Unmuh Jember Kembangkan TirtaSmart, Teknologi Cerdas Pantau Kualitas Air Berbasis Energi Surya
Bagaimana jika kualitas air bersih di desa bisa dipantau secara real-time, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada listrik PLN? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu persoalan yang coba dijawab Universitas Muhammadiyah Jember melalui pengembangan TirtaSmart, sebuah prototipe sistem cerdas pemantauan kualitas air berbasis Wireless Sensor Network (WSN), kecerdasan buatan, dan energi surya.
TirtaSmart dikembangkan melalui Program Hilirisasi Riset
Prioritas – Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026 dengan
pendanaan dari Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset
dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
(Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.
Pengembangan teknologi tersebut diketuai oleh Dr. Bagus
Setya Rintyarna, M.Kom. dari Universitas Muhammadiyah Jember. TirtaSmart
dirancang untuk menjawab persoalan pemantauan kualitas air di wilayah perdesaan
yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual dan berkala.
Kondisi tersebut membuat perubahan kualitas air berpotensi
terlambat diketahui. Melalui TirtaSmart, data dari sejumlah sensor dapat
dikumpulkan dan dikirim secara nirkabel sehingga kondisi air dapat dipantau
secara lebih cepat dan berkelanjutan.
“TirtaSmart kami arahkan bukan sekadar menjadi alat ukur kualitas air, tetapi menjadi sistem monitoring yang dapat bekerja secara berkelanjutan dan membantu pengelola air desa memperoleh informasi berbasis data untuk mengambil keputusan,” ujar Bagus.
TirtaSmart dikembangkan sebagai sebuah sistem yang
terintegrasi. Sensor yang ditempatkan pada sumber air akan mengukur sejumlah
parameter kualitas air. Data hasil pengukuran kemudian dikirim melalui jaringan
sensor nirkabel menuju sistem pengolahan dan ditampilkan melalui dashboard
monitoring.
Pada pengembangan tahun 2026, teknologi tersebut diperkuat
dengan sensor multi-parameter, sistem komunikasi WSN, gateway, sistem
kendali energi surya, serta dashboard monitoring.
Pengembangan juga dilakukan pada sisi kecerdasan sistem.
Jika prototipe sebelumnya menggunakan pendekatan weighted ensemble
classifier, TirtaSmart kini dikembangkan dengan algoritma Neural Network
untuk mengenali hubungan yang lebih kompleks dari data berbagai sensor.
Tidak hanya kualitas, sistem juga dikembangkan untuk memantau kuantitas air. Dengan demikian, TirtaSmart diharapkan dapat berkembang dari sekadar alat pembaca kondisi air menjadi instrumen pendukung pengambilan keputusan bagi pengelola air bersih desa.
Salah satu tantangan penerapan teknologi monitoring di
wilayah perdesaan adalah ketersediaan sumber listrik. Terlebih, lokasi sumber
air tidak selalu berada dekat dengan permukiman atau jaringan listrik.
Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan tim
mengintegrasikan sistem kendali energi surya ke dalam TirtaSmart.
Dengan memanfaatkan energi matahari, perangkat monitoring
diharapkan mampu bekerja lebih mandiri dan kontinu di lapangan tanpa sepenuhnya
bergantung pada jaringan listrik PLN.
Pengembangan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari prototipe sebelumnya yang telah mencapai Level 5 menuju Level 6–7. Tahapan tersebut diarahkan agar teknologi tidak hanya teruji secara teknis, tetapi juga dapat diuji dan didemonstrasikan dalam lingkungan operasional yang nyata.
Untuk memastikan teknologi benar-benar mampu bekerja di
kondisi lapangan, tim peneliti menjadikan Desa Sukogidri, Kabupaten Jember,
sebagai lokasi pengujian prototipe.
Pengujian dilakukan secara bertahap, mulai dari finalisasi
desain, pengujian fungsional, kalibrasi ulang sensor, instalasi prototipe,
hingga pengujian lapangan.
Sejumlah aspek akan menjadi perhatian, mulai dari kinerja
sensor dan jaringan WSN, stabilitas sistem energi surya, kontinuitas pengiriman
data, hingga keandalan sistem secara keseluruhan.
Sistem selanjutnya juga akan didemonstrasikan kepada
pengelola air desa sebagai pengguna akhir. Pelibatan pengguna menjadi bagian
penting dalam proses hilirisasi agar teknologi yang dikembangkan tidak hanya
unggul secara teknis, tetapi juga mudah digunakan dan benar-benar menjawab
kebutuhan masyarakat.
“Target kami adalah teknologi ini dapat digunakan oleh pengelola air desa secara mandiri. Informasi kualitas air harus bisa dibaca dengan mudah, sehingga teknologi benar-benar hadir sebagai alat bantu pengelolaan air, bukan justru menambah kerumitan bagi pengguna,” jelas Bagus.
TirtaSmart merupakan hasil pengembangan berkelanjutan, bukan
teknologi yang dibangun dari nol pada 2026. Tim telah melakukan rangkaian
penelitian sejak 2021, khususnya dalam bidang pemantauan kualitas air
berbasis WSN, analitik data, dan sistem cerdas.
Riset sebelumnya telah menghasilkan prototipe yang melalui
proses kalibrasi sensor, pengujian fungsional, serta validasi pada lingkungan
relevan hingga mencapai TKT Level 5.
Sejumlah hasil penelitian tersebut juga telah menghasilkan Hak
Kekayaan Intelektual (HKI), termasuk teknologi monitoring kualitas air
berbasis WSN dan ensemble learning.
Melalui program tahun 2026, fokus penelitian kemudian bergeser lebih jauh menuju hilirisasi, yakni menyempurnakan teknologi yang telah dikembangkan agar semakin dekat dengan kebutuhan pengguna dan siap diterapkan pada lingkungan nyata.
Jika seluruh tahapan pengujian dan validasi berjalan sesuai
target, TirtaSmart memiliki peluang untuk dikembangkan dan direplikasi di
wilayah lain.
Teknologi ini berpotensi dimanfaatkan oleh pemerintah desa,
BUMDes, KPSPAMS, maupun lembaga lain yang memiliki tanggung jawab dalam
pengelolaan layanan air bersih perdesaan.
Penggunaan komponen teknologi yang tersedia di pasar juga
menjadi salah satu pertimbangan agar sistem relatif mudah dikembangkan kembali
sesuai kebutuhan di lapangan.
Dalam jangka panjang, hasil pengujian TirtaSmart dapat
menjadi pijakan untuk membangun kerja sama dengan pemerintah daerah, BUMDes,
maupun lembaga pengelola air bersih lainnya.
Bagi Universitas Muhammadiyah Jember, pengembangan
TirtaSmart menjadi salah satu contoh bagaimana hasil riset perguruan tinggi
dapat didorong keluar dari ruang laboratorium dan dihadirkan untuk menjawab
persoalan masyarakat.
Melalui dukungan Program Hilirisasi Riset Prioritas Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026, TirtaSmart diharapkan
tidak berhenti sebagai prototipe penelitian. Lebih jauh, teknologi ini
ditargetkan menjadi teknologi tepat guna yang membantu desa mengelola
layanan air bersih secara lebih cerdas, mandiri, dan berkelanjutan.













