Senin, 30 Maret 2026

Mahasiswa Unmuh Jember Dilatih Berbicara Percaya Diri di Forum Internasional

 

Kemampuan berbicara di depan publik dan menyampaikan gagasan ilmiah secara efektif menjadi fokus utama sesi keempat International Partnership Collaborative Extension Program yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) bersama Ifugao State University (IFSU), Filipina. Berlangsung pada Kamis (12/03/2026) secara daring melalui Zoom Meeting, sesi bertema Public Speaking and Academic Presentation Skills ini menjadi salah satu yang paling ditunggu dan terbukti menjadi yang paling interaktif sepanjang program berlangsung.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB atau 09.00 Philippine Time dan dihadiri oleh 90 peserta, jumlah tertinggi sejak program ini bergulir. Mereka berasal dari mahasiswa dan dosen Unmuh Jember, IFSU, serta sejumlah peserta dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang turut bergabung memperkaya dinamika diskusi.

Dua narasumber tampil membawakan perspektif yang saling melengkapi. Sesi pertama dibuka oleh Mary Grace Acosta Santiago dari College of Teacher Education, Ifugao State University, dengan materi Public Speaking Across Culture. Dalam pemaparannya, Santiago membawa peserta memahami bahwa kemampuan berbicara di depan publik jauh lebih dari sekadar soal kelancaran berbahasa atau teknik penyampaian pesan. Ada dimensi budaya yang tak kalah penting untuk dipahami.

Santiago menjelaskan bahwa gaya komunikasi, ekspresi nonverbal, penggunaan jeda, hingga struktur logis dalam menyampaikan argumen dapat berbeda secara signifikan antara satu budaya dan budaya lainnya. Apa yang dianggap tegas dan meyakinkan dalam satu konteks budaya bisa dipersepsi berbeda dalam konteks budaya yang lain. Oleh karena itu, mahasiswa yang bercita-cita tampil di forum internasional perlu membekali diri bukan hanya dengan kemampuan teknis berbicara, tetapi juga dengan kepekaan dan kesadaran budaya yang mendalam.

Sesi dilanjutkan oleh Dr. Dian Rahma Santoso, M.Pd. dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan materi Academic Presentation Skills. Dr. Dian memandu peserta melalui anatomi presentasi akademik yang efektif, mulai dari cara merumuskan ide utama yang tajam, mengembangkan argumen yang kohesif dan meyakinkan, hingga memilih dan menyusun media visual yang mendukung pesan tanpa mengalihkan perhatian audiens.

Tak berhenti di situ, Dr. Dian juga membahas aspek-aspek yang sering menjadi tantangan bagi mahasiswa: bagaimana mengelola rasa gugup sebelum dan saat presentasi, menjaga kontak mata dengan audiens tanpa membuat diri sendiri gelisah, serta membangun kepercayaan diri yang tumbuh dari persiapan yang matang, bukan dari kepura-puraan. Tips-tips praktis yang dibagikannya disambut antusias oleh peserta yang merasa mendapat panduan konkret yang selama ini mereka cari.

Puncak dari sesi ini adalah kesempatan yang diberikan kepada peserta untuk langsung mempraktikkan apa yang mereka pelajari melalui simulasi presentasi akademik singkat. Satu per satu, peserta tampil menyampaikan gagasan di hadapan rekan-rekan dari dua negara, lalu mendapatkan umpan balik langsung dari narasumber. Momen ini menjadi ruang latihan yang berharga, tidak hanya untuk mengasah teknik, tetapi juga untuk membiasakan diri tampil di depan audiens internasional dalam suasana yang suportif.

Diskusi yang berlangsung setelah sesi simulasi semakin memperlihatkan kedalaman ketertarikan peserta terhadap topik ini. Berbagai pertanyaan praktis mengalir: bagaimana mempersiapkan diri untuk presentasi di konferensi internasional, strategi terbaik dalam mengelola waktu presentasi agar pesan tersampaikan tuntas tanpa melampaui batas waktu, serta cara menyesuaikan gaya penyampaian ketika berhadapan dengan audiens dari latar belakang budaya yang beragam.

"Sesi ini membantu saya memahami bagaimana menyampaikan gagasan secara jelas dalam forum akademik internasional," ungkap salah satu mahasiswa IFSU setelah kegiatan berakhir.

Dari pihak Unmuh Jember, seorang peserta menyampaikan, "Materi tentang public speaking sangat membantu saya untuk lebih percaya diri ketika harus presentasi di depan kelas maupun forum akademik."

Seorang peserta lain menambahkan, "Saya belajar bahwa pemahaman budaya sangat penting ketika berbicara di hadapan audiens internasional."

Peningkatan partisipasi yang konsisten dari sesi ke sesi, dari 60 peserta di sesi pertama hingga 90 peserta di sesi keempat ini, menjadi indikator yang berbicara sendiri. Program yang awalnya mempertemukan dua institusi kini telah berkembang menjadi ruang belajar yang semakin banyak diminati, karena peserta merasakan langsung manfaat nyata yang mereka bawa pulang setelah setiap pertemuan.

Dengan dua sesi tersisa yang akan memuncak pada proyek kolaboratif mahasiswa lintas negara dan sesi refleksi evaluasi bersama, program ini terus melangkah menuju penyelesaian yang diharapkan tidak hanya meninggalkan kenangan baik, tetapi juga dokumen kerja sama resmi dan artikel ilmiah yang akan menjadi warisan akademik dari kolaborasi bersejarah antara Unmuh Jember dan Ifugao State University.

Linguistik Bukan Sekadar Teori: Unmuh Jember dan IFSU Buktikan Relevansinya dalam Pengajaran Bahasa Global

Sesi ketiga dalam rangkaian International Partnership Collaborative Extension Program yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) dan Ifugao State University (IFSU), Filipina, kembali mencatat partisipasi yang terus meningkat. Berlangsung pada Sabtu (07/03/2026) secara daring melalui platform Zoom Meeting, sesi ini mengangkat tema Linguistics and Language Teaching, sebuah topik yang langsung menyentuh jantung bidang studi sebagian besar peserta yang hadir.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB atau 09.00 Philippine Time dan kali ini dihadiri oleh 87 peserta, naik secara signifikan dibandingkan sesi-sesi sebelumnya. Para peserta berasal dari kalangan mahasiswa dan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa, Linguistik, dan Pendidikan Guru dari kedua institusi. Peningkatan jumlah peserta ini sekaligus mencerminkan tumbuhnya kepercayaan dan antusiasme terhadap program yang kini telah berjalan tiga sesi.

Sesi pertama dibawakan oleh Jhon Nery S. Martin dari College of Teacher Education, Ifugao State University, dengan judul materi Empowering Global Educators: Linguistics Meets Classroom Practice. Dalam pemaparannya, Martin menekankan bahwa pemahaman mendalam terhadap cabang-cabang ilmu linguistik, mulai dari fonologi, morfologi, sintaksis, hingga pragmatik, bukanlah bekal yang hanya relevan di ruang kuliah teori. Sebaliknya, penguasaan terhadap prinsip-prinsip linguistik dapat secara langsung membantu seorang pendidik merancang strategi pembelajaran bahasa yang lebih efektif, komunikatif, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.

Martin juga mengajak peserta memahami bagaimana pendekatan linguistik dapat menjadi alat untuk memupuk kemampuan berpikir kritis dan analitis mahasiswa dalam memandang bahasa bukan sekadar sebagai alat komunikasi sehari-hari, melainkan sebagai sistem yang kompleks dan sarat makna. Di tangan seorang pendidik yang memahami linguistik, sebuah kelas bahasa bisa berubah menjadi ruang eksplorasi intelektual yang hidup.

Sesi kedua menampilkan Dr. Astri Widyaruli Anggraeni, M.A., Ketua Program PKMKI sekaligus dosen dari FKIP Unmuh Jember, dengan materi Bridging Linguistics, Communication, and Global Language Pedagogy. Dr. Astri membawa diskusi ke dimensi yang lebih luas: bagaimana linguistik, komunikasi akademik, dan pedagogi bahasa global saling berkelindan dalam praktik pengajaran bahasa masa kini.

Ia menegaskan bahwa pembelajaran bahasa tidak bisa lagi dipersempit hanya pada penguasaan struktur gramatikal. Di era globalisasi yang menuntut interaksi lintas budaya, seorang pengajar bahasa perlu membekali mahasiswanya dengan kemampuan berkomunikasi yang peka terhadap konteks sosial dan budaya. Dr. Astri juga membagikan contoh-contoh konkret bagaimana pendekatan pragmatik dan komunikasi lintas budaya diterapkan dalam pengajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di lingkungan akademik internasional.

Sesi diskusi yang mengikuti kedua pemaparan berlangsung dengan sangat dinamis. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari peserta, menyentuh isu-isu yang sangat relevan dengan realitas di lapangan: bagaimana mengajar bahasa di kelas multilingual yang peserta didiknya memiliki latar belakang linguistik berbeda-beda, strategi apa yang paling efektif dalam mendampingi mahasiswa internasional menguasai bahasa baru, serta seberapa besar peran kesadaran budaya dalam proses pembelajaran bahasa asing.

