Kamis, 10 September 2026

Mahasiswa PBSI Unmuh Jember Raih Juara 1 Essay Writing 3rd ASEAN FUSION 2026


Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Faizatul Khoiriyah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, berhasil meraih Juara 1 Essay Writing dalam kompetisi 3rd ASEAN FUSION 2026 yang diselenggarakan oleh Ifugao State University (IFSU), Filipina.

Mengusung tema “Navigating Our Future, Together”, ASEAN FUSION 2026 menjadi ajang bagi mahasiswa se-ASEAN untuk menyampaikan gagasan kritis mengenai berbagai isu strategis, mulai dari diplomasi kawasan, keberlanjutan lingkungan, hingga integrasi teknologi. Selain Essay Writing, kompetisi ini juga menghadirkan cabang seni digital, pidato, dan tari budaya yang selaras dengan capaian Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.

Faizatul mengaku awalnya mengikuti kompetisi tersebut tanpa memasang target untuk menjadi juara. Dorongan dari Kaprodi menjadi langkah awal baginya untuk berani mencoba sekaligus menguji kemampuan dan keluar dari zona nyaman.

“Yang penting berani mencoba dan ambil pengalaman dulu,” ungkap Faizatul. Ia bahkan baru mengetahui dirinya meraih Juara 1 setelah mendapat kabar langsung dari Kaprodi.

Dalam kompetisi tersebut, Faizatul mengangkat isu tata kelola lingkungan dan krisis iklim di kawasan ASEAN melalui esai berjudul “Epistemological Pluralism and Epistemic Resilience: Reimagining ASEAN’s Sustainable Future Through Indigenous Knowledge Systems and Regional Governance”.

Melalui esainya, ia menekankan bahwa penyelesaian krisis lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi modern. Kearifan lokal masyarakat adat juga perlu dipandang sebagai sumber pengetahuan yang dapat melengkapi riset akademis dan teknologi dalam merumuskan kebijakan lingkungan.

Faizatul juga menawarkan gagasan AIKERP (ASEAN Indigenous Knowledge and Ecological Resilience Platform) sebagai platform regional yang menjembatani akademisi, generasi muda, dan masyarakat adat. Gagasan tersebut mendorong integrasi teknologi modern dengan pengetahuan lokal, seperti sistem Muyong di Filipina, Subak di Bali, dan Sasi di Maluku.

Menurutnya, keberlanjutan ASEAN tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga keterlibatan berbagai sistem pengetahuan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.

Proses penyusunan esai dilakukan Faizatul secara mandiri, mulai dari riset literatur, merumuskan gagasan AIKERP, hingga menulis dalam bahasa Inggris. Tantangan tersebut semakin besar karena proses pengerjaan berlangsung bersamaan dengan kegiatan KKN MAs di Malang.

Di tengah padatnya aktivitas KKN, Faizatul memanfaatkan waktu luang untuk melakukan riset dan menyusun draf esai. Meski tidak mendapatkan bimbingan intensif, dukungan Kaprodi sejak awal menjadi motivasi baginya untuk mengikuti kompetisi tersebut.

Bagi Faizatul, pencapaian tersebut bukan sekadar memperoleh E-Certificate of Recognition tingkat internasional. Pengalaman mengatur waktu, merumuskan gagasan pada tingkat regional, serta menaklukkan keraguan terhadap kemampuan diri menjadi pelajaran penting yang ia dapatkan dari kompetisi tersebut.

Faizatul pun mengajak mahasiswa Unmuh Jember untuk tidak ragu mengambil kesempatan yang ada.

“Jangan pernah minder atau ragu dengan potensi diri sendiri. Sering kali musuh terbesar kita bukanlah persaingan yang ketat, melainkan rasa ragu sebelum mencoba.”

Menurutnya, kesibukan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Pengalaman menyelesaikan esai di tengah KKN MAs membuktikan bahwa dengan niat, kemampuan mengatur waktu, doa orang tua, dan arahan dosen, mahasiswa tetap dapat menghasilkan karya terbaik.

