Dari Losida hingga Biopori, KKN Unmuh Jember dan UAD Dorong Desa Sambimulyo Kelola Sampah
Sebanyak sembilan unit Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember bersama mahasiwa KKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) berkolaborasi memperkenalkan berbagai inovasi pengelolaan sampah kepada masyarakat Desa Sambimulyo, Banyuwangi pada Jumat (28/8/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa KKN untuk memperkenalkan berbagai program dan solusi praktis dalam menangani permasalahan sampah di lingkungan Desa Sambimulyo. Kegiatan dihadiri oleh perwakilan dari sembilan unit KKN, Ibu-Ibu PKK, Kepala Desa Sambimulyo, tokoh masyarakat, serta Camat yang turut hadir untuk menyimak pemaparan program kerja mahasiswa.
Dalam kegiatan tersebut, masing-masing unit KKN mempresentasikan program kerja sesuai dengan fokus yang telah disusun. Secara keseluruhan, terdapat lima program pengelolaan sampah yang diperkenalkan, yaitu Losida (Lodong Sisa Dapur), Ember Tumpuk Sampah Organik, Biopori, Tong Pembakaran Sampah Minim Asap, serta pembuatan tempat sampah anorganik dari galon bekas.
Salah satu program tersebut diperkenalkan oleh Unit I.C.1 yang diketuai oleh Abdul Muhyi Nasution, dengan fokus pada pengolahan sampah organik rumah tangga melalui Losida dan Ember Tumpuk.
Losida memanfaatkan pipa yang ditanam di tanah sebagai sarana pengolahan limbah dapur langsung dari sumbernya. Metode ini dapat menjadi alternatif pengelolaan sampah organik rumah tangga tanpa membutuhkan lahan yang luas.
Sementara itu, Ember Tumpuk diperkenalkan sebagai metode pengolahan sampah dapur menjadi pupuk organik cair (POC) dan kompos. Dalam prosesnya, sampah organik diberikan EM4 sebagai bahan tambahan untuk membantu mempercepat proses penguraian atau fermentasi. Dengan bantuan EM4, sampah organik dapat lebih cepat terurai dan menghasilkan cairan yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair. Metode ini diharapkan dapat membantu masyarakat mengolah sampah dapur secara lebih praktis, efisien, dan higienis.
Abdul mengatakan bahwa program tersebut tidak hanya ditujukan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat, tetapi juga mendorong adanya solusi sederhana yang dapat diterapkan secara langsung di tingkat rumah tangga.
“Kami berharap program yang kami kenalkan tidak berhenti pada sosialisasi saja. Losida dan Ember Tumpuk ini kami pilih karena relatif sederhana dan dapat diterapkan dari lingkungan rumah masing-masing. Harapannya, masyarakat bisa mulai mengelola sampah dari sumbernya dan program ini dapat terus dilanjutkan setelah KKN selesai,” ujar Abdul.
Selain Losida dan Ember Tumpuk, mahasiswa KKN dari unit lainnya turut memperkenalkan Biopori, Tong Pembakaran Sampah Minim Asap, dan tempat sampah anorganik berbahan galon bekas. Berbagai program tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat dalam mengurangi serta mengelola sampah sesuai dengan kondisi lingkungan desa.
Camat Bangorejo, Khoirul Anam, S.H., M.H., memberikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa KKN yang mengangkat persoalan pengelolaan sampah di tingkat desa.
“Kami mengapresiasi mahasiswa KKN yang telah membawa gagasan dan program terkait pengelolaan sampah. Persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, sehingga diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, PKK, dan mahasiswa. Kami berharap program yang disampaikan dapat memberikan manfaat dan bisa diterapkan secara berkelanjutan di masyarakat,” ujar Khairul Anam.
Setelah pemaparan program, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama peserta Pokja dan tamu undangan. Pemerintah desa, pihak kecamatan, Ibu-Ibu PKK, serta tokoh masyarakat menyambut positif berbagai gagasan yang disampaikan oleh mahasiswa KKN.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap pengetahuan dan keterampilan mengenai pengelolaan sampah dapat diteruskan oleh pengurus Pokja, kader PKK, dan tokoh masyarakat kepada warga di lingkungan masing-masing. Kolaborasi sembilan unit KKN bersama pemerintah desa, PKK, tokoh masyarakat, dan pihak kecamatan diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong terciptanya Desa Sambimulyo yang lebih bersih, sehat, dan mandiri dalam mengelola sampah.
Kegiatan sosialisasi kemudian ditutup dengan sesi foto bersama mahasiswa KKN dan Ibu-Ibu PKK. Momen tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus komitmen awal untuk mendukung keberlanjutan program pengelolaan sampah di Desa Sambimulyo.