Rabu, 21 Oktober 2026

Mahasiswa Unmuh Jember Raih Juara 3 Kejurprov Wushu Sanda Jatim 2026


Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), Denis Ainun Najdi, berhasil meraih Juara 3 Kelas 70 kg Senior Putra pada Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Wushu Sanda Jawa Timur 2026. Kompetisi tersebut berlangsung pada 15–18 Oktober 2026 di GOR Jayabaya, Kota Kediri.

Prestasi ini menjadi pencapaian membanggakan bagi Denis, yang terus mengembangkan kemampuannya di bidang olahraga bela diri di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa. Ia mengaku senang dan bangga dapat meraih prestasi di tingkat provinsi, meskipun hasil yang diperoleh belum sesuai dengan target awalnya.

“Target saya adalah juara 1, tetapi belum rezeki. Banyak yang bilang juara 3 itu gagal, tetapi menurut saya tidak. Pencapaian tetaplah pencapaian dan ini adalah bagian dari proses yang harus tetap dibanggakan,” ungkap Denis.

Ketertarikan Denis terhadap olahraga bela diri menjadi awal perjalanannya menekuni wushu, khususnya nomor sanda. Ia mulai serius berlatih wushu sejak duduk di kelas XI SMK, setelah sebelumnya juga menekuni pencak silat. Ketertarikan tersebut kemudian ia kembangkan melalui latihan rutin dan keikutsertaan dalam kompetisi.

Untuk menghadapi Kejurprov Wushu Sanda Jawa Timur 2026, Denis mempersiapkan diri melalui latihan fisik sejak jauh hari dengan frekuensi dua hingga lima kali dalam seminggu. Ia juga menjaga pola tidur, mengasah teknik bersama pelatih, serta melakukan latihan tanding atau sparring dengan teman-temannya untuk meningkatkan refleks dan ketepatan serangan.

Selain persiapan fisik dan teknik, Denis turut memperhatikan kondisi mental serta pengaturan berat badan agar tetap berada di bawah batas kelas 70 kilogram. Menurutnya, pengalaman dan konsistensi latihan berperan penting dalam membangun kesiapan mental saat menghadapi pertandingan.

Persaingan di kelas 70 kg Senior Putra menjadi tantangan tersendiri karena Denis harus berhadapan dengan atlet-atlet dari kontingen lain yang memiliki pengalaman bertanding dan kekuatan fisik. Ia mengaku salah satu momen paling menegangkan terjadi ketika dirinya berada dalam situasi hampir kalah.

“Di detik-detik ketika saya hampir kalah, pikiran saya dipaksa harus tetap tenang dan tetap berjuang,” ujarnya.


Di balik pencapaian tersebut, Denis juga menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara perkuliahan, tugas akademik, latihan, dan kebutuhan istirahat. Padatnya tugas kuliah terkadang membuat waktu tidurnya terganggu. Untuk menyiasatinya, ia memanfaatkan waktu sore hingga petang untuk berlatih, sedangkan malam hari digunakan untuk mengerjakan tugas perkuliahan.

Dukungan dari pelatih, keluarga, teman, dan lingkungan kampus turut menjadi bagian penting dalam perjalanan Denis hingga meraih prestasi. Ia bersyukur berada di lingkungan yang mendukung proses persiapan, latihan, hingga pertandingan.

Ke depan, Denis bertekad terus mengembangkan kemampuan wushu sanda agar dapat bersaing di tingkat nasional, bahkan internasional. Ia berharap pencapaian di Kejurprov kali ini menjadi pijakan untuk meningkatkan kemampuan dan meraih prestasi yang lebih tinggi.

Denis juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Unmuh Jember agar tidak ragu mengembangkan potensi di luar bidang akademik. Menurutnya, kegagalan bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses untuk terus bertumbuh.

“Kalau kamu punya keinginan, jangan batasi hanya sekadar ‘ingin’. Lampaui kemampuanmu dan cari jati dirimu. Jangan takut gagal karena proses tanpa gagal ya bukan proses namanya. Percaya pada kemampuan diri sendiri dan manfaatkan setiap kesempatan untuk meraih prestasi serta mengharumkan nama kampus,” pesannya.

Prestasi Denis menjadi pengingat bahwa kehidupan mahasiswa tidak hanya tentang pencapaian akademik. Dengan disiplin, keberanian mencoba, dan dukungan lingkungan, mahasiswa dapat terus mengembangkan potensi diri sekaligus membawa nama baik almamater melalui berbagai bidang.