Hasil observasi selama sesi berlangsung menunjukkan bahwa kedekatan tema dengan bidang studi peserta menjadi faktor kunci tingginya tingkat keterlibatan. Mahasiswa yang sehari-harinya bergelut dengan ilmu bahasa menemukan relevansi langsung antara apa yang mereka pelajari di kelas dan apa yang dipaparkan oleh para narasumber.

"Sesi ini membantu saya memahami bahwa linguistik bukan hanya bersifat teoritis, tetapi juga sangat praktis dalam pengajaran bahasa," kata salah satu mahasiswa IFSU yang mengikuti sesi tersebut.

Hal senada disampaikan peserta dari Unmuh Jember. "Saya jadi lebih memahami bagaimana linguistik dapat membantu guru menjelaskan struktur bahasa dengan lebih mudah kepada siswa," ujarnya.

Seorang mahasiswa lain dari IFSU menambahkan, "Diskusi tentang pedagogi bahasa global sangat menginspirasi bagi kami yang akan menjadi pendidik di masa depan."

Refleksi-refleksi itu bukan sekadar ungkapan sopan di akhir sesi. Mereka adalah bukti bahwa ketika dua institusi dengan tradisi akademik yang berbeda duduk bersama untuk mendiskusikan hal yang sama-sama mereka cintai, bahasa dan pengajarannya, yang lahir bukan hanya pertukaran pengetahuan, tetapi juga percikan inspirasi yang bisa mengubah cara seorang calon pendidik memandang perannya di masa depan.

Sesi ketiga ini sekaligus semakin mempertegas pola yang terbentuk sepanjang program: setiap pertemuan tidak hanya meninggalkan pengetahuan baru, tetapi juga mempererat hubungan antara Unmuh Jember dan IFSU sebagai dua institusi yang berbagi visi dalam memajukan pendidikan bahasa di tingkat global.

Belajar Saling Menjaga Warisan Budaya, Mahasiswa Unmuh Jember dan Filipina Temukan Banyak Kesamaan

Kegiatan sesi kedua dalam rangkaian International Partnership Collaborative Extension Program yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) bersama Ifugao State University (IFSU), Filipina, kembali berlangsung dengan penuh semangat pada Rabu (05/03/2026). Berbeda dari sesi sebelumnya yang berfokus pada etika akademik, sesi kali ini mengangkat tema yang lebih dekat dengan identitas dan jati diri kedua bangsa: budaya nasional dan pelestarian warisan leluhur.

Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting, dimulai pukul 08.00 WIB atau 09.00 Philippine Time, dan diikuti oleh mahasiswa serta dosen dari kedua institusi. Dua materi utama disajikan secara berurutan dalam sesi yang berlangsung selama dua jam tersebut.

Sesi pertama dibawakan oleh Dr. Leonardo I. Cabauatan dari IFSU dengan topik Introduction to National Culture and History. Dalam pemaparannya, Dr. Cabauatan mengajak peserta untuk menyelami keragaman budaya Filipina, mulai dari sejarah pembentukan identitas nasional, kekayaan tradisi lokal di berbagai wilayah, hingga bagaimana nilai-nilai budaya tersebut terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sesi ini diikuti oleh 60 peserta, terdiri dari 30 mahasiswa Unmuh Jember dan 30 mahasiswa IFSU.

Paparan Dr. Cabauatan langsung memantik diskusi yang hidup. Mahasiswa dari Unmuh Jember aktif mengajukan pertanyaan seputar keberagaman etnis di Filipina dan bagaimana masyarakat di sana menjaga harmoni di tengah perbedaan. Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan ketertarikan yang tulus dari mahasiswa Indonesia terhadap budaya negara tetangga yang selama ini mungkin hanya mereka kenal dari permukaan.

Sesi kedua menghadirkan Kristi Nuraini, S.Pd., M.Pd. dari Unmuh Jember yang membawakan materi Preserving Cultural Heritage in Students' Life. Materi ini mengajak peserta merenungkan peran generasi muda, khususnya mahasiswa, dalam menjaga dan mewariskan budaya lokal di tengah arus modernisasi yang terus mengalir deras. Kristi Nuraini mengupas bagaimana mahasiswa dapat menjadi agen pelestarian budaya bukan hanya melalui kegiatan formal, tetapi juga dalam keseharian dan pilihan-pilihan hidup mereka. Sesi ini mencatat kehadiran 59 peserta dari dua negara.

Apa yang kemudian menjadi momen paling berkesan dari sesi kedua ini adalah penemuan bersama, sebuah kesadaran yang tumbuh secara organik di tengah diskusi, bahwa Indonesia dan Filipina menyimpan banyak kesamaan nilai budaya. Semangat kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan kecintaan terhadap tradisi lokal ternyata bukan milik satu bangsa saja. Temuan ini menjadi pemantik diskusi yang mengalir jauh melampaui waktu yang dijadwalkan.

Mahasiswa dari wilayah Ifugao yang dikenal dengan tradisi pertanian terasering dan kekayaan budaya adat yang kuat menunjukkan ketertarikan besar terhadap konsep budaya Pandalungan yang dipaparkan oleh tim Unmuh Jember, sebuah budaya yang lahir dari akulturasi antara suku Jawa dan Madura di Jawa Timur dan merepresentasikan nilai-nilai toleransi serta keharmonisan multietnis.

"Melalui kegiatan ini saya dapat memahami lebih banyak tentang budaya Filipina dan menyadari bahwa banyak nilai budaya yang sebenarnya mirip dengan budaya Indonesia," ungkap salah satu mahasiswa Unmuh Jember yang hadir dalam sesi tersebut.

Dari sisi lain layar, mahasiswa IFSU pun menyampaikan kesan yang tak kalah dalam. "Sangat menarik untuk melihat bagaimana mahasiswa Indonesia menjaga warisan budaya mereka sembari menjalani kehidupan di kampus. Hal ini memberi saya gagasan baru tentang bagaimana menghargai budaya sendiri," ujar salah satu peserta dari Filipina.

Analisis partisipasi selama kegiatan menunjukkan hasil yang memuaskan. Mahasiswa tidak hanya hadir secara fisik di depan layar, tetapi terlibat aktif dalam diskusi mengenai sejarah dan budaya nasional, berbagi pengalaman mengenai upaya pelestarian budaya lokal di masing-masing daerah, serta merefleksikan peran generasi muda dalam menjaga warisan yang telah diwariskan para pendahulu.

Kegiatan ini juga semakin mempertegas relevansi program PKMKI yang diusung Unmuh Jember, bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi bukan sekadar soal meningkatkan kompetensi akademik, tetapi juga tentang membangun jembatan antarbangsa melalui pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman budaya. Ketika dua bangsa duduk bersama dan menemukan bahwa nilai-nilai yang mereka junjung ternyata banyak yang serupa, itulah saat di mana diplomasi budaya yang sesungguhnya terjadi.

Unmuh Jember dan Ifugao State University Resmi Buka Program Kolaborasi Internasional, Bahas Etika Akademik hingga Kehidupan Kampus

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) resmi memulai program kolaborasi akademik internasional bersama Ifugao State University (IFSU), Filipina, pada Jumat (28/02/2026). Program yang berjalan di bawah skema Program Kemitraan Masyarakat Kolaborasi Internasional (PKMKI) ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan internasionalisasi Unmuh Jember, sekaligus membuka ruang dialog akademik lintas budaya yang selama ini dinantikan oleh mahasiswa dari kedua negara.

Sesi perdana program bertajuk International Partnership Collaborative Extension Program: Exploration and Preservation of Pandalungan Culture Based on Multi-Ethnic Values ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting dan diikuti oleh sekitar 60 peserta, terdiri dari 30 mahasiswa Unmuh Jember dan 30 mahasiswa IFSU. Kegiatan berlangsung pada pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, atau setara pukul 09.00 hingga 11.00 waktu Filipina.

Program ini diketuai oleh Dr. Astri Widyaruli Anggraeni, S.S., M.A. dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unmuh Jember, dengan anggota tim Kristi Nuraini, S.Pd., M.Pd., serta dua mahasiswa, dan 2 orang mahasiswa; Charissa Wahyu Qomala Rahma dan Aryanti Nafasatuz Zukhli. Koordinasi awal antara kedua institusi sendiri telah dilakukan sejak Jumat (07/02/2026) untuk menyepakati konsep program, jadwal kegiatan, dan pembagian tugas narasumber.

Sesi pertama pada hari Sabtu (28/02/20260) mengangkat tema Academic Ethics and Formal Communication, disampaikan oleh Dr. Maribel T. De Guzman dari IFSU. Dalam pemaparannya, Dr. De Guzman membahas secara mendalam pentingnya integritas akademik sebagai fondasi kehidupan ilmiah di perguruan tinggi. Ia mengupas konsep academic integrity, etika penulisan ilmiah, hingga standar komunikasi formal yang berlaku dalam lingkungan akademik global.

