Rabu, 22 Juli 2026

Make Agriculture Cool Again : SVP Eratani Ajak Generasi Z Terjun Jadi Petani Lewat Kolaborasi Digital di Semartani 5

Sebuah riset demografis yang cukup mengejutkan dari Bappenas memproyeksikan sebuah skenario buruk: pada tahun 2060 mendatang, Indonesia terancam krisis eksistensial dengan tidak lagi memiliki warga yang berprofesi sebagai petani murni akibat ketiadaan laju regenerasi. Fakta empiris di lapangan bahkan memperlihatkan bahwa 67,8 persen penggarap lahan tani di Indonesia saat ini didominasi secara penuh oleh kelompok usia lanjut (yakni rentang usia 45 hingga 65 tahun). Di sisi lain, angka ketertarikan kaum muda dari kelompok Generasi Z untuk terjun mencicipi profesi di sektor pertanian agraris sangatlah memprihatinkan, tercatat hanya berkisar pada rasio 6 dari 100 pemuda. Berupaya keras menjawab krisis eksistensial kedaulatan pangan nasional ini, Adwin Pratama Anas, S.E., M.A., yang saat ini menjabat sebagai Sr. Vice President Operations Eratani di PT. Eratani Teknologi Nusantara, tampil memberikan pencerahan motivasional dalam acara Semartani 5 Tahun 2026. Seminar ini diselenggarakan secara sukses dengan format hybrid di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, Selasa (21/7/2026).

Dalam kesempatannya, Adwin, yang juga telah secara independen meneliti kompleksitas masalah pertanian dan menuangkannya secara runut ke dalam sebuah buku berjudul Farmers are Disappearing, mengurai tuntas enam variabel akar permasalahan utama (broken equation) yang menyebabkan tersingkirnya regenerasi petani di Indonesia. Variabel faktor tersebut meliputi rasio ketidakpastian pendapatan bersih serta permodalan awal yang berat, rendahnya taraf literasi pendidikan (lebih dari separuh populasi petani hanya memegang ijazah SMP ke bawah), besarnya risiko ancaman gagal panen akibat terjangan cuaca iklim yang tidak menentu, persepsi sosial masyarakat yang terlanjur menganggap profesi petani bukanlah jenis pekerjaan bergengsi atau elegan, kurangnya daya beli dan adopsi alat teknologi canggih, serta adanya lubang dalam regulasi dan kebijakan perlindungan negara. "Anak-anak muda milenial di era media sosial saat ini sangat mencari aktualisasi diri dan validasi. Mereka butuh memamerkan pekerjaan yang mendapat pengakuan serta prestise sosial. Sayangnya, memegang cangkul dan menjadi petani masih sering dipandang sebelah mata, dianggap kampungan, dan dinilai tidak sekeren bekerja berseragam di balik meja kantoran," ungkap Adwin secara blak-blakan.

Untuk mengatasi kebuntuan sistemik tersebut, startup agritech (teknologi pertanian) Eratani hadir sebagai ekosistem digital revolusioner yang mencoba merombak cara pandang tata kelola budidaya tradisional menjadi jauh lebih modern, terukur basis datanya, dan pastinya lebih menguntungkan secara finansial. Melalui sentuhan platform digital end-to-end, Eratani menyediakan sekurang-kurangnya tiga pilar solusi nyata bagi para petani mitranya: pembukaan akses permodalan operasional (tanpa jaminan rumit) di awal masa musim tanam, pendampingan tenaga profesional agronomis guna mengatur dosis penggunaan sarana produksi (seperti benih, pupuk, serta obat pestisida) secara amat presisi sesuai standar, dan penyediaan jaminan akses penyaluran pasar yang transparan guna memberikan garansi harga beli panen komoditas gabah yang terbaik bagi kesejahteraan petani.

