Kamis, 13 Agustus 2026

UMKM Suger Lor Naik Kelas! KKN-T 02 Unmuh Jember Bantu Urus Legalitas hingga Go Digital


Mahasiswa KKN-T Kelompok 02 Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Suger Lor, Bondowoso, untuk memperkuat legalitas dan pemasaran digital. Pendampingan tersebut dilaksanakan pada Kamis (30/7/2026) melalui sejumlah program, mulai dari pemasangan banner usaha, pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), stiker identitas usaha, hingga penambahan lokasi UMKM di Google Maps.

Program ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat identitas usaha masyarakat. Pemasangan banner dan stiker identitas diharapkan membuat usaha lebih mudah dikenali, sementara pendampingan pembuatan NIB membantu pelaku UMKM memiliki legalitas usaha yang dapat mendukung akses terhadap program pembinaan dan bantuan pemerintah.

Mahasiswa KKN-T juga membantu mendaftarkan lokasi UMKM ke Google Maps. Langkah tersebut diharapkan memudahkan konsumen menemukan lokasi usaha sekaligus memperluas jangkauan pemasaran melalui teknologi digital.

Kepala Desa Suger Lor, Koesnadi, mengapresiasi pendampingan yang diberikan mahasiswa. Menurutnya, penguatan legalitas dan pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing UMKM.

“Kami berharap program ini dapat membantu pelaku UMKM menjadi lebih dikenal, memiliki legalitas yang jelas, serta mampu memperluas jangkauan pasar melalui pemanfaatan teknologi digital,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan Ahmad Yani, pelaku UMKM Keripik Samilir. Ia menilai pemasangan banner dan lokasi usaha di Google Maps membantu masyarakat lebih mudah mengenali dan menemukan tempat usahanya.

“Pemasangan banner dan titik Google Maps sangat membantu usaha kami. Pelanggan menjadi lebih mudah menemukan lokasi usaha melalui aplikasi navigasi,” kata Ahmad.

Tokoh masyarakat Desa Suger Lor turut menilai program tersebut sebagai langkah positif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi desa. Pendampingan yang mencakup aspek promosi sekaligus legalitas dinilai dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi pelaku UMKM.

Melalui program ini, KKN-T Kelompok 02 berharap UMKM Desa Suger Lor semakin memiliki identitas usaha yang kuat, legal secara administrasi, serta mampu memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk lokal.

Rabu, 12 Agustus 2026

Tingkatkan Keselamatan Pengguna Jalan, KKN-T 03 UNMUH Jember Pasang Reflektor di Desa Sumber Kemuning

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 03 Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember melaksanakan pemasangan reflektor jalan di Desa Sumber Kemuning, Kecamatan Tamanan, Kabupaten Bondowoso, pada Senin (10/8/2026). Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap keselamatan masyarakat, khususnya pengguna jalan yang melintas pada malam hari.

Pemasangan reflektor dilakukan bersama perangkat Desa Sumber Kemuning dengan didampingi Bhabinsa. Sebelum pemasangan, mahasiswa bersama pihak desa terlebih dahulu melakukan survei untuk menentukan titik-titik yang membutuhkan reflektor. Sasaran utama pemasangan berada di sejumlah lokasi yang minim penerangan dan dinilai memiliki risiko kecelakaan.

Reflektor dipasang sebagai penanda bagi pengguna jalan agar dapat mengenali kondisi dan batas jalan ketika melintas pada malam hari. Pantulan cahaya dari lampu kendaraan diharapkan membuat reflektor lebih mudah terlihat sehingga dapat membantu meningkatkan kewaspadaan pengendara.

Perangkat Desa Sumber Kemuning, Wahyudi, mengapresiasi program yang dilakukan mahasiswa KKN-T 03 Unmuh Jember tersebut. Menurutnya, keberadaan reflektor dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama di titik jalan yang dinilai rawan kecelakaan.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kepeduliannya dalam pembuatan reflektor jalan ini. Insyaallah, program ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan keselamatan pengguna jalan, mengingat lokasi ini merupakan salah satu titik yang rawan terjadi kecelakaan,” ujar Wahyudi.

