Rabu, 22 Juli 2026

Patahkan Stigma '3D', Dr. Henik Soroti Tiga Pilar Utama Regenerasi Petani Masa Depan di Semartani 5

Fenomena penyusutan dramatis akibat kelangkaan tenaga kerja muda yang mau menggantikan posisi tetua mereka di sektor budidaya pertanian (farmer aging) sejatinya masih menjadi pekerjaan rumah terbesar sekaligus bom waktu bagi ketahanan pangan bangsa Indonesia. Hal yang paling miris sekaligus menarik adalah keengganan bergelut dengan cangkul dan tanah ini ternyata tidak hanya dominan terjadi pada masyarakat awam yang minim edukasi agraris, tetapi juga justru menjangkiti para lulusan sarjana akademis dari fakultas-fakultas pertanian di berbagai universitas. Akar permasalahan sosiologis dan psikologis terkait isu dilematis ini dikupas sangat tuntas serta komprehensif oleh Dr. Ir. Henik Prayuginingsih, M.P., selaku Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Jember. Ulasan tajam tersebut disampaikannya pada rangkaian pemaparan sesi terakhir di perhelatan Semartani 5 Tahun 2026. Mengambil tempat yang megah di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, gelaran dialektika akademis ini dilaksanakan sukses secara hybrid pada hari Selasa, 21 Juli 2026.

Dalam sesi presentasinya yang menggugah nalar, Dr. Henik menyoroti dengan tajam ihwal kuatnya belenggu stigma konotasi negatif yang populer dengan sebutan "3D" (Dirty, Difficult, Dangerous) yang terlanjur tertanam begitu dalam di alam bawah sadar benak generasi muda manakala mendengar frasa 'profesi petani'. Pekerjaan budidaya pertanian selalu dianggap sebagai ranah yang Dirty (kotor, kumuh, dan tidak estetik) lantaran lekat dengan aktivitas di kubangan lumpur pekat, debu ladang beterbangan, serta paparan bau kurang sedap dari pupuk kompos organik maupun kotoran hewan ternak. Aktivitas ini kemudian diyakini sebagai rutinitas yang Difficult (sangat sulit dan menguras fisik berat) karena praktiknya menuntut pengerahan tenaga ekstra di bawah siraman terik panas matahari yang membakar kulit, memiliki siklus masa tunggu (gestation period) yang terlampau panjang dan lambat untuk bisa memetik keuntungan panen komersial, hingga adanya bayang-bayang fluktuasi ketidakpastian harga jual hasil bumi di pasaran raya yang kerap kali mengecewakan ekspektasi pendapatan. Lebih parah lagi, pekerjaan ini dianggap sangat Dangerous (memicu paparan berbahaya) akibat tingginya tingkat risiko keracunan kesehatan dari paparan zat kimia pestisida mematikan atau bahkan tersimpan ancaman fisik berupa potensi gigitan ular maupun hewan berbisa lainnya yang kerap bersarang bebas di ekosistem ladang hamparan terbuka. Kombinasi akumulasi stigma negatif inilah yang kerap kali pada gilirannya membuat kalangan orang tua secara sadar maupun tidak, menolak atau merasa enggan untuk memberikan restu penuh kepada putra-putri mereka—yang sudah bersusah payah disekolahkan ke jenjang perguruan tinggi dengan ongkos mahal—untuk kembali lagi meniti nasib turun ke pematang sawah.

Kendati demikian, secercah harapan positif justru terungkap melalui sebuah studi riset mendalam yang pernah dilakukan secara akademis oleh kelompok mahasiswa Fakultas Pertanian Unmuh Jember yang menyasar langsung responden di kalangan siswa siswi tingkat SMA dan kelompok mahasiswa. "Fakta lapangannya sebenarnya sangat menggembirakan, tercatat ada sekitar 70 persen proporsi anak muda yang dengan jujur mengakui bahwa pekerjaan mencetak pangan alias petani sejatinya adalah manifestasi profesi mulia dan luhur. Mereka dengan lantang menyatakan bersedia dan berminat penuh untuk meretas karier menjadi petani muda, asalkan syarat-syarat fundamental mereka dapat terpenuhi secara layak oleh keadaan sistemik. Syarat mutlaknya yakni: budidaya pertaniannya harus murni ditopang oleh fasilitas alat inovasi teknologi mesin modern, kondisi lingkungan sistem kerjanya dapat dikondisikan bersih rapi serta tidak harus menguras letih tenaga otot punggung semata, dan yang terpenting adalah model bisnis taninya terbukti secara rill mampu memberikan imbal balik jaminan pendapatan ekonomi operasional yang berkali lipat lebih sejahtera dibanding profesi urban lainnya," papar Dr. Henik secara elaboratif.

