Minggu, 22 Februari 2026

Abdul Mu'ti di Kajian Ramadhan PWM Jatim di Unmuh Jember, Bahas Supremasi Ilmu Jadi Kunci Manusia sebagai Khalifah

Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) pada Sabtu (21/2/2026) menghadirkan Prof. Abdul Mu’ti yang mengupas secara mendalam konsep manusia sebagai khalifah dalam perspektif keislaman dan pendidikan. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi tidak bisa dilepaskan dari ilmu pengetahuan.

Menurutnya, dalam sejarah Islam, istilah khalifah selalu dikaitkan dengan kepemimpinan yang tidak hanya bersifat pemerintahan (government), tetapi juga memiliki otoritas keagamaan. Para pemimpin pasca Khulafaur Rasyidin menggunakan berbagai gelar seperti khalifah, sultan, atau malik, namun esensinya tetap merujuk pada tanggung jawab memimpin umat dengan landasan nilai-nilai agama.

Prof. Mu’ti menjelaskan bahwa manusia diangkat menjadi khalifah bukan semata-mata karena kesalehan ritual, tetapi karena kapasitas intelektualnya. Ia merujuk pada kisah penciptaan Nabi Adam, ketika Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam sebuah simbol ilmu pengetahuan yang tidak mampu dijawab oleh malaikat. 

“Adam menjadi khalifah karena ilmunya. Dari sinilah Islam menempatkan supremasi ilmu di atas sekadar kesalehan ibadah,” tegasnya.

Ia menguraikan bahwa manusia memiliki tiga potensi utama sebagai makhluk rohaniah, yakni akal (fitratul ‘aql), hati (fitratul qalb), dan fitrah beragama (fitrah ad-din). Ketiganya menjadi perangkat yang membimbing manusia dalam mengelola nafsu dan menjalankan tanggung jawab kekhalifahan. Tanpa pengelolaan yang benar, nafsu dapat menjerumuskan pada kerusakan; namun jika dituntun oleh akal dan agama, ia menjadi energi untuk menciptakan kesejahteraan.

Dalam konteks pendidikan, Prof. Mu’ti menekankan dua fungsi utama pendidikan: fungsi konservatif dan progresif. Fungsi konservatif menjaga dan mewariskan nilai-nilai fundamental seperti tauhid dan akhlak mulia. Sementara fungsi progresif membekali generasi dengan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan visioner agar mampu menjawab tantangan zaman.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan ilmu dan teknologi termasuk rekayasa genetika dan kecerdasan buatan harus tetap berada dalam koridor etika dan ketentuan Ilahi. Manusia memang mampu berinovasi, namun tetap memiliki batas sebagai hamba (‘abdullah). Di sinilah keseimbangan antara peran sebagai khalifah dan sebagai hamba menjadi penting.

Menutup paparannya, Prof. Mu’ti menegaskan bahwa misi kekhalifahan harus melahirkan rahmat, bukan kerusakan. Ia merujuk pada dua sifat Allah yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, sebagai teladan kepemimpinan. 

“Sebagai khalifah, manusia harus menghadirkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi seluruh alam,” ujarnya.

Melalui kajian tersebut, peserta diajak memahami bahwa tugas kekhalifahan bukan sekadar konsep teologis, melainkan panggilan untuk membangun peradaban berbasis ilmu, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Sabtu, 21 Februari 2026

Haedar Nashir Kritik Kapitalisme Serakah yang Menghancurkan Bumi dalam Kajian Ramadhan di Unmuh Jember

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa konsep ekoteologi dalam Islam bermakna membangun tanpa merusak lingkungan. Hal tersebut disampaikannya secara hybrid melalui Zoom Meeting dalam Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu (21/2/2026).

Dalam iftitahnya, Haedar menjelaskan bahwa manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki mandat ilahiah untuk memakmurkan bumi (isti’mar), bukan membiarkannya terbengkalai ataupun merusaknya. Bumi dengan segala kekayaan di dalamnya laut, daratan, mineral, hingga sumber energi diberikan Allah untuk dikelola demi kesejahteraan hidup manusia. Namun, ia menegaskan bahwa proses memakmurkan tersebut harus berjalan dalam koridor nilai Islam, yakni membangun tanpa melakukan kerusakan.

