Make Agriculture Cool Again : SVP Eratani Ajak Generasi Z Terjun Jadi Petani Lewat Kolaborasi Digital di Semartani 5
Sebuah riset demografis yang cukup mengejutkan dari Bappenas memproyeksikan sebuah skenario buruk: pada tahun 2060 mendatang, Indonesia terancam krisis eksistensial dengan tidak lagi memiliki warga yang berprofesi sebagai petani murni akibat ketiadaan laju regenerasi. Fakta empiris di lapangan bahkan memperlihatkan bahwa 67,8 persen penggarap lahan tani di Indonesia saat ini didominasi secara penuh oleh kelompok usia lanjut (yakni rentang usia 45 hingga 65 tahun). Di sisi lain, angka ketertarikan kaum muda dari kelompok Generasi Z untuk terjun mencicipi profesi di sektor pertanian agraris sangatlah memprihatinkan, tercatat hanya berkisar pada rasio 6 dari 100 pemuda. Berupaya keras menjawab krisis eksistensial kedaulatan pangan nasional ini, Adwin Pratama Anas, S.E., M.A., yang saat ini menjabat sebagai Sr. Vice President Operations Eratani di PT. Eratani Teknologi Nusantara, tampil memberikan pencerahan motivasional dalam acara Semartani 5 Tahun 2026. Seminar ini diselenggarakan secara sukses dengan format hybrid di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, Selasa (21/7/2026).
Dalam kesempatannya, Adwin, yang juga telah secara
independen meneliti kompleksitas masalah pertanian dan menuangkannya secara
runut ke dalam sebuah buku berjudul Farmers are Disappearing, mengurai
tuntas enam variabel akar permasalahan utama (broken equation) yang menyebabkan
tersingkirnya regenerasi petani di Indonesia. Variabel faktor tersebut meliputi
rasio ketidakpastian pendapatan bersih serta permodalan awal yang berat,
rendahnya taraf literasi pendidikan (lebih dari separuh populasi petani hanya
memegang ijazah SMP ke bawah), besarnya risiko ancaman gagal panen akibat
terjangan cuaca iklim yang tidak menentu, persepsi sosial masyarakat yang
terlanjur menganggap profesi petani bukanlah jenis pekerjaan bergengsi atau
elegan, kurangnya daya beli dan adopsi alat teknologi canggih, serta adanya
lubang dalam regulasi dan kebijakan perlindungan negara. "Anak-anak muda
milenial di era media sosial saat ini sangat mencari aktualisasi diri dan
validasi. Mereka butuh memamerkan pekerjaan yang mendapat pengakuan serta
prestise sosial. Sayangnya, memegang cangkul dan menjadi petani masih sering
dipandang sebelah mata, dianggap kampungan, dan dinilai tidak sekeren bekerja
berseragam di balik meja kantoran," ungkap Adwin secara blak-blakan.
Untuk mengatasi kebuntuan sistemik tersebut, startup
agritech (teknologi pertanian) Eratani hadir sebagai ekosistem digital
revolusioner yang mencoba merombak cara pandang tata kelola budidaya
tradisional menjadi jauh lebih modern, terukur basis datanya, dan pastinya
lebih menguntungkan secara finansial. Melalui sentuhan platform digital end-to-end,
Eratani menyediakan sekurang-kurangnya tiga pilar solusi nyata bagi para petani
mitranya: pembukaan akses permodalan operasional (tanpa jaminan rumit) di awal
masa musim tanam, pendampingan tenaga profesional agronomis guna mengatur dosis
penggunaan sarana produksi (seperti benih, pupuk, serta obat pestisida) secara
amat presisi sesuai standar, dan penyediaan jaminan akses penyaluran pasar yang
transparan guna memberikan garansi harga beli panen komoditas gabah yang
terbaik bagi kesejahteraan petani.
Lebih jauh, Adwin juga mengajak dengan tegas kepada kalangan
mahasiswa kampus untuk segera mematahkan stereotip usang bahwa bertani harus
selalu identik dengan bercucuran keringat, bau matahari, dan berkubang lumpur
hitam. "Praktik pertanian di dunia modern saat ini sudah bertransformasi
sangat masif. Pengecekan kondisi kelembapan dan derajat keasaman lahan di luar
negeri kini dipantau cukup melalui layar monitor pencitraan satelit. Untuk
menyemprotkan cairan hama pestisida di atas lahan seluas satu hektar, kita
tidak perlu lagi memanggul tabung berat dan membuang waktu fisik selama
setengah hari, kini kita cukup duduk di bawah pohon, mengoperasikan rute
jelajah drone dari pinggir petak sawah, dan operasi penyemprotan itu
selesai paripurna hanya dalam waktu 20 menit saja," tegasnya penuh
optimisme. Melalui tajuk kampanye masif bertajuk "Make Agriculture Cool
Again", ia mendorong mahasiswa kampus dan seluruh generasi muda
penerus untuk berani melek adopsi teknologi terkini dan bangga mengambil peran
kunci sebagai ujung tombak pahlawan penyedia pangan rakyat di kancah era
digitalisasi.

Posting Komentar