Lebih jauh, Adwin juga mengajak dengan tegas kepada kalangan mahasiswa kampus untuk segera mematahkan stereotip usang bahwa bertani harus selalu identik dengan bercucuran keringat, bau matahari, dan berkubang lumpur hitam. "Praktik pertanian di dunia modern saat ini sudah bertransformasi sangat masif. Pengecekan kondisi kelembapan dan derajat keasaman lahan di luar negeri kini dipantau cukup melalui layar monitor pencitraan satelit. Untuk menyemprotkan cairan hama pestisida di atas lahan seluas satu hektar, kita tidak perlu lagi memanggul tabung berat dan membuang waktu fisik selama setengah hari, kini kita cukup duduk di bawah pohon, mengoperasikan rute jelajah drone dari pinggir petak sawah, dan operasi penyemprotan itu selesai paripurna hanya dalam waktu 20 menit saja," tegasnya penuh optimisme. Melalui tajuk kampanye masif bertajuk "Make Agriculture Cool Again", ia mendorong mahasiswa kampus dan seluruh generasi muda penerus untuk berani melek adopsi teknologi terkini dan bangga mengambil peran kunci sebagai ujung tombak pahlawan penyedia pangan rakyat di kancah era digitalisasi.

 

Cegah Kecurangan Produk Pangan, Akademisi UHO Kenalkan Deteksi Cerdas Berbasis Artificial Intelligence di SEMARTANI 5



Kasus kecurangan produk pangan (food fraud) di dunia industri, mulai dari pemalsuan madu murni, pencampuran daging sapi segar dengan jenis daging lain yang berharga lebih murah, hingga pelabelan penipuan yang menjual ikan patin sebagai ikan kakap merah mahal, telah menjadi ancaman serius. Hal ini merugikan tidak hanya dari sisi ekonomi konsumen, tetapi juga sangat mengancam integritas kesehatan masyarakat luas. Isu yang semakin marak terjadi di pasar global maupun domestik ini menjadi sorotan utama yang diangkat oleh akademisi terkemuka dari Universitas Halu Oleo, Dr. M. Syukri Sadimantara, S.T., M.P., pada acara Seminar Nasional Pertanian ke-5 (Semartani 5) Tahun 2026. Mengambil lokasi di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, kegiatan berskala nasional ini diselenggarakan secara hybrid pada hari Selasa, 21 Juli 2026.

Dalam materinya, Dr. Syukri memaparkan secara komprehensif mengenai betapa pentingnya transisi dan peran inovasi teknologi modern dalam mendeteksi kualitas mutu serta keamanan produk pangan secara cepat, masif, dan akurat. Menurut tinjauan akademisnya, proses inspeksi kendali mutu (quality control) yang selama ini dilakukan secara visual oleh tenaga kerja manusia maupun melalui metode uji laboratorium konvensional saat ini masih memiliki banyak celah kelemahan. "Penglihatan manusia, meskipun sudah dilatih secara khusus, sangat rentan terhadap bias subjektif, faktor kelelahan kerja, dan ketidakkonsistenan penilaian. Sementara itu, prosedur uji laboratorium memakan waktu antrean yang berminggu-minggu, berbiaya sangat mahal, dan umumnya bersifat destructive atau harus menghancurkan sampel produk fisik yang akan diuji," papar pakar kecerdasan buatan dan teknologi pangan tersebut.

Sebagai jalan keluar dan lompatan revolusioner ke depan, Dr. Syukri memperkenalkan penerapan solusi canggih berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui pendekatan arsitektur jaringan Machine Learning, pemanfaatan kamera Computer Vision, serta sensor Spektroskopi (Chemometrics). Melalui pembacaan spektrum cahaya dan analisis pantulan gelombang optik, teknologi ini mampu secara ajaib mendeteksi komposisi kimiawi internal dan potensi kerusakan mutu pada tingkat molekuler secara instan tanpa perlu memotong atau merusak produk sama sekali. Ia mencontohkan secara langsung penggunaan model Deep Learning mutakhir seperti CNN dan YOLO (You Only Look Once) yang dapat secara otomatis mengklasifikasikan kelas kualitas dan adanya mikotoksin pada biji kakao, memprediksi tingkat rendeman air dan kematangan buah mangga hanya dengan tangkapan citra gambar dari ponsel pintar berbasis cloud, hingga memverifikasi keaslian murni sebuah produk madu dari tindak pencampuran (adulteration).

