Carousel

Kamis, 23 Juli 2026

Unmuh Jember Lepas 565 Mahasiswa KKN Reguler 2026, Rektor: Jadilah Mahasiswa yang Mengabdi dengan Profesional

Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember secara resmi melepas 565 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tahun 2026 dalam apel pemberangkatan yang digelar di halaman depan Gedung A Universitas Muhammadiyah Jember, Kamis (23/7/2026). Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya pengabdian mahasiswa di berbagai wilayah sebagai implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat.

Acara pelepasan dihadiri oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Jember Dr. Hanafi, M.Pd., jajaran pimpinan universitas, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), dosen pembimbing lapangan, serta ratusan mahasiswa peserta KKN yang akan diterjunkan ke sejumlah lokasi, termasuk Kabupaten Bondowoso.

Dalam sambutannya, Rektor Dr. Hanafi menegaskan bahwa KKN merupakan momentum bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di bangku kuliah.

"Selama ini mahasiswa telah banyak belajar teori. Kini saatnya mengimplementasikan ilmu tersebut di tengah masyarakat. Tidak semua teori sama dengan praktik, sehingga dibutuhkan kedewasaan, kebijaksanaan, dan kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi berbagai kondisi di lapangan," ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa selama menjalankan KKN, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta pengabdian, tetapi juga sebagai representasi Universitas Muhammadiyah Jember di tengah masyarakat.

"Mahasiswa adalah wakil Universitas Muhammadiyah Jember. Tunjukkan sikap yang baik, profesional, dan selalu menaati aturan yang berlaku. Dari perilaku mahasiswa inilah masyarakat akan menilai kualitas Universitas Muhammadiyah Jember," tegasnya.

Menurutnya, berbagai tantangan yang akan dihadapi selama pelaksanaan KKN merupakan bagian dari proses pembelajaran yang akan membentuk karakter mahasiswa. Oleh karena itu, mahasiswa diminta mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat, serta melaksanakan setiap program kerja dengan penuh tanggung jawab.

"Ikuti dinamika yang ada di masyarakat dengan tenang, santai, tetapi tetap serius menjalankan program. Dalam kehidupan pasti ada tantangan dan hambatan, namun semuanya dapat diatasi dengan sikap profesional dan kedewasaan berpikir," katanya.


Rektor juga memberikan perhatian khusus terhadap aspek keselamatan selama pelaksanaan KKN. Ia mengimbau mahasiswa agar selalu berhati-hati selama perjalanan maupun ketika menjalankan aktivitas di lokasi pengabdian.

"Tolong berangkat utuh dan pulang juga utuh. Keselamatan adalah yang utama. Tetap patuhi rambu-rambu yang ada dan selalu ingat bahwa kalian membawa nama baik Universitas Muhammadiyah Jember," pesannya.

Selain itu, Dr. Hanafi mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan peran dosen pembimbing lapangan sebagai mitra konsultasi selama pelaksanaan KKN. Pendampingan tersebut diharapkan mampu membantu mahasiswa menyelesaikan berbagai persoalan di lapangan sekaligus memastikan seluruh program kerja berjalan sesuai rencana.


Melalui KKN Reguler Tahun 2026 yang diikuti 565 mahasiswa, Universitas Muhammadiyah Jember berharap para peserta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekaligus mengembangkan kompetensi akademik, kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan berkolaborasi. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal penting dalam membentuk lulusan yang profesional, adaptif, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Dengan semangat pengabdian, ratusan mahasiswa Unmuh Jember siap menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Kehadiran mereka diharapkan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di daerah pengabdian sekaligus memperkuat peran Universitas Muhammadiyah Jember sebagai perguruan tinggi yang terus berkontribusi dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

 

Rabu, 22 Juli 2026

PROMOIN.ID Antar Mahasiswa FEB Unmuh Jember Raih Juara 2 Nasional Studentpreneur Bootcamp 2026

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Jember kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Tim mahasiswa Program Studi Manajemen berhasil meraih Juara 2 Proposal Bisnis Jasa Digital dalam ajang Studentpreneur Bootcamp 2026 melalui inovasi PROMOIN.ID, layanan promosi digital berbasis teknologi proyektor logo yang dirancang untuk membantu pelaku UMKM meningkatkan visibilitas usahanya.

Tim pengembang PROMOIN.ID terdiri atas Jefri Danuarta, Af'idatus Salsabilla Iza, dan Rianul Hudan. Mereka berhasil menyisihkan berbagai peserta dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia setelah melewati serangkaian seleksi, pelatihan, hingga presentasi di hadapan dewan juri.