Tak hanya berhenti pada tataran konseptual, kedua narasumber juga menghadirkan contoh kasus nyata seputar plagiarisme dan berbagai bentuk pelanggaran etika akademik, sembari memberikan panduan praktis bagi mahasiswa agar terhindar dari praktik-praktik tersebut. Selain itu, peserta mendapat pembekalan mengenai cara menulis surat elektronik akademik kepada dosen, etika dalam presentasi ilmiah, serta bagaimana membangun komunikasi profesional saat tampil di forum internasional.

Sesi ini berlangsung interaktif dan hidup. Mahasiswa dari kedua institusi begitu  antusias mengajukan pertanyaan, terutama mengenai persamaan dan perbedaan standar etika akademik yang berlaku di Indonesia dan Filipina. Diskusi yang mengalir hangat itu menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi benar-benar terlibat sebagai peserta yang ingin belajar dan berbagi.

Memasuki  materi kedua, Dr. Astri Widyaruli Anggraeni, M.A yang memaparkan tema Academic life in Indonesian Universities giliran dari Unmuh Jember tampil membawakan materi Academic Life in Indonesian Universities. Sesi ini dirancang untuk memperkenalkan sistem pendidikan tinggi di Indonesia kepada mahasiswa Filipina, sekaligus membuka jendela bagi kedua belah pihak untuk saling memahami dinamika kehidupan kampus di masing-masing negara. Topik yang dibahas mencakup struktur pembelajaran di perguruan tinggi, sistem penilaian akademik, kehidupan mahasiswa di lingkungan kampus, hingga ragam kegiatan organisasi kemahasiswaan.

Yang menarik, sesi ini tidak hanya menyentuh aspek sistem pendidikan secara formal Dr.Astri juga a memperkenalkan nilai-nilai budaya yang melekat dalam kehidupan akademik Indonesia, seperti semangat gotong royong, penghormatan kepada tenaga pengajar, dan tradisi kerja sama dalam kegiatan belajar. Nilai-nilai ini rupanya menjadi titik menarik bagi mahasiswa IFSU yang penasaran dengan cara mahasiswa Indonesia menjalani keseharian di kampus.

"Kegiatan ini sangat menarik karena kami dapat berdiskusi langsung dengan mahasiswa dari negara lain dan belajar tentang budaya serta sistem pendidikan mereka," ujar salah satu mahasiswa Unmuh Jember yang berpartisipasi dalam sesi tersebut.

Ketertarikan mahasiswa IFSU pun tak kalah besar. Mereka aktif mengajukan pertanyaan seputar sistem pembelajaran di Indonesia, kegiatan mahasiswa di luar kelas, hingga bagaimana organisasi kemahasiswaan berperan dalam membentuk karakter dan kompetensi mahasiswa. Interaksi yang terjadi bukan sekadar tanya jawab formal, melainkan percakapan yang tulus antara dua kelompok mahasiswa yang tengah membangun jembatan pemahaman lintas budaya.

Hasil observasi selama kegiatan berlangsung mencatat tingkat partisipasi yang sangat baik dari seluruh peserta. Kehadiran peserta terpantau penuh, diskusi berjalan aktif, dan antusiasme peserta dinilai sangat tinggi sejak menit pertama kegiatan dibuka. Ini menjadi sinyal kuat bahwa program kolaborasi internasional semacam ini memang dibutuhkan dan disambut hangat oleh mahasiswa dari kedua negara.

Sesi perdana ini menjadi awal yang menjanjikan bagi keseluruhan program yang direncanakan berlangsung hingga bulan April 2026. Dengan tujuh sesi yang telah dirancang mencakup topik-topik strategis mulai dari linguistik, komunikasi lintas budaya, public speaking, hingga proyek kolaboratif mahasiswa, program ini diharapkan mampu menjadi model pengembangan kolaborasi internasional berbasis pengabdian masyarakat yang dapat direplikasi oleh program studi lain di lingkungan Unmuh Jember. 

Jumat, 20 Maret 2026

Sholat Idul Fitri 1447 H di Unmuh Jember Tekankan Tanggung Jawab Membangun Masyarakat Berkemajuan

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menggelar Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah yang dilaksanakan di halaman depan Gedung A kampus setempat pada Jumat (20/3/2025). Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 1.000 jamaah yang terdiri dari civitas akademika, masyarakat sekitar, serta keluarga besar Muhammadiyah.

Bertindak sebagai imam dalam pelaksanaan sholat Idul Fitri tersebut adalah Muhammad Lutfi, S.E., yang merupakan alumni Program Studi Ekonomi Syariah Unmuh Jember. Sementara itu, khutbah Idul Fitri disampaikan oleh H. Kusno, S.Ag., M.Pd.I, yang juga merupakan anggota Badan Pembina Harian (BPH) Unmuh Jember.

Adapun tema khutbah yang disampaikan yakni “Idul Fitri dan Tanggung Jawab Membangun Masyarakat Berkemajuan.”

Dalam khutbahnya, Kusno menekankan bahwa Idul Fitri bukan hanya momentum kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan, tetapi juga saat yang tepat untuk memperkuat tanggung jawab dalam membangun masyarakat yang maju, berkeadaban, serta berlandaskan nilai-nilai keimanan.

Ia menyampaikan bahwa kemajuan masyarakat harus dimulai dari kekuatan iman dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT.

Menurutnya, setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan yang dilakukan di dunia, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

“Kita diajarkan bahwa segala amal perbuatan manusia tercatat dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, iman dan ketakwaan harus menjadi landasan dalam membangun kehidupan yang lebih baik,” ujarnya dalam khutbah.

Kusno juga mengingatkan bahwa umat Islam yang telah melewati “Madrasah Ramadan” seharusnya memiliki kepedulian sosial yang lebih tinggi terhadap sesama. Ia mengajak jamaah untuk menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat serta menghargai perbedaan yang ada.

Menurutnya, perbedaan merupakan bagian dari sunnatullah yang harus disikapi dengan bijak dan penuh kedewasaan.

“Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Bukan mereka yang memperdebatkan perbedaan, tetapi mereka yang mampu menjaga persaudaraan dan membangun kebersamaan,” jelasnya.

Selain itu, ia juga mengajak jamaah untuk memperbaiki hubungan dalam keluarga dan lingkungan sekitar sebagai langkah awal membangun masyarakat yang berkemajuan.

Di akhir khutbahnya, Kusno menegaskan pentingnya meningkatkan kepedulian dan semangat berbagi kepada sesama sebagai wujud nyata dari nilai-nilai yang diajarkan selama bulan Ramadan.

Pelaksanaan Sholat Idul Fitri berlangsung dengan khidmat dan tertib. Dalam sholat tersebut, imam membaca Surah Al-A’la pada rakaat pertama dan Surah Al-Ghasiyah pada rakaat kedua, sebagaimana yang dianjurkan dalam pelaksanaan Sholat Idul Fitri.

Momentum Idul Fitri di lingkungan Unmuh Jember ini diharapkan dapat mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat komitmen civitas akademika dalam mewujudkan kampus yang berdampak bagi masyarakat.

Selasa, 17 Maret 2026

Detik-Detik Persalinan Darurat di Pesawat, Alumni Unmuh Jember Bantu Selamatkan Ibu dan Bayi

Febrian (kemeja dengan motif hitam-coklat) saat foto bersama setelah proses persalinan darurat.

Perjalanan pulang ke Indonesia yang seharusnya menjadi momen istirahat bagi Febrian Rahmatulloh justru berubah menjadi pengalaman tak terlupakan. Alumni Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) itu harus membantu proses persalinan darurat seorang penumpang di dalam pesawat yang sedang mengudara.

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, (12/3/2026) yang lalu, saat Febrian melakukan penerbangan dari Jeddah menuju Jakarta menggunakan pesawat Saudia Airlines. Saat itu ia tengah dalam perjalanan pulang untuk mengambil cuti tahunan dari pekerjaannya di Arab Saudi.

Sekitar satu jam setelah pesawat lepas landas, awak kabin mengumumkan melalui pengeras suara dan menanyakan apakah ada dokter atau perawat di dalam pesawat. Tanpa ragu, Febrian langsung melapor kepada pramugari dan memperkenalkan diri sebagai seorang perawat.

Ia kemudian diarahkan menuju area salat di dalam pesawat. Di tempat itu, seorang penumpang perempuan sudah dalam kondisi akan melahirkan.

“Saat saya sampai di sana, posisi kepala bayi sudah keluar,” kenang Febrian.

Dengan kondisi tersebut, ia segera mengambil inisiatif untuk membantu proses persalinan. Ia meminta sarung tangan kepada awak kabin serta meminta agar ibu tersebut dipasangi oksigen dan alat pengukur oksigen dalam darah.

Beberapa menit kemudian, bayi tersebut lahir dengan selamat di dalam pesawat yang masih berada di ketinggian ribuan kaki. Dalam proses tersebut, pakaian Febrian bahkan sempat terkena cipratan air ketuban.

