Kamis, 15 Oktober 2026

Dosen Unmuh Jember Raih Gelar Doktor di Jepang, Teliti Resiliensi Rantai Pasok untuk Bantu Masyarakat Pulau Terisolasi

Upaya menghadirkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat menjadi salah satu semangat yang mengiringi perjalanan akademik Fitriana Dina Rizkina, S.T.P., M.Sc., Ph.D. Dosen Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) tersebut berhasil menyelesaikan studi doktoral di Ehime University, Jepang, dengan fokus penelitian pada manajemen dan resiliensi rantai pasok (supply chain resilience) komoditas perikanan di wilayah pulau terisolasi.

Penelitian ini mengkaji bagaimana sistem rantai pasok perikanan berjalan di Pulau Bawean, Indonesia, dan Pulau Uo atau Uoshima, Jepang. Kedua lokasi tersebut menjadi ruang bagi Fitriana untuk mempelajari tantangan distribusi hasil tangkapan, keterbatasan fasilitas penyimpanan, hubungan antara nelayan dan pembeli, serta kemampuan sistem rantai pasok dalam menghadapi berbagai hambatan.

Riset tersebut berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di wilayah kepulauan. Bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor perikanan, keberhasilan menangkap ikan belum tentu berbanding lurus dengan keuntungan yang diperoleh. Biaya operasional, keterbatasan fasilitas penanganan hasil tangkapan, dan ketidakpastian penyerapan pasar dapat memengaruhi keberlanjutan usaha nelayan.

Melalui penelitian komparatif di Indonesia dan Jepang, Fitriana berupaya memahami perbedaan kondisi dan praktik pengelolaan rantai pasok di kedua wilayah. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk merumuskan rekomendasi yang relevan bagi masyarakat di pulau terisolasi, sekaligus membuka peluang penelitian baru mengenai ketahanan sistem rantai pasok dalam menghadapi persoalan serupa.

Perjalanan akademik Fitriana dalam bidang manajemen agroindustri telah dimulai sejak menempuh pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada jenjang tersebut, ia telah menaruh perhatian pada bidang manajemen agroindustri yang kemudian menjadi landasan bagi pengembangan risetnya di jenjang pendidikan berikutnya.

Ketertarikan terhadap bidang tersebut berlanjut ketika Fitriana menempuh pendidikan magister di Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat menjalani studi S2, ia memperoleh kesempatan mengikuti program joint degree selama satu tahun di Jepang. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada lingkungan akademik internasional, membuka kesempatan melakukan penelitian di luar negeri, sekaligus membangun jejaring dengan para profesor di Ehime University.

Pengalaman itu menjadi salah satu fondasi yang mendorongnya melanjutkan pendidikan doktoral di universitas yang sama. Selain telah mengenal lingkungan akademiknya, Fitriana juga memiliki landasan riset yang selaras dengan bidang keilmuan yang terus dikembangkannya.

Konsistensi tersebut terlihat dari kesinambungan fokus penelitian yang ditekuni sejak jenjang sarjana hingga doktoral. Dari manajemen agroindustri, kajian Fitriana berkembang pada persoalan manajemen rantai pasok dan logistik, dengan komoditas serta konteks penelitian yang berbeda pada setiap jenjang pendidikan.

Pada jenjang magister, ia meneliti rantai pasok komoditas jeruk dengan membandingkan konteks Indonesia dan Jepang. Sementara itu, pada jenjang doktoral, fokus penelitiannya beralih pada rantai pasok perikanan di wilayah pulau terisolasi. Kesinambungan ini memberinya kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai pengelolaan rantai pasok sekaligus melihat bagaimana sistem tersebut bekerja dalam karakteristik wilayah yang berbeda.

Seluruh perjalanan pendidikan tersebut juga ditopang oleh beasiswa. Fitriana memperoleh dukungan beasiswa sejak jenjang sarjana, magister, hingga doktoral. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanannya dalam mengembangkan kapasitas akademik tanpa menjadikan keterbatasan ekonomi sebagai alasan untuk menghentikan cita-cita pendidikan.

Perjalanan Fitriana menuju studi doktoral tidak berlangsung tanpa hambatan. Setelah menyelesaikan pendidikan magister, ia melanjutkan perjalanan karier akademiknya di tengah situasi pandemi COVID-19 yang membawa perubahan besar bagi banyak keluarga.

Pada 2021, keluarganya mengalami musibah terkait COVID-19 sehingga Fitriana harus kembali ke Jember dan mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya. Situasi tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya sebelum kembali menata karier dan mempersiapkan pendidikan doktoral.

Di tengah masa sulit itu, Fitriana mengingat kepedulian warga Muhammadiyah yang hadir untuk membantu keluarganya. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan ketika keluarganya menghadapi musibah.

Pengalaman tersebut menjadi bagian bermakna dalam perjalanan hidupnya, sekaligus memperlihatkan pentingnya kepedulian sosial dan dukungan antarsesama ketika menghadapi situasi yang tidak mudah.

Setelah kembali ke Jember, Fitriana melanjutkan karier akademiknya dan mempersiapkan diri untuk menempuh pendidikan doktoral. Ia mengikuti seleksi beasiswa yang disponsori pemerintah Jepang. Pada percobaan pertama, ia belum berhasil lolos seleksi yang kompetitif.

Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti. Fitriana mengevaluasi dan memperbaiki rekam jejak akademik, publikasi, serta portofolio penelitian sebelum kembali mencoba pada kesempatan berikutnya. Proses persiapan dan seleksi berlangsung panjang, hingga akhirnya ia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi doktoral di Jepang.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan akademik membutuhkan persiapan yang matang, konsistensi, dan kesediaan untuk memperbaiki diri ketika menghadapi kegagalan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Fitriana dalam penelitiannya adalah bagaimana nelayan di pulau terisolasi menghadapi keterbatasan sistem distribusi dan fasilitas penanganan ikan.