Melalui kegiatan tersebut, sejumlah titik jalan yang telah ditentukan berdasarkan hasil survei kini telah dilengkapi reflektor. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi penanda bagi pengguna jalan, terutama pada malam hari dan di lokasi dengan penerangan yang terbatas.

Selain menghasilkan fasilitas pendukung keselamatan jalan, kegiatan ini juga menjadi upaya untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran bersama mengenai pentingnya keselamatan dalam berkendara. Mahasiswa KKN-T 03 Unmuh Jember berharap reflektor yang telah dipasang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat saat menggunakan jalan, khususnya pada malam hari.

Mahasiswa juga berharap masyarakat setempat dapat menjaga dan merawat reflektor tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan meskipun kegiatan KKN telah berakhir.

Dr. Wahyudi Widada Soroti Peran Spiritual Care dalam Pelayanan Keperawatan Kritis Pada Webinar Ners Angkatan XVI Unmuh Jember


Pelayanan keperawatan tidak hanya berfokus pada kondisi fisik pasien, tetapi juga perlu memperhatikan aspek spiritual dalam proses pemulihan. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Webinar Ners Angkatan XVI Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember.

Dalam webinar tersebut, Dosen Fikes Unmuh Jember, Dr. Wahyudi Widada, S.Kp., M.Ked., menyampaikan materi bertajuk “Evidence Based Spiritual Care dan Tantangan Implementasi pada Pelayanan Keperawatan Kritis.” Materi tersebut menyoroti pentingnya pendekatan spiritual sebagai bagian dari pelayanan keperawatan kepada pasien, khususnya pada kondisi kritis.

Dr. Wahyudi menjelaskan bahwa profesi perawat memiliki peran penting dalam mendampingi pasien yang menghadapi kondisi sakit. Pendampingan tidak hanya dilakukan melalui tindakan medis dan keperawatan, tetapi juga dapat diberikan melalui dukungan spiritual, termasuk doa dan pendampingan ketika pasien maupun keluarga menghadapi situasi sulit.

Dalam materinya, ia mengangkat sejumlah kisah pasien sebagai gambaran mengenai pengalaman spiritual dalam menghadapi penyakit, di antaranya kisah pasien kanker payudara stadium 3B, anak yang mendampingi ayahnya menjelang ajal, pasien yang mengalami pergulatan kondisi spiritual, serta pasien kanker pankreas.

Salah satu landasan yang disampaikan dalam materi tersebut adalah hadis qudsi mengenai kemuliaan menjenguk orang sakit. Hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah tersebut menggambarkan kedekatan Allah SWT dengan hamba-Nya yang sedang sakit serta pentingnya kehadiran dan kepedulian terhadap mereka.

Selain memberikan pendampingan secara emosional dan spiritual, materi webinar juga membahas berbagai bentuk doa yang dapat diberikan dalam pendampingan pasien. Di antaranya doa ketika menjenguk orang sakit, doa pengobatan, doa meruqyah, hingga doa penjagaan.

Salah satu pendekatan yang dibahas adalah ruqyah syar'iyah sebagai bentuk intervensi spiritual. Dalam penerapannya, perawat atau pendamping terlebih dahulu melakukan wawancara kepada pasien untuk mengetahui keluhan yang dirasakan, termasuk kondisi emosional maupun keluhan yang dianggap berkaitan dengan gangguan nonmedis.

Pendekatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan edukasi mengenai pengobatan berbasis Al-Qur'an, ajakan untuk menghindari perbuatan maksiat, serta penguatan sikap sabar dan menerima takdir dalam menghadapi sakit.

Dalam materi praktiknya, spiritual care juga mencakup pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an dan doa tertentu. Materi tersebut antara lain memuat pembacaan Surah Al-Fatihah, sejumlah ayat dari Surah Al-Baqarah, At-Taubah, serta tiga surah yang dikenal sebagai Al-Mu'awwidzat atau tiga Qul, yakni Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.

