Senin, 24 Agustus 2026

Unmuh Jember Kembangkan TirtaSmart, Teknologi Cerdas Pantau Kualitas Air Berbasis Energi Surya


Bagaimana jika kualitas air bersih di desa bisa dipantau secara real-time, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada listrik PLN? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu persoalan yang coba dijawab Universitas Muhammadiyah Jember melalui pengembangan TirtaSmart, sebuah prototipe sistem cerdas pemantauan kualitas air berbasis Wireless Sensor Network (WSN), kecerdasan buatan, dan energi surya.

TirtaSmart dikembangkan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas – Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026 dengan pendanaan dari Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.

Pengembangan teknologi tersebut diketuai oleh Dr. Bagus Setya Rintyarna, M.Kom. dari Universitas Muhammadiyah Jember. TirtaSmart dirancang untuk menjawab persoalan pemantauan kualitas air di wilayah perdesaan yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual dan berkala.

Kondisi tersebut membuat perubahan kualitas air berpotensi terlambat diketahui. Melalui TirtaSmart, data dari sejumlah sensor dapat dikumpulkan dan dikirim secara nirkabel sehingga kondisi air dapat dipantau secara lebih cepat dan berkelanjutan.



“TirtaSmart kami arahkan bukan sekadar menjadi alat ukur kualitas air, tetapi menjadi sistem monitoring yang dapat bekerja secara berkelanjutan dan membantu pengelola air desa memperoleh informasi berbasis data untuk mengambil keputusan,” ujar Bagus.

TirtaSmart dikembangkan sebagai sebuah sistem yang terintegrasi. Sensor yang ditempatkan pada sumber air akan mengukur sejumlah parameter kualitas air. Data hasil pengukuran kemudian dikirim melalui jaringan sensor nirkabel menuju sistem pengolahan dan ditampilkan melalui dashboard monitoring.

Pada pengembangan tahun 2026, teknologi tersebut diperkuat dengan sensor multi-parameter, sistem komunikasi WSN, gateway, sistem kendali energi surya, serta dashboard monitoring.

Pengembangan juga dilakukan pada sisi kecerdasan sistem. Jika prototipe sebelumnya menggunakan pendekatan weighted ensemble classifier, TirtaSmart kini dikembangkan dengan algoritma Neural Network untuk mengenali hubungan yang lebih kompleks dari data berbagai sensor.

Tidak hanya kualitas, sistem juga dikembangkan untuk memantau kuantitas air. Dengan demikian, TirtaSmart diharapkan dapat berkembang dari sekadar alat pembaca kondisi air menjadi instrumen pendukung pengambilan keputusan bagi pengelola air bersih desa.

Salah satu tantangan penerapan teknologi monitoring di wilayah perdesaan adalah ketersediaan sumber listrik. Terlebih, lokasi sumber air tidak selalu berada dekat dengan permukiman atau jaringan listrik.

Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan tim mengintegrasikan sistem kendali energi surya ke dalam TirtaSmart.

Dengan memanfaatkan energi matahari, perangkat monitoring diharapkan mampu bekerja lebih mandiri dan kontinu di lapangan tanpa sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik PLN.

Pengembangan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari prototipe sebelumnya yang telah mencapai Level 5 menuju Level 6–7. Tahapan tersebut diarahkan agar teknologi tidak hanya teruji secara teknis, tetapi juga dapat diuji dan didemonstrasikan dalam lingkungan operasional yang nyata.

Untuk memastikan teknologi benar-benar mampu bekerja di kondisi lapangan, tim peneliti menjadikan Desa Sukogidri, Kabupaten Jember, sebagai lokasi pengujian prototipe.

Pengujian dilakukan secara bertahap, mulai dari finalisasi desain, pengujian fungsional, kalibrasi ulang sensor, instalasi prototipe, hingga pengujian lapangan.

Sejumlah aspek akan menjadi perhatian, mulai dari kinerja sensor dan jaringan WSN, stabilitas sistem energi surya, kontinuitas pengiriman data, hingga keandalan sistem secara keseluruhan.

Sistem selanjutnya juga akan didemonstrasikan kepada pengelola air desa sebagai pengguna akhir. Pelibatan pengguna menjadi bagian penting dalam proses hilirisasi agar teknologi yang dikembangkan tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mudah digunakan dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Target kami adalah teknologi ini dapat digunakan oleh pengelola air desa secara mandiri. Informasi kualitas air harus bisa dibaca dengan mudah, sehingga teknologi benar-benar hadir sebagai alat bantu pengelolaan air, bukan justru menambah kerumitan bagi pengguna,” jelas Bagus.

TirtaSmart merupakan hasil pengembangan berkelanjutan, bukan teknologi yang dibangun dari nol pada 2026. Tim telah melakukan rangkaian penelitian sejak 2021, khususnya dalam bidang pemantauan kualitas air berbasis WSN, analitik data, dan sistem cerdas.


Riset sebelumnya telah menghasilkan prototipe yang melalui proses kalibrasi sensor, pengujian fungsional, serta validasi pada lingkungan relevan hingga mencapai TKT Level 5.