Untuk mencegah bayi mengalami hipotermia, ia segera meminta selimut dari awak kabin untuk membungkus bayi yang baru lahir. Tak lama kemudian, dua dokter dan satu perawat lain turut datang membantu proses penanganan.

Dengan peralatan seadanya, mereka bersama-sama memotong tali pusar bayi dan memastikan kondisi ibu serta bayi dalam keadaan stabil. Setelah berkoordinasi dengan kapten pesawat, awak kabin memutuskan melakukan pendaratan darurat kembali di Bandara Jeddah.

Setelah pesawat mendarat, tim medis bandara melanjutkan penanganan dengan membantu proses pengeluaran plasenta sebelum akhirnya ibu dan bayi tersebut dibawa ke rumah sakit terdekat.

Penerbangan kemudian dilanjutkan kembali menuju Jakarta pada pukul 08.00 pagi dan seluruh penumpang tiba dengan selamat.

Menurut informasi dari awak kabin, penumpang perempuan tersebut merupakan warga Indonesia asal Lombok yang sedang melakukan perjalanan pulang seorang diri. Ia bahkan mengaku tidak menyadari bahwa dirinya sedang hamil.

Bagi Febrian, pengalaman tersebut menjadi momen pertama sekaligus paling menegangkan selama dirinya bekerja sebagai tenaga kesehatan.

“Jujur saya kaget, cemas, dan deg-degan karena ini pengalaman pertama membantu persalinan di dalam pesawat. Tapi sebagai tenaga kesehatan kita harus tetap profesional dan melakukan yang terbaik dengan ilmu yang kita punya,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam situasi tersebut adalah keterbatasan alat medis.

“Kalau di fasilitas kesehatan tentu alat sudah lengkap dan steril. Tapi di atas pesawat berbeda, kita hanya punya peralatan seadanya. Jadi harus bisa berpikir cepat dan tetap menjaga kebersihan dalam setiap tindakan,” jelasnya.

Febrian sendiri merupakan alumni Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Unmuh Jember yang memulai kuliah pada tahun 2015 dan menyelesaikan pendidikan S1 Keperawatan serta Profesi Ners pada tahun 2021.

Selama masa kuliah, ia aktif di organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Asy-Syifa dan sempat menjabat sebagai Ketua Umum pada periode 2017–2018.

Setelah lulus, Febrian bekerja di berbagai fasilitas kesehatan di Jember, mulai dari RS Siloam Jember, klinik di wilayah Panti, hingga pernah terlibat sebagai enumerator kesehatan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Saat ini ia juga bekerja di RS Bina Sehat Jember.

Pada tahun 2025, ia mendapatkan kesempatan bekerja di Armed Forces Hospital – Taif Region, Arab Saudi, sebuah rumah sakit pemerintah di bawah Kementerian Pertahanan Arab Saudi. Di sana ia bertugas di Psychiatric Center, yang menangani pasien dengan gangguan kesehatan mental serta kasus kecanduan obat-obatan.

Febrian mengaku pengalaman tersebut semakin mengingatkannya tentang tanggung jawab profesi tenaga kesehatan.

“Sebagai perawat, di mana pun dan kapan pun kita harus siap membantu orang yang membutuhkan pertolongan medis. Ilmu yang kita miliki bisa sangat bermanfaat bahkan menyelamatkan nyawa orang lain,” katanya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para dosen di Universitas Muhammadiyah Jember yang telah membekalinya dengan ilmu dan nilai profesionalisme selama masa perkuliahan.

“Saya bisa berada di posisi sekarang karena jasa para dosen yang telah mendidik kami menjadi tenaga kesehatan yang profesional,” ujarnya.

Bagi Febrian, menjadi perawat bukan hanya soal keahlian medis, tetapi juga tentang nilai kemanusiaan.

“Menjadi tenaga kesehatan harus profesional, tetapi tetap mengedepankan nilai-nilai Islami dalam melayani pasien dan masyarakat,” tutupnya.

Senin, 16 Maret 2026

Bakti Sosial di Desa Binaan, Fakultas Teknik Unmuh Jember Salurkan Puluhan Paket Sembako untuk Warga Dusun Plampang

Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Teknik dan sejumlah organisasi nonpemerintah melaksanakan kegiatan bakti sosial di Dusun Plampang, Desa Klekehan, Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso pada Sabtu dan Minggu (14–15/3/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program desa binaan Fakultas Teknik yang telah berjalan selama dua tahun terakhir. Sasaran kegiatan adalah masyarakat kaum duafa yang tinggal di wilayah Dusun Plampang, salah satu daerah terpencil di Desa Klekehan.

Dalam kegiatan tersebut, panitia menyalurkan berbagai bantuan kepada masyarakat, di antaranya 43 paket sembako, baju baru Lebaran untuk 25 anak-anak, baju baru Lebaran untuk 35 perempuan dewasa, serta sarung, jilbab, dan mukena.

Desa Klekehan sendiri merupakan desa binaan Fakultas Teknik yang selama ini menjadi lokasi program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam upaya penyediaan air bersih bagi warga Dusun Plampang yang selama ini mengalami keterbatasan pasokan air.

Selama dua tahun terakhir, Fakultas Teknik bersama sejumlah mitra organisasi nonpemerintah seperti Gana Indonesia dan Ducati Owners Club Indonesia telah melaksanakan berbagai program pembangunan sarana air bersih. Program tersebut meliputi pembangunan bendung (dam), saluran intake, jaringan perpipaan air bersih, instalasi pompa hydram, penampungan air hujan, uji kualitas dan kuantitas air baku, hingga pembangunan sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK).

Pendanaan kegiatan bakti sosial ini diperoleh melalui kegiatan penggalangan dana (fundraising) dengan mengirimkan flyer dan proposal kepada berbagai perusahaan maupun donatur perorangan.

Masyarakat Dusun Plampang menyambut kegiatan ini dengan penuh antusias. Warga mengaku sangat senang dan bahagia atas bantuan yang diberikan, terlebih menjelang Hari Raya Idulfitri.

Kegiatan bakti sosial ini merupakan kegiatan kedua yang dilaksanakan sebagai bagian dari program rutin desa binaan Fakultas Teknik. Melalui kegiatan ini, Fakultas Teknik Unmuh Jember berharap dapat terus memperkuat kontribusi nyata perguruan tinggi dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah terpencil yang masih membutuhkan dukungan pembangunan infrastruktur dasar seperti air bersih.

Jumat, 13 Maret 2026

Tim RisetMu Unmuh Jember Kembangkan Inovasi Program Bi’ah Lughawiyyah di MBS Al Islam Paleran

Tim hibah RisetMu IX dari Universitas Muhammadiyah Jember melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al Islam Paleran pada Sabtu (7/2/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Inovasi Program Bi’ah Lughawiyyah: Strategi Keberlanjutan Pengembangan Bahasa Arab dan Pembinaan Akhlak Santri.”

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Hasna’ Huwaida sebagai ketua tim pengusul bersama Moh. Alfan, serta melibatkan tiga mahasiswa dari lintas program studi. Program ini merupakan implementasi dari hibah RisetMu IX yang berangkat dari hasil penelitian sebelumnya mengenai pembelajaran bahasa Arab berbasis lingkungan atau bi’ah lughawiyyah.

Sebelum pelaksanaan kegiatan, tim terlebih dahulu melakukan observasi untuk memetakan kondisi serta kebutuhan pengembangan lingkungan bahasa Arab di pesantren.

Bi’ah lughawiyyah merupakan pendekatan pembelajaran bahasa Arab yang menekankan pada pembentukan lingkungan bahasa secara sistematis. Lingkungan ini dirancang secara sengaja agar santri memperoleh pengalaman langsung dalam menggunakan bahasa Arab dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui interaksi sehari-hari di lingkungan pesantren.

Hasna’ menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan sebelumnya menunjukkan adanya pengaruh positif pembelajaran bahasa Arab berbasis bi’ah lughawiyyah terhadap pembinaan akhlak santri. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk mengembangkan inovasi program yang dapat menjaga keberlanjutan pembelajaran bahasa Arab sekaligus memperkuat pendidikan karakter di lingkungan pesantren.

Menurutnya, pendidikan akhlak memiliki urgensi yang semakin besar di tengah tantangan era modern yang ditandai dengan berbagai fenomena degradasi moral di masyarakat. Dalam perspektif Islam, pendidikan akhlak tidak hanya berfungsi membentuk perilaku baik, tetapi juga menumbuhkan kemampuan individu dalam menghadapi berbagai kontradiksi kehidupan antara kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kebatilan, serta keadilan dan kezaliman dengan berlandaskan nilai-nilai Islam.

Pendidikan ini juga mencakup pembinaan hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah) serta hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas).

