Kamis, 23 Oktober 2025

Summer Camp 2025: Quality Showcase Bersama Universitas Malaya

Program Summer Camp 2025: Colleagues Collaborative Actions (COCOA) terus berlanjut dengan semangat kolaborasi lintas negara. Kali ini, kegiatan memasuki sesi University Showcase yang digelar di Ruang Rapat Gedung A Universitas Muhammadiyah Jember, Kamis (23/10).

Dalam sesi ini, para peserta mendapatkan wawasan internasional langsung dari Assoc. Prof. Dr. Mohd Nazri bin Abdul Rahman dari Universiti Malaya (UM), Malaysia). Ia memaparkan model penelitian dan pengabdian masyarakat unggulan yang dijalankan UM melalui program strategis UMCares@222 Wilayah Pembangunan Komuniti.

Program tersebut merupakan inisiatif besar Universiti Malaya yang menjangkau 222 wilayah komunitas di seluruh Malaysia. Tujuannya tidak hanya untuk memperkuat fungsi universitas sebagai pusat pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai penggerak utama pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Melalui UMCares, Universiti Malaya menumbuhkan budaya keterlibatan sosial (community engagement) yang aktif, inovatif, dan berkelanjutan. Lembaga ini menjadi pusat koordinasi seluruh kegiatan pengabdian masyarakat, riset sosial, serta transfer pengetahuan antara kampus, industri, pemerintah, dan masyarakat.

Empat bidang utama menjadi fokus UMCares, yakni pendidikan berkualitas, kesehatan dan kesejahteraan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta kelestarian lingkungan hidup.

Dalam presentasinya, Dr. Mohd Nazri juga memperkenalkan berbagai program unggulan seperti:

CAKnA (Citra Akademik untuk Komuniti dan Alam) – kegiatan kolaboratif antar-fakultas yang menjawab kebutuhan sosial berbasis riset;

IKom (Inisiatif Komuniti Kolej Kediaman) – pengabdian masyarakat berbasis mahasiswa asrama;

Komuniti Perdana dan UniMADANI – program berdampak besar yang melibatkan kolaborasi lintas sektor dengan pendekatan penta-helix;

Sekolah dan Kampung Angkat MADANI – penguatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat pedesaan.

Selain itu, sejumlah proyek inovatif turut dipresentasikan, di antaranya H.E.B.A.T (Henti Elak Basmi Asap Tembakau) yang memberdayakan mahasiswa menjadi duta antimerokok dan antivape dengan pendekatan seni dan media sosial. Ada juga proyek Sustainable Clean Water, yang menghadirkan teknologi penjernihan air cerdas berbasis tenaga surya bagi masyarakat pedesaan.

Program D.I.Y – Eco Warriors pun menjadi sorotan dengan konsep Reduce, Reuse, Recycle yang mengajak pelajar dan guru menjadi agen perubahan lingkungan berkelanjutan.

Melalui strategi 2024–2027, UMCares menetapkan lima sasaran utama: menumbuhkan budaya pengabdian, memperluas kemitraan strategis, memberdayakan keahlian akademik, memperkuat dampak sosial, serta meningkatkan visibilitas global kegiatan universitas.

Sesi Quality Showcase ini menjadi momentum berharga bagi peserta Summer Camp 2025 untuk mempelajari praktik terbaik kolaborasi internasional di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat.

Summer Camp 2025: Kolaborasi Empat Kampus Bangun Jejaring Global di Unmuh Jember

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) gelar kegiatan internasional bertajuk Summer Camp 2025: COCOA (Collaboration of Culture and Academic) di Aula Ahmad Zaenuri Unmuh Jember, pada Kamis (23/10/2025). Program ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai universitas untuk merayakan semangat kolaborasi lintas negara dan memperkuat hubungan akademik antarperguruan tinggi.

Dalam sambutannya, Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas akademik dan jejaring antar universitas.

“Acara ini bukan hanya ajang pertukaran budaya, tetapi juga ruang kolaborasi nyata antarperguruan tinggi dalam bidang penelitian, pengabdian, dan pendidikan,” ujar Dr. Hanafi.

Empat universitas turut terlibat dalam pelaksanaan program ini, yakni Universiti Malaya, Universitas Muhammadiyah Jember, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dan Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Keempatnya menandatangani implementation agreement yang menegaskan kerja sama di bidang penelitian, pengabdian masyarakat, dan pertukaran budaya.