“Bangunlah, makmurkan, manfaatkan, kelola, tetapi jangan dirusak. Itulah konsep dasarnya,” tegasnya.

Haedar mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada dua kutub ekstrem. Di satu sisi, ada pendekatan eksploitatif yang rakus dan serakah hingga menimbulkan kerusakan ekologis. Di sisi lain, ada pandangan yang membiarkan alam tanpa pengelolaan demi alasan kelestarian, namun mengabaikan kesejahteraan manusia. Menurutnya, peradaban tidak mungkin dibangun tanpa kemakmuran dan kesejahteraan.

“Ekoteologi bukan teologi yang melarang membangun agar tidak rusak. Tetapi membangun dengan kesadaran agar tidak merusak,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya regulasi yang baik serta political will negara dalam mengelola sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan. Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam melimpah harus mampu membangun kesejahteraan rakyat tanpa mengorbankan lingkungan. Namun, ia mengakui bahwa ikhtiar tersebut tidak mudah dan membutuhkan kecerdasan kolektif, konsep alternatif, serta sinergi antara masyarakat dan negara.

Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah berada pada posisi strategis sebagai gerakan keagamaan dan kemasyarakatan untuk berkontribusi melalui pendidikan, sosial, kesehatan, dan penguatan ekonomi umat. Ia menilai kekuatan ekonomi menjadi faktor penting dalam membangun peradaban, sehingga pengembangan sumber daya manusia dan kemandirian ekonomi harus berjalan beriringan dengan kesadaran ekologis.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa persoalan lingkungan selalu memiliki keterkaitan erat dengan aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Ia mencontohkan kasus-kasus pertambangan yang menimbulkan bencana, namun di sisi lain menjadi sumber mata pencaharian warga. Karena itu, pendekatan penyelesaian masalah harus komprehensif dan interrelasional, tidak parsial.

“Lingkungan harus tetap terjaga, tetapi juga memberi kesejahteraan bagi masyarakat. Di situlah fungsi kekhalifahan kita, membangun keseimbangan,” ungkapnya.

Mengakhiri pesannya, Haedar mengajak seluruh peserta Kajian Ramadhan untuk menjadikan perspektif Al-Qur’an sebagai dasar dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan kebangsaan, termasuk krisis lingkungan. Ia menegaskan bahwa dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan, sehingga pembangunan harus dilakukan dengan ihsan dan tanggung jawab moral.

“Bangunlah dengan ihsan, bangunlah dengan Islam, tetapi jangan merusak. Itulah ekoteologi yang sesungguhnya,” pungkasnya.

Rektor Unmuh Jember Tegaskan Kajian Ramadhan Jadi Ruang Refleksi Ekoteologi dan Tanggung Jawab Kekhalifahan

Rektor Universitas Muhammadiyah Jember, Hanafi, menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada seluruh tokoh bangsa, pimpinan persyarikatan, serta peserta Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar di kampus Unmuh Jember. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan bertema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” tersebut bukan sekadar agenda rutin keagamaan, melainkan momentum refleksi intelektual dan spiritual atas tanggung jawab manusia terhadap semesta.

“Atas nama pimpinan Universitas Muhammadiyah Jember, kami menyampaikan selamat datang dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh hadirin. Kehadiran bapak ibu bukan hanya momentum peningkatan ibadah personal, tetapi juga ruang refleksi atas tanggung jawab kita terhadap alam,” ujarnya.

Hanafi menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan zaman, mulai dari krisis lingkungan, perubahan iklim, hingga degradasi moral dalam memperlakukan alam. Menurutnya, keimanan tidak boleh berhenti pada kesalehan individu, tetapi harus terwujud dalam kepedulian ekologis dan tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. Ia berharap melalui forum ini lahir pemahaman yang lebih utuh tentang integrasi nilai-nilai keislaman dengan kesadaran menjaga lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Hanafi juga menyampaikan terima kasih kepada para narasumber nasional yang hadir, di antaranya Menteri Kehutanan RI, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, serta para pakar kebencanaan dan pimpinan persyarikatan. Ia menilai kehadiran para tokoh tersebut menjadi kehormatan sekaligus energi besar bagi Unmuh Jember sebagai tuan rumah.