Di Pulau Bawean, nelayan menghadapi tantangan berupa biaya bahan bakar yang tinggi, risiko selama melaut, serta keuntungan yang relatif tipis. Hasil tangkapan juga harus melewati sejumlah pelaku distribusi sebelum sampai kepada konsumen. Kondisi tersebut memengaruhi pembagian margin keuntungan di sepanjang rantai pasok, termasuk bagi nelayan yang berada di bagian hulu.

Persoalan lain berkaitan dengan ketersediaan fasilitas rantai dingin (cold chain). Ikan membutuhkan penanganan yang cepat setelah ditangkap agar kualitasnya tetap terjaga. Namun, keterbatasan fasilitas penyimpanan dan pasokan es dapat menyulitkan nelayan ketika hasil tangkapan melimpah.

Fitriana menceritakan bahwa kebutuhan es di Bawean pernah harus dipenuhi dengan mendatangkannya dari Pulau Jawa. Pada kondisi tertentu, pasokan ikan yang melimpah juga tidak selalu diikuti kemampuan pasar untuk menyerap seluruh hasil tangkapan. Akibatnya, ikan yang tidak terserap pasar berisiko terbuang.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan perikanan tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan hasil tangkapan. Diperlukan sistem yang saling terhubung, mulai dari penanganan ikan setelah ditangkap, ketersediaan fasilitas penyimpanan, distribusi, hingga kepastian penyerapan pasar.

Dalam konteks inilah resiliensi rantai pasok menjadi penting. Sistem rantai pasok yang tangguh perlu memiliki kemampuan untuk menghadapi hambatan dan menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi, sehingga gangguan pada satu bagian tidak serta-merta menimbulkan kerugian besar bagi keseluruhan pelaku.

Perbandingan dengan Pulau Uo atau Uoshima di Jepang memberikan perspektif berbeda. Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitian, Fitriana melihat praktik penanganan hasil tangkapan yang lebih tertata, mulai dari pembersihan dan pengemasan ikan hingga penyimpanan dalam wadah berpendingin.


Ia juga menemukan adanya perjanjian antara nelayan dan pembeli yang memberikan kepastian penyerapan hasil tangkapan sesuai kesepakatan. Praktik tersebut menjadi salah satu pembelajaran mengenai pentingnya hubungan yang terorganisasi antara nelayan dan pasar.

Meski demikian, kondisi di Jepang juga menghadirkan tantangan tersendiri. Jumlah nelayan di wilayah yang diteliti cenderung menurun dan didominasi kelompok usia lanjut. Sementara itu, kondisi di Bawean menunjukkan kecenderungan yang berbeda, dengan jumlah nelayan yang relatif stabil berdasarkan data yang digunakan dalam penelitian.

Perbedaan tersebut membuka pertanyaan lanjutan mengenai faktor yang memengaruhi keberlanjutan profesi nelayan di wilayah terisolasi. Dengan memahami perbedaan karakteristik kedua lokasi, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pijakan untuk mengembangkan kajian berikutnya, baik mengenai sistem distribusi maupun keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir.

Bagi Fitriana, salah satu nilai penting dari penelitian ini adalah potensinya untuk diterapkan dalam memahami kasus-kasus serupa di wilayah lain. Karakteristik pulau terisolasi dapat ditemukan di berbagai daerah dengan tantangan geografis, infrastruktur, dan akses pasar yang berbeda-beda.

Karena itu, hasil penelitian di Bawean dan Uoshima diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi kedua lokasi tersebut, tetapi juga menjadi referensi awal untuk mengkaji persoalan rantai pasok di wilayah lain yang memiliki kondisi sejenis.

Penelitian ini juga berpotensi menjadi pintu gerbang bagi riset baru. Temuan mengenai perbedaan sistem distribusi, fasilitas penanganan hasil tangkapan, dan keberlanjutan profesi nelayan dapat dikembangkan lebih lanjut melalui penelitian yang mempertimbangkan karakteristik masing-masing wilayah.

Dengan demikian, penelitian doktoral tidak berhenti pada penyusunan rekomendasi, tetapi juga dapat mendorong lahirnya pertanyaan ilmiah baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi penting agar pengembangan ilmu pengetahuan dapat terus mengikuti perubahan persoalan di lapangan.

Fitriana juga melihat peluang pengembangan kajian rantai pasok pada sektor perikanan di kawasan Tapal Kuda, khususnya Jember dan Banyuwangi. Kedua wilayah tersebut memiliki potensi di sektor pertanian maupun perikanan yang dapat dikembangkan melalui pendekatan pengelolaan industri secara terintegrasi.

Ia mencontohkan keterkaitan antara pengolahan jeruk dan budidaya ikan yang pernah diamatinya di Jepang. Ampas jeruk dari kegiatan pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ikan. Pemanfaatan hasil samping tersebut menjadi salah satu gambaran penerapan ekonomi sirkular (circular economy), yaitu pendekatan yang berupaya menggunakan kembali sumber daya agar menghasilkan nilai tambah dan mengurangi pemborosan.

Gagasan tersebut membuka peluang untuk mengkaji integrasi antara industri pertanian dan perikanan berdasarkan potensi lokal. Namun, penerapannya di Jember dan Banyuwangi tetap memerlukan penelitian lanjutan agar sesuai dengan karakteristik komoditas, pelaku usaha, dan kebutuhan masyarakat setempat.

