Senin, 24 Agustus 2026

Unmuh Jember Kembangkan TirtaSmart, Teknologi Cerdas Pantau Kualitas Air Berbasis Energi Surya


Bagaimana jika kualitas air bersih di desa bisa dipantau secara real-time, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada listrik PLN? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu persoalan yang coba dijawab Universitas Muhammadiyah Jember melalui pengembangan TirtaSmart, sebuah prototipe sistem cerdas pemantauan kualitas air berbasis Wireless Sensor Network (WSN), kecerdasan buatan, dan energi surya.

TirtaSmart dikembangkan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas – Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026 dengan pendanaan dari Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.

Pengembangan teknologi tersebut diketuai oleh Dr. Bagus Setya Rintyarna, M.Kom. dari Universitas Muhammadiyah Jember. TirtaSmart dirancang untuk menjawab persoalan pemantauan kualitas air di wilayah perdesaan yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual dan berkala.

Kondisi tersebut membuat perubahan kualitas air berpotensi terlambat diketahui. Melalui TirtaSmart, data dari sejumlah sensor dapat dikumpulkan dan dikirim secara nirkabel sehingga kondisi air dapat dipantau secara lebih cepat dan berkelanjutan.



“TirtaSmart kami arahkan bukan sekadar menjadi alat ukur kualitas air, tetapi menjadi sistem monitoring yang dapat bekerja secara berkelanjutan dan membantu pengelola air desa memperoleh informasi berbasis data untuk mengambil keputusan,” ujar Bagus.

TirtaSmart dikembangkan sebagai sebuah sistem yang terintegrasi. Sensor yang ditempatkan pada sumber air akan mengukur sejumlah parameter kualitas air. Data hasil pengukuran kemudian dikirim melalui jaringan sensor nirkabel menuju sistem pengolahan dan ditampilkan melalui dashboard monitoring.

Pada pengembangan tahun 2026, teknologi tersebut diperkuat dengan sensor multi-parameter, sistem komunikasi WSN, gateway, sistem kendali energi surya, serta dashboard monitoring.

Pengembangan juga dilakukan pada sisi kecerdasan sistem. Jika prototipe sebelumnya menggunakan pendekatan weighted ensemble classifier, TirtaSmart kini dikembangkan dengan algoritma Neural Network untuk mengenali hubungan yang lebih kompleks dari data berbagai sensor.

Tidak hanya kualitas, sistem juga dikembangkan untuk memantau kuantitas air. Dengan demikian, TirtaSmart diharapkan dapat berkembang dari sekadar alat pembaca kondisi air menjadi instrumen pendukung pengambilan keputusan bagi pengelola air bersih desa.

Salah satu tantangan penerapan teknologi monitoring di wilayah perdesaan adalah ketersediaan sumber listrik. Terlebih, lokasi sumber air tidak selalu berada dekat dengan permukiman atau jaringan listrik.

Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan tim mengintegrasikan sistem kendali energi surya ke dalam TirtaSmart.

Dengan memanfaatkan energi matahari, perangkat monitoring diharapkan mampu bekerja lebih mandiri dan kontinu di lapangan tanpa sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik PLN.

Pengembangan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari prototipe sebelumnya yang telah mencapai Level 5 menuju Level 6–7. Tahapan tersebut diarahkan agar teknologi tidak hanya teruji secara teknis, tetapi juga dapat diuji dan didemonstrasikan dalam lingkungan operasional yang nyata.

Untuk memastikan teknologi benar-benar mampu bekerja di kondisi lapangan, tim peneliti menjadikan Desa Sukogidri, Kabupaten Jember, sebagai lokasi pengujian prototipe.

Pengujian dilakukan secara bertahap, mulai dari finalisasi desain, pengujian fungsional, kalibrasi ulang sensor, instalasi prototipe, hingga pengujian lapangan.

Sejumlah aspek akan menjadi perhatian, mulai dari kinerja sensor dan jaringan WSN, stabilitas sistem energi surya, kontinuitas pengiriman data, hingga keandalan sistem secara keseluruhan.

Sistem selanjutnya juga akan didemonstrasikan kepada pengelola air desa sebagai pengguna akhir. Pelibatan pengguna menjadi bagian penting dalam proses hilirisasi agar teknologi yang dikembangkan tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mudah digunakan dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Target kami adalah teknologi ini dapat digunakan oleh pengelola air desa secara mandiri. Informasi kualitas air harus bisa dibaca dengan mudah, sehingga teknologi benar-benar hadir sebagai alat bantu pengelolaan air, bukan justru menambah kerumitan bagi pengguna,” jelas Bagus.

TirtaSmart merupakan hasil pengembangan berkelanjutan, bukan teknologi yang dibangun dari nol pada 2026. Tim telah melakukan rangkaian penelitian sejak 2021, khususnya dalam bidang pemantauan kualitas air berbasis WSN, analitik data, dan sistem cerdas.


Riset sebelumnya telah menghasilkan prototipe yang melalui proses kalibrasi sensor, pengujian fungsional, serta validasi pada lingkungan relevan hingga mencapai TKT Level 5.

Sejumlah hasil penelitian tersebut juga telah menghasilkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), termasuk teknologi monitoring kualitas air berbasis WSN dan ensemble learning.

Melalui program tahun 2026, fokus penelitian kemudian bergeser lebih jauh menuju hilirisasi, yakni menyempurnakan teknologi yang telah dikembangkan agar semakin dekat dengan kebutuhan pengguna dan siap diterapkan pada lingkungan nyata.

Jika seluruh tahapan pengujian dan validasi berjalan sesuai target, TirtaSmart memiliki peluang untuk dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain.

Teknologi ini berpotensi dimanfaatkan oleh pemerintah desa, BUMDes, KPSPAMS, maupun lembaga lain yang memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan layanan air bersih perdesaan.

Penggunaan komponen teknologi yang tersedia di pasar juga menjadi salah satu pertimbangan agar sistem relatif mudah dikembangkan kembali sesuai kebutuhan di lapangan.

Dalam jangka panjang, hasil pengujian TirtaSmart dapat menjadi pijakan untuk membangun kerja sama dengan pemerintah daerah, BUMDes, maupun lembaga pengelola air bersih lainnya.

Bagi Universitas Muhammadiyah Jember, pengembangan TirtaSmart menjadi salah satu contoh bagaimana hasil riset perguruan tinggi dapat didorong keluar dari ruang laboratorium dan dihadirkan untuk menjawab persoalan masyarakat.

Melalui dukungan Program Hilirisasi Riset Prioritas Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026, TirtaSmart diharapkan tidak berhenti sebagai prototipe penelitian. Lebih jauh, teknologi ini ditargetkan menjadi teknologi tepat guna yang membantu desa mengelola layanan air bersih secara lebih cerdas, mandiri, dan berkelanjutan.


Tags :

bm
Created by: News Unmuh Jember

Humas Unmuh Jember Jaya Jaya Jaya!

Posting Komentar

Connect