Sejumlah hasil penelitian tersebut juga telah menghasilkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), termasuk teknologi monitoring kualitas air berbasis WSN dan ensemble learning.

Melalui program tahun 2026, fokus penelitian kemudian bergeser lebih jauh menuju hilirisasi, yakni menyempurnakan teknologi yang telah dikembangkan agar semakin dekat dengan kebutuhan pengguna dan siap diterapkan pada lingkungan nyata.

Jika seluruh tahapan pengujian dan validasi berjalan sesuai target, TirtaSmart memiliki peluang untuk dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain.

Teknologi ini berpotensi dimanfaatkan oleh pemerintah desa, BUMDes, KPSPAMS, maupun lembaga lain yang memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan layanan air bersih perdesaan.

Penggunaan komponen teknologi yang tersedia di pasar juga menjadi salah satu pertimbangan agar sistem relatif mudah dikembangkan kembali sesuai kebutuhan di lapangan.

Dalam jangka panjang, hasil pengujian TirtaSmart dapat menjadi pijakan untuk membangun kerja sama dengan pemerintah daerah, BUMDes, maupun lembaga pengelola air bersih lainnya.

Bagi Universitas Muhammadiyah Jember, pengembangan TirtaSmart menjadi salah satu contoh bagaimana hasil riset perguruan tinggi dapat didorong keluar dari ruang laboratorium dan dihadirkan untuk menjawab persoalan masyarakat.

Melalui dukungan Program Hilirisasi Riset Prioritas Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026, TirtaSmart diharapkan tidak berhenti sebagai prototipe penelitian. Lebih jauh, teknologi ini ditargetkan menjadi teknologi tepat guna yang membantu desa mengelola layanan air bersih secara lebih cerdas, mandiri, dan berkelanjutan.


Selasa, 11 Agustus 2026

Fakultas Psikologi Unmuh Jember Bedah Model Keterhubungan Ekologis Generasi Z



Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) memperkuat komitmennya dalam merespons persoalan lingkungan melalui Workshop Diseminasi Hasil Penelitian Model Keterhubungan Ekologis pada Generasi Z di Indonesia, Selasa (11/8/2026).

Bertempat di Aula Ahmad Zainuri Universitas Muhammadiyah Jember, kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pakar teologi, serta praktisi lingkungan untuk mendiskusikan hasil penelitian mengenai kesadaran ekologis Generasi Z sekaligus membahas strategi mendorong kepedulian terhadap lingkungan agar dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.

Penelitian tersebut melibatkan tim peneliti lintas disiplin yang terdiri atas Dr. Heru Prakosa, Dr. Johanes Seno Aditya Utama, dan Dr. Nurlaela Widyarini dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember.

Dalam pemaparan hasil penelitian, tim peneliti mengungkap bahwa Generasi Z memiliki modal awal yang cukup kuat dalam membangun keterhubungan dengan lingkungan. Kepedulian terhadap alam dan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan telah tumbuh di kalangan generasi muda.

Namun, persoalan muncul ketika kesadaran tersebut harus diterjemahkan menjadi perilaku dan aksi ekologis dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua peneliti, Dr. Heru Prakosa, menjelaskan bahwa kepedulian ekologis Generasi Z tidak selalu secara otomatis menghasilkan tindakan nyata. Berbagai faktor eksternal, seperti keterbatasan fasilitas, minimnya dukungan sosial, serta belum tersedianya ruang komunitas yang memadai, dapat menjadi penghambat.


Karena itu, perubahan perilaku ekologis tidak cukup hanya dibangun melalui peningkatan pengetahuan. Diperlukan mediator sosial dan ruang praktik yang memungkinkan generasi muda menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi kebiasaan atau habitus dalam kehidupan sehari-hari.

Persoalan tersebut kemudian mendapatkan perspektif praktis dari Zahrotul Jannah, aktivis lingkungan yang hadir sebagai penanggap dalam kegiatan tersebut.

Ia membagikan pengalaman pendampingan gerakan lingkungan yang melibatkan anak muda melalui inisiatif “Besuk Sungai”. Dalam kegiatan tersebut, anak muda diajak melihat secara langsung kondisi sungai yang tercemar, melakukan brand audit terhadap sampah plastik yang ditemukan, hingga mengolah sampah menjadi eco-brick.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan langsung dapat menjadi sarana penting dalam membangun kepedulian lingkungan. Ketika anak muda diberikan ruang, kepercayaan, serta kesempatan untuk mengambil peran, mereka dapat berkembang menjadi penggerak kegiatan lingkungan di komunitasnya.

Diskusi kemudian berkembang pada pentingnya mengintegrasikan pendekatan ekologis dengan nilai budaya dan keagamaan.

Akademisi sejarah lingkungan, Gusti Ngurah Ary Kesuma Puja, mengangkat kembali nilai kearifan lokal Tri Hita Karana yang menekankan pentingnya keharmonisan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam.