Sebanyak 42 mahasiswa dari Universiti Malaya mengikuti program ini dengan berbagai agenda menarik, mulai dari kegiatan Crafty (Creativity) yang memperkenalkan budaya lokal, kolaborasi pembelajaran Levi’s, penelitian bertema Insect, hingga program pengabdian masyarakat “In-Comes”. Tak ketinggalan, sesi Benchmarking antar universitas dan Culture Night akan menjadi puncak perayaan keberagaman budaya Indonesia dan Malaysia.

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universiti Malaya, Prof. Nazri, mengungkapkan apresiasinya terhadap penyelenggaraan Summer Camp ini.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami kolaborasi global, sekaligus menanamkan nilai kepedulian sosial lintas budaya,” tuturnya.

Melalui program internasionalisasi ini, Summer Camp 2025: COCOA menjadi bukti sinergi antarperguruan tinggi dalam membentuk generasi muda yang adaptif, kreatif, dan siap bersaing di tingkat global.

 

 

Rabu, 22 Oktober 2025

Penelitian FAI Unmuh Jember Gandeng Universitas Malaya, Bahas Kecerdasan dan Spiritualitas Siswa

Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Jember, Dr. Bahar Agus Setiawan, S.SH.I., MM.Pd., tengah melaksanakan program penelitian kolaboratif berskala internasional bersama Universitas Malaya (Malaysia). Penelitian ini menjadi salah satu program strategis yang memiliki keberlanjutan jangka panjang dalam pengembangan riset pendidikan lintas negara.


Menurut Dr. Bahar, penelitian ini akan melibatkan sekitar 1.000 responden yang terdiri dari siswa-siswi tingkat SMP di Jember dan Malaysia. Proses pengambilan sampel ditargetkan rampung dalam waktu enam bulan ke depan agar hasil yang diperoleh lebih komprehensif dan representatif.

“Penelitian ini bertujuan untuk mengomparasikan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, serta pengaruhnya terhadap spiritualitas dan kualitas diri siswa,” jelas Dr. Bahar. Ia menambahkan, aspek-aspek seperti kemandirian, spiritualitas, dan kecerdasan siswa menjadi indikator utama dalam penelitian ini.



Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan publikasi pada jurnal internasional bereputasi, sehingga mampu menjadi rujukan penting bagi pengembangan studi pendidikan, khususnya dalam bidang Pendidikan Agama Islam.

“Tentu perlu analisis mendalam dari berbagai perspektif. Kami ingin melihat apakah terdapat hal yang perlu diperbaiki dari sudut pandang siswa terhadap proses pembelajaran, terutama dalam konteks pendidikan agama Islam,” pungkasnya.

Seni Tapak Suci Warnai COCOA 2025: Tampilkan Jurus Resmi IPSI di Hadapan Mahasiswa Universiti Malaya

Suasana penuh semangat dan decak kagum terdengar di aula SMP Muhammadiyah 9 Watukebo ketika seorang siswa muda, Ataya Jaluaji, menampilkan seni bela diri Tapak Suci di hadapan mahasiswa Universiti Malaya (Malaysia) dalam rangkaian kegiatan Summer Camp 2025: COCOA (Colleagues Collaborative Actions).

Ataya, yang kini duduk di kelas 3 SD, tampil percaya diri memperagakan seni tunggal IPSI tangan kosong, sebuah jurus pakem resmi yang diakui oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Meski masih belia, ia telah aktif berlatih sejak kelas 1 SD dan rutin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Tapak Suci di lingkungan Muhammadiyah.

Dengan penuh konsentrasi dan teknik yang matang, Ataya memadukan ketegasan gerak dan keanggunan irama, menampilkan seni bela diri yang tidak hanya mencerminkan kekuatan fisik, tetapi juga kedisiplinan, pengendalian diri, dan nilai-nilai spiritual yang menjadi ciri khas Tapak Suci. Penampilan ini sekaligus menjadi sarana pengenalan budaya bela diri Indonesia kepada mahasiswa asing yang mengikuti program COCOA 2025.

