Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unmuh Jember, Satria Bagaskoro Raih Juara 1 Nasional Feature SEMISTIK 2026
Cerita tentang keterbatasan, inovasi, dan kegigihan seorang warga Jember berhasil mengantarkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember meraih prestasi di tingkat nasional. Satria Bagaskoro, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, berhasil meraih Juara 1 Nasional Kategori Feature dalam SEMISTIK 2026 yang diselenggarakan oleh UKMPK Tegalboto Universitas Jember.
Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena kompetisi
berlangsung di lingkungan kampus yang secara geografis berdekatan dengan
Universitas Muhammadiyah Jember. Alih-alih menjadi beban, situasi tersebut
justru menjadi motivasi bagi Satria untuk membawa nama kampusnya bersaing
dengan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
“Saya tentu merasa sangat bersyukur dan bangga bisa meraih
Juara 1 Nasional Kategori Feature di SEMISTIK 2026. Apalagi kompetisi ini
diselenggarakan di lingkungan Universitas Jember yang secara geografis cukup
dekat dengan kampus saya,” ungkap Satria.
Menurutnya, kemenangan tersebut bukan sekadar persoalan
mendapatkan gelar juara. Lebih dari itu, prestasi tersebut menjadi pembuktian
bahwa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi memiliki kesempatan yang sama
untuk menghasilkan karya jurnalistik yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Dalam kompetisi tersebut, Satria mengangkat feature berjudul
“Asap yang Tak Pernah Padam”. Karya tersebut bercerita tentang Andrieyono atau
yang akrab disapa Pak Andrie, warga Dusun Kantong, Desa Kemiri, Kecamatan
Panti, Kabupaten Jember, yang mengembangkan usaha asap cair organik melalui
alat produksi yang dirakitnya sendiri.
Bagi Satria, daya tarik cerita tersebut bukan hanya terletak
pada produk asap cair yang dihasilkan. Ada perjalanan hidup dan perjuangan
panjang yang membuat kisah tersebut layak untuk diangkat.
Sejak kecil, Pak Andrie mengalami polio dan baru dapat
berjalan pada usia tujuh tahun. Ia juga sempat menjalani berbagai pekerjaan
serabutan, mulai dari menjadi tukang tambal ban, mengamen, hingga memelitur
kusen. Pendidikan formalnya pun hanya ditempuh hingga tingkat sekolah menengah
pertama.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkahnya.
Pada 2009, Pak Andrie mulai tertarik pada teknologi asap cair setelah membaca
sebuah artikel mengenai penelitian Universitas Gadjah Mada.
Ketika mengetahui harga alat produksi komersial yang menurut
informasi yang diperolehnya mencapai sekitar Rp30 juta, ia memilih mencari
jalan lain. Dengan memanfaatkan bahan sederhana seperti drum bekas dan pipa
PVC, ia mencoba merakit alat produksi sendiri.
“Saya merasa cerita ini penting dibawa ke tingkat nasional
karena di dalamnya terdapat isu yang lebih luas daripada sekadar kewirausahaan.
Ada persoalan mengenai keterbatasan, inovasi, kemandirian, pemberdayaan
masyarakat, dan bagaimana seseorang dapat menciptakan peluang dari kondisi yang
sangat sederhana,” jelas Satria.
Karya tersebut tidak lahir hanya dari penelusuran informasi
di internet. Satria bersama teman-temannya dari Himpunan Mahasiswa Ilmu
Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Jember datang langsung ke rumah produksi
CV Prima Rosandries pada 9 April 2026.
Di lokasi tersebut, ia mengamati proses produksi sekaligus
berbincang langsung dengan Pak Andrie. Dari pertemuan itu, Satria menemukan
cerita manusia yang kemudian menjadi fondasi utama feature-nya.
Ia menggali perjalanan hidup Pak Andrie, mulai dari
pengalaman menghadapi polio, pekerjaan serabutan, proses menemukan pengetahuan
mengenai asap cair, eksperimen merakit alat produksi, hingga alasan
mempertahankan usahanya di lingkungan desa.
“Awalnya saya tidak ingin hanya menulis tentang asap cair
sebagai sebuah produk. Kalau hanya membahas produk, menurut saya ceritanya akan
cenderung menjadi tulisan informatif biasa. Karena itu, saya mencoba mencari
sisi manusia di balik inovasi tersebut,” ujarnya.
Dari proses tersebut, ia kemudian menentukan angle cerita: bagaimana
seseorang dengan keterbatasan mampu menciptakan inovasi dan peluang bagi
dirinya sekaligus memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.
Keikutsertaan Satria dalam SEMISTIK 2026 sejak awal bukan
semata-mata untuk mengejar gelar juara. Ia ingin menguji kemampuan
jurnalistiknya, khususnya dalam penulisan feature, sekaligus membawa karya
tersebut ke ruang kompetisi yang lebih luas.
Menurutnya, kategori feature memberikan ruang untuk
mengangkat cerita manusia secara lebih mendalam.
“Target utamanya adalah mengikuti dan menghasilkan karya
terbaik, sedangkan juara adalah hasil yang ingin dicapai tetapi tidak bisa
dijadikan satu-satunya ukuran. Justru fokus pada proses membuat saya lebih
leluasa dalam mengembangkan karya,” katanya.
Pengalaman bertemu dengan peserta dari berbagai daerah juga
menjadi pembelajaran tersendiri. Ia melihat setiap peserta memiliki pendekatan
yang berbeda dalam mengolah sebuah isu, baik dari sisi data, visual, human
interest, maupun karakter cerita.
Kemenangan tersebut justru membuatnya semakin menyadari
bahwa dunia jurnalistik masih memiliki banyak hal untuk dipelajari.
Setelah meraih Juara 1 Nasional, Satria tidak ingin berhenti
berkarya. Ia berencana terus melakukan liputan langsung dan mengangkat
cerita-cerita yang selama ini mungkin belum mendapatkan perhatian luas.
Ia ingin mengeksplorasi berbagai isu, terutama persoalan
sosial, masyarakat, kebijakan publik, lingkungan, serta kisah inspiratif yang
memiliki dampak nyata di sekitar masyarakat.
Bagi Satria, kompetisi bukanlah satu-satunya tujuan.
Kemampuan melakukan riset, wawancara, observasi, menulis, dan menyajikan cerita
harus terus diasah.
Ia pun mengajak mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember
untuk tidak takut mencoba mengikuti kompetisi.
“Jangan menunggu merasa sudah hebat atau sudah menjadi
penulis yang sempurna baru kemudian mengikuti kompetisi. Kemampuan justru
berkembang ketika kita berani mencoba, menerima kritik, dan terus memperbaiki
karya,” pesannya.
Satria juga menekankan pentingnya turun langsung ke
lapangan. Menurutnya, cerita yang kuat tidak selalu berasal dari isu besar.
Cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pun dapat memiliki nilai
jurnalistik tinggi ketika digali secara mendalam.
“Jangan terlalu terobsesi dengan mencari isu yang terlihat
besar. Terkadang cerita yang sangat dekat dengan kita justru memiliki nilai
yang kuat apabila digali secara mendalam,” tuturnya.
Keberhasilan Satria menjadi Juara 1 Nasional SEMISTIK 2026
sekaligus menunjukkan bahwa karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember
mampu menembus kompetisi jurnalistik nasional. Lebih dari sekadar prestasi,
kisah tersebut menjadi pengingat bahwa cerita-cerita dari lingkungan sekitar
dapat memiliki makna yang luas ketika disampaikan melalui riset, observasi, dan
keberanian untuk turun langsung ke lapangan.


Posting Komentar