Rektor juga menyampaikan apresiasi kepada para sponsor dan mitra yang mendukung terselenggaranya kegiatan, seperti Bank Central Asia, Bank Indonesia, Lazismu, Bank Jatim, Bank Muamalat, Bank Syariah Indonesia, dan mitra lainnya. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi wujud sinergi antara dunia pendidikan, industri, dan lembaga keuangan dalam memperkuat nilai-nilai keislaman dan kepedulian lingkungan.

Di akhir sambutannya, Hanafi menyampaikan bahwa Unmuh Jember terus berupaya melakukan pengembangan institusi, termasuk rencana pembukaan 12 program studi baru, salah satunya Program Studi Kedokteran. Ia memohon doa dan dukungan seluruh pihak agar pengembangan tersebut dapat terwujud demi kemajuan kampus dan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

Ia berharap Kajian Ramadhan ini menjadi ruang dialog yang mencerahkan, memperkaya perspektif, serta menguatkan komitmen bersama dalam menghadirkan nilai-nilai Islam yang berdampak nyata bagi kehidupan dan kelestarian lingkungan.

Ketua PWM Jatim Tegaskan Ekoteologi Jadi Gerakan Nyata Muhammadiyah Jaga Lingkungan

Sukadiono selaku Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menegaskan bahwa tema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” dalam Kajian Ramadhan 1447 H yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember bukan sekadar wacana akademik, melainkan respons atas situasi ekologis yang tengah dihadapi bangsa. Hal tersebut ia sampaikan saat membuka secara resmi rangkaian kajian yang dihadiri pimpinan daerah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Sukadiono menekankan pentingnya penggunaan istilah “kekhalifahan” sebagai mandat manusia untuk merawat dan menjaga bumi, bukan “kekhilafahan” yang memiliki konotasi berbeda. Menurutnya, konsep khalifah dalam Al-Qur’an menegaskan tanggung jawab manusia untuk menjaga keberlangsungan alam, bukan merusaknya. Ia mengaitkan tema tersebut dengan berbagai bencana yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang dinilainya tidak lepas dari persoalan deforestasi dan kerusakan lingkungan.

“Pendekatan ekoteologi artinya bagaimana kita mengintegrasikan ajaran Islam dengan tanggung jawab menjaga lingkungan. Tugas kita sebagai khalifah adalah merawat, menjaga, dan memastikan keberlangsungan alam di sekitar kita,” ujarnya.

Sukadiono menegaskan bahwa berbagai kerusakan di darat dan laut sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an merupakan peringatan atas ulah manusia. Karena itu, ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah menjadikan kesadaran ekologis sebagai bagian dari ibadah sehari-hari, termasuk hal-hal sederhana seperti menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan saat kegiatan berlangsung.

Menurutnya, jika kesadaran ekologis tersebut menjadi budaya kolektif, maka dampaknya akan terasa dalam jangka panjang terhadap kelestarian lingkungan dan upaya mitigasi bencana. Ia berharap melalui forum Kajian Ramadhan ini lahir komitmen bersama untuk menjadikan ekoteologi sebagai gerakan nyata Muhammadiyah di Jawa Timur.

Dalam kesempatan tersebut, Sukadiono juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Muhammadiyah Jember sebagai tuan rumah. Ia menyebut menjadi tuan rumah Kajian Ramadhan merupakan sebuah keberkahan tersendiri bagi perguruan tinggi. Bahkan secara berseloroh ia menyampaikan harapan agar Unmuh Jember terus berkembang, termasuk memiliki fakultas-fakultas strategis di masa mendatang.

Selain itu, ia mengumumkan bahwa Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur tahun 2027 akan diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Gresik bekerja sama dengan PDM Gresik. Sementara Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur 2027 direncanakan berlangsung di Universitas Muhammadiyah Lamongan.

Menutup pengantarnya, Sukadiono secara resmi membuka Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur dengan harapan seluruh rangkaian kegiatan dapat menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan peran Muhammadiyah dalam menjaga bumi sebagai amanah kekhalifahan.

