Rabu, 22 Juli 2026

Cegah Kecurangan Produk Pangan, Akademisi UHO Kenalkan Deteksi Cerdas Berbasis Artificial Intelligence di SEMARTANI 5



Kasus kecurangan produk pangan (food fraud) di dunia industri, mulai dari pemalsuan madu murni, pencampuran daging sapi segar dengan jenis daging lain yang berharga lebih murah, hingga pelabelan penipuan yang menjual ikan patin sebagai ikan kakap merah mahal, telah menjadi ancaman serius. Hal ini merugikan tidak hanya dari sisi ekonomi konsumen, tetapi juga sangat mengancam integritas kesehatan masyarakat luas. Isu yang semakin marak terjadi di pasar global maupun domestik ini menjadi sorotan utama yang diangkat oleh akademisi terkemuka dari Universitas Halu Oleo, Dr. M. Syukri Sadimantara, S.T., M.P., pada acara Seminar Nasional Pertanian ke-5 (Semartani 5) Tahun 2026. Mengambil lokasi di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, kegiatan berskala nasional ini diselenggarakan secara hybrid pada hari Selasa, 21 Juli 2026.

Dalam materinya, Dr. Syukri memaparkan secara komprehensif mengenai betapa pentingnya transisi dan peran inovasi teknologi modern dalam mendeteksi kualitas mutu serta keamanan produk pangan secara cepat, masif, dan akurat. Menurut tinjauan akademisnya, proses inspeksi kendali mutu (quality control) yang selama ini dilakukan secara visual oleh tenaga kerja manusia maupun melalui metode uji laboratorium konvensional saat ini masih memiliki banyak celah kelemahan. "Penglihatan manusia, meskipun sudah dilatih secara khusus, sangat rentan terhadap bias subjektif, faktor kelelahan kerja, dan ketidakkonsistenan penilaian. Sementara itu, prosedur uji laboratorium memakan waktu antrean yang berminggu-minggu, berbiaya sangat mahal, dan umumnya bersifat destructive atau harus menghancurkan sampel produk fisik yang akan diuji," papar pakar kecerdasan buatan dan teknologi pangan tersebut.

Sebagai jalan keluar dan lompatan revolusioner ke depan, Dr. Syukri memperkenalkan penerapan solusi canggih berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui pendekatan arsitektur jaringan Machine Learning, pemanfaatan kamera Computer Vision, serta sensor Spektroskopi (Chemometrics). Melalui pembacaan spektrum cahaya dan analisis pantulan gelombang optik, teknologi ini mampu secara ajaib mendeteksi komposisi kimiawi internal dan potensi kerusakan mutu pada tingkat molekuler secara instan tanpa perlu memotong atau merusak produk sama sekali. Ia mencontohkan secara langsung penggunaan model Deep Learning mutakhir seperti CNN dan YOLO (You Only Look Once) yang dapat secara otomatis mengklasifikasikan kelas kualitas dan adanya mikotoksin pada biji kakao, memprediksi tingkat rendeman air dan kematangan buah mangga hanya dengan tangkapan citra gambar dari ponsel pintar berbasis cloud, hingga memverifikasi keaslian murni sebuah produk madu dari tindak pencampuran (adulteration).

Meskipun potensi teknologinya sangat luar biasa, Dr. Syukri tetap mengingatkan seluruh akademisi akan sebuah prinsip fundamental dalam pemodelan kecerdasan buatan, yakni 'Garbage In, Garbage Out'. "Sistem AI yang paling canggih sekalipun tidak akan pernah berfungsi maksimal jika data latih (training data) yang kita pasok ke dalamnya merupakan data kotor atau tidak akurat. Oleh karena itu, tugas krusial dari para peneliti, dosen, dan mahasiswa teknologi industri pertanian adalah merancang dan menyediakan bank data set mutu pangan yang benar-benar telah tervalidasi keakuratannya di dalam laboratorium konvensional untuk mengajari algoritma mesin tersebut agar semakin cerdas," pesannya. Walaupun investasi instalasi infrastruktur keras ini cukup mahal di awal, ia sangat optimis bahwa ke depannya, pengendalian mutu pangan industri akan beralih secara total pada otomatisasi sistem smart factory.

 

Tags :

bm
Created by: News Unmuh Jember

Humas Unmuh Jember Jaya Jaya Jaya!

Posting Komentar

Connect