Jefri Danuarta mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian tersebut.

"Kami sangat bersyukur dan bangga. Prestasi ini merupakan hasil kerja keras, kerja sama tim, serta dukungan dari dosen pembimbing dan Universitas Muhammadiyah Jember. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan inovasi yang memiliki manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya.

Studentpreneur Bootcamp 2026 merupakan program pengembangan kewirausahaan yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai PTMA di Indonesia. Selama kegiatan, peserta memperoleh pembekalan mengenai mindset kewirausahaan, penyusunan model bisnis, business networking, strategi pengembangan usaha berkelanjutan, hingga kompetisi presentasi proposal bisnis di hadapan akademisi dan praktisi.

Untuk meraih prestasi tersebut, tim PROMOIN.ID harus melalui berbagai tahapan, mulai dari penyusunan proposal bisnis, seleksi administrasi, mengikuti pelatihan intensif dan mentoring, penyempurnaan business model, hingga sesi pitching dan tanya jawab dengan dewan juri.

Menurut Jefri, tantangan terbesar selama kompetisi adalah memastikan ide yang dikembangkan tidak hanya inovatif, tetapi juga realistis dan siap diimplementasikan di dunia usaha.

"Kami juga harus membagi waktu antara persiapan kompetisi dengan aktivitas perkuliahan, sekaligus memastikan seluruh anggota tim memiliki pemahaman yang sama terhadap konsep bisnis yang kami tawarkan," jelasnya.

Dalam proses persiapan, setiap anggota tim memiliki peran yang berbeda sesuai kompetensi masing-masing. Jefri berfokus pada penyusunan konsep bisnis, strategi pemasaran, dan presentasi. Af'idatus Salsabilla Iza menangani penyusunan proposal, analisis pasar, serta administrasi, sedangkan Rianul Hudan bertanggung jawab pada pengembangan konsep teknis, visualisasi produk, dan penyempurnaan materi presentasi.

PROMOIN.ID merupakan layanan promosi digital yang memanfaatkan teknologi proyektor logo untuk menampilkan identitas usaha pada berbagai permukaan, seperti jalan, trotoar, dinding, maupun area depan toko. Teknologi tersebut memungkinkan pelaku usaha memperoleh media promosi yang lebih menarik, modern, hemat energi, dan efektif menarik perhatian masyarakat, khususnya pada malam hari.

Inovasi ini lahir dari keprihatinan tim terhadap masih banyaknya pelaku UMKM yang mengandalkan media promosi konvensional dengan biaya relatif tinggi dan daya tarik yang terbatas.

"PROMOIN.ID hadir sebagai solusi promosi yang lebih kreatif, fleksibel, dan mampu meningkatkan daya tarik visual sehingga membantu UMKM memperkuat branding usahanya," terang Jefri.

Keunggulan utama PROMOIN.ID terletak pada integrasi teknologi proyeksi logo dengan strategi branding digital. Konsep ini menawarkan media promosi yang mudah dipasang tanpa merusak bangunan, lebih ramah lingkungan, biaya operasional yang relatif terjangkau, serta dapat diterapkan pada berbagai sektor usaha, mulai dari UMKM, kafe, restoran, toko, hingga penyelenggara acara.

Tim juga mengungkapkan bahwa dewan juri memberikan apresiasi terhadap konsep bisnis yang dinilai mampu menjawab kebutuhan pelaku UMKM saat ini. Selain inovatif, model bisnis yang disusun dianggap memiliki potensi pasar yang besar dan peluang implementasi yang realistis.

Berbeda dengan sekadar proposal kompetisi, PROMOIN.ID sejak awal dirancang sebagai bisnis yang siap dikembangkan. Saat ini tim tengah menyempurnakan konsep usaha, memperluas jaringan mitra, serta meningkatkan kualitas layanan agar dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak pelaku UMKM.

"Kami ingin PROMOIN.ID berkembang menjadi startup lokal yang mampu memberikan dampak positif bagi dunia usaha, khususnya UMKM yang membutuhkan solusi promosi kreatif dan terjangkau," kata Jefri.

Ke depan, tim menargetkan layanan PROMOIN.ID dapat menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Mereka juga berencana mengikuti program inkubasi bisnis, memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak, serta terus mengikuti kompetisi inovasi dan kewirausahaan sebagai langkah pengembangan usaha.

Prestasi yang diraih tim PROMOIN.ID menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember mampu menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memiliki daya saing di tingkat nasional.

