Selasa, 30 Desember 2025

BEM FISIP Unmuh Jember Gelar Diskusi Publik, Soroti Krisis Ekologis Sumatera

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menggelar diskusi publik terbuka bertema “Krisis Ekologis Sumatera: Banjir dan Longsor Akibat Deforestasi dan Tata Kelola Kehutanan yang Lemah”. Kegiatan ini berlangsung di Lobby Gedung Akademi Pariwisata Unmuh Jember pada Senin (22/12/2025), sebagai wujud kepedulian mahasiswa terhadap isu lingkungan dan kebencanaan nasional.

Diskusi publik yang diselenggarakan oleh Departemen Sosial dan Politik BEM FISIP Kabinet PRISMA Unmuh Jember ini bertujuan membuka ruang dialog kritis untuk mengkaji penyebab, dampak, serta langkah mitigasi atas bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Kegiatan tersebut mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang berasal dari mahasiswa lintas program studi serta masyarakat umum.

Acara ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Khairul Fahri Arrijal, Sekretaris Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Jember; Ahmad Sugianto dari Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Kabupaten Jember; serta Ir. Senki Desta Galuh, ST., MT., IPM, Dosen Teknik Sipil dan Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah Jember.

Dalam pemaparannya, Khairul Fahri Arrijal menyoroti kejanggalan peristiwa banjir dan longsor di Sumatera, khususnya ditemukannya kayu gelondongan berukuran besar yang hanyut hingga ke permukiman warga. Menurutnya, fenomena tersebut mengindikasikan lemahnya pengawasan terhadap aktivitas penebangan hutan.

“Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan dan pengawasan kehutanan masih sangat lemah,” ujarnya. Ia juga menjelaskan peran MDMC sebagai lembaga pendukung dalam penanggulangan bencana, sekaligus mendorong pemerintah mempertimbangkan penetapan status bencana nasional sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007.

Sementara itu, Ahmad Sugianto menegaskan bahwa banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera tidak dapat dikategorikan sebagai bencana alam murni.

“Kerusakan lingkungan akibat penebangan liar telah menghilangkan fungsi kawasan resapan air dan secara langsung meningkatkan risiko bencana,” tegasnya. Ia mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan serta mendorong penegakan hukum yang tegas dan evaluasi kebijakan kehutanan.

Dari perspektif akademik dan teknis, Ir. Senki Desta Galuh menekankan pentingnya penerapan prinsip zero impact dalam setiap aktivitas manusia terhadap lingkungan.

“Penebangan tanpa perencanaan yang jelas tidak hanya menimbulkan pemborosan sumber daya, tetapi juga memperbesar potensi bencana,” jelasnya. Ia menilai penanganan krisis ekologis membutuhkan keseriusan pemerintah serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam pengelolaan lingkungan.

Menutup diskusi, para narasumber menegaskan pentingnya aksi nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ahmad Sugianto menyampaikan bahwa kondisi lingkungan saat ini tidak sedang baik-baik saja dan membutuhkan tindakan konkret. Ir. Senki Desta Galuh mengingatkan pentingnya nilai kemanusiaan dalam setiap kebijakan terhadap alam. Sementara itu, Khairul Fahri Arrijal menegaskan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mampu memberikan manfaat bagi sesama.

Tags :

bm
Created by: News Unmuh Jember

Humas Unmuh Jember Jaya Jaya Jaya!

Posting Komentar

Connect