Kamis, 10 September 2026

Harga BBM Eceran Naik Drastis Saat Langka, Pakar Ekonomi Islam Unmuh Jember : Jangan Manfaatkan Kesulitan Untuk Keuntungan


Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Jember dalam beberapa waktu terakhir berdampak pada aktivitas masyarakat. Selain menghambat mobilitas, kondisi tersebut juga membuat sebagian penjual BBM eceran menaikkan harga di tengah tingginya kebutuhan masyarakat.

Fenomena ini turut menjadi perhatian dari perspektif ekonomi Islam. Kaprodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Miftahul Hasanah, S.E.I., M.E.I., mengatakan bahwa perdagangan dan pengambilan keuntungan pada dasarnya diperbolehkan dalam Islam. Namun, terdapat batasan yang harus diperhatikan agar keuntungan tidak diperoleh dengan merugikan pihak lain.

"Kalau kita melihat dalam perspektif Islam, sebenarnya berdagang dan mencari keuntungan dalam berdagang diperbolehkan. Namun, ada batasan-batasan yang harus kita pahami sebagai seorang Muslim. Kita harus mengutamakan cara yang halal dan tidak merugikan orang lain," ujarnya.

Menurutnya, BBM merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat karena berkaitan langsung dengan mobilitas dan aktivitas ekonomi, termasuk masyarakat yang menggunakannya untuk mencari nafkah. Karena itu, kondisi kelangkaan BBM seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, bukan justru dimanfaatkan untuk memperbesar kesulitan masyarakat.

Ia menjelaskan, Islam tidak menetapkan batas persentase keuntungan secara kaku, misalnya lima atau sepuluh persen. Kenaikan harga dalam perdagangan dapat dibenarkan selama dilakukan secara wajar, tidak menzalimi, serta terdapat kerelaan antara penjual dan pembeli.

"Yang menjadi prinsip adalah tidak mencederai, tidak menzalimi, dan ada ‘an tarāḍin minkum atau saling ridha," jelasnya.

Namun, menurutnya, persoalan berbeda ketika pelaku usaha sengaja memanfaatkan kondisi darurat dan kelangkaan untuk memperoleh keuntungan berlebihan. Terlebih apabila dilakukan dengan menimbun barang agar kelangkaan semakin parah dan harga dapat dinaikkan.

Dalam ekonomi Islam, praktik penimbunan tersebut dikenal sebagai ikhtikar. Miftahul menegaskan bahwa ikhtikar merupakan tindakan yang dilarang karena dapat menyulitkan masyarakat yang membutuhkan barang tersebut.

"Islam tidak membenarkan kita mengambil keuntungan atas kesulitan orang lain. Kita harus mengutamakan prinsip al-'adl, yaitu keadilan, dan aktivitas ekonomi harus memberikan manfaat, bukan justru memperbesar kesulitan yang terjadi di masyarakat," katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memperburuk kondisi dengan melakukan panic buying atau membeli BBM secara berlebihan. Penyebaran informasi yang memicu kepanikan juga dapat mendorong masyarakat melakukan pembelian impulsif sehingga kelangkaan semakin sulit dikendalikan.

Menurutnya, kondisi seperti ini menjadi ujian terhadap integritas seorang Muslim. Baik konsumen maupun penjual perlu mengedepankan nilai kejujuran (siddiq), amanah, keadilan, dan ihsan dalam aktivitas ekonomi.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa keuntungan besar tidak selalu berarti keuntungan yang baik. Dalam Islam, keberkahan menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan dalam memperoleh harta.

"Keuntungan yang besar itu belum tentu nilainya ada keberkahan di hadapan Allah. Kita tidak boleh hanya terpaku pada besarnya nominal keuntungan, tetapi bagaimana proses kita memperoleh keuntungan itu," tuturnya.

Terakhir, beliau menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan prinsip mencari keuntungan dengan segala cara. Keuntungan yang ideal adalah keuntungan yang diperoleh secara halal, jujur, adil, dan tetap memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

"Islam tidak mengajarkan profit at all cost. Islam mengajarkan keuntungan yang halal, adil, dan juga maslahah," pungkasnya.