Menteri Kehutanan Paparkan Penguatan Polisi Hutan saat Kajian Ramadhan di Unmuh Jember

Raja Juli Antoni menegaskan komitmennya untuk melakukan reformasi menyeluruh tata kelola kehutanan nasional saat memberikan sambutan dalam Kajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), Sabtu (21/2/2026). Dalam forum bertema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” tersebut, ia menyebut kehadirannya bukan sekadar memberi sambutan formal, melainkan sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban seorang kader Muhammadiyah yang kini mengemban amanah sebagai Menteri Kehutanan.

Raja Juli yang mengaku tumbuh dalam lingkungan pendidikan Muhammadiyah sejak Ikatan Pelajar Muhammadiyah hingga sekolah formal Muhammadiyah, menegaskan bahwa Islam memiliki fondasi teologis yang kuat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, ajaran Islam secara kaffah memiliki kompatibilitas yang solid dengan isu-isu lingkungan hidup dan kehutanan. Ia mengutip berbagai ayat Al-Qur’an serta praktik para khalifah yang melarang perusakan alam, bahkan dalam kondisi perang sekalipun. Larangan menebang pohon berbuah dan merusak tanaman, menurutnya, menunjukkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ajaran fundamental Islam yang relevan dengan konsep ekoteologi hari ini.

Dalam kesempatan tersebut, Raja Juli juga menyinggung tragedi bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai momentum evaluasi besar terhadap tata kelola hutan nasional. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai “lecutan bahkan tamparan” untuk melakukan pembenahan total terhadap forest governance. Mengutip pandangan Albert Einstein tentang definisi kegilaan, melakukan hal yang sama berulang kali dan berharap hasil berbeda, ia menegaskan bahwa tata kelola kehutanan tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama jika menginginkan hasil yang berbeda.


Ia memaparkan kondisi riil yang dinilainya memprihatinkan. Indonesia memiliki sekitar 125 juta hektar kawasan hutan, namun hanya diawasi sekitar 4.800 polisi hutan. Di Aceh, 3,5 juta hektar hutan hanya dijaga 64 personel, sementara di Sumatera Utara 3 juta hektar hutan diawasi sekitar 240 personel. Menurutnya, dengan keterbatasan sumber daya manusia tersebut, mustahil pengawasan terhadap illegal logging, perkebunan sawit ilegal, perburuan liar, dan pelanggaran lainnya dapat berjalan optimal. Karena itu, ia mengusulkan penambahan signifikan jumlah polisi hutan dengan rasio ideal satu petugas untuk setiap 2.000–2.500 hektar kawasan hutan, yang jika terealisasi akan menambah puluhan ribu personel baru.

Selain penguatan sumber daya manusia, Raja Juli juga menyoroti persoalan struktur kelembagaan yang dinilai kurang efektif. Ia berencana membentuk Pusat Koordinasi Wilayah (Puskorwil) di setiap provinsi guna memperkuat rentang kendali antara kementerian di pusat dan unit teknis di daerah. Skema ini diharapkan menjadi solusi koordinatif tanpa berbenturan dengan regulasi otonomi daerah, sekaligus menghadirkan layanan terpadu satu pintu dalam penanganan berbagai persoalan kehutanan di daerah.

Upaya modernisasi pengawasan juga akan dilakukan melalui pemanfaatan teknologi, termasuk pengadaan pesawat ringan dan drone untuk mendukung sistem patroli cerdas (smart patrol). Dengan pendekatan ini, deteksi dini terhadap kebakaran hutan, penebangan ilegal, hingga aktivitas tambang ilegal di kawasan hutan diharapkan dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.

Dalam konteks perguruan tinggi, Raja Juli juga membuka peluang pengelolaan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) bagi kampus, termasuk bagi Universitas Muhammadiyah Jember. Skema tersebut memungkinkan kawasan hutan dimanfaatkan untuk riset sekaligus dikembangkan secara produktif. Ia menyebut enam Universitas Muhammadiyah telah menerima KHDTK dan membuka peluang serupa bagi Unmuh Jember sebagai tuan rumah Kajian Ramadhan tahun ini.