Mahasiswa Psikologi Unmuh Jember Raih Juara 3 Essay Internasional ASEAN FUSION 2026


Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember. Lydia Febiyanti, mahasiswa Program Studi Psikologi Unmuh Jember, berhasil meraih Juara 3 Essay Writing dalam rangkaian kegiatan internasional 3rd ASEAN FUSION 2026 yang diselenggarakan oleh Ifugao State University (IFSU), Filipina.

ASEAN FUSION merupakan salah satu rangkaian kegiatan pertukaran budaya yang dikemas dalam bentuk kompetisi dengan berbagai cabang lomba, salah satunya Essay Writing. Selain mengikuti kompetisi tersebut, Lydia juga berpartisipasi dalam program ASEAN Language and Culture Exchange (LACE).

Melalui program tersebut, peserta dari berbagai negara ASEAN melakukan pertukaran budaya melalui presentasi dan interaksi antarpeserta. Kegiatan ini juga ditutup dengan Expo Showcase sebagai wadah untuk memperkenalkan potensi budaya dari masing-masing negara ASEAN.

Lydia mengaku ketertarikannya terhadap budaya menjadi alasan utama dirinya mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Baginya, kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah untuk menyalurkan minat terhadap budaya melalui kompetisi, tetapi juga membuka kesempatan membangun relasi sosial dalam lingkup internasional.

“Hal yang membuat saya tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut adalah karena saya memiliki ketertarikan yang cukup tinggi jika berbicara terkait budaya. Program ini dapat menjadi wadah untuk menyalurkan ketertarikan saya, baik dalam bentuk kompetisi maupun membangun relasi sosial, terlebih lagi dalam lingkup internasional,” ujarnya.

Dalam kompetisi Essay Writing, Lydia mengangkat gagasan mengenai peran budaya dalam memengaruhi masa depan ASEAN, khususnya dalam membangun relasi dan kolaborasi untuk menjaga serta memperkuat keutuhan kawasan.

Ia menjadikan salah satu ritual adat Banyuwangi, Seblang Olehsari, sebagai pondasi dalam penyusunan esainya. Menurut Lydia, kolaborasi di era saat ini tidak seharusnya hanya terpaku pada perkembangan teknologi.

Adat, tradisi, dan budaya yang telah hidup sejak dahulu, menurutnya, juga memiliki potensi besar dalam membangun kolaborasi antarnegara ASEAN.

“This is why resilience should mean more than economic strength, technological advancement, or institutional capacity. A resilient ASEAN also needs communities with a strong sense of identity, young people who understand their roots, and cultures capable of adapting without disappearing,” tulis Lydia dalam esainya.

Melalui gagasan tersebut, ia menekankan bahwa ketahanan ASEAN tidak hanya berkaitan dengan kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi, maupun kapasitas kelembagaan, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang memiliki identitas kuat, generasi muda yang memahami akar budayanya, serta budaya yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Bagi Lydia, karya tulis tersebut juga menjadi salah satu bentuk kebanggaannya sebagai bagian dari masyarakat Banyuwangi.

Lydia menyampaikan bahwa tidak ada bimbingan khusus dalam proses penyusunan esainya. Pengalaman mengikuti berbagai kompetisi essay dan karya tulis ilmiah sejak SMA menjadi bekal yang dimanfaatkannya dalam menyusun karya tersebut.

Meski demikian, ia mengapresiasi dukungan dari Kantor Urusan Internasional (KUI) Unmuh Jember yang telah mengenalkannya pada rangkaian kegiatan ASEAN FUSION dan LACE.

Bagi Lydia, pencapaian sebagai juara bukanlah satu-satunya hal berharga yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Ia juga mendapatkan pengalaman serta kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada peserta dari berbagai negara.

“Hal yang saya dapatkan selain juara dalam kompetisi ini adalah pengalaman yang berharga dan kesempatan yang luar biasa untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada mancanegara,” ungkapnya.

Lydia pun berpesan kepada mahasiswa Unmuh Jember agar tidak takut memulai dan mencoba berbagai kesempatan.