Selain itu, peserta diperkenalkan dengan sejumlah ayat yang disebut sebagai ayat-ayat syifa atau ayat pengobatan, yaitu dari Surah At-Taubah ayat 14, Yunus ayat 57, An-Nahl ayat 69, Al-Isra' ayat 82, Ash-Syu'ara ayat 80, dan Al-Fushilat ayat 44.

Dr. Wahyudi juga mengangkat doa Nabi Ayyub AS sebagai salah satu contoh doa dalam menghadapi penyakit. Kisah Nabi Ayyub menjadi gambaran mengenai kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi ujian sakit serta berserah diri kepada Allah SWT.

Melalui materi tersebut, Webinar Ners XVI Fikes Unmuh Jember menekankan bahwa pelayanan keperawatan dapat dipandang secara lebih menyeluruh dengan memperhatikan kebutuhan pasien, termasuk kebutuhan spiritual. Spiritual care diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat menjadi bagian dari pengamalan dalam memberikan pendampingan kepada pasien sesuai dengan konteks dan kompetensi pelayanan keperawatan.

Webinar Ners XVI Fikes Unmuh Jember Soroti Pentingnya Asuhan Keperawatan Spiritual bagi Pasien Kritis


Pelayanan keperawatan pada pasien kritis tidak hanya berfokus pada kondisi fisik, tetapi juga perlu memperhatikan aspek mental, sosial, dan spiritual. Pendekatan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Webinar Ners XVI Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember yang diselenggarakan di Aula Darusy Syifa', RSD dr. Subandi, Kecamatan Patrang, pada (12/08).

Dalam kegiatan tersebut, Ns. Imam Sanusi, S.Kep., MM.Kes. mempresentasikan materi bertajuk “Implementasi Asuhan Keperawatan Spiritual pada Pasien Kritis”. Materi tersebut membahas pentingnya pendekatan keperawatan secara holistik dalam memberikan pelayanan kepada pasien, terutama mereka yang berada dalam kondisi kritis.

Ns. Imam menjelaskan bahwa praktik keperawatan profesional pada hakikatnya merupakan pelayanan yang menyeluruh atau holistik. Pelayanan tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, yakni fisik, mental, sosial, dan spiritual. Menurut materi yang disampaikan, pendekatan keperawatan holistik semakin dibutuhkan masyarakat dan dipandang sebagai salah satu kecenderungan pelayanan keperawatan di masa mendatang.

Aspek spiritual menjadi perhatian karena merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Dalam kondisi sakit, terutama ketika tubuh mengalami kelemahan dan pasien menghadapi kondisi yang berat, kebutuhan untuk memperoleh ketenangan dan bergantung kepada Tuhan dapat semakin kuat.

Pembahasan kemudian diarahkan pada kondisi kritis yang dapat terjadi secara tiba-tiba, tidak diharapkan, serta mengancam kehidupan pasien. Kondisi tersebut dapat berupa penyakit akut, trauma, maupun perburukan akut dari penyakit kronis. Situasi ini tidak hanya berdampak kepada pasien, tetapi juga dapat mengancam kesejahteraan keluarga dan memicu respons stres.

Pada pasien kritis, berbagai dampak psikologis dapat muncul, seperti stres akibat penyakit, kecemasan dan ketakutan terhadap ancaman kematian, perasaan terisolasi, depresi, serta perasaan rapuh akibat ketergantungan secara fisik dan emosional. Pasien juga dapat mengalami kegelisahan, kebingungan, delusi, ilusi, maupun halusinasi.

Perhatian terhadap kebutuhan spiritual menjadi semakin penting ketika pasien memasuki kondisi menjelang ajal atau sakaratul maut. Dalam pemaparannya, Ns. Imam menjelaskan sejumlah tanda yang dapat menyertai kondisi tersebut, antara lain penurunan kesadaran, perubahan tanda vital, keringat dingin, tidak adanya respons pada bola mata, gerakan tanpa sadar, serta melemahnya otot.

Menurut materi yang disampaikan, pendampingan terhadap pasien menjelang kematian merupakan bagian dari pendampingan dalam kehidupan. Karena itu, diperlukan langkah yang sistematis dan terstruktur dalam pemberian asuhan keperawatan spiritual, termasuk kolaborasi dengan tim bimbingan rohani rumah sakit.

