Selasa, 03 Maret 2026

Unmuh Jember Beri Pendampingan Kepemimpinan Remaja Berbasis Nilai Islam di Panti Asuhan Budi Mulia Jember

Upaya membentuk generasi muda yang berkarakter dan berjiwa pemimpin terus dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada Jumat, (13/2/2026), di Panti Asuhan Muhammadiyah Budi Mulia Jember. Kegiatan bertajuk Pendampingan Kepemimpinan Remaja Berbasis Nilai-Nilai Islam Kemuhammadiyahan sebagai Model Leadership Smart Social Care ini menjadi bagian dari skema Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Internal 2025/2026 Program Kemitraan Masyarakat Stimulus (PKMS).

Program ini diinisiasi oleh tim pengusul yang terdiri dari Dr. Akbar Maulana, S.IP., M.Si. dan Dr. Sudahri, S.Sos., M.I.Kom., dengan melibatkan mahasiswa Nina Anggel Febrianti dan Achmad Rifqi Hidayat sebagai bagian dari implementasi program. Kolaborasi ini memperkuat integrasi antara tridarma perguruan tinggi dan penguatan kapasitas kelembagaan panti asuhan.

Program tersebut lahir dari keprihatinan terhadap berbagai tantangan yang dihadapi remaja panti, mulai dari keterbatasan figur teladan, rendahnya kepercayaan diri, minimnya pengalaman kepemimpinan, hingga kurangnya ruang aktualisasi diri. Di tengah dinamika era governance modern yang menuntut pemimpin adaptif, kolaboratif, dan berintegritas, kebutuhan akan pembinaan kepemimpinan yang terstruktur menjadi semakin mendesak. Terlebih, panti asuhan sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah belum memiliki model pembinaan kepemimpinan yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam Kemuhammadiyahan secara sistematis.

Melalui pendekatan berbasis nilai amanah, tanggung jawab sosial, dan keteladanan, konsep Leadership Smart Social Care diperkenalkan sebagai model kepemimpinan sosial yang empatik, responsif, dan relevan dengan perkembangan era digital. Pelaksanaan kegiatan dirancang melalui lima tahapan utama, yakni analisis kebutuhan, pelatihan kepemimpinan, pendampingan praktik melalui simulasi kegiatan panti, penyusunan modul dan model pendampingan, serta evaluasi komprehensif menggunakan observasi, pre-post test, dan wawancara.

Pendekatan experiential learning menjadi metode utama dalam proses pendampingan. Para remaja tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga belajar melalui praktik langsung, refleksi, dan umpan balik yang berkelanjutan. Luaran kegiatan ini ditargetkan mencakup publikasi media massa, artikel ilmiah pada jurnal terindeks Sinta 4, modul pelatihan Leadership Smart Social Care, serta satu produk Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa model pendampingan kepemimpinan remaja berbasis nilai Islam Kemuhammadiyahan.

Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat karakter remaja panti sebagai calon pemimpin muda yang berakhlak, berintegritas, dan siap menghadapi dinamika sosial di era modern, sekaligus menjadi model penguatan kepemimpinan berbasis nilai yang dapat direplikasi di berbagai Amal Usaha Muhammadiyah lainnya.

  

Resmi Terakreditasi Unggul, Prodi Ilmu Pemerintahan Unmuh Jember Proyeksikan Program Magister dan Perkuat Dampak Tata Kelola Lokal

Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Jember resmi meraih predikat Unggul berdasarkan SK LAMSPAK Nomor 022/AK.03.05/2026 dengan masa berlaku 2 Desember 2025 hingga 2 Desember 2030. Capaian ini menjadi tonggak penting dalam penguatan mutu akademik sekaligus penegasan komitmen prodi dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang adaptif dan berdampak di bidang tata kelola pemerintahan. 

Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan, Dr. Iffan Gallant El Muhammady, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja panjang yang telah dimulai sejak 2022. Proses tersebut diawali dengan evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum lama, yang dinilai perlu disesuaikan dengan perkembangan keilmuan dan kebutuhan pemangku kepentingan. Melalui pendampingan Asosiasi Ilmu Pemerintahan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AIPPTM), Asosiasi Dosen Ilmu Pemerintahan (ADIPSI), dan Kesatuan Program Studi Ilmu Pemerintahan Indonesia (KAPSIPI), serta forum diskusi dengan stakeholder internal dan eksternal, prodi berhasil menyusun kurikulum baru yang disahkan pada 2024. Kurikulum tersebut kemudian menjadi fondasi utama dalam proses akreditasi hingga akhirnya berhasil meraih predikat Unggul.

Menurut Dr. Iffan, raihan ini bukan akhir, melainkan awal dari kerja strategis menuju akreditasi berikutnya pada 2030. Prodi telah menyiapkan perencanaan jangka menengah hingga lima tahun ke depan, termasuk melakukan perbaikan atas sejumlah rekomendasi asesor, khususnya dalam aspek internasionalisasi. Ke depan, peningkatan kolaborasi internasional bagi dosen dan mahasiswa menjadi prioritas agar tidak hanya satu atau dua individu yang terlibat, melainkan lebih luas dan sistematis. Selain itu, paradigma pengelolaan program juga akan bergeser dari berbasis anggaran menjadi berbasis data dan kebutuhan riil. Artinya, setiap kegiatan dirancang berdasarkan analisis yang kuat demi mencapai target mutu yang lebih tinggi.

Langkah strategis lainnya adalah rencana pembukaan Program Magister (S2) Ilmu Pemerintahan yang akan didaftarkan pada Maret 2026. Rencana ini didasarkan pada hasil survei kebutuhan di wilayah Tapal Kuda yang menunjukkan tingginya permintaan terhadap lulusan S2 Ilmu Pemerintahan, terutama dari kalangan aparatur pemerintahan daerah. Jika proses berjalan sesuai rencana, izin operasional diharapkan terbit pada Juli dan penerimaan mahasiswa baru dapat dimulai Agustus 2026.

Untuk menghidupkan suasana akademik, Prodi Ilmu Pemerintahan berencana meluncurkan forum akademik bulanan 'Raboan' sekaligus menghidupkan kembali diskusi publik 'Cangkir' (Cangkruk dan Berfikir). Forum ini akan menjadi ruang diskusi kepakaran dosen dan mahasiswa dalam membahas isu-isu strategis seperti administrasi publik, tata kelola pemerintahan, kebijakan publik, hingga politik dan sosial politik. Melalui forum ini, prodi ingin membangun budaya akademik yang dinamis dan terbuka, sekaligus memperkuat identitas keilmuan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Lebih jauh, Dr. Iffan menegaskan bahwa capaian Unggul harus berdampak nyata bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa dosen tidak boleh hanya berada di “menara gading”, tetapi harus menjadi intelektual yang hadir di tengah masyarakat, memberikan sumbangsih pemikiran dan strategi dalam menjawab persoalan kebijakan publik. Visi keilmuan prodi yang mengusung adaptive local governance diarahkan untuk memperkuat tata kelola pemerintahan lokal, termasuk melalui kerja sama dengan pusat studi desa dan pengembangan program pemberdayaan di tingkat desa.

Dengan predikat Unggul yang kini disandang hingga 2030, Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Jember optimistis mampu memperluas jejaring, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menghadirkan kontribusi nyata dalam pembangunan pemerintahan yang adaptif dan berkelanjutan di tingkat lokal maupun nasional.