Mahasiswa Bangladesh Pilih Unmuh Jember, Tertarik Kualitas Pendidikan dan Lingkungan Islami


Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember kembali memperkuat daya tariknya sebagai salah satu perguruan tinggi pilihan mahasiswa internasional. Tiga mahasiswa asal Bangladesh memilih melanjutkan pendidikan di Unmuh Jember karena mempertimbangkan kualitas pendidikan, biaya hidup yang terjangkau, serta lingkungan masyarakat yang ramah dan memiliki kedekatan budaya Islam.

Salah satu mahasiswa asal Bangladesh, Tamjid, mahasiswa Program Studi Akuntansi, mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi pilihannya setelah mempertimbangkan sejumlah negara lain, seperti Pakistan, Jepang, dan China.

Menurutnya, Indonesia memiliki lingkungan yang nyaman bagi mahasiswa Bangladesh. Kesamaan sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim menjadi salah satu faktor yang membuatnya lebih mudah merasa dekat dengan kehidupan sosial dan budaya di Indonesia.

“Saya memilih Indonesia dan Unmuh Jember karena kualitas pendidikannya yang baik, biaya hidup yang terjangkau, dan budaya yang ramah,” ujarnya saat wawancara pada (4/9).

Sebelum memutuskan untuk datang ke Indonesia, Tamjid memperoleh informasi mengenai kehidupan dan pendidikan di Indonesia dari sejumlah temannya yang lebih dahulu menempuh pendidikan di Jember.

Hal serupa dialami Faizan, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro. Lulusan salah satu madrasah Islam di Chattogram, Bangladesh, tersebut memang telah memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Faizan bahkan sempat mendapatkan penerimaan dari sejumlah perguruan tinggi di negara lain. Namun, program yang ditawarkan dinilai belum sesuai dengan ambisi dan cita-citanya. Kesempatan kemudian datang ketika ia memperoleh informasi mengenai beasiswa mahasiswa asing yang ditawarkan Unmuh Jember.

“Saya mendapatkan informasi tentang beasiswa mahasiswa asing Unmuh Jember dari Dhaka Scholars Forum. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari postingan akun resmi Instagram Unmuh Jember,” ungkapnya.

Setelah memperoleh informasi tersebut, Faizan tidak langsung mengambil keputusan. Ia terlebih dahulu mencari informasi lebih jauh mengenai Unmuh Jember, khususnya Program Studi Teknik Elektro, melalui website, YouTube, serta berbagai media sosial.

Informasi mengenai Unmuh Jember juga tidak terlepas dari jejaring kerja sama pendidikan yang telah terbangun. Dhaka Scholars Forum sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan salah satu perguruan tinggi di Jember, yaitu Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) dan turut memfasilitasi penerimaan mahasiswa asal Bangladesh di kampus tersebut. Dari jejaring tersebut, staf UIN KHAS kemudian turut memberikan informasi mengenai kesempatan studi di Unmuh Jember.

Tahun ini, Dhaka Scholars Forum kembali memfasilitasi mahasiswa asal Bangladesh untuk melanjutkan pendidikan di Unmuh Jember.

Memulai kehidupan di negara baru tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Para mahasiswa Bangladesh tersebut mengaku masih berada dalam proses beradaptasi dengan bahasa, makanan, budaya, serta kebiasaan masyarakat Indonesia yang memiliki sejumlah perbedaan dengan Bangladesh.

Tamjid mengakui bahwa proses adaptasi tersebut terkadang terasa cukup berat. Namun, keramahan masyarakat dan dukungan dari lingkungan kampus membuatnya optimis dapat segera menyesuaikan diri.

“Saya masih dalam tahap adaptasi dengan budaya, bahasa, dan makanan di Indonesia karena sangat berbeda dengan Bangladesh. Kadang-kadang terasa berat, namun insyaAllah saya akan segera bisa beradaptasi,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada staf Lembaga Kerja Sama dan Urusan Internasional (LKUI) Unmuh Jember, yang menurutnya banyak membantu proses adaptasi mahasiswa internasional.

Kehadiran mahasiswa asal Bangladesh tidak hanya menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa yang bersangkutan, tetapi juga membuka peluang terbentuknya jejaring akademik dan sosial antara Indonesia dan Bangladesh.