Bagi Fitriana, inilah salah satu manfaat penelitian akademik: mengidentifikasi persoalan nyata, membandingkan pengalaman dari konteks berbeda, serta membuka kemungkinan solusi yang dapat dikembangkan melalui kajian lanjutan.

Selain menghadapi tantangan penelitian, Fitriana juga harus beradaptasi dengan kehidupan sebagai mahasiswa internasional di Jepang. Perbedaan bahasa dan budaya, keterbatasan interaksi sosial, serta penyesuaian dalam menjalankan ibadah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi pengalaman yang membentuk perjalanan studinya.

Ia mengakui bahwa kesehatan mental merupakan salah satu tantangan penting selama menjalani pendidikan doktoral. Kesibukan akademik dan keterbatasan kesempatan berinteraksi dapat membuat mahasiswa internasional merasa sendiri, terutama ketika harus menghadapi berbagai persoalan secara mandiri.

Dari sisi penelitian, ia juga menghadapi proses pengujian gagasan oleh para profesor. Rancangan riset, teori, pengolahan data, hingga hasil penelitian harus siap dipertanyakan dan dikritisi. Meski tidak selalu mudah, proses tersebut memberinya perspektif baru dan membantu memperdalam pemahaman terhadap bidang keilmuannya.

Pengalaman tersebut membuat Fitriana menilai bahwa studi doktoral membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik. Mahasiswa juga perlu mempersiapkan mental, mengembangkan disiplin, serta memiliki strategi untuk mengelola emosi ketika menghadapi tekanan dan kegagalan.

Ia berpesan kepada dosen muda yang ingin melanjutkan pendidikan doktoral agar memiliki tekad kuat dan kesiapan untuk menjalani proses secara mandiri. Dukungan finansial, dukungan moral dari keluarga dan lingkungan akademik, serta kemampuan mengatur waktu juga menjadi faktor penting untuk menyelesaikan studi.

Sementara itu, kepada mahasiswa yang bermimpi melanjutkan pendidikan ke luar negeri, Fitriana mengingatkan agar tidak langsung menyerah ketika menghadapi keterbatasan. Pengalamannya memperoleh beasiswa sejak jenjang sarjana hingga doktoral menjadi bukti bahwa kesempatan dapat diperjuangkan melalui persiapan dan strategi yang tepat.

“Yang penting kita mau berkorban dan siap berjuang, karena jalan ini tidak mudah. Teman-teman harus yakin bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan,” pesannya.

Kini, setelah menyelesaikan studi doktoral dan kembali mengajar di Unmuh Jember, Fitriana membawa pengalaman akademik dan penelitian yang diharapkan dapat memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan serta membuka ruang kontribusi yang lebih luas.

Melalui penelitian tentang resiliensi rantai pasok di pulau terisolasi, ia berupaya menjadikan riset sebagai bagian dari ikhtiar memahami dan menyelesaikan persoalan masyarakat. Semangat tersebut sejalan dengan peran perguruan tinggi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Rabu, 16 September 2026

Mahasiswa Keperawatan Unmuh Jember Raih Predikat Peserta Terbaik Beasiswa Cendekia BAZNAS


Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember. Gilang Arya Mahmudi, mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes), berhasil meraih predikat sebagai peserta terbaik dalam program Beasiswa Cendekia BAZNAS.

Penghargaan tersebut secara resmi diserahkan pada 9 September 2026 di Auditorium Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Jakarta. Momen tersebut menjadi pencapaian penting bagi Gilang setelah menjalani rangkaian program Beasiswa Cendekia BAZNAS selama dua tahun.

Gilang menerima Beasiswa Cendekia BAZNAS saat duduk di semester 5. Baginya, beasiswa tersebut bukan sekadar bantuan finansial untuk menunjang pendidikan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan akademik, organisasi, penelitian, hingga kegiatan sosial.

Perjalanan Gilang mendapatkan beasiswa tersebut memiliki cerita tersendiri. Saat itu, keluarganya tengah menghadapi kondisi ekonomi yang cukup berat setelah sang ayah meninggal dunia. Dukungan yang diberikan melalui Beasiswa Cendekia BAZNAS kemudian menjadi salah satu hal yang membantunya untuk tetap melanjutkan pendidikan.

“Beasiswa Cendekia BAZNAS merupakan program beasiswa yang tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga pembinaan dan pengembangan bagi mahasiswa,” ujar Gilang.

Selama menjadi penerima beasiswa, Gilang mengikuti berbagai kegiatan pembinaan dan pengembangan diri. Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih disiplin, bertanggung jawab, serta aktif berkontribusi di lingkungan akademik maupun masyarakat.

Menurutnya, salah satu hal yang paling berharga adalah kesempatan bertemu dengan mahasiswa berprestasi dari berbagai daerah. Ia juga mendapatkan pendampingan dari dosen pembimbing, Ari Sita Nastiti, yang turut memberikan pembelajaran, motivasi, dan dukungan selama menjalani program.


Selama dua tahun menjadi penerima beasiswa, Gilang berusaha memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk terus mengembangkan potensi. Konsistensi tersebut kemudian mengantarkannya meraih predikat sebagai peserta terbaik.

Ia menilai pencapaian tersebut bukan hasil dari satu prestasi, melainkan akumulasi dari berbagai aktivitas yang dilakukan selama menjadi penerima beasiswa. Selain aktif dalam organisasi dan kegiatan sosial, Gilang juga menekuni penelitian serta kompetisi ilmiah.

Hingga saat ini, ia telah menorehkan total 32 prestasi dalam bidang esai dan Karya Tulis Ilmiah (LKTI) di tingkat nasional maupun internasional.