Dalam rangka menjembatani sekaligus menjawab deretan tantangan berat tersebut, Dr. Henik secara sistematis merumuskan konstruksi tiga pilar kebijakan utama yang tidak bisa tidak harus segera dioperasikan secara simultan bersama lintas pihak, demi merawat dan menyukseskan estafet keberlanjutan regenerasi penggarap tani muda. Pertama, adanya pengadaan infrastruktur dukungan teknologi berupa perangkat mesin mekanisasi cerdas pertanian (smart farming) dan instrumen sarana input produksi unggulan (bibit dan pakan mutakhir) guna mewujudkan rasio efisiensi beban kerja fisik (sebagaimana contoh sistem kebun atap hidroponik dan fertigasi yang menjamin kerapian dan standar kebersihan diri petaninya). Kedua, ketersediaan jaringan pasokan rantai pasok dan kepastian ruang dukungan pasar bervolume jumbo melalui katalisator hilirisasi pengolahan pabrikasi pangan (sebagai misal berdirinya sentra industri ekstraksi pabrik jus buah mangga atau sejenisnya) yang selalu siap melahap serapan daya pasokan komoditas hasil bumi pasca panen raya secara konsisten dan massal, berikut dengan penawaran ketetapan kontrak harga beli tengkulak yang sangat amat menguntungkan neraca saku sang petani pelaksana. Ketiga dan tidak kalah urgensinya, adalah uluran tangan langsung dukungan sinergis berupa perlindungan serta stimulasi program dari perpanjangan tangan negara (pemerintah) ataupun inisiasi fasilitator startup independen swasta murni, yang mampu menyediakan porsi injeksi suntikan kredit modal usaha berbunga rendah, menuntaskan perbaikan sistem debit debitase saluran irigasi publik, dan senantiasa membimbing pengetahuan keahlian mereka via sekolah lapangan penyuluhan teknologi pertanian terpadu secara persisten. Di akhir kesimpulan pamungkasnya, Dr. Henik menegaskan keyakinan bahwa jika fondasi ekosistem suportif ini berhasil ditegakkan dengan kukuh, ia tidak ragu memastikan barisan pemuda pemudi bangsa pada akhirnya akan menaruh kebanggaan tinggi dan saling berebut meniti gemilang kemapanan masa depan dengan berprofesi sebagai barisan ksatria petani milenial sejati.

 

Make Agriculture Cool Again : SVP Eratani Ajak Generasi Z Terjun Jadi Petani Lewat Kolaborasi Digital di Semartani 5

Sebuah riset demografis yang cukup mengejutkan dari Bappenas memproyeksikan sebuah skenario buruk: pada tahun 2060 mendatang, Indonesia terancam krisis eksistensial dengan tidak lagi memiliki warga yang berprofesi sebagai petani murni akibat ketiadaan laju regenerasi. Fakta empiris di lapangan bahkan memperlihatkan bahwa 67,8 persen penggarap lahan tani di Indonesia saat ini didominasi secara penuh oleh kelompok usia lanjut (yakni rentang usia 45 hingga 65 tahun). Di sisi lain, angka ketertarikan kaum muda dari kelompok Generasi Z untuk terjun mencicipi profesi di sektor pertanian agraris sangatlah memprihatinkan, tercatat hanya berkisar pada rasio 6 dari 100 pemuda. Berupaya keras menjawab krisis eksistensial kedaulatan pangan nasional ini, Adwin Pratama Anas, S.E., M.A., yang saat ini menjabat sebagai Sr. Vice President Operations Eratani di PT. Eratani Teknologi Nusantara, tampil memberikan pencerahan motivasional dalam acara Semartani 5 Tahun 2026. Seminar ini diselenggarakan secara sukses dengan format hybrid di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, Selasa (21/7/2026).