Implementasi asuhan keperawatan spiritual dilakukan melalui tahapan pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, dan implementasi. Pada tahap pengkajian, perawat dapat mengidentifikasi status agama, tingkat keyakinan, ketakutan terhadap kematian, perasaan hampa dan putus asa, riwayat ibadah sebelum dan setelah sakit, serta harapan pasien terhadap Tuhan.

Khusus pada pasien kritis, pengkajian spiritual juga mencakup status kesadaran, status agama atau kepercayaan, tingkat keyakinan atau keimanan, kemampuan dan kemauan menjalankan ibadah, serta kesadaran terhadap makna hidup. Salah satu diagnosis yang dapat ditemukan dalam pengkajian tersebut adalah distres spiritual.

Selain memberikan asuhan keperawatan, perawat juga dapat berkolaborasi dengan tim bimbingan rohani rumah sakit. Kolaborasi tersebut dilakukan melalui koordinasi dan pengaturan kunjungan tim untuk memberikan bimbingan spiritual kepada pasien.

Bagi pasien yang berada dalam kondisi menjelang ajal, materi menekankan pentingnya memberikan perlakuan sebaik mungkin dan dukungan spiritual. Keluarga dapat dilibatkan untuk mendampingi pasien, sementara pasien diberikan nasihat untuk bersabar, mengingatkan tentang wasiat, memperbanyak istighfar, tidak berputus asa, serta senantiasa berharap terhadap rahmat Allah.

Melalui materi tersebut, Webinar Ners Angkatan XVI Fikes Unmuh Jember menegaskan pentingnya melihat pelayanan keperawatan secara utuh. Asuhan keperawatan spiritual menjadi salah satu pendekatan yang dapat melengkapi pelayanan kepada pasien kritis dengan memperhatikan kebutuhan manusia tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga mental, sosial, dan spiritual.

Webinar Ners Angkatan XVI Bahas Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Bina Rohani Pasien

 

Pelayanan kesehatan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisik pasien, tetapi juga mencakup aspek mental, sosial, dan spiritual. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Webinar Ners Angkatan XVI Fakultas Ilmu Kesehatan(Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember yang dilaksanakan pada (12/8) di Aula Darus Syifa’, RSD dr. Subandi Jember.

Dalam webinar tersebut, materi bertajuk “Kebijakan Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Bina Rohani” dipresentasikan oleh Ns. Mustakim, S.Kep., M.MKes., Sp.KMB. Materi menekankan pentingnya pendekatan pelayanan kesehatan yang holistik dengan memperhatikan kebutuhan spiritual pasien sebagai bagian dari proses perawatan.

Menurut materi yang disampaikan, kesehatan merupakan suatu kesatuan yang tidak hanya mencakup kondisi jasmani, tetapi juga mental, sosial, dan spiritual. Pelayanan spiritual diperlukan untuk membantu pasien dan keluarga menghadapi krisis akibat penyakit. Pendampingan kerohanian juga dinilai dapat membantu mengurangi kecemasan, memberikan ketenangan batin, serta mendukung proses pemulihan pasien.


Pembahasan juga menyoroti pemenuhan hak pasien dalam memperoleh pelayanan yang menghargai harkat, martabat, serta nilai dan keyakinan yang dianut. Rumah sakit memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi kebutuhan spiritual pasien tanpa membedakan latar belakangnya.

Dalam pelaksanaannya, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam pelayanan bina rohani. Perawat atau dokter dapat melakukan skrining dan pengkajian awal untuk mengidentifikasi kebutuhan spiritual pasien sejak proses admisi. Selanjutnya, tenaga kesehatan dapat membantu menghubungkan pasien dengan rohaniwan yang berwenang atau petugas bina rohani sesuai agama dan keyakinan pasien.

Pelayanan bina rohani juga perlu dilaksanakan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan dan rohaniwan. Kolaborasi tersebut bertujuan mendukung ketenangan pasien dengan tetap menjaga batas antara pelayanan spiritual dan keputusan medis. Rohaniwan tidak diperkenankan memberikan arahan yang bertentangan dengan keterangan dokter maupun memengaruhi keputusan pasien dalam memberikan persetujuan tindakan medis atau informed consent.