“Saya rasa pencapaian ini bukan karena satu prestasi saja, tetapi karena konsistensi saya selama menjadi penerima beasiswa. Selama kuliah saya aktif dalam organisasi, penelitian, kegiatan sosial, dan kompetisi ilmiah,” ungkapnya.

Bagi Gilang, predikat peserta terbaik tidak semata-mata diukur dari jumlah penghargaan yang diraih. Lebih dari itu, ia memandang kesempatan yang diberikan BAZNAS sebagai amanah untuk terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata.

Ke depan, mahasiswa S1 Keperawatan Fikes Unmuh Jember tersebut memiliki target untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister Ilmu Biomedik. Ia ingin mengembangkan penelitian di bidang kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan infeksi dan resistensi antimikroba.

Gilang berharap pengalaman dan kesempatan yang diperolehnya melalui Beasiswa Cendekia BAZNAS dapat terus dikembangkan menjadi kontribusi yang lebih luas, baik melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun pengembangan solusi kesehatan berbasis ilmiah.

“Saya berharap dapat terus membawa nilai yang diajarkan BAZNAS, yaitu menjadi pribadi yang berprestasi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Senin, 18 Mei 2026

Perempuan Tangguh Peternak Domba, Kisah Yesita Alumni Unmuh Jember

Dunia peternakan kerap dianggap identik dengan pekerjaan laki-laki. Namun anggapan itu berhasil dipatahkan oleh Yesita Karel, alumni Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) asal Sidomulyo, Kabupaten Jember, yang sukses membangun bisnis peternakan dan penjualan domba bernama Artisnya Domba Jember sejak masih duduk di bangku kuliah.

Sebagai perempuan muda, Yesita memilih jalan yang tidak biasa. Di tengah banyak mahasiswa yang fokus mencari pekerjaan setelah lulus, ia justru berani terjun langsung ke dunia peternakan.

Usaha tersebut dirintis sejak tahun 2017, berawal dari latar belakang keluarganya yang merupakan peternak domba. Lingkungan tempat tinggalnya di Sidomulyo, Kabupaten Jember yang mayoritas dihuni oleh peternak, membuatnya akrab dengan kandang, pakan ternak, hingga proses jual beli domba sejak kecil.

Melihat peluang itu, Yesita memutuskan memulai usaha sendiri saat masih berada di semester awal perkuliahan. Ia ingin mandiri secara finansial dan tidak hanya bergantung pada orang tua.

“Saya ingin punya penghasilan sendiri. Dari kecil sudah melihat peluang itu ada di sekitar rumah, jadi saya memberanikan diri untuk mulai,” ujarnya.

Namun, memilih menjadi peternak perempuan bukan tanpa tantangan. Ia mengaku sempat dihantui rasa takut, mulai dari khawatir dagangannya tidak laku, takut ditipu, hingga ancaman pencurian ternak.

Selain itu, keterbatasan pengetahuan tentang dunia peternakan juga menjadi tantangan tersendiri. Ia harus belajar memahami usia domba, bobot ideal, jenis-jenis domba unggulan, hingga menentukan jasa pengiriman yang tepat untuk pembeli luar daerah.



Sebagai perempuan, ia juga sering menghadapi pandangan bahwa bisnis peternakan bukan bidang yang lazim digeluti perempuan. Namun Yesita memilih membuktikan lewat kerja nyata.

Ia belajar langsung di lapangan, mengamati, bertanya, hingga memahami seluk-beluk usaha ternak secara perlahan.

Cobaan terbesar datang saat pandemi dan wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) menyerang. Saat itu, pengiriman domba mengalami lockdown, sementara beberapa ternak di kandangnya terserang penyakit hingga mati.

“Pernah merasa sangat berat. Saat wabah PMK, pengiriman terhambat, beberapa domba sakit bahkan mati. Tapi saya memilih tetap bertahan karena saya percaya usaha ini bisa berkembang,” katanya.

Ketekunan itu akhirnya membuahkan hasil. Tahun 2022 menjadi titik balik penting ketika omzet penjualannya meningkat drastis. Dari yang awalnya hanya menjual domba lokal, Yesita mulai meningkatkan kualitas produknya dengan menghadirkan domba Merino, Dormas, hingga Sopas.

Perkembangan usaha tersebut juga terlihat dari aset yang dimiliki. Jika awalnya hanya memiliki satu kandang, kini ia telah memiliki tiga kandang aktif untuk menunjang bisnisnya.

Dari hasil usaha itu, Yesita mampu membayar uang kuliah (UKT) sendiri sejak semester satu hingga lulus. Bahkan, ia juga berhasil membeli motor, handphone, hingga membantu renovasi rumah.

“Bangga sekali bisa sampai di titik ini. Saya sangat berterima kasih kepada kedua orang tua dan kakak-kakak saya yang selalu memberi support dan doa,” ungkapnya.

Bagi Yesita, perjalanan kuliah di Unmuh Jember bukan hanya soal mengejar nilai akademik, tetapi juga proses membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Ia mengaku banyak belajar tentang disiplin, komunikasi, manajemen waktu, kerja tim, hingga keberanian mengambil keputusan.

Salah satu pengalaman paling berkesan terjadi saat semester akhir ketika ia hampir mengalami kendala besar dalam proses skripsi akibat perubahan judul tanpa koordinasi penuh dengan dosen pembimbing.

Saat itu, ia merasa sangat takut kelulusannya tertunda. Namun dari pengalaman tersebut, ia justru mendapatkan pelajaran berharga tentang komunikasi dan tanggung jawab.

“Dari situ saya belajar, jangan seenaknya mengubah sesuatu tanpa komunikasi yang jelas. Dalam bisnis juga begitu, jangan diam-diam mengganti produk atau harga ke klien. Kalau salah, cepat minta maaf dan beri solusi,” jelasnya.


