Rabu, 12 Agustus 2026

Webinar Ners XVI Fikes Unmuh Jember Soroti Pentingnya Asuhan Keperawatan Spiritual bagi Pasien Kritis


Pelayanan keperawatan pada pasien kritis tidak hanya berfokus pada kondisi fisik, tetapi juga perlu memperhatikan aspek mental, sosial, dan spiritual. Pendekatan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Webinar Ners XVI Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember yang diselenggarakan di Aula Darusy Syifa', RSD dr. Subandi, Kecamatan Patrang, pada (12/08).

Dalam kegiatan tersebut, Ns. Imam Sanusi, S.Kep., MM.Kes. mempresentasikan materi bertajuk “Implementasi Asuhan Keperawatan Spiritual pada Pasien Kritis”. Materi tersebut membahas pentingnya pendekatan keperawatan secara holistik dalam memberikan pelayanan kepada pasien, terutama mereka yang berada dalam kondisi kritis.

Ns. Imam menjelaskan bahwa praktik keperawatan profesional pada hakikatnya merupakan pelayanan yang menyeluruh atau holistik. Pelayanan tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, yakni fisik, mental, sosial, dan spiritual. Menurut materi yang disampaikan, pendekatan keperawatan holistik semakin dibutuhkan masyarakat dan dipandang sebagai salah satu kecenderungan pelayanan keperawatan di masa mendatang.

Aspek spiritual menjadi perhatian karena merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Dalam kondisi sakit, terutama ketika tubuh mengalami kelemahan dan pasien menghadapi kondisi yang berat, kebutuhan untuk memperoleh ketenangan dan bergantung kepada Tuhan dapat semakin kuat.

Pembahasan kemudian diarahkan pada kondisi kritis yang dapat terjadi secara tiba-tiba, tidak diharapkan, serta mengancam kehidupan pasien. Kondisi tersebut dapat berupa penyakit akut, trauma, maupun perburukan akut dari penyakit kronis. Situasi ini tidak hanya berdampak kepada pasien, tetapi juga dapat mengancam kesejahteraan keluarga dan memicu respons stres.

Pada pasien kritis, berbagai dampak psikologis dapat muncul, seperti stres akibat penyakit, kecemasan dan ketakutan terhadap ancaman kematian, perasaan terisolasi, depresi, serta perasaan rapuh akibat ketergantungan secara fisik dan emosional. Pasien juga dapat mengalami kegelisahan, kebingungan, delusi, ilusi, maupun halusinasi.

Perhatian terhadap kebutuhan spiritual menjadi semakin penting ketika pasien memasuki kondisi menjelang ajal atau sakaratul maut. Dalam pemaparannya, Ns. Imam menjelaskan sejumlah tanda yang dapat menyertai kondisi tersebut, antara lain penurunan kesadaran, perubahan tanda vital, keringat dingin, tidak adanya respons pada bola mata, gerakan tanpa sadar, serta melemahnya otot.

Menurut materi yang disampaikan, pendampingan terhadap pasien menjelang kematian merupakan bagian dari pendampingan dalam kehidupan. Karena itu, diperlukan langkah yang sistematis dan terstruktur dalam pemberian asuhan keperawatan spiritual, termasuk kolaborasi dengan tim bimbingan rohani rumah sakit.

Implementasi asuhan keperawatan spiritual dilakukan melalui tahapan pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, dan implementasi. Pada tahap pengkajian, perawat dapat mengidentifikasi status agama, tingkat keyakinan, ketakutan terhadap kematian, perasaan hampa dan putus asa, riwayat ibadah sebelum dan setelah sakit, serta harapan pasien terhadap Tuhan.

Khusus pada pasien kritis, pengkajian spiritual juga mencakup status kesadaran, status agama atau kepercayaan, tingkat keyakinan atau keimanan, kemampuan dan kemauan menjalankan ibadah, serta kesadaran terhadap makna hidup. Salah satu diagnosis yang dapat ditemukan dalam pengkajian tersebut adalah distres spiritual.