Rabu, 25 Februari 2026

Mahasiswa KKN Tematik Posko 17 Unmuh Jember Resmi Mengabdi di Desa Tutul, Paparkan Program Kerja dan Hadirkan Inovasi Biopori

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Posko 17 Universitas Muhammadiyah Jember menggelar seremonial pembukaan dan pemaparan program kerja pada Senin (2/2/2026) di Balai Desa Tutul, Kecamatan Balung. Kegiatan ini menjadi langkah awal pelaksanaan KKN sekaligus bentuk koordinasi resmi dengan pemerintah desa.

Acara dihadiri Kepala Desa Tutul beserta perangkat desa dan seluruh anggota KKN Posko 17. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan diri satu per satu beserta program studi masing-masing guna mempermudah koordinasi selama masa pengabdian.

Koordinator KKN Tematik Posko 17 menyampaikan bahwa program kerja yang disusun merupakan hasil observasi lapangan dan identifikasi kebutuhan desa. Program tersebut mencakup bidang pendidikan, lingkungan, serta sosial kemasyarakatan. “Seluruh program kami rancang untuk mendukung pembangunan desa dan akan dilaksanakan melalui koordinasi bersama pemerintah desa,” ujarnya.

Kepala Desa Tutul dalam sambutannya mengapresiasi keterbukaan mahasiswa dalam memaparkan rencana kerja secara terstruktur. Ia berharap seluruh kegiatan dapat berjalan lancar dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Seremonial ini menjadi penanda resmi dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa KKN Tematik Posko 17 di Desa Tutul, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa.

Sebagai implementasi program lingkungan, mahasiswa KKN Tematik Posko 17 juga melaksanakan pembuatan lubang biopori di sejumlah titik Desa Tutul. Kegiatan ini difokuskan sebagai solusi sederhana dan ramah lingkungan untuk mengatasi genangan air yang kerap muncul saat musim hujan, termasuk di area Balai Desa.

Lubang biopori merupakan lubang resapan berbentuk silinder vertikal dengan diameter sekitar 10–15 cm dan kedalaman kurang lebih 100 cm. Fungsinya untuk mempercepat penyerapan air hujan ke dalam tanah sekaligus menjadi media pengolahan sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan rumah tangga.

Kegiatan ini melibatkan mahasiswa KKN bersama perangkat desa dan warga setempat. Pembuatan dilakukan menggunakan bor tanah manual, kemudian lubang diisi sampah organik dan ditutup dengan penutup khusus agar tetap aman.

Program biopori tidak hanya membantu mengurangi genangan air, tetapi juga menghasilkan kompos alami dari proses penguraian sampah organik. Salah satu warga Desa Tutul, Ibu Siti, mengungkapkan manfaat yang dirasakan. “Biasanya kalau hujan deras, air sering menggenang di halaman rumah. Setelah ada biopori, air lebih cepat meresap. Sampah dapur juga bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Melalui program ini, mahasiswa berharap masyarakat dapat melanjutkan pembuatan biopori secara mandiri di lingkungan masing-masing. Kolaborasi antara mahasiswa dan warga diharapkan mampu menciptakan perubahan kecil yang berdampak besar bagi kelestarian lingkungan Desa Tutul secara berkelanjutan.

Mahasiswa KKN Unmuh Jember Lakukan Studi Lapangan UMKM Tempe di Desa Rambipuji

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Jember melaksanakan studi lapangan pada sejumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) produksi tempe di Desa Rambipuji. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekonomi lokal sekaligus pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa di tengah masyarakat.

Desa Rambipuji diketahui memiliki belasan produsen tempe aktif yang menjalankan usaha secara mandiri. Tingginya jumlah produsen membuat distribusi tempe dari desa ini tidak hanya beredar di wilayah lokal, tetapi juga menjangkau kota-kota lain di luar Jember, mengingat ketatnya persaingan pasar tempe di kawasan perkotaan.

Salah satu UMKM yang menjadi lokasi studi adalah usaha milik Bu Ani. Produsen ini menjalankan produksi setiap hari dengan kapasitas sekali produksi mencapai 90 kilogram kedelai. Dari jumlah tersebut dihasilkan tempe dengan berat sekitar 1,25 kilogram per balok, dengan total produksi kurang lebih 100 potong per hari.

Mahasiswa KKN tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga menyaksikan langsung proses fermentasi dan penyimpanan tempe, serta membantu penimbangan dan pengemasan kedelai. Proses pematangan tempe memerlukan waktu dua hingga tiga hari, tergantung kondisi lingkungan. Tahap perebusan kedelai pun dipengaruhi kualitas bahan bakar; kayu bakar kering dinilai mampu mempercepat proses dibandingkan kayu yang masih basah.

Secara umum, tahapan produksi tempe dimulai dari perendaman kedelai, perebusan, penggilingan, perendaman ulang, perebusan kembali, penggilingan kedua, hingga penambahan ragi sebelum fermentasi berlangsung. Komposisi ragi yang digunakan adalah satu sendok untuk setiap satu kilogram kedelai agar fermentasi berjalan optimal.

Usaha tempe milik Bu Ani telah berjalan sekitar 10 tahun dan menjadi sumber penghasilan utama keluarga, selain usaha ternak yang dijalankan bersamaan. Dalam satu bulan, UMKM ini mampu mencatat omzet kotor sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta. Produksi dilakukan setiap hari dan hanya berhenti pada malam takbiran, dengan dukungan satu orang karyawan dalam operasionalnya.

Melalui studi lapangan ini, mahasiswa KKN memperoleh gambaran nyata mengenai peran strategis UMKM tempe dalam menopang perekonomian desa. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap potensi ekonomi lokal sekaligus mendorong pengembangan UMKM sebagai sektor penting dalam pembangunan desa yang berkelanjutan.

Mahasiswa KKN Hadiri MMD Tahap I Bersama Mahasiswa Ners Unmuh Jember di Desa Rambigundam

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) turut menghadiri kegiatan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) Tahap I yang diselenggarakan mahasiswa Profesi Ners Universitas Muhammadiyah Jember di Desa Rambigundam. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam mengkaji kondisi kesehatan masyarakat sekaligus menyusun rencana intervensi berbasis kebutuhan riil warga.

MMD Tahap I dilaksanakan dengan melibatkan perangkat desa dan unsur masyarakat setempat. Dalam forum tersebut, mahasiswa melakukan pengkajian awal melalui wawancara dan pengumpulan data demografi untuk memetakan kondisi sosial serta kesehatan warga Desa Rambigundam yang terdiri atas lima dusun, yakni Dusun Dukuhsia, Satrean, Gayam, Krajan Lor, dan Krajan Kidul.

Dari sisi sosial budaya, mayoritas penduduk merupakan suku Jawa (80%) dan suku Madura (20%). Komposisi usia menunjukkan 50,3% warga berada pada usia dewasa, sementara 49,7% lainnya merupakan lansia. Tingkat pendidikan masyarakat umumnya berada pada jenjang SD, SMP, dan SMA, dengan mata pencaharian yang didominasi oleh wiraswasta, petani, dan pedagang.

Hasil pengkajian mengidentifikasi sepuluh jenis penyakit yang terdapat di masyarakat, dengan hipertensi sebagai kasus paling dominan. Kebiasaan warga dalam mencari pengobatan menunjukkan kecenderungan untuk mengakses fasilitas kesehatan ketika mengalami keluhan, didukung jarak layanan kesehatan yang relatif terjangkau.