Yesita percaya bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Baginya, langkah pertama adalah keberanian untuk memulai.

“Mengambil langkah pertama adalah awal untuk mewujudkan cita-cita menjadi pengusaha. Saya percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil, dan Allah SWT tidak menunda, tetapi menata,” tuturnya.

Kini, ia terus mengembangkan Artisnya Domba Jember dengan target menjadi ahli di bidang peternakan sekaligus pengusaha sukses yang mampu membuka peluang bagi banyak orang.

Kisah Yesita menjadi bukti bahwa perempuan bisa kuat, mandiri, dan sukses bahkan dari kandang domba. Bahwa menjadi peternak bukan soal gender, tetapi soal keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk bertahan.

 

Sabtu, 25 April 2026

Anak Sopir Jadi Wisudawati Teladan, Kisah Inspiratif Sesilia Tristianti di Wisuda ke-54 Unmuh Jember


Riuh tepuk tangan menggema di Gedung Ahmad Zainuri saat Sesilia Tristianti melangkah menuju podium Rapat Terbuka Senat Wisuda ke-54 Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember). Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi ini terpilih mewakili rekan-rekannya untuk menyampaikan pesan dan kesan wisudawan. Di balik selempang predikat Wisudawan Berprestasi Kategori Teladan yang ia kenakan, Sesilia membawa sebuah cerita perjuangan yang membuktikan bahwa latar belakang sederhana bukanlah penghalang untuk mencapai puncak prestasi.

Dalam pidatonya yang lugas, Sesilia mengungkapkan jati dirinya sebagai anak seorang sopir bernama Bok Tarmidi dan ibu rumah tangga bernama Istikomah. Keberhasilannya meraih gelar sarjana hari ini adalah sebuah tonggak sejarah baru, sebab ia merupakan wisudawan pertama di dalam keluarganya.

 "Ayah dan ibu saya tidak menempuh pendidikan sarjana, namun hari ini mereka membuktikan bahwa mereka mampu mengantarkan anaknya menjadi sarjana," ungkapnya dengan terharu.

Selama menempuh studi di Program Studi Ilmu Komunikasi, Sesilia tidak hanya fokus pada perkuliahan di kelas, tetapi juga aktif mengukir prestasi di kancah nasional. Ia tercatat sebagai pemenang Duta Kampus Unmuh Jember 3.0, Miss Intelligensia Muslimah Jawa Timur 2023, hingga sukses meraih posisi Runner Up 5 Putri Kampus Indonesia 2026. Tak hanya di bidang pageant, nalar kritisnya pun teruji melalui berbagai kemenangan dalam forum diskusi dan presentasi tingkat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia. Rentetan prestasi inilah yang mengukuhkan dirinya sebagai lulusan teladan yang mampu menyelaraskan aspek wawasan global, religiusitas, dan kompetensi bidang.


Sesilia menegaskan bahwa Unmuh Jember telah menjadi ruang bagi dirinya dan ratusan wisudawan lain untuk mewujudkan mimpi yang semula terasa mustahil. Dengan prinsip “there is a will, there is a way,” ia meyakini bahwa setiap lulusan Unmuh Jember memiliki daya saing yang tinggi dan tidak perlu gentar untuk berkompetisi dengan lulusan dari universitas ternama lainnya. Keberanian untuk melangkah dan mencoba, menurutnya, adalah awal dari setiap kesuksesan yang akan diraih di masa depan.

Mengakhiri masa studinya dengan penuh keceriaan, Sesilia bahkan sempat membawakan pantun yang mencairkan suasana di hadapan Rektor dan seluruh anggota senat. Namun, di balik keceriaan itu, ia meninggalkan pesan mendalam bagi mahasiswa yang masih berjuang di kampus. Ia mengingatkan bahwa pengalaman, rintangan, dan kesulitan yang dilalui selama kuliah adalah bekal berharga untuk menghadapi kehidupan di masyarakat.

Bagi mahasiswa yang saat ini masih berjuang, Sesilia menitipkan pesan motivasi agar tetap bertahan dan berani menyelesaikan apa yang telah dimulai. 

"Jangan pernah takut melangkah dan mencoba, karena keberanian adalah awal dari kesuksesan. Teruslah berjuang, karena pada akhirnya keberhasilan tidak ditentukan dari mana kita berasal, melainkan dari bagaimana kita terus berusaha untuk bertumbuh dan memberikan kontribusi nyata," pungkasnya. 

Toga Sempurna untuk Ayah Ibu di Surga, Kisah Haru Tria Fenda Wisudawati Dengan IPK 3,99 Unmuh Jember


Momen wisuda umumnya menjadi hari bahagia yang dirayakan bersama keluarga inti. Namun, realita berbeda harus dihadapi oleh Tria Fenda Afi Wijaya pada Rapat Terbuka Senat Wisuda ke-54 Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember). Berdiri tanpa pendampingan ayah dan ibu, mahasiswi Program Studi S1 Manajemen ini justru sukses membuktikan diri dengan menyandang predikat Wisudawan Terbaik Tingkat Universitas berbekal IPK nyaris sempurna, 3,99. Rentetan pencapaian yang ia raih menjadi wujud nyata bahwa kehilangan sosok kedua orang tua tidak menghentikan langkahnya untuk terus mencetak prestasi.