Meskipun potensi teknologinya sangat luar biasa, Dr. Syukri tetap mengingatkan seluruh akademisi akan sebuah prinsip fundamental dalam pemodelan kecerdasan buatan, yakni 'Garbage In, Garbage Out'. "Sistem AI yang paling canggih sekalipun tidak akan pernah berfungsi maksimal jika data latih (training data) yang kita pasok ke dalamnya merupakan data kotor atau tidak akurat. Oleh karena itu, tugas krusial dari para peneliti, dosen, dan mahasiswa teknologi industri pertanian adalah merancang dan menyediakan bank data set mutu pangan yang benar-benar telah tervalidasi keakuratannya di dalam laboratorium konvensional untuk mengajari algoritma mesin tersebut agar semakin cerdas," pesannya. Walaupun investasi instalasi infrastruktur keras ini cukup mahal di awal, ia sangat optimis bahwa ke depannya, pengendalian mutu pangan industri akan beralih secara total pada otomatisasi sistem smart factory.

 

Dorong Kemandirian Pangan, Kepala PVTPP Kementan Ajak Civitas Akademika Unmuh Jember Daftarkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman

Ancaman perubahan iklim yang ekstrem, penyusutan lahan produktif akibat alih fungsi lahan peruntukan industri dan pemukiman, serta tren penuaan petani (aging farmers) menjadi tantangan paling krusial bagi masa depan ketahanan pangan Indonesia. Isu strategis ini dikupas secara mendalam oleh Dr. Ir. Leli Nuryati, M.Sc., perwakilan dari Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Beliau hadir sebagai pemateri pertama dalam Seminar Nasional Pertanian ke-5 (Semartani 5) Tahun 2026, yang dilangsungkan secara hybrid di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember pada Selasa, 21 Juli 2026.

Dalam presentasinya, Dr. Leli memaparkan bahwa untuk mencapai dan mempertahankan target swasembada pangan yang terus digenjot oleh pemerintah mulai tahun 2025 ke atas, Indonesia mutlak membutuhkan langkah transformasi ekosistem dari hulu hingga ke hilir. Di ranah hulu, penggunaan benih bersertifikat dan varietas unggulan menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar lagi di tengah tingginya kebergantungan pada pupuk kimia. "Varietas unggul baru hasil penelitian riset pemuliaan tanaman sangat kita harapkan. Varietas ini harus memiliki sifat yang lebih adaptif terhadap cekaman perubahan iklim seperti El Nino maupun La Nina, tahan terhadap serangan hama penyakit, serta yang paling penting, mampu menaikkan produktivitas pertanian secara signifikan tanpa harus menambah pembukaan luas lahan," jelas Dr. Leli.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Kementerian Pertanian kini terus mendorong penerapan Advance Agriculture System (PMAS) atau sistem pertanian modern terpadu. Selain itu, Dr. Leli juga menyoroti satu urgensi krusial yang masih sering diabaikan oleh kalangan akademisi dan peneliti, yakni perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas varietas tanaman unggul. Ia menyayangkan data empiris yang menunjukkan bahwa kontribusi perguruan tinggi dalam permohonan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) secara nasional masih sangat rendah, yakni hanya berada di kisaran angka 12 persen dari total keseluruhan pendaftar.

