Senin, 06 April 2026

FIKES Unmuh Jember Latih Ibu-Ibu PCA Pakusari Tangani Kegawatan Anak di Rumah

Kapasitas keluarga dalam menghadapi kondisi darurat pada anak masih menjadi tantangan di masyarakat. Padahal, sebagian besar kejadian kegawatan anak justru terjadi di rumah sebelum mereka sempat mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan. Kondisi krusial ini menuntut peran aktif orang tua, khususnya ibu, sebagai penolong pertama yang mampu bertindak cepat dan tepat.

Menjawab kebutuhan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat dari Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Ibu sebagai Responder Awal dalam Menangani Kegawatan Anak di Rumah”. Kegiatan yang menggandeng Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Pakusari ini dilaksanakan pada Sabtu (7/2/2026) silam, dan diikuti secara antusias oleh 27 peserta ibu anggota 'Aisyiyah.

Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan kemampuan ibu dalam menangani kondisi kegawatan anak yang sering terjadi di rumah, seperti kejang demam, tersedak, dan diare dengan risiko dehidrasi. Melalui metode penyuluhan interaktif, pelatihan, serta simulasi langsung, peserta dibekali pengetahuan teoretis sekaligus keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selama kegiatan berlangsung, diskursus berjalan sangat aktif dengan berbagai pertanyaan yang berangkat dari pengalaman nyata para ibu. Hal ini menunjukkan betapa relevannya materi pelatihan dengan realitas pengasuhan harian. Tidak hanya meningkatkan pemahaman, kegiatan ini sukses mendorong perubahan pola pikir peserta. Jika sebelumnya banyak ibu yang cenderung panik atau mengandalkan informasi yang belum teruji kebenarannya, setelah pelatihan mereka mengaku menjadi lebih tenang, rasional, dan percaya diri dalam melakukan pertolongan pertama.

Dalam sesi praktik, para ibu dilatih secara langsung untuk melakukan tindakan sederhana namun menyelamatkan nyawa, seperti cara memposisikan anak dengan benar saat terjadi kejang, manuver pertolongan pertama pada anak yang tersedak, hingga takaran pemberian cairan oralit pada anak diare. Keterampilan ini sangat krusial guna mencegah kondisi anak memburuk sebelum mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Dampak dari pelatihan ini tidak hanya dirasakan oleh individu peserta, tetapi berpotensi meluas ke komunitas. Sebagai bentuk tindak lanjut dan keberlanjutan program, kegiatan ini berhasil menginisiasi pembentukan komunitas “Ibu Siaga Anak Sehat” di lingkungan PCA Pakusari. Komunitas ini diharapkan dapat menjadi wadah pembelajaran berkelanjutan sekaligus agen edukasi kesehatan bagi warga sekitar.

Program yang diinisiasi oleh FIKES Unmuh Jember ini menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan ibu sebagai responder awal adalah langkah strategis dalam meningkatkan kesiapsiagaan keluarga. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, seorang ibu tidak hanya berperan sebagai pengasuh, tetapi juga garda terdepan dalam menjaga keselamatan nyawa anak. Ke depan, FIKES Unmuh Jember berharap program serupa dapat diperluas ke berbagai wilayah lain demi menciptakan lebih banyak keluarga yang tangguh dan siaga.

Jumat, 03 April 2026

Meneguhkan Mutu Unggul, Unmuh Jember Rayakan Milad ke-45

Universitas Muhammadiyah Jember merayakan puncak peringatan Milad ke-45 melalui Rapat Terbuka Senat yang digelar dengan khidmat pada Kamis, (2/4/2026) di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember. Mengangkat tema besar Meneguhkan Mutu Unggul, Mewujudkan Kampus Berdampak, momentum peringatan hari jadi ini menjadi tonggak sejarah baru bagi institusi untuk terus bertransformasi dari sekadar penyelenggara pendidikan tinggi menjadi pusat solusi nyata bagi berbagai permasalahan masyarakat dan bangsa.