Abdullah, mahasiswa Program Studi Manajemen, mengatakan dirinya tidak ragu untuk merekomendasikan Unmuh Jember kepada teman maupun keluarganya di Bangladesh.

Menurutnya, keramahan lingkungan kampus, kesamaan budaya Muslim, serta peluang membangun koneksi lintas negara menjadi alasan kuat untuk merekomendasikan Unmuh Jember.

“Saya pasti akan merekomendasikan berkuliah di Unmuh Jember kepada rekan dan keluarga lainnya. Alasannya adalah lingkungan yang sangat ramah dan menyambut kami dengan baik, budaya Muslim yang mirip dengan Bangladesh, dan sebagai kesempatan untuk membangun koneksi lintas negara,” jelas Abdullah.

Menurutnya, meskipun berasal dari kawasan Asia Selatan, terdapat sejumlah kesamaan budaya yang membuat mahasiswa Bangladesh lebih mudah berinteraksi dan beradaptasi dengan masyarakat Indonesia.

Menariknya, pengalaman selama berada di Indonesia mulai mengubah rencana pendidikan Tamjid. Semula, ia memiliki rencana menyelesaikan pendidikan sarjana di Indonesia, kemudian melanjutkan S2 di Australia dan S3 di Amerika Serikat atau Jerman.

Namun, setelah merasakan langsung suasana akademik dan kehidupan di Indonesia, ia mulai mempertimbangkan untuk melanjutkan pendidikan magister di Indonesia, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.

Bahkan, ia memiliki cita-cita untuk menjadi dosen dan berkontribusi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Sementara itu, Abdullah masih memiliki target untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di Eropa, Amerika Serikat, atau Australia. Ia ingin memperluas pengalaman akademik, melakukan berbagai penelitian, dan kelak menjadi dosen di salah satu universitas di Eropa.

Meski demikian, Indonesia tetap menjadi pilihan yang terbuka baginya.

“Jika ada kesempatan, saya akan mencoba mewujudkan cita-cita saya di negara tersebut. Namun jika tidak, dengan senang hati saya akan meneruskan S2 di sini. InsyaAllah,” ungkapnya.

Kehadiran mahasiswa Bangladesh tersebut menunjukkan bahwa internasionalisasi Unmuh Jember tidak hanya berlangsung melalui kerja sama kelembagaan, tetapi juga melalui pengalaman langsung mahasiswa lintas negara.

Keramahan lingkungan kampus, kedekatan budaya, serta akses pendidikan yang kompetitif menjadi bagian dari pengalaman yang membuat Unmuh Jember semakin dikenal di kalangan calon mahasiswa internasional.

Rabu, 09 September 2026

Mahasiswa KKN Kolaborasi UNMUH Jember dan UAD Sukses Dampingi Anak TPQ Raih Prestasi di Festival Anak Sholih

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember bersama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta turut berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang berprestasi dan berakhlak Islami melalui kegiatan Festival Anak Sholih yang digelar di Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, Ahad (6/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja kolaboratif mahasiswa KKN UAD dan Unmuh Jember yang melibatkan peserta didik dari berbagai Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) di Desa Sumberasri. Para peserta merupakan perwakilan dari TPQ yang menjadi lokasi pelaksanaan program kerja mahasiswa KKN Kolaborasi.

Festival Anak Sholih menghadirkan sejumlah cabang perlombaan keagamaan, meliputi kaligrafi, Pildacil (Pidato Anak Sholeh), adzan, dan hafalan Juz ‘Amma. Perlombaan tersebut menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan, kreativitas, keberanian tampil di depan umum, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai keislaman.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN Kolaborasi UAD dan Unmuh Jember terlibat aktif sejak tahap persiapan hingga kegiatan berakhir. Mahasiswa berperan sebagai panitia sekaligus juri yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan lomba, proses penilaian, hingga pengumuman pemenang. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Desa Sumberasri, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumberasri, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Sumberasri, serta sejumlah Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari UAD.

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Sumberasri. Menurutnya, Festival Anak Sholih menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan bakat dan potensi yang dimiliki sekaligus melatih kepercayaan diri melalui pengalaman tampil di hadapan banyak orang.