Selain memberikan asuhan keperawatan, perawat juga dapat berkolaborasi dengan tim bimbingan rohani rumah sakit. Kolaborasi tersebut dilakukan melalui koordinasi dan pengaturan kunjungan tim untuk memberikan bimbingan spiritual kepada pasien.

Bagi pasien yang berada dalam kondisi menjelang ajal, materi menekankan pentingnya memberikan perlakuan sebaik mungkin dan dukungan spiritual. Keluarga dapat dilibatkan untuk mendampingi pasien, sementara pasien diberikan nasihat untuk bersabar, mengingatkan tentang wasiat, memperbanyak istighfar, tidak berputus asa, serta senantiasa berharap terhadap rahmat Allah.

Melalui materi tersebut, Webinar Ners Angkatan XVI Fikes Unmuh Jember menegaskan pentingnya melihat pelayanan keperawatan secara utuh. Asuhan keperawatan spiritual menjadi salah satu pendekatan yang dapat melengkapi pelayanan kepada pasien kritis dengan memperhatikan kebutuhan manusia tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga mental, sosial, dan spiritual.

Webinar Ners Angkatan XVI Bahas Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Bina Rohani Pasien

 

Pelayanan kesehatan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisik pasien, tetapi juga mencakup aspek mental, sosial, dan spiritual. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Webinar Ners Angkatan XVI Fakultas Ilmu Kesehatan(Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember yang dilaksanakan pada (12/8) di Aula Darus Syifa’, RSD dr. Subandi Jember.

Dalam webinar tersebut, materi bertajuk “Kebijakan Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Bina Rohani” dipresentasikan oleh Ns. Mustakim, S.Kep., M.MKes., Sp.KMB. Materi menekankan pentingnya pendekatan pelayanan kesehatan yang holistik dengan memperhatikan kebutuhan spiritual pasien sebagai bagian dari proses perawatan.

Menurut materi yang disampaikan, kesehatan merupakan suatu kesatuan yang tidak hanya mencakup kondisi jasmani, tetapi juga mental, sosial, dan spiritual. Pelayanan spiritual diperlukan untuk membantu pasien dan keluarga menghadapi krisis akibat penyakit. Pendampingan kerohanian juga dinilai dapat membantu mengurangi kecemasan, memberikan ketenangan batin, serta mendukung proses pemulihan pasien.


Pembahasan juga menyoroti pemenuhan hak pasien dalam memperoleh pelayanan yang menghargai harkat, martabat, serta nilai dan keyakinan yang dianut. Rumah sakit memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi kebutuhan spiritual pasien tanpa membedakan latar belakangnya.

Dalam pelaksanaannya, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam pelayanan bina rohani. Perawat atau dokter dapat melakukan skrining dan pengkajian awal untuk mengidentifikasi kebutuhan spiritual pasien sejak proses admisi. Selanjutnya, tenaga kesehatan dapat membantu menghubungkan pasien dengan rohaniwan yang berwenang atau petugas bina rohani sesuai agama dan keyakinan pasien.

Pelayanan bina rohani juga perlu dilaksanakan melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan dan rohaniwan. Kolaborasi tersebut bertujuan mendukung ketenangan pasien dengan tetap menjaga batas antara pelayanan spiritual dan keputusan medis. Rohaniwan tidak diperkenankan memberikan arahan yang bertentangan dengan keterangan dokter maupun memengaruhi keputusan pasien dalam memberikan persetujuan tindakan medis atau informed consent.

Sasaran pelayanan bina rohani antara lain pasien yang akan menjalani tindakan medis yang menimbulkan ketakutan, seperti operasi besar dan kemoterapi, pasien dalam kondisi kritis di ruang ICU, pasien paliatif atau terminal, serta pasien dengan penyakit kronis yang membutuhkan dukungan mental.

