Rabu, 22 Oktober 2025

Seni Tapak Suci Warnai COCOA 2025: Tampilkan Jurus Resmi IPSI di Hadapan Mahasiswa Universiti Malaya

Suasana penuh semangat dan decak kagum terdengar di aula SMP Muhammadiyah 9 Watukebo ketika seorang siswa muda, Ataya Jaluaji, menampilkan seni bela diri Tapak Suci di hadapan mahasiswa Universiti Malaya (Malaysia) dalam rangkaian kegiatan Summer Camp 2025: COCOA (Colleagues Collaborative Actions).

Ataya, yang kini duduk di kelas 3 SD, tampil percaya diri memperagakan seni tunggal IPSI tangan kosong, sebuah jurus pakem resmi yang diakui oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Meski masih belia, ia telah aktif berlatih sejak kelas 1 SD dan rutin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Tapak Suci di lingkungan Muhammadiyah.

Dengan penuh konsentrasi dan teknik yang matang, Ataya memadukan ketegasan gerak dan keanggunan irama, menampilkan seni bela diri yang tidak hanya mencerminkan kekuatan fisik, tetapi juga kedisiplinan, pengendalian diri, dan nilai-nilai spiritual yang menjadi ciri khas Tapak Suci. Penampilan ini sekaligus menjadi sarana pengenalan budaya bela diri Indonesia kepada mahasiswa asing yang mengikuti program COCOA 2025.

“Jurus yang ditampilkan merupakan jurus resmi IPSI dan bagian dari budaya Indonesia. Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan bahwa pencak silat tidak hanya olahraga, tetapi juga warisan budaya yang sarat nilai moral dan karakter,” ujar Setiyo Arif Purnomo Aji, pembina ekstrakurikuler Tapak Suci sekaligus guru PJOK SMP Muhammadiyah 9 Watukebo.

Selain telah mengikuti kejuaraan tingkat kabupaten (Kejurjab), Ataya juga tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi ME Confest 2025 di Sidoarjo, di mana ia akan menampilkan jurus yang berbeda. Bagi Setiyo, kesempatan tampil di hadapan mahasiswa luar negeri ini menjadi pengalaman berharga yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Senang sekali dan sangat bangga, ini first time kami menampilkan seni Tapak Suci di depan mahasiswa asing dari Malaysia. Anak-anak jadi lebih termotivasi untuk terus berlatih dan menjaga tradisi bela diri ini,” tambahnya dengan antusias.

Penampilan Tapak Suci di COCOA 2025 ini menjadi simbol kolaborasi budaya dan semangat internasionalisasi di lingkungan pendidikan Muhammadiyah. Mahasiswa Universiti Malaya terlihat antusias menyaksikan setiap gerakan, bahkan beberapa di antaranya mencoba menirukan jurus dasar yang diperagakan. Momen tersebut memperlihatkan bagaimana seni bela diri dapat menjadi jembatan antarbudaya — menyatukan semangat disiplin dan persaudaraan dalam gerak yang sama.

Melalui kegiatan ini, COCOA 2025 tidak hanya menjadi ruang akademik dan budaya, tetapi juga wahana pertukaran nilai-nilai universal seperti sportivitas, kebersamaan, dan rasa saling menghormati. Tapak Suci tampil bukan sekadar olahraga, tetapi sebagai ekspresi kebanggaan nasional yang menghubungkan Indonesia dan Malaysia dalam semangat persaudaraan yang sejati.

Mahasiswa Universiti Malaya Ikuti Pengenalan Tari Jember Kang Jembar di COCOA 2025


Suasana semarak mewarnai kegiatan Summer Camp 2025: COCOA (Colleagues Collaborative Actions) saat mahasiswa Universiti Malaya (Malaysia) mengikuti sesi pengenalan Tari Jember Kang Jembar di SMP Muhammadiyah 9 Watukebo, Kecamatan Ambulu. Kegiatan ini menjadi momen istimewa bagi peserta internasional untuk mengenal secara langsung kekayaan budaya lokal Jember melalui interaksi dan kolaborasi seni bersama pelajar Muhammadiyah.

Tari Jember Kang Jembar merupakan tarian khas daerah yang mencerminkan karakter masyarakat Jember yang terbuka, ramah, dan penuh semangat gotong royong. Diciptakan sebagai simbol identitas lokal, tarian ini mengandung filosofi “Jember kang jembar,” yang berarti Jember yang luas secara makna—sebuah wilayah yang menerima keberagaman sebagai kekuatan.

