Rabu, 22 Juli 2026

Patahkan Stigma '3D', Dr. Henik Soroti Tiga Pilar Utama Regenerasi Petani Masa Depan di Semartani 5

Fenomena penyusutan dramatis akibat kelangkaan tenaga kerja muda yang mau menggantikan posisi tetua mereka di sektor budidaya pertanian (farmer aging) sejatinya masih menjadi pekerjaan rumah terbesar sekaligus bom waktu bagi ketahanan pangan bangsa Indonesia. Hal yang paling miris sekaligus menarik adalah keengganan bergelut dengan cangkul dan tanah ini ternyata tidak hanya dominan terjadi pada masyarakat awam yang minim edukasi agraris, tetapi juga justru menjangkiti para lulusan sarjana akademis dari fakultas-fakultas pertanian di berbagai universitas. Akar permasalahan sosiologis dan psikologis terkait isu dilematis ini dikupas sangat tuntas serta komprehensif oleh Dr. Ir. Henik Prayuginingsih, M.P., selaku Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Jember. Ulasan tajam tersebut disampaikannya pada rangkaian pemaparan sesi terakhir di perhelatan Semartani 5 Tahun 2026. Mengambil tempat yang megah di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, gelaran dialektika akademis ini dilaksanakan sukses secara hybrid pada hari Selasa, 21 Juli 2026.

Dalam sesi presentasinya yang menggugah nalar, Dr. Henik menyoroti dengan tajam ihwal kuatnya belenggu stigma konotasi negatif yang populer dengan sebutan "3D" (Dirty, Difficult, Dangerous) yang terlanjur tertanam begitu dalam di alam bawah sadar benak generasi muda manakala mendengar frasa 'profesi petani'. Pekerjaan budidaya pertanian selalu dianggap sebagai ranah yang Dirty (kotor, kumuh, dan tidak estetik) lantaran lekat dengan aktivitas di kubangan lumpur pekat, debu ladang beterbangan, serta paparan bau kurang sedap dari pupuk kompos organik maupun kotoran hewan ternak. Aktivitas ini kemudian diyakini sebagai rutinitas yang Difficult (sangat sulit dan menguras fisik berat) karena praktiknya menuntut pengerahan tenaga ekstra di bawah siraman terik panas matahari yang membakar kulit, memiliki siklus masa tunggu (gestation period) yang terlampau panjang dan lambat untuk bisa memetik keuntungan panen komersial, hingga adanya bayang-bayang fluktuasi ketidakpastian harga jual hasil bumi di pasaran raya yang kerap kali mengecewakan ekspektasi pendapatan. Lebih parah lagi, pekerjaan ini dianggap sangat Dangerous (memicu paparan berbahaya) akibat tingginya tingkat risiko keracunan kesehatan dari paparan zat kimia pestisida mematikan atau bahkan tersimpan ancaman fisik berupa potensi gigitan ular maupun hewan berbisa lainnya yang kerap bersarang bebas di ekosistem ladang hamparan terbuka. Kombinasi akumulasi stigma negatif inilah yang kerap kali pada gilirannya membuat kalangan orang tua secara sadar maupun tidak, menolak atau merasa enggan untuk memberikan restu penuh kepada putra-putri mereka—yang sudah bersusah payah disekolahkan ke jenjang perguruan tinggi dengan ongkos mahal—untuk kembali lagi meniti nasib turun ke pematang sawah.

Kendati demikian, secercah harapan positif justru terungkap melalui sebuah studi riset mendalam yang pernah dilakukan secara akademis oleh kelompok mahasiswa Fakultas Pertanian Unmuh Jember yang menyasar langsung responden di kalangan siswa siswi tingkat SMA dan kelompok mahasiswa. "Fakta lapangannya sebenarnya sangat menggembirakan, tercatat ada sekitar 70 persen proporsi anak muda yang dengan jujur mengakui bahwa pekerjaan mencetak pangan alias petani sejatinya adalah manifestasi profesi mulia dan luhur. Mereka dengan lantang menyatakan bersedia dan berminat penuh untuk meretas karier menjadi petani muda, asalkan syarat-syarat fundamental mereka dapat terpenuhi secara layak oleh keadaan sistemik. Syarat mutlaknya yakni: budidaya pertaniannya harus murni ditopang oleh fasilitas alat inovasi teknologi mesin modern, kondisi lingkungan sistem kerjanya dapat dikondisikan bersih rapi serta tidak harus menguras letih tenaga otot punggung semata, dan yang terpenting adalah model bisnis taninya terbukti secara rill mampu memberikan imbal balik jaminan pendapatan ekonomi operasional yang berkali lipat lebih sejahtera dibanding profesi urban lainnya," papar Dr. Henik secara elaboratif.

Dalam rangka menjembatani sekaligus menjawab deretan tantangan berat tersebut, Dr. Henik secara sistematis merumuskan konstruksi tiga pilar kebijakan utama yang tidak bisa tidak harus segera dioperasikan secara simultan bersama lintas pihak, demi merawat dan menyukseskan estafet keberlanjutan regenerasi penggarap tani muda. Pertama, adanya pengadaan infrastruktur dukungan teknologi berupa perangkat mesin mekanisasi cerdas pertanian (smart farming) dan instrumen sarana input produksi unggulan (bibit dan pakan mutakhir) guna mewujudkan rasio efisiensi beban kerja fisik (sebagaimana contoh sistem kebun atap hidroponik dan fertigasi yang menjamin kerapian dan standar kebersihan diri petaninya). Kedua, ketersediaan jaringan pasokan rantai pasok dan kepastian ruang dukungan pasar bervolume jumbo melalui katalisator hilirisasi pengolahan pabrikasi pangan (sebagai misal berdirinya sentra industri ekstraksi pabrik jus buah mangga atau sejenisnya) yang selalu siap melahap serapan daya pasokan komoditas hasil bumi pasca panen raya secara konsisten dan massal, berikut dengan penawaran ketetapan kontrak harga beli tengkulak yang sangat amat menguntungkan neraca saku sang petani pelaksana. Ketiga dan tidak kalah urgensinya, adalah uluran tangan langsung dukungan sinergis berupa perlindungan serta stimulasi program dari perpanjangan tangan negara (pemerintah) ataupun inisiasi fasilitator startup independen swasta murni, yang mampu menyediakan porsi injeksi suntikan kredit modal usaha berbunga rendah, menuntaskan perbaikan sistem debit debitase saluran irigasi publik, dan senantiasa membimbing pengetahuan keahlian mereka via sekolah lapangan penyuluhan teknologi pertanian terpadu secara persisten. Di akhir kesimpulan pamungkasnya, Dr. Henik menegaskan keyakinan bahwa jika fondasi ekosistem suportif ini berhasil ditegakkan dengan kukuh, ia tidak ragu memastikan barisan pemuda pemudi bangsa pada akhirnya akan menaruh kebanggaan tinggi dan saling berebut meniti gemilang kemapanan masa depan dengan berprofesi sebagai barisan ksatria petani milenial sejati.

 

Tags :

bm
Created by: News Unmuh Jember

Humas Unmuh Jember Jaya Jaya Jaya!

Posting Komentar

Connect