Materi webinar juga menjelaskan alur standar pelayanan bina rohani di rumah sakit. Proses tersebut dimulai dari pengkajian kebutuhan spiritual dan pencatatan agama serta preferensi pasien, dilanjutkan dengan permintaan layanan oleh pasien atau keluarga, pelaksanaan bimbingan oleh petugas bina rohani atau rohaniwan yang ditunjuk, hingga dokumentasi pelayanan dalam catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT).

Dari sisi regulasi, pelayanan bina rohani berkaitan dengan pemenuhan hak pasien dan standar akreditasi rumah sakit. Materi menyebutkan Standar Hak Pasien dan Keluarga (HPK) 1.2, yang mengatur kewajiban rumah sakit untuk menanggapi permintaan pasien terkait keyakinan agama dan spiritual. Rumah sakit juga perlu menyediakan fasilitas ibadah atau bimbingan rohani yang memadai serta mendokumentasikan permintaan dan pelaksanaan pelayanan tersebut dalam rekam medis terintegrasi.

Landasan hukum yang dipaparkan antara lain Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, yang menegaskan hak pasien untuk menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaannya serta hak untuk menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama atau kepercayaannya. Selain itu, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menempatkan kesehatan dalam cakupan aspek fisik, jiwa, dan sosial serta mempertimbangkan nilai moral dan agama dalam penyelenggaraan kesehatan.

Aspek dokumentasi juga menjadi bagian penting dalam pelayanan bina rohani. Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis disebut sebagai salah satu dasar dalam penyelenggaraan dan pendokumentasian pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan bina rohani yang berkaitan dengan kebutuhan dan kondisi pasien sesuai kebijakan serta prosedur rumah sakit.

Selain aspek kebijakan dan regulasi, materi webinar turut mengangkat hasil penelitian mengenai spiritual care. Wang et al. (2024) menunjukkan pentingnya kompetensi perawat dalam aspek spiritual dan kemampuan mengintegrasikan kebutuhan spiritual pasien ke dalam pelayanan keperawatan. Sementara itu, tinjauan sistematis Dos Santos et al. (2022) menunjukkan bahwa perawat dapat berperan dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien melalui berbagai intervensi yang disesuaikan dengan kondisi dan keyakinan pasien.

Pembahasan tersebut diperkuat oleh kajian Mohd Asri et al. (2024) yang menjelaskan bahwa pengkajian kebutuhan spiritual dan pemberian spiritual care merupakan bagian penting dalam pelayanan keperawatan. Namun, penerapannya di ruang perawatan masih menghadapi tantangan, salah satunya keterbatasan kompetensi tenaga keperawatan dalam memberikan spiritual care secara optimal.

Melalui webinar ini, pemahaman mengenai pelayanan bina rohani diharapkan dapat memperkuat perspektif tenaga kesehatan, khususnya perawat, bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan bagian dari pelayanan yang menghargai manusia secara utuh. Pelayanan tersebut perlu diberikan secara profesional, berdasarkan kebutuhan dan keyakinan pasien, serta tetap mengedepankan etika dan keselamatan dalam proses pelayanan kesehatan.

Merawat Lebih dari Sekadar Fisik, Webinar Ners XVI Bahas Pentingnya Kebutuhan Spiritual Pasien

 

Pemenuhan kebutuhan spiritual pasien menjadi salah satu aspek penting dalam memberikan pelayanan keperawatan secara menyeluruh. Hal tersebut dibahas dalam Webinar Ners Angkatan XVI Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember yang dilaksanakan pada (12/8) di Aula Darus Syifa’, RSD dr. Subandi Jember.

Dalam webinar tersebut, mahasiswa Profesi Ners Angkatan XVI Fikes Unmuh Jember, Silviana Ziqro, S.Kep., mempresentasikan materi bertajuk “Implementasi Pemenuhan Spiritual di Ruang Rawat Inap”. Materi tersebut membahas pentingnya pemenuhan kebutuhan spiritual sebagai bagian dari pendekatan keperawatan holistik dan patient-centered care.