Dalam kegiatan tersebut, siswa dari ekstrakurikuler tari SMP Muhammadiyah 9 Watukebo menampilkan Tari Jember Kang Jembar di hadapan mahasiswa Universiti Malaya. Penampilan tersebut disambut dengan antusias, bahkan mahasiswa asing turut mempelajari beberapa gerakan dasar dan mencoba memahami makna di balik setiap gerak dan irama yang menggambarkan semangat masyarakat Jember.

Selain pertunjukan tari, kegiatan juga menampilkan ekstrakurikuler Tapak Suci dari MI Muhammadiyah 1 Watukebo. Kolaborasi antara seni tari dan bela diri ini menunjukkan kekayaan ekspresi budaya di lingkungan pendidikan Muhammadiyah sekaligus memperkuat nilai kedisiplinan dan karakter pelajar.

Menurut pembina kegiatan, keterlibatan mahasiswa Universiti Malaya dalam sesi ini memiliki makna yang penting dalam memperluas pemahaman lintas budaya dan memperkuat kebanggaan terhadap budaya lokal. Melalui program COCOA, pertukaran pengalaman antara peserta Indonesia dan Malaysia menjadi wujud nyata internasionalisasi pendidikan berbasis kebudayaan.

“Kegiatan ini membuka peluang besar untuk pembentukan pride dan internasionalisasi budaya. Ada kebanggaan tersendiri ketika budaya lokal Jember diperkenalkan kepada mahasiswa Universiti Malaya, dan mereka menunjukkan apresiasi yang tinggi terhadap kekayaan seni daerah kita,” ujar salah satu pembina ekstrakurikuler tari SMP Muhammadiyah 9 Watukebo.

Partisipasi mahasiswa Universiti Malaya tidak hanya memberikan warna internasional pada program COCOA, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi mereka untuk mengenal kehidupan dan budaya masyarakat Jember secara langsung. Sebaliknya, bagi siswa-siswi Muhammadiyah, interaksi dengan peserta asing meningkatkan kepercayaan diri, semangat belajar, serta rasa bangga terhadap identitas budaya mereka sendiri.

Melalui pengenalan Tari Jember Kang Jembar dalam COCOA 2025, kegiatan ini membuktikan bahwa pertukaran budaya dapat menjadi sarana efektif untuk mempererat hubungan antarnegara dan memperluas wawasan peserta didik. Di bawah semangat kolaborasi, COCOA menjadi ruang pertemuan antara globalisasi dan kearifan lokal — di mana langkah-langkah tari menjadi simbol kebersamaan lintas bangsa. 

Summer Camp Cocoa 2025 Resmi Dimulai, Peserta Kunjungi Panti Asuhan LKSAM Assofyan

Rangkaian kegiatan Summer Camp Cocoa 2025 resmi dimulai dengan agenda perdana yang sarat makna, yakni kunjungan sosial ke Panti Asuhan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Muhammadiyah (LKSAM) Assofyan yang terletak di Desa Watukebo, Kecamatan Ambulu. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (22/10) dan diikuti oleh mahasiswa dari empat universitas berbeda yang tergabung dalam program Summer Camp tahun.

Kunjungan ini menjadi salah satu agenda unggulan yang bertujuan tidak hanya untuk mempererat hubungan sosial antara mahasiswa dan masyarakat, tetapi juga untuk menanamkan nilai-nilai edukatif dan motivasional kepada anak-anak di panti asuhan. Dengan semangat kolaboratif, para mahasiswa menginisiasi berbagai kegiatan interaktif yang dirancang untuk membangkitkan semangat belajar dan optimisme anak-anak dalam menggapai cita-cita mereka.

Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan adalah diskusi kelompok. Anak-anak panti dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil dan masing-masing kelompok didampingi oleh mahasiswa peserta Summer Camp. Dalam suasana yang hangat dan penuh semangat, para mahasiswa membimbing anak-anak untuk mengungkapkan impian mereka dan berdiskusi tentang langkah-langkah yang bisa mereka tempuh untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Metode pembelajaran yang digunakan pun cukup menarik. Anak-anak diberikan lembar pernyataan yang harus diisi, yang berisi tentang cara berpikir strategis untuk mencapai mimpi mereka. Mulai dari mengenali potensi diri, menentukan tujuan jangka pendek dan panjang, hingga menyusun rencana aksi yang realistis dan terukur.

