Carousel

Jumat, 21 Agustus 2026

Karhutla Kalimantan Terus Berulang, Dosen Teknik Lingkungan Unmuh Jember: Jangan Tunggu Api Muncul


Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dinilai tidak lagi dapat dipandang sebagai bencana yang terjadi secara insidental setiap musim kemarau. Fenomena tersebut telah menjadi pola berulang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, tak hanya dari faktor cuaca.

Kaprodi Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Dr. Ir. Latifa Mirzatika Al-Rosyid, S.T., M.T., mengatakan bahwa musim kemarau bukan menjadi satu-satunya penyebab terjadinya kebakaran hutan. Menurutnya, kemarau hanya menciptakan kondisi lingkungan yang lebih rentan terhadap kebakaran, faktor lain seperti persoalan tata kelola lahan, degradasi lingkungan, hingga aktivitas manusia.

“Ketika faktor ini bertemu dengan musim kering, maka risiko kebakaran akan meningkat drastis. Kalau kita hanya fokus memadamkan api setiap kali kebakaran terjadi, kita sebenarnya hanya menangani gejalanya saja,” ujar Dr. Latifah.

Ia menjelaskan, persoalan tata kelola lahan dan degradasi lingkungan menjadi faktor penting yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah pengeringan lahan gambut yang membuat kawasan tersebut kehilangan kemampuan untuk menyimpan air sehingga menjadi jauh lebih mudah terbakar.

Dalam kondisi kemarau panjang, kadar air pada vegetasi dan tanah akan menurun. Akibatnya, material alami yang terdapat di kawasan hutan menjadi lebih mudah terbakar. Kondisi tersebut akan semakin berisiko ketika terdapat sumber api dan angin yang dapat mempercepat penyebaran api.

“Sedikit saja sumber api akan cepat memicu kebakaran, terlebih lagi adanya angin akan membuat api merambat,” jelasnya.

Menurut Dr. Latifah, aktivitas manusia juga memiliki pengaruh besar terhadap terjadinya karhutla. Beberapa di antaranya adalah pembukaan lahan dengan cara membakar, pengeringan lahan gambut, perubahan penggunaan lahan, serta lemahnya upaya pencegahan dan pengawasan.

Karena itu, ia menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan melalui pemadaman ketika api telah muncul. Pendekatan pengelolaan lingkungan perlu diarahkan pada pencegahan dan pengurangan risiko sejak sebelum musim kemarau berlangsung.

“Seharusnya indikator cuaca tidak hanya digunakan untuk mengetahui apakah hari ini panas atau hujan. Indikator tersebut harus dapat menjadi peringatan dini atau early warning system,” katanya.

Jika periode kering telah diprediksi akan berlangsung, menurutnya, langkah pencegahan harus segera diperkuat sebelum muncul titik api. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memetakan wilayah yang memiliki potensi tinggi mengalami kebakaran.

Pemetaan tersebut dapat mencakup lahan yang memiliki riwayat kebakaran, kawasan gambut yang mulai mengering, hingga wilayah dengan aktivitas pembukaan lahan yang tinggi. Hasil pemetaan kemudian dapat menjadi dasar untuk menentukan wilayah prioritas patroli, pemantauan, dan pengawasan.

Selain itu, masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan lahan tanpa menggunakan metode pembakaran. Menurut Dr. Latifah, larangan saja tidak cukup apabila tidak disertai dengan alternatif yang realistis dan dapat diterapkan masyarakat.

“Tidak bisa hanya dengan melarang pembakaran, tetapi harus diberikan solusi yang realistis dan dapat diterapkan,” ungkapnya.

Khusus kawasan lahan gambut, pengelolaan air menjadi salah satu aspek yang sangat krusial. Lahan yang sehat dan mampu menyimpan air memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap kebakaran. Karena itu, pembasahan kembali dan pengelolaan kelembapan lahan perlu menjadi bagian dari strategi pencegahan.

“Kebakaran gambut ini tidak cukup ditangani dengan memadamkan api di permukaannya. Pembasahan dan pengelolaan air menjadi bagian yang krusial,” jelasnya.

Ia menambahkan, kesiapan sebelum musim kemarau juga harus mencakup ketersediaan sumber air, peralatan pemadaman, serta personel yang siap melakukan tindakan cepat, khususnya di wilayah yang memiliki risiko kebakaran tinggi.