“Kami sangat mengapresiasi adanya kegiatan Festival Anak Sholeh yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Kolaborasi antara UAD Yogyakarta dan Unmuh Jember. Kegiatan ini akan menjadi wadah bagi anak-anak di Desa Sumberasri untuk menunjukkan bakat dan potensi yang selama ini mungkin belum terlihat,” ungkapnya.

Salah satu capaian membanggakan datang dari mahasiswa KKN Kolaborasi Unmuh Jember dan UAD Unit I.D.1 Sumberasri. Melalui pendampingan dan pembinaan yang dilakukan selama pelaksanaan program KKN, mahasiswa berhasil mengantarkan peserta didik dari TPQ Miftahul Jannah Sumberasri meraih prestasi pada seluruh cabang perlombaan yang diikuti.

Adapun prestasi yang berhasil diraih meliputi Juara 1 Kaligrafi, Juara 3 Pildacil, Juara 2 Adzan, dan Juara 1 Hafalan Juz ‘Amma. Capaian tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan pendampingan mahasiswa KKN dalam membina dan mengembangkan potensi anak-anak TPQ di Desa Sumberasri.

Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para peserta didik, tetapi juga bagi mahasiswa KKN, ustadz dan ustadzah TPQ, serta masyarakat Desa Sumberasri. Prestasi yang diraih menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun rasa percaya diri.

Melalui kegiatan Festival Anak Sholih, mahasiswa KKN Kolaborasi Unmuh Jember dan UAD berharap kegiatan pembinaan serupa dapat terus memberikan pengalaman positif bagi anak-anak serta mendorong mereka untuk semakin giat belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang keagamaan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa Unmuh Jember dalam mengimplementasikan ilmu dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung terbentuknya generasi muda yang religius, berprestasi, percaya diri, dan berakhlak mulia.

Senin, 07 September 2026

Mahasiswa Baru Unmuh Jember Diajak Belajar Berdemokrasi Lewat Simulasi Demo

Pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru tak selalu harus berlangsung di dalam ruangan dengan rangkaian materi dan presentasi. Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menghadirkan pendekatan berbeda dalam kegiatan Seminaria Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKPIMB) 2026 yang digelar selama tiga hari, Senin-Rabu (7-9/9/2026).

Setelah mendapatkan pembekalan mengenai Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dan sistem kehidupan akademik di kampus, mahasiswa baru diajak mengenal berbagai isu strategis yang tengah menjadi perhatian publik. Tidak berhenti pada diskusi, mereka kemudian diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi melalui simulasi demonstrasi.

Dengan mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol solidaritas, mahasiswa baru dibagi dalam kelompok untuk menyuarakan pandangan mereka. Mereka membawa berbagai atribut aksi yang dipersiapkan secara mandiri, mulai dari poster-poster bernada kritis hingga spanduk panjang bertuliskan "ALIANSI MAHASISWA UNMUH JEMBER" yang dibentangkan di tengah lapangan.

Suasana semakin menarik ketika mereka melakukan simulasi demonstrasi tersebut di bawah terik matahari, dipimpin oleh orator berjas almamater merah tua dengan menggunakan megafon. Mereka berorasi dan menyampaikan tuntutan secara langsung di hadapan pihak “pemerintah” yang diperankan oleh panitia melalui roleplay.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam rangkaian PKKPIMB Unmuh Jember. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai bagaimana menyampaikan pendapat, tetapi juga memahami bahwa demonstrasi merupakan salah satu bentuk penyampaian aspirasi yang harus dilakukan secara tertib, kritis, dan bertanggung jawab.


Ketua Panitia PKKPIMB Unmuh Jember, Putra Kurniawan, S.Hub.Int., M.A., mengatakan bahwa konsep simulasi demonstrasi tersebut lahir dari evaluasi terhadap pelaksanaan PKKPIMB pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, kegiatan pengenalan mahasiswa baru selama ini cenderung didominasi aktivitas di dalam ruangan dan penyampaian materi melalui presentasi. Karena itu, panitia mencoba menghadirkan metode yang lebih partisipatif dan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa baru.

“Simulasi demo ini berangkat dari kejenuhan kegiatan PKKPIMB tahun-tahun sebelumnya yang terlalu banyak kegiatan indoor dan presentasi. Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada mahasiswa baru,” jelas Putra.