Sementara itu, Prof. Fawaizul Umam menyoroti dimensi teologis dalam persoalan lingkungan. Menurut perspektif yang disampaikan dalam diskusi, krisis ekologis tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga dapat dipandang sebagai refleksi dari hubungan manusia dengan nilai-nilai ketuhanan. Karena itu, kepedulian terhadap bumi perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan sosial.


Workshop diseminasi hasil penelitian tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif akademik, pengalaman praktis, kearifan lokal, dan pendekatan teologis dalam melihat persoalan ekologis Generasi Z.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa membangun generasi yang peduli terhadap lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar penyampaian pengetahuan. Dukungan lingkungan sosial, ketersediaan fasilitas, komunitas, serta kesempatan untuk terlibat langsung menjadi bagian penting dalam proses perubahan perilaku.

Universitas Muhammadiyah Jember melalui kegiatan tersebut berupaya mendorong agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai pengetahuan akademik, tetapi dapat menjadi dasar pengembangan program dan kolaborasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Sinergi antara penelitian, praktik lapangan, nilai budaya, dan pendekatan keagamaan diharapkan mampu menciptakan ruang yang lebih luas bagi Generasi Z untuk terlibat dalam gerakan lingkungan.

Dengan demikian, generasi muda tidak hanya ditempatkan sebagai kelompok yang memiliki kepedulian terhadap krisis ekologis, tetapi juga sebagai aktor yang mampu mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan mendorong terwujudnya keadilan ekologis di Indonesia.

 

Senin, 29 Juni 2026

Perkuat Kualitas Tesis Berstandar Global, Magister Manajemen Unmuh Jember Gelar Kolokium Internasional Bersama MSU Malaysia

Komitmen Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember dalam mencetak lulusan berdaya saing global terus diperkuat melalui penyelenggaraan Kolokium Internasional Program Studi Magister Manajemen bersama Management and Science University (MSU) Malaysia, Jumat (29/5/2026). Kegiatan yang menjadi agenda tahunan ini menghadirkan akademisi internasional untuk memberikan peer review terhadap proposal tesis mahasiswa.

Berbeda dengan pelaksanaan tahun sebelumnya yang berlangsung secara luring di kampus MSU Malaysia, kolokium tahun ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting. Meski demikian, nuansa akademik internasional tetap terasa dengan keterlibatan langsung para dosen dan pakar dari MSU sebagai reviewer.

Sebanyak 35 mahasiswa Magister Manajemen Unmuh Jember mempresentasikan proposal tesis mereka di hadapan para akademisi MSU. Setiap peserta memperoleh evaluasi, kritik, dan rekomendasi konstruktif terkait penyempurnaan metodologi penelitian, penguatan kerangka konseptual, hingga teknik analisis data agar penelitian yang dihasilkan memenuhi standar akademik internasional.

Ketua Program Studi Magister Manajemen Unmuh Jember, Dr. Budi Santoso, S.E., M.M., M.Akun., menjelaskan bahwa kolokium internasional merupakan salah satu strategi program studi dalam meningkatkan kualitas riset mahasiswa sekaligus memperluas jejaring akademik global.

Menurutnya, keterlibatan reviewer dari MSU Malaysia memberikan perspektif baru yang sangat berharga bagi mahasiswa dalam menyusun penelitian. Masukan yang diberikan tidak hanya memperkuat kualitas proposal tesis, tetapi juga mendorong lahirnya penelitian yang memiliki kontribusi ilmiah serta relevansi terhadap perkembangan dunia bisnis dan ilmu manajemen.

"Kolokium ini menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa agar mampu menghasilkan penelitian yang berkualitas dan memiliki standar internasional. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi implementasi nyata kerja sama akademik antara Unmuh Jember dan Management and Science University Malaysia," ujarnya.

Selama kolokium berlangsung, suasana diskusi berjalan dinamis. Mahasiswa tidak hanya mempresentasikan ide penelitiannya, tetapi juga berdialog secara langsung dengan para reviewer internasional mengenai pendekatan penelitian, kebaruan (novelty), hingga peluang pengembangan hasil riset.

Pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk merasakan atmosfer akademik internasional sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi ilmiah, dan penyusunan penelitian yang lebih komprehensif.

Selain menjadi forum akademik, kolokium ini juga memperkuat hubungan kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Jember dan Management and Science University (MSU) Malaysia. Ke depan, kolaborasi kedua institusi diharapkan terus berkembang melalui berbagai program, seperti penelitian bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, seminar internasional, hingga publikasi ilmiah bereputasi.

Melalui penyelenggaraan kolokium internasional secara berkelanjutan, Program Studi Magister Manajemen Unmuh Jember menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan berkelas dunia. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghasilkan lulusan magister yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu bersaing dan berkontribusi di tingkat nasional maupun internasional.