Jumat, 18 September 2026

Taklukkan 44,5 Km Lintasan Ekstrem, Mapala Unmuh Jember Raih Winner 9th SuperAdventure

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah  (Unmuh) Jember. Melalui tim Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) yang berhasil meraih Winner 9th dalam ajang SuperAdventure, kompetisi adventure race tahunan yang diikuti kelompok pecinta alam dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Kejuaraan yang diselenggarakan di Ujung Genteng, Sukabumi, pada 11-13 September 2026 tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim Mapala Unmuh Jember. Tidak hanya berlari melintasi alam, peserta harus menuntaskan rangkaian olahraga dan rintangan yang memadukan trail running, canyoning, orientering, rafting, hingga coastal tracking dalam satu perlombaan.

Tim Mapala Unmuh Jember yang berlaga terdiri dari empat mahasiswa dengan pembagian peran masing-masing, yakni Ach Jauharil Fahmi dari Program Studi Ilmu Komunikasi sebagai kapten, Moh Dimas Suryo Adipuro dari Program Studi Manajemen sebagai sweeper, Reza Arfiansyah dari Program Studi Teknik Informatika sebagai navigator, serta Mu'amar Fuad dari Program Studi Teknik Sipil yang bertugas menangani logistik.

SuperAdventure mengusung konsep adventure race yang menggabungkan sejumlah cabang olahraga alam dalam satu rangkaian perlombaan. Seluruh anggota tim dituntut bergerak bersama sejak garis start hingga finish.

Perjalanan dimulai pukul 05.00 dan peserta harus menyelesaikan total lintasan sekitar 44,5 kilometer dengan cut off time (COT) selama 12 jam, yakni hingga pukul 17.00. Selain itu, terdapat cut off point (COP) di pos rafting yang harus dicapai paling lambat pukul 14.30.

Rangkaian tantangan yang harus ditaklukkan tim meliputi orientering sejauh 22 kilometer, canyoning dengan lintasan 70 meter, orientering 5 kilometer, rafting 5,5 kilometer, serta coastal tracking sejauh 12 kilometer.

Kondisi tersebut membuat strategi tim menjadi bagian penting dalam perlombaan. Setiap anggota tidak dapat berjalan sendiri-sendiri karena seluruh tim harus tetap bersama hingga menyelesaikan perlombaan.

Menghadapi perlombaan dengan kombinasi medan tersebut, tim Mapala Unmuh Jember melakukan persiapan selama kurang lebih dua bulan. Memasuki satu bulan terakhir sebelum kompetisi, latihan mulai dilakukan secara lebih intensif.

Salah satu fokus utama adalah membangun kemampuan fisik dengan target mileage minimal 40 kilometer. Namun, tantangan tidak hanya datang dari medan perlombaan. Kesibukan masing-masing anggota sebagai mahasiswa membuat penyamaan jadwal latihan menjadi persoalan tersendiri.

Karena itu, latihan bersama tetap diagendakan setidaknya dua kali dalam sepekan, khususnya untuk latihan lari dan rafting. Sementara latihan lainnya dilakukan secara mandiri sesuai dengan waktu yang dimiliki masing-masing anggota.

Dari seluruh rangkaian lintasan, coastal tracking menjadi salah satu tantangan paling berat bagi tim. Etape tersebut harus dilalui ketika para peserta sudah memasuki kilometer 30 lebih dan kondisi fisik mulai terkuras.

Medan pasir yang berat membuat langkah semakin sulit, sementara energi yang tersisa semakin terbatas. Bahkan, tim sempat mengalami kelelahan ekstrem ketika memasuki sekitar kilometer 40.


Ach Jauharil Fahmi, yang akrab dipanggil Aril, mengatakan bahwa kekompakan menjadi salah satu kunci agar seluruh anggota tetap bergerak menuju garis finish.

"Kalau adu argumen pasti terjadi, tetapi kami tetap saling support demi tujuan bersama. Sempat mengalami kelelahan ekstrem di kilometer 40-an, tetapi kami berusaha tetap bersama sampai selesai," ungkapnya.

Dalam adventure race, kemampuan individu tidak cukup untuk menyelesaikan seluruh tantangan. Pembagian peran menjadi bagian penting dalam menjaga ritme perjalanan.

Aril sebagai kapten bertanggung jawab menjaga koordinasi tim. Reza Arfiansyah berperan sebagai navigator untuk memastikan arah perjalanan, Dimas Suryo Adipuro bertugas sebagai sweeper untuk memastikan seluruh anggota tetap dalam satu kesatuan, sementara Mu'amar Fuad menangani kebutuhan logistik selama perlombaan.

Kombinasi tersebut membuat setiap anggota memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi. Bagi tim Mapala Unmuh Jember, pencapaian Winner 9th bukan sekadar hasil dari perlombaan sehari. Prestasi tersebut merupakan buah dari proses latihan, kesiapan mental, kemampuan membaca medan, serta kemauan untuk terus bergerak ketika kondisi fisik mulai berada di batas kemampuan.

Pengalaman mengikuti SuperAdventure juga menjadi pembelajaran bagi mahasiswa lain yang ingin mencoba kompetisi olahraga luar ruang.