“Jurus yang ditampilkan merupakan jurus resmi IPSI dan bagian dari budaya Indonesia. Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan bahwa pencak silat tidak hanya olahraga, tetapi juga warisan budaya yang sarat nilai moral dan karakter,” ujar Setiyo Arif Purnomo Aji, pembina ekstrakurikuler Tapak Suci sekaligus guru PJOK SMP Muhammadiyah 9 Watukebo.

Selain telah mengikuti kejuaraan tingkat kabupaten (Kejurjab), Ataya juga tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi ME Confest 2025 di Sidoarjo, di mana ia akan menampilkan jurus yang berbeda. Bagi Setiyo, kesempatan tampil di hadapan mahasiswa luar negeri ini menjadi pengalaman berharga yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Senang sekali dan sangat bangga, ini first time kami menampilkan seni Tapak Suci di depan mahasiswa asing dari Malaysia. Anak-anak jadi lebih termotivasi untuk terus berlatih dan menjaga tradisi bela diri ini,” tambahnya dengan antusias.

Penampilan Tapak Suci di COCOA 2025 ini menjadi simbol kolaborasi budaya dan semangat internasionalisasi di lingkungan pendidikan Muhammadiyah. Mahasiswa Universiti Malaya terlihat antusias menyaksikan setiap gerakan, bahkan beberapa di antaranya mencoba menirukan jurus dasar yang diperagakan. Momen tersebut memperlihatkan bagaimana seni bela diri dapat menjadi jembatan antarbudaya — menyatukan semangat disiplin dan persaudaraan dalam gerak yang sama.

Melalui kegiatan ini, COCOA 2025 tidak hanya menjadi ruang akademik dan budaya, tetapi juga wahana pertukaran nilai-nilai universal seperti sportivitas, kebersamaan, dan rasa saling menghormati. Tapak Suci tampil bukan sekadar olahraga, tetapi sebagai ekspresi kebanggaan nasional yang menghubungkan Indonesia dan Malaysia dalam semangat persaudaraan yang sejati.

Mahasiswa Universiti Malaya Ikuti Pengenalan Tari Jember Kang Jembar di COCOA 2025


Suasana semarak mewarnai kegiatan Summer Camp 2025: COCOA (Colleagues Collaborative Actions) saat mahasiswa Universiti Malaya (Malaysia) mengikuti sesi pengenalan Tari Jember Kang Jembar di SMP Muhammadiyah 9 Watukebo, Kecamatan Ambulu. Kegiatan ini menjadi momen istimewa bagi peserta internasional untuk mengenal secara langsung kekayaan budaya lokal Jember melalui interaksi dan kolaborasi seni bersama pelajar Muhammadiyah.

Tari Jember Kang Jembar merupakan tarian khas daerah yang mencerminkan karakter masyarakat Jember yang terbuka, ramah, dan penuh semangat gotong royong. Diciptakan sebagai simbol identitas lokal, tarian ini mengandung filosofi “Jember kang jembar,” yang berarti Jember yang luas secara makna—sebuah wilayah yang menerima keberagaman sebagai kekuatan.

Dalam kegiatan tersebut, siswa dari ekstrakurikuler tari SMP Muhammadiyah 9 Watukebo menampilkan Tari Jember Kang Jembar di hadapan mahasiswa Universiti Malaya. Penampilan tersebut disambut dengan antusias, bahkan mahasiswa asing turut mempelajari beberapa gerakan dasar dan mencoba memahami makna di balik setiap gerak dan irama yang menggambarkan semangat masyarakat Jember.

Selain pertunjukan tari, kegiatan juga menampilkan ekstrakurikuler Tapak Suci dari MI Muhammadiyah 1 Watukebo. Kolaborasi antara seni tari dan bela diri ini menunjukkan kekayaan ekspresi budaya di lingkungan pendidikan Muhammadiyah sekaligus memperkuat nilai kedisiplinan dan karakter pelajar.

Menurut pembina kegiatan, keterlibatan mahasiswa Universiti Malaya dalam sesi ini memiliki makna yang penting dalam memperluas pemahaman lintas budaya dan memperkuat kebanggaan terhadap budaya lokal. Melalui program COCOA, pertukaran pengalaman antara peserta Indonesia dan Malaysia menjadi wujud nyata internasionalisasi pendidikan berbasis kebudayaan.

