruang sipil, keadilan ekonomi dan agraria, transparansi pembangunan dan anggaran, serta pelayanan publik dan penanganan bencana.

Dalam manifesto perjuangannya, BEM PTMAI Zona V menyampaikan 16 tuntutan. Di antaranya adalah jaminan kebebasan menyampaikan pendapat, kebijakan ekonomi dan agraria yang berkeadilan, transparansi pengelolaan APBD, penguatan pengawasan pembangunan, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta penguatan sistem penanganan bencana di Jawa Timur.

Keterlibatan BEM Unmuh Jember dalam aksi tersebut menjadi bagian dari komitmen mahasiswa untuk mengawal aspirasi masyarakat dan mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih adil, transparan, dan berpihak pada kepentingan rakyat.

BEM PTMAI Zona V menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa tidak berhenti pada penyampaian aspirasi, tetapi akan dilanjutkan dengan mengawal tindak lanjut pemerintah dan DPRD Jawa Timur terhadap tuntutan yang telah disampaikan.

Semangat tersebut ditegaskan dalam manifesto: mahasiswa hadir sebagai bagian dari masyarakat yang turut menjaga ruang hidup dan memperjuangkan keadilan sosial.

Connect