Tim Mapala Unmuh Jember menekankan bahwa tidak ada pencapaian yang datang secara tiba-tiba. Semua membutuhkan proses, termasuk proses yang melelahkan dan penuh tantangan.

"Tidak ada yang tiba-tiba. Semuanya perlu proses yang tentunya menyakitkan. Selesaikan apa yang kalian mulai, jangan takut mencoba," pesan Aril.

Capaian Winner 9th SuperAdventure sekaligus menunjukkan kiprah mahasiswa Unmuh Jember dalam kompetisi yang menguji kemampuan fisik, mental, navigasi, kerja sama, dan ketahanan menghadapi medan alam.

Rabu, 16 September 2026

Mahasiswa Keperawatan Unmuh Jember Raih Predikat Peserta Terbaik Beasiswa Cendekia BAZNAS


Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember. Gilang Arya Mahmudi, mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes), berhasil meraih predikat sebagai peserta terbaik dalam program Beasiswa Cendekia BAZNAS.

Penghargaan tersebut secara resmi diserahkan pada 9 September 2026 di Auditorium Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Jakarta. Momen tersebut menjadi pencapaian penting bagi Gilang setelah menjalani rangkaian program Beasiswa Cendekia BAZNAS selama dua tahun.

Gilang menerima Beasiswa Cendekia BAZNAS saat duduk di semester 5. Baginya, beasiswa tersebut bukan sekadar bantuan finansial untuk menunjang pendidikan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan akademik, organisasi, penelitian, hingga kegiatan sosial.

Perjalanan Gilang mendapatkan beasiswa tersebut memiliki cerita tersendiri. Saat itu, keluarganya tengah menghadapi kondisi ekonomi yang cukup berat setelah sang ayah meninggal dunia. Dukungan yang diberikan melalui Beasiswa Cendekia BAZNAS kemudian menjadi salah satu hal yang membantunya untuk tetap melanjutkan pendidikan.

“Beasiswa Cendekia BAZNAS merupakan program beasiswa yang tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga pembinaan dan pengembangan bagi mahasiswa,” ujar Gilang.

Selama menjadi penerima beasiswa, Gilang mengikuti berbagai kegiatan pembinaan dan pengembangan diri. Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih disiplin, bertanggung jawab, serta aktif berkontribusi di lingkungan akademik maupun masyarakat.

Menurutnya, salah satu hal yang paling berharga adalah kesempatan bertemu dengan mahasiswa berprestasi dari berbagai daerah. Ia juga mendapatkan pendampingan dari dosen pembimbing, Ari Sita Nastiti, yang turut memberikan pembelajaran, motivasi, dan dukungan selama menjalani program.


Selama dua tahun menjadi penerima beasiswa, Gilang berusaha memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk terus mengembangkan potensi. Konsistensi tersebut kemudian mengantarkannya meraih predikat sebagai peserta terbaik.

Ia menilai pencapaian tersebut bukan hasil dari satu prestasi, melainkan akumulasi dari berbagai aktivitas yang dilakukan selama menjadi penerima beasiswa. Selain aktif dalam organisasi dan kegiatan sosial, Gilang juga menekuni penelitian serta kompetisi ilmiah.

Hingga saat ini, ia telah menorehkan total 32 prestasi dalam bidang esai dan Karya Tulis Ilmiah (LKTI) di tingkat nasional maupun internasional.

“Saya rasa pencapaian ini bukan karena satu prestasi saja, tetapi karena konsistensi saya selama menjadi penerima beasiswa. Selama kuliah saya aktif dalam organisasi, penelitian, kegiatan sosial, dan kompetisi ilmiah,” ungkapnya.

Bagi Gilang, predikat peserta terbaik tidak semata-mata diukur dari jumlah penghargaan yang diraih. Lebih dari itu, ia memandang kesempatan yang diberikan BAZNAS sebagai amanah untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata.

Ke depan, mahasiswa S1 Keperawatan Fikes Unmuh Jember tersebut memiliki target untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister Ilmu Biomedik. Ia ingin mengembangkan penelitian di bidang kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan infeksi dan resistensi antimikroba.

Gilang berharap pengalaman dan kesempatan yang diperolehnya melalui Beasiswa Cendekia BAZNAS dapat terus dikembangkan menjadi kontribusi yang lebih luas, baik melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun pengembangan solusi kesehatan berbasis ilmiah.

“Saya berharap dapat terus membawa nilai yang diajarkan BAZNAS, yaitu menjadi pribadi yang berprestasi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Selasa, 15 September 2026

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unmuh Jember, Satria Bagaskoro Raih Juara 1 Nasional Feature SEMISTIK 2026

Cerita tentang keterbatasan, inovasi, dan kegigihan seorang warga Jember berhasil mengantarkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember meraih prestasi di tingkat nasional. Satria Bagaskoro, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, berhasil meraih Juara 1 Nasional Kategori Feature dalam SEMISTIK 2026 yang diselenggarakan oleh UKMPK Tegalboto Universitas Jember.

Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena kompetisi berlangsung di lingkungan kampus yang secara geografis berdekatan dengan Universitas Muhammadiyah Jember. Alih-alih menjadi beban, situasi tersebut justru menjadi motivasi bagi Satria untuk membawa nama kampusnya bersaing dengan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

“Saya tentu merasa sangat bersyukur dan bangga bisa meraih Juara 1 Nasional Kategori Feature di SEMISTIK 2026. Apalagi kompetisi ini diselenggarakan di lingkungan Universitas Jember yang secara geografis cukup dekat dengan kampus saya,” ungkap Satria.

Menurutnya, kemenangan tersebut bukan sekadar persoalan mendapatkan gelar juara. Lebih dari itu, prestasi tersebut menjadi pembuktian bahwa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi memiliki kesempatan yang sama untuk menghasilkan karya jurnalistik yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Dalam kompetisi tersebut, Satria mengangkat feature berjudul “Asap yang Tak Pernah Padam”. Karya tersebut bercerita tentang Andrieyono atau yang akrab disapa Pak Andrie, warga Dusun Kantong, Desa Kemiri, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, yang mengembangkan usaha asap cair organik melalui alat produksi yang dirakitnya sendiri.

Bagi Satria, daya tarik cerita tersebut bukan hanya terletak pada produk asap cair yang dihasilkan. Ada perjalanan hidup dan perjuangan panjang yang membuat kisah tersebut layak untuk diangkat.

Sejak kecil, Pak Andrie mengalami polio dan baru dapat berjalan pada usia tujuh tahun. Ia juga sempat menjalani berbagai pekerjaan serabutan, mulai dari menjadi tukang tambal ban, mengamen, hingga memelitur kusen. Pendidikan formalnya pun hanya ditempuh hingga tingkat sekolah menengah pertama.

Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Pada 2009, Pak Andrie mulai tertarik pada teknologi asap cair setelah membaca sebuah artikel mengenai penelitian Universitas Gadjah Mada.

Ketika mengetahui harga alat produksi komersial yang menurut informasi yang diperolehnya mencapai sekitar Rp30 juta, ia memilih mencari jalan lain. Dengan memanfaatkan bahan sederhana seperti drum bekas dan pipa PVC, ia mencoba merakit alat produksi sendiri.

“Saya merasa cerita ini penting dibawa ke tingkat nasional karena di dalamnya terdapat isu yang lebih luas daripada sekadar kewirausahaan. Ada persoalan mengenai keterbatasan, inovasi, kemandirian, pemberdayaan masyarakat, dan bagaimana seseorang dapat menciptakan peluang dari kondisi yang sangat sederhana,” jelas Satria.

Karya tersebut tidak lahir hanya dari penelusuran informasi di internet. Satria bersama teman-temannya dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Jember datang langsung ke rumah produksi CV Prima Rosandries pada 9 April 2026.

Di lokasi tersebut, ia mengamati proses produksi sekaligus berbincang langsung dengan Pak Andrie. Dari pertemuan itu, Satria menemukan cerita manusia yang kemudian menjadi fondasi utama feature-nya.

Ia menggali perjalanan hidup Pak Andrie, mulai dari pengalaman menghadapi polio, pekerjaan serabutan, proses menemukan pengetahuan mengenai asap cair, eksperimen merakit alat produksi, hingga alasan mempertahankan usahanya di lingkungan desa.

“Awalnya saya tidak ingin hanya menulis tentang asap cair sebagai sebuah produk. Kalau hanya membahas produk, menurut saya ceritanya akan cenderung menjadi tulisan informatif biasa. Karena itu, saya mencoba mencari sisi manusia di balik inovasi tersebut,” ujarnya.

Dari proses tersebut, ia kemudian menentukan angle cerita: bagaimana seseorang dengan keterbatasan mampu menciptakan inovasi dan peluang bagi dirinya sekaligus memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.

Keikutsertaan Satria dalam SEMISTIK 2026 sejak awal bukan semata-mata untuk mengejar gelar juara. Ia ingin menguji kemampuan jurnalistiknya, khususnya dalam penulisan feature, sekaligus membawa karya tersebut ke ruang kompetisi yang lebih luas.

Menurutnya, kategori feature memberikan ruang untuk mengangkat cerita manusia secara lebih mendalam.

“Target utamanya adalah mengikuti dan menghasilkan karya terbaik, sedangkan juara adalah hasil yang ingin dicapai tetapi tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran. Justru fokus pada proses membuat saya lebih leluasa dalam mengembangkan karya,” katanya.

Pengalaman bertemu dengan peserta dari berbagai daerah juga menjadi pembelajaran tersendiri. Ia melihat setiap peserta memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengolah sebuah isu, baik dari sisi data, visual, human interest, maupun karakter cerita.