“Don’t be afraid to start something. Awal mula dari seorang juara adalah mereka yang berani mencoba.” pesannya.

BEM Unmuh Jember Bersama BEM PTMA Kawal Aspirasi BEM PTMAI Zona V ke DPRD Jawa Timur


Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (BEM PTMAI) Zona V Jawa Timur–Bali menyampaikan aspirasi dan kritik kepada DPRD Provinsi Jawa Timur, Senin (7/9/2026).

Aksi yang berlangsung di Gedung DPRD Provinsi Jawa Timur tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa mendorong pemerintah dan DPRD agar lebih responsif terhadap berbagai persoalan masyarakat. BEM PTMAI Zona V membawa sejumlah isu utama, meliputi demokrasi dan ruang sipil, keadilan ekonomi dan agraria, transparansi pembangunan dan anggaran, serta pelayanan publik dan penanganan bencana.

Dalam manifesto perjuangannya, BEM PTMAI Zona V menyampaikan 16 tuntutan. Di antaranya adalah jaminan kebebasan menyampaikan pendapat, kebijakan ekonomi dan agraria yang berkeadilan, transparansi pengelolaan APBD, penguatan pengawasan pembangunan, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta penguatan sistem penanganan bencana di Jawa Timur.

Keterlibatan BEM Unmuh Jember dalam aksi tersebut menjadi bagian dari komitmen mahasiswa untuk mengawal aspirasi masyarakat dan mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih adil, transparan, dan berpihak pada kepentingan rakyat.

BEM PTMAI Zona V menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa tidak berhenti pada penyampaian aspirasi, tetapi akan dilanjutkan dengan mengawal tindak lanjut pemerintah dan DPRD Jawa Timur terhadap tuntutan yang telah disampaikan.

Semangat tersebut ditegaskan dalam manifesto: mahasiswa hadir sebagai bagian dari masyarakat yang turut menjaga ruang hidup dan memperjuangkan keadilan sosial.

Mahasiswa Bangladesh Pilih Unmuh Jember, Tertarik Kualitas Pendidikan dan Lingkungan Islami


Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember kembali memperkuat daya tariknya sebagai salah satu perguruan tinggi pilihan mahasiswa internasional. Sejumlah mahasiswa asal Bangladesh memilih melanjutkan pendidikan di Unmuh Jember karena mempertimbangkan kualitas pendidikan, biaya hidup yang terjangkau, serta lingkungan masyarakat yang ramah dan memiliki kedekatan budaya Islam.

Salah satu mahasiswa asal Bangladesh, Tamjid, mahasiswa Program Studi Akuntansi, mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi pilihannya setelah mempertimbangkan sejumlah negara lain, seperti Pakistan, Jepang, dan China.

Menurutnya, Indonesia memiliki lingkungan yang nyaman bagi mahasiswa Bangladesh. Kesamaan sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim menjadi salah satu faktor yang membuatnya lebih mudah merasa dekat dengan kehidupan sosial dan budaya di Indonesia.

“Saya memilih Indonesia dan Unmuh Jember karena kualitas pendidikannya yang baik, biaya hidup yang terjangkau, dan budaya yang ramah,” ujar Tamjid.

Sebelum memutuskan untuk datang ke Indonesia, Tamjid memperoleh informasi mengenai kehidupan dan pendidikan di Indonesia dari sejumlah temannya yang lebih dahulu menempuh pendidikan di Jember.

Hal serupa dialami Faizan, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro. Lulusan salah satu madrasah Islam di Chattogram, Bangladesh, tersebut memang telah memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Faizan bahkan sempat mendapatkan penerimaan dari sejumlah perguruan tinggi di negara lain. Namun, program yang ditawarkan dinilai belum sesuai dengan ambisi dan cita-citanya. Kesempatan kemudian datang ketika ia memperoleh informasi mengenai beasiswa mahasiswa asing yang ditawarkan Unmuh Jember.

