Mahasiswa Agroteknologi Unmuh Jember Lolos Pendanaan PKM Nasional, Kembangkan Bakteri Gunung Ijen untuk Lindungi Tanaman Padi
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember). Tim mahasiswa Program Studi Agroteknologi berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional melalui gagasan inovatif pemanfaatan bakteri termofil dari kawasan Gunung Ijen sebagai agen pengendali hayati penyakit pada tanaman padi.
Tim yang diketuai oleh Olivia Cantika (2310311023) bersama
Afthon Hielman Huda (2310311009), Wahida Rahmania Putri (2310311005), Erwin
Angriawan (2210311015), dan Junaidi (2510311002) berhasil lolos pendanaan
dengan proposal berjudul “Optimasi Bakteri Termofil Gunung Ijen serta
Potensinya sebagai Biokontrol Xanthomonas oryzae (Xoo)”.
Ketua tim, Olivia Cantika, menjelaskan bahwa ide penelitian
tersebut berangkat dari kekhawatiran terhadap menurunnya produktivitas padi
akibat serangan penyakit hawar daun bakteri yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas
oryzae pv. oryzae. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh perubahan iklim
global yang menciptakan lingkungan ideal bagi perkembangan penyakit tanaman.
“Padi merupakan sumber pangan utama bagi sebagian besar
penduduk dunia. Namun produktivitasnya terus menghadapi ancaman akibat
perubahan iklim dan serangan penyakit hawar daun bakteri. Karena itu kami
mencoba mencari solusi yang lebih ramah lingkungan melalui pemanfaatan bakteri
termofil dari kawasan Gunung Ijen,” ujarnya.
Menurut Olivia, penggunaan agen biokontrol berbasis
mikroorganisme menjadi salah satu pendekatan berkelanjutan yang dapat
mengurangi ketergantungan pada bahan kimia pertanian. Bakteri termofil yang
hidup di lingkungan ekstrem seperti Gunung Ijen diketahui memiliki aktivitas
antimikroba yang berpotensi dimanfaatkan untuk mengendalikan bakteri penyebab
penyakit tanaman.
Proses penyusunan proposal hingga berhasil memperoleh
pendanaan nasional memerlukan waktu sekitar tiga bulan. Selama proses tersebut,
tim harus menyelesaikan berbagai tahapan mulai dari penyusunan latar belakang,
metode penelitian, hingga perencanaan anggaran kegiatan.
“Tantangan terbesar yang kami hadapi adalah membagi waktu
antara tugas kuliah, aktivitas akademik, dan proses bimbingan proposal. Namun
berkat kerja sama tim dan dukungan dosen pendamping, semua dapat dilalui dengan
baik,” jelasnya.
Olivia juga mengapresiasi peran dosen pendamping yang
dinilai memiliki semangat dan komitmen tinggi dalam membimbing mahasiswa sejak
tahap penyusunan hingga proposal dinyatakan lolos pendanaan.
Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi
seluruh anggota tim. Menurutnya, pendanaan PKM bukan hanya bentuk apresiasi
atas kerja keras yang telah dilakukan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk
menghasilkan luaran akademik yang bermanfaat.
Adapun target yang ingin dicapai melalui program ini antara
lain menghasilkan artikel ilmiah dan laporan penelitian yang dapat menjadi
kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang pertanian
berkelanjutan.
Olivia menilai konsistensi, semangat belajar, dan keberanian
bangkit dari kegagalan menjadi kunci utama keberhasilan dalam mengikuti
kompetisi PKM.
“Puncak prestasi tidak bisa diraih secara instan. Dibutuhkan
usaha, kerja keras, konsistensi, dan doa. Jangan takut mencoba karena setiap
proses akan memberikan pelajaran berharga,” pesannya kepada mahasiswa Unmuh
Jember yang ingin mengikuti PKM pada tahun mendatang.
Keberhasilan tim Agroteknologi ini menambah deretan capaian
mahasiswa Unmuh Jember di tingkat nasional sekaligus menunjukkan komitmen
kampus dalam mendorong budaya riset dan inovasi yang memberikan solusi terhadap
berbagai persoalan masyarakat, termasuk ketahanan pangan di Indonesia.

Posting Komentar