Menutup sambutannya, Raja Juli menegaskan bahwa amanah menjaga hutan bukan sekadar tanggung jawab administratif, melainkan bagian dari ibadah dan tugas kekhalifahan manusia di muka bumi. Ia memohon doa dan dukungan seluruh warga Muhammadiyah agar dapat menjalankan tugasnya dengan istiqamah dalam membenahi tata kelola kehutanan nasional demi mencegah bencana serupa terulang di masa mendatang.

Unmuh Jember Siap Jadi Tuan Rumah Kajian Ramadhan PWM Jatim 1447 H, Angkat Tema Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) dipercaya menjadi tuan rumah Kajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang akan digelar pada Sabtu dan Minggu (21–22/2/2026). Kegiatan tingkat wilayah ini diproyeksikan diikuti sebanyak 1.560 peserta dari berbagai kabupaten dan kota se-Jawa Timur.

Peserta terdiri atas Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Pimpinan Daerah Aisyiyah se-Jawa Timur, pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tingkat provinsi, baik dari rumah sakit maupun lembaga pendidikan. Tak hanya itu, panitia juga memastikan kehadiran dua menteri, yakni Prof. Abdul Mu’ti selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah serta Raja Juli Antoni selaku Menteri Kehutanan.

Wakil Rektor III Unmuh Jember, Dr. Sofyan Rofi, M.Pd.I., menyampaikan bahwa penunjukan Unmuh Jember sebagai tuan rumah merupakan simbol kepercayaan sekaligus pengakuan atas kapasitas institusi. “Ditunjuknya Unmuh Jember sebagai tuan rumah Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur menunjukkan adanya kepercayaan terhadap kapasitas kami, baik dari sisi manajemen, fasilitas, maupun kualitas sumber daya manusia. Ini bukan sekadar menjadi tuan rumah kegiatan, tetapi simbol kepercayaan dan penguatan eksistensi kami dalam dakwah Muhammadiyah di Jawa Timur,” ujarnya.

Menurutnya, sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah, Unmuh Jember tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga pusat dakwah, kaderisasi, dan pengembangan nilai-nilai Islam berkemajuan. Kehadiran pimpinan dan tokoh Muhammadiyah dari berbagai daerah menjadi momentum strategis untuk memperluas jejaring, memperkuat sinergi antar-AUM, serta meningkatkan reputasi kampus di tingkat regional.

Dirinya juga menyampaikan bahwa menjadi tuan rumah Kajian Ramadhan merupakan kehormatan besar bagi kampusnya, terlebih dengan rencana kehadiran dua menteri dan pimpinan pusat Muhammadiyah. Apalagi, Unmuh Jember baru saja meraih Akreditasi Institusi dengan status Unggul, sehingga momentum ini sekaligus menjadi bentuk tasyakuran dan penguatan komitmen dakwah kampus.

Kajian Ramadhan tahun ini mengusung tema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan”, sebuah topik yang dinilai sangat relevan dengan kondisi bangsa yang tengah menghadapi krisis lingkungan dan ancaman bencana. Dr. Sofyan menegaskan bahwa persoalan perubahan iklim, kerusakan hutan, dan pencemaran lingkungan tidak cukup dijawab secara teknis, tetapi juga membutuhkan landasan etis dan spiritual. “Ekoteologi mengintegrasikan sains lingkungan dengan nilai-nilai ketuhanan. Dalam perspektif Islam, manusia adalah khalifah di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Tanggung jawab ekologis bukan sekadar isu teknis, tetapi bagian dari ibadah,” jelasnya.

Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai moral keagamaan. Isu keberlanjutan (sustainability), pengelolaan sumber daya alam, mitigasi risiko bencana, hingga etika sosial dapat dikaji lintas disiplin, mulai dari teknik, kesehatan, pertanian, hingga sosial-humaniora. “Kami ingin kampus hadir sebagai pusat produksi gagasan dan solusi berbasis ilmu pengetahuan, sekaligus penguatan spiritual,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris PWM Jawa Timur, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., menjelaskan bahwa penetapan Unmuh Jember sebagai tuan rumah telah diumumkan sejak setahun lalu, tepatnya saat Kajian Ramadhan 1446 H di UM Lamongan. Ia menyebut Kajian Ramadhan PWM Jatim selalu dirindukan oleh pimpinan dan warga Muhammadiyah. “Untuk menjawab antusiasme tersebut, kami menghadirkan narasumber yang benar-benar bintang, di antaranya Rahmawati dari PP Aisyiyah yang juga pakar kebencanaan, Prof. Abdul Mu’ti, Prof. Din Syamsuddin, Prof. Syafiq, Raja Juli Antoni, dan tentu saja Prof. Haedar Nashir,” ungkapnya.

Menurut Prof. Biyanto, tema ekoteologi dipilih karena Indonesia termasuk negara rawan bencana. Berbagai bencana yang terjadi di sejumlah wilayah, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada akhir 2025, menunjukkan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga keseimbangan alam. “Beragama bukan hanya soal ritual dan hubungan antarmanusia, tetapi juga bagaimana kita bersahabat dengan alam. Memelihara lingkungan adalah bagian penting dari tugas kekhalifahan,” tegasnya.

Dengan persiapan yang telah dilakukan secara matang, Unmuh Jember optimistis mampu menyelenggarakan Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur 1447 H secara profesional, tertib, dan berkesan

Jumat, 06 Februari 2026

Gemerlap Grand Final Duta Kampus 5.0 Unmuh Jember, Hotijatul Munauwaroh dan Fikri Haidar Rahmad Tampil sebagai Juara

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) sukses menggelar Grand Final Duta Kampus 5.0 pada Rabu malam (4/2/2026), bertempat di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember. Ajang prestisius yang digelar pada malam hari tersebut berlangsung meriah dan penuh antusiasme, dihadiri ratusan penonton yang terdiri dari sivitas akademika, pendukung finalis, serta tamu undangan.

Setelah melalui rangkaian penilaian yang ketat, Hotijatul Munauwaroh, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, berhasil meraih Juara 1 Duta Kampus 5.0 kategori sis. Sementara itu, Fikri Haidar Rahmad, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, keluar sebagai Juara 1 kategori bro. Keduanya dinilai mampu merepresentasikan sosok mahasiswa Unmuh Jember yang berprestasi, berkarakter, serta memiliki kemampuan komunikasi dan kepemimpinan yang kuat.

Grand Final Duta Kampus 5.0 merupakan puncak dari proses panjang yang telah diikuti oleh para finalis. Sebelum tampil di malam final, para peserta terlebih dahulu menjalani masa karantina yang dirancang sebagai ruang pembinaan intensif. Karantina ini bertujuan untuk menempa mental, memperluas wawasan, serta membentuk kepribadian finalis sebagai representasi mahasiswa Unmuh Jember.

Selama karantina, para finalis dibekali berbagai materi strategis, mulai dari wawasan kebangsaan dengan menghadirkan pemateri dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), pengenalan mendalam tentang profil dan nilai-nilai Universitas Muhammadiyah Jember, hingga penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Selain itu, peserta juga mendapatkan pelatihan mengenai personal branding, etika dan manner, serta penampilan yang baik dan profesional, sebagai bekal mereka menjadi figur publik kampus.

Ketua Panitia Duta Kampus 5.0, Disa Yulistian, S.S, menyampaikan bahwa ajang ini tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga pada proses pembentukan karakter mahasiswa. Menurutnya, Duta Kampus diharapkan mampu menjadi wajah Unmuh Jember yang inspiratif, komunikatif, dan berdaya saing di tingkat lokal maupun nasional.

Malam Grand Final dikemas dengan rangkaian acara yang dinamis, mulai dari opening dance, penampilan finalis, sesi tanya jawab, hingga awarding ceremony. Suasana Aula Ahmad Zainuri semakin semarak dengan tata cahaya dan penampilan pendukung yang memukau, menjadikan Grand Final Duta Kampus 5.0 sebagai salah satu agenda kemahasiswaan paling bergengsi di Unmuh Jember.