Menutup wawancara, Jefri mengajak mahasiswa Unmuh Jember untuk tidak ragu mengembangkan ide dan mengikuti berbagai kompetisi.

"Jangan takut mencoba. Mulailah dari ide sederhana, kemudian kembangkan melalui riset dan diskusi. Jadikan setiap kompetisi sebagai proses belajar. Yang terpenting adalah terus berani berinovasi, menerima masukan, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan."

 

Mahasiswa Unmuh Jember Sulap Buah Mangrove Jadi Minuman Inovatif SUKAU, Raih Juara 1 Bootcamp Studentpreneur 2026


Kreativitas mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Tim mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) berhasil meraih Juara 1 Kategori Minuman Siap Saji pada Bootcamp Studentpreneur 2026 melalui inovasi SUKAU (Sirup Bakau), minuman berbahan dasar buah bakau yang mengangkat potensi lokal kawasan pesisir Jember.

Tim pengembang SUKAU terdiri atas Mohammad Widana Prayuda, Siska Putri Pratama, dan Nadya Ulya Indrasta Rahmani. Prestasi tersebut diraih setelah melewati rangkaian pelatihan, pendampingan bisnis, hingga kompetisi pitching yang mempertemukan mahasiswa inovatif dari berbagai perguruan tinggi.

Nadya Ulya Indrasta Rahmani mengaku pencapaian tersebut menjadi hasil dari kerja keras seluruh tim selama mengikuti proses kompetisi.

"Kami sangat bersyukur, bahagia, dan bangga. Kemenangan ini merupakan hasil dari kerja keras, kekompakan tim, serta bimbingan dosen dan dukungan Universitas Muhammadiyah Jember. Prestasi ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan SUKAU menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.

Bootcamp Studentpreneur 2026 tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide bisnis secara komprehensif. Peserta mendapatkan pelatihan mengenai penyusunan model bisnis, strategi pemasaran, pengembangan usaha berkelanjutan, business networking, hingga presentasi bisnis di hadapan dewan juri.

Selama kompetisi, tim SUKAU melalui berbagai tahapan, mulai dari penyusunan business model, pengembangan produk, pendampingan bersama mentor, hingga sesi pitching. Setiap proses menjadi kesempatan untuk menyempurnakan kualitas produk sekaligus strategi bisnis yang ditawarkan.

Ide menghadirkan SUKAU lahir dari pengalaman ketua tim saat mengikuti kegiatan konservasi hutan bakau bersama anggota MAPALA se-Kabupaten Jember di kawasan pesisir Payangan.

Saat itu, masyarakat setempat menyampaikan bahwa buah bakau yang melimpah belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki potensi ekonomi yang besar.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim melihat peluang untuk mengolah buah bakau menjadi produk minuman yang memiliki nilai tambah sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Melalui berbagai proses riset dan uji coba, lahirlah SUKAU (Sirup Bakau), minuman dengan cita rasa khas yang mengangkat potensi lokal sekaligus menawarkan alternatif minuman alami yang lebih sehat.

Keunggulan SUKAU terletak pada pemanfaatan buah bakau sebagai bahan utama yang masih sangat jarang diolah menjadi produk minuman komersial. Selain memiliki cita rasa unik, produk ini juga mengandung antioksidan alami serta dikembangkan dengan konsep bisnis yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan.

Tim juga membidik pasar wisatawan yang berkunjung ke kawasan Pantai Payangan, masyarakat umum, mahasiswa, hingga pelaku UMKM yang membutuhkan produk khas daerah sebagai oleh-oleh.

Menurut Nadya, respons para juri terhadap inovasi tersebut sangat positif.

"Mereka mengapresiasi pemanfaatan buah bakau sebagai bahan baku yang inovatif, potensi pengembangan bisnisnya, serta konsep keberlanjutan yang kami terapkan. Kami juga mendapatkan banyak masukan untuk menyempurnakan produk agar siap bersaing di pasar."

Saat ini SUKAU masih berada pada tahap penyempurnaan produk. Tim telah menghasilkan prototipe dan melakukan uji coba kepada calon konsumen sebagai bagian dari validasi pasar sebelum dipasarkan secara lebih luas.

Ke depan, mereka berencana mengurus legalitas produk seperti PIRT dan sertifikasi halal, memperbaiki desain kemasan, memperluas pemasaran melalui platform digital, serta menjalin kolaborasi dengan UMKM dan sektor pariwisata agar SUKAU dapat berkembang menjadi produk unggulan khas Jember.

Bagi tim, kemenangan ini bukan sekadar pencapaian kompetisi, tetapi juga bukti bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi inovatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial bagi masyarakat.