Kemenangan tersebut justru membuatnya semakin menyadari bahwa dunia jurnalistik masih memiliki banyak hal untuk dipelajari.

Setelah meraih Juara 1 Nasional, Satria tidak ingin berhenti berkarya. Ia berencana terus melakukan liputan langsung dan mengangkat cerita-cerita yang selama ini mungkin belum mendapatkan perhatian luas.

Ia ingin mengeksplorasi berbagai isu, terutama persoalan sosial, masyarakat, kebijakan publik, lingkungan, serta kisah inspiratif yang memiliki dampak nyata di sekitar masyarakat.

Bagi Satria, kompetisi bukanlah satu-satunya tujuan. Kemampuan melakukan riset, wawancara, observasi, menulis, dan menyajikan cerita harus terus diasah.

Ia pun mengajak mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember untuk tidak takut mencoba mengikuti kompetisi.

“Jangan menunggu merasa sudah hebat atau sudah menjadi penulis yang sempurna baru kemudian mengikuti kompetisi. Kemampuan justru berkembang ketika kita berani mencoba, menerima kritik, dan terus memperbaiki karya,” pesannya.

Satria juga menekankan pentingnya turun langsung ke lapangan. Menurutnya, cerita yang kuat tidak selalu berasal dari isu besar. Cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pun dapat memiliki nilai jurnalistik tinggi ketika digali secara mendalam.

“Jangan terlalu terobsesi dengan mencari isu yang terlihat besar. Terkadang cerita yang sangat dekat dengan kita justru memiliki nilai yang kuat apabila digali secara mendalam,” tuturnya.

Keberhasilan Satria menjadi Juara 1 Nasional SEMISTIK 2026 sekaligus menunjukkan bahwa karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember mampu menembus kompetisi jurnalistik nasional. Lebih dari sekadar prestasi, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa cerita-cerita dari lingkungan sekitar dapat memiliki makna yang luas ketika disampaikan melalui riset, observasi, dan keberanian untuk turun langsung ke lapangan.

 

Kamis, 10 September 2026

Mahasiswa PBSI Unmuh Jember Raih Juara 1 Essay Writing 3rd ASEAN FUSION 2026


Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Faizatul Khoiriyah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, berhasil meraih Juara 1 Essay Writing dalam kompetisi 3rd ASEAN FUSION 2026 yang diselenggarakan oleh Ifugao State University (IFSU), Filipina.

Mengusung tema “Navigating Our Future, Together”, ASEAN FUSION 2026 menjadi ajang bagi mahasiswa se-ASEAN untuk menyampaikan gagasan kritis mengenai berbagai isu strategis, mulai dari diplomasi kawasan, keberlanjutan lingkungan, hingga integrasi teknologi. Selain Essay Writing, kompetisi ini juga menghadirkan cabang seni digital, pidato, dan tari budaya yang selaras dengan capaian Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.

Faizatul mengaku awalnya mengikuti kompetisi tersebut tanpa memasang target untuk menjadi juara. Dorongan dari Kaprodi menjadi langkah awal baginya untuk berani mencoba sekaligus menguji kemampuan dan keluar dari zona nyaman.

“Yang penting berani mencoba dan ambil pengalaman dulu,” ungkap Faizatul. Ia bahkan baru mengetahui dirinya meraih Juara 1 setelah mendapat kabar langsung dari Kaprodi.

Dalam kompetisi tersebut, Faizatul mengangkat isu tata kelola lingkungan dan krisis iklim di kawasan ASEAN melalui esai berjudul “Epistemological Pluralism and Epistemic Resilience: Reimagining ASEAN’s Sustainable Future Through Indigenous Knowledge Systems and Regional Governance”.

Melalui esainya, ia menekankan bahwa penyelesaian krisis lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi modern. Kearifan lokal masyarakat adat juga perlu dipandang sebagai sumber pengetahuan yang dapat melengkapi riset akademis dan teknologi dalam merumuskan kebijakan lingkungan.

Faizatul juga menawarkan gagasan AIKERP (ASEAN Indigenous Knowledge and Ecological Resilience Platform) sebagai platform regional yang menjembatani akademisi, generasi muda, dan masyarakat adat. Gagasan tersebut mendorong integrasi teknologi modern dengan pengetahuan lokal, seperti sistem Muyong di Filipina, Subak di Bali, dan Sasi di Maluku.

Menurutnya, keberlanjutan ASEAN tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga keterlibatan berbagai sistem pengetahuan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.

Proses penyusunan esai dilakukan Faizatul secara mandiri, mulai dari riset literatur, merumuskan gagasan AIKERP, hingga menulis dalam bahasa Inggris. Tantangan tersebut semakin besar karena proses pengerjaan berlangsung bersamaan dengan kegiatan KKN MAs di Malang.

