Rabu, 25 Februari 2026

Upaya Deteksi Dini Penyakit, Mahasiswa KKN Unmuh Jember Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Buruh Edamame dan Okra

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 05 Universitas Muhammadiyah Jember menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi buruh edamame dan okra di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, pada Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap kesehatan masyarakat, khususnya pekerja sektor pertanian yang rentan mengabaikan pemeriksaan rutin.

Program ini difokuskan pada deteksi dini penyakit tidak menular, terutama hipertensi dan diabetes. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah secara cuma-cuma. Kegiatan yang dimulai sejak sore hari tersebut diikuti oleh 10 buruh dari berbagai rentang usia, yang tampak antusias mengikuti rangkaian pemeriksaan.

Ketua pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa pemeriksaan ini bertujuan membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini. Ia menuturkan bahwa banyak kasus tekanan darah tinggi dan gula darah yang tidak terdeteksi karena kurangnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan berkala. “Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya, terutama bagi para pekerja yang aktivitasnya padat setiap hari,” ujarnya.

Selain pemeriksaan, mahasiswa juga memberikan edukasi singkat mengenai pentingnya pola hidup sehat, seperti menjaga asupan makanan bergizi seimbang, meningkatkan aktivitas fisik, serta rutin memeriksakan kesehatan. Edukasi ini diharapkan dapat menjadi langkah preventif agar risiko penyakit tidak menular dapat ditekan.

Dari hasil pemeriksaan, ditemukan bahwa 3 dari 10 peserta memiliki tekanan darah di atas batas normal, sementara 2 peserta lainnya menunjukkan kadar gula darah yang tinggi. Temuan tersebut menjadi perhatian sekaligus pengingat akan pentingnya kesadaran kesehatan di kalangan pekerja sektor informal.

Salah seorang peserta mengaku bersyukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menyampaikan bahwa ini merupakan pertama kalinya ia memeriksakan tekanan darah. Menurutnya, layanan yang mudah diakses dan tanpa biaya sangat membantu, mengingat keterbatasan waktu dan akses fasilitas kesehatan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Desa Jubung terhadap pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan rutin. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat.

Aksi Tanggap Darurat Mahasiswa Ners Unmuh Jember Bantu Korban Banjir di Curahmalang

Respons cepat ditunjukkan mahasiswa Profesi Ners A16 Kelompok 3B Universitas Muhammadiyah Jember dalam membantu korban banjir yang melanda Desa Curahmalang, Kamis malam (12/2/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Banjir yang menggenangi Dusun Krajan, Gumawang, dan Gumuksari memaksa warga meninggalkan rumah demi keselamatan.

Dalam situasi darurat tersebut, mahasiswa berkolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Satpol PP, serta mahasiswa Unmuh Jember yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sinergi lintas sektor ini difokuskan pada percepatan evakuasi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan warga dengan kondisi kesehatan khusus.

Para pengungsi dievakuasi ke Desa Gumelar dan ditempatkan di masjid setempat sebagai lokasi pengungsian sementara. Di lokasi tersebut, mahasiswa turut melakukan pemantauan kondisi kesehatan, membantu distribusi makanan dan obat-obatan, serta memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi selama masa tanggap darurat.

Keesokan harinya, Jumat (13/2/2026), setelah debit air mulai surut, mahasiswa kembali membantu pemindahan kelompok rentan dari masjid Desa Gumelar menuju dapur umum di masjid Desa Rowotamtu. Langkah ini dilakukan untuk mempermudah distribusi logistik dan pelayanan kebutuhan harian para pengungsi.

Tak hanya terlibat dalam proses evakuasi, mahasiswa Ners juga turun langsung membantu kerja bakti membersihkan Balai Desa Curahmalang yang terdampak banjir. Bersama perangkat desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas, mereka bergotong royong memulihkan fasilitas umum agar segera dapat digunakan kembali untuk pelayanan masyarakat.

Kepala Urusan Perencanaan Desa Curahmalang, Eki Ardiansyah, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan mahasiswa dalam masa tanggap darurat hingga pascabencana. Ia menjelaskan bahwa genangan air sempat bertahan beberapa hari setelah puncak banjir, sehingga aktivitas warga belum sepenuhnya pulih. “Alhamdulillah, pada masa tanggap darurat hingga pascabencana kami menerima banyak bantuan. Mahasiswa profesi Ners turut berperan aktif baik saat penanganan bencana maupun fase pasca banjir. Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kepedulian seluruh pihak,” ujarnya.

Melalui keterlibatan aktif ini, mahasiswa Profesi Ners Unmuh Jember tidak hanya mengaplikasikan kompetensi keperawatan komunitas dan kegawatdaruratan, tetapi juga meneguhkan nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi situasi darurat di tengah masyarakat.