 

Kamis, 18 Juni 2026

Mahasiswa Elektro dan Mesin Unmuh Jember Rancang Skenario Revitalisasi Mesin di TPA Pakusari

Melanjutkan misi pemetaan krisis tata kelola sampah yang telah diinisiasi pekan sebelumnya, Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah (UM) Jember kembali menerjunkan mahasiswanya dalam kunjungan gelombang kedua ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pakusari pada hari Sabtu, 13 Juni 2026. Jika kunjungan gelombang pertama murni berfokus pada analisis infrastruktur fisik, kelancaran administrasi, dan kalkulasi beban volume harian, maka gelombang kedua ini secara khusus menitikberatkan pada evaluasi aspek rekayasa mekanikal, otomasi sistem kelistrikan, dan pemulihan fungsi fasilitas.

Kunjungan strategis kali ini membawa formasi yang berbeda, dengan melibatkan kolaborasi tajam dari mahasiswa program studi Teknik Elektro, Teknik Lingkungan, dan Teknik Mesin. Setibanya di lokasi, tim observasi langsung bergerak menembus area fasilitas pengolahan sampah dan menemukan realita teknis yang cukup memprihatinkan. Di tengah darurat volume sampah yang terus menggunung tanpa henti, sejumlah aset vital dan fasilitas mekanis di dalam TPA Pakusari justru ditemukan dalam kondisi tidak beroperasi secara maksimal, bahkan cenderung dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Dalam inspeksi mendalam tersebut, mahasiswa secara langsung mendata berbagai macam alat berat dan mesin pengolahan yang mangkrak di lokasi. Terdapat perangkat krusial seperti mesin pemilah mekanis, mesin pencacah sampah, mesin pengepres raksasa (balling press), hingga instalasi mesin pengemasan (packaging) yang terdiam tanpa aktivitas operasional harian. Merespon temuan kritis ini, mahasiswa Teknik Mesin FT UM Jember langsung mengambil inisiatif untuk merumuskan kerangka kerja perbaikan teknis. Mereka menyusun strategi optimalisasi agar alat-alat berat serta mesin pencacah tersebut dapat direvitalisasi dan difungsikan kembali secara penuh.

Di sisi lain, mahasiswa Teknik Elektro mengambil peran yang tidak kalah penting dalam merancang ulang sistem otomasi jaringan kelistrikannya. Tidak hanya sekadar memperbaiki arus listrik, mereka juga mulai mengkaji potensi besar pemanfaatan gas metana yang terperangkap di bawah tumpukan sampah raksasa. Gas ini direncanakan untuk dikonversi menjadi sumber energi alternatif yang kelak dapat menghidupkan kembali mesin-mesin pengolahan tersebut secara mandiri. Sinergi mekanis dan elektris ini terus dikawal ketat oleh mahasiswa Teknik Lingkungan yang memastikan bahwa setiap rancangan mesin terapan tetap memenuhi standar baku mutu ekologis dan tidak menambah emisi baru.

Langkah taktis mahasiswa UM Jember ini menjadi sangat relevan karena berpacu dengan waktu transisi birokrasi. Berdasarkan informasi terkini dari otoritas lingkungan setempat, terhitung mulai tanggal 1 Juli 2026, Pemerintah Kabupaten Jember akan memberlakukan kebijakan baru yang sangat radikal. TPA Pakusari diproyeksikan hanya akan diizinkan menerima sampah dalam bentuk sampah residu saja. Hal ini menandai akhir dari era sistem penimbunan terbuka (open dumping) dan melangkah maju menuju metode Control Landfill. Melalui cetak biru revitalisasi teknologi dari kunjungan 13 Juni ini, FT UM Jember siap mengawal TPA Pakusari untuk bertransformasi menjadi fasilitas pengolahan modern terpadu.

 

Menembus Gunungan Sampah 35 Meter, Mahasiswa Lintas Disiplin FT Unmuh Jember Kaji Beban Kritis TPA Pakusari

Krisis tata kelola sampah domestik di Kabupaten Jember kini telah menjelma menjadi isu kedaruratan sosial dan ekologis yang membutuhkan penanganan luar biasa. Merespon kondisi kritis tersebut, jajaran sivitas akademika Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah (UM) Jember mengambil langkah taktis proaktif melalui agenda observasi lapangan dan studi komprehensif. Gelombang pertama dari inisiatif ini resmi diterjunkan langsung ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pakusari pada hari Sabtu, 6 Juni 2026.

Delegasi gelombang pertama ini membawa misi analisis infrastruktur dengan melibatkan kolaborasi lintas disiplin dari empat program studi sekaligus, yakni Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Sipil, dan Teknik Lingkungan. Sinergi lintas keilmuan ini sengaja dibentuk untuk membedah problematika persampahan dari berbagai sudut pandang rekayasa, mulai dari tata letak operasional, stabilitas tumpukan fisik, hingga proses konversi bahan kimia yang terjadi secara alami di lokasi pembuangan raksasa tersebut.