Berdiri sejak 11 Maret 1981 atas prakarsa tokoh Muhammadiyah Jember, institusi ini telah melewati perjalanan panjang kepemimpinan dan perkembangan akademik. Dalam laporan tahunannya, Rektor Universitas Muhammadiyah Jember, Dr. Hanafi, M.Pd., memaparkan capaian signifikan universitas yang terus melaju pesat. Beliau menyoroti bahwa universitas terus berupaya memperkuat kemandirian ekonomi dan mutu akademik yang terintegrasi secara utuh dalam ekosistem kampus, yang semuanya bermuara pada optimalisasi operasional pendidikan serta pengabdian kepada masyarakat secara berkelanjutan.

Menatap masa depan, Dr. Hanafi mengumumkan rencana strategis yang sangat progresif dalam tahapan pengembangan tahun 2024 hingga 2028. Universitas Muhammadiyah Jember saat ini tengah menginisiasi pendirian sebelas program studi baru untuk menjawab tantangan dan kebutuhan zaman. Program studi tingkat sarjana yang sedang dipersiapkan meliputi Fakultas Kedokteran, Bisnis Digital, Keperawatan Anestesi, dan Fisioterapi. Selain itu, universitas juga tengah mematangkan pembukaan program magister untuk bidang Teknologi Pembelajaran, Ilmu Hukum, Teknik Sipil, Ilmu Pemerintahan, Akuntansi, Pendidikan Agama Islam, serta Elektro dan Teknik Informatika. Ekspansi berskala besar ini diiringi dengan target utama untuk memastikan separuh dari seluruh program studi meraih akreditasi unggul serta mendorong minimal dua program studi mendapatkan pengakuan akreditasi di tingkat internasional.

Semangat transformasi tersebut sangat sejalan dengan gagasan yang dituangkan dalam orasi ilmiah oleh Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Ahmad Muttaqin, S.Ag., M.Ag., M.A., Ph.D. Beliau menekankan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah kini harus bertransformasi menjadi kekuatan sistemik di Indonesia. Prof. Muttaqin mengajak seluruh sivitas akademika untuk merombak paradigma institusi agar kemanfaatannya dapat dirasakan secara langsung dan merata oleh masyarakat luas. Menurutnya, kampus yang berdampak adalah institusi yang tidak hanya sekadar meluluskan sarjana, tetapi hadir secara nyata di lapangan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Perguruan tinggi dituntut untuk tidak sekadar menghasilkan publikasi penelitian yang menumpuk di perpustakaan, tetapi mampu mengaplikasikan inovasinya untuk mengubah kehidupan menjadi jauh lebih baik dengan menggeser fokus dari pemenuhan standar menuju keunggulan sejati, serta dari sekadar orientasi kuantitas lulusan menuju dampak yang terukur.

Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kerja keras sivitas akademika dalam mewujudkan visi besar tersebut, universitas turut memberikan sejumlah penghargaan prestisius dalam rangkaian acara ini. Penghargaan Dosen Terbaik dianugerahkan kepada Dr. Hanafi, M.Pd. untuk rumpun sosial humaniora dan Prof. Sasmito Djati untuk rumpun sains dan teknologi, sementara apresiasi untuk Tenaga Kependidikan Terbaik diserahkan langsung oleh Ns. Sasmiyanto, M.Kes. Lebih dari itu, Universitas Muhammadiyah Jember juga memberikan anugerah istimewa berupa Program Bantuan Biaya Perjalanan Ibadah Haji bagi delapan pegawai terpilih, yang terdiri dari empat dosen tetap dan empat tenaga kependidikan. Program penghargaan yang mencakup pembiayaan porsi haji reguler beserta uang saku ini merupakan wujud nyata kepedulian dan apresiasi universitas atas masa kerja pengabdian serta loyalitas para pegawai dalam memajukan institusi menjadi kampus Islam yang unggul dan pembawa perubahan positif.