Bagi Dr. Latifah, langkah paling realistis untuk memutus siklus karhutla adalah memperkuat pencegahan di wilayah yang secara historis memiliki risiko tinggi. Patroli, pemantauan, dan pengawasan harus dilakukan sebelum api muncul.

“Jangan sampai menunggu api muncul. Kebakaran harus dicegah ketika risikonya meningkat, bukan menangani ketika asap sudah menyebar,” tegasnya.

Ia menyebut terdapat tiga hal utama yang perlu diputus untuk mengurangi kejadian karhutla secara berulang, yakni lahan yang terlalu kering, sumber api, dan keterlambatan respons.

Dengan demikian, penanganan karhutla membutuhkan perubahan paradigma dari yang semula berfokus pada pemadaman menjadi pencegahan dan pengurangan risiko. Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan akan terus berulang apabila penanganan hanya dilakukan setelah api muncul.

Selasa, 18 Agustus 2026

Unmuh Jember Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Teguhkan Semangat Berdaulat, Adil, dan Makmur

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Senin (17/8/2026). Upacara berlangsung khidmat di Lapangan Basket Universitas Muhammadiyah Jember dan diikuti oleh sivitas akademika Unmuh Jember.

Dalam peringatan tahun ini, semangat kemerdekaan di lingkungan kampus ditekankan melalui tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Tema tersebut tidak hanya dimaknai sebagai slogan peringatan kemerdekaan, tetapi sebagai cita-cita yang perlu diwujudkan melalui kerja nyata seluruh elemen bangsa, termasuk sivitas akademika perguruan tinggi.

Prof. Dr. Dwi Cahyono, S.E., M.Si., Akt. bertindak sebagai instruktur upacara. Dalam amanat yang disampaikan, ia menekankan bahwa kemerdekaan di era saat ini perlu dimaknai melalui kontribusi nyata dalam membangun bangsa, khususnya melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, prestasi, inovasi, dan integritas.

Menurutnya, makna berdaulat dalam lingkungan akademik dapat diwujudkan melalui kemandirian berpikir, keberanian berinovasi, serta keteguhan dalam menjaga nilai-nilai keilmuan, keislaman, dan kebangsaan. Kampus diharapkan tidak hanya menjadi tempat mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu melahirkan gagasan dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kedaulatan dibutuhkan melalui kemandirian berpikir, keberanian berinovasi, serta keteguhan menjaga nilai-nilai keilmuan, keislaman, dan kebangsaan.”

Sementara itu, nilai adil dimaknai sebagai upaya menghadirkan kesempatan yang setara bagi setiap warga untuk berkembang, terutama dalam memperoleh pendidikan. Semangat tersebut sejalan dengan nilai Muhammadiyah yang senantiasa berupaya menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat dan memberikan perhatian kepada kelompok yang membutuhkan.

Adapun kemakmuran, menurut amanat yang disampaikan, tidak dapat dilepaskan dari kerja keras, ilmu pengetahuan, dan integritas. Ketiga hal tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan akademik dan menjadi modal untuk menghasilkan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat.

Dalam konteks Unmuh Jember, capaian akreditasi institusi dengan predikat Unggul menjadi salah satu bukti dari kerja keras dan komitmen seluruh keluarga besar universitas dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan.

Peringatan HUT ke-81 RI juga menjadi momentum untuk mengingat kembali bentuk perjuangan yang relevan dengan kondisi saat ini. Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan melalui perjuangan fisik, maka generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan melalui prestasi, kejujuran akademik, karya, dan inovasi.

“Kemerdekaan hari ini bukan lagi tentang mengangkat senjata, tetapi tentang mengangkat prestasi, menjunjung kejujuran akademik, serta membangun bangsa melalui karya dan inovasi.”

Dalam amanatnya, sivitas akademika juga diajak untuk menjadikan integritas sebagai bagian penting dalam menjalankan tugas. Dosen dan tenaga kependidikan diharapkan mampu menjadi teladan dalam mendidik dengan hati, mengabdi dengan ikhlas, serta menjaga amanah keilmuan sebagai bagian dari jihad intelektual untuk kemajuan bangsa.

Sementara mahasiswa didorong untuk menjadi generasi yang optimis, tangguh, dan aktif memanfaatkan berbagai fasilitas serta kesempatan yang tersedia di lingkungan kampus untuk mengembangkan potensi, berprestasi, dan menghasilkan inovasi.

Selain mendorong prestasi, momentum kemerdekaan juga menjadi ajakan untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman. Sivitas akademika Unmuh Jember diharapkan terus menjaga kebersamaan dan persatuan dengan menghargai perbedaan suku, budaya, bahasa, maupun keyakinan.