Unmuh Jember Gelar Pelatihan Dokter Kecil di SD Muhammadiyah 1 Jember, Tanamkan Budaya Hidup Sehat Sejak Dini

Upaya menanamkan perilaku hidup sehat sejak usia sekolah dasar kembali dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Jember melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Implementasi Health Promotion Model Melalui Pemberdayaan Dokter Kecil untuk Meningkatkan Perilaku Hidup Sehat.” Kegiatan ini diselenggarakan di SD Muhammadiyah 1 Jember pada Jumat (13/2/2026).

Pelatihan dokter kecil ini dibuka secara resmi oleh Wakil Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Jember, Ibu Danik Prastiyani, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap siswa yang mengikuti pelatihan mampu menjadi pelopor hidup sehat sekaligus teladan bagi teman-temannya di lingkungan sekolah.

Kegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan siswa yang meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, tes buta warna, serta pemeriksaan visus mata untuk mengetahui ketajaman penglihatan. Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi kondisi kesehatan sejak dini sekaligus meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh.

Selanjutnya, peserta mendapatkan pemaparan materi mengenai konsep dan peran dokter kecil yang disampaikan oleh Ns. Sri Wahyuni Adriani, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.Kom. Materi menekankan pentingnya pemberdayaan siswa dalam membangun budaya hidup bersih dan sehat di sekolah, mulai dari kebiasaan mencuci tangan hingga kepedulian terhadap kondisi kesehatan teman sebaya.

Kegiatan pengabdian ini diketuai oleh Ns. Sri Wahyuni Adriani dengan anggota tim pengusul Dr. Hana Puspita Eka Firdaus, S.Pd., M.Pd., serta didukung oleh tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember yang turut aktif dalam pelaksanaan kegiatan.

Pada sesi praktik, siswa mengikuti simulasi pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), penanganan tersedak, pingsan, dan mimisan. Para peserta juga mempraktikkan cara mencuci tangan dan menggosok gigi yang benar sesuai standar kesehatan. Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme, dengan siswa aktif bertanya dan mencoba langsung setiap simulasi yang diberikan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan program dokter kecil dapat berjalan secara berkelanjutan dan mampu membentuk generasi yang sadar kesehatan, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di rumah dan masyarakat sekitar.

Selasa, 24 Februari 2026

Fakultas Pertanian Unmuh Jember Berdayakan LKSA Nurul Husna Lewat Aquaponik, Dukung Kemandirian Pangan dan Ekonomi

Komitmen terhadap kemandirian pangan dan penguatan ekonomi lembaga sosial kembali diwujudkan oleh Universitas Muhammadiyah Jember. Melalui program hibah RISETMU, dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Pertanian melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pemberdayaan LKSA Nurul Husna Jember melalui Pemanfaatan Lahan Berbasis Aquaponik (Kangkung, Ikan Lele, dan Ikan Nila) untuk Mendukung Kemandirian Pangan B2SA dan Ekonomi Lembaga” pada Minggu (15/2/2026). Kegiatan ini berlangsung di LKSA Nurul Husna Jember, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember.

Program ini mengoptimalkan lahan yang tersedia di lingkungan LKSA melalui sistem aquaponik terpadu yang mengombinasikan budidaya kangkung dengan ikan lele dan ikan nila. Sistem aquaponik dipilih karena hemat air, ramah lingkungan, serta mampu menghasilkan pangan hewani dan nabati secara bersamaan dalam satu ekosistem budidaya yang berkelanjutan.

Ketua pelaksana kegiatan, Ir. Wiwit Widiarti, M.P., menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan konsumsi internal lembaga, tetapi juga dirancang sebagai sarana edukasi kewirausahaan. “Melalui sistem aquaponik, mitra tidak hanya belajar teknik budidaya, tetapi juga manajemen produksi hingga pengolahan hasil untuk meningkatkan nilai tambah,” ujarnya.

Sebagai bentuk hilirisasi produk, hasil panen ikan lele dan ikan nila diolah menjadi nugget ikan yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dan daya simpan lebih lama. Sementara itu, kangkung segar dikreasikan menjadi stik kangkung yang inovatif, kompetitif, dan memiliki potensi pasar. Pendekatan ini mendorong terciptanya konsep pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) sekaligus membuka peluang usaha produktif bagi lembaga.

Pelatihan yang diberikan mencakup teknik budidaya kangkung aquaponik dan perawatan sistem, manajemen pakan dan kualitas air, teknik pengolahan nugget ikan dan stik kangkung, pengemasan produk yang higienis dan menarik, analisis usaha sederhana, hingga pemanfaatan media sosial untuk memperluas jaringan pemasaran. Dengan pendekatan komprehensif ini, pengelola dan anak-anak asuh tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga wawasan kewirausahaan yang aplikatif.