Mereka berharap keberhasilan SUKAU dapat menginspirasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember untuk berani mengembangkan ide-ide kreatif dan mengikuti berbagai kompetisi kewirausahaan.

"Jangan takut mencoba dan jangan ragu memulai dari ide sederhana. Persiapkan diri dengan baik, manfaatkan bimbingan dosen, terus belajar dari setiap proses, dan jadikan setiap kompetisi sebagai pengalaman untuk berkembang. Yang terpenting adalah berani mengambil kesempatan," pesan Nadya.

Melalui inovasi SUKAU, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember membuktikan bahwa potensi lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi. Dengan menggabungkan semangat kewirausahaan, inovasi, dan kepedulian terhadap lingkungan, mereka berharap SUKAU tidak hanya menjadi minuman khas Jember, tetapi juga mampu meningkatkan nilai ekonomi buah bakau, membuka peluang usaha bagi masyarakat pesisir, serta mendukung pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal secara berkelanjutan.

 

Kolaborasi Lintas Prodi Unmuh Jember Raih Juara I Nasional LKTIN SAFE POLIJE 2026 Lewat Inovasi Biogas Berbasis IoT

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember di tingkat nasional. Tim yang terdiri dari Satria Bagaskoro (Program Studi Ilmu Pemerintahan) dan Gilang Arya Mahmudi (Program Studi Ilmu Keperawatan) berhasil meraih Juara I pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) 11th SAFE POLIJE 2026 yang diselenggarakan di Auditorium Politeknik Negeri Jember (Polije), Sabtu (18/7/2026).

Keberhasilan tersebut diraih melalui karya ilmiah berjudul "Optimalisasi Produksi Biogas sebagai Energi Terbarukan dari Limbah Jagung dan Jerami melalui Sistem Anaerobic Digestion Berbasis Internet of Things untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan." Inovasi ini menawarkan solusi pemanfaatan limbah pertanian menjadi energi terbarukan dengan dukungan teknologi Internet of Things (IoT).

Satria Bagaskoro mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian yang diraih timnya. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang penuh dedikasi, mulai dari penyusunan gagasan, studi literatur, observasi lapangan, hingga persiapan presentasi secara intensif.

"Kami tentu merasa sangat bersyukur, bangga, dan terharu atas pencapaian ini. Kemenangan ini merupakan hasil dari proses yang panjang. Lebih dari sekadar meraih juara, kami merasa termotivasi untuk terus mengembangkan karya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya.

LKTIN 11th SAFE POLIJE 2026 merupakan kompetisi ilmiah tingkat nasional yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menghadirkan solusi inovatif terhadap berbagai persoalan masyarakat. Penilaian tidak hanya berfokus pada kualitas penulisan ilmiah, tetapi juga kebaruan inovasi, kelayakan implementasi, kemampuan presentasi, hingga ketepatan peserta dalam menjawab pertanyaan dewan juri.

Untuk mencapai gelar juara, tim harus melalui berbagai tahapan, mulai dari identifikasi permasalahan, studi literatur dari jurnal ilmiah internasional, observasi lapangan, wawancara dengan petani di Desa Balung Kulon, penyusunan karya tulis, hingga lolos ke babak final nasional. Menjelang final, keduanya mempersiapkan prototipe, visualisasi sistem, serta melakukan latihan presentasi secara intensif.

Ide penelitian lahir dari keprihatinan terhadap tingginya ketergantungan sektor pertanian pada energi fosil, sekaligus melimpahnya limbah jagung dan jerami yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui sistem anaerobic digestion berbasis IoT, limbah pertanian diolah menjadi biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.

Tak hanya menghasilkan biogas, inovasi tersebut juga dirancang mampu menghasilkan listrik, energi panas untuk pengeringan hasil panen, biochar, serta pupuk organik dari sisa proses fermentasi. Seluruh proses dipantau menggunakan sensor IoT yang mampu memonitor suhu, pH, kelembapan, dan tekanan gas secara real-time melalui aplikasi seluler, sehingga proses produksi menjadi lebih efisien dan mudah dikendalikan oleh petani.

"Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya menghasilkan energi terbarukan, tetapi juga membantu petani mengurangi biaya operasional serta mendukung pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi Internet of Things," jelas Satria.

Meski hanya terdiri dari dua anggota dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda, keduanya mampu membangun kolaborasi yang solid. Gilang Arya Mahmudi berfokus pada penyusunan naskah ilmiah serta aspek bioenergi dan pertanian, sementara Satria menangani analisis teknis sistem, implementasi inovasi, penyusunan presentasi, dan pemaparan di hadapan dewan juri.