Kamis, 02 April 2026

Dosen Akuntansi Unmuh Jember Raih Hibah Nasional RisetMu, Angkat Isu Green Investment Perbankan Syariah

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) melalui keberhasilan meraih Hibah RisetMu Batch IX Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Penelitian ini diketuai oleh Dr. Astrid Maharani, S.E., M.Akun., CSRS., CSRA., CSP., CRA., CMA., CBV., dengan anggota tim Ari Sita Nastiti, S.E., M.Akun., dosen Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Riset ini mengusung topik strategis mengenai green investment (investasi hijau) dan dampaknya terhadap nilai perusahaan pada perbankan syariah di Indonesia dengan menggunakan pendekatan mutakhir berupa moderated mediation model, yang mengintegrasikan peran sustainability performance sebagai variabel mediasi serta Islamic corporate governance sebagai variabel moderasi.

Topik ini dinilai sangat relevan dengan perkembangan industri keuangan saat ini, terutama setelah diberlakukannya regulasi keuangan berkelanjutan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam konteks tersebut, green investment tidak lagi sekadar pilihan strategis, melainkan menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing dan reputasi lembaga keuangan, khususnya perbankan syariah. Penelitian ini berangkat dari adanya kesenjangan dalam literatur empiris, di mana hubungan antara green investment dan nilai perusahaan masih menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Oleh karena itu, riset ini hadir untuk menjawab bagaimana mekanisme tersebut bekerja secara lebih komprehensif dengan mempertimbangkan faktor keberlanjutan dan tata kelola berbasis prinsip syariah. Keunggulan penelitian ini terletak pada kebaruan model yang digunakan, yang memberikan kontribusi penting dalam pengembangan ilmu akuntansi, khususnya pada bidang akuntansi keberlanjutan berbasis syariah.

Sebagai bentuk komitmen terhadap luaran ilmiah berkualitas, hasil penelitian ini telah diarahkan untuk dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi. Selain itu, penelitian ini juga tengah dikembangkan menjadi buku referensi ber-ISBN dan ditargetkan memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan memberikan dampak praktis bagi industri perbankan syariah serta regulator dalam merumuskan kebijakan keuangan berkelanjutan. Model yang dihasilkan berpotensi menjadi dasar dalam pengembangan sistem akuntansi keberlanjutan yang selaras dengan nilai-nilai syariah dan kebutuhan industri keuangan modern. Keberhasilan ini semakin memperkuat posisi Prodi Akuntansi Unmuh Jember sebagai salah satu pusat pengembangan riset unggulan di bidang ekonomi dan akuntansi, sekaligus menunjukkan komitmen institusi dalam mendorong inovasi dan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Senin, 30 Maret 2026

Mahasiswa Unmuh Jember Dilatih Berbicara Percaya Diri di Forum Internasional

 

Kemampuan berbicara di depan publik dan menyampaikan gagasan ilmiah secara efektif menjadi fokus utama sesi keempat International Partnership Collaborative Extension Program yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) bersama Ifugao State University (IFSU), Filipina. Berlangsung pada Kamis (12/03/2026) secara daring melalui Zoom Meeting, sesi bertema Public Speaking and Academic Presentation Skills ini menjadi salah satu yang paling ditunggu dan terbukti menjadi yang paling interaktif sepanjang program berlangsung.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB atau 09.00 Philippine Time dan dihadiri oleh 90 peserta, jumlah tertinggi sejak program ini bergulir. Mereka berasal dari mahasiswa dan dosen Unmuh Jember, IFSU, serta sejumlah peserta dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang turut bergabung memperkaya dinamika diskusi.

Dua narasumber tampil membawakan perspektif yang saling melengkapi. Sesi pertama dibuka oleh Mary Grace Acosta Santiago dari College of Teacher Education, Ifugao State University, dengan materi Public Speaking Across Culture. Dalam pemaparannya, Santiago membawa peserta memahami bahwa kemampuan berbicara di depan publik jauh lebih dari sekadar soal kelancaran berbahasa atau teknik penyampaian pesan. Ada dimensi budaya yang tak kalah penting untuk dipahami.

Santiago menjelaskan bahwa gaya komunikasi, ekspresi nonverbal, penggunaan jeda, hingga struktur logis dalam menyampaikan argumen dapat berbeda secara signifikan antara satu budaya dan budaya lainnya. Apa yang dianggap tegas dan meyakinkan dalam satu konteks budaya bisa dipersepsi berbeda dalam konteks budaya yang lain. Oleh karena itu, mahasiswa yang bercita-cita tampil di forum internasional perlu membekali diri bukan hanya dengan kemampuan teknis berbicara, tetapi juga dengan kepekaan dan kesadaran budaya yang mendalam.