Sasaran pelayanan bina rohani antara lain pasien yang akan menjalani tindakan medis yang menimbulkan ketakutan, seperti operasi besar dan kemoterapi, pasien dalam kondisi kritis di ruang ICU, pasien paliatif atau terminal, serta pasien dengan penyakit kronis yang membutuhkan dukungan mental.

Materi webinar juga menjelaskan alur standar pelayanan bina rohani di rumah sakit. Proses tersebut dimulai dari pengkajian kebutuhan spiritual dan pencatatan agama serta preferensi pasien, dilanjutkan dengan permintaan layanan oleh pasien atau keluarga, pelaksanaan bimbingan oleh petugas bina rohani atau rohaniwan yang ditunjuk, hingga dokumentasi pelayanan dalam catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT).

Dari sisi regulasi, pelayanan bina rohani berkaitan dengan pemenuhan hak pasien dan standar akreditasi rumah sakit. Materi menyebutkan Standar Hak Pasien dan Keluarga (HPK) 1.2, yang mengatur kewajiban rumah sakit untuk menanggapi permintaan pasien terkait keyakinan agama dan spiritual. Rumah sakit juga perlu menyediakan fasilitas ibadah atau bimbingan rohani yang memadai serta mendokumentasikan permintaan dan pelaksanaan pelayanan tersebut dalam rekam medis terintegrasi.

Landasan hukum yang dipaparkan antara lain Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, yang menegaskan hak pasien untuk menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaannya serta hak untuk menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama atau kepercayaannya. Selain itu, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menempatkan kesehatan dalam cakupan aspek fisik, jiwa, dan sosial serta mempertimbangkan nilai moral dan agama dalam penyelenggaraan kesehatan.

Aspek dokumentasi juga menjadi bagian penting dalam pelayanan bina rohani. Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis disebut sebagai salah satu dasar dalam penyelenggaraan dan pendokumentasian pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan bina rohani yang berkaitan dengan kebutuhan dan kondisi pasien sesuai kebijakan serta prosedur rumah sakit.

Selain aspek kebijakan dan regulasi, materi webinar turut mengangkat hasil penelitian mengenai spiritual care. Wang et al. (2024) menunjukkan pentingnya kompetensi perawat dalam aspek spiritual dan kemampuan mengintegrasikan kebutuhan spiritual pasien ke dalam pelayanan keperawatan. Sementara itu, tinjauan sistematis Dos Santos et al. (2022) menunjukkan bahwa perawat dapat berperan dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien melalui berbagai intervensi yang disesuaikan dengan kondisi dan keyakinan pasien.

Pembahasan tersebut diperkuat oleh kajian Mohd Asri et al. (2024) yang menjelaskan bahwa pengkajian kebutuhan spiritual dan pemberian spiritual care merupakan bagian penting dalam pelayanan keperawatan. Namun, penerapannya di ruang perawatan masih menghadapi tantangan, salah satunya keterbatasan kompetensi tenaga keperawatan dalam memberikan spiritual care secara optimal.

Melalui webinar ini, pemahaman mengenai pelayanan bina rohani diharapkan dapat memperkuat perspektif tenaga kesehatan, khususnya perawat, bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan bagian dari pelayanan yang menghargai manusia secara utuh. Pelayanan tersebut perlu diberikan secara profesional, berdasarkan kebutuhan dan keyakinan pasien, serta tetap mengedepankan etika dan keselamatan dalam proses pelayanan kesehatan.

Merawat Lebih dari Sekadar Fisik, Webinar Ners XVI Bahas Pentingnya Kebutuhan Spiritual Pasien

 

Pemenuhan kebutuhan spiritual pasien menjadi salah satu aspek penting dalam memberikan pelayanan keperawatan secara menyeluruh. Hal tersebut dibahas dalam Webinar Ners Angkatan XVI Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember yang dilaksanakan pada (12/8) di Aula Darus Syifa’, RSD dr. Subandi Jember.