Dalam kesempatannya, Adwin, yang juga telah secara independen meneliti kompleksitas masalah pertanian dan menuangkannya secara runut ke dalam sebuah buku berjudul Farmers are Disappearing, mengurai tuntas enam variabel akar permasalahan utama (broken equation) yang menyebabkan tersingkirnya regenerasi petani di Indonesia. Variabel faktor tersebut meliputi rasio ketidakpastian pendapatan bersih serta permodalan awal yang berat, rendahnya taraf literasi pendidikan (lebih dari separuh populasi petani hanya memegang ijazah SMP ke bawah), besarnya risiko ancaman gagal panen akibat terjangan cuaca iklim yang tidak menentu, persepsi sosial masyarakat yang terlanjur menganggap profesi petani bukanlah jenis pekerjaan bergengsi atau elegan, kurangnya daya beli dan adopsi alat teknologi canggih, serta adanya lubang dalam regulasi dan kebijakan perlindungan negara. "Anak-anak muda milenial di era media sosial saat ini sangat mencari aktualisasi diri dan validasi. Mereka butuh memamerkan pekerjaan yang mendapat pengakuan serta prestise sosial. Sayangnya, memegang cangkul dan menjadi petani masih sering dipandang sebelah mata, dianggap kampungan, dan dinilai tidak sekeren bekerja berseragam di balik meja kantoran," ungkap Adwin secara blak-blakan.

Untuk mengatasi kebuntuan sistemik tersebut, startup agritech (teknologi pertanian) Eratani hadir sebagai ekosistem digital revolusioner yang mencoba merombak cara pandang tata kelola budidaya tradisional menjadi jauh lebih modern, terukur basis datanya, dan pastinya lebih menguntungkan secara finansial. Melalui sentuhan platform digital end-to-end, Eratani menyediakan sekurang-kurangnya tiga pilar solusi nyata bagi para petani mitranya: pembukaan akses permodalan operasional (tanpa jaminan rumit) di awal masa musim tanam, pendampingan tenaga profesional agronomis guna mengatur dosis penggunaan sarana produksi (seperti benih, pupuk, serta obat pestisida) secara amat presisi sesuai standar, dan penyediaan jaminan akses penyaluran pasar yang transparan guna memberikan garansi harga beli panen komoditas gabah yang terbaik bagi kesejahteraan petani.

Lebih jauh, Adwin juga mengajak dengan tegas kepada kalangan mahasiswa kampus untuk segera mematahkan stereotip usang bahwa bertani harus selalu identik dengan bercucuran keringat, bau matahari, dan berkubang lumpur hitam. "Praktik pertanian di dunia modern saat ini sudah bertransformasi sangat masif. Pengecekan kondisi kelembapan dan derajat keasaman lahan di luar negeri kini dipantau cukup melalui layar monitor pencitraan satelit. Untuk menyemprotkan cairan hama pestisida di atas lahan seluas satu hektar, kita tidak perlu lagi memanggul tabung berat dan membuang waktu fisik selama setengah hari, kini kita cukup duduk di bawah pohon, mengoperasikan rute jelajah drone dari pinggir petak sawah, dan operasi penyemprotan itu selesai paripurna hanya dalam waktu 20 menit saja," tegasnya penuh optimisme. Melalui tajuk kampanye masif bertajuk "Make Agriculture Cool Again", ia mendorong mahasiswa kampus dan seluruh generasi muda penerus untuk berani melek adopsi teknologi terkini dan bangga mengambil peran kunci sebagai ujung tombak pahlawan penyedia pangan rakyat di kancah era digitalisasi.