“Saya mendapatkan informasi tentang beasiswa mahasiswa asing Unmuh Jember dari Dhaka Scholars Forum. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari postingan akun resmi Instagram Unmuh Jember,” ungkapnya.

Setelah memperoleh informasi tersebut, Faizan tidak langsung mengambil keputusan. Ia terlebih dahulu mencari informasi lebih jauh mengenai Unmuh Jember, khususnya Program Studi Teknik Elektro, melalui website, YouTube, serta berbagai media sosial.

Informasi mengenai Unmuh Jember juga tidak terlepas dari jejaring kerja sama pendidikan yang telah terbangun. Dhaka Scholars Forum sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan salah satu perguruan tinggi di Jember, yaitu Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) dan turut memfasilitasi penerimaan mahasiswa asal Bangladesh di kampus tersebut. Dari jejaring tersebut, staf UIN KHAS kemudian turut memberikan informasi mengenai kesempatan studi di Unmuh Jember.

Tahun ini, Dhaka Scholars Forum kembali memfasilitasi mahasiswa asal Bangladesh untuk melanjutkan pendidikan di Unmuh Jember.

Memulai kehidupan di negara baru tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Para mahasiswa Bangladesh tersebut mengaku masih berada dalam proses beradaptasi dengan bahasa, makanan, budaya, serta kebiasaan masyarakat Indonesia yang memiliki sejumlah perbedaan dengan Bangladesh.

Tamjid mengakui bahwa proses adaptasi tersebut terkadang terasa cukup berat. Namun, keramahan masyarakat dan dukungan dari lingkungan kampus membuatnya optimis dapat segera menyesuaikan diri.

“Saya masih dalam tahap adaptasi dengan budaya, bahasa, dan makanan di Indonesia karena sangat berbeda dengan Bangladesh. Kadang-kadang terasa berat, namun insyaAllah saya akan segera bisa beradaptasi,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada staf Lembaga Kerja Sama dan Urusan Internasional (LKUI) Unmuh Jember, yang menurutnya banyak membantu proses adaptasi mahasiswa internasional.

Kehadiran mahasiswa asal Bangladesh tidak hanya menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa yang bersangkutan, tetapi juga membuka peluang terbentuknya jejaring akademik dan sosial antara Indonesia dan Bangladesh.

Abdullah, mahasiswa Program Studi Manajemen, mengatakan dirinya tidak ragu untuk merekomendasikan Unmuh Jember kepada teman maupun keluarganya di Bangladesh.

Menurutnya, keramahan lingkungan kampus, kesamaan budaya Muslim, serta peluang membangun koneksi lintas negara menjadi alasan kuat untuk merekomendasikan Unmuh Jember.

“Saya pasti akan merekomendasikan berkuliah di Unmuh Jember kepada rekan dan keluarga lainnya. Alasannya adalah lingkungan yang sangat ramah dan menyambut kami dengan baik, budaya Muslim yang mirip dengan Bangladesh, dan sebagai kesempatan untuk membangun koneksi lintas negara,” jelas Abdullah.

Menurutnya, meskipun berasal dari kawasan Asia Selatan, terdapat sejumlah kesamaan budaya yang membuat mahasiswa Bangladesh lebih mudah berinteraksi dan beradaptasi dengan masyarakat Indonesia.

Menariknya, pengalaman selama berada di Indonesia mulai mengubah rencana pendidikan Tamjid. Semula, ia memiliki rencana menyelesaikan pendidikan sarjana di Indonesia, kemudian melanjutkan S2 di Australia dan S3 di Amerika Serikat atau Jerman.

Namun, setelah merasakan langsung suasana akademik dan kehidupan di Indonesia, ia mulai mempertimbangkan untuk melanjutkan pendidikan magister di Indonesia, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.

Bahkan, ia memiliki cita-cita untuk menjadi dosen dan berkontribusi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Sementara itu, Abdullah masih memiliki target untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di Eropa, Amerika Serikat, atau Australia. Ia ingin memperluas pengalaman akademik, melakukan berbagai penelitian, dan kelak menjadi dosen di salah satu universitas di Eropa.