Di tengah padatnya aktivitas KKN, Faizatul memanfaatkan waktu luang untuk melakukan riset dan menyusun draf esai. Meski tidak mendapatkan bimbingan intensif, dukungan Kaprodi sejak awal menjadi motivasi baginya untuk mengikuti kompetisi tersebut.

Bagi Faizatul, pencapaian tersebut bukan sekadar memperoleh E-Certificate of Recognition tingkat internasional. Pengalaman mengatur waktu, merumuskan gagasan pada tingkat regional, serta menaklukkan keraguan terhadap kemampuan diri menjadi pelajaran penting yang ia dapatkan dari kompetisi tersebut.

Faizatul pun mengajak mahasiswa Unmuh Jember untuk tidak ragu mengambil kesempatan yang ada.

“Jangan pernah minder atau ragu dengan potensi diri sendiri. Sering kali musuh terbesar kita bukanlah persaingan yang ketat, melainkan rasa ragu sebelum mencoba.”

Menurutnya, kesibukan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Pengalaman menyelesaikan esai di tengah KKN MAs membuktikan bahwa dengan niat, kemampuan mengatur waktu, doa orang tua, dan arahan dosen, mahasiswa tetap dapat menghasilkan karya terbaik.

Mahasiswa Psikologi Unmuh Jember Raih Juara 3 Essay Internasional ASEAN FUSION 2026


Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember. Lydia Febiyanti, mahasiswa Program Studi Psikologi Unmuh Jember, berhasil meraih Juara 3 Essay Writing dalam rangkaian kegiatan internasional 3rd ASEAN FUSION 2026 yang diselenggarakan oleh Ifugao State University (IFSU), Filipina.

ASEAN FUSION merupakan salah satu rangkaian kegiatan pertukaran budaya yang dikemas dalam bentuk kompetisi dengan berbagai cabang lomba, salah satunya Essay Writing. Selain mengikuti kompetisi tersebut, Lydia juga berpartisipasi dalam program ASEAN Language and Culture Exchange (LACE).

Melalui program tersebut, peserta dari berbagai negara ASEAN melakukan pertukaran budaya melalui presentasi dan interaksi antarpeserta. Kegiatan ini juga ditutup dengan Expo Showcase sebagai wadah untuk memperkenalkan potensi budaya dari masing-masing negara ASEAN.

Lydia mengaku ketertarikannya terhadap budaya menjadi alasan utama dirinya mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Baginya, kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah untuk menyalurkan minat terhadap budaya melalui kompetisi, tetapi juga membuka kesempatan membangun relasi sosial dalam lingkup internasional.

“Hal yang membuat saya tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut adalah karena saya memiliki ketertarikan yang cukup tinggi jika berbicara terkait budaya. Program ini dapat menjadi wadah untuk menyalurkan ketertarikan saya, baik dalam bentuk kompetisi maupun membangun relasi sosial, terlebih lagi dalam lingkup internasional,” ujarnya.

Dalam kompetisi Essay Writing, Lydia mengangkat gagasan mengenai peran budaya dalam memengaruhi masa depan ASEAN, khususnya dalam membangun relasi dan kolaborasi untuk menjaga serta memperkuat keutuhan kawasan.

Ia menjadikan salah satu ritual adat Banyuwangi, Seblang Olehsari, sebagai pondasi dalam penyusunan esainya. Menurut Lydia, kolaborasi di era saat ini tidak seharusnya hanya terpaku pada perkembangan teknologi.

Adat, tradisi, dan budaya yang telah hidup sejak dahulu, menurutnya, juga memiliki potensi besar dalam membangun kolaborasi antarnegara ASEAN.

“This is why resilience should mean more than economic strength, technological advancement, or institutional capacity. A resilient ASEAN also needs communities with a strong sense of identity, young people who understand their roots, and cultures capable of adapting without disappearing,” tulis Lydia dalam esainya.

Melalui gagasan tersebut, ia menekankan bahwa ketahanan ASEAN tidak hanya berkaitan dengan kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi, maupun kapasitas kelembagaan, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang memiliki identitas kuat, generasi muda yang memahami akar budayanya, serta budaya yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Bagi Lydia, karya tulis tersebut juga menjadi salah satu bentuk kebanggaannya sebagai bagian dari masyarakat Banyuwangi.

Lydia menyampaikan bahwa tidak ada bimbingan khusus dalam proses penyusunan esainya. Pengalaman mengikuti berbagai kompetisi essay dan karya tulis ilmiah sejak SMA menjadi bekal yang dimanfaatkannya dalam menyusun karya tersebut.

Meski demikian, ia mengapresiasi dukungan dari Kantor Urusan Internasional (KUI) Unmuh Jember yang telah mengenalkannya pada rangkaian kegiatan ASEAN FUSION dan LACE.