 

Cegah Kecurangan Produk Pangan, Akademisi UHO Kenalkan Deteksi Cerdas Berbasis Artificial Intelligence di SEMARTANI 5



Kasus kecurangan produk pangan (food fraud) di dunia industri, mulai dari pemalsuan madu murni, pencampuran daging sapi segar dengan jenis daging lain yang berharga lebih murah, hingga pelabelan penipuan yang menjual ikan patin sebagai ikan kakap merah mahal, telah menjadi ancaman serius. Hal ini merugikan tidak hanya dari sisi ekonomi konsumen, tetapi juga sangat mengancam integritas kesehatan masyarakat luas. Isu yang semakin marak terjadi di pasar global maupun domestik ini menjadi sorotan utama yang diangkat oleh akademisi terkemuka dari Universitas Halu Oleo, Dr. M. Syukri Sadimantara, S.T., M.P., pada acara Seminar Nasional Pertanian ke-5 (Semartani 5) Tahun 2026. Mengambil lokasi di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, kegiatan berskala nasional ini diselenggarakan secara hybrid pada hari Selasa, 21 Juli 2026.

Dalam materinya, Dr. Syukri memaparkan secara komprehensif mengenai betapa pentingnya transisi dan peran inovasi teknologi modern dalam mendeteksi kualitas mutu serta keamanan produk pangan secara cepat, masif, dan akurat. Menurut tinjauan akademisnya, proses inspeksi kendali mutu (quality control) yang selama ini dilakukan secara visual oleh tenaga kerja manusia maupun melalui metode uji laboratorium konvensional saat ini masih memiliki banyak celah kelemahan. "Penglihatan manusia, meskipun sudah dilatih secara khusus, sangat rentan terhadap bias subjektif, faktor kelelahan kerja, dan ketidakkonsistenan penilaian. Sementara itu, prosedur uji laboratorium memakan waktu antrean yang berminggu-minggu, berbiaya sangat mahal, dan umumnya bersifat destructive atau harus menghancurkan sampel produk fisik yang akan diuji," papar pakar kecerdasan buatan dan teknologi pangan tersebut.

Sebagai jalan keluar dan lompatan revolusioner ke depan, Dr. Syukri memperkenalkan penerapan solusi canggih berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui pendekatan arsitektur jaringan Machine Learning, pemanfaatan kamera Computer Vision, serta sensor Spektroskopi (Chemometrics). Melalui pembacaan spektrum cahaya dan analisis pantulan gelombang optik, teknologi ini mampu secara ajaib mendeteksi komposisi kimiawi internal dan potensi kerusakan mutu pada tingkat molekuler secara instan tanpa perlu memotong atau merusak produk sama sekali. Ia mencontohkan secara langsung penggunaan model Deep Learning mutakhir seperti CNN dan YOLO (You Only Look Once) yang dapat secara otomatis mengklasifikasikan kelas kualitas dan adanya mikotoksin pada biji kakao, memprediksi tingkat rendeman air dan kematangan buah mangga hanya dengan tangkapan citra gambar dari ponsel pintar berbasis cloud, hingga memverifikasi keaslian murni sebuah produk madu dari tindak pencampuran (adulteration).

Meskipun potensi teknologinya sangat luar biasa, Dr. Syukri tetap mengingatkan seluruh akademisi akan sebuah prinsip fundamental dalam pemodelan kecerdasan buatan, yakni 'Garbage In, Garbage Out'. "Sistem AI yang paling canggih sekalipun tidak akan pernah berfungsi maksimal jika data latih (training data) yang kita pasok ke dalamnya merupakan data kotor atau tidak akurat. Oleh karena itu, tugas krusial dari para peneliti, dosen, dan mahasiswa teknologi industri pertanian adalah merancang dan menyediakan bank data set mutu pangan yang benar-benar telah tervalidasi keakuratannya di dalam laboratorium konvensional untuk mengajari algoritma mesin tersebut agar semakin cerdas," pesannya. Walaupun investasi instalasi infrastruktur keras ini cukup mahal di awal, ia sangat optimis bahwa ke depannya, pengendalian mutu pangan industri akan beralih secara total pada otomatisasi sistem smart factory.