Kegiatan ini mendapatkan sambutan positif dari pihak pesantren dan peserta yang terdiri atas ustadz, ustadzah, serta pengurus bahasa Arab santri. Direktur MBS Al Islam Paleran, Rizky Pahlevi, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat semakin memotivasi para guru dan santri dalam mempelajari bahasa Arab.

“Kami berharap para guru dan santri tidak hanya memandang bahasa Arab sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebagai kunci untuk membuka khazanah keilmuan Islam yang lebih luas,” ujarnya.

Sementara itu, Siti Nur Arfatika selaku ustadzah penggerak bahasa Arab di MBS Al Islam Paleran mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan banyak wawasan baru terkait strategi pengajaran bahasa Arab melalui penguatan bi’ah lughawiyyah.

Sebagai penutup kegiatan, tim pengabdian menyerahkan sejumlah produk pendukung program, di antaranya modul implementasi bi’ah lughawiyyah di lingkungan MBS Al Islam Paleran, poster bahasa Arab sebagai media pembelajaran visual, serta buku-buku bacaan dan pembelajaran bahasa Arab guna menambah literasi santri dan santriwati.

Melalui kegiatan ini, tim RisetMu IX Universitas Muhammadiyah Jember berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan pembelajaran bahasa Arab sekaligus memperkuat pembinaan akhlak santri. Program ini juga menjadi bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Selasa, 10 Maret 2026

Waspada Lonjakan Campak, Dokter Anak RSU Unmuh Jember Ingatkan Pentingnya Imunisasi

Meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Lebaran berpotensi mempercepat penyebaran penyakit campak, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Hal ini diingatkan oleh dr. Fiqi Isnaini Nurul Hikmah, Sp.A, dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Jember.

Menurut dr. Fiqi, campak merupakan penyakit infeksi virus akut yang sangat menular dan disebabkan oleh virus dari kelompok paramyxovirus. Penularannya terutama melalui udara (airborne) ketika penderita batuk, bersin, atau bernapas di dekat orang lain. Selain itu, virus juga dapat menyebar melalui percikan air liur maupun benda-benda yang telah terkontaminasi, seperti mainan atau permukaan yang disentuh penderita.

“Campak bisa menular sejak empat hari sebelum munculnya ruam hingga empat hari setelah ruam muncul,” jelasnya. Kondisi ini membuat penyebaran penyakit menjadi sangat cepat, terutama pada lingkungan dengan mobilitas tinggi seperti momen silaturahmi Lebaran.

Secara global, kasus campak masih menjadi perhatian serius. Indonesia bahkan tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus campak yang tinggi di dunia. Pada tahun 2025 tercatat 69 kematian akibat campak, dan hingga awal 2026 telah dilaporkan beberapa kasus kematian tambahan akibat penyakit tersebut.

dr. Fiqi menjelaskan, gejala awal campak yang perlu diwaspadai orang tua antara lain demam tinggi yang disertai batuk dan pilek, mata merah atau berair (konjungtivitis), serta munculnya ruam kemerahan pada kulit. Ruam biasanya muncul sekitar tiga hingga empat hari setelah demam, dimulai dari belakang telinga atau kepala, kemudian menyebar ke wajah, badan, hingga seluruh anggota tubuh.

“Ruam akan muncul dari kepala kemudian menyebar ke badan dan seluruh anggota tubuh. Dalam beberapa hari ruam akan menggelap lalu memudar,” ungkapnya.

Risiko penularan menjadi lebih tinggi apabila seseorang memiliki riwayat kontak dengan penderita campak sekitar 10 hingga 12 hari sebelum gejala muncul. Jika gejala tersebut ditemukan, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan lebih cepat.

Imunisasi menjadi langkah pencegahan paling efektif untuk melindungi anak dari penyakit campak. Vaksin campak atau MR tidak hanya dapat mencegah infeksi, tetapi juga dapat mengurangi risiko komplikasi berat hingga kematian apabila seseorang tetap terinfeksi.

Selain imunisasi, masyarakat juga diimbau menerapkan protokol kesehatan selama momen Lebaran. Penggunaan masker di tempat ramai, menjaga kebersihan tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, serta menghindari kontak langsung dengan bayi merupakan langkah penting untuk mencegah penularan.

Bayi dan anak kecil termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap campak. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak sembarangan menyentuh atau mencium bayi saat bersilaturahmi.

Apabila terdapat anggota keluarga yang terinfeksi campak, sebaiknya dilakukan isolasi atau dipisahkan sementara dari anggota keluarga lain yang sehat agar tidak terjadi penularan lebih lanjut.

“Pesan saya kepada masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki anak-anak, pastikan imunisasi campak sudah lengkap. Jika belum, segera lakukan imunisasi. Jika sudah imunisasi dasar, segera lengkapi dengan imunisasi lanjutan,” pungkas dr. Fiqi.

Ia juga berharap masyarakat tetap menjaga kesehatan selama momen Lebaran. “Semoga Lebaran tahun ini kita semua diberikan kesehatan dan terhindar dari penyakit campak,” tutupnya.

Kamis, 05 Maret 2026

Lawan Brainrot dengan Puasa! Dosen Unmuh Jember Ungkap Cara Medis Lindungi Sel Otak dari Konten Absurd

Fenomena brainrot kian marak diperbincangkan di tengah derasnya arus konten digital. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika pikiran terasa tumpul akibat paparan video pendek, meme repetitif, hingga tren absurd yang dikonsumsi secara terus-menerus. Tanpa disadari, kebiasaan scrolling tanpa henti di platform seperti TikTok dan Instagram Reels dapat mengganggu konsentrasi, menurunkan fokus, bahkan memengaruhi kesehatan otak dalam jangka panjang.

Gejalanya tampak sederhana namun mengganggu: sulit fokus membaca atau menyimak materi serius, perhatian mudah terpecah, hingga pikiran terus terngiang potongan audio viral. Jika dibiarkan, kondisi ini bukan sekadar persoalan kebiasaan digital, melainkan berpotensi memicu gangguan fungsi kognitif.

Dosen Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember, Dr. Wahyudi Widada, menjelaskan bahwa fenomena brainrot berkaitan dengan penurunan kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). BDNF merupakan bagian dari neurotrofin yang berperan penting dalam pertumbuhan, kelangsungan hidup, serta diferensiasi sel saraf.

“BDNF sangat vital dalam menjaga plastisitas dan fungsi neuron,” ujarnya.

 Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kadar BDNF yang rendah ditemukan pada pasien depresi, skizofrenia, hingga penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer's disease dan Parkinson's disease. Pada pasien stroke, rendahnya BDNF juga berkorelasi dengan peningkatan risiko depresi pasca stroke serta penyusutan volume hipotalamus bagian otak yang berperan dalam memori dan pengaturan emosi.

Penurunan dukungan neurotrofik akibat rendahnya BDNF dapat memicu perubahan struktural, termasuk atrofi jaringan otak. Pada kasus depresi mayor, volume hipotalamus dilaporkan menyusut hingga 5–10 persen.

Namun demikian, terdapat kabar baik. Berbagai studi dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa puasa dan intermittent fasting berpotensi meningkatkan kadar BDNF, khususnya di area hipotalamus. Mekanisme ini berkaitan dengan fase ketosis yang terjadi setelah 12–16 jam tanpa asupan kalori.

Saat cadangan glikogen tubuh menipis, tubuh mulai memecah lemak dan menghasilkan B-hydroxybutyrate (BHB). Senyawa ini tidak hanya menjadi sumber energi alternatif bagi otak, tetapi juga berperan sebagai molekul sinyal yang memicu ekspresi gen BDNF. Peningkatan BDNF inilah yang memberikan efek neuroprotektif atau perlindungan pada sel-sel otak.

Dengan demikian, puasa bukan sekadar ibadah atau pola makan, melainkan juga strategi biologis yang mendukung kesehatan otak di tengah gempuran konten digital berlebihan.

“Peningkatan BDNF membantu menjaga plastisitas neuron, memperbaiki fungsi jaringan saraf, serta berpotensi melindungi otak dari dampak brainrot akibat paparan konten digital yang berlebihan,” pungkasnya.

 

Selasa, 03 Maret 2026

Unmuh Jember Beri Pendampingan Kepemimpinan Remaja Berbasis Nilai Islam di Panti Asuhan Budi Mulia Jember

Upaya membentuk generasi muda yang berkarakter dan berjiwa pemimpin terus dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada Jumat, (13/2/2026), di Panti Asuhan Muhammadiyah Budi Mulia Jember. Kegiatan bertajuk Pendampingan Kepemimpinan Remaja Berbasis Nilai-Nilai Islam Kemuhammadiyahan sebagai Model Leadership Smart Social Care ini menjadi bagian dari skema Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Internal 2025/2026 Program Kemitraan Masyarakat Stimulus (PKMS).

Program ini diinisiasi oleh tim pengusul yang terdiri dari Dr. Akbar Maulana, S.IP., M.Si. dan Dr. Sudahri, S.Sos., M.I.Kom., dengan melibatkan mahasiswa Nina Anggel Febrianti dan Achmad Rifqi Hidayat sebagai bagian dari implementasi program. Kolaborasi ini memperkuat integrasi antara tridarma perguruan tinggi dan penguatan kapasitas kelembagaan panti asuhan.