Ujian berat dalam hidup Tria sudah datang sejak ia masih duduk di kelas tiga SMA. Tepat saat ia tengah bersiap menghadapi ujian kelulusan, sang ibu meninggal dunia. Kehilangan tersebut tentu menjadi pukulan telak. Namun, ia menolak menjadikan duka sebagai alasan untuk menyerah. Tria justru mengubah kesedihannya menjadi energi pembuktian. Hasilnya, ia berhasil meraih nilai ujian kelulusan tertinggi dan mempertahankan posisi juara satu berturut-turut di sekolahnya, sebelum akhirnya memantapkan langkah melanjutkan pendidikan ke Unmuh Jember.

Sayangnya, takdir kembali menguji ketangguhan Tria di masa-masa paling krusial dalam perkuliahannya. Memasuki semester tujuh, tepat saat ia baru akan memulai proses penyusunan skripsi, sang ayah menghembuskan napas terakhirnya. Berpulangnya ayahanda membuat Tria sangat terpukul dan menyisakan trauma mendalam. Di tengah situasi yang berat tersebut, Tria teringat dan berpegang erat pada pesan yang selalu ditekankan oleh kedua orang tuanya semasa hidup.

"Terus fokus dan jangan pernah lari dari tanggung jawab," kenangnya mengulangi pesan tersebut saat diwawancarai.

Prinsip itulah yang kemudian memacunya untuk kembali bangkit, mengerjakan skripsinya, dan bertekad mewujudkan impian almarhum kedua orang tuanya untuk melihatnya menjadi mahasiswa terbaik.

Hebatnya, di tengah perjuangan menyelesaikan tugas akhir dengan kondisi batin yang sedang berduka, langkah Tria tidak melambat sama sekali. Ia tidak sekadar mengejar nilai di dalam kelas, melainkan terus aktif memperluas kapasitas dirinya di berbagai bidang.

Ketekunannya tersebut mengantarkan Tria lolos sebagai salah satu penerima program prestisius Djarum Beasiswa Plus (Beswan Djarum) 2024/2025. Ia juga berhasil menyabet gelar Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) mulai dari tingkat program studi, fakultas, hingga universitas, yang memberinya kesempatan berharga mewakili Unmuh Jember di ajang Pilmapres tingkat nasional. Di sela-sela kesibukannya, Tria juga aktif mengabdi sebagai relawan Duta Kepemudaan, rajin memberikan edukasi dan advokasi kepada para pelajar di sekolah-sekolah mengenai pentingnya personal branding dan bahaya narkoba.

Kini, berdiri tegak membawa gelar kelulusan tertinggi, Tria tak menampik adanya rasa rindu karena tidak bisa mempersembahkan pencapaiannya langsung ke tangan kedua orang tuanya. Meski demikian, ia merasa bersyukur karena telah berjuang maksimal menuntaskan amanah mereka.

Mengakhiri masa studinya, Tria menitipkan pesan kuat bagi rekan-rekan mahasiswa yang tengah berjuang menghadapi hambatan akademiknya masing-masing. Ia menegaskan pentingnya menjaga fokus agar tidak mudah goyah apalagi menyerah oleh keadaan. Baginya, sesulit dan setidak enak apa pun proses bimbingan maupun hambatan yang datang, tetaplah fokus pada proses dan tujuan akhir, karena usaha tersebut pada akhirnya pasti akan membawa hasil.

 

Selasa, 17 Maret 2026

Detik-Detik Persalinan Darurat di Pesawat, Alumni Unmuh Jember Bantu Selamatkan Ibu dan Bayi

Febrian (kemeja dengan motif hitam-coklat) saat foto bersama setelah proses persalinan darurat.

Perjalanan pulang ke Indonesia yang seharusnya menjadi momen istirahat bagi Febrian Rahmatulloh justru berubah menjadi pengalaman tak terlupakan. Alumni Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) itu harus membantu proses persalinan darurat seorang penumpang di dalam pesawat yang sedang mengudara.

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, (12/3/2026) yang lalu, saat Febrian melakukan penerbangan dari Jeddah menuju Jakarta menggunakan pesawat Saudia Airlines. Saat itu ia tengah dalam perjalanan pulang untuk mengambil cuti tahunan dari pekerjaannya di Arab Saudi.

Sekitar satu jam setelah pesawat lepas landas, awak kabin mengumumkan melalui pengeras suara dan menanyakan apakah ada dokter atau perawat di dalam pesawat. Tanpa ragu, Febrian langsung melapor kepada pramugari dan memperkenalkan diri sebagai seorang perawat.

Ia kemudian diarahkan menuju area salat di dalam pesawat. Di tempat itu, seorang penumpang perempuan sudah dalam kondisi akan melahirkan.

“Saat saya sampai di sana, posisi kepala bayi sudah keluar,” kenang Febrian.

Dengan kondisi tersebut, ia segera mengambil inisiatif untuk membantu proses persalinan. Ia meminta sarung tangan kepada awak kabin serta meminta agar ibu tersebut dipasangi oksigen dan alat pengukur oksigen dalam darah.

Beberapa menit kemudian, bayi tersebut lahir dengan selamat di dalam pesawat yang masih berada di ketinggian ribuan kaki. Dalam proses tersebut, pakaian Febrian bahkan sempat terkena cipratan air ketuban.

Untuk mencegah bayi mengalami hipotermia, ia segera meminta selimut dari awak kabin untuk membungkus bayi yang baru lahir. Tak lama kemudian, dua dokter dan satu perawat lain turut datang membantu proses penanganan.

Dengan peralatan seadanya, mereka bersama-sama memotong tali pusar bayi dan memastikan kondisi ibu serta bayi dalam keadaan stabil. Setelah berkoordinasi dengan kapten pesawat, awak kabin memutuskan melakukan pendaratan darurat kembali di Bandara Jeddah.

Setelah pesawat mendarat, tim medis bandara melanjutkan penanganan dengan membantu proses pengeluaran plasenta sebelum akhirnya ibu dan bayi tersebut dibawa ke rumah sakit terdekat.