 

Dorong Kemandirian Pangan, Kepala PVTPP Kementan Ajak Civitas Akademika Unmuh Jember Daftarkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman

Ancaman perubahan iklim yang ekstrem, penyusutan lahan produktif akibat alih fungsi lahan peruntukan industri dan pemukiman, serta tren penuaan petani (aging farmers) menjadi tantangan paling krusial bagi masa depan ketahanan pangan Indonesia. Isu strategis ini dikupas secara mendalam oleh Dr. Ir. Leli Nuryati, M.Sc., perwakilan dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Beliau hadir sebagai pemateri pertama dalam Seminar Nasional Pertanian ke-5 (Semartani 5) Tahun 2026, yang dilangsungkan secara hybrid di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember pada Selasa, 21 Juli 2026.

Dalam presentasinya, Dr. Leli memaparkan bahwa untuk mencapai dan mempertahankan target swasembada pangan yang terus digenjot oleh pemerintah mulai tahun 2025 ke atas, Indonesia mutlak membutuhkan langkah transformasi ekosistem dari hulu hingga ke hilir. Di ranah hulu, penggunaan benih bersertifikat dan varietas unggulan menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar lagi di tengah tingginya kebergantungan pada pupuk kimia. "Varietas unggul baru hasil penelitian riset pemuliaan tanaman sangat kita harapkan. Varietas ini harus memiliki sifat yang lebih adaptif terhadap cekaman perubahan iklim seperti El Nino maupun La Nina, tahan terhadap serangan hama penyakit, serta yang paling penting, mampu menaikkan produktivitas pertanian secara signifikan tanpa harus menambah pembukaan luas lahan," jelas Dr. Leli.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Kementerian Pertanian kini terus mendorong penerapan Advance Agriculture System (PMAS) atau sistem pertanian modern terpadu. Selain itu, Dr. Leli juga menyoroti satu urgensi krusial yang masih sering diabaikan oleh kalangan akademisi dan peneliti, yakni perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas varietas tanaman unggul. Ia menyayangkan data empiris yang menunjukkan bahwa kontribusi perguruan tinggi dalam permohonan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) secara nasional masih sangat rendah, yakni hanya berada di kisaran angka 12 persen dari total keseluruhan pendaftar.

Sebagai bentuk komitmen nyata dari negara, pemerintah saat ini memberikan relaksasi biaya pendaftaran yang sangat terjangkau guna menstimulasi inovasi dari kaum intelektual. "Untuk Warga Negara Indonesia, baik itu pemulia perorangan, lembaga penelitian, maupun dari perguruan tinggi dalam negeri, biaya permohonan hak PVT kini sangat murah, hanya Rp150.000 saja. Bahkan iuran pemeliharaan tahunannya digratiskan (Rp 0) selama tiga tahun pertama," ungkapnya. Lebih jauh, Dr. Leli juga mengajak kolaborasi pemerintah daerah dan civitas akademika, termasuk di lingkungan Unmuh Jember, untuk proaktif mendata dan mendaftarkan varietas lokal seperti komoditas durian unggul lokal Jember agar plasma nutfah asli daerah tersebut tidak diklaim secara sepihak oleh entitas lain dan kelak bisa dikomersialisasikan secara legal untuk kesejahteraan masyarakat daerah.

 

Faperta Unmuh Jember Sukses Gelar SEMARTANI 5 Secara Hybrid, Bahas Transformasi Pertanian Menuju Swasembada Pangan

Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Muhammadiyah Jember sukses menyelenggarakan perhelatan akbar Seminar Nasional Pertanian ke-5 (Semartani 5) Tahun 2026. Mengambil tempat di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, acara prestisius ini dilangsungkan secara hybridmemadukan kehadiran peserta secara luring dan daring melalui Zoom Meeting ada hari Selasa, (21/7/2026). Acara ini mengangkat tema sentral "Transformasi Ekosistem Pertanian Berkelanjutan Menuju Swasembada Pangan Melalui Inovasi Teknologi, Hilirisasi, dan Regenerasi Petani". Sesi seminar inti dipandu dengan apik oleh moderator Dr. Eng. Danang Kumarahadi, S. TP., M.T..