Program tersebut lahir dari keprihatinan terhadap berbagai tantangan yang dihadapi remaja panti, mulai dari keterbatasan figur teladan, rendahnya kepercayaan diri, minimnya pengalaman kepemimpinan, hingga kurangnya ruang aktualisasi diri. Di tengah dinamika era governance modern yang menuntut pemimpin adaptif, kolaboratif, dan berintegritas, kebutuhan akan pembinaan kepemimpinan yang terstruktur menjadi semakin mendesak. Terlebih, panti asuhan sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah belum memiliki model pembinaan kepemimpinan yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam Kemuhammadiyahan secara sistematis.

Melalui pendekatan berbasis nilai amanah, tanggung jawab sosial, dan keteladanan, konsep Leadership Smart Social Care diperkenalkan sebagai model kepemimpinan sosial yang empatik, responsif, dan relevan dengan perkembangan era digital. Pelaksanaan kegiatan dirancang melalui lima tahapan utama, yakni analisis kebutuhan, pelatihan kepemimpinan, pendampingan praktik melalui simulasi kegiatan panti, penyusunan modul dan model pendampingan, serta evaluasi komprehensif menggunakan observasi, pre-post test, dan wawancara.

Pendekatan experiential learning menjadi metode utama dalam proses pendampingan. Para remaja tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga belajar melalui praktik langsung, refleksi, dan umpan balik yang berkelanjutan. Luaran kegiatan ini ditargetkan mencakup publikasi media massa, artikel ilmiah pada jurnal terindeks Sinta 4, modul pelatihan Leadership Smart Social Care, serta satu produk Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa model pendampingan kepemimpinan remaja berbasis nilai Islam Kemuhammadiyahan.

Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat karakter remaja panti sebagai calon pemimpin muda yang berakhlak, berintegritas, dan siap menghadapi dinamika sosial di era modern, sekaligus menjadi model penguatan kepemimpinan berbasis nilai yang dapat direplikasi di berbagai Amal Usaha Muhammadiyah lainnya.

  

Resmi Terakreditasi Unggul, Prodi Ilmu Pemerintahan Unmuh Jember Proyeksikan Program Magister dan Perkuat Dampak Tata Kelola Lokal

Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Jember resmi meraih predikat Unggul berdasarkan SK LAMSPAK Nomor 022/AK.03.05/2026 dengan masa berlaku 2 Desember 2025 hingga 2 Desember 2030. Capaian ini menjadi tonggak penting dalam penguatan mutu akademik sekaligus penegasan komitmen prodi dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang adaptif dan berdampak di bidang tata kelola pemerintahan. 

Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan, Dr. Iffan Gallant El Muhammady, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja panjang yang telah dimulai sejak 2022. Proses tersebut diawali dengan evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum lama, yang dinilai perlu disesuaikan dengan perkembangan keilmuan dan kebutuhan pemangku kepentingan. Melalui pendampingan Asosiasi Ilmu Pemerintahan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AIPPTM), Asosiasi Dosen Ilmu Pemerintahan (ADIPSI), dan Kesatuan Program Studi Ilmu Pemerintahan Indonesia (KAPSIPI), serta forum diskusi dengan stakeholder internal dan eksternal, prodi berhasil menyusun kurikulum baru yang disahkan pada 2024. Kurikulum tersebut kemudian menjadi fondasi utama dalam proses akreditasi hingga akhirnya berhasil meraih predikat Unggul.

Menurut Dr. Iffan, raihan ini bukan akhir, melainkan awal dari kerja strategis menuju akreditasi berikutnya pada 2030. Prodi telah menyiapkan perencanaan jangka menengah hingga lima tahun ke depan, termasuk melakukan perbaikan atas sejumlah rekomendasi asesor, khususnya dalam aspek internasionalisasi. Ke depan, peningkatan kolaborasi internasional bagi dosen dan mahasiswa menjadi prioritas agar tidak hanya satu atau dua individu yang terlibat, melainkan lebih luas dan sistematis. Selain itu, paradigma pengelolaan program juga akan bergeser dari berbasis anggaran menjadi berbasis data dan kebutuhan riil. Artinya, setiap kegiatan dirancang berdasarkan analisis yang kuat demi mencapai target mutu yang lebih tinggi.

Langkah strategis lainnya adalah rencana pembukaan Program Magister (S2) Ilmu Pemerintahan yang akan didaftarkan pada Maret 2026. Rencana ini didasarkan pada hasil survei kebutuhan di wilayah Tapal Kuda yang menunjukkan tingginya permintaan terhadap lulusan S2 Ilmu Pemerintahan, terutama dari kalangan aparatur pemerintahan daerah. Jika proses berjalan sesuai rencana, izin operasional diharapkan terbit pada Juli dan penerimaan mahasiswa baru dapat dimulai Agustus 2026.

Untuk menghidupkan suasana akademik, Prodi Ilmu Pemerintahan berencana meluncurkan forum akademik bulanan 'Raboan' sekaligus menghidupkan kembali diskusi publik 'Cangkir' (Cangkruk dan Berfikir). Forum ini akan menjadi ruang diskusi kepakaran dosen dan mahasiswa dalam membahas isu-isu strategis seperti administrasi publik, tata kelola pemerintahan, kebijakan publik, hingga politik dan sosial politik. Melalui forum ini, prodi ingin membangun budaya akademik yang dinamis dan terbuka, sekaligus memperkuat identitas keilmuan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Lebih jauh, Dr. Iffan menegaskan bahwa capaian Unggul harus berdampak nyata bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa dosen tidak boleh hanya berada di “menara gading”, tetapi harus menjadi intelektual yang hadir di tengah masyarakat, memberikan sumbangsih pemikiran dan strategi dalam menjawab persoalan kebijakan publik. Visi keilmuan prodi yang mengusung adaptive local governance diarahkan untuk memperkuat tata kelola pemerintahan lokal, termasuk melalui kerja sama dengan pusat studi desa dan pengembangan program pemberdayaan di tingkat desa.

Dengan predikat Unggul yang kini disandang hingga 2030, Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Jember optimistis mampu memperluas jejaring, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menghadirkan kontribusi nyata dalam pembangunan pemerintahan yang adaptif dan berkelanjutan di tingkat lokal maupun nasional.

Rabu, 25 Februari 2026

Mahasiswa KKN Tematik Posko 17 Unmuh Jember Resmi Mengabdi di Desa Tutul, Paparkan Program Kerja dan Hadirkan Inovasi Biopori

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Posko 17 Universitas Muhammadiyah Jember menggelar seremonial pembukaan dan pemaparan program kerja pada Senin (2/2/2026) di Balai Desa Tutul, Kecamatan Balung. Kegiatan ini menjadi langkah awal pelaksanaan KKN sekaligus bentuk koordinasi resmi dengan pemerintah desa.

Acara dihadiri Kepala Desa Tutul beserta perangkat desa dan seluruh anggota KKN Posko 17. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan diri satu per satu beserta program studi masing-masing guna mempermudah koordinasi selama masa pengabdian.

Koordinator KKN Tematik Posko 17 menyampaikan bahwa program kerja yang disusun merupakan hasil observasi lapangan dan identifikasi kebutuhan desa. Program tersebut mencakup bidang pendidikan, lingkungan, serta sosial kemasyarakatan. “Seluruh program kami rancang untuk mendukung pembangunan desa dan akan dilaksanakan melalui koordinasi bersama pemerintah desa,” ujarnya.

Kepala Desa Tutul dalam sambutannya mengapresiasi keterbukaan mahasiswa dalam memaparkan rencana kerja secara terstruktur. Ia berharap seluruh kegiatan dapat berjalan lancar dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Seremonial ini menjadi penanda resmi dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa KKN Tematik Posko 17 di Desa Tutul, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa.

Sebagai implementasi program lingkungan, mahasiswa KKN Tematik Posko 17 juga melaksanakan pembuatan lubang biopori di sejumlah titik Desa Tutul. Kegiatan ini difokuskan sebagai solusi sederhana dan ramah lingkungan untuk mengatasi genangan air yang kerap muncul saat musim hujan, termasuk di area Balai Desa.

Lubang biopori merupakan lubang resapan berbentuk silinder vertikal dengan diameter sekitar 10–15 cm dan kedalaman kurang lebih 100 cm. Fungsinya untuk mempercepat penyerapan air hujan ke dalam tanah sekaligus menjadi media pengolahan sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan rumah tangga.

Kegiatan ini melibatkan mahasiswa KKN bersama perangkat desa dan warga setempat. Pembuatan dilakukan menggunakan bor tanah manual, kemudian lubang diisi sampah organik dan ditutup dengan penutup khusus agar tetap aman.