Berdasarkan temuan tersebut, mahasiswa Profesi Ners menyusun Plan of Action (POA) dengan fokus pada tiga permasalahan utama, yakni defisit kesehatan komunitas, hipertensi, dan kesehatan lansia. Program yang direncanakan meliputi penyuluhan tentang hipertensi, penguatan Posyandu Lansia, edukasi pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara rutin, serta peningkatan kepatuhan minum obat sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Dalam sesi diskusi, masyarakat menanyakan cara menekan hipertensi yang sesuai dengan kondisi ekonomi warga. Mahasiswa menjelaskan bahwa pengendalian tekanan darah dapat dilakukan melalui perubahan pola hidup sehat yang sederhana dan terjangkau, seperti mengurangi konsumsi garam, rutin beraktivitas fisik, serta memanfaatkan layanan pemeriksaan yang tersedia. Warga juga mengusulkan adanya pemeriksaan kesehatan gratis di tingkat dusun, yang dinilai dapat direalisasikan dengan pengkerucutan sasaran agar pelaksanaannya lebih efektif dan tepat guna.

Kehadiran mahasiswa KKN dalam MMD Tahap I ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi lintas program, memperkaya pemahaman terhadap kondisi masyarakat, serta menjadi landasan sinergi program kesehatan selama masa pengabdian di Desa Rambigundam.

Mahasiswa KKN Unmuh Jember Pasang Plang Peringatan Rawan Longsor di Balung Kulon

Upaya mitigasi bencana berbasis masyarakat dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Jember melalui program pemasangan plang peringatan rawan longsor di Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember. Kegiatan ini dilaksanakan setelah observasi lapangan dan pemetaan titik rawan longsor pada 2 Februari 2026.

Hasil pengamatan menunjukkan sejumlah titik di bantaran Sungai Bedadung mengalami pengikisan tanah serta muncul retakan pada permukaan tebing. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kontur lereng yang curam, struktur tanah yang mudah tererosi, serta meningkatnya intensitas curah hujan saat musim penghujan. Situasi ini dinilai berpotensi menimbulkan longsor yang membahayakan warga maupun pengguna jalan yang melintas di sekitar sungai.

Menanggapi temuan tersebut, mahasiswa KKN menyusun program kerja pemasangan plang peringatan di titik-titik strategis yang memiliki tingkat risiko tinggi, khususnya area yang berdekatan dengan permukiman dan jalur aktivitas warga. Pemasangan plang ini merupakan bentuk mitigasi non-struktural sekaligus peringatan visual agar masyarakat lebih waspada saat beraktivitas di kawasan rawan longsor, terutama ketika debit air sungai meningkat.

Kekhawatiran terhadap potensi longsor juga dirasakan warga sekitar. Ibu Eva, warga RT 6 RW 3 Desa Balung Kulon, mengungkapkan kecemasannya saat musim hujan tiba. “Kami merasa takut dan khawatir kalau musim hujan datang, karena takut terjadi longsor lagi di sekitar sungai,” ujarnya.

Secara historis, wilayah RT 6 RW 3 pernah mengalami longsor sekitar dua tahun lalu yang menyebabkan rumah warga di bantaran sungai hanyut terbawa arus. Bahkan, dua minggu sebelum observasi dilakukan, longsor kembali terjadi di bagian utara Sungai Bedadung. Longsor umumnya dipicu oleh meningkatnya debit air yang mengikis tebing sungai, kemudian diperparah saat air surut dan material alami seperti bambu hanyut terbawa arus sehingga memperlemah struktur tanah.

Selain mengancam permukiman, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara yang melintas di jalan sekitar sungai. Longsor dapat menyebabkan badan jalan ambles atau licin, sehingga berpotensi membuat pengguna jalan terjatuh ke sungai.

Melalui pemasangan plang peringatan ini, mahasiswa KKN berharap dapat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya longsor. Program ini menjadi bagian dari upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, sekaligus bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung keselamatan warga dan pelestarian lingkungan di kawasan Sungai Bedadung.

Viral dengan Canyonering-nya, KKN Unmuh Jember Manfaatkan Air Terjun Bringin Onjeng Bangkitkan Wisata Lokal

Pesona Air Terjun Bringin Onjeng kian dikenal publik setelah aktivitas canyonering yang ditawarkan di lokasi tersebut ramai diperbincangkan. Momentum ini turut dimanfaatkan mahasiswa KKN Tematik Kelompok 1 Desa Klungkung Tahun 2026 untuk mendorong pelestarian sekaligus pengembangan potensi wisata alam setempat.

Melalui program kerja tematik, mahasiswa berfokus pada promosi dan publikasi potensi wisata desa yang dinilai masih belum banyak diketahui masyarakat luar. Kegiatan dilakukan dalam bentuk pembuatan konten informasi wisata, dokumentasi kegiatan, hingga penyebaran publikasi digital mengenai daya tarik Air Terjun Bringin Onjeng.

Langkah tersebut didasarkan pada hasil observasi lapangan dan wawancara dengan warga yang mengungkapkan perlunya peningkatan promosi. Potensi alam yang asri dan jalur canyonering yang menantang dinilai mampu menjadi daya tarik wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah.

Salah satu warga Desa Klungkung, Bu Jumati, yang rumahnya dimanfaatkan sebagai area parkir wisatawan, menyampaikan harapannya agar air terjun tersebut semakin dikenal luas. Ia menilai kehadiran mahasiswa KKN Tematik memberikan dampak positif, khususnya dalam membantu promosi serta mendukung upaya pelestarian dan pengembangan wisata desa.

Tak hanya promosi, mahasiswa juga mendorong pemanfaatan kawasan air terjun sebagai media pembelajaran lingkungan bagi pelajar dan pemuda desa. Pengunjung tidak hanya diajak menikmati keindahan alam, tetapi juga diedukasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam melalui pengelolaan wisata yang bertanggung jawab.

Sebagai informasi, tiket masuk Air Terjun Bringin Onjeng dibanderol Rp5.000 per orang. Selain wisata alam, tersedia pula paket canyonering yang digelar setiap hari Minggu dengan tarif Rp165.000 melalui sistem pemesanan. Pengelola bersama masyarakat setempat terus berupaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan agar potensi wisata ini dapat berkembang secara berkelanjutan serta menjadi sumber penguatan ekonomi desa.

Survei UMKM Desa Gugut, Mahasiswa KKN Unmuh Jember Temukan Kendala Promosi dan Pemasaran

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 08 Universitas Muhammadiyah Jember melakukan survei terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di empat dusun Desa Gugut pada Kamis (30/1/2025). Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menyusun program kerja yang berbasis kebutuhan riil masyarakat.

Survei dilakukan dengan metode wawancara langsung dan observasi aktivitas usaha di lapangan. Dari hasil pendataan tersebut, mahasiswa menemukan bahwa persoalan utama yang dihadapi pelaku UMKM bukan terletak pada kualitas produk, melainkan pada aspek promosi dan pemasaran yang masih terbatas.

Mayoritas UMKM di Desa Gugut bergerak di bidang usaha meubel yang tersebar di Dusun Krajan, Dukuh, dan Jereng Barat. Selain itu, terdapat pula usaha olahan kacang-kacangan yang diproduksi secara mandiri oleh warga setempat. Potensi produk dinilai cukup baik dan memiliki daya saing, namun belum didukung strategi pemasaran yang optimal.

Salah satu pelaku UMKM, Ibu Lulu, anak dari pemilik usaha meubel di Dusun Krajan, mengungkapkan bahwa penjualan mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. “Sekarang penjualan menurun karena promosi kurang dan pembeli tidak banyak yang tahu usaha kami,” ujarnya.