Kegiatan ini menjadi pembuka yang inspiratif dalam rangkaian Summer Camp Cocoa 2025, yang selama penyelenggaraannya menghadirkan berbagai agenda pembelajaran, pengabdian, dan pengembangan diri. Dengan semangat sinergi antara kampus dan masyarakat, Summer Camp Cocoa 2025 diharapkan mampu menjadi wadah penguatan karakter, kolaborasi, dan kepedulian sosial bagi para pesertanya.

COCOA 2025: Dosen Fakultas Hukum Unmuh Jember Edukasi Siswa MI Muhammadiyah 1 Watukebo tentang Kekerasan di Dunia Pendidikan

Masih banyak anak-anak yang belum memahami secara menyeluruh bentuk kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan. Hal tersebut mendorong Dr. Fina Rosalina, S.H., M.H., dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jember, untuk memberikan edukasi langsung kepada 15 siswa MI Muhammadiyah 1 Watukebo dan 5 mahasiswa asing dari Universiti Malaya (Malaysia) dalam rangkaian kegiatan Summer Camp 2025: COCOA (Colleagues Collaborative Actions) pada Rabu (22/10/2025).

Dalam sesi bertajuk “Kekerasan di Lingkungan Pendidikan,” Dr. Fina mengawali dengan menanyakan pemahaman peserta tentang kekerasan. Mayoritas siswa hanya menyebut bullying sebagai satu-satunya bentuk kekerasan yang mereka kenal. Dari situlah, Dr. Fina kemudian memperluas perspektif mereka bahwa kekerasan di dunia pendidikan bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan verbal, fisik, emosional, hingga kekerasan seksual. Ia menegaskan pentingnya memahami isu ini sejak dini agar peserta didik mampu melindungi diri dan tidak menjadi korban.

“Sebagai akademisi, saya berharap anak-anak dapat memahami bentuk kekerasan sejak dini, sehingga mereka mampu menjaga diri dan tidak menjadi korban, terutama dalam konteks kekerasan seksual di dunia pendidikan,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Dr. Fina memaparkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) serta Komnas Perempuan tahun 2022 yang menunjukkan bahwa hampir 46,76 persen pelaku kekerasan di lingkungan pendidikan adalah guru atau tenaga pendidik. Angka tersebut, menurutnya, menandakan masih kuatnya relasi kuasa antara pendidik dan peserta didik yang sering kali disalahgunakan. Ia menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara tindakan disiplin edukatif dan kekerasan berbasis relasi kuasa terletak pada niat, konteks, dan dampaknya.

Pemukulan atau teguran dalam konteks mendidik dilakukan dengan kendali diri dan niat untuk menanamkan disiplin, sedangkan kekerasan terjadi ketika guru menggunakan otoritasnya untuk menghukum, mempermalukan, atau melampiaskan emosi. Dalam konteks hukum, tidak ada bentuk kekerasan fisik maupun verbal yang dapat dibenarkan atas nama pendidikan, karena semua tindakan tersebut masuk dalam kategori pelanggaran terhadap Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014.

Lebih lanjut, Dr. Fina juga membahas karakteristik kekerasan seksual yang kerap muncul di lembaga pendidikan dan pesantren, mulai dari pelecehan verbal hingga pemaksaan perkawinan yang dibungkus dalih keagamaan atau bimbingan spiritual. Ia menjelaskan bahwa relasi kuasa yang tidak seimbang sering kali membuat korban merasa takut untuk melapor. Rasa khawatir akan kehilangan dukungan, takut mendapat stigma sosial, hingga tidak mengetahui mekanisme pelaporan menjadi hambatan besar bagi korban untuk mencari keadilan.

Melalui pendekatan edukatif yang sederhana dan dialogis, Dr. Fina mengajak para siswa untuk memahami perbedaan antara “dihukum” dan “dianiaya.” Sekolah, katanya, memang tempat belajar, bukan tempat menyakiti. Namun dalam proses pendidikan, ada kalanya siswa perlu dikoreksi atau diberi sanksi agar memahami batas perilaku yang benar. Permasalahan muncul ketika setiap bentuk ketegasan dianggap sebagai kekerasan, padahal tidak semua tindakan korektif bersifat abusif.