Sebagai bentuk komitmen nyata dari negara, pemerintah saat ini memberikan relaksasi biaya pendaftaran yang sangat terjangkau guna menstimulasi inovasi dari kaum intelektual. "Untuk Warga Negara Indonesia, baik itu pemulia perorangan, lembaga penelitian, maupun dari perguruan tinggi dalam negeri, biaya permohonan hak PVT kini sangat murah, hanya Rp150.000 saja. Bahkan iuran pemeliharaan tahunannya digratiskan (Rp 0) selama tiga tahun pertama," ungkapnya. Lebih jauh, Dr. Leli juga mengajak kolaborasi pemerintah daerah dan civitas akademika, termasuk di lingkungan Unmuh Jember, untuk proaktif mendata dan mendaftarkan varietas lokal seperti komoditas durian unggul lokal Jember agar plasma nutfah asli daerah tersebut tidak diklaim secara sepihak oleh entitas lain dan kelak bisa dikomersialisasikan secara legal untuk kesejahteraan masyarakat daerah.

 

Faperta Unmuh Jember Sukses Gelar SEMARTANI 5 Secara Hybrid, Bahas Transformasi Pertanian Menuju Swasembada Pangan

Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Muhammadiyah Jember sukses menyelenggarakan perhelatan akbar Seminar Nasional Pertanian ke-5 (Semartani 5) Tahun 2026. Mengambil tempat di Aula Ahmad Zainuri Unmuh Jember, acara prestisius ini dilangsungkan secara hybridmemadukan kehadiran peserta secara luring dan daring melalui Zoom Meeting ada hari Selasa, (21/7/2026). Acara ini mengangkat tema sentral "Transformasi Ekosistem Pertanian Berkelanjutan Menuju Swasembada Pangan Melalui Inovasi Teknologi, Hilirisasi, dan Regenerasi Petani". Sesi seminar inti dipandu dengan apik oleh moderator Dr. Eng. Danang Kumarahadi, S. TP., M.T..

Dekan Faperta Unmuh Jember, Saptya Prawitasari, S.P., M.P., dalam laporan resminya menyampaikan rasa syukur atas antusiasme peserta yang sangat luar biasa. Tercatat, acara ini dihadiri oleh lebih dari 900 peserta terdaftar. Para peserta ini tidak hanya berasal dari internal Unmuh Jember, tetapi juga mewakili 15 universitas terkemuka di berbagai wilayah Indonesia, seperti Universitas Padjadjaran, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Brawijaya, Universitas Mulawarman, Universitas Riau, hingga IPB University. Selain itu, hadir pula jajaran perwakilan guru dan siswa dari SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Jember. 

"Bagi kami, Semartani 5 ini bukan hanya sekadar agenda seminar nasional yang digelar secara rutin, tetapi ini merupakan bagian dari ikhtiar nyata kita bersama untuk menghidupkan suasana akademis yang kental, dinamis, kritis, dan produktif di lingkungan kampus," tegas Saptya Prawitasari.

Lebih lanjut, Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, M.Pd., yang membuka acara secara resmi, turut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Faperta yang secara konsisten mengadakan Semartani hingga memasuki tahun kelimanya. Beliau menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki beban sekaligus tanggung jawab besar dalam mencetak inovasi-inovasi yang mampu merespons perubahan iklim ekstrem yang mengancam ketahanan pangan nasional. 

"Ketahanan pangan saat ini bukan sekadar persoalan bagaimana kita meningkatkan produksi pertanian, tetapi juga bagaimana kita membangun sebuah ekosistem yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim dan kemajuan teknologi digital. Saya berharap seminar ini tidak hanya berhenti sebagai forum akademik semata, tetapi juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi, pertukaran gagasan, memunculkan kreasi baru, dan menciptakan jejaring kolaborasi bisnis maupun riset yang saling menguntungkan," tutur Dr. Hanafi di hadapan para undangan.

Sesi seminar nasional ini sendiri dibagi ke dalam dua sesi utama yang diisi oleh empat narasumber pakar dari lintas sektoral. Mereka membedah tantangan mulai dari sektor hulu, seperti penggunaan varietas unggul dan pemantauan keamanan mutu pangan berbasis kecerdasan buatan, hingga sektor hilir yang berfokus pada pentingnya regenerasi petani muda dan pemanfaatan platform startup agritech untuk memutus mata rantai persoalan modal dan akses pasar.