Humas KKN Kelompok 08, Putri Ironita, menjelaskan bahwa survei ini dilakukan agar program kerja yang dirancang benar-benar tepat sasaran. “Kami ingin memastikan program yang kami jalankan sesuai kebutuhan masyarakat. Salah satu rencana kami adalah membantu promosi UMKM melalui pemanfaatan aplikasi Mall Desa sebagai media pemasaran digital bagi pelaku usaha,” jelasnya.

Temuan tersebut menjadi pijakan awal bagi mahasiswa KKN dalam merancang program pendampingan UMKM, khususnya di bidang digitalisasi promosi dan perluasan jaringan pemasaran. Diharapkan, langkah ini dapat mendorong peningkatan penjualan sekaligus memperkuat potensi ekonomi masyarakat Desa Gugut secara berkelanjutan.

Upaya Deteksi Dini Penyakit, Mahasiswa KKN Unmuh Jember Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Buruh Edamame dan Okra

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 05 Universitas Muhammadiyah Jember menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi buruh edamame dan okra di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, pada Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap kesehatan masyarakat, khususnya pekerja sektor pertanian yang rentan mengabaikan pemeriksaan rutin.

Program ini difokuskan pada deteksi dini penyakit tidak menular, terutama hipertensi dan diabetes. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah secara cuma-cuma. Kegiatan yang dimulai sejak sore hari tersebut diikuti oleh 10 buruh dari berbagai rentang usia, yang tampak antusias mengikuti rangkaian pemeriksaan.

Ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa pemeriksaan ini bertujuan membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini. Ia menuturkan bahwa banyak kasus tekanan darah tinggi dan gula darah yang tidak terdeteksi karena kurangnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan berkala. “Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya, terutama bagi para pekerja yang aktivitasnya padat setiap hari,” ujarnya.

Selain pemeriksaan, mahasiswa juga memberikan edukasi singkat mengenai pentingnya pola hidup sehat, seperti menjaga asupan makanan bergizi seimbang, meningkatkan aktivitas fisik, serta rutin memeriksakan kesehatan. Edukasi ini diharapkan dapat menjadi langkah preventif agar risiko penyakit tidak menular dapat ditekan.

Dari hasil pemeriksaan, ditemukan bahwa 3 dari 10 peserta memiliki tekanan darah di atas batas normal, sementara 2 peserta lainnya menunjukkan kadar gula darah yang tinggi. Temuan tersebut menjadi perhatian sekaligus pengingat akan pentingnya kesadaran kesehatan di kalangan pekerja sektor informal.

Salah seorang peserta mengaku bersyukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menyampaikan bahwa ini merupakan pertama kalinya ia memeriksakan tekanan darah. Menurutnya, layanan yang mudah diakses dan tanpa biaya sangat membantu, mengingat keterbatasan waktu dan akses fasilitas kesehatan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Desa Jubung terhadap pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan rutin. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat.

Aksi Tanggap Darurat Mahasiswa Ners Unmuh Jember Bantu Korban Banjir di Curahmalang

Respons cepat ditunjukkan mahasiswa Profesi Ners A16 Kelompok 3B Universitas Muhammadiyah Jember dalam membantu korban banjir yang melanda Desa Curahmalang, Kamis malam (12/2/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Banjir yang menggenangi Dusun Krajan, Gumawang, dan Gumuksari memaksa warga meninggalkan rumah demi keselamatan.

Dalam situasi darurat tersebut, mahasiswa berkolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Satpol PP, serta mahasiswa Unmuh Jember yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sinergi lintas sektor ini difokuskan pada percepatan evakuasi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan warga dengan kondisi kesehatan khusus.

Para pengungsi dievakuasi ke Desa Gumelar dan ditempatkan di masjid setempat sebagai lokasi pengungsian sementara. Di lokasi tersebut, mahasiswa turut melakukan pemantauan kondisi kesehatan, membantu distribusi makanan dan obat-obatan, serta memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi selama masa tanggap darurat.

Keesokan harinya, Jumat (13/2/2026), setelah debit air mulai surut, mahasiswa kembali membantu pemindahan kelompok rentan dari masjid Desa Gumelar menuju dapur umum di masjid Desa Rowotamtu. Langkah ini dilakukan untuk mempermudah distribusi logistik dan pelayanan kebutuhan harian para pengungsi.

Tak hanya terlibat dalam proses evakuasi, mahasiswa Ners juga turun langsung membantu kerja bakti membersihkan Balai Desa Curahmalang yang terdampak banjir. Bersama perangkat desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas, mereka bergotong royong memulihkan fasilitas umum agar segera dapat digunakan kembali untuk pelayanan masyarakat.

Kepala Urusan Perencanaan Desa Curahmalang, Eki Ardiansyah, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan mahasiswa dalam masa tanggap darurat hingga pascabencana. Ia menjelaskan bahwa genangan air sempat bertahan beberapa hari setelah puncak banjir, sehingga aktivitas warga belum sepenuhnya pulih. “Alhamdulillah, pada masa tanggap darurat hingga pascabencana kami menerima banyak bantuan. Mahasiswa profesi Ners turut berperan aktif baik saat penanganan bencana maupun fase pasca banjir. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kepedulian seluruh pihak,” ujarnya.

Melalui keterlibatan aktif ini, mahasiswa Profesi Ners Unmuh Jember tidak hanya mengaplikasikan kompetensi keperawatan komunitas dan kegawatdaruratan, tetapi juga meneguhkan nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi situasi darurat di tengah masyarakat.

Unmuh Jember Gelar Pelatihan Dokter Kecil di SD Muhammadiyah 1 Jember, Tanamkan Budaya Hidup Sehat Sejak Dini

Upaya menanamkan perilaku hidup sehat sejak usia sekolah dasar kembali dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Jember melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Implementasi Health Promotion Model Melalui Pemberdayaan Dokter Kecil untuk Meningkatkan Perilaku Hidup Sehat.” Kegiatan ini diselenggarakan di SD Muhammadiyah 1 Jember pada Jumat (13/2/2026).

Pelatihan dokter kecil ini dibuka secara resmi oleh Wakil Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Jember, Ibu Danik Prastiyani, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap siswa yang mengikuti pelatihan mampu menjadi pelopor hidup sehat sekaligus teladan bagi teman-temannya di lingkungan sekolah.

Kegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan siswa yang meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, tes buta warna, serta pemeriksaan visus mata untuk mengetahui ketajaman penglihatan. Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi kondisi kesehatan sejak dini sekaligus meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh.

Selanjutnya, peserta mendapatkan pemaparan materi mengenai konsep dan peran dokter kecil yang disampaikan oleh Ns. Sri Wahyuni Adriani, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.Kom. Materi menekankan pentingnya pemberdayaan siswa dalam membangun budaya hidup bersih dan sehat di sekolah, mulai dari kebiasaan mencuci tangan hingga kepedulian terhadap kondisi kesehatan teman sebaya.

Kegiatan pengabdian ini diketuai oleh Ns. Sri Wahyuni Adriani dengan anggota tim pengusul Dr. Hana Puspita Eka Firdaus, S.Pd., M.Pd., serta didukung oleh tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember yang turut aktif dalam pelaksanaan kegiatan.

Pada sesi praktik, siswa mengikuti simulasi pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), penanganan tersedak, pingsan, dan mimisan. Para peserta juga mempraktikkan cara mencuci tangan dan menggosok gigi yang benar sesuai standar kesehatan. Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme, dengan siswa aktif bertanya dan mencoba langsung setiap simulasi yang diberikan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan program dokter kecil dapat berjalan secara berkelanjutan dan mampu membentuk generasi yang sadar kesehatan, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di rumah dan masyarakat sekitar.

