Kamis, 22 Oktober 2026

Prodi Sistem Informasi Unmuh Jember Gelar Kuliah Tamu, Dorong Mahasiswa Berani Memulai Usaha di Era Digital


Program Studi Sistem Informasi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menggelar kuliah tamu bertajuk “Berani Memulai, Siap Bertumbuh: Membangun Usaha di Era Digital” pada Kamis (22/10/2026), bertempat di Mini Hall Fakultas Hukum Unmuh Jember. Kegiatan ini menghadirkan Nana Diaz, seorang Brand Advisor sekaligus pendiri Empila Institute, sebagai pemateri.

Kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai pentingnya membangun pola pikir kewirausahaan, mengembangkan identitas diri, serta memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk membangun dan mengembangkan usaha.

Dalam pemaparannya, Nana Diaz menekankan pentingnya mengenali potensi diri sebelum membangun citra dan reputasi di hadapan publik. Menurut materi yang disampaikan, personal branding tidak hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang menampilkan dirinya, tetapi juga tentang nilai, kompetensi, dan karakter yang ingin ditunjukkan secara konsisten.

Ia menjelaskan empat fondasi utama dalam membangun dampak personal (personal impact), yakni character (karakter), communication (komunikasi), competence (kompetensi), dan confidence (kepercayaan diri). Keempat aspek tersebut menjadi elemen penting dalam membangun kepercayaan, kredibilitas, serta membuka peluang di lingkungan profesional maupun dunia usaha.

Selain penguatan kapasitas diri, materi kuliah tamu juga membahas strategi komunikasi digital dan personal branding melalui media sosial. Platform seperti Instagram dan TikTok dinilai memiliki karakteristik tersendiri dalam menarik perhatian audiens, membangun relevansi, dan mendorong interaksi.


Dalam konteks tersebut, penyusunan konten perlu memperhatikan tujuan komunikasi, pemilihan platform yang tepat, analisis data, serta konsistensi publikasi. Materi juga menyoroti pentingnya tiga detik pertama dalam sebuah konten untuk menarik perhatian audiens agar tertarik menyimak informasi lebih lanjut.

Di sisi lain, pemanfaatan media sosial perlu disertai kesadaran dalam membagikan informasi. Kebiasaan over-sharing atau membagikan informasi pribadi secara berlebihan dapat menimbulkan kesalahpahaman, konflik sosial, hingga dampak psikologis. Oleh karena itu, kemampuan berkomunikasi secara bijak menjadi bagian penting dalam membangun reputasi digital yang positif.

Melalui kegiatan kuliah tamu ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa membangun usaha di era digital tidak cukup hanya dengan memanfaatkan teknologi, tetapi juga memerlukan karakter yang kuat, komunikasi yang efektif, kompetensi yang relevan, serta kepercayaan diri dalam mengambil keputusan.

Penyelenggaraan kegiatan ini menjadi salah satu upaya Prodi Sistem Informasi Unmuh Jember dalam memperluas wawasan mahasiswa mengenai kewirausahaan dan pengembangan diri, sehingga mereka semakin siap menghadapi tantangan serta memanfaatkan peluang di tengah perkembangan dunia digital.

Rabu, 07 Oktober 2026

BIJAR Hadir di Unmuh Jember, Mahasiswa Diajak Kenali Peran BI Jaga Stabilitas Ekonomi dan Hadapi Ekonomi Digital


Bank Indonesia (BI) melalui Kantor Perwakilan (KPw) BI Jember kembali menghadirkan program Bank Indonesia Jember Mengajar (BIJAR) di Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember. Kegiatan yang mengusung tema “The Guardians of Stability: Peran Bank Indonesia dan Kontribusi Gen Z dalam Ekosistem Ekonomi Digital” tersebut digelar di Unmuh Jember, Rabu (7/10/2026), berkolaborasi dengan Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Unmuh Jember.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami lebih jauh peran bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melihat peluang dan tantangan generasi Z dalam perkembangan ekonomi digital.

Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Agribisnis Unmuh Jember, Fefi Nurdiana W, S.P., M.P., menyampaikan bahwa pemahaman mahasiswa Agribisnis tidak cukup hanya berkutat pada sektor pertanian dan kewirausahaan. Menurutnya, mahasiswa juga perlu memahami berbagai faktor yang memengaruhi perekonomian, termasuk inflasi dan sistem pembayaran.

