Sabtu, 25 Oktober 2025

Tanamkan Jiwa Kepemimpinan Mahasiswa di Era Digital, IMM Al-Farabi FISIP Unmuh Jember Gelar “Young Leadership Era”


Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Al-Farabi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menyelenggarakan kegiatan perdana bertajuk “Young Leadership Era” pada Selasa, 21 Oktober 2025, bertempat di Dewald Caffe Jember.

Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian program pasca rapat kerja kepemimpinan IMM Al-Farabi dan diikuti oleh sekitar 95 mahasiswa, yang sebagian besar merupakan mahasiswa baru FISIP angkatan 2025.

Dengan mengusung tema “From Campus to Compass: Menemukan Arahmu Sebagai Pemimpin”, kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya keterlibatan dalam aksi sosial dan kemanusiaan di tengah derasnya arus modernisasi digital.

Acara turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Jember, Wakil Dekan FISIP, serta perwakilan organisasi mahasiswa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom), Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (Himata), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) se-Kabupaten Jember.

Ketua Panitia Young Leadership Era, Teguh Iman Arif, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat kepedulian sosial di kalangan mahasiswa.

“Kami melihat bahwa saat ini banyak mahasiswa yang mulai kurang peduli terhadap kegiatan sosial. Karena itu, melalui acara ini kami ingin membangkitkan kembali semangat tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum IMM Al-Farabi, Rizki Afandi, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai wadah pembentukan karakter kepemimpinan mahasiswa.

“Aktivitas Young Leaders ini menjadi ruang laboratorium kritis mahasiswa untuk menyiapkan peran kepemimpinan di tengah era globalisasi,” ungkapnya.

Ia juga berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk mengambil peran strategis sebagai agen perubahan.

“Kami berharap dengan adanya kegiatan Young Leaders ini, kita semua mampu mengambil peran penting sebagai mahasiswa agent of change,” tegasnya.

Adapun dua narasumber inspiratif turut hadir dalam kegiatan ini, yakni Kukuh Pribadi, S.I.Kom., M.A., selaku Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UM Jember, serta Wildan Nurul Fadli, S.IP., pendiri Fadli Foundation—lembaga yang bergerak di bidang kemanusiaan.

Melalui kegiatan ini, IMM Al-Farabi berupaya mencetak generasi muda yang tidak hanya kritis dan berdaya pikir maju, tetapi juga memiliki arah dan kompas moral dalam kepemimpinan di era digital.

Kamis, 23 Oktober 2025

Lecturer Voices : Sampah Plastik Disulap Jadi Kebun Kota Ramah Lingkungan

Dosen Fakultas Pertanian (Faperta) sekaligus Kaprodi Agribisnis Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Fefi Nurdiana W., S.P., M.P., memperkenalkan gagasan inovatif bertajuk “Turning Plastic Waste into Green Solutions: Urban Farming Innovation for a Sustainable Future” dalam kegiatan Summer Camp 2025: Asian Indigenous Culture pada Kamis (23/10).

Dalam presentasinya, beliau menyoroti masalah global sampah plastik yang menjadi salah satu polutan paling persisten di dunia. Sebagian besar sampah plastik berakhir di tempat pembuangan akhir atau laut, mengancam ekosistem dan bahkan masuk ke rantai makanan manusia. Menurutnya, solusi atas masalah ini bisa ditemukan melalui pendekatan pertanian perkotaan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Pertanian perkotaan mampu mengubah limbah plastik menjadi sumber daya bernilai, sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat perkotaan,” jelasnya.

Ia memaparkan berbagai metode inovatif seperti vertical farming, container gardening, dan rooftop garden sebagai upaya memanfaatkan ruang terbatas di kota untuk produksi pangan. Selain itu, sistem hidroponik dan akuaponik juga disebut efektif dalam meningkatkan efisiensi sumber daya air dan nutrisi tanpa menggunakan tanah.

Lebih lanjut, konsep ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan pemberdayaan sosial dan ekonomi bagi masyarakat, terutama bagi perempuan dan pemuda di daerah perkotaan. Melalui pemanfaatan limbah plastik sebagai pot atau wadah tanam, masyarakat dapat menghemat biaya, mengurangi sampah, dan memperoleh pasokan pangan segar dari kebun rumah sendiri.

“Pendekatan ini membentuk ekonomi sirkular — di mana sampah bukan lagi akhir dari proses, tetapi bagian dari sistem regeneratif yang bermanfaat,” tambahnya.

