Menembus Gunungan Sampah 35 Meter, Mahasiswa Lintas Disiplin FT Unmuh Jember Kaji Beban Kritis TPA Pakusari
Krisis tata kelola sampah domestik di Kabupaten Jember kini telah menjelma menjadi isu kedaruratan sosial dan ekologis yang membutuhkan penanganan luar biasa. Merespon kondisi kritis tersebut, jajaran sivitas akademika Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah (UM) Jember mengambil langkah taktis proaktif melalui agenda observasi lapangan dan studi komprehensif. Gelombang pertama dari inisiatif ini resmi diterjunkan langsung ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pakusari pada hari Sabtu, 6 Juni 2026.
Delegasi gelombang pertama ini membawa misi analisis
infrastruktur dengan melibatkan kolaborasi lintas disiplin dari empat program
studi sekaligus, yakni Teknik Kimia, Teknik Industri, Teknik Sipil, dan Teknik
Lingkungan. Sinergi lintas keilmuan ini sengaja dibentuk untuk membedah
problematika persampahan dari berbagai sudut pandang rekayasa, mulai dari tata
letak operasional, stabilitas tumpukan fisik, hingga proses konversi bahan
kimia yang terjadi secara alami di lokasi pembuangan raksasa tersebut.
Dalam peninjauan lapangan yang berlangsung intensif, para
mahasiswa tidak hanya melakukan pengamatan visual, tetapi juga menggali data
operasional harian secara mendetail. Mereka berdialog langsung dengan para
petugas yang menjadi garda terdepan di TPA Pakusari. Mahasiswa berdiskusi
secara mendalam dengan Bapak Moh. Jatim, selaku penanggung jawab bagian
Administrasi dan Ritribusi. Dari diskusi ini, mahasiswa berhasil memetakan alur
birokrasi, sistem pencatatan retribusi, serta pola kedatangan truk pengangkut
sampah yang beroperasi tanpa henti dari berbagai penjuru kecamatan di Jember.
Lebih lanjut, investigasi pencarian data berlanjut di area
krusial, yakni pos awal masuk TPA. Di sana, para mahasiswa berkoordinasi dengan
Bapak Totok M. Soleh yang bertugas sebagai Operator Jembatan Timbang Sampah.
Fakta kuantitatif yang terungkap di lapangan sangat mengejutkan; pos jembatan
timbang mencatat bahwa TPA Pakusari saat ini dipaksa menampung beban volume
timbulan sampah harian yang sangat ekstrem, mencapai rata-rata 600 meter kubik
per harinya. Akumulasi sampah yang terus menerus masuk tanpa ada proses
pengolahan yang seimbang ini telah mengakibatkan terbentuknya gunungan sampah
masif dengan elevasi kritis setinggi 35 meter.
Bagi mahasiswa Teknik Sipil, data ketinggian 35 meter ini
menjadi parameter vital untuk menganalisis stabilitas lereng sampah guna
mencegah potensi bencana longsor. Sementara itu, mahasiswa Teknik Industri
mengevaluasi efisiensi antrean logistik di jembatan timbang, dan mahasiswa
Teknik Kimia serta Lingkungan meneliti potensi bahaya pencemaran air lindi (leachate)
yang dihasilkan. Kunjungan terpadu pada tanggal 6 Juni ini pada akhirnya
menjadi pondasi data primer yang sangat solid bagi riset mahasiswa FT UM Jember
dalam merumuskan solusi penanganan infrastruktur persampahan di masa depan.


.jpeg)
