Dari Buah Langka ke Kelas Kreatif: KKN Unmuh Jember Wujudkan STEAM dan Kearifan Lokal di PAUD Se-Jawa Timur
Puluhan guru PAUD dan TK dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur mengikuti dua kegiatan inovatif yang digelar mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Jember, yakni Workshop “Learning Through Play” dan pelatihan STEAM–Loose Parts di TK Tunas Cendekia. Kegiatan ini mengusung semangat penguatan pembelajaran kreatif berbasis kearifan lokal bagi pendidik anak usia dini.
Di tengah
tantangan pendidikan abad ke-21, guru PAUD dituntut mampu menghadirkan
pembelajaran menarik tanpa bergantung pada fasilitas mahal. Melalui pendekatan
STEAM Education (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) serta
metode Loose Parts, peserta diajak memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai
sumber belajar yang kaya dan tak terbatas.
“Anak-anak
tidak perlu jauh-jauh belajar sains. Buah yang ada di sekitar kita pun bisa
menjadi laboratorium hidup yang luar biasa. Inilah esensi kearifan lokal yang
ingin kita tanamkan sejak dini,” ujar salah satu narasumber.
Buah Langka
Nusantara Jadi Media Belajar
Salah satu
sesi menarik dalam workshop adalah pemanfaatan buah lokal sebagai media
pembelajaran. Empat buah khas Nusantara seperti Parijoto, Ciplukan, Rambusa,
dan Kepundung diperkenalkan sebagai stimulus sensorik bagi anak.
Melalui
eksplorasi buah tersebut, anak-anak dapat belajar berbagai aspek secara
terpadu: mengenal ciri buah (sains), menggambar dan mewarnai (seni), hingga
menghitung dan mengelompokkan (matematika). Pendekatan ini menghadirkan
integrasi STEAM yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari Teori
ke Praktik di Kelas
Implementasi
nyata terlihat dalam pelatihan di TK Tunas Cendekia. Para guru dilatih
merancang pembelajaran berbasis eksplorasi dengan memanfaatkan bahan sederhana
seperti daun, batu, tutup botol, hingga barang bekas.
“Guru
menjadi lebih kreatif dan percaya diri. Mereka mulai melihat lingkungan sekitar
sebagai sumber belajar yang kaya,” ungkap perwakilan sekolah.
Konsep local
culture, global skill menjadi benang merah kegiatan ini. Guru didorong
mengangkat unsur budaya lokal dalam pembelajaran, sehingga anak tidak hanya
berkembang secara kognitif, tetapi juga memiliki identitas dan karakter yang
kuat di tengah arus globalisasi.
Sinergi
Berkelanjutan Kampus dan Sekolah
Mahasiswa
KKN menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan sesaat. Mereka berharap
metode yang diperkenalkan dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh para
guru di sekolah masing-masing.
Keberhasilan
kegiatan ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan
lembaga pendidikan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui
sinergi ini, inovasi pembelajaran tidak lagi menjadi wacana, melainkan hadir
nyata di ruang kelas—membuka peluang bagi lahirnya generasi kreatif, adaptif,
dan berdaya saing global.
Tags : Berita KKN Pengabdian


Posting Komentar