Melalui peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Unmuh Jember meneguhkan kembali peran perguruan tinggi dalam mengisi kemerdekaan. Kampus tidak hanya menjadi ruang pendidikan, tetapi juga tempat tumbuhnya gagasan, karakter, prestasi, dan inovasi yang dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.

Momentum ini diharapkan menjadi refleksi sekaligus energi baru bagi seluruh sivitas akademika Unmuh Jember untuk terus berkarya, berprestasi, menjaga integritas, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sebagai bagian dari perjuangan membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

 


Jumat, 14 Agustus 2026

Atasi Limbah Produksi, Tim Pengabdian Unmuh Jember Dampingi UMKM Dapur Shincan dengan Grease Trap



Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember memperkenalkan teknologi tepat guna berupa grease trap atau alat pemisah lemak kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bidang pangan. Inovasi tersebut diterapkan sebagai upaya membantu pengelolaan limbah produksi sekaligus meningkatkan kebersihan dan sanitasi lingkungan usaha.

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri atas Dr. Ir. Latifa Mirzatika Al-Rosyid, S.T., M.T.; Ir. Nely Ana Mufarida, S.T., M.T.; Dr. Feti Fatimah, S.E., M.M.; Mochammad Waris Ramadhani; Bela Pitaloka; dan Muhammad Raihandy Alfiansyah. Program tersebut dilaksanakan melalui pendampingan kepada UMKM Dapur Shincan di Desa Kencong, Kabupaten Jember.

Kegiatan ini didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi. Salah satu fokus kegiatan adalah penerapan teknologi tepat guna untuk membantu mitra dalam mengelola limbah hasil produksi.

Penerapan grease trap menjadi salah satu fokus pendampingan karena aktivitas produksi UMKM pangan menghasilkan limbah berupa air bekas pencucian bahan baku, minyak, lemak, serta sisa bahan organik. Sebelum adanya pendampingan, sebagian limbah produksi, termasuk air bekas pencucian ayam dan sisa minyak, masih dialirkan langsung ke saluran pembuangan.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penyumbatan saluran, menimbulkan bau tidak sedap, serta meningkatkan risiko pencemaran lingkungan apabila berlangsung secara terus-menerus.

Melalui pendampingan yang dilakukan tim pengabdian, pelaku UMKM diberikan edukasi mengenai pentingnya pengelolaan limbah serta praktik penggunaan grease trap. Alat tersebut bekerja dengan memisahkan minyak, lemak, dan material padat dari air limbah sebelum dialirkan menuju saluran pembuangan.


Prinsip kerja teknologi ini cukup sederhana. Lemak dan minyak yang memiliki massa jenis lebih rendah akan mengapung di permukaan, sedangkan material padat akan mengendap di dasar bak. Air yang telah melalui proses pemisahan kemudian dapat dialirkan keluar dengan kandungan lemak dan padatan yang lebih rendah.

Selain penerapan grease trap, tim pengabdian juga memberikan pendampingan terkait pemilahan limbah produksi. Minyak jelantah diarahkan untuk dikumpulkan dalam wadah khusus dan tidak dibuang langsung ke saluran air. Sementara itu, limbah padat seperti sisa bumbu dan bulu ayam juga dikelola secara terpisah agar area produksi tetap bersih dan higienis.

Penerapan teknologi sederhana tersebut memberikan perubahan terhadap pengelolaan lingkungan produksi UMKM Dapur Shincan. Pelaku usaha mulai memahami bahwa pengelolaan limbah merupakan bagian penting dalam menjaga kebersihan tempat produksi sekaligus mendukung keberlanjutan usaha.

Tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, pengelolaan limbah juga berpotensi memberikan nilai ekonomi. Minyak jelantah yang dikumpulkan dapat disalurkan kepada pihak yang melakukan pengolahan lebih lanjut, termasuk untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel maupun produk lainnya.

Tim pengabdian Unmuh Jember menilai bahwa penerapan teknologi tepat guna tidak selalu membutuhkan peralatan yang mahal dan kompleks. Teknologi sederhana seperti grease trap dapat menjadi salah satu solusi yang mudah diterapkan oleh UMKM pangan untuk mengurangi risiko pencemaran lingkungan.

Ke depan, penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat dikembangkan dan diterapkan pada lebih banyak UMKM pangan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai penting untuk mendorong pengelolaan limbah yang lebih baik dan berkelanjutan.