Melalui simulasi tersebut, mahasiswa baru diperkenalkan pada proses menyampaikan aspirasi dengan cara yang benar. Mereka belajar berkelompok di dalam ruangan untuk menyusun tuntutan dan melukis media aksi secara kreatif, sebelum akhirnya turun ke ruang publik untuk berorasi, sekaligus memahami batas-batas agar aksi tidak berkembang menjadi tindakan anarkis.

“Tujuannya juga untuk memberi tahu mahasiswa baru bagaimana melakukan demo yang baik dan benar, tidak anarkis, serta tetap menyampaikan aspirasi secara kritis dan bertanggung jawab,” lanjutnya.

Lebih jauh, Putra menyebut simulasi tersebut menjadi bagian dari upaya panitia membangun karakter mahasiswa baru sebagai agent of change. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memahami kehidupan akademik di kampus, tetapi juga didorong agar memiliki kepekaan terhadap persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kami ingin build mahasiswa baru sebagai agent of change yang peka terhadap isu dan mampu menentukan sikap terhadap isu tersebut. Salah satu bentuknya adalah bagaimana mereka bisa menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi dengan cara yang baik,” ungkap Putra.

Dalam prosesnya, mahasiswa diberikan isu-isu strategis yang sedang menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. Mereka kemudian berdiskusi, menentukan sikap, merumuskan tuntutan, serta menerjemahkannya dalam bentuk tulisan-tulisan tajam di atas karton kuning dan kain putih.

Pendekatan tersebut membuat mahasiswa baru tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi turut menjadi aktor yang mengolah informasi dan mengambil posisi terhadap persoalan yang sedang dibahas.

Salah satu isu yang menjadi materi dalam simulasi adalah persoalan penanganan bencana. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan terkait keselamatan masyarakat, respons pemerintah, distribusi bantuan, keterbukaan informasi, kesiapsiagaan, hingga mekanisme pemulihan masyarakat terdampak. Dari isu ini, mereka menuntut pemerintah untuk membuka data anggaran penanganan bencana serta menghentikan pencitraan.

Selain itu, isu ketidakadilan sosial dan hak asasi manusia juga disuarakan dengan lantang. Terlihat dari atribut aksi yang mereka buat, mahasiswa mengangkat isu konflik agraria dengan tulisan tegas, "HENTIKAN PERAMPASAN TANAH ADAT, PAPUA BUKAN TANAH KOSONG".

Kritik terhadap kinerja pemerintah secara umum juga mewarnai jalannya aksi simulasi. Beberapa poster yang dibentangkan oleh mahasiswa memuat tuntutan-tuntutan seperti "Mundur Atau Mendengar! Suara Rakyat Bukan Pajangan", "Tegakkan Keadilan", dan "Rakyat Butuh Solusi Bukan Sekedar Janji!!!".

Simulasi demonstrasi tersebut menjadi ruang belajar mengenai praktik demokrasi bagi mahasiswa baru. Mereka tidak hanya belajar bagaimana menyampaikan kritik, tetapi juga memahami pentingnya argumentasi, koordinasi, dan tanggung jawab dalam menyuarakan kepentingan publik. Kritik terhadap pemerintah, sebagaimana ditegaskan dalam dokumen sikap mereka, merupakan bagian dari tanggung jawab publik untuk memastikan negara menjalankan kewajibannya.

Namun, seluruh proses demonstrasi tetap dikemas dalam konteks edukasi. Secara teknis, kegiatan dikawal oleh panitia PKKPIMB yang merupakan gabungan mahasiswa dan BEM Universitas Muhammadiyah Jember. Panitia berperan mengarahkan jalannya simulasi, mendampingi mahasiswa yang duduk melingkar saat aksi, sekaligus memastikan aspirasi tersampaikan dengan tertib.

Bagi mahasiswa baru, pengalaman tersebut menjadi cara baru memahami bahwa kehidupan kampus tidak hanya berbicara tentang ruang kelas, organisasi, dan kegiatan akademik. Kampus juga menjadi ruang untuk belajar membaca persoalan masyarakat, berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan mengambil peran sebagai bagian dari perubahan sosial.