Materi menekankan bahwa model keperawatan merupakan kerangka konseptual yang menjadi pedoman dalam pemberian asuhan keperawatan, mulai dari pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi hingga evaluasi. Dalam pendekatan holistik, pasien dipandang sebagai individu secara utuh yang memiliki dimensi biologis, psikologis, sosial, budaya, dan spiritual.

Dalam pemenuhan kebutuhan spiritual, perawat memiliki peran penting melalui komunikasi terapeutik, empati, penghormatan terhadap keyakinan pasien, serta membantu memfasilitasi kebutuhan ibadah. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Theory of Human Caring yang menekankan pentingnya hubungan terapeutik, kasih sayang, dan kehadiran perawat secara utuh dalam mendampingi pasien.

Spiritualitas sendiri dipahami sebagai dimensi fundamental kehidupan yang berkaitan dengan makna dan tujuan hidup, nilai, harapan, hubungan dengan diri sendiri maupun orang lain, alam, serta Tuhan atau sesuatu yang bersifat transenden. Dalam konteks pasien rawat inap, kebutuhan spiritual dapat berupa kebutuhan akan makna dan tujuan hidup, harapan, kedamaian batin, hubungan yang baik, kesempatan beribadah, hingga dukungan dari rohaniwan sesuai keyakinan pasien.

Pemenuhan kebutuhan spiritual dinilai penting karena dapat membantu pasien memperoleh ketenangan, meningkatkan kemampuan koping, mengurangi stres, kecemasan, dan depresi, serta meningkatkan kualitas hidup. Selain itu, pemenuhan spiritual juga menjadi bagian dari patient-centered care dan asuhan keperawatan holistik yang mendukung proses pelayanan kepada pasien secara menyeluruh.

Materi tersebut juga mengidentifikasi sejumlah kelompok pasien yang memiliki kebutuhan spiritual tinggi, di antaranya pasien dengan penyakit kronis, pasien kritis, pasien paliatif, dan lanjut usia. Pada kelompok tersebut, dukungan spiritual dapat menjadi bagian penting dalam membantu pasien menghadapi kondisi penyakit dan proses perawatan yang dijalani.

Keberhasilan pemenuhan kebutuhan spiritual dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain kepuasan pasien terhadap pelayanan spiritual, kemampuan pasien menjalankan ibadah sesuai kondisi dan keyakinannya, serta peningkatan spiritual well-being. Kondisi tersebut ditandai dengan pasien merasa lebih tenang, ikhlas, memiliki harapan, dan tidak lagi diliputi rasa takut secara berlebihan.

Dalam pembahasannya, mahasiswa juga menyoroti bahwa penerapan spiritual care di ruang rawat inap masih belum terintegrasi secara konsisten. Pelayanan keperawatan masih cenderung berfokus pada aspek biologis, sementara intervensi spiritual umumnya terbatas pada doa bersama dan pendampingan rohani, terutama ketika pasien berada dalam kondisi terminal. Beban kerja perawat yang tinggi dan keterbatasan waktu menjadi salah satu hambatan dalam penerapan pelayanan spiritual secara optimal.

Karena itu, spiritual care perlu diintegrasikan secara lebih optimal ke dalam pelayanan keperawatan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penguatan kompetensi perawat, penyediaan pedoman dan fasilitas pendukung, serta optimalisasi peran perawat sebagai fasilitator kebutuhan spiritual pasien. Dengan demikian, pendekatan patient-centered care dapat diterapkan secara lebih holistik dengan memperhatikan kebutuhan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual pasien secara seimbang.

Pembahasan mengenai implementasi pemenuhan spiritual tersebut melengkapi materi “Kebijakan Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Bina Rohani” yang turut dipresentasikan dalam kegiatan. Materi tersebut menegaskan bahwa pelayanan spiritual merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan holistik pasien serta perlu dilaksanakan dengan menghormati harkat, martabat, dan keyakinan pasien.