Bagi Lydia, pencapaian sebagai juara bukanlah satu-satunya hal berharga yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Ia juga mendapatkan pengalaman serta kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada peserta dari berbagai negara.

“Hal yang saya dapatkan selain juara dalam kompetisi ini adalah pengalaman yang berharga dan kesempatan yang luar biasa untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada mancanegara,” ungkapnya.

Lydia pun berpesan kepada mahasiswa Unmuh Jember agar tidak takut memulai dan mencoba berbagai kesempatan.

“Don’t be afraid to start something. Awal mula dari seorang juara adalah mereka yang berani mencoba.” pesannya.

Jumat, 07 Agustus 2026

Prodi Magister Manajemen Raih Akreditasi Unggul, FEB Unmuh Jember Perkuat Komitmen Hadirkan Pendidikan Berkualitas

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Jember kembali menorehkan prestasi membanggakan. Program Studi Magister Manajemen (S2 Manajemen) resmi meraih predikat Akreditasi Unggul, sebuah capaian yang menjadi pengakuan atas kualitas penyelenggaraan pendidikan, tata kelola, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta sistem penjaminan mutu yang diterapkan.

Dekan FEB Universitas Muhammadiyah Jember, Dr. Maheni Ika Sari, S.E., M.M., menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, Akreditasi Unggul merupakan hasil kerja kolektif seluruh sivitas akademika yang selama ini berkomitmen membangun budaya mutu secara berkelanjutan.

"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas diraihnya predikat Akreditasi Unggul oleh Program Studi Magister Manajemen. Capaian ini merupakan amanah sekaligus bukti bahwa proses penyelenggaraan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola, serta penjaminan mutu di Program Studi Magister Manajemen telah memenuhi standar kualitas yang sangat baik," ujarnya.

Ia menegaskan, keberhasilan tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan program studi, tetapi juga seluruh unsur yang terlibat, mulai dari pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, hingga mitra kerja sama.

Menurut Maheni, predikat Akreditasi Unggul memiliki arti strategis bagi pengembangan fakultas. Selain menjadi pengakuan resmi atas kualitas pendidikan yang diselenggarakan, capaian ini semakin memperkuat posisi FEB Universitas Muhammadiyah Jember sebagai salah satu fakultas ekonomi dan bisnis yang kompetitif di tingkat regional maupun nasional.

Perjalanan menuju Akreditasi Unggul, lanjutnya, ditempuh melalui proses yang panjang dan terencana. Berbagai aspek terus diperkuat, mulai dari implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), evaluasi kurikulum secara berkelanjutan, peningkatan kualitas dosen, pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, perluasan jejaring kerja sama, hingga peningkatan layanan akademik dan kemahasiswaan.


"Seluruh dokumen disusun berdasarkan data yang valid dan didukung implementasi nyata di lapangan. Saat asesmen lapangan, tim asesor dapat melihat bahwa budaya mutu benar-benar telah menjadi bagian dari tata kelola program studi, bukan sekadar pemenuhan dokumen administrasi," jelasnya.

Maheni menyebut sejumlah faktor yang menjadi kekuatan utama Program Studi Magister Manajemen, di antaranya komitmen pimpinan universitas terhadap budaya mutu, kualitas dosen yang terus berkembang, kurikulum yang adaptif terhadap kebutuhan dunia usaha dan industri, tata kelola yang akuntabel, produktivitas penelitian dan pengabdian, serta dukungan jejaring kerja sama dan alumni.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi seluruh pemangku kepentingan. Dosen berperan menjaga mutu pembelajaran, penelitian, dan publikasi ilmiah. Tenaga kependidikan memastikan layanan akademik berjalan profesional, sementara mahasiswa, alumni, dan mitra memberikan kontribusi melalui prestasi, masukan, hingga kolaborasi dalam berbagai program.

Bagi mahasiswa, Akreditasi Unggul memberikan berbagai manfaat, mulai dari jaminan mutu pendidikan yang diakui secara nasional, meningkatnya kepercayaan dunia kerja terhadap lulusan, hingga terbukanya peluang kerja sama akademik yang lebih luas, termasuk program pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, dan kolaborasi internasional.

"Pada akhirnya, manfaat terbesar adalah meningkatnya daya saing lulusan di tingkat nasional maupun internasional," ungkapnya.

Maheni juga menjelaskan bahwa Program Studi Magister Manajemen memiliki sejumlah keunggulan, seperti kurikulum yang adaptif terhadap transformasi digital dan kebutuhan dunia bisnis modern, integrasi kompetensi manajerial dengan nilai-nilai Islam berkemajuan, dosen yang aktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah, serta jejaring kerja sama dengan berbagai institusi pemerintah, dunia usaha, industri, dan mitra internasional.