Melalui konsep PKKPIMB yang lebih interaktif tersebut, Unmuh Jember berupaya menanamkan sejak awal bahwa mahasiswa bukan sekadar peserta didik, melainkan bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab intelektual dan sosial.

Jumat, 04 September 2026

Presiden ke Luar Negeri di Tengah Krisis Bencana, Dosen Unmuh Jember: Prioritasnya Perlu Dipertanyakan


Perdebatan mengenai prioritas Presiden antara agenda internasional dan krisis domestik menjadi perhatian publik. Dalam perspektif ilmu pemerintahan, hal ini berkaitan dengan kemampuan Presiden menentukan prioritas, mendelegasikan kewenangan, dan memastikan pemerintahan tetap berjalan efektif.

Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Binaridha Kusuma Ningtyas, S.IP., M.IP., menilai bahwa kunjungan Presiden ke luar negeri perlu dilihat secara proporsional. Menurutnya, dalam sistem presidensial, Presiden memiliki dua fungsi sekaligus, yakni sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

“Dalam sistem presidensial, Presiden memang memiliki dua fungsi sekaligus, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Karena itu, ketika Presiden hadir dalam forum internasional, apalagi ketika ada undangan khusus sebagai tamu kehormatan utama, tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa kunjungan tersebut tidak penting,” jelas Binaridha.

Meski demikian, menurutnya, publik tetap memiliki ruang untuk mempertanyakan dasar pertimbangan Presiden dalam menentukan agenda yang membutuhkan kehadiran langsung dan agenda yang dapat didelegasikan kepada pejabat lain.

Ia mencontohkan adanya agenda kenegaraan yang sebelumnya pernah didelegasikan Presiden kepada Menteri Luar Negeri dan Ketua MPR. Menurut beliau, perbandingan tersebut bukan untuk menentukan bahwa salah satu keputusan benar atau salah, melainkan untuk melihat bagaimana prioritas kepemimpinan ditentukan ketika terdapat berbagai agenda yang sama-sama penting.

“Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah memang agenda tersebut harus dihadiri langsung atau diwakilkan dan bagaimana Presiden mendelegasikan tugasnya kepada menteri saat beliau di luar negeri ketika ada krisis di dalam negeri,” ujarnya.

Dalam menentukan prioritas antara agenda internasional dan persoalan domestik, Binaridha menjelaskan setidaknya terdapat tiga pertanyaan penting yang perlu menjadi pertimbangan Presiden.

Pertama, seberapa besar dampak persoalan tersebut terhadap keselamatan dan kehidupan masyarakat. Kedua, apa konsekuensinya apabila Presiden tidak memberikan perhatian langsung pada saat itu. Ketiga, apakah agenda tersebut dapat didelegasikan tanpa mengurangi kepentingan nasional maupun kepentingan domestik.

“Kalau sebuah agenda luar negeri memang hanya efektif jika Presiden sendiri yang hadir, tentu kehadiran Presiden dapat dibenarkan. Tetapi kalau agenda tersebut secara substantif masih bisa diwakilkan, sementara di dalam negeri ada krisis yang membutuhkan keputusan dan political attention Presiden, maka menurut saya prioritasnya perlu dipertanyakan,” katanya.

Menurutnya, kekuatan seorang Presiden tidak semata-mata diukur dari seberapa sering dirinya hadir secara langsung dalam setiap persoalan. Kepemimpinan yang kuat justru ditunjukkan melalui kemampuan membangun institusi pemerintahan yang tetap mampu bekerja secara efektif ketika Presiden tidak berada di lokasi.

“Presiden yang kuat bukanlah Presiden yang harus hadir secara fisik atau secara simbolik di semua persoalan. Justru Presiden yang kuat adalah Presiden yang mampu membangun institusi yang tetap bekerja efektif ketika dirinya tidak berada di tempat,” ungkapnya.

Beliau menilai kehadiran Presiden di lokasi bencana tetap memiliki arti penting, terutama dari sisi psikologis dan politik. Masyarakat yang tengah menghadapi bencana membutuhkan kepastian bahwa pemerintah melihat, mendengar, dan hadir bersama mereka.