Menurut mereka, tantangan terbesar selama kompetisi adalah menyatukan berbagai disiplin ilmu menjadi solusi yang komprehensif sekaligus memastikan inovasi yang diajukan memiliki dasar ilmiah yang kuat, realistis diterapkan, dan didukung data yang valid.

Prestasi ini menjadi motivasi bagi keduanya untuk terus mengembangkan inovasi yang telah dirancang. Mereka berencana mewujudkan gagasan tersebut menjadi prototipe yang dapat diterapkan secara nyata di masyarakat, sekaligus memperluas kolaborasi penelitian bersama dosen maupun mitra eksternal.

"Kami berharap inovasi ini dapat menjadi alternatif solusi energi bagi masyarakat, khususnya petani. Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, sistem ini juga mampu meningkatkan nilai ekonomi limbah pertanian, mengurangi pencemaran lingkungan, serta mendukung terwujudnya pertanian berkelanjutan dan ketahanan energi nasional," tutur Satria.

Kepada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember, keduanya berpesan agar tidak ragu untuk memulai berkarya dan mengikuti kompetisi ilmiah.

"Jangan takut untuk memulai. Banyak mahasiswa memiliki ide yang bagus, tetapi ragu untuk mengembangkannya. Mulailah dari permasalahan di sekitar kita, lakukan riset yang mendalam, manfaatkan masukan dosen pembimbing, dan jangan mudah menyerah. Kompetisi bukan hanya tentang menjadi juara, tetapi juga tentang proses belajar dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat," pesannya.

Prestasi ini kembali menegaskan bahwa kolaborasi lintas program studi di Universitas Muhammadiyah Jember mampu melahirkan inovasi yang berdaya saing nasional. Melalui semangat riset, kerja sama, dan keberanian untuk berinovasi, mahasiswa Unmuh Jember terus menunjukkan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

 

Patahkan Stigma '3D', Dr. Henik Soroti Tiga Pilar Utama Regenerasi Petani Masa Depan di Semartani 5

Fenomena penyusutan dramatis akibat kelangkaan tenaga kerja muda yang mau menggantikan posisi tetua mereka di sektor budidaya pertanian (farmer aging) sejatinya masih menjadi pekerjaan rumah terbesar sekaligus bom waktu bagi ketahanan pangan bangsa Indonesia. Hal yang paling miris sekaligus menarik adalah keengganan bergelut dengan cangkul dan tanah ini ternyata tidak hanya dominan terjadi pada masyarakat awam yang minim edukasi agraris, tetapi juga justru menjangkiti para lulusan sarjana akademis dari fakultas-fakultas pertanian di berbagai universitas. Akar permasalahan sosiologis dan psikologis terkait isu dilematis ini dikupas sangat tuntas serta komprehensif oleh Dr. Ir. Henik Prayuginingsih, M.P., selaku Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Jember. Ulasan tajam tersebut disampaikannya pada rangkaian pemaparan sesi terakhir di perhelatan Semartani 5 Tahun 2026. Mengambil tempat yang megah di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, gelaran dialektika akademis ini dilaksanakan sukses secara hybrid pada hari Selasa, 21 Juli 2026.

Dalam sesi presentasinya yang menggugah nalar, Dr. Henik menyoroti dengan tajam ihwal kuatnya belenggu stigma konotasi negatif yang populer dengan sebutan "3D" (Dirty, Difficult, Dangerous) yang terlanjur tertanam begitu dalam di alam bawah sadar benak generasi muda manakala mendengar frasa 'profesi petani'. Pekerjaan budidaya pertanian selalu dianggap sebagai ranah yang Dirty (kotor, kumuh, dan tidak estetik) lantaran lekat dengan aktivitas di kubangan lumpur pekat, debu ladang beterbangan, serta paparan bau kurang sedap dari pupuk kompos organik maupun kotoran hewan ternak. Aktivitas ini kemudian diyakini sebagai rutinitas yang Difficult (sangat sulit dan menguras fisik berat) karena praktiknya menuntut pengerahan tenaga ekstra di bawah siraman terik panas matahari yang membakar kulit, memiliki siklus masa tunggu (gestation period) yang terlampau panjang dan lambat untuk bisa memetik keuntungan panen komersial, hingga adanya bayang-bayang fluktuasi ketidakpastian harga jual hasil bumi di pasaran raya yang kerap kali mengecewakan ekspektasi pendapatan. Lebih parah lagi, pekerjaan ini dianggap sangat Dangerous (memicu paparan berbahaya) akibat tingginya tingkat risiko keracunan kesehatan dari paparan zat kimia pestisida mematikan atau bahkan tersimpan ancaman fisik berupa potensi gigitan ular maupun hewan berbisa lainnya yang kerap bersarang bebas di ekosistem ladang hamparan terbuka. Kombinasi akumulasi stigma negatif inilah yang kerap kali pada gilirannya membuat kalangan orang tua secara sadar maupun tidak, menolak atau merasa enggan untuk memberikan restu penuh kepada putra-putri mereka—yang sudah bersusah payah disekolahkan ke jenjang perguruan tinggi dengan ongkos mahal—untuk kembali lagi meniti nasib turun ke pematang sawah.