Program biopori tidak hanya membantu mengurangi genangan air, tetapi juga menghasilkan kompos alami dari proses penguraian sampah organik. Salah satu warga Desa Tutul, Ibu Siti, mengungkapkan manfaat yang dirasakan. “Biasanya kalau hujan deras, air sering menggenang di halaman rumah. Setelah ada biopori, air lebih cepat meresap. Sampah dapur juga bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Melalui program ini, mahasiswa berharap masyarakat dapat melanjutkan pembuatan biopori secara mandiri di lingkungan masing-masing. Kolaborasi antara mahasiswa dan warga diharapkan mampu menciptakan perubahan kecil yang berdampak besar bagi kelestarian lingkungan Desa Tutul secara berkelanjutan.

Mahasiswa KKN Unmuh Jember Lakukan Studi Lapangan UMKM Tempe di Desa Rambipuji

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Jember melaksanakan studi lapangan pada sejumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) produksi tempe di Desa Rambipuji. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekonomi lokal sekaligus pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa di tengah masyarakat.

Desa Rambipuji diketahui memiliki belasan produsen tempe aktif yang menjalankan usaha secara mandiri. Tingginya jumlah produsen membuat distribusi tempe dari desa ini tidak hanya beredar di wilayah lokal, tetapi juga menjangkau kota-kota lain di luar Jember, mengingat ketatnya persaingan pasar tempe di kawasan perkotaan.

Salah satu UMKM yang menjadi lokasi studi adalah usaha milik Bu Ani. Produsen ini menjalankan produksi setiap hari dengan kapasitas sekali produksi mencapai 90 kilogram kedelai. Dari jumlah tersebut dihasilkan tempe dengan berat sekitar 1,25 kilogram per balok, dengan total produksi kurang lebih 100 potong per hari.

Mahasiswa KKN tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga menyaksikan langsung proses fermentasi dan penyimpanan tempe, serta membantu penimbangan dan pengemasan kedelai. Proses pematangan tempe memerlukan waktu dua hingga tiga hari, tergantung kondisi lingkungan. Tahap perebusan kedelai pun dipengaruhi kualitas bahan bakar; kayu bakar kering dinilai mampu mempercepat proses dibandingkan kayu yang masih basah.

Secara umum, tahapan produksi tempe dimulai dari perendaman kedelai, perebusan, penggilingan, perendaman ulang, perebusan kembali, penggilingan kedua, hingga penambahan ragi sebelum fermentasi berlangsung. Komposisi ragi yang digunakan adalah satu sendok untuk setiap satu kilogram kedelai agar fermentasi berjalan optimal.

Usaha tempe milik Bu Ani telah berjalan sekitar 10 tahun dan menjadi sumber penghasilan utama keluarga, selain usaha ternak yang dijalankan bersamaan. Dalam satu bulan, UMKM ini mampu mencatat omzet kotor sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta. Produksi dilakukan setiap hari dan hanya berhenti pada malam takbiran, dengan dukungan satu orang karyawan dalam operasionalnya.

Melalui studi lapangan ini, mahasiswa KKN memperoleh gambaran nyata mengenai peran strategis UMKM tempe dalam menopang perekonomian desa. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap potensi ekonomi lokal sekaligus mendorong pengembangan UMKM sebagai sektor penting dalam pembangunan desa yang berkelanjutan.

Mahasiswa KKN Hadiri MMD Tahap I Bersama Mahasiswa Ners Unmuh Jember di Desa Rambigundam

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) turut menghadiri kegiatan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) Tahap I yang diselenggarakan mahasiswa Profesi Ners Universitas Muhammadiyah Jember di Desa Rambigundam. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam mengkaji kondisi kesehatan masyarakat sekaligus menyusun rencana intervensi berbasis kebutuhan riil warga.

MMD Tahap I dilaksanakan dengan melibatkan perangkat desa dan unsur masyarakat setempat. Dalam forum tersebut, mahasiswa melakukan pengkajian awal melalui wawancara dan pengumpulan data demografi untuk memetakan kondisi sosial serta kesehatan warga Desa Rambigundam yang terdiri atas lima dusun, yakni Dusun Dukuhsia, Satrean, Gayam, Krajan Lor, dan Krajan Kidul.

Dari sisi sosial budaya, mayoritas penduduk merupakan suku Jawa (80%) dan suku Madura (20%). Komposisi usia menunjukkan 50,3% warga berada pada usia dewasa, sementara 49,7% lainnya merupakan lansia. Tingkat pendidikan masyarakat umumnya berada pada jenjang SD, SMP, dan SMA, dengan mata pencaharian yang didominasi oleh wiraswasta, petani, dan pedagang.

Hasil pengkajian mengidentifikasi sepuluh jenis penyakit yang terdapat di masyarakat, dengan hipertensi sebagai kasus paling dominan. Kebiasaan warga dalam mencari pengobatan menunjukkan kecenderungan untuk mengakses fasilitas kesehatan ketika mengalami keluhan, didukung jarak layanan kesehatan yang relatif terjangkau.

Berdasarkan temuan tersebut, mahasiswa Profesi Ners menyusun Plan of Action (POA) dengan fokus pada tiga permasalahan utama, yakni defisit kesehatan komunitas, hipertensi, dan kesehatan lansia. Program yang direncanakan meliputi penyuluhan tentang hipertensi, penguatan Posyandu Lansia, edukasi pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara rutin, serta peningkatan kepatuhan minum obat sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Dalam sesi diskusi, masyarakat menanyakan cara menekan hipertensi yang sesuai dengan kondisi ekonomi warga. Mahasiswa menjelaskan bahwa pengendalian tekanan darah dapat dilakukan melalui perubahan pola hidup sehat yang sederhana dan terjangkau, seperti mengurangi konsumsi garam, rutin beraktivitas fisik, serta memanfaatkan layanan pemeriksaan yang tersedia. Warga juga mengusulkan adanya pemeriksaan kesehatan gratis di tingkat dusun, yang dinilai dapat direalisasikan dengan pengkerucutan sasaran agar pelaksanaannya lebih efektif dan tepat guna.

Kehadiran mahasiswa KKN dalam MMD Tahap I ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi lintas program, memperkaya pemahaman terhadap kondisi masyarakat, serta menjadi landasan sinergi program kesehatan selama masa pengabdian di Desa Rambigundam.

Mahasiswa KKN Unmuh Jember Pasang Plang Peringatan Rawan Longsor di Balung Kulon

Upaya mitigasi bencana berbasis masyarakat dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Jember melalui program pemasangan plang peringatan rawan longsor di Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember. Kegiatan ini dilaksanakan setelah observasi lapangan dan pemetaan titik rawan longsor pada 2 Februari 2026.

Hasil pengamatan menunjukkan sejumlah titik di bantaran Sungai Bedadung mengalami pengikisan tanah serta muncul retakan pada permukaan tebing. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kontur lereng yang curam, struktur tanah yang mudah tererosi, serta meningkatnya intensitas curah hujan saat musim penghujan. Situasi ini dinilai berpotensi menimbulkan longsor yang membahayakan warga maupun pengguna jalan yang melintas di sekitar sungai.

Menanggapi temuan tersebut, mahasiswa KKN menyusun program kerja pemasangan plang peringatan di titik-titik strategis yang memiliki tingkat risiko tinggi, khususnya area yang berdekatan dengan permukiman dan jalur aktivitas warga. Pemasangan plang ini merupakan bentuk mitigasi non-struktural sekaligus peringatan visual agar masyarakat lebih waspada saat beraktivitas di kawasan rawan longsor, terutama ketika debit air sungai meningkat.

Kekhawatiran terhadap potensi longsor juga dirasakan warga sekitar. Ibu Eva, warga RT 6 RW 3 Desa Balung Kulon, mengungkapkan kecemasannya saat musim hujan tiba. “Kami merasa takut dan khawatir kalau musim hujan datang, karena takut terjadi longsor lagi di sekitar sungai,” ujarnya.

Secara historis, wilayah RT 6 RW 3 pernah mengalami longsor sekitar dua tahun lalu yang menyebabkan rumah warga di bantaran sungai hanyut terbawa arus. Bahkan, dua minggu sebelum observasi dilakukan, longsor kembali terjadi di bagian utara Sungai Bedadung. Longsor umumnya dipicu oleh meningkatnya debit air yang mengikis tebing sungai, kemudian diperparah saat air surut dan material alami seperti bambu hanyut terbawa arus sehingga memperlemah struktur tanah.

Selain mengancam permukiman, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara yang melintas di jalan sekitar sungai. Longsor dapat menyebabkan badan jalan ambles atau licin, sehingga berpotensi membuat pengguna jalan terjatuh ke sungai.

Melalui pemasangan plang peringatan ini, mahasiswa KKN berharap dapat meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya longsor. Program ini menjadi bagian dari upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, sekaligus bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung keselamatan warga dan pelestarian lingkungan di kawasan Sungai Bedadung.