Pada bagian akhir kegiatan, Dr. Fina memberikan panduan praktis kepada siswa dan mahasiswa asing tentang bagaimana bersikap jika mengalami atau menyaksikan kekerasan di lingkungan pendidikan. Ia mengingatkan pentingnya segera bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya, menggunakan jalur aman di sekolah, mendukung teman yang menjadi korban, serta melaporkan kejadian tersebut ke lembaga resmi yang berwenang. Pesan sederhana “Jangan diam, ceritakan dan laporkan” menjadi penekanan utama dalam sesi tersebut.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jember dalam mendukung misi COCOA 2025—membangun kesadaran hukum dan keberanian moral sejak usia dini. Melalui pendekatan lintas budaya yang melibatkan mahasiswa Universiti Malaya, kegiatan ini juga memperluas ruang pembelajaran tentang perlindungan diri dan nilai-nilai kemanusiaan di ranah pendidikan.

“Harapannya, anak-anak dan mahasiswa asing yang hadir hari ini bisa membawa nilai-nilai perlindungan diri ke lingkungan masing-masing. Edukasi hukum tidak harus dimulai dari istilah rumit, tapi dari pemahaman sederhana tentang bagaimana menghargai dan melindungi sesama,” tutup Dr. Fina.

COCOA 2025: Dosen PGSD Unmuh Jember Kenalkan Tarian Sadeng kepada Mahasiswa Asing dan Siswa MI Muhammadiyah 1 Watukebo

Dalam rangkaian program Summer Camp 2025: COCOA (Colleagues Collaborative Actions) pada Rabu (22/10/2025), dosen Program Studi PGSD Universitas Muhammadiyah Jember, Sri Kantina, M.Pd, memperkenalkan Tarian Sadeng, kesenian khas Kabupaten Jember yang berasal dari Desa Grenden, Kecamatan Puger, kepada mahasiswa asing dan siswa MI Muhammadiyah 1 Watukebo, Kecamatan Ambulu.

Program COCOA 2025 mempertemukan mahasiswa dari Universitas Malaya (Malaysia) dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) dalam kolaborasi lintas budaya, riset, dan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di berbagai wilayah Jember.

Tarian Sadeng, yang mulai diperkenalkan ke publik pada tahun 2020, mengisahkan perang antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sadeng, kerajaan kecil yang dahulu berdiri di wilayah Puger. Melalui kegiatan ini, mahasiswa asing diajak untuk mengenal nilai sejarah, simbol perjuangan, dan makna budaya yang terkandung dalam tarian tradisional tersebut.

“Kegiatan ini bertujuan untuk melatih dan menumbuhkan kembali kecintaan terhadap kesenian lokal, sekaligus menjadi wadah bagi mahasiswa asing untuk belajar dan mengenal budaya Indonesia,” ujar Sri Kantina, M.Pd, dosen PGSD Unmuh Jember.


Sebanyak 15 siswa kelas 5 MI Muhammadiyah 1 Watukebo, 5 mahasiswa Universitas Malaya, dan 1 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) turut berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan ini. Mereka tampak antusias mengikuti setiap gerakan tarian di bawah bimbingan langsung Sri Kantina, sambil mempelajari filosofi di balik kisah Tarian Sadeng.

Selain menjadi sarana belajar seni, kegiatan ini juga menjadi wadah akulturasi budaya antara mahasiswa asing dan masyarakat lokal. Mahasiswa Universitas Malaya berkesempatan memahami budaya Indonesia secara langsung, sementara siswa MI mendapatkan pengalaman berinteraksi dan belajar bersama peserta internasional.

“Harapannya, kegiatan ini menjadi bentuk akulturasi budaya. Teman-teman dari MI hingga mahasiswa Universitas Malaya dapat mengenal budaya Indonesia yang baru dikembangkan, dan membawanya sebagai pengalaman berharga lintas negara,” tambah Sri Kantina.

Melalui kegiatan ini, COCOA 2025 menegaskan komitmennya dalam membangun kolaborasi internasional berbasis budaya lokal, sejalan dengan semangat Universitas Muhammadiyah Jember dalam memperluas jejaring global tanpa meninggalkan akar budaya daerah.


Summer Camp 2025: COCOA Resmi Dimulai, Wadah Kolaborasi dan Pertukaran Budaya Internasional

Program Summer Camp 2025: COCOA (Colleagues Collaborative Actions) resmi dimulai di Modern Boarding School Watukebo, Kecamatan Ambulu, Jember. Kegiatan ini menjadi ajang kolaborasi internasional yang mempertemukan mahasiswa dari empat perguruan tinggi, yakni Universitas Muhammadiyah Jember, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Universitas Muhammadiyah Surabaya, dan Universitas Malaya (Malaysia).