Dalam webinar tersebut, mahasiswa Profesi Ners Angkatan XVI Fikes Unmuh Jember, Silviana Ziqro, S.Kep., mempresentasikan materi bertajuk “Implementasi Pemenuhan Spiritual di Ruang Rawat Inap”. Materi tersebut membahas pentingnya pemenuhan kebutuhan spiritual sebagai bagian dari pendekatan keperawatan holistik dan patient-centered care.

Materi menekankan bahwa model keperawatan merupakan kerangka konseptual yang menjadi pedoman dalam pemberian asuhan keperawatan, mulai dari pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi hingga evaluasi. Dalam pendekatan holistik, pasien dipandang sebagai individu secara utuh yang memiliki dimensi biologis, psikologis, sosial, budaya, dan spiritual.

Dalam pemenuhan kebutuhan spiritual, perawat memiliki peran penting melalui komunikasi terapeutik, empati, penghormatan terhadap keyakinan pasien, serta membantu memfasilitasi kebutuhan ibadah. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Theory of Human Caring yang menekankan pentingnya hubungan terapeutik, kasih sayang, dan kehadiran perawat secara utuh dalam mendampingi pasien.

Spiritualitas sendiri dipahami sebagai dimensi fundamental kehidupan yang berkaitan dengan makna dan tujuan hidup, nilai, harapan, hubungan dengan diri sendiri maupun orang lain, alam, serta Tuhan atau sesuatu yang bersifat transenden. Dalam konteks pasien rawat inap, kebutuhan spiritual dapat berupa kebutuhan akan makna dan tujuan hidup, harapan, kedamaian batin, hubungan yang baik, kesempatan beribadah, hingga dukungan dari rohaniwan sesuai keyakinan pasien.

Pemenuhan kebutuhan spiritual dinilai penting karena dapat membantu pasien memperoleh ketenangan, meningkatkan kemampuan koping, mengurangi stres, kecemasan, dan depresi, serta meningkatkan kualitas hidup. Selain itu, pemenuhan spiritual juga menjadi bagian dari patient-centered care dan asuhan keperawatan holistik yang mendukung proses pelayanan kepada pasien secara menyeluruh.

Materi tersebut juga mengidentifikasi sejumlah kelompok pasien yang memiliki kebutuhan spiritual tinggi, di antaranya pasien dengan penyakit kronis, pasien kritis, pasien paliatif, dan lanjut usia. Pada kelompok tersebut, dukungan spiritual dapat menjadi bagian penting dalam membantu pasien menghadapi kondisi penyakit dan proses perawatan yang dijalani.

Keberhasilan pemenuhan kebutuhan spiritual dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain kepuasan pasien terhadap pelayanan spiritual, kemampuan pasien menjalankan ibadah sesuai kondisi dan keyakinannya, serta peningkatan spiritual well-being. Kondisi tersebut ditandai dengan pasien merasa lebih tenang, ikhlas, memiliki harapan, dan tidak lagi diliputi rasa takut secara berlebihan.

Dalam pembahasannya, mahasiswa juga menyoroti bahwa penerapan spiritual care di ruang rawat inap masih belum terintegrasi secara konsisten. Pelayanan keperawatan masih cenderung berfokus pada aspek biologis, sementara intervensi spiritual umumnya terbatas pada doa bersama dan pendampingan rohani, terutama ketika pasien berada dalam kondisi terminal. Beban kerja perawat yang tinggi dan keterbatasan waktu menjadi salah satu hambatan dalam penerapan pelayanan spiritual secara optimal.

Karena itu, spiritual care perlu diintegrasikan secara lebih optimal ke dalam pelayanan keperawatan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penguatan kompetensi perawat, penyediaan pedoman dan fasilitas pendukung, serta optimalisasi peran perawat sebagai fasilitator kebutuhan spiritual pasien. Dengan demikian, pendekatan patient-centered care dapat diterapkan secara lebih holistik dengan memperhatikan kebutuhan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual pasien secara seimbang.

Pembahasan mengenai implementasi pemenuhan spiritual tersebut melengkapi materi “Kebijakan Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Bina Rohani” yang turut dipresentasikan dalam kegiatan. Materi tersebut menegaskan bahwa pelayanan spiritual merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan holistik pasien serta perlu dilaksanakan dengan menghormati harkat, martabat, dan keyakinan pasien.