Namun demikian, kehadiran tersebut menurutnya tidak boleh berhenti pada aspek simbolik. Yang jauh lebih penting adalah memastikan masyarakat benar-benar merasakan kehadiran negara melalui respons yang nyata.

“Kita perlu membedakan antara kehadiran simbolik dan kehadiran substantif. Secara simbolik, kehadiran Presiden penting. Masyarakat yang sedang mengalami bencana ingin melihat bahwa pemerintah melihat, mendengar, dan hadir bersama mereka,” jelasnya.

Ia menambahkan, persoalan yang perlu menjadi perhatian adalah ketika pemerintah daerah maupun lembaga terkait seolah baru bergerak secara maksimal setelah Presiden datang ke lokasi bencana.

“Dalam pemerintahan yang kuat, sistem seharusnya tetap mampu bekerja secara efektif meskipun Presiden tidak hadir secara langsung di lokasi terdampak,” tegas Binaridha.

Dalam menghadapi bencana yang terjadi di sejumlah daerah sekaligus, Presiden menurutnya tidak harus hadir secara fisik di seluruh lokasi terdampak. Presiden justru perlu mengambil alih fungsi-fungsi yang tidak dapat ditangani secara efektif oleh pemerintahan di bawahnya.

Ketika bencana masih dapat ditangani pemerintah daerah dan kementerian terkait, Presiden tidak perlu melakukan micro management. Namun, apabila bencana telah melampaui kapasitas daerah, melibatkan persoalan lintas wilayah, membutuhkan sumber daya besar, atau terjadi kebuntuan koordinasi antarlembaga, maka keterlibatan Presiden menjadi semakin penting.

Dalam kondisi tersebut, terdapat tiga hal yang perlu dipastikan. Pertama, adanya prioritas nasional yang jelas. Kedua, adanya lembaga yang mendapatkan mandat untuk mengambil keputusan dan mengoordinasikan respons di wilayah terdampak. Ketiga, tersedianya sumber daya yang benar-benar digerakkan untuk mempercepat penanganan dan pemulihan.

Selain bantuan material, menurut beliau, masyarakat juga membutuhkan rasa aman dan kepastian bahwa pemerintah mengetahui kondisi yang sedang terjadi serta memiliki kendali dalam menangani situasi.

Apabila agenda internasional dan penanganan bencana sama-sama berada dalam kondisi mendesak, Presiden tidak harus selalu memilih salah satunya secara hitam putih. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan mana yang benar-benar membutuhkan kehadiran personal Presiden dan mana yang masih dapat didelegasikan.

Jika agenda internasional bersifat strategis dan kehadiran Presiden tidak dapat digantikan, agenda tersebut tetap dapat dijalankan dengan catatan struktur koordinasi penanganan persoalan nasional harus dipastikan berjalan kuat.

Sebaliknya, apabila situasi domestik telah mencapai tingkat krisis yang membutuhkan keputusan, legitimasi, atau koordinasi langsung Presiden, sementara agenda internasional masih memungkinkan untuk diwakilkan, maka persoalan domestik perlu menjadi prioritas.

“Jadi dalam pandangan saya, kemampuan Presiden bukan diuji dari apakah dia memilih kunjungan luar negeri atau memilih berada di Indonesia. Kemampuan kepemimpinan justru diuji dari bagaimana Presiden mengelola dua kepentingan, luar negeri dan nasional,” pungkasnya.

Wani Ngimpi, Wani Ngelakoni : Ribuan Mahasiswa Baru Unmuh Jember Antusias Ikuti Opening PKKPIMB 2026

Sebanyak 1.584 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember mengikuti Opening Pengenalan Kehidupan Kampus dan Pembinaan Ideologi Mahasiswa Baru (PKKPIMB) 2026, pada Jumat (4/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik sekaligus memulai perjalanan mereka sebagai bagian dari keluarga besar Unmuh Jember.

Antusiasme peserta telah terlihat sejak pagi. Mereka datang sejak pukul 05.00 WIB untuk mengikuti persiapan dan proses checking sebelum rangkaian kegiatan dimulai. Meski harus hadir lebih awal, semangat mahasiswa baru tetap terlihat sepanjang pelaksanaan opening.