“Ketika berbicara agribisnis, pikiran selalu ke perkebunan dan lain sebagainya. Hari ini mahasiswa tidak cukup hanya menjadi entrepreneurship, tetapi juga harus paham bagaimana inflasi dijaga oleh BI dan bagaimana Gen Z bisa menjadi pemain utama, bukan hanya penonton dalam ekonomi digital,” ujarnya.


Ia menambahkan, perkembangan teknologi dan ekonomi digital membuka peluang yang semakin luas bagi generasi muda, termasuk mahasiswa Agribisnis. Ke depan, pelaku usaha dapat memasarkan produknya secara mandiri hingga menjangkau pasar ekspor-impor tanpa sepenuhnya bergantung pada jalur pemasaran konvensional.

“Gen Z kalian akan menjual mandiri atau ekspor-impor, tidak lagi lewat tengkulak,” tambahnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia atas kolaborasi yang terjalin dalam bidang pendidikan. Menurutnya, kehadiran BI melalui program BIJAR menjadi sebuah kehormatan sekaligus kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan langsung mengenai kebanksentralan.

Sementara itu, materi utama disampaikan oleh Moh Zuni Ristiyanto, Kepala Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah KPw BI Jember. Dalam pemaparannya bertajuk “Peran dan Eksistensi Bank Sentral dalam Menjaga Stabilitas Ekonomi melalui Pengendalian Inflasi serta Inovasi dan Efisiensi Sistem Pembayaran”, ia menjelaskan posisi dan fungsi Bank Indonesia dalam perekonomian nasional.

Zuni menjelaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai stabilitas nilai Rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, serta turut menjaga stabilitas sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.



Ia menggambarkan bank sentral sebagai lembaga yang berperan mengatur pasokan uang dan memastikan uang dapat beredar hingga ke masyarakat. Peran tersebut berjalan bersama fungsi BI dalam kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, serta pengelolaan Rupiah.

Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian adalah pengendalian inflasi. Zuni menjelaskan bahwa inflasi secara sederhana merupakan kenaikan harga secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Pengendalian inflasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan otoritas, tetapi juga membutuhkan peran masyarakat melalui perilaku ekonomi yang bijak.

Dalam konteks tersebut, masyarakat dapat berkontribusi melalui sejumlah langkah sederhana, seperti berbelanja sesuai kebutuhan, memanfaatkan lahan untuk urban farming, serta ikut menyosialisasikan perilaku belanja bijak kepada lingkungan sekitar, termasuk melalui media sosial.

Selain inflasi, mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mengenai perkembangan sistem pembayaran. Zuni menjelaskan bahwa sistem pembayaran terus mengalami evolusi seiring perkembangan teknologi, model bisnis, preferensi masyarakat, dan kebijakan otoritas. Sistem pembayaran mencakup seperangkat aturan, lembaga, dan mekanisme yang digunakan dalam proses pemindahan dana untuk memenuhi kewajiban dari suatu kegiatan ekonomi.

Menurut materi yang disampaikan, ekosistem sistem pembayaran terdiri atas instrumen pembayaran, infrastruktur, lembaga, serta aturan dan tata kelola. Perkembangan sistem pembayaran tersebut diharapkan mampu mendukung transaksi yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi serta menjaga stabilitas sistem keuangan.


Dalam kaitannya dengan generasi Z, pemahaman terhadap sistem pembayaran digital menjadi semakin penting. Mahasiswa sebagai generasi yang dekat dengan teknologi tidak hanya ditempatkan sebagai pengguna, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi pelaku utama dalam ekosistem ekonomi digital.

Pembahasan turut mencakup pengelolaan Rupiah oleh Bank Indonesia, mulai dari perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan dan penarikan, hingga pemusnahan Rupiah. BI juga memiliki kewenangan dalam mengatur pengedaran Rupiah sesuai dengan kebutuhan jumlah uang beredar.


Melalui BIJAR, mahasiswa Unmuh Jember diharapkan tidak hanya memahami konsep kebanksentralan, tetapi juga mampu melihat keterkaitan antara stabilitas ekonomi, perkembangan sistem pembayaran, kewirausahaan, dan peluang ekonomi digital.

Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat kolaborasi antara Bank Indonesia dan perguruan tinggi dalam meningkatkan literasi ekonomi dan kebanksentralan di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa sebagai calon pelaku ekonomi di masa mendatang.