Melalui program pendampingan ini, UMKM tidak hanya didorong untuk meningkatkan kualitas produk dan pemasaran, tetapi juga membangun sistem produksi yang lebih bersih, higienis, dan ramah lingkungan. Kehadiran tim pengabdian Unmuh Jember menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi teknologi yang aplikatif dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Bukan Sekadar Membaca, KKN Unmuh Jember Latih Anak Desa Wonosuko Berani Bicara

 

Menumbuhkan minat baca sekaligus keberanian berbicara sejak usia dini menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember. Melalui kegiatan literasi bertajuk “Perpustakaan Lingkungan dan Aku Berani Bicara”, mahasiswa mengajak anak-anak Desa Wonosuko, Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso, membaca buku sekaligus berani menyampaikan gagasan di hadapan orang lain.

Kegiatan yang berlangsung pada Ahad (2/8/2026) tersebut dikemas secara interaktif. Anak-anak diberikan kesempatan memilih buku yang mereka sukai, kemudian membaca dan memahami isi bacaan sebelum mempresentasikannya di hadapan teman-teman. Mereka juga diajak menceritakan cita-cita yang ingin diraih.

Konsep tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan minat baca, tetapi juga melatih kemampuan memahami informasi, berpikir, serta berkomunikasi. Anak-anak didorong untuk menyampaikan kembali isi buku menggunakan bahasa mereka sendiri.

Koordinator Desa, Muhammad Imron, mengatakan budaya literasi perlu dikenalkan sejak usia dini agar membaca dapat menjadi kebiasaan hingga dewasa. Menurutnya, ketertarikan anak terhadap gawai menjadi salah satu tantangan dalam membangun kebiasaan membaca.

“Anak-anak saat ini sering dibiasakan dengan handphone yang mengakibatkan malas membaca buku. Saya berharap kegiatan ini dapat mendorong minat anak-anak dalam membaca buku,” ujarnya.

Antusiasme anak-anak terlihat sepanjang kegiatan. Mereka tampak aktif memilih buku, membaca, hingga tampil di depan teman-temannya. Meski beberapa peserta awalnya masih terlihat malu dan ragu untuk berbicara, keberanian mereka mulai tumbuh setelah diberikan kesempatan untuk tampil.

Kegiatan tersebut juga melibatkan Partai Buku Bondowoso sebagai mitra. Koordinator Partai Buku Bondowoso, Kiya, menilai kegiatan ini menjadi pengalaman positif bagi anak-anak untuk mulai membangun keberanian berbicara di depan umum.

“Ini adalah pengalaman pertama mereka. Di awal terlihat malu-malu, tetapi yang terpenting mereka sudah berani maju ke depan, membaca, memahami isi bacaan, lalu menyampaikan kembali dengan bahasa mereka sendiri. Itu merupakan perkembangan yang patut diapresiasi,” ungkapnya.

Salah satu peserta, Aini, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Baginya, kegiatan literasi tidak hanya memberikan kesempatan untuk membaca berbagai buku, tetapi juga menjadi ruang untuk bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman.

“Aku sangat senang sekali karena bukunya sangat banyak dan bisa bertemu dengan teman-teman,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Unmuh Jember berharap keberadaan ruang literasi di lingkungan masyarakat dapat menjadi alternatif kegiatan positif bagi anak-anak. Tidak hanya membangun kebiasaan membaca, kegiatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan keberanian anak dalam menyampaikan pendapat dan mengembangkan potensi diri.

Program “Perpustakaan Lingkungan dan Aku Berani Bicara” sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa KKN Unmuh Jember dalam mendukung penguatan budaya literasi di masyarakat. Dengan menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan dan partisipatif, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi generasi yang gemar membaca, mampu memahami informasi, serta percaya diri dalam menyampaikan gagasan.

KKN Kelompok 17 Unmuh Jember Edukasi Siswa tentang Cita-Cita dan Bijak Bermedia Sosial


Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 17 Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menggelar sosialisasi bertajuk “Ceria Belajar dan Cerdas Bermedia Sosial” di SD Negeri Sumberpandan 1, Selasa (28/7/2026).

Mengusung tema “Mewujudkan Generasi Cerdas, Kreatif, Berkarakter, dan Bijak di Era Digital”, kegiatan tersebut bertujuan membekali siswa dengan motivasi belajar sekaligus pemahaman dalam memanfaatkan teknologi dan media sosial secara positif, aman, dan bertanggung jawab.