Selasa, 24 Februari 2026

Fakultas Pertanian Unmuh Jember Berdayakan LKSA Nurul Husna Lewat Aquaponik, Dukung Kemandirian Pangan dan Ekonomi

Komitmen terhadap kemandirian pangan dan penguatan ekonomi lembaga sosial kembali diwujudkan oleh Universitas Muhammadiyah Jember. Melalui program hibah RISETMU, dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Pertanian melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pemberdayaan LKSA Nurul Husna Jember melalui Pemanfaatan Lahan Berbasis Aquaponik (Kangkung, Ikan Lele, dan Ikan Nila) untuk Mendukung Kemandirian Pangan B2SA dan Ekonomi Lembaga” pada Minggu (15/2/2026). Kegiatan ini berlangsung di LKSA Nurul Husna Jember, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember.

Program ini mengoptimalkan lahan yang tersedia di lingkungan LKSA melalui sistem aquaponik terpadu yang mengombinasikan budidaya kangkung dengan ikan lele dan ikan nila. Sistem aquaponik dipilih karena hemat air, ramah lingkungan, serta mampu menghasilkan pangan hewani dan nabati secara bersamaan dalam satu ekosistem budidaya yang berkelanjutan.

Ketua pelaksana kegiatan, Ir. Wiwit Widiarti, M.P., menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan konsumsi internal lembaga, tetapi juga dirancang sebagai sarana edukasi kewirausahaan. “Melalui sistem aquaponik, mitra tidak hanya belajar teknik budidaya, tetapi juga manajemen produksi hingga pengolahan hasil untuk meningkatkan nilai tambah,” ujarnya.

Sebagai bentuk hilirisasi produk, hasil panen ikan lele dan ikan nila diolah menjadi nugget ikan yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dan daya simpan lebih lama. Sementara itu, kangkung segar dikreasikan menjadi stik kangkung yang inovatif, kompetitif, dan memiliki potensi pasar. Pendekatan ini mendorong terciptanya konsep pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) sekaligus membuka peluang usaha produktif bagi lembaga.

Pelatihan yang diberikan mencakup teknik budidaya kangkung aquaponik dan perawatan sistem, manajemen pakan dan kualitas air, teknik pengolahan nugget ikan dan stik kangkung, pengemasan produk yang higienis dan menarik, analisis usaha sederhana, hingga pemanfaatan media sosial untuk memperluas jaringan pemasaran. Dengan pendekatan komprehensif ini, pengelola dan anak-anak asuh tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga wawasan kewirausahaan yang aplikatif.

Program ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana berbasis ilmu pengetahuan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Melalui kolaborasi akademisi dan lembaga sosial, langkah pemberdayaan di LKSA Nurul Husna diharapkan menjadi inspirasi bagi lembaga lainnya dalam membangun kemandirian pangan dan ekonomi secara berkelanjutan.

Minggu, 22 Februari 2026

Abdul Mu'ti di Kajian Ramadhan PWM Jatim di Unmuh Jember, Bahas Supremasi Ilmu Jadi Kunci Manusia sebagai Khalifah

Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) pada Sabtu (21/2/2026) menghadirkan Prof. Abdul Mu’ti yang mengupas secara mendalam konsep manusia sebagai khalifah dalam perspektif keislaman dan pendidikan. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi tidak bisa dilepaskan dari ilmu pengetahuan.

Menurutnya, dalam sejarah Islam, istilah khalifah selalu dikaitkan dengan kepemimpinan yang tidak hanya bersifat pemerintahan (government), tetapi juga memiliki otoritas keagamaan. Para pemimpin pasca Khulafaur Rasyidin menggunakan berbagai gelar seperti khalifah, sultan, atau malik, namun esensinya tetap merujuk pada tanggung jawab memimpin umat dengan landasan nilai-nilai agama.

Prof. Mu’ti menjelaskan bahwa manusia diangkat menjadi khalifah bukan semata-mata karena kesalehan ritual, tetapi karena kapasitas intelektualnya. Ia merujuk pada kisah penciptaan Nabi Adam, ketika Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam sebuah simbol ilmu pengetahuan yang tidak mampu dijawab oleh malaikat. 

“Adam menjadi khalifah karena ilmunya. Dari sinilah Islam menempatkan supremasi ilmu di atas sekadar kesalehan ibadah,” tegasnya.

Ia menguraikan bahwa manusia memiliki tiga potensi utama sebagai makhluk rohaniah, yakni akal (fitratul ‘aql), hati (fitratul qalb), dan fitrah beragama (fitrah ad-din). Ketiganya menjadi perangkat yang membimbing manusia dalam mengelola nafsu dan menjalankan tanggung jawab kekhalifahan. Tanpa pengelolaan yang benar, nafsu dapat menjerumuskan pada kerusakan; namun jika dituntun oleh akal dan agama, ia menjadi energi untuk menciptakan kesejahteraan.

Dalam konteks pendidikan, Prof. Mu’ti menekankan dua fungsi utama pendidikan: fungsi konservatif dan progresif. Fungsi konservatif menjaga dan mewariskan nilai-nilai fundamental seperti tauhid dan akhlak mulia. Sementara fungsi progresif membekali generasi dengan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan visioner agar mampu menjawab tantangan zaman.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan ilmu dan teknologi termasuk rekayasa genetika dan kecerdasan buatan harus tetap berada dalam koridor etika dan ketentuan Ilahi. Manusia memang mampu berinovasi, namun tetap memiliki batas sebagai hamba (‘abdullah). Di sinilah keseimbangan antara peran sebagai khalifah dan sebagai hamba menjadi penting.

Menutup paparannya, Prof. Mu’ti menegaskan bahwa misi kekhalifahan harus melahirkan rahmat, bukan kerusakan. Ia merujuk pada dua sifat Allah yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, sebagai teladan kepemimpinan. 

“Sebagai khalifah, manusia harus menghadirkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi seluruh alam,” ujarnya.

Melalui kajian tersebut, peserta diajak memahami bahwa tugas kekhalifahan bukan sekadar konsep teologis, melainkan panggilan untuk membangun peradaban berbasis ilmu, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Wagub Emil Elestianto Dardak: Ekoteologi Bukan Teori, tapi Tanggung Jawab Menjaga Bumi

Kegiatan Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember pada Sabtu (21/2/2026), menghadirkan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang mewakili Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Dalam sambutannya, Emil menegaskan bahwa tema Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan bukan sekadar wacana akademik, melainkan refleksi mendalam atas tanggung jawab manusia menjaga bumi sebagai amanah Tuhan.

Menurutnya, sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila, khususnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, menjaga alam merupakan bagian dari pengamalan ajaran agama. Ia mengingatkan bahwa bumi dan alam semesta adalah anugerah terbaik dari Allah SWT yang harus dirawat dengan penuh rasa syukur.

“Konsep manusia sebagai khalifah di muka bumi mengandung makna tanggung jawab. Pertanyaannya adalah, apa yang akan kita isi dalam kehidupan ini? Tentu bagaimana menunjukkan rasa syukur dengan menjaga bumi yang kita tempati,” ujarnya di hadapan peserta kajian.

Emil menilai pengangkatan tema ekoteologi di bulan Ramadhan sangat relevan. Momentum spiritual tidak hanya dimaknai sebagai peningkatan ibadah personal, tetapi juga sebagai ruang refleksi kolektif untuk memperkuat kepedulian ekologis dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi peran Muhammadiyah dalam membangun pendidikan di Jawa Timur. Ia menyebut terdapat ribuan lembaga pendidikan Muhammadiyah dari tingkat usia dini hingga perguruan tinggi yang turut berkontribusi mencerdaskan bangsa. Menurutnya, tugas mencerdaskan kehidupan bangsa tidak dapat sepenuhnya ditanggung pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah.