Sesi dilanjutkan oleh Dr. Dian Rahma Santoso, M.Pd. dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dengan materi Academic Presentation Skills. Dr. Dian memandu peserta melalui anatomi presentasi akademik yang efektif, mulai dari cara merumuskan ide utama yang tajam, mengembangkan argumen yang kohesif dan meyakinkan, hingga memilih dan menyusun media visual yang mendukung pesan tanpa mengalihkan perhatian audiens.

Tak berhenti di situ, Dr. Dian juga membahas aspek-aspek yang sering menjadi tantangan bagi mahasiswa: bagaimana mengelola rasa gugup sebelum dan saat presentasi, menjaga kontak mata dengan audiens tanpa membuat diri sendiri gelisah, serta membangun kepercayaan diri yang tumbuh dari persiapan yang matang, bukan dari kepura-puraan. Tips-tips praktis yang dibagikannya disambut antusias oleh peserta yang merasa mendapat panduan konkret yang selama ini mereka cari.

Puncak dari sesi ini adalah kesempatan yang diberikan kepada peserta untuk langsung mempraktikkan apa yang mereka pelajari melalui simulasi presentasi akademik singkat. Satu per satu, peserta tampil menyampaikan gagasan di hadapan rekan-rekan dari dua negara, lalu mendapatkan umpan balik langsung dari narasumber. Momen ini menjadi ruang latihan yang berharga, tidak hanya untuk mengasah teknik, tetapi juga untuk membiasakan diri tampil di depan audiens internasional dalam suasana yang suportif.

Diskusi yang berlangsung setelah sesi simulasi semakin memperlihatkan kedalaman ketertarikan peserta terhadap topik ini. Berbagai pertanyaan praktis mengalir: bagaimana mempersiapkan diri untuk presentasi di konferensi internasional, strategi terbaik dalam mengelola waktu presentasi agar pesan tersampaikan tuntas tanpa melampaui batas waktu, serta cara menyesuaikan gaya penyampaian ketika berhadapan dengan audiens dari latar belakang budaya yang beragam.

"Sesi ini membantu saya memahami bagaimana menyampaikan gagasan secara jelas dalam forum akademik internasional," ungkap salah satu mahasiswa IFSU setelah kegiatan berakhir.

Dari pihak Unmuh Jember, seorang peserta menyampaikan, "Materi tentang public speaking sangat membantu saya untuk lebih percaya diri ketika harus presentasi di depan kelas maupun forum akademik."

Seorang peserta lain menambahkan, "Saya belajar bahwa pemahaman budaya sangat penting ketika berbicara di hadapan audiens internasional."

Peningkatan partisipasi yang konsisten dari sesi ke sesi, dari 60 peserta di sesi pertama hingga 90 peserta di sesi keempat ini, menjadi indikator yang berbicara sendiri. Program yang awalnya mempertemukan dua institusi kini telah berkembang menjadi ruang belajar yang semakin banyak diminati, karena peserta merasakan langsung manfaat nyata yang mereka bawa pulang setelah setiap pertemuan.

Dengan dua sesi tersisa yang akan memuncak pada proyek kolaboratif mahasiswa lintas negara dan sesi refleksi evaluasi bersama, program ini terus melangkah menuju penyelesaian yang diharapkan tidak hanya meninggalkan kenangan baik, tetapi juga dokumen kerja sama resmi dan artikel ilmiah yang akan menjadi warisan akademik dari kolaborasi bersejarah antara Unmuh Jember dan Ifugao State University.