Meski demikian, Indonesia tetap menjadi pilihan yang terbuka baginya.

“Jika ada kesempatan, saya akan mencoba mewujudkan cita-cita saya di negara tersebut. Namun jika tidak, dengan senang hati saya akan meneruskan S2 di sini. InsyaAllah,” ungkapnya.

Kehadiran mahasiswa Bangladesh tersebut menunjukkan bahwa internasionalisasi Unmuh Jember tidak hanya berlangsung melalui kerja sama kelembagaan, tetapi juga melalui pengalaman langsung mahasiswa lintas negara.

Keramahan lingkungan kampus, kedekatan budaya, serta akses pendidikan yang kompetitif menjadi bagian dari pengalaman yang membuat Unmuh Jember semakin dikenal di kalangan calon mahasiswa internasional.

Rabu, 09 September 2026

Mahasiswa KKN Kolaborasi UNMUH Jember dan UAD Sukses Dampingi Anak TPQ Raih Prestasi di Festival Anak Sholih

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember bersama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta turut berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang berprestasi dan berakhlak Islami melalui kegiatan Festival Anak Sholih yang digelar di Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, Ahad (6/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja kolaboratif mahasiswa KKN UAD dan Unmuh Jember yang melibatkan peserta didik dari berbagai Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) di Desa Sumberasri. Para peserta merupakan perwakilan dari TPQ yang menjadi lokasi pelaksanaan program kerja mahasiswa KKN Kolaborasi.

Festival Anak Sholih menghadirkan sejumlah cabang perlombaan keagamaan, meliputi kaligrafi, Pildacil (Pidato Anak Sholeh), adzan, dan hafalan Juz ‘Amma. Perlombaan tersebut menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan, kreativitas, keberanian tampil di depan umum, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai keislaman.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN Kolaborasi UAD dan Unmuh Jember terlibat aktif sejak tahap persiapan hingga kegiatan berakhir. Mahasiswa berperan sebagai panitia sekaligus juri yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan lomba, proses penilaian, hingga pengumuman pemenang. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Desa Sumberasri, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumberasri, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Sumberasri, serta sejumlah Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari UAD.

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Sumberasri. Menurutnya, Festival Anak Sholih menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan bakat dan potensi yang dimiliki sekaligus melatih kepercayaan diri melalui pengalaman tampil di hadapan banyak orang.

“Kami sangat mengapresiasi adanya kegiatan Festival Anak Sholeh yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Kolaborasi antara UAD Yogyakarta dan Unmuh Jember. Kegiatan ini akan menjadi wadah bagi anak-anak di Desa Sumberasri untuk menunjukkan bakat dan potensi yang selama ini mungkin belum terlihat,” ungkapnya.

Salah satu capaian membanggakan datang dari mahasiswa KKN Kolaborasi Unmuh Jember dan UAD Unit I.D.1 Sumberasri. Melalui pendampingan dan pembinaan yang dilakukan selama pelaksanaan program KKN, mahasiswa berhasil mengantarkan peserta didik dari TPQ Miftahul Jannah Sumberasri meraih prestasi pada seluruh cabang perlombaan yang diikuti.

Adapun prestasi yang berhasil diraih meliputi Juara 1 Kaligrafi, Juara 3 Pildacil, Juara 2 Adzan, dan Juara 1 Hafalan Juz ‘Amma. Capaian tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan pendampingan mahasiswa KKN dalam membina dan mengembangkan potensi anak-anak TPQ di Desa Sumberasri.

Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para peserta didik, tetapi juga bagi mahasiswa KKN, ustadz dan ustadzah TPQ, serta masyarakat Desa Sumberasri. Prestasi yang diraih menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun rasa percaya diri.

Melalui kegiatan Festival Anak Sholih, mahasiswa KKN Kolaborasi Unmuh Jember dan UAD berharap kegiatan pembinaan serupa dapat terus memberikan pengalaman positif bagi anak-anak serta mendorong mereka untuk semakin giat belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang keagamaan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa Unmuh Jember dalam mengimplementasikan ilmu dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung terbentuknya generasi muda yang religius, berprestasi, percaya diri, dan berakhlak mulia.