Melalui Webinar Ners Angkatan XVI, pembahasan mengenai spiritual care diharapkan dapat memperkuat pemahaman calon perawat mengenai pentingnya memberikan asuhan yang tidak hanya berorientasi pada kondisi fisik pasien, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan keperawatan yang komprehensif, manusiawi, dan berpusat pada kebutuhan pasien.

Fikes Unmuh Jember Gelar Webinar Ners Angkatan XVI, Perkuat Kompetensi Keperawatan Holistik

 

Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember terus mendorong mahasiswa Profesi Ners untuk memiliki kemampuan memberikan pelayanan keperawatan secara holistik. Upaya tersebut diwujudkan melalui Webinar Ners Angkatan XVI yang dilaksanakan di Aula Darus Syifa’, RSD dr. Subandi Jember pada 12 Agustus 2026 .

Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa Profesi Ners Angkatan XVI untuk memperdalam wawasan dan pengalaman mengenai pelayanan keperawatan, khususnya pemenuhan kebutuhan spiritual pasien. Webinar menghadirkan sejumlah materi yang membahas spiritual care, pelayanan bina rohani, hingga implementasi asuhan keperawatan spiritual pada pasien kritis.

Ketua panitia, Mohammad Washli Manash, S.Kep., menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan uapaya meningkatkan pemahaman tentang pentingnya integrasi spiritual dalam mendukung pelayanan holistik.

"Webinar ini berupaya meningkatkan pengetahuan tentang integrasi spiritual dalam pelayanan kesehatan yang khususnya dalam mendukung pelayanan holistik dan berpusat pada kebutuhan pasien" jelasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Dekan Fikes Unmuh Jember, Ns. Sri Wahyuni, M.Kep., Sp.Kep.Kom., sebagai bentuk dukungan terhadap mahasiswa Profesi Ners dalam mengembangkan kompetensi profesionalnya. Kehadiran pimpinan fakultas sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kelembagaan antara Fikes Unmuh Jember dan RSD dr. Subandi Jember, khususnya dalam mendukung proses pendidikan dan praktik klinik mahasiswa.

Beliau menyebutkan Fikes Unmuh Jember akan berkolaborasi dan bermitra dengan RSD dr. Subandi dalam berbagai kegiatan akademik, termasuk kegiatan akreditasi.

"Tentunya, kami akan menjadikan RSD dr. Sbandi sebagai mitra kami yang akan kami libatkan dalam proses akreditasi" ujarnya.

Dukungan terhadap kolaborasi tersebut dinilai penting mengingat lingkungan rumah sakit menjadi salah satu ruang pembelajaran bagi mahasiswa Profesi Ners untuk mengembangkan kemampuan profesional sekaligus memahami kebutuhan pasien secara langsung. Sinergi antara institusi pendidikan dan rumah sakit diharapkan dapat terus diperkuat dalam mendukung pendidikan, pelayanan, dan pengembangan kompetensi tenaga kesehatan.

Salah satu materi yang dipresentasikan mahasiswa Profesi Ners Angkatan XVI adalah “Implementasi Pemenuhan Spiritual di Ruang Rawat Inap”. Materi ini menekankan bahwa pasien perlu dipandang sebagai individu secara utuh, tidak hanya dari aspek biologis, tetapi juga psikologis, sosial, budaya, dan spiritual.

Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan bagian dari pendekatan keperawatan holistik dan patient-centered care. Perawat memiliki peran dalam memberikan komunikasi terapeutik, empati, menghormati keyakinan pasien, serta memfasilitasi kebutuhan ibadah sesuai kondisi dan keyakinan pasien.

Kebutuhan spiritual pasien dapat mencakup kebutuhan akan makna dan tujuan hidup, harapan, kedamaian batin, hubungan yang baik, kesempatan menjalankan ibadah, serta dukungan rohaniwan. Pemenuhan kebutuhan tersebut diharapkan dapat membantu pasien memperoleh ketenangan, meningkatkan kemampuan koping, mengurangi stres dan kecemasan, serta mendukung kualitas hidup pasien.