Linguistik Bukan Sekadar Teori: Unmuh Jember dan IFSU Buktikan Relevansinya dalam Pengajaran Bahasa Global

Sesi ketiga dalam rangkaian International Partnership Collaborative Extension Program yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) dan Ifugao State University (IFSU), Filipina, kembali mencatat partisipasi yang terus meningkat. Berlangsung pada Sabtu (07/03/2026) secara daring melalui platform Zoom Meeting, sesi ini mengangkat tema Linguistics and Language Teaching, sebuah topik yang langsung menyentuh jantung bidang studi sebagian besar peserta yang hadir.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB atau 09.00 Philippine Time dan kali ini dihadiri oleh 87 peserta, naik secara signifikan dibandingkan sesi-sesi sebelumnya. Para peserta berasal dari kalangan mahasiswa dan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa, Linguistik, dan Pendidikan Guru dari kedua institusi. Peningkatan jumlah peserta ini sekaligus mencerminkan tumbuhnya kepercayaan dan antusiasme terhadap program yang kini telah berjalan tiga sesi.

Sesi pertama dibawakan oleh Jhon Nery S. Martin dari College of Teacher Education, Ifugao State University, dengan judul materi Empowering Global Educators: Linguistics Meets Classroom Practice. Dalam pemaparannya, Martin menekankan bahwa pemahaman mendalam terhadap cabang-cabang ilmu linguistik, mulai dari fonologi, morfologi, sintaksis, hingga pragmatik, bukanlah bekal yang hanya relevan di ruang kuliah teori. Sebaliknya, penguasaan terhadap prinsip-prinsip linguistik dapat secara langsung membantu seorang pendidik merancang strategi pembelajaran bahasa yang lebih efektif, komunikatif, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.

Martin juga mengajak peserta memahami bagaimana pendekatan linguistik dapat menjadi alat untuk memupuk kemampuan berpikir kritis dan analitis mahasiswa dalam memandang bahasa bukan sekadar sebagai alat komunikasi sehari-hari, melainkan sebagai sistem yang kompleks dan sarat makna. Di tangan seorang pendidik yang memahami linguistik, sebuah kelas bahasa bisa berubah menjadi ruang eksplorasi intelektual yang hidup.

Sesi kedua menampilkan Dr. Astri Widyaruli Anggraeni, M.A., Ketua Program PKMKI sekaligus dosen dari FKIP Unmuh Jember, dengan materi Bridging Linguistics, Communication, and Global Language Pedagogy. Dr. Astri membawa diskusi ke dimensi yang lebih luas: bagaimana linguistik, komunikasi akademik, dan pedagogi bahasa global saling berkelindan dalam praktik pengajaran bahasa masa kini.

Ia menegaskan bahwa pembelajaran bahasa tidak bisa lagi dipersempit hanya pada penguasaan struktur gramatikal. Di era globalisasi yang menuntut interaksi lintas budaya, seorang pengajar bahasa perlu membekali mahasiswanya dengan kemampuan berkomunikasi yang peka terhadap konteks sosial dan budaya. Dr. Astri juga membagikan contoh-contoh konkret bagaimana pendekatan pragmatik dan komunikasi lintas budaya diterapkan dalam pengajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di lingkungan akademik internasional.

Sesi diskusi yang mengikuti kedua pemaparan berlangsung dengan sangat dinamis. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari peserta, menyentuh isu-isu yang sangat relevan dengan realitas di lapangan: bagaimana mengajar bahasa di kelas multilingual yang peserta didiknya memiliki latar belakang linguistik berbeda-beda, strategi apa yang paling efektif dalam mendampingi mahasiswa internasional menguasai bahasa baru, serta seberapa besar peran kesadaran budaya dalam proses pembelajaran bahasa asing.

Hasil observasi selama sesi berlangsung menunjukkan bahwa kedekatan tema dengan bidang studi peserta menjadi faktor kunci tingginya tingkat keterlibatan. Mahasiswa yang sehari-harinya bergelut dengan ilmu bahasa menemukan relevansi langsung antara apa yang mereka pelajari di kelas dan apa yang dipaparkan oleh para narasumber.

"Sesi ini membantu saya memahami bahwa linguistik bukan hanya bersifat teoritis, tetapi juga sangat praktis dalam pengajaran bahasa," kata salah satu mahasiswa IFSU yang mengikuti sesi tersebut.