Senin, 07 September 2026

Mahasiswa Baru Unmuh Jember Diajak Belajar Berdemokrasi Lewat Simulasi Demo

Pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru tak selalu harus berlangsung di dalam ruangan dengan rangkaian materi dan presentasi. Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menghadirkan pendekatan berbeda dalam kegiatan Seminaria Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKPIMB) 2026 yang digelar selama tiga hari, Senin-Rabu (7-9/9/2026).

Setelah mendapatkan pembekalan mengenai Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dan sistem kehidupan akademik di kampus, mahasiswa baru diajak mengenal berbagai isu strategis yang tengah menjadi perhatian publik. Tidak berhenti pada diskusi, mereka kemudian diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi melalui simulasi demonstrasi.

Dengan mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol solidaritas, mahasiswa baru dibagi dalam kelompok untuk menyuarakan pandangan mereka. Mereka membawa berbagai atribut aksi yang dipersiapkan secara mandiri, mulai dari poster-poster bernada kritis hingga spanduk panjang bertuliskan "ALIANSI MAHASISWA UNMUH JEMBER" yang dibentangkan di tengah lapangan.

Suasana semakin menarik ketika mereka melakukan simulasi demonstrasi tersebut di bawah terik matahari, dipimpin oleh orator berjas almamater merah tua dengan menggunakan megafon. Mereka berorasi dan menyampaikan tuntutan secara langsung di hadapan pihak “pemerintah” yang diperankan oleh panitia melalui roleplay.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam rangkaian PKKPIMB Unmuh Jember. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai bagaimana menyampaikan pendapat, tetapi juga memahami bahwa demonstrasi merupakan salah satu bentuk penyampaian aspirasi yang harus dilakukan secara tertib, kritis, dan bertanggung jawab.


Ketua Panitia PKKPIMB Unmuh Jember, Putra Kurniawan, S.Hub.Int., M.A., mengatakan bahwa konsep simulasi demonstrasi tersebut lahir dari evaluasi terhadap pelaksanaan PKKPIMB pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, kegiatan pengenalan mahasiswa baru selama ini cenderung didominasi aktivitas di dalam ruangan dan penyampaian materi melalui presentasi. Karena itu, panitia mencoba menghadirkan metode yang lebih partisipatif dan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa baru.

“Simulasi demo ini berangkat dari kejenuhan kegiatan PKKPIMB tahun-tahun sebelumnya yang terlalu banyak kegiatan indoor dan presentasi. Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada mahasiswa baru,” jelas Putra.

Melalui simulasi tersebut, mahasiswa baru diperkenalkan pada proses menyampaikan aspirasi dengan cara yang benar. Mereka belajar berkelompok di dalam ruangan untuk menyusun tuntutan dan melukis media aksi secara kreatif, sebelum akhirnya turun ke ruang publik untuk berorasi, sekaligus memahami batas-batas agar aksi tidak berkembang menjadi tindakan anarkis.

“Tujuannya juga untuk memberi tahu mahasiswa baru bagaimana melakukan demo yang baik dan benar, tidak anarkis, serta tetap menyampaikan aspirasi secara kritis dan bertanggung jawab,” lanjutnya.

Lebih jauh, Putra menyebut simulasi tersebut menjadi bagian dari upaya panitia membangun karakter mahasiswa baru sebagai agent of change. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memahami kehidupan akademik di kampus, tetapi juga didorong agar memiliki kepekaan terhadap persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kami ingin build mahasiswa baru sebagai agent of change yang peka terhadap isu dan mampu menentukan sikap terhadap isu tersebut. Salah satu bentuknya adalah bagaimana mereka bisa menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi dengan cara yang baik,” ungkap Putra.

Dalam prosesnya, mahasiswa diberikan isu-isu strategis yang sedang menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. Mereka kemudian berdiskusi, menentukan sikap, merumuskan tuntutan, serta menerjemahkannya dalam bentuk tulisan-tulisan tajam di atas karton kuning dan kain putih.