Dalam sambutan pembukaannya, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Watukebo, Drs. Nur Wasit, menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya kegiatan berskala internasional tersebut. Ia menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa asing di Watukebo menjadi momentum berharga untuk memperkenalkan lebih luas Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang berkembang di wilayah tersebut.

“Kesempatan ini tidak hanya menjadi ajang pembelajaran lintas budaya, tetapi juga memperkenalkan semangat dan kiprah Muhammadiyah di tingkat global,” ujarnya.

Program yang diikuti oleh 42 mahasiswa Universitas Malaya ini mengusung beragam agenda menarik, mulai dari pertukaran budaya antarnegara, pengenalan budaya lokal melalui program Crafty (Creativity), kolaborasi pembelajaran Levi’s, penelitian bertema Insect, hingga kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk In-Comes.

Selain itu, Summer Camp 2025 juga menghadirkan sesi Benchmarking antar universitas serta Culture Night yang menampilkan keanekaragaman budaya Indonesia dan Malaysia. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan dapat memperluas wawasan, memperkuat jejaring akademik, dan menumbuhkan semangat kolaborasi lintas negara.

Kepala LPPM Universitas Malaya, Prof. Nazri, menyampaikan apresiasi dan harapan agar program COCOA mampu memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami kolaborasi global, sekaligus menanamkan nilai kepedulian sosial lintas budaya,” tutur Prof. Nazri.

Melalui program internasionalisasi ini, Summer Camp 2025: COCOA menjadi bukti nyata sinergi perguruan tinggi dalam membangun generasi muda yang adaptif, kreatif, dan siap bersaing di tingkat global.

Senin, 20 Oktober 2025

Lansia Desa Karangpring Antusias Ikuti Edukasi dan Senam Hipertensi Bersama Mahasiswa Profesi Ners Fikes Unmuh Jember

Mahasiswa profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) melaksanakan kegiatan edukasi dan senam hipertensi bagi warga lanjut usia di Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember  pada Selasa (14/10/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan pengendalian hipertensi melalui edukasi dan penerapan gaya hidup sehat.

Berdasarkan data Puskesmas Sukorambi dalam tiga bulan terakhir, tercatat sebanyak 177 warga mengalami hipertensi. Sementara hasil pengkajian mahasiswa terhadap 256 kepala keluarga (KK) serta wawancara dengan kader kesehatan menunjukkan bahwa hipertensi menjadi masalah kesehatan terbanyak di Desa Karangpring, dengan total 63 warga yang teridentifikasi menderita tekanan darah tinggi.

Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa profesi Ners Fikes Unmuh Jember menghadirkan kegiatan edukatif yang berfokus pada peningkatan pengetahuan masyarakat. Acara diawali dengan penyuluhan interaktif mengenai pengertian hipertensi, faktor risiko, cara pencegahan, serta pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara rutin. Warga terlihat sangat antusias, ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan selama sesi berlangsung.

Salah satu peserta lansia menyampaikan kesannya setelah mengikuti kegiatan ini.

“Saya jadi lebih paham tentang hipertensi, dan gerakan senam tadi bisa saya lakukan setiap hari,” ujarnya dengan penuh semangat.

Usai sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan senam hipertensi yang dipandu langsung oleh mahasiswa. Gerakan senam yang sederhana dan mudah diikuti ini dirancang agar dapat dilakukan secara mandiri di rumah untuk membantu menjaga kebugaran dan menstabilkan tekanan darah. Suasana berlangsung hangat dan penuh kebersamaan.

Pihak pemerintah desa turut memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan ini.

“Kami sangat mendukung inisiatif mahasiswa dalam mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga kesehatan. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat, terutama bagi para lansia,” ujar salah satu perangkat desa yang hadir dalam acara tersebut.

Melalui sinergi antara edukasi dan praktik langsung, mahasiswa profesi Ners Fikes Unmuh Jember berharap kegiatan ini dapat mendorong masyarakat Desa Karangpring, khususnya para lansia, untuk lebih proaktif dalam menjaga kesehatan melalui pola hidup sehat, olahraga teratur, serta pemeriksaan tekanan darah secara berkala.

Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen Unmuh Jember dalam melaksanakan bidang pengabdian kepada masyarakat, guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan mendukung terwujudnya kehidupan yang lebih sehat dan sejahtera.

 

Connect