“Kegiatan ini membuka peluang besar untuk pembentukan pride dan internasionalisasi budaya. Ada kebanggaan tersendiri ketika budaya lokal Jember diperkenalkan kepada mahasiswa Universiti Malaya, dan mereka menunjukkan apresiasi yang tinggi terhadap kekayaan seni daerah kita,” ujar salah satu pembina ekstrakurikuler tari SMP Muhammadiyah 9 Watukebo.

Partisipasi mahasiswa Universiti Malaya tidak hanya memberikan warna internasional pada program COCOA, tetapi juga menjadi pengalaman berharga bagi mereka untuk mengenal kehidupan dan budaya masyarakat Jember secara langsung. Sebaliknya, bagi siswa-siswi Muhammadiyah, interaksi dengan peserta asing meningkatkan kepercayaan diri, semangat belajar, serta rasa bangga terhadap identitas budaya mereka sendiri.

Melalui pengenalan Tari Jember Kang Jembar dalam COCOA 2025, kegiatan ini membuktikan bahwa pertukaran budaya dapat menjadi sarana efektif untuk mempererat hubungan antarnegara dan memperluas wawasan peserta didik. Di bawah semangat kolaborasi, COCOA menjadi ruang pertemuan antara globalisasi dan kearifan lokal — di mana langkah-langkah tari menjadi simbol kebersamaan lintas bangsa. 

Summer Camp Cocoa 2025 Resmi Dimulai, Peserta Kunjungi Panti Asuhan LKSAM Assofyan

Rangkaian kegiatan Summer Camp Cocoa 2025 resmi dimulai dengan agenda perdana yang sarat makna, yakni kunjungan sosial ke Panti Asuhan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Muhammadiyah (LKSAM) Assofyan yang terletak di Desa Watukebo, Kecamatan Ambulu. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (22/10) dan diikuti oleh mahasiswa dari empat universitas berbeda yang tergabung dalam program Summer Camp tahun.

Kunjungan ini menjadi salah satu agenda unggulan yang bertujuan tidak hanya untuk mempererat hubungan sosial antara mahasiswa dan masyarakat, tetapi juga untuk menanamkan nilai-nilai edukatif dan motivasional kepada anak-anak di panti asuhan. Dengan semangat kolaboratif, para mahasiswa menginisiasi berbagai kegiatan interaktif yang dirancang untuk membangkitkan semangat belajar dan optimisme anak-anak dalam menggapai cita-cita mereka.

Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan adalah diskusi kelompok. Anak-anak panti dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil dan masing-masing kelompok didampingi oleh mahasiswa peserta Summer Camp. Dalam suasana yang hangat dan penuh semangat, para mahasiswa membimbing anak-anak untuk mengungkapkan impian mereka dan berdiskusi tentang langkah-langkah yang bisa mereka tempuh untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Metode pembelajaran yang digunakan pun cukup menarik. Anak-anak diberikan lembar pernyataan yang harus diisi, yang berisi tentang cara berpikir strategis untuk mencapai mimpi mereka. Mulai dari mengenali potensi diri, menentukan tujuan jangka pendek dan panjang, hingga menyusun rencana aksi yang realistis dan terukur.

Kegiatan ini menjadi pembuka yang inspiratif dalam rangkaian Summer Camp Cocoa 2025, yang selama penyelenggaraannya menghadirkan berbagai agenda pembelajaran, pengabdian, dan pengembangan diri. Dengan semangat sinergi antara kampus dan masyarakat, Summer Camp Cocoa 2025 diharapkan mampu menjadi wadah penguatan karakter, kolaborasi, dan kepedulian sosial bagi para pesertanya.

COCOA 2025: Dosen Fakultas Hukum Unmuh Jember Edukasi Siswa MI Muhammadiyah 1 Watukebo tentang Kekerasan di Dunia Pendidikan

Masih banyak anak-anak yang belum memahami secara menyeluruh bentuk kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan. Hal tersebut mendorong Dr. Fina Rosalina, S.H., M.H., dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jember, untuk memberikan edukasi langsung kepada 15 siswa MI Muhammadiyah 1 Watukebo dan 5 mahasiswa asing dari Universiti Malaya (Malaysia) dalam rangkaian kegiatan Summer Camp 2025: COCOA (Colleagues Collaborative Actions) pada Rabu (22/10/2025).