Pendekatan tersebut membuat mahasiswa baru tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi turut menjadi aktor yang mengolah informasi dan mengambil posisi terhadap persoalan yang sedang dibahas.

Salah satu isu yang menjadi materi dalam simulasi adalah persoalan penanganan bencana. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan terkait keselamatan masyarakat, respons pemerintah, distribusi bantuan, keterbukaan informasi, kesiapsiagaan, hingga mekanisme pemulihan masyarakat terdampak. Dari isu ini, mereka menuntut pemerintah untuk membuka data anggaran penanganan bencana serta menghentikan pencitraan.

Selain itu, isu ketidakadilan sosial dan hak asasi manusia juga disuarakan dengan lantang. Terlihat dari atribut aksi yang mereka buat, mahasiswa mengangkat isu konflik agraria dengan tulisan tegas, "HENTIKAN PERAMPASAN TANAH ADAT, PAPUA BUKAN TANAH KOSONG".

Kritik terhadap kinerja pemerintah secara umum juga mewarnai jalannya aksi simulasi. Beberapa poster yang dibentangkan oleh mahasiswa memuat tuntutan-tuntutan seperti "Mundur Atau Mendengar! Suara Rakyat Bukan Pajangan", "Tegakkan Keadilan", dan "Rakyat Butuh Solusi Bukan Sekedar Janji!!!".

Simulasi demonstrasi tersebut menjadi ruang belajar mengenai praktik demokrasi bagi mahasiswa baru. Mereka tidak hanya belajar bagaimana menyampaikan kritik, tetapi juga memahami pentingnya argumentasi, koordinasi, dan tanggung jawab dalam menyuarakan kepentingan publik. Kritik terhadap pemerintah, sebagaimana ditegaskan dalam dokumen sikap mereka, merupakan bagian dari tanggung jawab publik untuk memastikan negara menjalankan kewajibannya.

Namun, seluruh proses demonstrasi tetap dikemas dalam konteks edukasi. Secara teknis, kegiatan dikawal oleh panitia PKKPIMB yang merupakan gabungan mahasiswa dan BEM Universitas Muhammadiyah Jember. Panitia berperan mengarahkan jalannya simulasi, mendampingi mahasiswa yang duduk melingkar saat aksi, sekaligus memastikan aspirasi tersampaikan dengan tertib.

Bagi mahasiswa baru, pengalaman tersebut menjadi cara baru memahami bahwa kehidupan kampus tidak hanya berbicara tentang ruang kelas, organisasi, dan kegiatan akademik. Kampus juga menjadi ruang untuk belajar membaca persoalan masyarakat, berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan mengambil peran sebagai bagian dari perubahan sosial.

Melalui konsep PKKPIMB yang lebih interaktif tersebut, Unmuh Jember berupaya menanamkan sejak awal bahwa mahasiswa bukan sekadar peserta didik, melainkan bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab intelektual dan sosial.

Jumat, 04 September 2026

Wani Ngimpi, Wani Ngelakoni : Ribuan Mahasiswa Baru Unmuh Jember Antusias Ikuti Opening PKKPIMB 2026

Sebanyak 1.584 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember mengikuti Opening Pengenalan Kehidupan Kampus dan Pembinaan Ideologi Mahasiswa Baru (PKKPIMB) 2026, pada Jumat (4/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik sekaligus memulai perjalanan mereka sebagai bagian dari keluarga besar Unmuh Jember.

Antusiasme peserta telah terlihat sejak pagi. Mereka datang sejak pukul 05.00 WIB untuk mengikuti persiapan dan proses checking sebelum rangkaian kegiatan dimulai. Meski harus hadir lebih awal, semangat mahasiswa baru tetap terlihat sepanjang pelaksanaan opening.

Dalam kegiatan tersebut, seluruh mahasiswa baru disambut oleh jajaran sivitas akademika Unmuh Jember, mulai dari pimpinan fakultas hingga jajaran rektorat. Kehadiran para pimpinan menjadi bentuk penyambutan sekaligus penegasan bahwa mahasiswa baru merupakan bagian penting dalam perjalanan Unmuh Jember ke depan.

