Selasa, 11 Agustus 2026

Fakultas Psikologi Unmuh Jember Bedah Model Keterhubungan Ekologis Generasi Z



Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) memperkuat komitmennya dalam merespons persoalan lingkungan melalui Workshop Diseminasi Hasil Penelitian Model Keterhubungan Ekologis pada Generasi Z di Indonesia, Selasa (11/8/2026).

Bertempat di Aula Ahmad Zainuri Universitas Muhammadiyah Jember, kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pakar teologi, serta praktisi lingkungan untuk mendiskusikan hasil penelitian mengenai kesadaran ekologis Generasi Z sekaligus membahas strategi mendorong kepedulian terhadap lingkungan agar dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.

Penelitian tersebut melibatkan tim peneliti lintas disiplin yang terdiri atas Dr. Heru Prakosa, Dr. Johanes Seno Aditya Utama, dan Dr. Nurlaela Widyarini dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember.

Dalam pemaparan hasil penelitian, tim peneliti mengungkap bahwa Generasi Z memiliki modal awal yang cukup kuat dalam membangun keterhubungan dengan lingkungan. Kepedulian terhadap alam dan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan telah tumbuh di kalangan generasi muda.

Namun, persoalan muncul ketika kesadaran tersebut harus diterjemahkan menjadi perilaku dan aksi ekologis dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua peneliti, Dr. Heru Prakosa, menjelaskan bahwa kepedulian ekologis Generasi Z tidak selalu secara otomatis menghasilkan tindakan nyata. Berbagai faktor eksternal, seperti keterbatasan fasilitas, minimnya dukungan sosial, serta belum tersedianya ruang komunitas yang memadai, dapat menjadi penghambat.


Karena itu, perubahan perilaku ekologis tidak cukup hanya dibangun melalui peningkatan pengetahuan. Diperlukan mediator sosial dan ruang praktik yang memungkinkan generasi muda menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi kebiasaan atau habitus dalam kehidupan sehari-hari.

Persoalan tersebut kemudian mendapatkan perspektif praktis dari Zahrotul Jannah, aktivis lingkungan yang hadir sebagai penanggap dalam kegiatan tersebut.

Ia membagikan pengalaman pendampingan gerakan lingkungan yang melibatkan anak muda melalui inisiatif “Besuk Sungai”. Dalam kegiatan tersebut, anak muda diajak melihat secara langsung kondisi sungai yang tercemar, melakukan brand audit terhadap sampah plastik yang ditemukan, hingga mengolah sampah menjadi eco-brick.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan langsung dapat menjadi sarana penting dalam membangun kepedulian lingkungan. Ketika anak muda diberikan ruang, kepercayaan, serta kesempatan untuk mengambil peran, mereka dapat berkembang menjadi penggerak kegiatan lingkungan di komunitasnya.

Diskusi kemudian berkembang pada pentingnya mengintegrasikan pendekatan ekologis dengan nilai budaya dan keagamaan.

Akademisi sejarah lingkungan, Gusti Ngurah Ary Kesuma Puja, mengangkat kembali nilai kearifan lokal Tri Hita Karana yang menekankan pentingnya keharmonisan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam.

Sementara itu, Prof. Fawaizul Umam menyoroti dimensi teologis dalam persoalan lingkungan. Menurut perspektif yang disampaikan dalam diskusi, krisis ekologis tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga dapat dipandang sebagai refleksi dari hubungan manusia dengan nilai-nilai ketuhanan. Karena itu, kepedulian terhadap bumi perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan sosial.


Workshop diseminasi hasil penelitian tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif akademik, pengalaman praktis, kearifan lokal, dan pendekatan teologis dalam melihat persoalan ekologis Generasi Z.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa membangun generasi yang peduli terhadap lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar penyampaian pengetahuan. Dukungan lingkungan sosial, ketersediaan fasilitas, komunitas, serta kesempatan untuk terlibat langsung menjadi bagian penting dalam proses perubahan perilaku.

Universitas Muhammadiyah Jember melalui kegiatan tersebut berupaya mendorong agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai pengetahuan akademik, tetapi dapat menjadi dasar pengembangan program dan kolaborasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Sinergi antara penelitian, praktik lapangan, nilai budaya, dan pendekatan keagamaan diharapkan mampu menciptakan ruang yang lebih luas bagi Generasi Z untuk terlibat dalam gerakan lingkungan.

Dengan demikian, generasi muda tidak hanya ditempatkan sebagai kelompok yang memiliki kepedulian terhadap krisis ekologis, tetapi juga sebagai aktor yang mampu mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan mendorong terwujudnya keadilan ekologis di Indonesia.

 

Tags :

bm
Created by: News Unmuh Jember

Humas Unmuh Jember Jaya Jaya Jaya!

Posting Komentar

Connect