Dekan Faperta Unmuh Jember, Saptya Prawitasari, S.P., M.P., dalam laporan resminya menyampaikan rasa syukur atas antusiasme peserta yang sangat luar biasa. Tercatat, acara ini dihadiri oleh lebih dari 900 peserta terdaftar. Para peserta ini tidak hanya berasal dari internal Unmuh Jember, tetapi juga mewakili 15 universitas terkemuka di berbagai wilayah Indonesia, seperti Universitas Padjadjaran, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Brawijaya, Universitas Mulawarman, Universitas Riau, hingga IPB University. Selain itu, hadir pula jajaran perwakilan guru dan siswa dari SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Jember. 

"Bagi kami, Semartani 5 ini bukan hanya sekadar agenda seminar nasional yang digelar secara rutin, tetapi ini merupakan bagian dari ikhtiar nyata kita bersama untuk menghidupkan suasana akademis yang kental, dinamis, kritis, dan produktif di lingkungan kampus," tegas Saptya Prawitasari.

Lebih lanjut, Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, M.Pd., yang membuka acara secara resmi, turut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Faperta yang secara konsisten mengadakan Semartani hingga memasuki tahun kelimanya. Beliau menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki beban sekaligus tanggung jawab besar dalam mencetak inovasi-inovasi yang mampu merespons perubahan iklim ekstrem yang mengancam ketahanan pangan nasional. 

"Ketahanan pangan saat ini bukan sekadar persoalan bagaimana kita meningkatkan produksi pertanian, tetapi juga bagaimana kita membangun sebuah ekosistem yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim dan kemajuan teknologi digital. Saya berharap seminar ini tidak hanya berhenti sebagai forum akademik semata, tetapi juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi, pertukaran gagasan, memunculkan kreasi baru, dan menciptakan jejaring kolaborasi bisnis maupun riset yang saling menguntungkan," tutur Dr. Hanafi di hadapan para undangan.

Sesi seminar nasional ini sendiri dibagi ke dalam dua sesi utama yang diisi oleh empat narasumber pakar dari lintas sektoral. Mereka membedah tantangan mulai dari sektor hulu, seperti penggunaan varietas unggul dan pemantauan keamanan mutu pangan berbasis kecerdasan buatan, hingga sektor hilir yang berfokus pada pentingnya regenerasi petani muda dan pemanfaatan platform startup agritech untuk memutus mata rantai persoalan modal dan akses pasar.


Jumat, 17 Juli 2026

Tingkatkan Kualitas Publikasi, Unmuh Jember Gelar Training Penulisan Buku dan Jurnal Berbasis Kompetensi

    Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (UPT PHP2M) Universitas Muhammadiyah Jember menggelar Inhouse Training Penulisan Buku dan Pengelolaan Jurnal Ilmiah Berbasis Kompetensi pada Kamis–Jumat, 16–17 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menjadi langkah strategis perguruan tinggi dalam memperkuat budaya akademik serta reputasi publikasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional.

    Rangkaian acara diawali dengan sesi pleno dan seremoni pembukaan di gedung utama yang dibuka secara resmi oleh Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, M.Pd. Pembukaan tersebut turut dihadiri Wakil Rektor 1, Ketua LPPM Dr. Juariyah, serta jajaran pimpinan civitas akademika. Pada momen tersebut, dilangsungkan pula penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Unmuh Jember dengan APPTI JABANUSA dan HIPJI, yang dirangkai dengan penyerahan Sertifikat Keanggotaan HIPJI bagi Universitas Muhammadiyah Jember.

    Kepala UPT PHP2M Unmuh Jember, Abdul Jalil, S.P., M.P., menegaskan bahwa pelatihan berbasis kompetensi ini diselenggarakan untuk merespons Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 9 Tahun 2026 yang diterbitkan pada 29 Juni 2026. Regulasi baru tersebut membawa perubahan tata kelola akreditasi jurnal nasional dari enam peringkat menjadi empat peringkat.


    "Keberhasilan institusi saat ini tidak hanya diukur dari banyaknya penelitian, tetapi dari kemampuan mentransformasikannya menjadi buku dan jurnal berkualitas serta bereputasi. Kebijakan ini menuntut pengelola jurnal meningkatkan kapasitas, integritas, dan tata kelola," ujar Abdul Jalil dalam sambutannya.