Viral dengan Canyonering-nya, KKN Unmuh Jember Manfaatkan Air Terjun Bringin Onjeng Bangkitkan Wisata Lokal

Pesona Air Terjun Bringin Onjeng kian dikenal publik setelah aktivitas canyonering yang ditawarkan di lokasi tersebut ramai diperbincangkan. Momentum ini turut dimanfaatkan mahasiswa KKN Tematik Kelompok 1 Desa Klungkung Tahun 2026 untuk mendorong pelestarian sekaligus pengembangan potensi wisata alam setempat.

Melalui program kerja tematik, mahasiswa berfokus pada promosi dan publikasi potensi wisata desa yang dinilai masih belum banyak diketahui masyarakat luar. Kegiatan dilakukan dalam bentuk pembuatan konten informasi wisata, dokumentasi kegiatan, hingga penyebaran publikasi digital mengenai daya tarik Air Terjun Bringin Onjeng.

Langkah tersebut didasarkan pada hasil observasi lapangan dan wawancara dengan warga yang mengungkapkan perlunya peningkatan promosi. Potensi alam yang asri dan jalur canyonering yang menantang dinilai mampu menjadi daya tarik wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah.

Salah satu warga Desa Klungkung, Bu Jumati, yang rumahnya dimanfaatkan sebagai area parkir wisatawan, menyampaikan harapannya agar air terjun tersebut semakin dikenal luas. Ia menilai kehadiran mahasiswa KKN Tematik memberikan dampak positif, khususnya dalam membantu promosi serta mendukung upaya pelestarian dan pengembangan wisata desa.

Tak hanya promosi, mahasiswa juga mendorong pemanfaatan kawasan air terjun sebagai media pembelajaran lingkungan bagi pelajar dan pemuda desa. Pengunjung tidak hanya diajak menikmati keindahan alam, tetapi juga diedukasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam melalui pengelolaan wisata yang bertanggung jawab.

Sebagai informasi, tiket masuk Air Terjun Bringin Onjeng dibanderol Rp5.000 per orang. Selain wisata alam, tersedia pula paket canyonering yang digelar setiap hari Minggu dengan tarif Rp165.000 melalui sistem pemesanan. Pengelola bersama masyarakat setempat terus berupaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan agar potensi wisata ini dapat berkembang secara berkelanjutan serta menjadi sumber penguatan ekonomi desa.

Survei UMKM Desa Gugut, Mahasiswa KKN Unmuh Jember Temukan Kendala Promosi dan Pemasaran

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 08 Universitas Muhammadiyah Jember melakukan survei terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di empat dusun Desa Gugut pada Kamis (30/1/2025). Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menyusun program kerja yang berbasis kebutuhan riil masyarakat.

Survei dilakukan dengan metode wawancara langsung dan observasi aktivitas usaha di lapangan. Dari hasil pendataan tersebut, mahasiswa menemukan bahwa persoalan utama yang dihadapi pelaku UMKM bukan terletak pada kualitas produk, melainkan pada aspek promosi dan pemasaran yang masih terbatas.

Mayoritas UMKM di Desa Gugut bergerak di bidang usaha meubel yang tersebar di Dusun Krajan, Dukuh, dan Jereng Barat. Selain itu, terdapat pula usaha olahan kacang-kacangan yang diproduksi secara mandiri oleh warga setempat. Potensi produk dinilai cukup baik dan memiliki daya saing, namun belum didukung strategi pemasaran yang optimal.

Salah satu pelaku UMKM, Ibu Lulu, anak dari pemilik usaha meubel di Dusun Krajan, mengungkapkan bahwa penjualan mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. “Sekarang penjualan menurun karena promosi kurang dan pembeli tidak banyak yang tahu usaha kami,” ujarnya.

Humas KKN Kelompok 08, Putri Ironita, menjelaskan bahwa survei ini dilakukan agar program kerja yang dirancang benar-benar tepat sasaran. “Kami ingin memastikan program yang kami jalankan sesuai kebutuhan masyarakat. Salah satu rencana kami adalah membantu promosi UMKM melalui pemanfaatan aplikasi Mall Desa sebagai media pemasaran digital bagi pelaku usaha,” jelasnya.

Temuan tersebut menjadi pijakan awal bagi mahasiswa KKN dalam merancang program pendampingan UMKM, khususnya di bidang digitalisasi promosi dan perluasan jaringan pemasaran. Diharapkan, langkah ini dapat mendorong peningkatan penjualan sekaligus memperkuat potensi ekonomi masyarakat Desa Gugut secara berkelanjutan.

Upaya Deteksi Dini Penyakit, Mahasiswa KKN Unmuh Jember Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Buruh Edamame dan Okra

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 05 Universitas Muhammadiyah Jember menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi buruh edamame dan okra di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, pada Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap kesehatan masyarakat, khususnya pekerja sektor pertanian yang rentan mengabaikan pemeriksaan rutin.

Program ini difokuskan pada deteksi dini penyakit tidak menular, terutama hipertensi dan diabetes. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah secara cuma-cuma. Kegiatan yang dimulai sejak sore hari tersebut diikuti oleh 10 buruh dari berbagai rentang usia, yang tampak antusias mengikuti rangkaian pemeriksaan.

Ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa pemeriksaan ini bertujuan membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini. Ia menuturkan bahwa banyak kasus tekanan darah tinggi dan gula darah yang tidak terdeteksi karena kurangnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan berkala. “Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya, terutama bagi para pekerja yang aktivitasnya padat setiap hari,” ujarnya.

Selain pemeriksaan, mahasiswa juga memberikan edukasi singkat mengenai pentingnya pola hidup sehat, seperti menjaga asupan makanan bergizi seimbang, meningkatkan aktivitas fisik, serta rutin memeriksakan kesehatan. Edukasi ini diharapkan dapat menjadi langkah preventif agar risiko penyakit tidak menular dapat ditekan.

Dari hasil pemeriksaan, ditemukan bahwa 3 dari 10 peserta memiliki tekanan darah di atas batas normal, sementara 2 peserta lainnya menunjukkan kadar gula darah yang tinggi. Temuan tersebut menjadi perhatian sekaligus pengingat akan pentingnya kesadaran kesehatan di kalangan pekerja sektor informal.

Salah seorang peserta mengaku bersyukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menyampaikan bahwa ini merupakan pertama kalinya ia memeriksakan tekanan darah. Menurutnya, layanan yang mudah diakses dan tanpa biaya sangat membantu, mengingat keterbatasan waktu dan akses fasilitas kesehatan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Desa Jubung terhadap pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan rutin. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat.

Aksi Tanggap Darurat Mahasiswa Ners Unmuh Jember Bantu Korban Banjir di Curahmalang

Respons cepat ditunjukkan mahasiswa Profesi Ners A16 Kelompok 3B Universitas Muhammadiyah Jember dalam membantu korban banjir yang melanda Desa Curahmalang, Kamis malam (12/2/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Banjir yang menggenangi Dusun Krajan, Gumawang, dan Gumuksari memaksa warga meninggalkan rumah demi keselamatan.

Dalam situasi darurat tersebut, mahasiswa berkolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Satpol PP, serta mahasiswa Unmuh Jember yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sinergi lintas sektor ini difokuskan pada percepatan evakuasi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan warga dengan kondisi kesehatan khusus.

Para pengungsi dievakuasi ke Desa Gumelar dan ditempatkan di masjid setempat sebagai lokasi pengungsian sementara. Di lokasi tersebut, mahasiswa turut melakukan pemantauan kondisi kesehatan, membantu distribusi makanan dan obat-obatan, serta memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi selama masa tanggap darurat.

Keesokan harinya, Jumat (13/2/2026), setelah debit air mulai surut, mahasiswa kembali membantu pemindahan kelompok rentan dari masjid Desa Gumelar menuju dapur umum di masjid Desa Rowotamtu. Langkah ini dilakukan untuk mempermudah distribusi logistik dan pelayanan kebutuhan harian para pengungsi.

Tak hanya terlibat dalam proses evakuasi, mahasiswa Ners juga turun langsung membantu kerja bakti membersihkan Balai Desa Curahmalang yang terdampak banjir. Bersama perangkat desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas, mereka bergotong royong memulihkan fasilitas umum agar segera dapat digunakan kembali untuk pelayanan masyarakat.

Kepala Urusan Perencanaan Desa Curahmalang, Eki Ardiansyah, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan mahasiswa dalam masa tanggap darurat hingga pascabencana. Ia menjelaskan bahwa genangan air sempat bertahan beberapa hari setelah puncak banjir, sehingga aktivitas warga belum sepenuhnya pulih. “Alhamdulillah, pada masa tanggap darurat hingga pascabencana kami menerima banyak bantuan. Mahasiswa profesi Ners turut berperan aktif baik saat penanganan bencana maupun fase pasca banjir. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kepedulian seluruh pihak,” ujarnya.

Melalui keterlibatan aktif ini, mahasiswa Profesi Ners Unmuh Jember tidak hanya mengaplikasikan kompetensi keperawatan komunitas dan kegawatdaruratan, tetapi juga meneguhkan nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi situasi darurat di tengah masyarakat.

Connect