Senin, 28 September 2026

Guru PJOK Jember Belajar Softball dan Baseball, Perbasasi Gandeng Prodi Penjas Unmuh Jember

Olahraga softball dan baseball mulai diperkenalkan lebih luas di lingkungan pendidikan Kabupaten Jember. Perserikatan Baseball dan Softball Indonesia (Perbasasi) Kabupaten Jember bersama Program Studi S1 Pendidikan Jasmani FKIP Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menggelar Coaching Clinic Softball dan Baseball bagi guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) tingkat SMP, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB tersebut diikuti guru-guru PJOK yang tergabung dalam MGMP PJOK Wilayah Tengah dan Wilayah Timur Kabupaten Jember. Coaching clinic ini menjadi ruang bagi para guru untuk tidak hanya mengenal olahraga softball dan baseball secara teori, tetapi juga mencoba langsung teknik dasar permainan di lapangan.

Menghadirkan Coach Syaiful Noer, Pengurus Provinsi (Pengprov) Perbasasi Jawa Timur sekaligus Asisten Pelatih Olahraga Terampil Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Provinsi Jawa Timur, peserta mendapatkan materi mengenai dasar-dasar permainan, teknik, hingga penerapannya dalam pembelajaran PJOK.

Kegiatan diawali dengan sesi teori yang berlangsung di Ruang 2.14, Lantai 2, Gedung E (Pascasarjana) FKIP Unmuh Jember. Pada sesi ini, peserta diperkenalkan dengan dasar permainan softball dan baseball sebagai bekal sebelum memasuki sesi praktik.

Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Tito Sujarwo, mewakili Pengurus Perbasasi Kabupaten Jember. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa coaching clinic menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan olahraga softball dan baseball melalui lingkungan pendidikan.

Usai mendapatkan materi, para guru kemudian diajak berpindah ke Lapangan Universitas Muhammadiyah Jember untuk mengikuti praktik secara langsung. Di lapangan, peserta berkesempatan mencoba teknik dasar permainan sekaligus memahami bagaimana olahraga tersebut dapat diterapkan dalam aktivitas pembelajaran PJOK di sekolah.

Bagi guru PJOK, pengalaman praktik menjadi bagian penting dalam coaching clinic karena memberikan gambaran langsung mengenai karakter permainan yang sebelumnya mungkin belum banyak ditemui dalam pembelajaran olahraga di sekolah.

Melalui kegiatan ini, Perbasasi Kabupaten Jember dan Prodi S1 Pendidikan Jasmani Unmuh Jember berharap pengenalan softball dan baseball dapat semakin luas di kalangan guru dan pelajar. Guru PJOK diharapkan dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan olahraga tersebut kepada siswa sekaligus membuka peluang munculnya bibit-bibit atlet baru dari lingkungan sekolah.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat sinergi antara organisasi olahraga, perguruan tinggi, dan MGMP PJOK dalam mendukung pengembangan olahraga di Kabupaten Jember. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada coaching clinic, tetapi dapat berkembang menjadi pembinaan olahraga yang lebih berkelanjutan di lingkungan pendidikan.

Dengan pendekatan teori dan praktik secara langsung, coaching clinic ini menjadi langkah awal untuk membawa softball dan baseball lebih dekat dengan dunia pendidikan dari lapangan kampus menuju lapangan sekolah.

 

Rabu, 06 Mei 2026

Unmuh Jember Gelar Program International Financial Behavior & Investment Empowerment di MSU Malaysia

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) internasional melaksanakan kegiatan bertajuk International Financial Behavior & Investment Empowerment bekerja sama dengan Management and Science University (MSU) Malaysia. Program ini bertujuan meningkatkan literasi keuangan, perilaku keuangan, serta kesiapan investasi mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di MSU Malaysia.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya tantangan finansial yang dihadapi mahasiswa Indonesia di luar negeri, khususnya dalam mengatur biaya hidup, memahami investasi digital, serta menghadapi risiko keputusan keuangan yang impulsif akibat pengaruh media sosial dan tren investasi. Mahasiswa perantau dinilai rentan mengalami stres finansial dan kesalahan dalam pengambilan keputusan investasi.

Melalui program ini, tim pengabdian memberikan edukasi mengenai pengelolaan keuangan pribadi, perencanaan keuangan, literasi investasi, serta pemahaman mengenai pasar modal syariah Indonesia dan Malaysia. Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman tentang behavioral finance seperti overconfidence, herding behavior, dan fear of missing out (FOMO) yang sering memengaruhi keputusan investasi generasi muda.