Materi lainnya, “Kebijakan Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Bina Rohani”, dipresentasikan oleh Ns. Mustakim, S.Kep., M.MKes., Sp.KMB. Materi ini membahas pentingnya pelayanan kesehatan yang memperhatikan aspek fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Dalam pemaparannya, pelayanan bina rohani ditempatkan sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan holistik pasien. Tenaga kesehatan memiliki peran dalam melakukan skrining dan pengkajian awal kebutuhan spiritual pasien, kemudian memfasilitasi pasien untuk memperoleh pendampingan dari rohaniwan atau petugas bina rohani sesuai agama dan keyakinannya.

Pelayanan bina rohani juga membutuhkan kolaborasi antara tenaga kesehatan dan rohaniwan. Kolaborasi dilakukan untuk memberikan dukungan spiritual kepada pasien dengan tetap menjaga batas profesional serta tidak mengintervensi keputusan medis maupun informed consent pasien.

Materi berikutnya, “Implementasi Asuhan Keperawatan Spiritual pada Pasien Kritis”, disampaikan oleh Ns. Imam Sanusi, S.Kep., MM.Kes. Materi tersebut menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam memberikan pelayanan kepada pasien kritis.

Pasien kritis dapat mengalami berbagai persoalan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga psikologis dan spiritual. Kondisi seperti kecemasan, ketakutan terhadap kematian, perasaan terisolasi, depresi, hingga ketergantungan secara fisik dan emosional dapat muncul pada pasien yang berada dalam kondisi kritis.

Karena itu, kebutuhan spiritual perlu menjadi bagian dari pengkajian keperawatan. Perawat dapat mengidentifikasi status agama dan kepercayaan, tingkat keyakinan, kemampuan menjalankan ibadah, ketakutan terhadap kematian, hingga harapan pasien terhadap Tuhan. Dalam pelaksanaannya, perawat juga dapat berkolaborasi dengan tim bimbingan rohani rumah sakit untuk memberikan pendampingan sesuai kebutuhan pasien.

Sementara itu, Dr. Wahyudi Widada, S.Kp., M.Ked., dosen Fikes Unmuh Jember, menyampaikan materi “Evidence Based Spiritual Care dan Tantangan Implementasi pada Pelayanan Keperawatan Kritis.” Materi tersebut mengangkat pentingnya dukungan spiritual dalam mendampingi pasien dan keluarga yang menghadapi kondisi sulit.

Dr. Wahyudi menjelaskan bahwa perawat tidak hanya berperan dalam memberikan tindakan medis dan keperawatan, tetapi juga dapat memberikan pendampingan emosional dan spiritual. Dalam materi tersebut dibahas sejumlah pengalaman pasien dalam menghadapi penyakit serta berbagai bentuk doa dan pendampingan spiritual.

Materi juga mengangkat praktik spiritual care melalui doa, pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, serta penguatan kesabaran dan penerimaan terhadap kondisi sakit. Pendekatan tersebut ditempatkan sebagai bentuk pendampingan spiritual yang perlu dilakukan dengan memperhatikan konteks dan kompetensi pelayanan keperawatan.

Rangkaian materi dalam Webinar Ners Angkatan XVI menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memberikan pelayanan keperawatan secara menyeluruh. Pendekatan tersebut menempatkan pasien sebagai individu yang memiliki kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.

Melalui kegiatan ini, Fikes Unmuh Jember mendorong mahasiswa Profesi Ners untuk tidak hanya menguasai kompetensi klinis, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap kebutuhan pasien secara utuh. Pemahaman mengenai spiritual care diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam memberikan pelayanan yang profesional, manusiawi, dan berpusat pada pasien.

Di sisi lain, pelaksanaan webinar di RSD dr. Subandi Jember menjadi momentum untuk terus memperkuat sinergi antara Fikes Unmuh Jember dan rumah sakit dalam mendukung pendidikan profesi Ners. Kolaborasi yang berkelanjutan diharapkan dapat memberikan ruang pembelajaran yang semakin baik bagi mahasiswa sekaligus mendukung peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.

