Selasa, 15 September 2026

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unmuh Jember, Satria Bagaskoro Raih Juara 1 Nasional Feature SEMISTIK 2026

Cerita tentang keterbatasan, inovasi, dan kegigihan seorang warga Jember berhasil mengantarkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember meraih prestasi di tingkat nasional. Satria Bagaskoro, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, berhasil meraih Juara 1 Nasional Kategori Feature dalam SEMISTIK 2026 yang diselenggarakan oleh UKMPK Tegalboto Universitas Jember.

Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena kompetisi berlangsung di lingkungan kampus yang secara geografis berdekatan dengan Universitas Muhammadiyah Jember. Alih-alih menjadi beban, situasi tersebut justru menjadi motivasi bagi Satria untuk membawa nama kampusnya bersaing dengan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

“Saya tentu merasa sangat bersyukur dan bangga bisa meraih Juara 1 Nasional Kategori Feature di SEMISTIK 2026. Apalagi kompetisi ini diselenggarakan di lingkungan Universitas Jember yang secara geografis cukup dekat dengan kampus saya,” ungkap Satria.

Menurutnya, kemenangan tersebut bukan sekadar persoalan mendapatkan gelar juara. Lebih dari itu, prestasi tersebut menjadi pembuktian bahwa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi memiliki kesempatan yang sama untuk menghasilkan karya jurnalistik yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Dalam kompetisi tersebut, Satria mengangkat feature berjudul “Asap yang Tak Pernah Padam”. Karya tersebut bercerita tentang Andrieyono atau yang akrab disapa Pak Andrie, warga Dusun Kantong, Desa Kemiri, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, yang mengembangkan usaha asap cair organik melalui alat produksi yang dirakitnya sendiri.

Bagi Satria, daya tarik cerita tersebut bukan hanya terletak pada produk asap cair yang dihasilkan. Ada perjalanan hidup dan perjuangan panjang yang membuat kisah tersebut layak untuk diangkat.

Sejak kecil, Pak Andrie mengalami polio dan baru dapat berjalan pada usia tujuh tahun. Ia juga sempat menjalani berbagai pekerjaan serabutan, mulai dari menjadi tukang tambal ban, mengamen, hingga memelitur kusen. Pendidikan formalnya pun hanya ditempuh hingga tingkat sekolah menengah pertama.

Namun, keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Pada 2009, Pak Andrie mulai tertarik pada teknologi asap cair setelah membaca sebuah artikel mengenai penelitian Universitas Gadjah Mada.

Ketika mengetahui harga alat produksi komersial yang menurut informasi yang diperolehnya mencapai sekitar Rp30 juta, ia memilih mencari jalan lain. Dengan memanfaatkan bahan sederhana seperti drum bekas dan pipa PVC, ia mencoba merakit alat produksi sendiri.

“Saya merasa cerita ini penting dibawa ke tingkat nasional karena di dalamnya terdapat isu yang lebih luas daripada sekadar kewirausahaan. Ada persoalan mengenai keterbatasan, inovasi, kemandirian, pemberdayaan masyarakat, dan bagaimana seseorang dapat menciptakan peluang dari kondisi yang sangat sederhana,” jelas Satria.

Karya tersebut tidak lahir hanya dari penelusuran informasi di internet. Satria bersama teman-temannya dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Jember datang langsung ke rumah produksi CV Prima Rosandries pada 9 April 2026.

Di lokasi tersebut, ia mengamati proses produksi sekaligus berbincang langsung dengan Pak Andrie. Dari pertemuan itu, Satria menemukan cerita manusia yang kemudian menjadi fondasi utama feature-nya.

Ia menggali perjalanan hidup Pak Andrie, mulai dari pengalaman menghadapi polio, pekerjaan serabutan, proses menemukan pengetahuan mengenai asap cair, eksperimen merakit alat produksi, hingga alasan mempertahankan usahanya di lingkungan desa.

“Awalnya saya tidak ingin hanya menulis tentang asap cair sebagai sebuah produk. Kalau hanya membahas produk, menurut saya ceritanya akan cenderung menjadi tulisan informatif biasa. Karena itu, saya mencoba mencari sisi manusia di balik inovasi tersebut,” ujarnya.

Dari proses tersebut, ia kemudian menentukan angle cerita: bagaimana seseorang dengan keterbatasan mampu menciptakan inovasi dan peluang bagi dirinya sekaligus memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.

Keikutsertaan Satria dalam SEMISTIK 2026 sejak awal bukan semata-mata untuk mengejar gelar juara. Ia ingin menguji kemampuan jurnalistiknya, khususnya dalam penulisan feature, sekaligus membawa karya tersebut ke ruang kompetisi yang lebih luas.

Menurutnya, kategori feature memberikan ruang untuk mengangkat cerita manusia secara lebih mendalam.

“Target utamanya adalah mengikuti dan menghasilkan karya terbaik, sedangkan juara adalah hasil yang ingin dicapai tetapi tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran. Justru fokus pada proses membuat saya lebih leluasa dalam mengembangkan karya,” katanya.

Pengalaman bertemu dengan peserta dari berbagai daerah juga menjadi pembelajaran tersendiri. Ia melihat setiap peserta memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengolah sebuah isu, baik dari sisi data, visual, human interest, maupun karakter cerita.

Kemenangan tersebut justru membuatnya semakin menyadari bahwa dunia jurnalistik masih memiliki banyak hal untuk dipelajari.

Setelah meraih Juara 1 Nasional, Satria tidak ingin berhenti berkarya. Ia berencana terus melakukan liputan langsung dan mengangkat cerita-cerita yang selama ini mungkin belum mendapatkan perhatian luas.

Ia ingin mengeksplorasi berbagai isu, terutama persoalan sosial, masyarakat, kebijakan publik, lingkungan, serta kisah inspiratif yang memiliki dampak nyata di sekitar masyarakat.

Bagi Satria, kompetisi bukanlah satu-satunya tujuan. Kemampuan melakukan riset, wawancara, observasi, menulis, dan menyajikan cerita harus terus diasah.

Ia pun mengajak mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember untuk tidak takut mencoba mengikuti kompetisi.

“Jangan menunggu merasa sudah hebat atau sudah menjadi penulis yang sempurna baru kemudian mengikuti kompetisi. Kemampuan justru berkembang ketika kita berani mencoba, menerima kritik, dan terus memperbaiki karya,” pesannya.

Satria juga menekankan pentingnya turun langsung ke lapangan. Menurutnya, cerita yang kuat tidak selalu berasal dari isu besar. Cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pun dapat memiliki nilai jurnalistik tinggi ketika digali secara mendalam.

“Jangan terlalu terobsesi dengan mencari isu yang terlihat besar. Terkadang cerita yang sangat dekat dengan kita justru memiliki nilai yang kuat apabila digali secara mendalam,” tuturnya.

Keberhasilan Satria menjadi Juara 1 Nasional SEMISTIK 2026 sekaligus menunjukkan bahwa karya mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember mampu menembus kompetisi jurnalistik nasional. Lebih dari sekadar prestasi, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa cerita-cerita dari lingkungan sekitar dapat memiliki makna yang luas ketika disampaikan melalui riset, observasi, dan keberanian untuk turun langsung ke lapangan.

 

Tags :

bm
Created by: News Unmuh Jember

Humas Unmuh Jember Jaya Jaya Jaya!

Posting Komentar

Connect