Melalui Webinar Ners Angkatan XVI, pembahasan mengenai spiritual care diharapkan dapat memperkuat pemahaman calon perawat mengenai pentingnya memberikan asuhan yang tidak hanya berorientasi pada kondisi fisik pasien, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan keperawatan yang komprehensif, manusiawi, dan berpusat pada kebutuhan pasien.

Fikes Unmuh Jember Gelar Webinar Ners Angkatan XVI, Perkuat Kompetensi Keperawatan Holistik

 

Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember terus mendorong mahasiswa Profesi Ners untuk memiliki kemampuan memberikan pelayanan keperawatan secara holistik. Upaya tersebut diwujudkan melalui Webinar Ners Angkatan XVI yang dilaksanakan di Aula Darus Syifa’, RSD dr. Subandi Jember pada 12 Agustus 2026 .

Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa Profesi Ners Angkatan XVI untuk memperdalam wawasan dan pengalaman mengenai pelayanan keperawatan, khususnya pemenuhan kebutuhan spiritual pasien. Webinar menghadirkan sejumlah materi yang membahas spiritual care, pelayanan bina rohani, hingga implementasi asuhan keperawatan spiritual pada pasien kritis.

Ketua panitia, Mohammad Washli Manash, S.Kep., menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan uapaya meningkatkan pemahaman tentang pentingnya integrasi spiritual dalam mendukung pelayanan holistik.

"Webinar ini berupaya meningkatkan pengetahuan tentang integrasi spiritual dalam pelayanan kesehatan yang khususnya dalam mendukung pelayanan holistik dan berpusat pada kebutuhan pasien" jelasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Dekan Fikes Unmuh Jember, Ns. Sri Wahyuni, M.Kep., Sp.Kep.Kom., sebagai bentuk dukungan terhadap mahasiswa Profesi Ners dalam mengembangkan kompetensi profesionalnya. Kehadiran pimpinan fakultas sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kelembagaan antara Fikes Unmuh Jember dan RSD dr. Subandi Jember, khususnya dalam mendukung proses pendidikan dan praktik klinik mahasiswa.

Beliau menyebutkan Fikes Unmuh Jember akan berkolaborasi dan bermitra dengan RSD dr. Subandi dalam berbagai kegiatan akademik, termasuk kegiatan akreditasi.

"Tentunya, kami akan menjadikan RSD dr. Sbandi sebagai mitra kami yang akan kami libatkan dalam proses akreditasi" ujarnya.

Dukungan terhadap kolaborasi tersebut dinilai penting mengingat lingkungan rumah sakit menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi mahasiswa Profesi Ners untuk mengembangkan kemampuan profesional sekaligus memahami kebutuhan pasien secara langsung. Sinergi antara institusi pendidikan dan rumah sakit diharapkan dapat terus diperkuat dalam mendukung pendidikan, pelayanan, dan pengembangan kompetensi tenaga kesehatan.

Salah satu materi yang dipresentasikan mahasiswa Profesi Ners Angkatan XVI adalah “Implementasi Pemenuhan Spiritual di Ruang Rawat Inap”. Materi ini menekankan bahwa pasien perlu dipandang sebagai individu secara utuh, tidak hanya dari aspek biologis, tetapi juga psikologis, sosial, budaya, dan spiritual.

Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan bagian dari pendekatan keperawatan holistik dan patient-centered care. Perawat memiliki peran dalam memberikan komunikasi terapeutik, empati, menghormati keyakinan pasien, serta memfasilitasi kebutuhan ibadah sesuai kondisi dan keyakinan pasien.

Kebutuhan spiritual pasien dapat mencakup kebutuhan akan makna dan tujuan hidup, harapan, kedamaian batin, hubungan yang baik, kesempatan menjalankan ibadah, serta dukungan rohaniwan. Pemenuhan kebutuhan tersebut diharapkan dapat membantu pasien memperoleh ketenangan, meningkatkan kemampuan koping, mengurangi stres dan kecemasan, serta mendukung kualitas hidup pasien.