Dengan terpilihnya Hotijatul Munauwaroh dan Fikri Haidar Rahmad sebagai Duta Kampus 5.0, Unmuh Jember berharap keduanya dapat menjadi ikon mahasiswa yang berintegritas, berwawasan luas, serta mampu menjadi agen positif dalam memperkenalkan nilai-nilai kampus kepada masyarakat luas.

Minggu, 01 Februari 2026

Yudisium PPG Unmuh Jember Tegaskan Komitmen Mencetak Guru Profesional

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menyelenggarakan Yudisium Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Angkatan 17 Tahun 2024 pada Sabtu (31/2/2026). Kegiatan ini menjadi penanda resmi berakhirnya proses pendidikan profesi guru bagi para peserta yang telah menempuh seluruh rangkaian pembelajaran.

Yudisium PPG 17 ini diikuti oleh 170 peserta yang hadir secara langsung di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember. Para peserta tersebut merupakan bagian dari lebih dari seribu guru yang dinyatakan lulus Program PPG secara nasional. Kehadiran ratusan peserta di kampus menjadi wujud peneguhan capaian akademik dan profesional setelah menyelesaikan proses pendidikan profesi.

Ketua Panitia Yudisium PPG 17, Kuni Hikmah Hidayati, M.Pd., menyampaikan bahwa yudisium bukan sekadar agenda akademik rutin, melainkan momen reflektif atas proses panjang yang telah dilalui para peserta.

“Yudisium ini menandai selesainya perjuangan panjang para peserta dalam menempuh pendidikan profesi guru. Kehadiran 170 peserta hari ini menunjukkan komitmen dan kesadaran untuk menutup proses PPG dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pelaksanaan yudisium juga merupakan bentuk layanan akademik dan apresiasi atas kerja keras para peserta dalam meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, dan kepribadian sebagai pendidik.

Sambutan sekaligus pembukaan yudisium disampaikan oleh Dekan FKIP Unmuh Jember, Dr. Fitri Amalia, S.S., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa keberhasilan menyelesaikan PPG harus dimaknai lebih dari sekadar memperoleh sertifikat pendidik.

“Guru profesional tidak hanya diukur dari kelulusan administratif, tetapi dari integritas, karakter, dan komitmennya dalam mendidik. Sertifikat pendidik adalah amanah moral yang harus dijaga dalam praktik pendidikan sehari-hari,” tegasnya.

Rangkaian yudisium dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan, pemanggilan peserta, serta pengambilan sumpah guru. Prosesi ini menjadi simbol pengukuhan tanggung jawab profesional para lulusan PPG dalam menjalankan peran strategis di dunia pendidikan.

Melalui Yudisium PPG 17 ini, FKIP Universitas Muhammadiyah Jember menegaskan komitmennya sebagai lembaga pendidikan tenaga kependidikan dalam mencetak guru profesional, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Sabtu, 31 Januari 2026

Communication Soccer Kids 2025 Jadi Wadah Pembinaan Sepak Bola Usia Dini di Jember

Sepak bola tidak hanya menjadi olahraga paling populer di Indonesia, tetapi juga berperan penting dalam membentuk karakter disiplin, kerja sama, dan sportivitas sejak usia dini. Di Kabupaten Jember, potensi atlet pelajar terbilang besar. Namun, wadah pembinaan dan kompetisi sepak bola usia dini yang dikemas secara profesional dan berkelanjutan masih tergolong terbatas.

Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menginisiasi Communication Soccer Kids 2025 sebagai ajang pembinaan sepak bola usia dini sekaligus sarana komunikasi dan branding pendidikan. Kegiatan ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek kompetisi, tetapi juga mendorong interaksi sosial, kerja sama tim, serta penguatan jejaring antarsekolah di Kabupaten Jember.

Ketua Panitia Communication Soccer Kids 2025, Kevin Dwi Kendra, menjelaskan bahwa pemilihan segmen usia sekolah dasar merupakan strategi komunikasi yang dirancang secara sadar dan terukur.