Selasa, 21 Juli 2026

Mahasiswa KKN Unmuh Jember Resmi Mengabdi di SMA Muhammadiyah 2 Wuluhan, Perkuat Sinergi Kampus dan Sekolah

Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember secara resmi menyerahkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Reguler Sore/RPL Gelombang II Tahun 2026 kepada SMA Muhammadiyah 2 Wuluhan, Jumat (3/7/2026). Prosesi serah terima yang berlangsung di ruang pertemuan sekolah tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian program pengabdian mahasiswa di lingkungan sekolah.

Kegiatan dihadiri oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unmuh Jember, Dr. Juariyah, M.Si., Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Reni Umilasari, S.Pd., M.Si., Kepala SMA Muhammadiyah 2 Wuluhan, Alim Purnomosidi, S.Pd., beserta dewan guru dan mahasiswa peserta KKN.

Dalam sambutannya, Dr. Juariyah menjelaskan bahwa KKN Tematik merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, Universitas Muhammadiyah Jember terus mengembangkan berbagai skema KKN yang disesuaikan dengan kebutuhan mitra sehingga mahasiswa dapat memberikan kontribusi yang lebih tepat sasaran.

"KKN bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi menjadi media bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan, membangun kepedulian sosial, serta menghadirkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat melalui program-program yang relevan," ujarnya.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Reni Umilasari, S.Pd., M.Si., mengingatkan mahasiswa agar menjaga nama baik almamater selama menjalankan pengabdian. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang baik dengan pihak sekolah serta pelaksanaan program kerja yang mengedepankan kolaborasi dan tanggung jawab.

Di sisi lain, Kepala SMA Muhammadiyah 2 Wuluhan, Alim Purnomosidi, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Universitas Muhammadiyah Jember yang kembali memilih sekolahnya sebagai lokasi pelaksanaan KKN.

"Hari ini kami mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Jember. Hubungan antara universitas dan SMA Muhammadiyah merupakan hubungan yang erat, layaknya kakak dan adik yang saling mendukung dan saling membantu. Semoga keberadaan mahasiswa KKN dapat memberikan manfaat bagi sekolah sekaligus menjadi pengalaman berharga dalam mengabdi kepada masyarakat," tuturnya.

Ia berharap kehadiran mahasiswa KKN tidak hanya mendukung berbagai aktivitas pendidikan di sekolah, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi yang memberikan dampak positif bagi siswa maupun tenaga pendidik.

Program KKN Tematik Reguler Sore/RPL Gelombang II Tahun 2026 di SMA Muhammadiyah 2 Wuluhan akan diisi dengan berbagai kegiatan yang berfokus pada penguatan pendidikan, pengembangan karakter, serta pemberdayaan lingkungan sekolah. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, guru, dan warga sekolah, berbagai program tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan.

Prosesi serah terima ini sekaligus mempertegas komitmen Universitas Muhammadiyah Jember dalam memperkuat sinergi dengan sekolah-sekolah Muhammadiyah melalui kegiatan pengabdian yang berdampak nyata. Dengan semangat kolaborasi, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang menghadirkan inovasi, memperluas wawasan, serta berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SMA Muhammadiyah 2 Wuluhan.

 

Mahasiswa KKN Unmuh Jember Perkenalkan Olahraga Petanque di SMA Muhammadiyah 2 Wuluhan



Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Reguler Sore/RPL Gelombang II Tahun 2026 Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menghadirkan pengalaman baru bagi warga SMA Muhammadiyah 2 Wuluhan melalui sosialisasi olahraga Petanque, Sabtu (18/7/2026). Bertempat di halaman sekolah, kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB tersebut berlangsung meriah dengan melibatkan seluruh siswa, dewan guru, dan mahasiswa KKN.