Kegiatan dilaksanakan dalam dua sesi, yakni pukul 08.00–09.00 WIB dan 09.50–10.45 WIB, dengan melibatkan seluruh siswa SD Negeri Sumberpandan 1. Materi disesuaikan dengan jenjang pendidikan agar lebih mudah dipahami.

Siswa kelas 1–3 mendapatkan materi “Belajar Ceria untuk Menggapai Cita-Cita” yang berfokus pada peningkatan semangat belajar, pengenalan berbagai profesi, serta motivasi agar siswa berani memiliki cita-cita dan berusaha untuk mewujudkannya.

Sementara itu, siswa kelas 4–6 mengikuti materi “Anak Hebat di Dunia Nyata dan Dunia Digital”. Materi tersebut membahas manfaat dan risiko penggunaan media sosial serta pentingnya bersikap bijak, aman, dan bertanggung jawab ketika menggunakan media digital.

Kepala SD Negeri Sumberpandan 1 menyambut positif kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa KKN tersebut. Menurutnya, materi yang diberikan relevan dengan perkembangan zaman, terutama karena anak-anak semakin dekat dengan penggunaan gawai dan media sosial.

“Materi yang disampaikan relevan dengan perkembangan zaman. Melalui sosialisasi ini, diharapkan siswa tidak hanya memiliki semangat untuk meraih cita-cita, tetapi juga mampu menjadi generasi yang cerdas dan bijak dalam memanfaatkan teknologi digital,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN mengemas materi secara interaktif melalui presentasi, permainan edukatif, diskusi, dan sesi tanya jawab. Pendekatan tersebut membuat siswa lebih aktif mengikuti kegiatan. Antusiasme terlihat dari keterlibatan siswa dalam permainan maupun keberanian mereka menjawab berbagai pertanyaan yang diberikan pemateri.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa KKN Kelompok 17 Unmuh Jember dan SD Negeri Sumberpandan 1 dalam memberikan edukasi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Melalui kegiatan tersebut, siswa kelas 1–3 diharapkan semakin termotivasi untuk belajar dan memiliki keberanian dalam mengejar cita-cita. Sementara siswa kelas 4–6 diharapkan mampu menerapkan perilaku bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial serta teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari.

Sosialisasi ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa KKN Unmuh Jember dalam mendukung pendidikan karakter dan literasi digital bagi generasi muda. Sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah diharapkan dapat terus diperkuat untuk menciptakan generasi yang cerdas, kreatif, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan di era digital.

Ubah Sampah Jadi Berkah, KKN Kolaborasi Unmuh Jember Dorong Warga Mayangan Bentuk Bank Sampah

 

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Desa Mayangan Universitas Muhammadiyah (Unnmuh) Jember menggelar sosialisasi bank sampah di Balai Desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, Senin (10/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk mendorong masyarakat mengelola sampah secara lebih terorganisasi sekaligus melihat potensi ekonomi dari limbah rumah tangga.

Sosialisasi yang berlangsung mulai pukul 13.00 WIB tersebut diikuti oleh perangkat Desa Mayangan dan masyarakat setempat. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan pemahaman mengenai pengelolaan sampah berbasis komunitas, mulai dari mekanisme pembentukan bank sampah hingga sistem pengelolaannya di tingkat desa.

Tim KKN menjelaskan tahapan pembentukan bank sampah, pembagian tugas, serta struktur organisasi yang dapat diterapkan. Masyarakat juga diberikan edukasi mengenai klasifikasi dan jenis sampah agar proses pemilahan dapat dilakukan sejak dari sumbernya, terutama pada lingkungan rumah tangga.

Tidak hanya menyampaikan teori, mahasiswa turut memperkenalkan berbagai inovasi pengolahan sampah organik yang dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi. Beberapa di antaranya adalah ekoenzim, kompos dan pupuk organik, serta budidaya maggot.

Ekoenzim diperkenalkan sebagai cairan serbaguna yang dihasilkan melalui proses fermentasi sampah dapur organik. Sementara itu, limbah tumbuhan dan sisa makanan dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos dan pupuk organik untuk mendukung kesuburan tanah.

Mahasiswa juga mengenalkan budidaya maggot sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah organik. Selain membantu menguraikan sampah, maggot dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan berprotein bagi sejumlah jenis ternak.

Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Mayangan. Dalam sambutannya, perwakilan Kepala Desa Mayangan menyambut positif inisiatif mahasiswa dan mendorong masyarakat untuk mulai mengubah cara pandang terhadap sampah.