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, menyampaikan kebahagiaannya atas kehadiran mahasiswa baru yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti rangkaian Opening PKKPIMB 2026.

“Selamat datang di kampus unggul, kampus yang akan menjadi tempat kalian untuk meraih mimpi. Saya bangga dengan antusias yang kalian tunjukkan,” ujarnya.

Dr. Hanafi juga berpesan agar semangat yang ditunjukkan mahasiswa baru pada hari pertama tersebut tidak berhenti setelah kegiatan PKKPIMB berakhir. Menurutnya, semangat tersebut perlu terus dijaga dan dikobarkan selama mahasiswa menjalani proses perkuliahan.

“Terus jaga semangat untuk nanti saat melaksanakan perkuliahan,” lanjutnya.

Opening PKKPIMB 2026 menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru dalam memulai kehidupan akademik di Unmuh Jember. Tidak sekadar mengenalkan kehidupan kampus, kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses membangun karakter dan menumbuhkan semangat mahasiswa dalam mempersiapkan masa depan.

Semangat tersebut selaras dengan jargon PKKPIMB 2026, “Wani Ngimpi, Wani Ngelakoni.” yang menjadi pesan bagi mahasiswa baru agar tidak pernah takut untuk bermimpi setinggi langit dan tidak ragu untuk memulai langkah nyata dalam mewujudkan impian tersebut.

Dengan semangat yang telah ditunjukkan sejak hari pertama, mahasiswa baru Unmuh Jember diharapkan mampu menjalani perjalanan perkuliahan dengan penuh optimisme, keberanian, dan kesungguhan untuk meraih cita-cita.

Rabu, 02 September 2026

PAUD Yasmin Unmuh Jember Terima Hibah Kemendikdasmen, Pembangunan Fasilitas Mulai Digarap

 


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Yasmin Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menerima dana hibah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Hibah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan.

Program revitalisasi dilaksanakan dalam jangka waktu 120 hari, mulai 1 September hingga 31 Desember 2026, dengan total anggaran sebesar Rp506.873.000. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan ruang kelas, fasilitas sanitasi, serta penataan lingkungan sekolah.

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, menyampaikan bahwa revitalisasi tersebut merupakan buah dari perjuangan bersama dalam mewujudkan sarana pembelajaran yang lebih baik.

“Ini adalah perjuangan kita semua untuk meningkatkan fasilitas yang dari beberapa waktu lalu kita ajukan kepada Kemendikdasmen, dan akhirnya saat ini kita berhasil menerima dana hibah ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah PAUD Yasmin, Chusnul Wardani Apriyanti, S.Pd., menjelaskan bahwa ruang kelas baru yang dibangun nantinya dirancang sebagai ruang serbaguna.

“Rencananya nanti ruang kelasnya juga akan dapat digunakan sebagai aula sehingga bisa dipergunakan dalam acara yang skalanya lebih besar,” jelasnya.

Menurut beliau, peningkatan fasilitas menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas proses pembelajaran. Dengan sarana dan prasarana yang lebih lengkap dan memadai, kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat berlangsung secara lebih optimal.

Selain mendukung proses pembelajaran, penambahan fasilitas tersebut juga dinilai dapat memperkuat daya tarik PAUD Yasmin dalam penerimaan peserta didik baru.

“Dengan adanya tambahan fasilitas ini, tentu akan membantu dalam promosi dan pendaftaran siswa baru,” pungkasnya.

Proses pengerjaan pembangunan sudah mulai dikerjakan sejak 1 September kemarin dan direncanakan untuk segera selesai sebelum tenggat waktu yang telah ditentukan oleh Kemendikdasmen, yaitu 31 Desember 2026.

Pihak kampus diminta untuk selalu memantau proses pembangunan fasilitas tersebut untuk memastikan proyek berjalan sesuai prosedur yang telah ditetakan.

Connect