Perkuat Pendampingan Lansia, Program Mahasiswa Berdampak–Aksara Peduli Gelar Pelatihan Kader Rumah Desa Sehat di Jubung
Mendorong para lanjut usia (lansia) agar tetap sehat, mandiri, aktif, dan menjalani masa tua dengan bermakna menjadi fokus kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Kader Rumah Desa Sehat yang digelar di Desa Jubung, Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak–Aksara Peduli dengan tema “Menuju Lansia Berdaya dan Hidup Bermakna Melalui Inovasi Rumah Singgah Ramah Lansia”.
Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mendampingi lansia, melakukan skrining kesehatan awal, serta mengenali tanda-tanda risiko kesehatan yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Desa Jubung diharapkan memiliki dukungan pendampingan lansia yang lebih terarah melalui pengembangan rumah singgah ramah lansia.
Rumah singgah yang direncanakan melalui program ini tidak hanya ditujukan bagi lansia yang sedang sakit, tetapi juga diharapkan menjadi ruang aman dan nyaman untuk bersosialisasi, mengikuti kegiatan bermanfaat, serta menjaga kemampuan fisik dan kognitif. Dengan demikian, lansia tetap memiliki kesempatan untuk beraktivitas, berinteraksi, dan berperan dalam kehidupan keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Materi pelatihan pertama disampaikan oleh Ns. Sofia Rhosma Dewi, D.Kep., M.Kep., yang membahas keterampilan dasar kader lansia. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa kader memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam membantu menjaga kesehatan dan kualitas hidup lansia.
Kader dibekali pemahaman mengenai peran sebagai edukator, pengamat kondisi lansia, pendamping keluarga, pelaksana skrining awal, serta penghubung dengan fasilitas pelayanan kesehatan. Peran tersebut mencakup pemberian edukasi sederhana tentang pola hidup sehat, pemenuhan gizi, aktivitas fisik, penggunaan obat yang aman, hingga pengamatan terhadap perubahan kondisi fisik dan perilaku lansia.
Salah satu aspek penting dalam pelatihan ini adalah pengenalan skrining kesehatan awal. Kader diperkenalkan pada enam aspek yang perlu diperhatikan, yaitu penurunan kemampuan kognitif, keterbatasan mobilitas, risiko malnutrisi, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, dan gejala depresi.
Melalui skrining tersebut, kader diharapkan mampu mengenali perubahan kondisi lansia sejak dini. Misalnya, kesulitan mengingat informasi, kesulitan berdiri atau berjalan, penurunan berat badan yang tidak diharapkan, hingga keluhan terkait penglihatan dan pendengaran. Kader juga perlu memperhatikan perubahan suasana hati serta kondisi sosial yang dapat memengaruhi kesejahteraan lansia.
Selain skrining, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya memantau penggunaan obat dan riwayat jatuh. Kader perlu mencatat obat yang dikonsumsi lansia, keluhan yang muncul, serta kejadian jatuh yang pernah dialami. Kondisi lingkungan rumah, seperti lantai licin, pencahayaan yang kurang, dan tidak tersedianya pegangan tangan, juga perlu diperhatikan untuk membantu mengurangi risiko jatuh.
Dalam pelatihan tersebut ditekankan bahwa skrining yang dilakukan kader bukanlah diagnosis medis dan tidak menggantikan peran tenaga kesehatan. Apabila ditemukan tanda risiko, kader perlu mencatat hasil pengamatan dan menyampaikannya kepada petugas kesehatan atau puskesmas agar lansia mendapatkan pemeriksaan dan tindak lanjut sesuai kebutuhannya.
Pencatatan kondisi lansia secara berkala menjadi bagian penting dari proses pendampingan. Dengan dokumentasi yang baik, perubahan kondisi kesehatan dapat dipantau dari waktu ke waktu, sehingga kader, keluarga, dan tenaga kesehatan dapat berkoordinasi dalam menentukan langkah pendampingan yang tepat.
Pendampingan lansia juga tidak hanya berfokus pada pemeriksaan kesehatan. Kader didorong untuk mendukung kegiatan yang dapat menjaga kebugaran fisik, kemampuan kognitif, dan hubungan sosial lansia. Kegiatan seperti senam sesuai kemampuan, permainan sederhana untuk melatih daya ingat, berbincang bersama, serta aktivitas sosial dapat menjadi pilihan untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi lansia.
Materi berikutnya menekankan pentingnya pendampingan yang berkelanjutan melalui sinergi antara puskesmas, kader, keluarga, dan rumah singgah. Keluarga memiliki peran penting dalam memantau kondisi lansia di rumah, mulai dari memastikan keamanan saat berjalan, memperhatikan kebutuhan gizi, hingga mendukung kepatuhan terhadap anjuran tenaga kesehatan.
Kerja sama lintas pihak tersebut diharapkan dapat memastikan bahwa pendampingan tidak berhenti setelah lansia memperoleh pelayanan di fasilitas kesehatan. Pemantauan dan tindak lanjut perlu dilakukan secara berkesinambungan agar kebutuhan lansia dapat dikenali dan ditangani sesuai kondisi masing-masing.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak–Aksara Peduli, pengembangan Rumah Singgah Ramah Lansia di Desa Jubung diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kesejahteraan warga lanjut usia. Rumah singgah tidak hanya menjadi tempat pendampingan, tetapi juga ruang untuk memperkuat interaksi sosial, menjaga kemandirian, serta memberikan kesempatan kepada lansia untuk tetap aktif dan merasa dihargai.
Keberhasilan program ini membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat. Kader yang terampil, keluarga yang peduli, dukungan tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial yang inklusif menjadi fondasi penting dalam menciptakan pendampingan lansia yang berkelanjutan.