Penerbangan kemudian dilanjutkan kembali menuju Jakarta pada pukul 08.00 pagi dan seluruh penumpang tiba dengan selamat.

Menurut informasi dari awak kabin, penumpang perempuan tersebut merupakan warga Indonesia asal Lombok yang sedang melakukan perjalanan pulang seorang diri. Ia bahkan mengaku tidak menyadari bahwa dirinya sedang hamil.

Bagi Febrian, pengalaman tersebut menjadi momen pertama sekaligus paling menegangkan selama dirinya bekerja sebagai tenaga kesehatan.

“Jujur saya kaget, cemas, dan deg-degan karena ini pengalaman pertama membantu persalinan di dalam pesawat. Tapi sebagai tenaga kesehatan kita harus tetap profesional dan melakukan yang terbaik dengan ilmu yang kita punya,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam situasi tersebut adalah keterbatasan alat medis.

“Kalau di fasilitas kesehatan tentu alat sudah lengkap dan steril. Tapi di atas pesawat berbeda, kita hanya punya peralatan seadanya. Jadi harus bisa berpikir cepat dan tetap menjaga kebersihan dalam setiap tindakan,” jelasnya.

Febrian sendiri merupakan alumni Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Unmuh Jember yang memulai kuliah pada tahun 2015 dan menyelesaikan pendidikan S1 Keperawatan serta Profesi Ners pada tahun 2021.

Selama masa kuliah, ia aktif di organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Asy-Syifa dan sempat menjabat sebagai Ketua Umum pada periode 2017–2018.

Setelah lulus, Febrian bekerja di berbagai fasilitas kesehatan di Jember, mulai dari RS Siloam Jember, klinik di wilayah Panti, hingga pernah terlibat sebagai enumerator kesehatan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Saat ini ia juga bekerja di RS Bina Sehat Jember.

Pada tahun 2025, ia mendapatkan kesempatan bekerja di Armed Forces Hospital – Taif Region, Arab Saudi, sebuah rumah sakit pemerintah di bawah Kementerian Pertahanan Arab Saudi. Di sana ia bertugas di Psychiatric Center, yang menangani pasien dengan gangguan kesehatan mental serta kasus kecanduan obat-obatan.

Febrian mengaku pengalaman tersebut semakin mengingatkannya tentang tanggung jawab profesi tenaga kesehatan.

“Sebagai perawat, di mana pun dan kapan pun kita harus siap membantu orang yang membutuhkan pertolongan medis. Ilmu yang kita miliki bisa sangat bermanfaat bahkan menyelamatkan nyawa orang lain,” katanya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para dosen di Universitas Muhammadiyah Jember yang telah membekalinya dengan ilmu dan nilai profesionalisme selama masa perkuliahan.

“Saya bisa berada di posisi sekarang karena jasa para dosen yang telah mendidik kami menjadi tenaga kesehatan yang profesional,” ujarnya.

Bagi Febrian, menjadi perawat bukan hanya soal keahlian medis, tetapi juga tentang nilai kemanusiaan.

“Menjadi tenaga kesehatan harus profesional, tetapi tetap mengedepankan nilai-nilai Islami dalam melayani pasien dan masyarakat,” tutupnya.

Rabu, 11 Februari 2026

Perjalanan Hotijatul Munauwaroh, Winner Sis Duta Kampus Unmuh Jember 5.0

Hotijatul Munauwaroh, mahasiswa Semester 4 Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Jember, membuktikan bahwa latar belakang teknologi tidak membatasi ruang aktualisasi diri. Di tengah kesehariannya yang lekat dengan logika, sistem, dan pemrograman, ia memilih melangkah ke ruang representasi publik melalui ajang Duta Kampus 5.0, hingga akhirnya meraih Juara 1.

Hari-hari Hotijatul sebelum mengikuti ajang ini diisi dengan ritme yang padat. Kuliah, organisasi, dan kompetisi berjalan beriringan. Di Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HUMANIKA), ia dipercaya menjadi Ketua Divisi Sumber Daya Manusia, posisi yang menuntutnya mengelola dinamika manusia, bukan sekadar sistem. Ia terlibat langsung sebagai Ketua Panitia Management Training dan LKMM 2025, sekretaris makrab, hingga presidium sarasehan. Di tengah kesibukan itu, ia tetap menjaga identitasnya sebagai mahasiswa teknik dengan mengikuti berbagai ajang kompetisi dan meraih medali perak KMM dan PKMM.

Keputusan mengikuti Duta Kampus 5.0 bukanlah ambisi semata, melainkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Hotijatul merasa ada sisi dirinya yang belum sepenuhnya terasah. “Saya terbiasa berpikir dengan data dan logika. Tapi saya ingin belajar berbicara, menyampaikan gagasan, dan berdampak lebih luas,” katanya. Duta Kampus 5.0 menjadi ruang yang ia anggap tepat untuk menempa sisi itu.

Proses seleksi berjalan panjang dan menguras energi. Jadwal kuliah yang padat, tanggung jawab organisasi, serta persiapan kompetisi sering kali bertabrakan. Rasa ragu sempat muncul, apalagi ketika berhadapan dengan peserta lain yang tampil begitu percaya diri. Namun, satu prinsip membuatnya bertahan: tanggung jawab. Baginya, melangkah sejauh ini berarti harus menuntaskan perjalanan dengan sebaik mungkin.

