Kolaborasi Lintas Prodi Unmuh Jember Raih Juara I Nasional LKTIN SAFE POLIJE 2026 Lewat Inovasi Biogas Berbasis IoT
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember di tingkat nasional. Tim yang terdiri dari Satria Bagaskoro (Program Studi Ilmu Pemerintahan) dan Gilang Arya Mahmudi (Program Studi Ilmu Keperawatan) berhasil meraih Juara I pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) 11th SAFE POLIJE 2026 yang diselenggarakan di Auditorium Politeknik Negeri Jember (Polije), Sabtu (18/7/2026).
Keberhasilan tersebut diraih melalui karya ilmiah berjudul "Optimalisasi
Produksi Biogas sebagai Energi Terbarukan dari Limbah Jagung dan Jerami melalui
Sistem Anaerobic Digestion Berbasis Internet of Things untuk Mendukung
Pertanian Berkelanjutan." Inovasi ini menawarkan solusi pemanfaatan limbah
pertanian menjadi energi terbarukan dengan dukungan teknologi Internet of
Things (IoT).
Satria Bagaskoro mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian
yang diraih timnya. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari
proses panjang yang penuh dedikasi, mulai dari penyusunan gagasan, studi
literatur, observasi lapangan, hingga persiapan presentasi secara intensif.
"Kami tentu merasa sangat bersyukur, bangga, dan
terharu atas pencapaian ini. Kemenangan ini merupakan hasil dari proses yang
panjang. Lebih dari sekadar meraih juara, kami merasa termotivasi untuk terus
mengembangkan karya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,"
ujarnya.
LKTIN 11th SAFE POLIJE 2026 merupakan kompetisi ilmiah
tingkat nasional yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di
Indonesia untuk menghadirkan solusi inovatif terhadap berbagai persoalan
masyarakat. Penilaian tidak hanya berfokus pada kualitas penulisan ilmiah,
tetapi juga kebaruan inovasi, kelayakan implementasi, kemampuan presentasi,
hingga ketepatan peserta dalam menjawab pertanyaan dewan juri.
Untuk mencapai gelar juara, tim harus melalui berbagai
tahapan, mulai dari identifikasi permasalahan, studi literatur dari jurnal
ilmiah internasional, observasi lapangan, wawancara dengan petani di Desa
Balung Kulon, penyusunan karya tulis, hingga lolos ke babak final nasional.
Menjelang final, keduanya mempersiapkan prototipe, visualisasi sistem, serta
melakukan latihan presentasi secara intensif.
Ide penelitian lahir dari keprihatinan terhadap tingginya
ketergantungan sektor pertanian pada energi fosil, sekaligus melimpahnya limbah
jagung dan jerami yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui
sistem anaerobic digestion berbasis IoT, limbah pertanian diolah menjadi biogas
yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.
Tak hanya menghasilkan biogas, inovasi tersebut juga
dirancang mampu menghasilkan listrik, energi panas untuk pengeringan hasil
panen, biochar, serta pupuk organik dari sisa proses fermentasi. Seluruh proses
dipantau menggunakan sensor IoT yang mampu memonitor suhu, pH, kelembapan, dan
tekanan gas secara real-time melalui aplikasi seluler, sehingga proses produksi
menjadi lebih efisien dan mudah dikendalikan oleh petani.
"Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya
menghasilkan energi terbarukan, tetapi juga membantu petani mengurangi biaya
operasional serta mendukung pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan
teknologi Internet of Things," jelas Satria.
Meski hanya terdiri dari dua anggota dengan latar belakang
disiplin ilmu yang berbeda, keduanya mampu membangun kolaborasi yang solid.
Gilang Arya Mahmudi berfokus pada penyusunan naskah ilmiah serta aspek
bioenergi dan pertanian, sementara Satria menangani analisis teknis sistem,
implementasi inovasi, penyusunan presentasi, dan pemaparan di hadapan dewan
juri.
Menurut mereka, tantangan terbesar selama kompetisi adalah
menyatukan berbagai disiplin ilmu menjadi solusi yang komprehensif sekaligus
memastikan inovasi yang diajukan memiliki dasar ilmiah yang kuat, realistis
diterapkan, dan didukung data yang valid.
Prestasi ini menjadi motivasi bagi keduanya untuk terus
mengembangkan inovasi yang telah dirancang. Mereka berencana mewujudkan gagasan
tersebut menjadi prototipe yang dapat diterapkan secara nyata di masyarakat,
sekaligus memperluas kolaborasi penelitian bersama dosen maupun mitra
eksternal.
"Kami berharap inovasi ini dapat menjadi alternatif
solusi energi bagi masyarakat, khususnya petani. Selain mengurangi
ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, sistem ini juga mampu meningkatkan
nilai ekonomi limbah pertanian, mengurangi pencemaran lingkungan, serta
mendukung terwujudnya pertanian berkelanjutan dan ketahanan energi
nasional," tutur Satria.
Kepada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember, keduanya
berpesan agar tidak ragu untuk memulai berkarya dan mengikuti kompetisi ilmiah.
"Jangan takut untuk memulai. Banyak mahasiswa memiliki
ide yang bagus, tetapi ragu untuk mengembangkannya. Mulailah dari permasalahan
di sekitar kita, lakukan riset yang mendalam, manfaatkan masukan dosen
pembimbing, dan jangan mudah menyerah. Kompetisi bukan hanya tentang menjadi
juara, tetapi juga tentang proses belajar dan memberikan solusi nyata bagi
masyarakat," pesannya.
Prestasi ini kembali menegaskan bahwa kolaborasi lintas
program studi di Universitas Muhammadiyah Jember mampu melahirkan inovasi yang
berdaya saing nasional. Melalui semangat riset, kerja sama, dan keberanian
untuk berinovasi, mahasiswa Unmuh Jember terus menunjukkan kontribusi nyata
dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.


Posting Komentar