Gagasan yang diusung beliau sejalan dengan upaya global dalam mewujudkan keberlanjutan lingkungan, peningkatan kualitas udara perkotaan, serta pendidikan ekologi masyarakat.

Dengan inovasi tersebut, Unmuh Jember kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung mahasiswa yang berkontribusi nyata terhadap isu-isu lingkungan dan ketahanan pangan di tingkat Asia.

Mahasiswa Universiti Malaya Antusias Jajal Vest Multifungsi Buatan Mahasiswa Unmuh Jember

Suasana penuh semangat tampak di lingkungan Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Kamis (23/10), saat para peserta Summer Camp 2025 dari Universiti Malaya, Malaysia, mengikuti berbagai kegiatan crafting yang diadakan di tiap fakultas. Kegiatan ini menjadi ajang pertukaran budaya dan kreativitas antara mahasiswa Unmuh Jember dan mahasiswa internasional.

Salah satu kegiatan yang menarik perhatian berlangsung di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Di fakultas ini, para peserta diajak mengenal produk inovatif hasil karya mahasiswa FEB berupa vest (rompi) yang unik karena dapat difungsikan ganda sebagai totebag. Desain yang estetik dan fungsional membuat produk ini tak hanya bernilai seni, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Salah satu peserta dari Universiti Malaya, Nurun Nazwa, mengaku terkesan dengan hasil karya mahasiswa Unmuh Jember tersebut.

“Saya baru tahu ada produk semacam ini. Ini sangat unik karena bagus dan fungsinya tak cuma jadi tas saja,” ungkapnya dengan penuh kekaguman.

Nurun menambahkan bahwa kegiatan seperti ini memberikan inspirasi baru baginya. Ia bahkan berencana untuk mengembangkan ide serupa ketika kembali ke Malaysia.

“Insyaallah saya mau coba buat produk semacam ini di Malaysia, sebab ini sangat menarik,” ujarnya.

Kegiatan crafting di FEB Unmuh Jember ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas mahasiswa, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan inovasi dan jiwa kewirausahaan yang ditanamkan di lingkungan kampus. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dari luar negeri dapat melihat langsung bagaimana ide-ide sederhana dapat dikembangkan menjadi produk kreatif yang bernilai jual.

Melalui program Summer Camp 2025, Unmuh Jember berupaya memperluas jejaring internasional serta membuka ruang bagi pertukaran gagasan, budaya, dan inovasi antar mahasiswa lintas negara. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat mempererat hubungan kerja sama antara Unmuh Jember dan Universiti Malaya di masa mendatang.

Lecture Voices Summer Camp Bahas Tantangan Global Organisasi: Kunci Keberlanjutan Ekonomi, Sosial dan Lingkungan

Di tengah kompleksitas ekonomi global, organisasi baik yang berorientasi profit maupun non-profit menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan relevansi dan keberlanjutan. Beberapa pembicara ahli menguraikan bagaimana perubahan iklim, kemajuan teknologi, kualitas sumber daya manusia (SDM), serta regulasi menjadi variabel penting dalam perjalanan organisasi ke depan.

Menurut Dr. Arik Susbiyani, S.E., M.Si., “organisasi di seluruh dunia harus memperhitungkan variabel-variabel seperti perubahan iklim, tingkat pendidikan dan SDM, serta perubahan teknologi” agar tetap kompetitif dan berkelanjutan. Pernyataan ini selaras dengan kerangka keberlanjutan yang mengedepankan tiga pilar utama: ekonomi (profit), sosial (people) dan lingkungan (environment).

Kerangka tiga pilar ini dikenal sebagai konsep ­Triple Bottom Line (Profit, People, Planet) atau disebut juga “3 P’s” (People, Planet, Profit). Sebagai contoh: sebuah artikel menyebut bahwa kerangka ini menekankan bahwa keberlanjutan tidak cukup hanya dari sisi keuangan, melainkan juga kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan. 

Selain itu, situs lain menyebutkan bahwa “three pillars of sustainability social, environmental, and economic dimensions” saling terkait dan saling mendukung satu sama lain. 