Mengusung semangat edukasi sekaligus rekreasi, kegiatan ini bertujuan memperkenalkan Petanque sebagai cabang olahraga yang belum banyak dikenal di lingkungan sekolah. Selain menambah wawasan, olahraga asal Prancis tersebut juga dikenalkan sebagai sarana membangun karakter, mulai dari sportivitas, disiplin, kerja sama, hingga konsentrasi.

Mahasiswa KKN membuka kegiatan dengan memberikan pemaparan mengenai sejarah Petanque, peralatan yang digunakan, teknik dasar permainan, hingga aturan pertandingan. Agar materi lebih mudah dipahami, peserta juga diajak menyaksikan demonstrasi langsung teknik melempar bola, menentukan poin, dan strategi sederhana dalam permainan.

Antusiasme peserta semakin terasa ketika sesi praktik dimulai. Murid bersama para guru mencoba memainkan olahraga tersebut secara langsung dengan penuh semangat. Suasana halaman sekolah pun dipenuhi gelak tawa dan sorak sorai yang mencerminkan keakraban antara guru, siswa, dan mahasiswa.

Kemeriahan berlanjut melalui pertandingan persahabatan antarkelas yang juga melibatkan tim guru. Masing-masing tim berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam permainan yang mengandalkan ketepatan lemparan dan strategi tersebut.

Momen menarik terjadi ketika Kepala SMA Muhammadiyah 2 Wuluhan, Alim Purnomosidi, S.Pd., turun langsung memperkuat tim guru. Kehadirannya di lapangan menjadi penyemangat bagi peserta sekaligus menunjukkan dukungan penuh terhadap program yang diinisiasi mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Jember.

"Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena tidak hanya memperkenalkan cabang olahraga yang mungkin masih asing bagi murid, tetapi juga membangun kebersamaan antara guru dan murid melalui pertandingan yang berlangsung penuh sportivitas. Saya sengaja ikut bermain bersama tim guru agar bisa merasakan langsung antusiasme kegiatan ini. Mudah-mudahan olahraga Petanque dapat terus dikembangkan sebagai salah satu aktivitas positif di sekolah," ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Kelompok KKN Universitas Muhammadiyah Jember menjelaskan bahwa sosialisasi Petanque merupakan bagian dari program kerja yang dirancang untuk menghadirkan inovasi kegiatan positif di lingkungan sekolah sekaligus memperkenalkan olahraga yang memiliki potensi berkembang di Indonesia.

"Petanque mengajarkan banyak nilai positif, seperti kesabaran, ketelitian, disiplin, konsentrasi, kerja sama, dan sportivitas. Kami berharap setelah kegiatan ini para siswa memperoleh pengalaman baru sekaligus termotivasi untuk mencoba berbagai cabang olahraga yang belum banyak dikenal," jelasnya.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia menutup kegiatan dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang pertandingan. Momen tersebut disambut meriah oleh seluruh peserta dan menjadi penutup yang semakin menghangatkan suasana kebersamaan.

Melalui program ini, mahasiswa KKN Tematik Reguler Sore/RPL Gelombang II Tahun 2026 Universitas Muhammadiyah Jember berharap olahraga Petanque semakin dikenal di kalangan pelajar. Lebih dari sekadar mengenalkan cabang olahraga baru, kegiatan ini menjadi wujud nyata pengabdian mahasiswa dalam mendorong budaya hidup sehat, mempererat hubungan antara guru dan siswa, serta menanamkan nilai-nilai sportivitas di lingkungan sekolah.

 

Sabtu, 18 Juli 2026

Mahasiswa Unmuh Jember Tekankan Pendidikan Antikorupsi dan Pencegahan NAPZA Harus Dimulai Sejak Bangku Sekolah

 

Pendidikan antikorupsi dan pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) perlu ditanamkan sejak usia sekolah sebagai upaya membentuk generasi yang berintegritas dan berkarakter. Hal tersebut menjadi kesimpulan dari kajian literatur yang disusun mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember dalam mata kuliah Pendidikan Antikorupsi dan Pencegahan NAPZA.