Dalam sesi bertajuk “Kekerasan di Lingkungan Pendidikan,” Dr. Fina mengawali dengan menanyakan pemahaman peserta tentang kekerasan. Mayoritas siswa hanya menyebut bullying sebagai satu-satunya bentuk kekerasan yang mereka kenal. Dari situlah, Dr. Fina kemudian memperluas perspektif mereka bahwa kekerasan di dunia pendidikan bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan verbal, fisik, emosional, hingga kekerasan seksual. Ia menegaskan pentingnya memahami isu ini sejak dini agar peserta didik mampu melindungi diri dan tidak menjadi korban.

“Sebagai akademisi, saya berharap anak-anak dapat memahami bentuk kekerasan sejak dini, sehingga mereka mampu menjaga diri dan tidak menjadi korban, terutama dalam konteks kekerasan seksual di dunia pendidikan,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Dr. Fina memaparkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) serta Komnas Perempuan tahun 2022 yang menunjukkan bahwa hampir 46,76 persen pelaku kekerasan di lingkungan pendidikan adalah guru atau tenaga pendidik. Angka tersebut, menurutnya, menandakan masih kuatnya relasi kuasa antara pendidik dan peserta didik yang sering kali disalahgunakan. Ia menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara tindakan disiplin edukatif dan kekerasan berbasis relasi kuasa terletak pada niat, konteks, dan dampaknya.

Pemukulan atau teguran dalam konteks mendidik dilakukan dengan kendali diri dan niat untuk menanamkan disiplin, sedangkan kekerasan terjadi ketika guru menggunakan otoritasnya untuk menghukum, mempermalukan, atau melampiaskan emosi. Dalam konteks hukum, tidak ada bentuk kekerasan fisik maupun verbal yang dapat dibenarkan atas nama pendidikan, karena semua tindakan tersebut masuk dalam kategori pelanggaran terhadap Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014.

Lebih lanjut, Dr. Fina juga membahas karakteristik kekerasan seksual yang kerap muncul di lembaga pendidikan dan pesantren, mulai dari pelecehan verbal hingga pemaksaan perkawinan yang dibungkus dalih keagamaan atau bimbingan spiritual. Ia menjelaskan bahwa relasi kuasa yang tidak seimbang sering kali membuat korban merasa takut untuk melapor. Rasa khawatir akan kehilangan dukungan, takut mendapat stigma sosial, hingga tidak mengetahui mekanisme pelaporan menjadi hambatan besar bagi korban untuk mencari keadilan.

Melalui pendekatan edukatif yang sederhana dan dialogis, Dr. Fina mengajak para siswa untuk memahami perbedaan antara “dihukum” dan “dianiaya.” Sekolah, katanya, memang tempat belajar, bukan tempat menyakiti. Namun dalam proses pendidikan, ada kalanya siswa perlu dikoreksi atau diberi sanksi agar memahami batas perilaku yang benar. Permasalahan muncul ketika setiap bentuk ketegasan dianggap sebagai kekerasan, padahal tidak semua tindakan korektif bersifat abusif.

Pada bagian akhir kegiatan, Dr. Fina memberikan panduan praktis kepada siswa dan mahasiswa asing tentang bagaimana bersikap jika mengalami atau menyaksikan kekerasan di lingkungan pendidikan. Ia mengingatkan pentingnya segera bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya, menggunakan jalur aman di sekolah, mendukung teman yang menjadi korban, serta melaporkan kejadian tersebut ke lembaga resmi yang berwenang. Pesan sederhana “Jangan diam, ceritakan dan laporkan” menjadi penekanan utama dalam sesi tersebut.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jember dalam mendukung misi COCOA 2025—membangun kesadaran hukum dan keberanian moral sejak usia dini. Melalui pendekatan lintas budaya yang melibatkan mahasiswa Universiti Malaya, kegiatan ini juga memperluas ruang pembelajaran tentang perlindungan diri dan nilai-nilai kemanusiaan di ranah pendidikan.

“Harapannya, anak-anak dan mahasiswa asing yang hadir hari ini bisa membawa nilai-nilai perlindungan diri ke lingkungan masing-masing. Edukasi hukum tidak harus dimulai dari istilah rumit, tapi dari pemahaman sederhana tentang bagaimana menghargai dan melindungi sesama,” tutup Dr. Fina.

Connect