    Pelaksanaan pelatihan teknis ini dibagi ke dalam dua lokasi kegiatan utama. Pelatihan Penulisan Buku dipusatkan di Gedung Zaenuri dengan narasumber Ketua Koordinator APPTI JABANUSA, Dr. Hayat, S.AP., M.Si., tempat para dosen dibimbing secara taktis menyusun draf buku ilmiah berbasis hasil penelitian.


    Sementara itu, Pelatihan Pengelolaan Jurnal ditempatkan di Gedung A dan dibagi menjadi dua kelas spesifik. Kelas 1 bertempat di Ruang Rapat difokuskan bagi pengelola jurnal SINTA 4 dan 3 dengan proyeksi naik ke SINTA 3 atau 2, menghadirkan Ketua HIPJI, Dr. Andri Putra Kesmawan, M.IP. Adapun Kelas 2 bertempat di Ruang Kelas Internasional diperuntukkan bagi jurnal yang belum terakreditasi atau SINTA 5 dengan target proyeksi minimal mencapai SINTA 4.


    Selain pendampingan materi editorial, peserta juga mendapatkan pelatihan keamanan sistem OJS dari Direktur IT Journal Support, Indaka Barody, S.Kom., serta klinik indeksasi bersama UPT PHP2M. Kolaborasi ini diharapkan melahirkan penulis dan pengelola jurnal yang kompeten.

Rabu, 15 Juli 2026

BEM Fakultas Psikologi Unmuh Jember Gelar Seminar Advopsycare Talk

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember menyelenggarakan Seminar Advopsycare Talk bertema “Safe Campus Starts With Us: Membangun Kepedulian dan Respons terhadap Kekerasan di Kampus” pada Sabtu, (4/7/2026), bertempat di Gedung Ahmad Zainuri Universitas Muhammadiyah Jember. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta yang terdiri atas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember, tamu undangan, organisasi internal dan eksternal kampus, serta masyarakat umum, dengan menghadirkan narasumber dari Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) serta Pusat Pelayanan Psikologi dan Layanan Masyarakat (P3LM) Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember.

Seminar ini digelar sebagai upaya edukatif untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas mahasiswa dalam merespons isu kekerasan di lingkungan kampus secara menyeluruh, mulai dari pemahaman terhadap dampak psikologis yang dialami korban hingga pengetahuan mengenai mekanisme pencegahan, pelaporan, dan penanganan yang berlaku di perguruan tinggi. Panitia menyebutkan bahwa survei awal yang dilakukan sebelum kegiatan menunjukkan seluruh responden sepakat bahwa kampus harus bebas dari segala bentuk kekerasan.

Kegiatan ini dibuka secara resmi dengan sambutan dari Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember dan Ketua Pelaksana. Turut hadir jajaran Wakil Dekan dan Kepala Program Studi Psikologi beserta Bapak Ibu Dosen Program Studi Psikologi, perwakilan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), BEM Universitas, ORMAWA, dan UKM Universitas Muhammadiyah Jember. Hadir pula perwakilan lembaga mitra, yaitu Forum Anak Jember, YPSM, Tanoker, HPMS UIN KHAS, UPTD PPA Jember, dan Forum Anak Desa.

Pada sesi pertama, Yanny Tuharyati S.H., M.H., Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jember yang juga menjabat Ketua Satgas PPKPT Universitas Muhammadiyah Jember, memaparkan materi mengenai konsep kampus aman, berbagai bentuk kekerasan yang dapat terjadi di lingkungan perguruan tinggi, serta alur pelaporan dan penanganan kasus sesuai Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 55 Tahun 2024. Sesi kedua diisi oleh Panca Kursistin Handayani, M.A., Psikolog, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember yang juga menjabat sebagai Psikolog Tim Ahli Laboratorium P3LM Fakultas Psikologi, membahas dampak psikologis kekerasan serta prinsip Psychological First Aid (PFA) sebagai bentuk dukungan awal yang dapat diberikan mahasiswa kepada teman sebaya yang menjadi korban kekerasan.