Dalam peninjauan lapangan yang berlangsung intensif, para mahasiswa tidak hanya melakukan pengamatan visual, tetapi juga menggali data operasional harian secara mendetail. Mereka berdialog langsung dengan para petugas yang menjadi garda terdepan di TPA Pakusari. Mahasiswa berdiskusi secara mendalam dengan Bapak Moh. Jatim, selaku penanggung jawab bagian Administrasi dan Ritribusi. Dari diskusi ini, mahasiswa berhasil memetakan alur birokrasi, sistem pencatatan retribusi, serta pola kedatangan truk pengangkut sampah yang beroperasi tanpa henti dari berbagai penjuru kecamatan di Jember.

Lebih lanjut, investigasi pencarian data berlanjut di area krusial, yakni pos awal masuk TPA. Di sana, para mahasiswa berkoordinasi dengan Bapak Totok M. Soleh yang bertugas sebagai Operator Jembatan Timbang Sampah. Fakta kuantitatif yang terungkap di lapangan sangat mengejutkan; pos jembatan timbang mencatat bahwa TPA Pakusari saat ini dipaksa menampung beban volume timbulan sampah harian yang sangat ekstrem, mencapai rata-rata 600 meter kubik per harinya. Akumulasi sampah yang terus menerus masuk tanpa ada proses pengolahan yang seimbang ini telah mengakibatkan terbentuknya gunungan sampah masif dengan elevasi kritis setinggi 35 meter.

Bagi mahasiswa Teknik Sipil, data ketinggian 35 meter ini menjadi parameter vital untuk menganalisis stabilitas lereng sampah guna mencegah potensi bencana longsor. Sementara itu, mahasiswa Teknik Industri mengevaluasi efisiensi antrean logistik di jembatan timbang, dan mahasiswa Teknik Kimia serta Lingkungan meneliti potensi bahaya pencemaran air lindi (leachate) yang dihasilkan. Kunjungan terpadu pada tanggal 6 Juni ini pada akhirnya menjadi pondasi data primer yang sangat solid bagi riset mahasiswa FT UM Jember dalam merumuskan solusi penanganan infrastruktur persampahan di masa depan.

 


Kamis, 16 April 2026

Raih Gelar Doktor di Jepang, Dosen TIP Unmuh Jember Kembangkan Sensor RFID Tanpa Baterai untuk Inovasi Pertanian Cerdas

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) kembali menambah deretan akademisi bergelar doktor. Dr.Eng., Danang Kumara Hadi, S.TP., M.T., dosen dari Program Studi Teknologi Industri Pertanian, resmi menyelesaikan studi tingkat doktoralnya di Ibaraki University, Jepang. Melalui disertasi bertajuk "UHF RFID-Based Sensing and Indoor Localization", Dr. Danang menghadirkan terobosan teknologi mutakhir yang sangat relevan bagi pengembangan Internet of Things (IoT) dan pertanian modern. Penelitian doktoral ini menawarkan kebaruan berupa integrasi fungsi sensor dan pelacakan lokasi di dalam ruangan menggunakan satu sistem Ultra-High Frequency Radio Frequency Identification (UHF RFID). 

Jika teknologi RFID konvensional umumnya hanya digunakan untuk identifikasi barang dan membutuhkan baterai terpisah untuk fungsi sensor, inovasi Dr. Danang memungkinkan satu perangkat kecil untuk melacak posisi sekaligus mendeteksi suhu dan kelembaban lingkungan secara tanpa baterai (battery-less). Sistem ini bekerja hanya dengan memanfaatkan energi dari gelombang radio, sehingga lebih terintegrasi, sangat hemat energi, dan praktis tanpa perlu repot melakukan perawatan atau penggantian baterai.


Pilihan Danang untuk menempuh pendidikan di Ibaraki University didasari oleh ekosistem riset yang sangat disiplin dan fasilitas laboratorium yang spesifik di bidang antena serta sensor nirkabel. Namun, perjalanan meraih gelar doktor tersebut tidaklah mudah karena harus beradaptasi dengan budaya, menghadapi tuntutan standar akademik yang sangat tinggi, hingga tekanan mental akibat seringnya mengalami kegagalan eksperimen. 

Mulai dari desain antena yang tidak optimal hingga data yang tidak konsisten, semuanya menuntut evaluasi terus-menerus. Justru dari berbagai kegagalan tersebut, Danang belajar untuk berpikir kritis dan memperbaiki metodologi hingga akhirnya berhasil mempublikasikan risetnya di jurnal internasional bereputasi Q1 IEEE Access. Ia meyakini bahwa kunci utama penyelesaian studinya adalah konsistensi, rasa ingin tahu yang tinggi, serta resiliensi untuk bangkit dari kegagalan.

Sebagai akademisi di bidang Teknologi Industri Pertanian, Dr. Danang memproyeksikan inovasinya untuk diaplikasikan secara langsung di sektor riil, khususnya untuk sistem pergudangan pintar (smart warehouse) dan pertanian cerdas (smart agriculture). Di daerah dengan basis agrikultur yang kuat seperti Jember, teknologi ini memiliki potensi implementasi yang luar biasa. Sensor RFID tanpa baterai ini dapat disebar di greenhouse atau fasilitas pertanian dalam ruangan untuk memantau suhu dan kelembaban lahan. 