Kendati demikian, secercah harapan positif justru terungkap melalui sebuah studi riset mendalam yang pernah dilakukan secara akademis oleh kelompok mahasiswa Fakultas Pertanian Unmuh Jember yang menyasar langsung responden di kalangan siswa siswi tingkat SMA dan kelompok mahasiswa. "Fakta lapangannya sebenarnya sangat menggembirakan, tercatat ada sekitar 70 persen proporsi anak muda yang dengan jujur mengakui bahwa pekerjaan mencetak pangan alias petani sejatinya adalah manifestasi profesi mulia dan luhur. Mereka dengan lantang menyatakan bersedia dan berminat penuh untuk meretas karier menjadi petani muda, asalkan syarat-syarat fundamental mereka dapat terpenuhi secara layak oleh keadaan sistemik. Syarat mutlaknya yakni: budidaya pertaniannya harus murni ditopang oleh fasilitas alat inovasi teknologi mesin modern, kondisi lingkungan sistem kerjanya dapat dikondisikan bersih rapi serta tidak harus menguras letih tenaga otot punggung semata, dan yang terpenting adalah model bisnis taninya terbukti secara rill mampu memberikan imbal balik jaminan pendapatan ekonomi operasional yang berkali lipat lebih sejahtera dibanding profesi urban lainnya," papar Dr. Henik secara elaboratif.

Dalam rangka menjembatani sekaligus menjawab deretan tantangan berat tersebut, Dr. Henik secara sistematis merumuskan konstruksi tiga pilar kebijakan utama yang tidak bisa tidak harus segera dioperasikan secara simultan bersama lintas pihak, demi merawat dan menyukseskan estafet keberlanjutan regenerasi penggarap tani muda. Pertama, adanya pengadaan infrastruktur dukungan teknologi berupa perangkat mesin mekanisasi cerdas pertanian (smart farming) dan instrumen sarana input produksi unggulan (bibit dan pakan mutakhir) guna mewujudkan rasio efisiensi beban kerja fisik (sebagaimana contoh sistem kebun atap hidroponik dan fertigasi yang menjamin kerapian dan standar kebersihan diri petaninya). Kedua, ketersediaan jaringan pasokan rantai pasok dan kepastian ruang dukungan pasar bervolume jumbo melalui katalisator hilirisasi pengolahan pabrikasi pangan (sebagai misal berdirinya sentra industri ekstraksi pabrik jus buah mangga atau sejenisnya) yang selalu siap melahap serapan daya pasokan komoditas hasil bumi pasca panen raya secara konsisten dan massal, berikut dengan penawaran ketetapan kontrak harga beli tengkulak yang sangat amat menguntungkan neraca saku sang petani pelaksana. Ketiga dan tidak kalah urgensinya, adalah uluran tangan langsung dukungan sinergis berupa perlindungan serta stimulasi program dari perpanjangan tangan negara (pemerintah) ataupun inisiasi fasilitator startup independen swasta murni, yang mampu menyediakan porsi injeksi suntikan kredit modal usaha berbunga rendah, menuntaskan perbaikan sistem debit debitase saluran irigasi publik, dan senantiasa membimbing pengetahuan keahlian mereka via sekolah lapangan penyuluhan teknologi pertanian terpadu secara persisten. Di akhir kesimpulan pamungkasnya, Dr. Henik menegaskan keyakinan bahwa jika fondasi ekosistem suportif ini berhasil ditegakkan dengan kukuh, ia tidak ragu memastikan barisan pemuda pemudi bangsa pada akhirnya akan menaruh kebanggaan tinggi dan saling berebut meniti gemilang kemapanan masa depan dengan berprofesi sebagai barisan ksatria petani milenial sejati.