Hal senada disampaikan peserta dari Unmuh Jember. "Saya jadi lebih memahami bagaimana linguistik dapat membantu guru menjelaskan struktur bahasa dengan lebih mudah kepada siswa," ujarnya.

Seorang mahasiswa lain dari IFSU menambahkan, "Diskusi tentang pedagogi bahasa global sangat menginspirasi bagi kami yang akan menjadi pendidik di masa depan."

Refleksi-refleksi itu bukan sekadar ungkapan sopan di akhir sesi. Mereka adalah bukti bahwa ketika dua institusi dengan tradisi akademik yang berbeda duduk bersama untuk mendiskusikan hal yang sama-sama mereka cintai, bahasa dan pengajarannya, yang lahir bukan hanya pertukaran pengetahuan, tetapi juga percikan inspirasi yang bisa mengubah cara seorang calon pendidik memandang perannya di masa depan.

Sesi ketiga ini sekaligus semakin mempertegas pola yang terbentuk sepanjang program: setiap pertemuan tidak hanya meninggalkan pengetahuan baru, tetapi juga mempererat hubungan antara Unmuh Jember dan IFSU sebagai dua institusi yang berbagi visi dalam memajukan pendidikan bahasa di tingkat global.

Belajar Saling Menjaga Warisan Budaya, Mahasiswa Unmuh Jember dan Filipina Temukan Banyak Kesamaan

Kegiatan sesi kedua dalam rangkaian International Partnership Collaborative Extension Program yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) bersama Ifugao State University (IFSU), Filipina, kembali berlangsung dengan penuh semangat pada Rabu (05/03/2026). Berbeda dari sesi sebelumnya yang berfokus pada etika akademik, sesi kali ini mengangkat tema yang lebih dekat dengan identitas dan jati diri kedua bangsa: budaya nasional dan pelestarian warisan leluhur.

Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting, dimulai pukul 08.00 WIB atau 09.00 Philippine Time, dan diikuti oleh mahasiswa serta dosen dari kedua institusi. Dua materi utama disajikan secara berurutan dalam sesi yang berlangsung selama dua jam tersebut.

Sesi pertama dibawakan oleh Dr. Leonardo I. Cabauatan dari IFSU dengan topik Introduction to National Culture and History. Dalam pemaparannya, Dr. Cabauatan mengajak peserta untuk menyelami keragaman budaya Filipina, mulai dari sejarah pembentukan identitas nasional, kekayaan tradisi lokal di berbagai wilayah, hingga bagaimana nilai-nilai budaya tersebut terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sesi ini diikuti oleh 60 peserta, terdiri dari 30 mahasiswa Unmuh Jember dan 30 mahasiswa IFSU.

Paparan Dr. Cabauatan langsung memantik diskusi yang hidup. Mahasiswa dari Unmuh Jember aktif mengajukan pertanyaan seputar keberagaman etnis di Filipina dan bagaimana masyarakat di sana menjaga harmoni di tengah perbedaan. Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan ketertarikan yang tulus dari mahasiswa Indonesia terhadap budaya negara tetangga yang selama ini mungkin hanya mereka kenal dari permukaan.

Sesi kedua menghadirkan Kristi Nuraini, S.Pd., M.Pd. dari Unmuh Jember yang membawakan materi Preserving Cultural Heritage in Students' Life. Materi ini mengajak peserta merenungkan peran generasi muda, khususnya mahasiswa, dalam menjaga dan mewariskan budaya lokal di tengah arus modernisasi yang terus mengalir deras. Kristi Nuraini mengupas bagaimana mahasiswa dapat menjadi agen pelestarian budaya bukan hanya melalui kegiatan formal, tetapi juga dalam keseharian dan pilihan-pilihan hidup mereka. Sesi ini mencatat kehadiran 59 peserta dari dua negara.

Apa yang kemudian menjadi momen paling berkesan dari sesi kedua ini adalah penemuan bersama, sebuah kesadaran yang tumbuh secara organik di tengah diskusi, bahwa Indonesia dan Filipina menyimpan banyak kesamaan nilai budaya. Semangat kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan kecintaan terhadap tradisi lokal ternyata bukan milik satu bangsa saja. Temuan ini menjadi pemantik diskusi yang mengalir jauh melampaui waktu yang dijadwalkan.