Dalam kegiatan tersebut, seluruh mahasiswa baru disambut oleh jajaran sivitas akademika Unmuh Jember, mulai dari pimpinan fakultas hingga jajaran rektorat. Kehadiran para pimpinan menjadi bentuk penyambutan sekaligus penegasan bahwa mahasiswa baru merupakan bagian penting dalam perjalanan Unmuh Jember ke depan.

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, menyampaikan kebahagiaannya atas kehadiran mahasiswa baru yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti rangkaian Opening PKKPIMB 2026.

“Selamat datang di kampus unggul, kampus yang akan menjadi tempat kalian untuk meraih mimpi. Saya bangga dengan antusias yang kalian tunjukkan,” ujarnya.

Dr. Hanafi juga berpesan agar semangat yang ditunjukkan mahasiswa baru pada hari pertama tersebut tidak berhenti setelah kegiatan PKKPIMB berakhir. Menurutnya, semangat tersebut perlu terus dijaga dan dikobarkan selama mahasiswa menjalani proses perkuliahan.

“Terus jaga semangat untuk nanti saat melaksanakan perkuliahan,” lanjutnya.

Opening PKKPIMB 2026 menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru dalam memulai kehidupan akademik di Unmuh Jember. Tidak sekadar mengenalkan kehidupan kampus, kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses membangun karakter dan menumbuhkan semangat mahasiswa dalam mempersiapkan masa depan.

Semangat tersebut selaras dengan jargon PKKPIMB 2026, “Wani Ngimpi, Wani Ngelakoni.” yang menjadi pesan bagi mahasiswa baru agar tidak pernah takut untuk bermimpi setinggi langit dan tidak ragu untuk memulai langkah nyata dalam mewujudkan impian tersebut.

Dengan semangat yang telah ditunjukkan sejak hari pertama, mahasiswa baru Unmuh Jember diharapkan mampu menjalani perjalanan perkuliahan dengan penuh optimisme, keberanian, dan kesungguhan untuk meraih cita-cita.

Rabu, 02 September 2026

PAUD Yasmin Unmuh Jember Terima Hibah Kemendikdasmen, Pembangunan Fasilitas Mulai Digarap

 


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Yasmin Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menerima dana hibah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Hibah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan.

Program revitalisasi dilaksanakan dalam jangka waktu 120 hari, mulai 1 September hingga 31 Desember 2026, dengan total anggaran sebesar Rp506.873.000. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan ruang kelas, fasilitas sanitasi, serta penataan lingkungan sekolah.

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, menyampaikan bahwa revitalisasi tersebut merupakan buah dari perjuangan bersama dalam mewujudkan sarana pembelajaran yang lebih baik.

“Ini adalah perjuangan kita semua untuk meningkatkan fasilitas yang dari beberapa waktu lalu kita ajukan kepada Kemendikdasmen, dan akhirnya saat ini kita berhasil menerima dana hibah ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah PAUD Yasmin, Chusnul Wardani Apriyanti, S.Pd., menjelaskan bahwa ruang kelas baru yang dibangun nantinya dirancang sebagai ruang serbaguna.

“Rencananya nanti ruang kelasnya juga akan dapat digunakan sebagai aula sehingga bisa dipergunakan dalam acara yang skalanya lebih besar,” jelasnya.

Menurut beliau, peningkatan fasilitas menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas proses pembelajaran. Dengan sarana dan prasarana yang lebih lengkap dan memadai, kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat berlangsung secara lebih optimal.

Selain mendukung proses pembelajaran, penambahan fasilitas tersebut juga dinilai dapat memperkuat daya tarik PAUD Yasmin dalam penerimaan peserta didik baru.

“Dengan adanya tambahan fasilitas ini, tentu akan membantu dalam promosi dan pendaftaran siswa baru,” pungkasnya.

Proses pengerjaan pembangunan sudah mulai dikerjakan sejak 1 September kemarin dan direncanakan untuk segera selesai sebelum tenggat waktu yang telah ditentukan oleh Kemendikdasmen, yaitu 31 Desember 2026.

Pihak kampus diminta untuk selalu memantau proses pembangunan fasilitas tersebut untuk memastikan proyek berjalan sesuai prosedur yang telah ditetakan.

Connect