Selain isu lingkungan, Emil turut menyinggung perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), yang berkembang pesat di dunia. Ia menilai era disrupsi teknologi menuntut lahirnya generasi muda yang tangguh, berakhlak, dan memiliki nasionalisme kuat.

“AI adalah produk manusia yang bisa berkembang luar biasa. Pertanyaannya, mau dibawa ke mana kita ke depan? Karena itu, kita butuh generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki spiritualitas dan nasionalisme yang kuat,” tegasnya.

Emil berharap amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan terus melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman, sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Ia juga mendoakan agar seluruh pengurus dan warga Muhammadiyah diberikan kelancaran dalam pengabdian untuk memajukan peradaban di Jawa Timur.

Sabtu, 21 Februari 2026

Haedar Nashir Kritik Kapitalisme Serakah yang Menghancurkan Bumi dalam Kajian Ramadhan di Unmuh Jember

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa konsep ekoteologi dalam Islam bermakna membangun tanpa merusak lingkungan. Hal tersebut disampaikannya secara hybrid melalui Zoom Meeting dalam Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu (21/2/2026).

Dalam iftitahnya, Haedar menjelaskan bahwa manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki mandat ilahiah untuk memakmurkan bumi (isti’mar), bukan membiarkannya terbengkalai ataupun merusaknya. Bumi dengan segala kekayaan di dalamnya laut, daratan, mineral, hingga sumber energi diberikan Allah untuk dikelola demi kesejahteraan hidup manusia. Namun, ia menegaskan bahwa proses memakmurkan tersebut harus berjalan dalam koridor nilai Islam, yakni membangun tanpa melakukan kerusakan.

“Bangunlah, makmurkan, manfaatkan, kelola, tetapi jangan dirusak. Itulah konsep dasarnya,” tegasnya.

Haedar mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada dua kutub ekstrem. Di satu sisi, ada pendekatan eksploitatif yang rakus dan serakah hingga menimbulkan kerusakan ekologis. Di sisi lain, ada pandangan yang membiarkan alam tanpa pengelolaan demi alasan kelestarian, namun mengabaikan kesejahteraan manusia. Menurutnya, peradaban tidak mungkin dibangun tanpa kemakmuran dan kesejahteraan.

“Ekoteologi bukan teologi yang melarang membangun agar tidak rusak. Tetapi membangun dengan kesadaran agar tidak merusak,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya regulasi yang baik serta political will negara dalam mengelola sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan. Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam melimpah harus mampu membangun kesejahteraan rakyat tanpa mengorbankan lingkungan. Namun, ia mengakui bahwa ikhtiar tersebut tidak mudah dan membutuhkan kecerdasan kolektif, konsep alternatif, serta sinergi antara masyarakat dan negara.

Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah berada pada posisi strategis sebagai gerakan keagamaan dan kemasyarakatan untuk berkontribusi melalui pendidikan, sosial, kesehatan, dan penguatan ekonomi umat. Ia menilai kekuatan ekonomi menjadi faktor penting dalam membangun peradaban, sehingga pengembangan sumber daya manusia dan kemandirian ekonomi harus berjalan beriringan dengan kesadaran ekologis.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa persoalan lingkungan selalu memiliki keterkaitan erat dengan aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Ia mencontohkan kasus-kasus pertambangan yang menimbulkan bencana, namun di sisi lain menjadi sumber mata pencaharian warga. Karena itu, pendekatan penyelesaian masalah harus komprehensif dan interrelasional, tidak parsial.

“Lingkungan harus tetap terjaga, tetapi juga memberi kesejahteraan bagi masyarakat. Di situlah fungsi kekhalifahan kita, membangun keseimbangan,” ungkapnya.

Mengakhiri pesannya, Haedar mengajak seluruh peserta Kajian Ramadhan untuk menjadikan perspektif Al-Qur’an sebagai dasar dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan kebangsaan, termasuk krisis lingkungan. Ia menegaskan bahwa dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan, sehingga pembangunan harus dilakukan dengan ihsan dan tanggung jawab moral.

“Bangunlah dengan ihsan, bangunlah dengan Islam, tetapi jangan merusak. Itulah ekoteologi yang sesungguhnya,” pungkasnya.

Rektor Unmuh Jember Tegaskan Kajian Ramadhan Jadi Ruang Refleksi Ekoteologi dan Tanggung Jawab Kekhalifahan

Rektor Universitas Muhammadiyah Jember, Hanafi, menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada seluruh tokoh bangsa, pimpinan persyarikatan, serta peserta Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar di kampus Unmuh Jember. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan bertema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” tersebut bukan sekadar agenda rutin keagamaan, melainkan momentum refleksi intelektual dan spiritual atas tanggung jawab manusia terhadap semesta.

“Atas nama pimpinan Universitas Muhammadiyah Jember, kami menyampaikan selamat datang dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh hadirin. Kehadiran bapak ibu bukan hanya momentum peningkatan ibadah personal, tetapi juga ruang refleksi atas tanggung jawab kita terhadap alam,” ujarnya.

Hanafi menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan zaman, mulai dari krisis lingkungan, perubahan iklim, hingga degradasi moral dalam memperlakukan alam. Menurutnya, keimanan tidak boleh berhenti pada kesalehan individu, tetapi harus terwujud dalam kepedulian ekologis dan tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. Ia berharap melalui forum ini lahir pemahaman yang lebih utuh tentang integrasi nilai-nilai keislaman dengan kesadaran menjaga lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Hanafi juga menyampaikan terima kasih kepada para narasumber nasional yang hadir, di antaranya Menteri Kehutanan RI, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, serta para pakar kebencanaan dan pimpinan persyarikatan. Ia menilai kehadiran para tokoh tersebut menjadi kehormatan sekaligus energi besar bagi Unmuh Jember sebagai tuan rumah.

Rektor juga menyampaikan apresiasi kepada para sponsor dan mitra yang mendukung terselenggaranya kegiatan, seperti Bank Central Asia, Bank Indonesia, Lazismu, Bank Jatim, Bank Muamalat, Bank Syariah Indonesia, dan mitra lainnya. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi wujud sinergi antara dunia pendidikan, industri, dan lembaga keuangan dalam memperkuat nilai-nilai keislaman dan kepedulian lingkungan.

Di akhir sambutannya, Hanafi menyampaikan bahwa Unmuh Jember terus berupaya melakukan pengembangan institusi, termasuk rencana pembukaan 12 program studi baru, salah satunya Program Studi Kedokteran. Ia memohon doa dan dukungan seluruh pihak agar pengembangan tersebut dapat terwujud demi kemajuan kampus dan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

Ia berharap Kajian Ramadhan ini menjadi ruang dialog yang mencerahkan, memperkaya perspektif, serta menguatkan komitmen bersama dalam menghadirkan nilai-nilai Islam yang berdampak nyata bagi kehidupan dan kelestarian lingkungan.