Di sisi budaya organisasi, Dr. Budi Santoso, M.M., M.Akun., memberikan perspektif menarik mengenai perbedaan antara Asia dan Eropa. “Orang Asia sangat kuat dalam senioritas di sebuah organisasinya, berbeda dengan Eropa yang tidak melihat hal tersebut,” demikian ungkapnya. Ia menambahkan, di Asia perusahaan-perusahaan cenderung memiliki regulasi dan struktur yang kuat, sedangkan di Eropa organisasi lebih dinamis beradaptasi terhadap perubahan.



Pendapat ini diperkuat oleh sejumlah analisis budaya kerja. Misalnya, riset menunjukkan bahwa di Asia, “workplace hierarchy is deeply ingrained and respect for seniority is important” sedangkan di Eropa “decision-making can be decentralized, with lower-level employees having more input and responsibility.” 

Lebih lanjut, dalam konteks HR, sebuah blog menyebut bahwa “In Asia, organizational hierarchy is strictly adhered to… while in the West, organizations are characterized by flatter structures and more democratic leadership.” 

Komunikasi, kepemimpinan dan negosiasi disebut sebagai fokus utama organisasi Asia dalam menghadapi keberagaman etnis, pelatihan lintas budaya, dan lingkungan inklusif. Sedangkan menurut Dr. Trias Setyowati, S.E., S.H., M.M., MCE., “komitmen dan kualitas kerja pegawai” menjadi faktor krusial terakhir yang dibahas. Ia menjelaskan bahwa “komitmen memiliki banyak tipe. Komitmen inilah yang akan memunculkan loyalitas seorang pegawai.”

Dari keseluruhan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa keberhasilan organisasi dalam menghadapi tantangan global sangat bergantung pada sinergi antara strategi, regulasi perusahaan, dan kualitas SDM. Ketiga elemen tersebut menjadi pondasi dalam membangun organisasi yang adaptif, tangguh dan berdaya saing di kancah global.

Summer Camp 2025: Quality Showcase Bersama Universitas Malaya

Program Summer Camp 2025: Colleagues Collaborative Actions (COCOA) terus berlanjut dengan semangat kolaborasi lintas negara. Kali ini, kegiatan memasuki sesi University Showcase yang digelar di Ruang Rapat Gedung A Universitas Muhammadiyah Jember, Kamis (23/10).

Dalam sesi ini, para peserta mendapatkan wawasan internasional langsung dari Assoc. Prof. Dr. Mohd Nazri bin Abdul Rahman dari Universiti Malaya (UM), Malaysia). Ia memaparkan model penelitian dan pengabdian masyarakat unggulan yang dijalankan UM melalui program strategis UMCares@222 Wilayah Pembangunan Komuniti.

Program tersebut merupakan inisiatif besar Universiti Malaya yang menjangkau 222 wilayah komunitas di seluruh Malaysia. Tujuannya tidak hanya untuk memperkuat fungsi universitas sebagai pusat pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai penggerak utama pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Melalui UMCares, Universiti Malaya menumbuhkan budaya keterlibatan sosial (community engagement) yang aktif, inovatif, dan berkelanjutan. Lembaga ini menjadi pusat koordinasi seluruh kegiatan pengabdian masyarakat, riset sosial, serta transfer pengetahuan antara kampus, industri, pemerintah, dan masyarakat.

Empat bidang utama menjadi fokus UMCares, yakni pendidikan berkualitas, kesehatan dan kesejahteraan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta kelestarian lingkungan hidup.

Dalam presentasinya, Dr. Mohd Nazri juga memperkenalkan berbagai program unggulan seperti:

CAKnA (Citra Akademik untuk Komuniti dan Alam) – kegiatan kolaboratif antar-fakultas yang menjawab kebutuhan sosial berbasis riset;

IKom (Inisiatif Komuniti Kolej Kediaman) – pengabdian masyarakat berbasis mahasiswa asrama;

Komuniti Perdana dan UniMADANI – program berdampak besar yang melibatkan kolaborasi lintas sektor dengan pendekatan penta-helix;

Sekolah dan Kampung Angkat MADANI – penguatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat pedesaan.

Selain itu, sejumlah proyek inovatif turut dipresentasikan, di antaranya H.E.B.A.T (Henti Elak Basmi Asap Tembakau) yang memberdayakan mahasiswa menjadi duta antimerokok dan antivape dengan pendekatan seni dan media sosial. Ada juga proyek Sustainable Clean Water, yang menghadirkan teknologi penjernihan air cerdas berbasis tenaga surya bagi masyarakat pedesaan.