Pada sektor pascapanen, teknologi ini sangat vital untuk melacak posisi produk pertanian secara real-time di gudang logistik sekaligus memastikan bahwa kualitas produk tetap terjaga dalam standar rantai dingin (cold chain). Implementasinya di Jember akan sangat efektif jika dimulai dari skala pilot project di kampus atau melalui kerja sama dengan industri lokal, sebelum akhirnya diperluas untuk mendorong rantai pasok yang lebih transparan dan efisien.

Ke depan, Danang berkomitmen untuk mengimplementasikan hasil risetnya ke dalam Catur Dharma Perguruan Tinggi Universitas Muhammadiyah Jember serta membangun kolaborasi riset dengan industri dan institusi global. Ia juga menitipkan pesan inspiratif bagi seluruh mahasiswa, khususnya yang menggeluti bidang teknologi dan pertanian, bahwa dunia pertanian saat ini tidak bisa dipisahkan dari teknologi. 

Konsep smart farming, IoT, dan analitik data merupakan kebutuhan mendesak saat ini, bukan sekadar angan-angan masa depan. Harapannya, Danang dapat menjadi generasi penggerak yang tidak hanya sekadar menggunakan teknologi, tetapi mampu menciptakan solusi riil berbasis teknologi untuk memajukan sektor pertanian di Indonesia.

Rabu, 15 April 2026

Inovasi Beton Bambu Berstandar Internasional: Prof. Muhtar Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Teknik Sipil Unmuh Jember


Solusi visioner bagi dunia konstruksi ramah lingkungan lahir dari Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember). Pada Selasa (14/4/2026), Unmuh Jember secara resmi mengukuhkan Prof. Dr. Ir. Muhtar, S.T., M.T., IPM. sebagai Guru Besar di bidang Teknik Sipil – Rekayasa Struktur. Dalam prosesi pengukuhan tersebut, Prof. Muhtar menyampaikan orasi ilmiah yang sangat menggugah dan aplikatif berjudul "Bambu Sebagai Material Terbarukan Untuk Konstruksi Dan Kemaslahatan Umat".

Orasi ilmiah ini berangkat dari keprihatinan mendalam Prof. Muhtar terhadap tingginya kesenjangan industrialisasi antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Selama ini, negara sering kali mengundang investor asing guna mempercepat proses industrialisasi dan penguasaan teknologi. Namun, pendekatan top-down dan "jalan pintas" ini sering kali mengabaikan potensi industrialisasi di tingkat pedesaan. Menurut Prof. Muhtar, mempercepat industrialisasi sebaiknya dimulai dari industri kecil di desa yang dijadikan sebagai fondasi ekonomi kerakyatan yang kuat.

"Pembangunan desa harus mampu memberikan nilai tambah (added value) terhadap komoditas lokalnya, sehingga warga desa menjadi sejahtera tanpa harus bergantung pada material industri dari kota yang mahal," papar Prof. Muhtar.

Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, Prof. Muhtar memperkenalkan inovasi mutakhirnya: pemanfaatan bambu sebagai material utama pengganti baja dalam teknologi beton bertulang pracetak. Melalui serangkaian pengujian laboratorium yang ketat, inovasi ini telah membuktikan kualitas strukturalnya. Produk aplikatif yang dihasilkan, seperti panel pagar pracetak dan rangka jembatan beton bertulang bambu, telah melewati uji kelayakan mekanis yang komprehensif, meliputi uji lentur sumbu-lemah, uji lentur sumbu-kuat, hingga uji geser horizontal siklik.

Hasil temuan Prof. Muhtar sungguh luar biasa. Rangka beton bertulang bambu pracetak ciptaannya terbukti memiliki integritas struktural yang sangat baik, mampu mendistribusikan beban berat dengan defleksi dan deformasi yang sangat minimal. Dalam pengujian, tercatat perpindahan maksimum hanya sebesar 0,25 mm, sementara deformasi maksimum mencapai 0,20 mm, dan deformasi pada rangka jembatan hanya 0,13 mm. Angka-angka tersebut jauh berada di bawah ambang batas maksimal yang diizinkan (yakni 3,75 mm), sehingga inovasi ini secara resmi telah memenuhi standar kelayakan internasional AASHTO serta Standar Nasional Indonesia (RSNI T-12-2004).

Lebih dari sekadar rekayasa teknik, inovasi beton bambu ini membawa misi ekologis dan sosial yang sangat krusial. Penggunaan bambu material lokal yang pertumbuhannya sangat cepat dan mudah diperbarui menjadi antitesis terhadap material konstruksi konvensional yang menyumbang emisi karbon tinggi.

Pengukuhan Prof. Muhtar ini diharapkan tidak hanya menginspirasi dunia akademik, tetapi juga mendorong pemerintah dan sektor swasta untuk mulai melirik material terbarukan berbasis kearifan lokal. Inovasi beton bambu dari Unmuh Jember ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi yang berakar dari desa mampu menghadirkan solusi konstruksi global yang berkelanjutan, sekaligus mewujudkan kemaslahatan umat yang sebesar-besarnya.