Ketua PWM Jatim Tegaskan Ekoteologi Jadi Gerakan Nyata Muhammadiyah Jaga Lingkungan

Sukadiono selaku Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menegaskan bahwa tema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” dalam Kajian Ramadhan 1447 H yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember bukan sekadar wacana akademik, melainkan respons atas situasi ekologis yang tengah dihadapi bangsa. Hal tersebut ia sampaikan saat membuka secara resmi rangkaian kajian yang dihadiri pimpinan daerah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Sukadiono menekankan pentingnya penggunaan istilah “kekhalifahan” sebagai mandat manusia untuk merawat dan menjaga bumi, bukan “kekhilafahan” yang memiliki konotasi berbeda. Menurutnya, konsep khalifah dalam Al-Qur’an menegaskan tanggung jawab manusia untuk menjaga keberlangsungan alam, bukan merusaknya. Ia mengaitkan tema tersebut dengan berbagai bencana yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang dinilainya tidak lepas dari persoalan deforestasi dan kerusakan lingkungan.

“Pendekatan ekoteologi artinya bagaimana kita mengintegrasikan ajaran Islam dengan tanggung jawab menjaga lingkungan. Tugas kita sebagai khalifah adalah merawat, menjaga, dan memastikan keberlangsungan alam di sekitar kita,” ujarnya.

Sukadiono menegaskan bahwa berbagai kerusakan di darat dan laut sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an merupakan peringatan atas ulah manusia. Karena itu, ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah menjadikan kesadaran ekologis sebagai bagian dari ibadah sehari-hari, termasuk hal-hal sederhana seperti menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan saat kegiatan berlangsung.

Menurutnya, jika kesadaran ekologis tersebut menjadi budaya kolektif, maka dampaknya akan terasa dalam jangka panjang terhadap kelestarian lingkungan dan upaya mitigasi bencana. Ia berharap melalui forum Kajian Ramadhan ini lahir komitmen bersama untuk menjadikan ekoteologi sebagai gerakan nyata Muhammadiyah di Jawa Timur.

Dalam kesempatan tersebut, Sukadiono juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Muhammadiyah Jember sebagai tuan rumah. Ia menyebut menjadi tuan rumah Kajian Ramadhan merupakan sebuah keberkahan tersendiri bagi perguruan tinggi. Bahkan secara berseloroh ia menyampaikan harapan agar Unmuh Jember terus berkembang, termasuk memiliki fakultas-fakultas strategis di masa mendatang.

Selain itu, ia mengumumkan bahwa Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur tahun 2027 akan diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Gresik bekerja sama dengan PDM Gresik. Sementara Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur 2027 direncanakan berlangsung di Universitas Muhammadiyah Lamongan.

Menutup pengantarnya, Sukadiono secara resmi membuka Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur dengan harapan seluruh rangkaian kegiatan dapat menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan peran Muhammadiyah dalam menjaga bumi sebagai amanah kekhalifahan.

Menteri Kehutanan Paparkan Penguatan Polisi Hutan saat Kajian Ramadhan di Unmuh Jember

Raja Juli Antoni menegaskan komitmennya untuk melakukan reformasi menyeluruh tata kelola kehutanan nasional saat memberikan sambutan dalam Kajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), Sabtu (21/2/2026). Dalam forum bertema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” tersebut, ia menyebut kehadirannya bukan sekadar memberi sambutan formal, melainkan sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban seorang kader Muhammadiyah yang kini mengemban amanah sebagai Menteri Kehutanan.

Raja Juli yang mengaku tumbuh dalam lingkungan pendidikan Muhammadiyah sejak Ikatan Pelajar Muhammadiyah hingga sekolah formal Muhammadiyah, menegaskan bahwa Islam memiliki fondasi teologis yang kuat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, ajaran Islam secara kaffah memiliki kompatibilitas yang solid dengan isu-isu lingkungan hidup dan kehutanan. Ia mengutip berbagai ayat Al-Qur’an serta praktik para khalifah yang melarang perusakan alam, bahkan dalam kondisi perang sekalipun. Larangan menebang pohon berbuah dan merusak tanaman, menurutnya, menunjukkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ajaran fundamental Islam yang relevan dengan konsep ekoteologi hari ini.

Dalam kesempatan tersebut, Raja Juli juga menyinggung tragedi bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai momentum evaluasi besar terhadap tata kelola hutan nasional. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai “lecutan bahkan tamparan” untuk melakukan pembenahan total terhadap forest governance. Mengutip pandangan Albert Einstein tentang definisi kegilaan, melakukan hal yang sama berulang kali dan berharap hasil berbeda, ia menegaskan bahwa tata kelola kehutanan tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama jika menginginkan hasil yang berbeda.


Ia memaparkan kondisi riil yang dinilainya memprihatinkan. Indonesia memiliki sekitar 125 juta hektar kawasan hutan, namun hanya diawasi sekitar 4.800 polisi hutan. Di Aceh, 3,5 juta hektar hutan hanya dijaga 64 personel, sementara di Sumatera Utara 3 juta hektar hutan diawasi sekitar 240 personel. Menurutnya, dengan keterbatasan sumber daya manusia tersebut, mustahil pengawasan terhadap illegal logging, perkebunan sawit ilegal, perburuan liar, dan pelanggaran lainnya dapat berjalan optimal. Karena itu, ia mengusulkan penambahan signifikan jumlah polisi hutan dengan rasio ideal satu petugas untuk setiap 2.000–2.500 hektar kawasan hutan, yang jika terealisasi akan menambah puluhan ribu personel baru.

Selain penguatan sumber daya manusia, Raja Juli juga menyoroti persoalan struktur kelembagaan yang dinilai kurang efektif. Ia berencana membentuk Pusat Koordinasi Wilayah (Puskorwil) di setiap provinsi guna memperkuat rentang kendali antara kementerian di pusat dan unit teknis di daerah. Skema ini diharapkan menjadi solusi koordinatif tanpa berbenturan dengan regulasi otonomi daerah, sekaligus menghadirkan layanan terpadu satu pintu dalam penanganan berbagai persoalan kehutanan di daerah.

Upaya modernisasi pengawasan juga akan dilakukan melalui pemanfaatan teknologi, termasuk pengadaan pesawat ringan dan drone untuk mendukung sistem patroli cerdas (smart patrol). Dengan pendekatan ini, deteksi dini terhadap kebakaran hutan, penebangan ilegal, hingga aktivitas tambang ilegal di kawasan hutan diharapkan dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.

Dalam konteks perguruan tinggi, Raja Juli juga membuka peluang pengelolaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) bagi kampus, termasuk bagi Universitas Muhammadiyah Jember. Skema tersebut memungkinkan kawasan hutan dimanfaatkan untuk riset sekaligus dikembangkan secara produktif. Ia menyebut enam Universitas Muhammadiyah telah menerima KHDTK dan membuka peluang serupa bagi Unmuh Jember sebagai tuan rumah Kajian Ramadhan tahun ini.

Menutup sambutannya, Raja Juli menegaskan bahwa amanah menjaga hutan bukan sekadar tanggung jawab administratif, melainkan bagian dari ibadah dan tugas kekhalifahan manusia di muka bumi. Ia memohon doa dan dukungan seluruh warga Muhammadiyah agar dapat menjalankan tugasnya dengan istiqamah dalam membenahi tata kelola kehutanan nasional demi mencegah bencana serupa terulang di masa mendatang.

Unmuh Jember Siap Jadi Tuan Rumah Kajian Ramadhan PWM Jatim 1447 H, Angkat Tema Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) dipercaya menjadi tuan rumah Kajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang akan digelar pada Sabtu dan Minggu (21–22/2/2026). Kegiatan tingkat wilayah ini diproyeksikan diikuti sebanyak 1.560 peserta dari berbagai kabupaten dan kota se-Jawa Timur.