Rangkaian kegiatan dimulai dari koordinasi dengan pihak MSU Malaysia, survei kebutuhan peserta, baseline study, penyusunan modul literasi keuangan, hingga pelaksanaan workshop literasi keuangan dan pelatihan behavioral finance. Mahasiswa juga mengikuti simulasi pasar modal internasional melalui platform virtual trading yang terintegrasi dengan data pasar Indonesia dan Malaysia.

Hasil sementara menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mahasiswa terkait pengelolaan keuangan pribadi, diversifikasi risiko, dan perbedaan instrumen investasi lintas negara. Selain itu, sekitar 70 persen peserta mengaku lebih percaya diri dalam mengelola keuangan pribadi dan memahami risiko investasi internasional.

Program ini juga berhasil memperkuat kolaborasi akademik antara Unmuh Jember dan MSU Malaysia melalui keterlibatan dosen mitra dalam penyampaian materi serta diskusi akademik lintas negara. Sinergi ini menjadi bagian dari upaya internasionalisasi tridharma perguruan tinggi sekaligus mendukung Renstra Pengabdian kepada Masyarakat Unmuh Jember.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Indonesia di Malaysia mampu menjadi generasi muda yang memiliki literasi keuangan yang baik, mampu mengambil keputusan investasi secara rasional, serta siap menghadapi sistem keuangan global secara bijak dan berkelanjutan.

 

Minggu, 22 Februari 2026

Abdul Mu'ti di Kajian Ramadhan PWM Jatim di Unmuh Jember, Bahas Supremasi Ilmu Jadi Kunci Manusia sebagai Khalifah

Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) pada Sabtu (21/2/2026) menghadirkan Prof. Abdul Mu’ti yang mengupas secara mendalam konsep manusia sebagai khalifah dalam perspektif keislaman dan pendidikan. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi tidak bisa dilepaskan dari ilmu pengetahuan.

Menurutnya, dalam sejarah Islam, istilah khalifah selalu dikaitkan dengan kepemimpinan yang tidak hanya bersifat pemerintahan (government), tetapi juga memiliki otoritas keagamaan. Para pemimpin pasca Khulafaur Rasyidin menggunakan berbagai gelar seperti khalifah, sultan, atau malik, namun esensinya tetap merujuk pada tanggung jawab memimpin umat dengan landasan nilai-nilai agama.

Prof. Mu’ti menjelaskan bahwa manusia diangkat menjadi khalifah bukan semata-mata karena kesalehan ritual, tetapi karena kapasitas intelektualnya. Ia merujuk pada kisah penciptaan Nabi Adam, ketika Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam sebuah simbol ilmu pengetahuan yang tidak mampu dijawab oleh malaikat. 

“Adam menjadi khalifah karena ilmunya. Dari sinilah Islam menempatkan supremasi ilmu di atas sekadar kesalehan ibadah,” tegasnya.

Ia menguraikan bahwa manusia memiliki tiga potensi utama sebagai makhluk rohaniah, yakni akal (fitratul ‘aql), hati (fitratul qalb), dan fitrah beragama (fitrah ad-din). Ketiganya menjadi perangkat yang membimbing manusia dalam mengelola nafsu dan menjalankan tanggung jawab kekhalifahan. Tanpa pengelolaan yang benar, nafsu dapat menjerumuskan pada kerusakan; namun jika dituntun oleh akal dan agama, ia menjadi energi untuk menciptakan kesejahteraan.

Dalam konteks pendidikan, Prof. Mu’ti menekankan dua fungsi utama pendidikan: fungsi konservatif dan progresif. Fungsi konservatif menjaga dan mewariskan nilai-nilai fundamental seperti tauhid dan akhlak mulia. Sementara fungsi progresif membekali generasi dengan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan visioner agar mampu menjawab tantangan zaman.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan ilmu dan teknologi termasuk rekayasa genetika dan kecerdasan buatan harus tetap berada dalam koridor etika dan ketentuan Ilahi. Manusia memang mampu berinovasi, namun tetap memiliki batas sebagai hamba (‘abdullah). Di sinilah keseimbangan antara peran sebagai khalifah dan sebagai hamba menjadi penting.

Menutup paparannya, Prof. Mu’ti menegaskan bahwa misi kekhalifahan harus melahirkan rahmat, bukan kerusakan. Ia merujuk pada dua sifat Allah yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, sebagai teladan kepemimpinan. 

“Sebagai khalifah, manusia harus menghadirkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi seluruh alam,” ujarnya.