Menggali Sisi Psikologis di Balik Angka: Prof. Dwi Cahyono Resmi Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Akuntansi Keperilakuan Unmuh Jember


Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) kembali mencatatkan sejarah akademik dengan mengukuhkan Prof. Dr. Dwi Cahyono, S.E., M.Si., Akt. sebagai Guru Besar dalam bidang Akuntansi Keperilakuan pada Rapat Terbuka Senat yang digelar Selasa (14/4/2026). Dalam momentum bersejarah tersebut, Prof. Dwi menyampaikan orasi ilmiah bertajuk "Pengantar Akuntansi Keperilakuan: Sebuah Eksplorasi Model Konseptual Bagi Pemula", yang secara tajam membedah bagaimana faktor manusia dan psikologi memengaruhi pelaporan serta pengambilan keputusan keuangan.

Selama ini, ilmu akuntansi kerap dipandang secara tradisional sebagai disiplin ilmu yang kaku, eksak, dan hanya berkutat pada deretan angka. Namun, Prof. Dwi menegaskan bahwa lahirnya Akuntansi Keperilakuan (Behavioral Accounting) didasarkan pada satu kesadaran fundamental: manusia tidak selalu rasional dalam membuat keputusan keuangan. Bidang multidisiplin ini menggabungkan ilmu akuntansi, psikologi, dan ekonomi perilaku untuk mengkaji secara mendalam pengaruh bias kognitif (cognitive biases), emosi, dan dinamika sosial terhadap informasi keuangan.

Dalam orasinya, Prof. Dwi memaparkan temuan dari analisis bibliometrik selama 53 tahun terhadap perkembangan riset behavioral accounting secara global. Data menunjukkan lonjakan publikasi yang sangat drastis pasca-krisis keuangan global tahun 2008, yang menyadarkan dunia bahwa kegagalan sistem keuangan sering kali bermuara pada perilaku irasional dan tidak etis pelakunya. Dari analisis tersebut, diketahui bahwa topik Mental Accounting menjadi subjek yang paling dominan diteliti, sementara Amerika Serikat memimpin dominasi riset global dengan lebih dari 52% total sitasi.

Lebih lanjut, Prof. Dwi membedah evolusi fokus penelitian akuntansi keperilakuan dari masa ke masa. Jika pada era awal (1970–1990) riset lebih banyak berfokus pada akuntansi manajemen, penganggaran, dan audit, maka pada era transisi (1991–2018) trennya berevolusi ke arah etika dan pengambilan keputusan (ethics & decision making). Menariknya, pada era terkini (2019–2023), arah riset semakin meluas menyentuh isu-isu keberlanjutan (sustainability), Environmental, Social, and Governance (ESG), suasana hati investor (investor mood), hingga teori perilaku terencana (planned behavior).

"Behavioral accounting bukan sekadar angka ini tentang memahami manusia di balik keputusan keuangan," tegas Prof. Dwi. Landasan teori seperti Prospect Theory dan Social Identity Theory kini menjadi fondasi utama untuk memahami fenomena keuangan modern.

Sebagai penutup, Prof. Dwi Cahyono memberikan peta jalan bagi pengembangan riset masa depan, khususnya bagi para akademisi dan praktisi. Ia menyoroti pentingnya integrasi Artificial Intelligence (AI) dan Big Data dalam akuntansi keperilakuan, perlunya riset di konteks negara berkembang yang masih minim, hingga urgensi pendekatan psikologis dalam mendeteksi kecurangan (fraud detection) dan perlindungan whistleblower. Implikasi praktisnya jelas: pengambil keputusan bisnis harus mulai memahami bias kognitif mereka sendiri demi membangun praktik akuntansi yang transparan dan etis.

Kamis, 09 April 2026

Riset Unmuh Jember Ungkap Strategi UMKM Café Lebih Kompetitif di Tengah Persaingan

Persaingan usaha café di Kabupaten Jember kian kompetitif. Tidak hanya mengandalkan rasa makanan dan minuman, pelaku usaha kini dituntut mampu menghadirkan pelayanan prima, kenyamanan, serta citra usaha yang kuat di mata pelanggan.

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) mengungkap strategi kunci yang dapat meningkatkan daya saing UMKM café melalui pendekatan berbasis data.

Penelitian yang dilaksanakan pada 8 Desember 2025 hingga 10 Februari 2026 di Café Pusparasa Jember ini dipimpin oleh Retno Murwanti, S.TP., M.P., dengan anggota Atok Ainur Ridho, S.P., M.P., serta dua mahasiswa, Moh. Barkah Ulul Albab dan Imelita Nasya Diantha.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan UMKM café dipengaruhi oleh empat faktor utama, yakni kualitas pelayanan, pengelolaan bisnis, citra merek, dan efisiensi operasional.