“Kami sebagai BEM Fakultas Psikologi merasa hal ini tidak bisa dibiarkan. Perlu ada upaya untuk memperkuat kesadaran secara kolektif, sebab persoalan kekerasan berkaitan dengan sistem yang komprehensif, mulai dari mahasiswa hingga seluruh jajaran kampus. Melalui tagline Listen, Support, Protect, kami mengajak seluruh civitas akademika untuk bersedia mendengar tanpa menghakimi, memberikan dukungan, dan bersama sama melindungi korban dari kekerasan yang berulang,” ujar Siti Alfiyatun Nadhifa, Ketua Pelaksana Seminar Advopsycare Talk.

Sebagai salah satu luaran konkret dari kegiatan ini, ditandatangani Pakta Integritas Kampus Aman oleh Gubernur BEM Fakultas Psikologi dan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember. Pakta ini menjadi komitmen bersama untuk membangun sinergi berkelanjutan antara Fakultas Psikologi, Satgas PPKPT, organisasi mahasiswa dalam upaya pencegahan, edukasi, serta penguatan budaya kampus aman di lingkungan Universitas Muhammadiyah Jember.

Melalui kegiatan ini, BEM Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember berharap seluruh mahasiswa semakin memahami hak dan kewajibannya dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Selasa, 14 Juli 2026

Mahasiswa Psikologi Unmuh Jember Kenalkan Budaya Nusantara lewat Film

    Sebuah langkah inovatif ditunjukkan oleh mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember angkatan 2025 yang tergabung dalam Aeterniapsyce Psychology. Melalui acara bertajuk IBD Cinematic Showcase, mereka sukses menyulap hasil pembelajaran mata kuliah Ilmu Budaya Dasar (IBD) menjadi sebuah karya seni visual yang sinematik. Acara ini digelar meriah di Kota Cinema Mall (KCM) Jember dengan mengundang orang tua mahasiswa serta jajaran senior.


    Sebanyak empat film pendek karya kolaborasi mahasiswa ditayangkan secara perdana, yaitu Dua Arus Satu Muara, The Mask of Konah, Dalan Mulih, dan Menari di Antara Zaman. Film-film tersebut merupakan hasil produksi intensif selama beberapa pekan terakhir yang menggambarkan dinamika sosial, nilai kemanusiaan, dan fenomena psikologis melalui lensa budaya lokal.

    Ketua Pelaksana, Tri Sudaryanto, menjelaskan bahwa media film dipilih karena sifatnya yang universal dan mudah dipahami dalam mengomunikasikan pesan psikologis. "Ini adalah wadah bagi kami untuk mengintegrasikan nilai IBD dengan perspektif psikologi, sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap budaya lokal dan mengasah kreativitas rekan-rekan," tuturnya.


    Dukungan penuh mengalir dari dosen pengampu mata kuliah, Maulana Arif Muhibbin, S.Psi., M.Si. Ia menjelaskan bahwa seluruh karya ini murni kreativitas mahasiswa angkatan 2025 yang melalui proses ketat, mulai dari penyusunan proposal hingga investigasi tim riset budaya agar sesuai dengan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK). Tiket apresiasi seharga Rp10.000 untuk umum dan Rp25.000 untuk dosen serta tenaga kependidikan pun ludes terjual.


    Dekan Fakultas Psikologi Unmuh Jember, Dr. Nurlaela Widyarini, S.Psi., M.Si., turut memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, pembelajaran yang bermakna tidak hanya berhenti di kelas, melainkan lahir dari refleksi atas realitas manusia dan kehidupan sosial. Kolaborasi ini melatih mahasiswa berempati dan membaca persoalan dari beragam sudut pandang tanpa kehilangan integritas akademiknya.


    Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor I Bidang Akademik Unmuh Jember, Dr. Bagus Setya Rintyarna, S.T., M.Kom., menilai konsep ini sangat menarik karena memberikan pengalaman mendalam terkait pelestarian budaya. Melalui showcase ini, generasi muda diharapkan dapat terus mendalami budaya leluhur agar tidak punah tergerus zaman.

Connect