Melalui kajian tersebut, peserta diajak memahami bahwa tugas kekhalifahan bukan sekadar konsep teologis, melainkan panggilan untuk membangun peradaban berbasis ilmu, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Wagub Emil Elestianto Dardak: Ekoteologi Bukan Teori, tapi Tanggung Jawab Menjaga Bumi

Kegiatan Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember pada Sabtu (21/2/2026), menghadirkan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang mewakili Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Dalam sambutannya, Emil menegaskan bahwa tema Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan bukan sekadar wacana akademik, melainkan refleksi mendalam atas tanggung jawab manusia menjaga bumi sebagai amanah Tuhan.

Menurutnya, sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila, khususnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, menjaga alam merupakan bagian dari pengamalan ajaran agama. Ia mengingatkan bahwa bumi dan alam semesta adalah anugerah terbaik dari Allah SWT yang harus dirawat dengan penuh rasa syukur.

“Konsep manusia sebagai khalifah di muka bumi mengandung makna tanggung jawab. Pertanyaannya adalah, apa yang akan kita isi dalam kehidupan ini? Tentu bagaimana menunjukkan rasa syukur dengan menjaga bumi yang kita tempati,” ujarnya di hadapan peserta kajian.

Emil menilai pengangkatan tema ekoteologi di bulan Ramadhan sangat relevan. Momentum spiritual tidak hanya dimaknai sebagai peningkatan ibadah personal, tetapi juga sebagai ruang refleksi kolektif untuk memperkuat kepedulian ekologis dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi peran Muhammadiyah dalam membangun pendidikan di Jawa Timur. Ia menyebut terdapat ribuan lembaga pendidikan Muhammadiyah dari tingkat usia dini hingga perguruan tinggi yang turut berkontribusi mencerdaskan bangsa. Menurutnya, tugas mencerdaskan kehidupan bangsa tidak dapat sepenuhnya ditanggung pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah.

Selain isu lingkungan, Emil turut menyinggung perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), yang berkembang pesat di dunia. Ia menilai era disrupsi teknologi menuntut lahirnya generasi muda yang tangguh, berakhlak, dan memiliki nasionalisme kuat.

“AI adalah produk manusia yang bisa berkembang luar biasa. Pertanyaannya, mau dibawa ke mana kita ke depan? Karena itu, kita butuh generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki spiritualitas dan nasionalisme yang kuat,” tegasnya.

Emil berharap amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan terus melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman, sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Ia juga mendoakan agar seluruh pengurus dan warga Muhammadiyah diberikan kelancaran dalam pengabdian untuk memajukan peradaban di Jawa Timur.

Sabtu, 21 Februari 2026

Haedar Nashir Kritik Kapitalisme Serakah yang Menghancurkan Bumi dalam Kajian Ramadhan di Unmuh Jember

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa konsep ekoteologi dalam Islam bermakna membangun tanpa merusak lingkungan. Hal tersebut disampaikannya secara hybrid melalui Zoom Meeting dalam Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu (21/2/2026).

Dalam iftitahnya, Haedar menjelaskan bahwa manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki mandat ilahiah untuk memakmurkan bumi (isti’mar), bukan membiarkannya terbengkalai ataupun merusaknya. Bumi dengan segala kekayaan di dalamnya laut, daratan, mineral, hingga sumber energi diberikan Allah untuk dikelola demi kesejahteraan hidup manusia. Namun, ia menegaskan bahwa proses memakmurkan tersebut harus berjalan dalam koridor nilai Islam, yakni membangun tanpa melakukan kerusakan.

“Bangunlah, makmurkan, manfaatkan, kelola, tetapi jangan dirusak. Itulah konsep dasarnya,” tegasnya.

Haedar mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada dua kutub ekstrem. Di satu sisi, ada pendekatan eksploitatif yang rakus dan serakah hingga menimbulkan kerusakan ekologis. Di sisi lain, ada pandangan yang membiarkan alam tanpa pengelolaan demi alasan kelestarian, namun mengabaikan kesejahteraan manusia. Menurutnya, peradaban tidak mungkin dibangun tanpa kemakmuran dan kesejahteraan.

“Ekoteologi bukan teologi yang melarang membangun agar tidak rusak. Tetapi membangun dengan kesadaran agar tidak merusak,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya regulasi yang baik serta political will negara dalam mengelola sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan. Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam melimpah harus mampu membangun kesejahteraan rakyat tanpa mengorbankan lingkungan. Namun, ia mengakui bahwa ikhtiar tersebut tidak mudah dan membutuhkan kecerdasan kolektif, konsep alternatif, serta sinergi antara masyarakat dan negara.

Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah berada pada posisi strategis sebagai gerakan keagamaan dan kemasyarakatan untuk berkontribusi melalui pendidikan, sosial, kesehatan, dan penguatan ekonomi umat. Ia menilai kekuatan ekonomi menjadi faktor penting dalam membangun peradaban, sehingga pengembangan sumber daya manusia dan kemandirian ekonomi harus berjalan beriringan dengan kesadaran ekologis.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa persoalan lingkungan selalu memiliki keterkaitan erat dengan aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Ia mencontohkan kasus-kasus pertambangan yang menimbulkan bencana, namun di sisi lain menjadi sumber mata pencaharian warga. Karena itu, pendekatan penyelesaian masalah harus komprehensif dan interrelasional, tidak parsial.

“Lingkungan harus tetap terjaga, tetapi juga memberi kesejahteraan bagi masyarakat. Di situlah fungsi kekhalifahan kita, membangun keseimbangan,” ungkapnya.

Mengakhiri pesannya, Haedar mengajak seluruh peserta Kajian Ramadhan untuk menjadikan perspektif Al-Qur’an sebagai dasar dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan kebangsaan, termasuk krisis lingkungan. Ia menegaskan bahwa dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan, sehingga pembangunan harus dilakukan dengan ihsan dan tanggung jawab moral.

“Bangunlah dengan ihsan, bangunlah dengan Islam, tetapi jangan merusak. Itulah ekoteologi yang sesungguhnya,” pungkasnya.

Ketua PWM Jatim Tegaskan Ekoteologi Jadi Gerakan Nyata Muhammadiyah Jaga Lingkungan

Sukadiono selaku Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menegaskan bahwa tema “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” dalam Kajian Ramadhan 1447 H yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember bukan sekadar wacana akademik, melainkan respons atas situasi ekologis yang tengah dihadapi bangsa. Hal tersebut ia sampaikan saat membuka secara resmi rangkaian kajian yang dihadiri pimpinan daerah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Sukadiono menekankan pentingnya penggunaan istilah “kekhalifahan” sebagai mandat manusia untuk merawat dan menjaga bumi, bukan “kekhilafahan” yang memiliki konotasi berbeda. Menurutnya, konsep khalifah dalam Al-Qur’an menegaskan tanggung jawab manusia untuk menjaga keberlangsungan alam, bukan merusaknya. Ia mengaitkan tema tersebut dengan berbagai bencana yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang dinilainya tidak lepas dari persoalan deforestasi dan kerusakan lingkungan.

“Pendekatan ekoteologi artinya bagaimana kita mengintegrasikan ajaran Islam dengan tanggung jawab menjaga lingkungan. Tugas kita sebagai khalifah adalah merawat, menjaga, dan memastikan keberlangsungan alam di sekitar kita,” ujarnya.

Sukadiono menegaskan bahwa berbagai kerusakan di darat dan laut sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an merupakan peringatan atas ulah manusia. Karena itu, ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah menjadikan kesadaran ekologis sebagai bagian dari ibadah sehari-hari, termasuk hal-hal sederhana seperti menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan saat kegiatan berlangsung.

Menurutnya, jika kesadaran ekologis tersebut menjadi budaya kolektif, maka dampaknya akan terasa dalam jangka panjang terhadap kelestarian lingkungan dan upaya mitigasi bencana. Ia berharap melalui forum Kajian Ramadhan ini lahir komitmen bersama untuk menjadikan ekoteologi sebagai gerakan nyata Muhammadiyah di Jawa Timur.

Dalam kesempatan tersebut, Sukadiono juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Muhammadiyah Jember sebagai tuan rumah. Ia menyebut menjadi tuan rumah Kajian Ramadhan merupakan sebuah keberkahan tersendiri bagi perguruan tinggi. Bahkan secara berseloroh ia menyampaikan harapan agar Unmuh Jember terus berkembang, termasuk memiliki fakultas-fakultas strategis di masa mendatang.

Selain itu, ia mengumumkan bahwa Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur tahun 2027 akan diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Gresik bekerja sama dengan PDM Gresik. Sementara Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur 2027 direncanakan berlangsung di Universitas Muhammadiyah Lamongan.

Menutup pengantarnya, Sukadiono secara resmi membuka Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur dengan harapan seluruh rangkaian kegiatan dapat menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan peran Muhammadiyah dalam menjaga bumi sebagai amanah kekhalifahan.

Connect