Atasi Persoalan Sampah, KKN-T 18 Unmuh Jember Hadirkan Teknologi Incinerator Minim Asap
Persoalan sampah yang masih menjadi tantangan di Desa Maesan, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Kelompok 18 Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menghadirkan inovasi berupa incinerator pembakaran minim asap.
Pembuatan dan pengembangan alat tersebut dilaksanakan selama dua hari, Sabtu–Minggu (1–2/8/2026), sebagai salah satu upaya mahasiswa membantu masyarakat dalam menangani sampah yang sulit terurai, khususnya sampah anorganik.
Program tersebut berangkat dari kondisi pengelolaan sampah di Desa Maesan yang masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya adalah belum tersedianya Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang memadai, sehingga sebagian masyarakat masih membuang sampah secara tidak terkelola, termasuk ke sungai. Kondisi tersebut berpotensi mencemari lingkungan dan mengganggu kebersihan aliran air.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN-T Kelompok 18 merancang incinerator sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah anorganik yang sulit dimanfaatkan kembali. Alat tersebut dirancang dengan sistem pembakaran yang lebih terarah sehingga diharapkan dapat menghasilkan asap lebih sedikit dibandingkan pembakaran sampah secara terbuka.
Penggunaan incinerator diarahkan untuk sampah anorganik tertentu, terutama material yang sulit terurai seperti beberapa jenis plastik dan kemasan rumah tangga. Sementara itu, sampah organik tidak diarahkan untuk dibakar, melainkan dapat dikelola melalui metode lain seperti pengomposan.
Selain menghasilkan alat, mahasiswa KKN-T 18 juga mendorong masyarakat menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) dalam kehidupan sehari-hari. Sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos, sedangkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna dapat dipilah untuk digunakan kembali maupun didaur ulang.
Inovasi tersebut mendapat perhatian dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari ketua RT, kepala dusun, perangkat desa, hingga Kepala Desa Maesan. Pemerintah desa menilai persoalan sampah membutuhkan solusi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan dan melibatkan partisipasi masyarakat.
Perangkat Desa Maesan, Yogi, berharap inovasi yang dikembangkan mahasiswa dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di berbagai dusun.
“Adanya inovasi dari mahasiswa KKN ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam menangani permasalahan sampah di setiap dusun Desa Maesan. Kami berharap alat yang dibuat dapat dimanfaatkan, dirawat, dan juga dapat diproduksi sebanyak 10 titik di Desa Maesan,” ujarnya.
Sementara itu, PDD KKN-T Kelompok 18 Unmuh Jember, Heki, mengatakan pembuatan incinerator merupakan bentuk kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan alternatif terhadap persoalan sampah di Desa Maesan.
“Kami mencoba menghadirkan sebuah solusi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan desa. Namun, incinerator bukan satu-satunya solusi dalam mengurangi limbah sampah. Kami juga berharap masyarakat tetap melakukan pemilahan sampah sesuai jenisnya agar pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan lebih baik,” jelasnya.
Melalui program tersebut, KKN-T Kelompok 18 Unmuh Jember tidak hanya berupaya menghadirkan teknologi tepat guna, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
Keberadaan incinerator diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi timbunan sampah yang sulit terurai. Namun, pengelolaan sampah secara menyeluruh tetap membutuhkan pemilahan sejak dari sumber, pengurangan penggunaan barang sekali pakai, pemanfaatan kembali, serta pengolahan sampah yang sesuai dengan jenisnya.
Program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengelolaan sampah yang lebih tertib dan bertanggung jawab di Desa Maesan. Dengan kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat, inovasi sederhana tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi lingkungan.

Posting Komentar