Mahasiswa dari wilayah Ifugao yang dikenal dengan tradisi pertanian terasering dan kekayaan budaya adat yang kuat menunjukkan ketertarikan besar terhadap konsep budaya Pandalungan yang dipaparkan oleh tim Unmuh Jember, sebuah budaya yang lahir dari akulturasi antara suku Jawa dan Madura di Jawa Timur dan merepresentasikan nilai-nilai toleransi serta keharmonisan multietnis.

"Melalui kegiatan ini saya dapat memahami lebih banyak tentang budaya Filipina dan menyadari bahwa banyak nilai budaya yang sebenarnya mirip dengan budaya Indonesia," ungkap salah satu mahasiswa Unmuh Jember yang hadir dalam sesi tersebut.

Dari sisi lain layar, mahasiswa IFSU pun menyampaikan kesan yang tak kalah dalam. "Sangat menarik untuk melihat bagaimana mahasiswa Indonesia menjaga warisan budaya mereka sembari menjalani kehidupan di kampus. Hal ini memberi saya gagasan baru tentang bagaimana menghargai budaya sendiri," ujar salah satu peserta dari Filipina.

Analisis partisipasi selama kegiatan menunjukkan hasil yang memuaskan. Mahasiswa tidak hanya hadir secara fisik di depan layar, tetapi terlibat aktif dalam diskusi mengenai sejarah dan budaya nasional, berbagi pengalaman mengenai upaya pelestarian budaya lokal di masing-masing daerah, serta merefleksikan peran generasi muda dalam menjaga warisan yang telah diwariskan para pendahulu.

Kegiatan ini juga semakin mempertegas relevansi program PKMKI yang diusung Unmuh Jember, bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi bukan sekadar soal meningkatkan kompetensi akademik, tetapi juga tentang membangun jembatan antarbangsa melalui pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman budaya. Ketika dua bangsa duduk bersama dan menemukan bahwa nilai-nilai yang mereka junjung ternyata banyak yang serupa, itulah saat di mana diplomasi budaya yang sesungguhnya terjadi.

Unmuh Jember dan Ifugao State University Resmi Buka Program Kolaborasi Internasional, Bahas Etika Akademik hingga Kehidupan Kampus

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) resmi memulai program kolaborasi akademik internasional bersama Ifugao State University (IFSU), Filipina, pada Jumat (28/02/2026). Program yang berjalan di bawah skema Program Kemitraan Masyarakat Kolaborasi Internasional (PKMKI) ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan internasionalisasi Unmuh Jember, sekaligus membuka ruang dialog akademik lintas budaya yang selama ini dinantikan oleh mahasiswa dari kedua negara.

Sesi perdana program bertajuk International Partnership Collaborative Extension Program: Exploration and Preservation of Pandalungan Culture Based on Multi-Ethnic Values ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting dan diikuti oleh sekitar 60 peserta, terdiri dari 30 mahasiswa Unmuh Jember dan 30 mahasiswa IFSU. Kegiatan berlangsung pada pukul 08.00 hingga 10.00 WIB, atau setara pukul 09.00 hingga 11.00 waktu Filipina.

Program ini diketuai oleh Dr. Astri Widyaruli Anggraeni, S.S., M.A. dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unmuh Jember, dengan anggota tim Kristi Nuraini, S.Pd., M.Pd., serta dua mahasiswa, dan 2 orang mahasiswa; Charissa Wahyu Qomala Rahma dan Aryanti Nafasatuz Zukhli. Koordinasi awal antara kedua institusi sendiri telah dilakukan sejak Jumat (07/02/2026) untuk menyepakati konsep program, jadwal kegiatan, dan pembagian tugas narasumber.

Sesi pertama pada hari Sabtu (28/02/20260) mengangkat tema Academic Ethics and Formal Communication, disampaikan oleh Dr. Maribel T. De Guzman dari IFSU. Dalam pemaparannya, Dr. De Guzman membahas secara mendalam pentingnya integritas akademik sebagai fondasi kehidupan ilmiah di perguruan tinggi. Ia mengupas konsep academic integrity, etika penulisan ilmiah, hingga standar komunikasi formal yang berlaku dalam lingkungan akademik global.

