Patahkan Stigma '3D', Dr. Henik Soroti Tiga Pilar Utama Regenerasi Petani Masa Depan di Semartani 5
Fenomena penyusutan dramatis akibat kelangkaan tenaga kerja
muda yang mau menggantikan posisi tetua mereka di sektor budidaya pertanian (farmer
aging) sejatinya masih menjadi pekerjaan rumah terbesar sekaligus bom waktu
bagi ketahanan pangan bangsa Indonesia. Hal yang paling miris sekaligus menarik
adalah keengganan bergelut dengan cangkul dan tanah ini ternyata tidak hanya
dominan terjadi pada masyarakat awam yang minim edukasi agraris, tetapi juga
justru menjangkiti para lulusan sarjana akademis dari fakultas-fakultas
pertanian di berbagai universitas. Akar permasalahan sosiologis dan psikologis
terkait isu dilematis ini dikupas sangat tuntas serta komprehensif oleh Dr. Ir.
Henik Prayuginingsih, M.P., selaku Dosen Fakultas Pertanian, Universitas
Muhammadiyah Jember. Ulasan tajam tersebut disampaikannya pada rangkaian
pemaparan sesi terakhir di perhelatan Semartani 5 Tahun 2026. Mengambil tempat
yang megah di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, gelaran dialektika akademis ini
dilaksanakan sukses secara hybrid pada hari Selasa, 21 Juli 2026.
Dalam sesi presentasinya yang menggugah nalar, Dr. Henik
menyoroti dengan tajam ihwal kuatnya belenggu stigma konotasi negatif yang
populer dengan sebutan "3D" (Dirty, Difficult, Dangerous) yang
terlanjur tertanam begitu dalam di alam bawah sadar benak generasi muda
manakala mendengar frasa 'profesi petani'. Pekerjaan budidaya pertanian selalu
dianggap sebagai ranah yang Dirty (kotor, kumuh, dan tidak estetik)
lantaran lekat dengan aktivitas di kubangan lumpur pekat, debu ladang
beterbangan, serta paparan bau kurang sedap dari pupuk kompos organik maupun
kotoran hewan ternak. Aktivitas ini kemudian diyakini sebagai rutinitas yang Difficult
(sangat sulit dan menguras fisik berat) karena praktiknya menuntut pengerahan
tenaga ekstra di bawah siraman terik panas matahari yang membakar kulit,
memiliki siklus masa tunggu (gestation period) yang terlampau panjang
dan lambat untuk bisa memetik keuntungan panen komersial, hingga adanya
bayang-bayang fluktuasi ketidakpastian harga jual hasil bumi di pasaran raya
yang kerap kali mengecewakan ekspektasi pendapatan. Lebih parah lagi, pekerjaan
ini dianggap sangat Dangerous (memicu paparan berbahaya) akibat
tingginya tingkat risiko keracunan kesehatan dari paparan zat kimia pestisida
mematikan atau bahkan tersimpan ancaman fisik berupa potensi gigitan ular
maupun hewan berbisa lainnya yang kerap bersarang bebas di ekosistem ladang
hamparan terbuka. Kombinasi akumulasi stigma negatif inilah yang kerap kali
pada gilirannya membuat kalangan orang tua secara sadar maupun tidak, menolak
atau merasa enggan untuk memberikan restu penuh kepada putra-putri mereka—yang
sudah bersusah payah disekolahkan ke jenjang perguruan tinggi dengan ongkos
mahal—untuk kembali lagi meniti nasib turun ke pematang sawah.
Kendati demikian, secercah harapan positif justru terungkap
melalui sebuah studi riset mendalam yang pernah dilakukan secara akademis oleh
kelompok mahasiswa Fakultas Pertanian Unmuh Jember yang menyasar langsung
responden di kalangan siswa siswi tingkat SMA dan kelompok mahasiswa.
"Fakta lapangannya sebenarnya sangat menggembirakan, tercatat ada sekitar
70 persen proporsi anak muda yang dengan jujur mengakui bahwa pekerjaan
mencetak pangan alias petani sejatinya adalah manifestasi profesi mulia dan
luhur. Mereka dengan lantang menyatakan bersedia dan berminat penuh untuk
meretas karier menjadi petani muda, asalkan syarat-syarat fundamental
mereka dapat terpenuhi secara layak oleh keadaan sistemik. Syarat mutlaknya
yakni: budidaya pertaniannya harus murni ditopang oleh fasilitas alat inovasi
teknologi mesin modern, kondisi lingkungan sistem kerjanya dapat dikondisikan
bersih rapi serta tidak harus menguras letih tenaga otot punggung semata, dan
yang terpenting adalah model bisnis taninya terbukti secara rill mampu
memberikan imbal balik jaminan pendapatan ekonomi operasional yang berkali
lipat lebih sejahtera dibanding profesi urban lainnya," papar Dr. Henik
secara elaboratif.
Dalam rangka menjembatani sekaligus menjawab deretan
tantangan berat tersebut, Dr. Henik secara sistematis merumuskan konstruksi
tiga pilar kebijakan utama yang tidak bisa tidak harus segera dioperasikan
secara simultan bersama lintas pihak, demi merawat dan menyukseskan estafet
keberlanjutan regenerasi penggarap tani muda. Pertama, adanya pengadaan
infrastruktur dukungan teknologi berupa perangkat mesin mekanisasi cerdas
pertanian (smart farming) dan instrumen sarana input produksi unggulan
(bibit dan pakan mutakhir) guna mewujudkan rasio efisiensi beban kerja fisik
(sebagaimana contoh sistem kebun atap hidroponik dan fertigasi yang menjamin
kerapian dan standar kebersihan diri petaninya). Kedua, ketersediaan jaringan
pasokan rantai pasok dan kepastian ruang dukungan pasar bervolume jumbo melalui
katalisator hilirisasi pengolahan pabrikasi pangan (sebagai misal berdirinya
sentra industri ekstraksi pabrik jus buah mangga atau sejenisnya) yang selalu
siap melahap serapan daya pasokan komoditas hasil bumi pasca panen raya secara
konsisten dan massal, berikut dengan penawaran ketetapan kontrak harga beli
tengkulak yang sangat amat menguntungkan neraca saku sang petani pelaksana.
Ketiga dan tidak kalah urgensinya, adalah uluran tangan langsung dukungan
sinergis berupa perlindungan serta stimulasi program dari perpanjangan tangan
negara (pemerintah) ataupun inisiasi fasilitator startup independen
swasta murni, yang mampu menyediakan porsi injeksi suntikan kredit modal usaha
berbunga rendah, menuntaskan perbaikan sistem debit debitase saluran irigasi
publik, dan senantiasa membimbing pengetahuan keahlian mereka via sekolah
lapangan penyuluhan teknologi pertanian terpadu secara persisten. Di akhir
kesimpulan pamungkasnya, Dr. Henik menegaskan keyakinan bahwa jika fondasi
ekosistem suportif ini berhasil ditegakkan dengan kukuh, ia tidak ragu
memastikan barisan pemuda pemudi bangsa pada akhirnya akan menaruh kebanggaan
tinggi dan saling berebut meniti gemilang kemapanan masa depan dengan
berprofesi sebagai barisan ksatria petani milenial sejati.

Posting Komentar