Melalui kajian terhadap 47 sumber ilmiah yang diterbitkan selama periode 2015–2024, mahasiswa menemukan bahwa perilaku koruptif dan penyalahgunaan NAPZA memiliki akar persoalan yang sama, yakni lemahnya integritas, rendahnya pengendalian diri, serta belum optimalnya pendidikan karakter di lingkungan pendidikan.

Penulis utama kajian, Ahmad Azril Maula, menjelaskan bahwa korupsi tidak selalu bermula dari penyalahgunaan uang negara atau jabatan. Kebiasaan yang sering dianggap sepele, seperti menyontek saat ujian, melakukan plagiarisme, memalsukan tanda tangan, hingga memanipulasi absensi, merupakan bentuk awal perilaku koruptif yang dapat berkembang menjadi tindakan yang lebih besar di kemudian hari.

"Pembentukan karakter harus dimulai sejak dini. Jika perilaku tidak jujur dibiarkan menjadi kebiasaan di sekolah, maka potensi munculnya praktik korupsi di masa depan akan semakin besar," ungkapnya.

Selain persoalan integritas, penyalahgunaan NAPZA juga menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), jutaan masyarakat Indonesia menjadi pengguna aktif NAPZA dan sebagian besar berada pada kelompok usia produktif, termasuk pelajar dan mahasiswa.

Kajian tersebut menyebutkan bahwa tekanan dari lingkungan pergaulan, minimnya pengawasan keluarga, rendahnya kontrol diri, serta kurangnya pemahaman mengenai bahaya narkoba menjadi faktor dominan yang mendorong penyalahgunaan NAPZA di kalangan generasi muda.

Mahasiswa menilai pendidikan antikorupsi dan pencegahan NAPZA seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan diintegrasikan melalui pendidikan karakter yang menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian, serta kemampuan mengambil keputusan yang benar.

Salah satu pendekatan yang direkomendasikan dalam kajian tersebut adalah model IMPACT, yang terdiri atas enam komponen utama, yakni Integrity (Integritas), Moral Competence (Kompetensi Moral), Partnership (Kemitraan), Accountability (Akuntabilitas), Care (Kepedulian), dan Transformation (Transformasi).

Model ini menekankan pentingnya sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mampu membangun karakter peserta didik sekaligus melindungi mereka dari pengaruh korupsi maupun penyalahgunaan NAPZA.

Selain itu, berbagai strategi dinilai efektif untuk diterapkan di lingkungan pendidikan, seperti pembelajaran berbasis nilai, pendidikan sebaya (peer education), penguatan organisasi siswa, hingga pemanfaatan teknologi digital sebagai media edukasi karakter.

Mahasiswa juga menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan antikorupsi dan pencegahan NAPZA tidak hanya ditentukan oleh materi pembelajaran di ruang kelas. Budaya sekolah yang sehat, keteladanan guru, keterlibatan orang tua, serta dukungan masyarakat menjadi faktor penting dalam membentuk generasi yang jujur, bertanggung jawab, dan memiliki daya tahan terhadap berbagai bentuk penyimpangan.

Melalui kajian ini, mahasiswa berharap sekolah dapat menjadi garda terdepan dalam membangun karakter bangsa. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan, pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang berintegritas, berdaya saing, serta bebas dari praktik korupsi dan penyalahgunaan NAPZA.

Kajian ini disusun oleh Ahmad Azril Maula, Muhammad Ridho, Yusa Salasa, Muhammad Rafi Hendardi, dan Kharisma Satya Wibowo di bawah bimbingan Rohimatush Shofiyah, S.Si., M.Si. sebagai bagian dari pembelajaran yang mengintegrasikan kajian ilmiah dengan isu-isu strategis pembangunan karakter generasi muda.

Connect