Tak hanya berhenti pada tataran konseptual, kedua narasumber juga menghadirkan contoh kasus nyata seputar plagiarisme dan berbagai bentuk pelanggaran etika akademik, sembari memberikan panduan praktis bagi mahasiswa agar terhindar dari praktik-praktik tersebut. Selain itu, peserta mendapat pembekalan mengenai cara menulis surat elektronik akademik kepada dosen, etika dalam presentasi ilmiah, serta bagaimana membangun komunikasi profesional saat tampil di forum internasional.

Sesi ini berlangsung interaktif dan hidup. Mahasiswa dari kedua institusi begitu  antusias mengajukan pertanyaan, terutama mengenai persamaan dan perbedaan standar etika akademik yang berlaku di Indonesia dan Filipina. Diskusi yang mengalir hangat itu menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi benar-benar terlibat sebagai peserta yang ingin belajar dan berbagi.

Memasuki  materi kedua, Dr. Astri Widyaruli Anggraeni, M.A yang memaparkan tema Academic life in Indonesian Universities giliran dari Unmuh Jember tampil membawakan materi Academic Life in Indonesian Universities. Sesi ini dirancang untuk memperkenalkan sistem pendidikan tinggi di Indonesia kepada mahasiswa Filipina, sekaligus membuka jendela bagi kedua belah pihak untuk saling memahami dinamika kehidupan kampus di masing-masing negara. Topik yang dibahas mencakup struktur pembelajaran di perguruan tinggi, sistem penilaian akademik, kehidupan mahasiswa di lingkungan kampus, hingga ragam kegiatan organisasi kemahasiswaan.

Yang menarik, sesi ini tidak hanya menyentuh aspek sistem pendidikan secara formal Dr.Astri juga a memperkenalkan nilai-nilai budaya yang melekat dalam kehidupan akademik Indonesia, seperti semangat gotong royong, penghormatan kepada tenaga pengajar, dan tradisi kerja sama dalam kegiatan belajar. Nilai-nilai ini rupanya menjadi titik menarik bagi mahasiswa IFSU yang penasaran dengan cara mahasiswa Indonesia menjalani keseharian di kampus.

"Kegiatan ini sangat menarik karena kami dapat berdiskusi langsung dengan mahasiswa dari negara lain dan belajar tentang budaya serta sistem pendidikan mereka," ujar salah satu mahasiswa Unmuh Jember yang berpartisipasi dalam sesi tersebut.

Ketertarikan mahasiswa IFSU pun tak kalah besar. Mereka aktif mengajukan pertanyaan seputar sistem pembelajaran di Indonesia, kegiatan mahasiswa di luar kelas, hingga bagaimana organisasi kemahasiswaan berperan dalam membentuk karakter dan kompetensi mahasiswa. Interaksi yang terjadi bukan sekadar tanya jawab formal, melainkan percakapan yang tulus antara dua kelompok mahasiswa yang tengah membangun jembatan pemahaman lintas budaya.

Hasil observasi selama kegiatan berlangsung mencatat tingkat partisipasi yang sangat baik dari seluruh peserta. Kehadiran peserta terpantau penuh, diskusi berjalan aktif, dan antusiasme peserta dinilai sangat tinggi sejak menit pertama kegiatan dibuka. Ini menjadi sinyal kuat bahwa program kolaborasi internasional semacam ini memang dibutuhkan dan disambut hangat oleh mahasiswa dari kedua negara.

Sesi perdana ini menjadi awal yang menjanjikan bagi keseluruhan program yang direncanakan berlangsung hingga bulan April 2026. Dengan tujuh sesi yang telah dirancang mencakup topik-topik strategis mulai dari linguistik, komunikasi lintas budaya, public speaking, hingga proyek kolaboratif mahasiswa, program ini diharapkan mampu menjadi model pengembangan kolaborasi internasional berbasis pengabdian masyarakat yang dapat direplikasi oleh program studi lain di lingkungan Unmuh Jember. 

Connect