Program D.I.Y – Eco Warriors pun menjadi sorotan dengan konsep Reduce, Reuse, Recycle yang mengajak pelajar dan guru menjadi agen perubahan lingkungan berkelanjutan.

Melalui strategi 2024–2027, UMCares menetapkan lima sasaran utama: menumbuhkan budaya pengabdian, memperluas kemitraan strategis, memberdayakan keahlian akademik, memperkuat dampak sosial, serta meningkatkan visibilitas global kegiatan universitas.

Sesi Quality Showcase ini menjadi momentum berharga bagi peserta Summer Camp 2025 untuk mempelajari praktik terbaik kolaborasi internasional di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat.

Summer Camp 2025: Kolaborasi Empat Kampus Bangun Jejaring Global di Unmuh Jember

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) gelar kegiatan internasional bertajuk Summer Camp 2025: COCOA (Collaboration of Culture and Academic) di Aula Ahmad Zaenuri Unmuh Jember, pada Kamis (23/10/2025). Program ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai universitas untuk merayakan semangat kolaborasi lintas negara dan memperkuat hubungan akademik antarperguruan tinggi.

Dalam sambutannya, Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas akademik dan jejaring antar universitas.

“Acara ini bukan hanya ajang pertukaran budaya, tetapi juga ruang kolaborasi nyata antarperguruan tinggi dalam bidang penelitian, pengabdian, dan pendidikan,” ujar Dr. Hanafi.

Empat universitas turut terlibat dalam pelaksanaan program ini, yakni Universiti Malaya, Universitas Muhammadiyah Jember, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dan Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Keempatnya menandatangani implementation agreement yang menegaskan kerja sama di bidang penelitian, pengabdian masyarakat, dan pertukaran budaya.

Sebanyak 42 mahasiswa dari Universiti Malaya mengikuti program ini dengan berbagai agenda menarik, mulai dari kegiatan Crafty (Creativity) yang memperkenalkan budaya lokal, kolaborasi pembelajaran Levi’s, penelitian bertema Insect, hingga program pengabdian masyarakat “In-Comes”. Tak ketinggalan, sesi Benchmarking antar universitas dan Culture Night akan menjadi puncak perayaan keberagaman budaya Indonesia dan Malaysia.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universiti Malaya, Prof. Nazri, mengungkapkan apresiasinya terhadap penyelenggaraan Summer Camp ini.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami kolaborasi global, sekaligus menanamkan nilai kepedulian sosial lintas budaya,” tuturnya.

Melalui program internasionalisasi ini, Summer Camp 2025: COCOA menjadi bukti sinergi antarperguruan tinggi dalam membentuk generasi muda yang adaptif, kreatif, dan siap bersaing di tingkat global.

 

 

Rabu, 22 Oktober 2025

Penelitian FAI Unmuh Jember Gandeng Universitas Malaya, Bahas Kecerdasan dan Spiritualitas Siswa

Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Jember, Dr. Bahar Agus Setiawan, S.SH.I., MM.Pd., tengah melaksanakan program penelitian kolaboratif berskala internasional bersama Universitas Malaya (Malaysia). Penelitian ini menjadi salah satu program strategis yang memiliki keberlanjutan jangka panjang dalam pengembangan riset pendidikan lintas negara.


Menurut Dr. Bahar, penelitian ini akan melibatkan sekitar 1.000 responden yang terdiri dari siswa-siswi tingkat SMP di Jember dan Malaysia. Proses pengambilan sampel ditargetkan rampung dalam waktu enam bulan ke depan agar hasil yang diperoleh lebih komprehensif dan representatif.

“Penelitian ini bertujuan untuk mengomparasikan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, serta pengaruhnya terhadap spiritualitas dan kualitas diri siswa,” jelas Dr. Bahar. Ia menambahkan, aspek-aspek seperti kemandirian, spiritualitas, dan kecerdasan siswa menjadi indikator utama dalam penelitian ini.



Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan publikasi pada jurnal internasional bereputasi, sehingga mampu menjadi rujukan penting bagi pengembangan studi pendidikan, khususnya dalam bidang Pendidikan Agama Islam.

“Tentu perlu analisis mendalam dari berbagai perspektif. Kami ingin melihat apakah terdapat hal yang perlu diperbaiki dari sudut pandang siswa terhadap proses pembelajaran, terutama dalam konteks pendidikan agama Islam,” pungkasnya.

Connect