Peserta terdiri atas Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Pimpinan Daerah Aisyiyah se-Jawa Timur, pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tingkat provinsi, baik dari rumah sakit maupun lembaga pendidikan. Tak hanya itu, panitia juga memastikan kehadiran dua menteri, yakni Prof. Abdul Mu’ti selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah serta Raja Juli Antoni selaku Menteri Kehutanan.

Wakil Rektor III Unmuh Jember, Dr. Sofyan Rofi, M.Pd.I., menyampaikan bahwa penunjukan Unmuh Jember sebagai tuan rumah merupakan simbol kepercayaan sekaligus pengakuan atas kapasitas institusi. “Ditunjuknya Unmuh Jember sebagai tuan rumah Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur menunjukkan adanya kepercayaan terhadap kapasitas kami, baik dari sisi manajemen, fasilitas, maupun kualitas sumber daya manusia. Ini bukan sekadar menjadi tuan rumah kegiatan, tetapi simbol kepercayaan dan penguatan eksistensi kami dalam dakwah Muhammadiyah di Jawa Timur,” ujarnya.

Menurutnya, sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah, Unmuh Jember tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga pusat dakwah, kaderisasi, dan pengembangan nilai-nilai Islam berkemajuan. Kehadiran pimpinan dan tokoh Muhammadiyah dari berbagai daerah menjadi momentum strategis untuk memperluas jejaring, memperkuat sinergi antar-AUM, serta meningkatkan reputasi kampus di tingkat regional.

Dirinya juga menyampaikan bahwa menjadi tuan rumah Kajian Ramadhan merupakan kehormatan besar bagi kampusnya, terlebih dengan rencana kehadiran dua menteri dan pimpinan pusat Muhammadiyah. Apalagi, Unmuh Jember baru saja meraih Akreditasi Institusi dengan status Unggul, sehingga momentum ini sekaligus menjadi bentuk tasyakuran dan penguatan komitmen dakwah kampus.

Kajian Ramadhan tahun ini mengusung tema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan”, sebuah topik yang dinilai sangat relevan dengan kondisi bangsa yang tengah menghadapi krisis lingkungan dan ancaman bencana. Dr. Sofyan menegaskan bahwa persoalan perubahan iklim, kerusakan hutan, dan pencemaran lingkungan tidak cukup dijawab secara teknis, tetapi juga membutuhkan landasan etis dan spiritual. “Ekoteologi mengintegrasikan sains lingkungan dengan nilai-nilai ketuhanan. Dalam perspektif Islam, manusia adalah khalifah di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Tanggung jawab ekologis bukan sekadar isu teknis, tetapi bagian dari ibadah,” jelasnya.

Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai moral keagamaan. Isu keberlanjutan (sustainability), pengelolaan sumber daya alam, mitigasi risiko bencana, hingga etika sosial dapat dikaji lintas disiplin, mulai dari teknik, kesehatan, pertanian, hingga sosial-humaniora. “Kami ingin kampus hadir sebagai pusat produksi gagasan dan solusi berbasis ilmu pengetahuan, sekaligus penguatan spiritual,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris PWM Jawa Timur, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., menjelaskan bahwa penetapan Unmuh Jember sebagai tuan rumah telah diumumkan sejak setahun lalu, tepatnya saat Kajian Ramadhan 1446 H di UM Lamongan. Ia menyebut Kajian Ramadhan PWM Jatim selalu dirindukan oleh pimpinan dan warga Muhammadiyah. “Untuk menjawab antusiasme tersebut, kami menghadirkan narasumber yang benar-benar bintang, di antaranya Rahmawati dari PP Aisyiyah yang juga pakar kebencanaan, Prof. Abdul Mu’ti, Prof. Din Syamsuddin, Prof. Syafiq, Raja Juli Antoni, dan tentu saja Prof. Haedar Nashir,” ungkapnya.

Menurut Prof. Biyanto, tema ekoteologi dipilih karena Indonesia termasuk negara rawan bencana. Berbagai bencana yang terjadi di sejumlah wilayah, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada akhir 2025, menunjukkan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga keseimbangan alam. “Beragama bukan hanya soal ritual dan hubungan antarmanusia, tetapi juga bagaimana kita bersahabat dengan alam. Memelihara lingkungan adalah bagian penting dari tugas kekhalifahan,” tegasnya.

Dengan persiapan yang telah dilakukan secara matang, Unmuh Jember optimistis mampu menyelenggarakan Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur 1447 H secara profesional, tertib, dan berkesan

Kamis, 19 Februari 2026

Kuliah Tamu PPG Unmuh Jember: PowerPoint Berbasis AI untuk Calon Guru Adaptif dan Inovatif

Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) FKIP Universitas Muhammadiyah Jember menggelar kuliah tamu bertajuk “Pengembangan Materi Presentasi PowerPoint yang Efektif Berbasis AI” pada Sabtu, 7 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama PPG FKIP Unmuh Jember dengan IBLU Academy dan dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom.

Kuliah tamu ini diikuti oleh mahasiswa PPG Calon Guru (Cagur) dari tiga bidang studi, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan PG PAUD. Selain mahasiswa, dosen pengampu PPG juga turut hadir sebagai peserta, menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan kompetensi digital pendidik di era transformasi teknologi.

Acara dipandu oleh Salsabila Keke Maulyana dari PPG Cagur Bahasa Indonesia. Sementara itu, narasumber utama adalah Nuril Alam, S.Pd., MOS., Trainer IBLU Academy yang juga merupakan Microsoft Partner dan Microsoft Office Specialist Expert. Kehadiran praktisi bersertifikasi internasional ini memberikan perspektif aplikatif dan aktual mengenai pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan.

Kegiatan dibuka oleh Dr. Christine Wulandari Suryaningrum, M.Pd., selaku Kepala Program Studi PPG Universitas Muhammadiyah Jember sekaligus keynote speaker. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa guru masa kini tidak cukup hanya menguasai materi ajar, tetapi juga harus mampu mengemasnya secara visual, komunikatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

Memasuki sesi inti, narasumber mengawali dengan menggali pengalaman peserta terkait penggunaan AI dalam pembelajaran. Diskusi awal ini membuka ruang refleksi sekaligus memperlihatkan bahwa sebagian calon guru telah mulai memanfaatkan AI, meski belum optimal dalam pengembangan media presentasi.

Selanjutnya, Nuril Alam memaparkan secara komprehensif bagaimana Artificial Intelligence dapat dimanfaatkan untuk menyusun materi PowerPoint yang lebih efektif, menarik, dan profesional. Peserta diperkenalkan pada berbagai fitur berbasis AI yang membantu dalam perumusan outline materi, penyederhanaan teks, pemilihan visual, hingga desain slide yang lebih komunikatif dan efisien.

Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Banyak pertanyaan muncul terkait etika penggunaan AI, batasan kreativitas guru, serta strategi agar media presentasi tetap berpusat pada kebutuhan peserta didik. Diskusi ini memperkaya pemahaman bahwa AI bukan pengganti guru, melainkan alat bantu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Sebagai bentuk apresiasi, seluruh peserta mendapatkan e-sertifikat gratis. Namun lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam membangun kesadaran bahwa transformasi digital di dunia pendidikan membutuhkan kesiapan kompetensi dan mindset yang adaptif.

Melalui kuliah tamu ini, Program Studi PPG Universitas Muhammadiyah Jember menegaskan komitmennya dalam mencetak calon guru yang inovatif, kreatif, dan responsif terhadap perkembangan teknologi. Kolaborasi dengan IBLU Academy menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa lulusan PPG tidak hanya siap mengajar, tetapi juga siap menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan tantangan zaman.

Connect