Sampah yang selama ini dianggap sebagai persoalan lingkungan, menurutnya, dapat memiliki nilai guna dan nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut kegiatan, tim KKN Kolaborasi bersama Pemerintah Desa Mayangan berkomitmen mendorong pembentukan Komunitas Bank Sampah Desa Mayangan. Komunitas tersebut diharapkan menjadi wadah bagi masyarakat untuk melakukan pemilahan, pengumpulan, dan pengelolaan sampah secara bersama-sama.

Keberadaan komunitas bank sampah diharapkan tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai jual maupun nilai guna.

Melalui program ini, mahasiswa KKN Kolaborasi Unmuh Jember berharap kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah dapat semakin meningkat. Dari langkah sederhana berupa memilah sampah dari rumah, masyarakat Desa Mayangan diharapkan mampu membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih tertib, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun perekonomian warga.

Atasi Persoalan Sampah, KKN-T 18 Unmuh Jember Hadirkan Teknologi Incinerator Minim Asap


Persoalan sampah yang masih menjadi tantangan di Desa Maesan, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Kelompok 18 Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menghadirkan inovasi berupa incinerator pembakaran minim asap.

Pembuatan dan pengembangan alat tersebut dilaksanakan selama dua hari, Sabtu–Minggu (1–2/8/2026), sebagai salah satu upaya mahasiswa membantu masyarakat dalam menangani sampah yang sulit terurai, khususnya sampah anorganik.

Program tersebut berangkat dari kondisi pengelolaan sampah di Desa Maesan yang masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah belum tersedianya Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang memadai, sehingga sebagian masyarakat masih membuang sampah secara tidak terkelola, termasuk ke sungai. Kondisi tersebut berpotensi mencemari lingkungan dan mengganggu kebersihan aliran air.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN-T Kelompok 18 merancang incinerator sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah anorganik yang sulit dimanfaatkan kembali. Alat tersebut dirancang dengan sistem pembakaran yang lebih terarah sehingga diharapkan dapat menghasilkan asap lebih sedikit dibandingkan pembakaran sampah secara terbuka.

Penggunaan incinerator diarahkan untuk sampah anorganik tertentu, terutama material yang sulit terurai seperti beberapa jenis plastik dan kemasan rumah tangga. Sementara itu, sampah organik tidak diarahkan untuk dibakar, melainkan dapat dikelola melalui metode lain seperti pengomposan.

Selain menghasilkan alat, mahasiswa KKN-T 18 juga mendorong masyarakat menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) dalam kehidupan sehari-hari. Sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos, sedangkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna dapat dipilah untuk digunakan kembali maupun didaur ulang.

Inovasi tersebut mendapat perhatian dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari ketua RT, kepala dusun, perangkat desa, hingga Kepala Desa Maesan. Pemerintah desa menilai persoalan sampah membutuhkan solusi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan dan melibatkan partisipasi masyarakat.

Perangkat Desa Maesan, Yogi, berharap inovasi yang dikembangkan mahasiswa dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di berbagai dusun.

“Adanya inovasi dari mahasiswa KKN ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam menangani permasalahan sampah di setiap dusun Desa Maesan. Kami berharap alat yang dibuat dapat dimanfaatkan, dirawat, dan juga dapat diproduksi sebanyak 10 titik di Desa Maesan,” ujarnya.

Sementara itu, PDD KKN-T Kelompok 18 Unmuh Jember, Heki, mengatakan pembuatan incinerator merupakan bentuk kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan alternatif terhadap persoalan sampah di Desa Maesan.

“Kami mencoba menghadirkan sebuah solusi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan desa. Namun, incinerator bukan satu-satunya solusi dalam mengurangi limbah sampah. Kami juga berharap masyarakat tetap melakukan pemilahan sampah sesuai jenisnya agar pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan lebih baik,” jelasnya.

Melalui program tersebut, KKN-T Kelompok 18 Unmuh Jember tidak hanya berupaya menghadirkan teknologi tepat guna, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

Keberadaan incinerator diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi timbunan sampah yang sulit terurai. Namun, pengelolaan sampah secara menyeluruh tetap membutuhkan pemilahan sejak dari sumber, pengurangan penggunaan barang sekali pakai, pemanfaatan kembali, serta pengolahan sampah yang sesuai dengan jenisnya.

Program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengelolaan sampah yang lebih tertib dan bertanggung jawab di Desa Maesan. Dengan kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat, inovasi sederhana tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi lingkungan.

Connect