Dari keempat faktor tersebut, kualitas pelayanan menjadi aspek paling dominan. Pelayanan yang ramah, cepat, dan konsisten terbukti mampu meningkatkan kepuasan pelanggan sekaligus mendorong mereka untuk kembali berkunjung.

Selain itu, pengelolaan bisnis yang baik juga berperan penting. Pencatatan keuangan yang rapi, pengaturan karyawan yang efektif, serta manajemen operasional yang tertata memberikan dampak langsung terhadap pengalaman pelanggan.

Dalam aspek pemasaran, citra merek (branding) menjadi faktor yang tidak kalah penting. Café yang memiliki identitas unik, suasana nyaman, serta cerita yang kuat, misalnya dengan mengangkat potensi local cenderung lebih mudah diingat dan dipilih oleh pelanggan.

Sementara itu, efisiensi operasional turut menjadi penentu kepuasan. Pelanggan menginginkan pelayanan yang cepat dan tepat, sehingga kemampuan café dalam mengelola waktu penyajian menjadi nilai tambah dalam persaingan.

Ketua tim peneliti, Retno Murwanti, menjelaskan bahwa hasil penelitian ini memberikan pesan sederhana namun strategis bagi pelaku UMKM café.

“Pelaku usaha dapat memulai dari hal yang paling mendasar, yaitu meningkatkan kualitas pelayanan, merapikan pengelolaan usaha, membangun identitas yang kuat, serta memastikan operasional berjalan efisien. Langkah-langkah ini tidak harus mahal, tetapi membutuhkan konsistensi,” ujarnya.

Lebih lanjut, penelitian ini juga menegaskan pentingnya pendekatan berbasis data dalam pengembangan usaha. UMKM tidak lagi cukup mengandalkan intuisi, tetapi perlu memahami perilaku dan kebutuhan pelanggan secara lebih sistematis.

Melalui temuan ini, diharapkan pelaku UMKM café di Jember maupun daerah lain dapat meningkatkan daya saing usahanya. Dengan strategi yang tepat, UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan berkontribusi dalam memperkuat ekonomi lokal.

 

Kamis, 22 Januari 2026

Fenomena “Aging Farmer” Jadi Sorotan Riset Sosial Ekonomi dalam Forum Internasional Unmuh Jember–Cotabato State University

Persoalan menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian menjadi salah satu isu utama yang dibahas dalam kegiatan International Research Dissemination bertajuk “GLOBAL MINDS AND SHARED DISCOVERIES: The Cotabato State University and Universitas Muhammadiyah Jember International Research Exchange Forum.” Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu (21/1/2026) dan mempertemukan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Jember dan Cotabato State University, Filipina.

Dalam forum tersebut, Nurul Fathiyah Fauzi dari Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember mempresentasikan hasil penelitiannya berjudul “A Socio-Economic Study of Young Generation’s Interest in the Agricultural Sector.” Penelitian ini mengkaji faktor-faktor sosial ekonomi yang memengaruhi minat generasi muda terhadap sektor pertanian, khususnya di Kabupaten Jember.

Dalam pemaparannya, Nurul menjelaskan bahwa sektor pertanian saat ini menghadapi tantangan serius berupa fenomena aging farmer, yaitu dominasi petani usia lanjut akibat minimnya regenerasi. Data menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja di sektor pertanian terus menurun, sementara generasi muda cenderung memilih sektor non-pertanian yang dianggap lebih menjanjikan dari sisi pendapatan dan stabilitas kerja.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar generasi muda berada pada kategori ragu atau kurang berminat untuk bekerja di sektor pertanian. Faktor lingkungan sosial, seperti pengaruh teman sebaya, keterbukaan terhadap informasi luar (kosmopolitanisme), serta dukungan sosial, memiliki pengaruh positif terhadap minat generasi muda. Sebaliknya, faktor ekonomi, khususnya ketidakpastian pendapatan, menjadi salah satu penghambat utama.

Penelitian ini juga menemukan bahwa pekerjaan orang tua dan tingkat kosmopolitanisme berpengaruh signifikan terhadap minat generasi muda pada sektor pertanian. Sementara itu, variabel usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa minat generasi muda tidak hanya dibentuk oleh latar belakang pendidikan, tetapi juga oleh lingkungan sosial dan pola komunikasi yang mereka alami.

Melalui forum riset internasional ini, Nurul menekankan pentingnya peran perguruan tinggi, pemerintah, dan pemangku kepentingan dalam merancang strategi regenerasi petani yang lebih adaptif. Pemanfaatan teknologi pertanian modern, pendekatan kewirausahaan, serta penguatan citra pertanian sebagai sektor yang inovatif dan berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk menarik minat generasi muda.

Kegiatan International Research Dissemination ini menjadi ruang pertukaran gagasan lintas negara yang memperkaya perspektif akademik serta memperkuat kolaborasi riset internasional. Melalui diseminasi penelitian ini, Universitas Muhammadiyah Jember menegaskan komitmennya dalam berkontribusi pada solusi pembangunan pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan di tingkat lokal maupun global.


Connect