Titik balik itu datang saat sesi presentasi gagasan. Di hadapan juri, Hotijatul memaparkan ide tentang digitalisasi kampus dan dampaknya bagi mahasiswa. Di momen itu, ia merasa menemukan irisan antara keilmuannya dan visi kampus. Teknik Informatika tidak lagi berdiri di pinggir, tetapi justru menjadi fondasi gagasan. “Di situ saya sadar, latar belakang saya bukan kelemahan. Itu nilai tambah,” ujarnya.

Kemenangan sebagai Juara 1 Duta Kampus 5.0 ia maknai bukan sebagai garis akhir, melainkan awal. Bagi Hotijatul, Kampus 5.0 adalah tentang harmonisasi teknologi dan nilai kemanusiaan. Teknologi hadir untuk memberdayakan, membantu menyelesaikan persoalan sosial, dan memperkuat peran mahasiswa di tengah masyarakat.

Pasca kemenangan, perubahan paling terasa adalah cara ia memandang dirinya sendiri. Jika sebelumnya ia lebih nyaman “berbicara” melalui sistem dan kode, kini ia belajar menyampaikan ide secara persuasif dan inklusif. Dukungan dari orang-orang terdekat ia sambut dengan rasa syukur, namun ia memilih untuk tidak cepat puas.

Ke depan, Hotijatul ingin mengambil peran nyata sebagai jembatan informasi dan inspirasi bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember. Ia membawa gagasan “UM Jember Digital Impact Hub”, sebuah wadah kolaborasi yang memungkinkan mahasiswa menyalurkan kreativitas digital untuk memberi dampak nyata bagi kampus dan masyarakat.

Baginya, kemenangan ini adalah amanah. Sebuah pengingat bahwa potensi sering kali tersembunyi di balik keraguan. “Jangan batasi diri sebelum mencoba,” pesannya. Dari barisan kode hingga panggung representasi kampus, Hotijatul Munauwaroh telah membuktikan bahwa keberanian untuk melangkah bisa membuka jalan menuju versi diri yang lebih utuh.


Rabu, 14 Januari 2026

Raih Juara 1 Essay Nasional, Mahasiswa Unmuh Jember Angkat Inovasi EcoFuture Catalys untuk Atasi Mikroplastik

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember). Gilang Arya Mahmudi, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan semester 7 angkatan 2022, berhasil meraih Juara 1 Lomba Essay Public Health Festival (PHV IV) yang diselenggarakan oleh UIN Jakarta pada 3 Januari 2025, melalui karya ilmiah berjudul “EcoFuture Catalys: Disruptive Green Technology Bionanofilter AI-IoT Berbasis Bioenzim untuk Transformasi Mikroplastik menjadi Asam Organik sebagai Circular Bioeconomy Lingkungan Berkelanjutan.”

Essay tersebut mengangkat isu global terkait tingginya paparan mikroplastik di lingkungan. Berdasarkan riset yang dilakukan, saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 51 triliun partikel mikroplastik di lautan, sekitar 4,5 juta ton terakumulasi di tanah pertanian, serta 3,2 juta ton berada di atmosfer global. Kondisi ini menjadikan mikroplastik sebagai ancaman nyata bagi kesehatan lingkungan dan manusia, sehingga memerlukan solusi teknologi yang inovatif dan berkelanjutan.

Melalui konsep EcoFuture Catalys, Gilang merancang pendekatan teknologi hijau yang mengintegrasikan bioteknologi, nanomaterial, serta sistem digital berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT). Teknologi ini tidak hanya berfokus pada mitigasi pencemaran mikroplastik, tetapi juga pada proses konversi mikroplastik menjadi asam organik berbasis bioenzim, sehingga mendorong terciptanya circular bioeconomy yang berkelanjutan.

Dalam proses penulisan, satu karya ilmiah diselesaikan dalam rentang waktu dua hingga tiga hari. Sementara itu, tahapan kompetisi—mulai dari seleksi, penetapan finalis, presentasi, hingga pengumuman—rata-rata berlangsung selama dua minggu. Intensitas mengikuti kompetisi yang tinggi membuat Gilang kerap menghadapi tantangan fisik dan mental, termasuk kelelahan dan burnout akibat ambisi mencapai target prestasi sebelum lulus.

Dukungan dari berbagai pihak turut menjadi faktor penting dalam konsistensinya meraih prestasi. Bimbingan akademik serta motivasi dari dosen pembimbing, guru pendamping, dan rekan-rekan tim menjadi bagian dari proses panjang yang ia jalani dalam dunia kompetisi karya ilmiah.

Dalam kurun waktu dua minggu terakhir, Gilang mencatatkan empat prestasi nasional di bidang essay ilmiah, yakni:

  1. Juara 2 Health Essay Competition (HEC), Universitas Tadulako, 30 Desember 2025.
  2. Juara 1 Lomba Essay Public Health Festival (PHV IV), UIN Jakarta, 3 Januari 2025.
  3. Juara 2 Public Health Award Competition (PHAC), Universitas Muslim Indonesia dalam Rapat Tahunan IKSMI, 9 Januari 2025.
  4. Juara 3 Lomba Essay ANESCO 01, Ansa Academy, 12 Desember 2025.

Secara keseluruhan, hingga semester tujuh, Gilang telah mengoleksi 22 prestasi karya ilmiah, dengan tujuh di antaranya diraih melalui kompetisi offline. Capaian tersebut menjadi bukti konsistensi mahasiswa Unmuh Jember dalam berkompetisi di tingkat nasional sekaligus memperkuat posisi universitas sebagai kampus yang mampu melahirkan mahasiswa berdaya saing tinggi.

Ke depan, Gilang menargetkan untuk terus menjaga konsistensi prestasi hingga mencapai 40 karya ilmiah sebelum lulus, serta menorehkan pencapaian pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) sebagai puncak target akademiknya.

 

Connect