Materi lainnya, “Kebijakan Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Bina Rohani”, dipresentasikan oleh Ns. Mustakim, S.Kep., M.MKes., Sp.KMB. Materi ini membahas pentingnya pelayanan kesehatan yang memperhatikan aspek fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Dalam pemaparannya, pelayanan bina rohani ditempatkan sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan holistik pasien. Tenaga kesehatan memiliki peran dalam melakukan skrining dan pengkajian awal kebutuhan spiritual pasien, kemudian memfasilitasi pasien untuk memperoleh pendampingan dari rohaniwan atau petugas bina rohani sesuai agama dan keyakinannya.

Pelayanan bina rohani juga membutuhkan kolaborasi antara tenaga kesehatan dan rohaniwan. Kolaborasi dilakukan untuk memberikan dukungan spiritual kepada pasien dengan tetap menjaga batas profesional serta tidak mengintervensi keputusan medis maupun informed consent pasien.

Materi berikutnya, “Implementasi Asuhan Keperawatan Spiritual pada Pasien Kritis”, disampaikan oleh Ns. Imam Sanusi, S.Kep., MM.Kes. Materi tersebut menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam memberikan pelayanan kepada pasien kritis.

Pasien kritis dapat mengalami berbagai persoalan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga psikologis dan spiritual. Kondisi seperti kecemasan, ketakutan terhadap kematian, perasaan terisolasi, depresi, hingga ketergantungan secara fisik dan emosional dapat muncul pada pasien yang berada dalam kondisi kritis.

Karena itu, kebutuhan spiritual perlu menjadi bagian dari pengkajian keperawatan. Perawat dapat mengidentifikasi status agama dan kepercayaan, tingkat keyakinan, kemampuan menjalankan ibadah, ketakutan terhadap kematian, hingga harapan pasien terhadap Tuhan. Dalam pelaksanaannya, perawat juga dapat berkolaborasi dengan tim bimbingan rohani rumah sakit untuk memberikan pendampingan sesuai kebutuhan pasien.

Sementara itu, Dr. Wahyudi Widada, S.Kp., M.Ked., dosen Fikes Unmuh Jember, menyampaikan materi “Evidence Based Spiritual Care dan Tantangan Implementasi pada Pelayanan Keperawatan Kritis.” Materi tersebut mengangkat pentingnya dukungan spiritual dalam mendampingi pasien dan keluarga yang menghadapi kondisi sulit.

Dr. Wahyudi menjelaskan bahwa perawat tidak hanya berperan dalam memberikan tindakan medis dan keperawatan, tetapi juga dapat memberikan pendampingan emosional dan spiritual. Dalam materi tersebut dibahas sejumlah pengalaman pasien dalam menghadapi penyakit serta berbagai bentuk doa dan pendampingan spiritual.

Materi juga mengangkat praktik spiritual care melalui doa, pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, serta penguatan kesabaran dan penerimaan terhadap kondisi sakit. Pendekatan tersebut ditempatkan sebagai bentuk pendampingan spiritual yang perlu dilakukan dengan memperhatikan konteks dan kompetensi pelayanan keperawatan.

Rangkaian materi dalam Webinar Ners Angkatan XVI menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memberikan pelayanan keperawatan secara menyeluruh. Pendekatan tersebut menempatkan pasien sebagai individu yang memiliki kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.

Melalui kegiatan ini, Fikes Unmuh Jember mendorong mahasiswa Profesi Ners untuk tidak hanya menguasai kompetensi klinis, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap kebutuhan pasien secara utuh. Pemahaman mengenai spiritual care diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam memberikan pelayanan yang profesional, manusiawi, dan berpusat pada pasien.

Di sisi lain, pelaksanaan webinar di RSD dr. Subandi Jember menjadi momentum untuk terus memperkuat sinergi antara Fikes Unmuh Jember dan rumah sakit dalam mendukung pendidikan profesi Ners. Kolaborasi yang berkelanjutan diharapkan dapat memberikan ruang pembelajaran yang semakin baik bagi mahasiswa sekaligus mendukung peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.

Connect