KKN MAs Kelompok 102 Turun Langsung Bantu Peternak Wiyurejo, dari Memerah Susu hingga Proses di Koperasi
Tidak sekadar hadir di tengah masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah 'Aisyiyah (KKN MAs) Kelompok 102 Desa Wiyurejo turut merasakan langsung aktivitas warga. Pada Minggu (9/8/2026) sore, mahasiswa turun ke peternakan warga untuk membantu proses pemerahan susu sapi hingga mendampingi penyetoran dan pengolahan susu di koperasi setempat.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk
mengenal sekaligus mendukung potensi ekonomi masyarakat Desa Wiyurejo,
khususnya sektor peternakan sapi perah. Di sisi lain, aktivitas ini juga
menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa mengenai proses produksi
susu dari tingkat peternak hingga sebelum didistribusikan.
KKN MAs Kelompok 102 sendiri merupakan bagian dari program
pengabdian yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi
Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. Mahasiswa yang terlibat dalam
kegiatan tersebut berasal dari Universitas Muhammadiyah Jember, Universitas
Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Bone, Universitas Muhammadiyah
Surabaya, Universitas Muhammadiyah Palembang, Universitas Muhammadiyah Prof.
DR. HAMKA (Uhamka), Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah
Gorontalo, Universitas Muhammadiyah Bandung, Universitas Muhammadiyah Palu,
Universitas Muhammadiyah Gombong, dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Sejak sore hari, mahasiswa bersama warga mendatangi salah
satu peternakan sapi perah. Kegiatan diawali dengan membersihkan area kandang
dan melakukan sterilisasi peralatan yang digunakan dalam proses pemerahan.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kebersihan dan kualitas susu yang
dihasilkan.
Setelah persiapan selesai, mahasiswa turut membantu proses
pemerahan susu sapi. Mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga memperoleh
kesempatan untuk terlibat secara langsung dalam aktivitas yang selama ini
menjadi bagian dari rutinitas para peternak.
Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata kepada
mahasiswa mengenai tantangan dan proses produksi susu di tingkat peternak.
Terlebih, setiap tahapan membutuhkan perhatian terhadap kebersihan, kondisi
ternak, hingga waktu pemerahan.
Usai pemerahan, mahasiswa kemudian mendampingi peternak
membawa susu segar menuju koperasi penampungan. Di lokasi tersebut, mahasiswa
menyaksikan rangkaian proses mulai dari penimbangan, pengujian kualitas susu,
hingga penyimpanan menggunakan cooling unit dan mesin pengolahan
koperasi sebelum susu didistribusikan lebih lanjut.
Di sela kegiatan, Huzainul, selaku pihak yang
bertanggung jawab dalam peternakan tersebut, turut memberikan edukasi kepada
mahasiswa mengenai perawatan dan produktivitas sapi perah.
Menurutnya, produktivitas sapi sangat bergantung pada
kondisi dan fase reproduksi ternak. Ia menjelaskan bahwa satu ekor sapi dapat
menghasilkan rata-rata 25 liter susu dalam sehari. Namun, ketika sapi memasuki
masa kehamilan tertentu, proses pemerahan harus dihentikan.
“Satu ekor sapi di sini bisa menghasilkan rata-rata 25 liter
susu per hari. Namun, jika sapi sudah hamil 7 bulan, maka pemerahan harus
dihentikan atau dikeringkan. Hal ini sangat penting untuk menjaga kesehatan
induk dan memastikan nutrisinya fokus pada perkembangan janin sapi,” tutur
Huzainul.
Bagi mahasiswa, penjelasan tersebut menjadi pengetahuan
tambahan yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas.
Interaksi langsung dengan peternak membuat mahasiswa dapat memahami bagaimana
pengetahuan dan pengalaman masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga
keberlangsungan usaha peternakan.
Kehangatan interaksi antara mahasiswa dan keluarga peternak
juga semakin terasa sebelum kegiatan berakhir. Sebagai bentuk apresiasi dan
kebersamaan, Vina, selaku pemilik peternakan, menyajikan susu segar
hasil produksi peternakan dalam tiga varian rasa, yakni susu murni, strawberry,
dan coffee.
Sajian tersebut menjadi penutup sederhana namun berkesan
bagi mahasiswa setelah mengikuti seluruh rangkaian aktivitas peternakan pada
sore itu. Suasana santai sambil menikmati susu segar sekaligus mempererat
hubungan antara mahasiswa dan masyarakat yang menjadi bagian dari lokasi
pengabdian.
Melalui kegiatan tersebut, KKN MAs Kelompok 102 tidak hanya
memperoleh pengalaman mengenai sektor peternakan sapi perah, tetapi juga
belajar mengenai pentingnya kolaborasi, gotong royong, dan interaksi langsung
dengan masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pengabdian
mahasiswa dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana yang dekat dengan
keseharian warga. Dengan terlibat langsung dalam proses pemerahan hingga
pengolahan susu, mahasiswa dapat memahami potensi lokal sekaligus membangun
komunikasi yang lebih erat dengan masyarakat.
Ke depan, KKN MAs Kelompok 102 berharap sinergi lintas
kampus PTMA dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Wiyurejo selama
masa pengabdian. Khususnya, melalui pengenalan dan penguatan potensi sektor
peternakan agar semakin berkembang dan memiliki daya saing.
Tags : Berita KKN Pengabdian



Posting Komentar