 

Make Agriculture Cool Again : SVP Eratani Ajak Generasi Z Terjun Jadi Petani Lewat Kolaborasi Digital di Semartani 5

Sebuah riset demografis yang cukup mengejutkan dari Bappenas memproyeksikan sebuah skenario buruk: pada tahun 2060 mendatang, Indonesia terancam krisis eksistensial dengan tidak lagi memiliki warga yang berprofesi sebagai petani murni akibat ketiadaan laju regenerasi. Fakta empiris di lapangan bahkan memperlihatkan bahwa 67,8 persen penggarap lahan tani di Indonesia saat ini didominasi secara penuh oleh kelompok usia lanjut (yakni rentang usia 45 hingga 65 tahun). Di sisi lain, angka ketertarikan kaum muda dari kelompok Generasi Z untuk terjun mencicipi profesi di sektor pertanian agraris sangatlah memprihatinkan, tercatat hanya berkisar pada rasio 6 dari 100 pemuda. Berupaya keras menjawab krisis eksistensial kedaulatan pangan nasional ini, Adwin Pratama Anas, S.E., M.A., yang saat ini menjabat sebagai Sr. Vice President Operations Eratani di PT. Eratani Teknologi Nusantara, tampil memberikan pencerahan motivasional dalam acara Semartani 5 Tahun 2026. Seminar ini diselenggarakan secara sukses dengan format hybrid di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, Selasa (21/7/2026).

Dalam kesempatannya, Adwin, yang juga telah secara independen meneliti kompleksitas masalah pertanian dan menuangkannya secara runut ke dalam sebuah buku berjudul Farmers are Disappearing, mengurai tuntas enam variabel akar permasalahan utama (broken equation) yang menyebabkan tersingkirnya regenerasi petani di Indonesia. Variabel faktor tersebut meliputi rasio ketidakpastian pendapatan bersih serta permodalan awal yang berat, rendahnya taraf literasi pendidikan (lebih dari separuh populasi petani hanya memegang ijazah SMP ke bawah), besarnya risiko ancaman gagal panen akibat terjangan cuaca iklim yang tidak menentu, persepsi sosial masyarakat yang terlanjur menganggap profesi petani bukanlah jenis pekerjaan bergengsi atau elegan, kurangnya daya beli dan adopsi alat teknologi canggih, serta adanya lubang dalam regulasi dan kebijakan perlindungan negara. "Anak-anak muda milenial di era media sosial saat ini sangat mencari aktualisasi diri dan validasi. Mereka butuh memamerkan pekerjaan yang mendapat pengakuan serta prestise sosial. Sayangnya, memegang cangkul dan menjadi petani masih sering dipandang sebelah mata, dianggap kampungan, dan dinilai tidak sekeren bekerja berseragam di balik meja kantoran," ungkap Adwin secara blak-blakan.

Untuk mengatasi kebuntuan sistemik tersebut, startup agritech (teknologi pertanian) Eratani hadir sebagai ekosistem digital revolusioner yang mencoba merombak cara pandang tata kelola budidaya tradisional menjadi jauh lebih modern, terukur basis datanya, dan pastinya lebih menguntungkan secara finansial. Melalui sentuhan platform digital end-to-end, Eratani menyediakan sekurang-kurangnya tiga pilar solusi nyata bagi para petani mitranya: pembukaan akses permodalan operasional (tanpa jaminan rumit) di awal masa musim tanam, pendampingan tenaga profesional agronomis guna mengatur dosis penggunaan sarana produksi (seperti benih, pupuk, serta obat pestisida) secara amat presisi sesuai standar, dan penyediaan jaminan akses penyaluran pasar yang transparan guna memberikan garansi harga beli panen komoditas gabah yang terbaik bagi kesejahteraan petani.

Lebih jauh, Adwin juga mengajak dengan tegas kepada kalangan mahasiswa kampus untuk segera mematahkan stereotip usang bahwa bertani harus selalu identik dengan bercucuran keringat, bau matahari, dan berkubang lumpur hitam. "Praktik pertanian di dunia modern saat ini sudah bertransformasi sangat masif. Pengecekan kondisi kelembapan dan derajat keasaman lahan di luar negeri kini dipantau cukup melalui layar monitor pencitraan satelit. Untuk menyemprotkan cairan hama pestisida di atas lahan seluas satu hektar, kita tidak perlu lagi memanggul tabung berat dan membuang waktu fisik selama setengah hari, kini kita cukup duduk di bawah pohon, mengoperasikan rute jelajah drone dari pinggir petak sawah, dan operasi penyemprotan itu selesai paripurna hanya dalam waktu 20 menit saja," tegasnya penuh optimisme. Melalui tajuk kampanye masif bertajuk "Make Agriculture Cool Again", ia mendorong mahasiswa kampus dan seluruh generasi muda penerus untuk berani melek adopsi teknologi terkini dan bangga mengambil peran kunci sebagai ujung tombak pahlawan penyedia pangan rakyat di kancah era digitalisasi.