Program ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana berbasis ilmu pengetahuan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Melalui kolaborasi akademisi dan lembaga sosial, langkah pemberdayaan di LKSA Nurul Husna diharapkan menjadi inspirasi bagi lembaga lainnya dalam membangun kemandirian pangan dan ekonomi secara berkelanjutan.

Minggu, 22 Februari 2026

Abdul Mu'ti di Kajian Ramadhan PWM Jatim di Unmuh Jember, Bahas Supremasi Ilmu Jadi Kunci Manusia sebagai Khalifah

Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) pada Sabtu (21/2/2026) menghadirkan Prof. Abdul Mu’ti yang mengupas secara mendalam konsep manusia sebagai khalifah dalam perspektif keislaman dan pendidikan. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi tidak bisa dilepaskan dari ilmu pengetahuan.

Menurutnya, dalam sejarah Islam, istilah khalifah selalu dikaitkan dengan kepemimpinan yang tidak hanya bersifat pemerintahan (government), tetapi juga memiliki otoritas keagamaan. Para pemimpin pasca Khulafaur Rasyidin menggunakan berbagai gelar seperti khalifah, sultan, atau malik, namun esensinya tetap merujuk pada tanggung jawab memimpin umat dengan landasan nilai-nilai agama.

Prof. Mu’ti menjelaskan bahwa manusia diangkat menjadi khalifah bukan semata-mata karena kesalehan ritual, tetapi karena kapasitas intelektualnya. Ia merujuk pada kisah penciptaan Nabi Adam, ketika Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam sebuah simbol ilmu pengetahuan yang tidak mampu dijawab oleh malaikat. 

“Adam menjadi khalifah karena ilmunya. Dari sinilah Islam menempatkan supremasi ilmu di atas sekadar kesalehan ibadah,” tegasnya.

Ia menguraikan bahwa manusia memiliki tiga potensi utama sebagai makhluk rohaniah, yakni akal (fitratul ‘aql), hati (fitratul qalb), dan fitrah beragama (fitrah ad-din). Ketiganya menjadi perangkat yang membimbing manusia dalam mengelola nafsu dan menjalankan tanggung jawab kekhalifahan. Tanpa pengelolaan yang benar, nafsu dapat menjerumuskan pada kerusakan; namun jika dituntun oleh akal dan agama, ia menjadi energi untuk menciptakan kesejahteraan.

Dalam konteks pendidikan, Prof. Mu’ti menekankan dua fungsi utama pendidikan: fungsi konservatif dan progresif. Fungsi konservatif menjaga dan mewariskan nilai-nilai fundamental seperti tauhid dan akhlak mulia. Sementara fungsi progresif membekali generasi dengan kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan visioner agar mampu menjawab tantangan zaman.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan ilmu dan teknologi termasuk rekayasa genetika dan kecerdasan buatan harus tetap berada dalam koridor etika dan ketentuan Ilahi. Manusia memang mampu berinovasi, namun tetap memiliki batas sebagai hamba (‘abdullah). Di sinilah keseimbangan antara peran sebagai khalifah dan sebagai hamba menjadi penting.

Menutup paparannya, Prof. Mu’ti menegaskan bahwa misi kekhalifahan harus melahirkan rahmat, bukan kerusakan. Ia merujuk pada dua sifat Allah yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, sebagai teladan kepemimpinan. 

“Sebagai khalifah, manusia harus menghadirkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi seluruh alam,” ujarnya.

Melalui kajian tersebut, peserta diajak memahami bahwa tugas kekhalifahan bukan sekadar konsep teologis, melainkan panggilan untuk membangun peradaban berbasis ilmu, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Wagub Emil Elestianto Dardak: Ekoteologi Bukan Teori, tapi Tanggung Jawab Menjaga Bumi

Kegiatan Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember pada Sabtu (21/2/2026), menghadirkan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang mewakili Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Dalam sambutannya, Emil menegaskan bahwa tema Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan bukan sekadar wacana akademik, melainkan refleksi mendalam atas tanggung jawab manusia menjaga bumi sebagai amanah Tuhan.

Menurutnya, sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila, khususnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, menjaga alam merupakan bagian dari pengamalan ajaran agama. Ia mengingatkan bahwa bumi dan alam semesta adalah anugerah terbaik dari Allah SWT yang harus dirawat dengan penuh rasa syukur.

“Konsep manusia sebagai khalifah di muka bumi mengandung makna tanggung jawab. Pertanyaannya adalah, apa yang akan kita isi dalam kehidupan ini? Tentu bagaimana menunjukkan rasa syukur dengan menjaga bumi yang kita tempati,” ujarnya di hadapan peserta kajian.