“Kami melakukan branding ke tingkat SD sebagai area blue ocean. Jika masuk ke level SMA, kami harus berebut perhatian dengan ratusan kampus lain dalam waktu yang sangat sempit. Namun ketika masuk ke level SD, kami sedang menanam benih ingatan,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman positif yang dirasakan anak-anak sejak dini akan membentuk memori jangka panjang terhadap institusi pendidikan yang terlibat.

“Saat mereka lulus nanti, nama Universitas Muhammadiyah Jember sudah bukan hal asing, tetapi menjadi bagian dari memori masa kecil mereka yang menyenangkan. Di balik anak SD juga ada orang tua, kakak, dan guru yang mendampingi. Turnamen tingkat SD biasanya paling ramai penonton dan memiliki loyalitas tinggi,” lanjut Kevin.

Ia menegaskan bahwa melalui kegiatan ini, Unmuh Jember tidak hanya menyasar peserta, tetapi juga membangun hubungan dengan ekosistem keluarga.

“Dengan menarik anak SD, kami sebenarnya sedang menarik perhatian ekosistem keluarga mereka. Kami ingin membangun citra bahwa kampus kami ramah keluarga dan peduli pada pembibitan karakter sejak dini,” jelasnya.

Sebagai bagian dari rangkaian Communication Soccer Kids 2025, telah digelar Turnamen Mini Soccer U-12 pada 27 Desember 2025. Turnamen berlangsung kompetitif dengan menjunjung tinggi nilai sportivitas. Tunas Putra A berhasil keluar sebagai Juara Pertama, disusul Persikota Besuki di posisi Juara Kedua, dan Sawunggaling A sebagai Juara Ketiga.

Melalui program ini, Program Studi Ilmu Komunikasi Unmuh Jember berharap Communication Soccer Kids dapat terus dikembangkan sebagai agenda berkelanjutan, tidak hanya untuk pembinaan bakat olahraga usia dini, tetapi juga sebagai model strategi komunikasi institusi pendidikan yang berdampak langsung bagi masyarakat di Kabupaten Jember.

Senin, 26 Januari 2026

EJX Ilmu Komunikasi Unmuh Jember Wadahi Gaya Fashion Skena Anak muda

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember yang tergabung dalam komunitas East Java Xpression (EJX) sukses menyelenggarakan sebuah event musik dan kreatif bertajuk “Lebaran Skena” di Chord Cafe Jember, Minggu (7/12/2025). Acara ini berlangsung sejak pukul 15.00 WIB hingga 22.50 WIB dan dihadiri kurang lebih 150 pengunjung.

Event “Lebaran Skena” mengusung konsep perayaan skena musik dan gaya berpakaian anak muda yang dikemas dalam suasana hangat layaknya perayaan Lebaran. Melalui tema tersebut, panitia ingin menghadirkan ruang temu bagi pelaku skena musik, penikmat musik, serta komunitas kreatif di Jember.

Selain menghadirkan pertunjukan musik, acara ini juga dimeriahkan dengan lomba outfit yang diikuti oleh para pengunjung. Lomba tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena menampilkan berbagai gaya berpakaian khas skena, mulai dari streetwear hingga gaya alternatif yang merepresentasikan identitas anak muda.

Pada sesi penampilan musik, sejumlah band lokal turut tampil dan memeriahkan suasana. Band-band yang mengisi panggung antara lain Frugg, Greycastle, Houstile, Kahlo, Fineline, dan Scumlaude. Penampilan masing-masing band disambut antusias oleh penonton yang memadati area Chord Cafe.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan resmi oleh dosen pendamping kegiatan, Ageng Soeharno, S.S., M.Pd., yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif dan kerja keras mahasiswa dalam menggelar event secara mandiri. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya praktik langsung di lapangan sebagai bagian dari proses pembelajaran mahasiswa Ilmu Komunikasi.

Ketua panitia (Haqi Amrulloh) menyampaikan bahwa event ini merupakan project independent mahasiswa Ilmu Komunikasi Unmuh Jember yang dirancang dan dikelola secara mandiri, mulai dari tahap perencanaan, penggalangan kerja sama, hingga pelaksanaan acara. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan teori komunikasi, manajemen event, serta kerja tim yang telah dipelajari di bangku perkuliahan.

 

Connect