 

Cegah Kecurangan Produk Pangan, Akademisi UHO Kenalkan Deteksi Cerdas Berbasis Artificial Intelligence di SEMARTANI 5



Kasus kecurangan produk pangan (food fraud) di dunia industri, mulai dari pemalsuan madu murni, pencampuran daging sapi segar dengan jenis daging lain yang berharga lebih murah, hingga pelabelan penipuan yang menjual ikan patin sebagai ikan kakap merah mahal, telah menjadi ancaman serius. Hal ini merugikan tidak hanya dari sisi ekonomi konsumen, tetapi juga sangat mengancam integritas kesehatan masyarakat luas. Isu yang semakin marak terjadi di pasar global maupun domestik ini menjadi sorotan utama yang diangkat oleh akademisi terkemuka dari Universitas Halu Oleo, Dr. M. Syukri Sadimantara, S.T., M.P., pada acara Seminar Nasional Pertanian ke-5 (Semartani 5) Tahun 2026. Mengambil lokasi di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, kegiatan berskala nasional ini diselenggarakan secara hybrid pada hari Selasa, 21 Juli 2026.

Dalam materinya, Dr. Syukri memaparkan secara komprehensif mengenai betapa pentingnya transisi dan peran inovasi teknologi modern dalam mendeteksi kualitas mutu serta keamanan produk pangan secara cepat, masif, dan akurat. Menurut tinjauan akademisnya, proses inspeksi kendali mutu (quality control) yang selama ini dilakukan secara visual oleh tenaga kerja manusia maupun melalui metode uji laboratorium konvensional saat ini masih memiliki banyak celah kelemahan. "Penglihatan manusia, meskipun sudah dilatih secara khusus, sangat rentan terhadap bias subjektif, faktor kelelahan kerja, dan ketidakkonsistenan penilaian. Sementara itu, prosedur uji laboratorium memakan waktu antrean yang berminggu-minggu, berbiaya sangat mahal, dan umumnya bersifat destructive atau harus menghancurkan sampel produk fisik yang akan diuji," papar pakar kecerdasan buatan dan teknologi pangan tersebut.

Sebagai jalan keluar dan lompatan revolusioner ke depan, Dr. Syukri memperkenalkan penerapan solusi canggih berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui pendekatan arsitektur jaringan Machine Learning, pemanfaatan kamera Computer Vision, serta sensor Spektroskopi (Chemometrics). Melalui pembacaan spektrum cahaya dan analisis pantulan gelombang optik, teknologi ini mampu secara ajaib mendeteksi komposisi kimiawi internal dan potensi kerusakan mutu pada tingkat molekuler secara instan tanpa perlu memotong atau merusak produk sama sekali. Ia mencontohkan secara langsung penggunaan model Deep Learning mutakhir seperti CNN dan YOLO (You Only Look Once) yang dapat secara otomatis mengklasifikasikan kelas kualitas dan adanya mikotoksin pada biji kakao, memprediksi tingkat rendeman air dan kematangan buah mangga hanya dengan tangkapan citra gambar dari ponsel pintar berbasis cloud, hingga memverifikasi keaslian murni sebuah produk madu dari tindak pencampuran (adulteration).

Meskipun potensi teknologinya sangat luar biasa, Dr. Syukri tetap mengingatkan seluruh akademisi akan sebuah prinsip fundamental dalam pemodelan kecerdasan buatan, yakni 'Garbage In, Garbage Out'. "Sistem AI yang paling canggih sekalipun tidak akan pernah berfungsi maksimal jika data latih (training data) yang kita pasok ke dalamnya merupakan data kotor atau tidak akurat. Oleh karena itu, tugas krusial dari para peneliti, dosen, dan mahasiswa teknologi industri pertanian adalah merancang dan menyediakan bank data set mutu pangan yang benar-benar telah tervalidasi keakuratannya di dalam laboratorium konvensional untuk mengajari algoritma mesin tersebut agar semakin cerdas," pesannya. Walaupun investasi instalasi infrastruktur keras ini cukup mahal di awal, ia sangat optimis bahwa ke depannya, pengendalian mutu pangan industri akan beralih secara total pada otomatisasi sistem smart factory.

 

Connect