Meski telah meraih Akreditasi Unggul, FEB Universitas Muhammadiyah Jember tidak berhenti melakukan pembenahan. Ke depan, fakultas akan terus memperkuat budaya mutu melalui evaluasi berkelanjutan, penyempurnaan kurikulum berbasis kebutuhan industri, peningkatan kompetensi dosen, penguatan publikasi internasional, digitalisasi layanan akademik, serta peningkatan kepuasan mahasiswa dan pengguna lulusan.


Selain itu, pengembangan riset kolaboratif, perluasan kerja sama internasional melalui joint research, visiting professor, student mobility, hingga inovasi pembelajaran berbasis teknologi digital, project-based learning, dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) secara bertanggung jawab juga menjadi fokus pengembangan ke depan.

Menutup wawancara, Maheni berharap capaian Akreditasi Unggul mampu menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Jember untuk terus membangun budaya mutu, budaya berprestasi, dan budaya melayani.

"Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dengan kerja sama, komitmen, integritas, dan semangat untuk terus belajar, kita mampu menghasilkan prestasi yang membanggakan. Semoga Akreditasi Unggul ini menjadi motivasi bagi seluruh program studi untuk terus meningkatkan kualitasnya sehingga Universitas Muhammadiyah Jember semakin dipercaya masyarakat, semakin berdaya saing, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa," pungkasnya.

 


Kamis, 30 Juli 2026

Ciamik, Lima Jurnal Unmuh Jember Raih Peningkatan Peringkat Akreditasi SINTA

Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember kembali menorehkan prestasi, kali ini di bidang publikasi ilmiah. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 355/DST/D.D1/HM.01.01/2026 tentang Peringkat Akreditasi Baru Jurnal Ilmiah Periode III Tahun 2025, lima jurnal yang dikelola Unmuh Jember berhasil meningkatkan maupun mempertahankan peringkat akreditasi Science and Technology Index (SINTA).

Capaian tersebut menjadi bukti komitmen Unmuh Jember dalam meningkatkan kualitas tata kelola jurnal ilmiah serta mendorong publikasi hasil penelitian yang memenuhi standar nasional. Keberhasilan ini juga menunjukkan konsistensi universitas dalam membangun budaya akademik yang berorientasi pada mutu dan keberlanjutan.

Seluruh jurnal ilmiah Unmuh Jember berada di bawah koordinasi UPT Pengelolaan Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PHP2M). Melalui berbagai program pembinaan, mulai dari pendampingan pengelola jurnal, penguatan kapasitas editor dan reviewer, hingga peningkatan kualitas substansi artikel, UPT PHP2M terus berupaya meningkatkan mutu jurnal agar memenuhi standar akreditasi nasional.

Berdasarkan hasil akreditasi terbaru, capaian yang berhasil diraih Universitas Muhammadiyah Jember meliputi:

  • Justindo (Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi Indonesia) meningkat dari SINTA 4 menjadi SINTA 3.

  • JASIE berhasil meraih akreditasi baru pada peringkat SINTA 4.

  • The Indonesian Journal of Health Sciences (TIJHS) berhasil mempertahankan peringkat SINTA 4.

  • Jurnal Pengabdian IPTEKS meningkat dari SINTA 5 menjadi SINTA 4.

  • Jiwakarta naik dari SINTA 6 menjadi SINTA 5.

Kepala UPT PHP2M Unmuh Jember, Abdul Jalil, S.P., M.P., menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan jurnal ilmiah.

"Capaian ini merupakan hasil sinergi antara pengelola jurnal, editor, reviewer, penulis, serta dukungan pimpinan universitas dalam membangun budaya publikasi ilmiah yang berkualitas," ujarnya.

Lebih lanjut, Abdul Jalil menjelaskan bahwa UPT PHP2M masih memfokuskan strategi pengembangan jurnal pada pencapaian akreditasi nasional hingga peringkat SINTA 2. Langkah tersebut disesuaikan dengan kebijakan dan regulasi terbaru mengenai akreditasi jurnal nasional, sehingga penguatan tata kelola, peningkatan kualitas artikel, konsistensi penerbitan, serta pemenuhan seluruh instrumen akreditasi menjadi prioritas utama.

Setelah target tersebut tercapai, pengembangan jurnal akan diarahkan secara bertahap menuju peningkatan visibilitas dan reputasi di tingkat internasional. Upaya tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan publikasi ilmiah Unmuh Jember sekaligus meningkatkan kontribusi penelitian bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Keberhasilan lima jurnal meraih peningkatan dan mempertahankan akreditasi SINTA diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh pengelola jurnal di lingkungan Unmuh Jember untuk terus meningkatkan kualitas publikasi ilmiah.

Dengan semangat kolaborasi dan pembinaan yang berkelanjutan, Unmuh Jember optimistis semakin banyak jurnal yang mampu meraih akreditasi lebih tinggi dan memperkuat reputasi institusi sebagai perguruan tinggi unggul dalam bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan publikasi ilmiah.

Connect