Linguistik Bukan Sekadar Teori: Unmuh Jember dan IFSU Buktikan Relevansinya dalam Pengajaran Bahasa Global
Sesi ketiga dalam rangkaian International Partnership Collaborative Extension Program yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) dan Ifugao State University (IFSU), Filipina, kembali mencatat partisipasi yang terus meningkat. Berlangsung pada Sabtu (07/03/2026) secara daring melalui platform Zoom Meeting, sesi ini mengangkat tema Linguistics and Language Teaching, sebuah topik yang langsung menyentuh jantung bidang studi sebagian besar peserta yang hadir.
Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB atau 09.00 Philippine Time
dan kali ini dihadiri oleh 87 peserta, naik secara signifikan dibandingkan
sesi-sesi sebelumnya. Para peserta berasal dari kalangan mahasiswa dan dosen
Program Studi Pendidikan Bahasa, Linguistik, dan Pendidikan Guru dari kedua
institusi. Peningkatan jumlah peserta ini sekaligus mencerminkan tumbuhnya
kepercayaan dan antusiasme terhadap program yang kini telah berjalan tiga sesi.
Sesi pertama dibawakan oleh Jhon Nery S. Martin dari College
of Teacher Education, Ifugao State University, dengan judul materi Empowering
Global Educators: Linguistics Meets Classroom Practice. Dalam pemaparannya,
Martin menekankan bahwa pemahaman mendalam terhadap cabang-cabang ilmu
linguistik, mulai dari fonologi, morfologi, sintaksis, hingga pragmatik,
bukanlah bekal yang hanya relevan di ruang kuliah teori. Sebaliknya, penguasaan
terhadap prinsip-prinsip linguistik dapat secara langsung membantu seorang
pendidik merancang strategi pembelajaran bahasa yang lebih efektif,
komunikatif, dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik.
Martin juga mengajak peserta memahami bagaimana pendekatan
linguistik dapat menjadi alat untuk memupuk kemampuan berpikir kritis dan
analitis mahasiswa dalam memandang bahasa bukan sekadar sebagai alat komunikasi
sehari-hari, melainkan sebagai sistem yang kompleks dan sarat makna. Di tangan
seorang pendidik yang memahami linguistik, sebuah kelas bahasa bisa berubah
menjadi ruang eksplorasi intelektual yang hidup.
Sesi kedua menampilkan Dr. Astri Widyaruli Anggraeni, M.A.,
Ketua Program PKMKI sekaligus dosen dari FKIP Unmuh Jember, dengan materi Bridging
Linguistics, Communication, and Global Language Pedagogy. Dr. Astri membawa
diskusi ke dimensi yang lebih luas: bagaimana linguistik, komunikasi akademik,
dan pedagogi bahasa global saling berkelindan dalam praktik pengajaran bahasa
masa kini.
Ia menegaskan bahwa pembelajaran bahasa tidak bisa lagi
dipersempit hanya pada penguasaan struktur gramatikal. Di era globalisasi yang
menuntut interaksi lintas budaya, seorang pengajar bahasa perlu membekali
mahasiswanya dengan kemampuan berkomunikasi yang peka terhadap konteks sosial
dan budaya. Dr. Astri juga membagikan contoh-contoh konkret bagaimana
pendekatan pragmatik dan komunikasi lintas budaya diterapkan dalam pengajaran
Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di lingkungan akademik internasional.
Sesi diskusi yang mengikuti kedua pemaparan berlangsung
dengan sangat dinamis. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari peserta,
menyentuh isu-isu yang sangat relevan dengan realitas di lapangan: bagaimana
mengajar bahasa di kelas multilingual yang peserta didiknya memiliki latar
belakang linguistik berbeda-beda, strategi apa yang paling efektif dalam
mendampingi mahasiswa internasional menguasai bahasa baru, serta seberapa besar
peran kesadaran budaya dalam proses pembelajaran bahasa asing.
Hasil observasi selama sesi berlangsung menunjukkan bahwa
kedekatan tema dengan bidang studi peserta menjadi faktor kunci tingginya
tingkat keterlibatan. Mahasiswa yang sehari-harinya bergelut dengan ilmu bahasa
menemukan relevansi langsung antara apa yang mereka pelajari di kelas dan apa
yang dipaparkan oleh para narasumber.
"Sesi ini membantu saya memahami bahwa linguistik bukan
hanya bersifat teoritis, tetapi juga sangat praktis dalam pengajaran
bahasa," kata salah satu mahasiswa IFSU yang mengikuti sesi tersebut.
Hal senada disampaikan peserta dari Unmuh Jember. "Saya
jadi lebih memahami bagaimana linguistik dapat membantu guru menjelaskan
struktur bahasa dengan lebih mudah kepada siswa," ujarnya.
Seorang mahasiswa lain dari IFSU menambahkan, "Diskusi
tentang pedagogi bahasa global sangat menginspirasi bagi kami yang akan menjadi
pendidik di masa depan."
Refleksi-refleksi itu bukan sekadar ungkapan sopan di akhir
sesi. Mereka adalah bukti bahwa ketika dua institusi dengan tradisi akademik
yang berbeda duduk bersama untuk mendiskusikan hal yang sama-sama mereka
cintai, bahasa dan pengajarannya, yang lahir bukan hanya pertukaran
pengetahuan, tetapi juga percikan inspirasi yang bisa mengubah cara seorang
calon pendidik memandang perannya di masa depan.
Sesi ketiga ini sekaligus semakin mempertegas pola yang
terbentuk sepanjang program: setiap pertemuan tidak hanya meninggalkan
pengetahuan baru, tetapi juga mempererat hubungan antara Unmuh Jember dan IFSU
sebagai dua institusi yang berbagi visi dalam memajukan pendidikan bahasa di
tingkat global.


Posting Komentar