Emil menilai pengangkatan tema ekoteologi di bulan Ramadhan sangat relevan. Momentum spiritual tidak hanya dimaknai sebagai peningkatan ibadah personal, tetapi juga sebagai ruang refleksi kolektif untuk memperkuat kepedulian ekologis dan keberlanjutan lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi peran Muhammadiyah dalam membangun pendidikan di Jawa Timur. Ia menyebut terdapat ribuan lembaga pendidikan Muhammadiyah dari tingkat usia dini hingga perguruan tinggi yang turut berkontribusi mencerdaskan bangsa. Menurutnya, tugas mencerdaskan kehidupan bangsa tidak dapat sepenuhnya ditanggung pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi dengan organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah.

Selain isu lingkungan, Emil turut menyinggung perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), yang berkembang pesat di dunia. Ia menilai era disrupsi teknologi menuntut lahirnya generasi muda yang tangguh, berakhlak, dan memiliki nasionalisme kuat.

“AI adalah produk manusia yang bisa berkembang luar biasa. Pertanyaannya, mau dibawa ke mana kita ke depan? Karena itu, kita butuh generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki spiritualitas dan nasionalisme yang kuat,” tegasnya.

Emil berharap amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan terus melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman, sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Ia juga mendoakan agar seluruh pengurus dan warga Muhammadiyah diberikan kelancaran dalam pengabdian untuk memajukan peradaban di Jawa Timur.

Sabtu, 21 Februari 2026

Haedar Nashir Kritik Kapitalisme Serakah yang Menghancurkan Bumi dalam Kajian Ramadhan di Unmuh Jember

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa konsep ekoteologi dalam Islam bermakna membangun tanpa merusak lingkungan. Hal tersebut disampaikannya secara hybrid melalui Zoom Meeting dalam Kajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu (21/2/2026).

Dalam iftitahnya, Haedar menjelaskan bahwa manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki mandat ilahiah untuk memakmurkan bumi (isti’mar), bukan membiarkannya terbengkalai ataupun merusaknya. Bumi dengan segala kekayaan di dalamnya laut, daratan, mineral, hingga sumber energi diberikan Allah untuk dikelola demi kesejahteraan hidup manusia. Namun, ia menegaskan bahwa proses memakmurkan tersebut harus berjalan dalam koridor nilai Islam, yakni membangun tanpa melakukan kerusakan.

“Bangunlah, makmurkan, manfaatkan, kelola, tetapi jangan dirusak. Itulah konsep dasarnya,” tegasnya.

Haedar mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada dua kutub ekstrem. Di satu sisi, ada pendekatan eksploitatif yang rakus dan serakah hingga menimbulkan kerusakan ekologis. Di sisi lain, ada pandangan yang membiarkan alam tanpa pengelolaan demi alasan kelestarian, namun mengabaikan kesejahteraan manusia. Menurutnya, peradaban tidak mungkin dibangun tanpa kemakmuran dan kesejahteraan.

“Ekoteologi bukan teologi yang melarang membangun agar tidak rusak. Tetapi membangun dengan kesadaran agar tidak merusak,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya regulasi yang baik serta political will negara dalam mengelola sumber daya alam secara adil dan berkelanjutan. Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam melimpah harus mampu membangun kesejahteraan rakyat tanpa mengorbankan lingkungan. Namun, ia mengakui bahwa ikhtiar tersebut tidak mudah dan membutuhkan kecerdasan kolektif, konsep alternatif, serta sinergi antara masyarakat dan negara.

Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah berada pada posisi strategis sebagai gerakan keagamaan dan kemasyarakatan untuk berkontribusi melalui pendidikan, sosial, kesehatan, dan penguatan ekonomi umat. Ia menilai kekuatan ekonomi menjadi faktor penting dalam membangun peradaban, sehingga pengembangan sumber daya manusia dan kemandirian ekonomi harus berjalan beriringan dengan kesadaran ekologis.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa persoalan lingkungan selalu memiliki keterkaitan erat dengan aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Ia mencontohkan kasus-kasus pertambangan yang menimbulkan bencana, namun di sisi lain menjadi sumber mata pencaharian warga. Karena itu, pendekatan penyelesaian masalah harus komprehensif dan interrelasional, tidak parsial.

“Lingkungan harus tetap terjaga, tetapi juga memberi kesejahteraan bagi masyarakat. Di situlah fungsi kekhalifahan kita, membangun keseimbangan,” ungkapnya.

Mengakhiri pesannya, Haedar mengajak seluruh peserta Kajian Ramadhan untuk menjadikan perspektif Al-Qur’an sebagai dasar dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan kebangsaan, termasuk krisis lingkungan. Ia menegaskan bahwa dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan, sehingga pembangunan harus dilakukan dengan ihsan dan tanggung jawab moral.

“Bangunlah dengan ihsan, bangunlah dengan Islam, tetapi jangan merusak. Itulah ekoteologi yang sesungguhnya,” pungkasnya.

Connect