Selasa, 11 Agustus 2026

Akselerasi Ekonomi Digital Desa Tanah Wulan, KKN 13 Unmuh Jember Dorong UMKM Manfaatkan QRIS dan Google Maps

 

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13 Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember mendorong transformasi digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Tanah Wulan, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso. Melalui program digitalisasi usaha, mahasiswa membantu pelaku UMKM mengintegrasikan sistem pembayaran digital melalui QRIS serta meningkatkan visibilitas usaha melalui layanan Google Maps, Selasa (4/8/2026).

Program ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa dalam mendukung penguatan ekonomi masyarakat desa melalui pemanfaatan teknologi. Digitalisasi UMKM dinilai mampu membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas pelayanan, memperluas jangkauan pemasaran, serta beradaptasi dengan perubahan pola transaksi masyarakat yang semakin mengarah pada sistem non-tunai.

Dalam aspek transaksi keuangan, mahasiswa KKN 13 memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM dalam pembuatan dan penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran digital. Melalui sistem tersebut, pelanggan dapat melakukan pembayaran dengan lebih mudah menggunakan berbagai layanan keuangan digital, seperti dompet elektronik maupun mobile banking.

Selain memberikan kemudahan transaksi, penggunaan QRIS juga membantu pelaku usaha dalam mengurangi risiko kesalahan pencatatan transaksi serta meningkatkan keamanan pembayaran dibandingkan sistem tunai. Dengan adanya sistem pembayaran digital, pengelolaan usaha diharapkan menjadi lebih praktis dan tertata.

Tidak hanya pada aspek pembayaran, mahasiswa KKN 13 juga membantu pelaku UMKM mendaftarkan lokasi usaha melalui Google Maps. Pendampingan tersebut meliputi pembuatan profil usaha, pengisian informasi lokasi, kategori usaha, jam operasional, kontak, hingga dokumentasi foto. Melalui layanan tersebut, keberadaan UMKM Desa Tanah Wulan dapat lebih mudah ditemukan oleh masyarakat luas.

Salah satu warga Desa Tanah Wulan, Mamik (45), mengapresiasi program yang dilakukan mahasiswa KKN. Menurutnya, keberadaan teknologi digital dapat membantu perkembangan UMKM dan membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat desa.

"Menurut saya, dengan berjalannya usaha UMKM dan adanya program kerja pembuatan QRIS dan Google Maps sangat membantu," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN Kelompok 13 tidak hanya memberikan fasilitas digital, tetapi juga melakukan pendampingan secara langsung kepada masyarakat. Kegiatan diawali dengan identifikasi potensi UMKM, pemetaan kebutuhan usaha, hingga pemberian edukasi mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung keberlangsungan bisnis.

Melalui program ini, mahasiswa memberikan dukungan teknis mulai dari pemeriksaan administrasi, pembuatan akun digital, pencarian titik lokasi usaha, hingga pendampingan penggunaan layanan teknologi yang telah dibuat.

Transformasi digital UMKM Desa Tanah Wulan mendapat respons positif dari masyarakat. Dengan adanya kemudahan transaksi melalui QRIS dan informasi lokasi usaha melalui Google Maps, pelaku UMKM diharapkan mampu meningkatkan daya saing serta memperluas pasar.

Program tersebut juga sejalan dengan upaya mendukung pencapaian SDGs Desa poin 1 (Desa Tanpa Kemiskinan) melalui penguatan sektor ekonomi masyarakat. Mahasiswa KKN Kelompok 13 Unmuh Jember berharap digitalisasi UMKM dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang lebih mandiri dan produktif.

Fakultas Psikologi Unmuh Jember Bedah Model Keterhubungan Ekologis Generasi Z



Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) memperkuat komitmennya dalam merespons persoalan lingkungan melalui Workshop Diseminasi Hasil Penelitian Model Keterhubungan Ekologis pada Generasi Z di Indonesia, Selasa (11/8/2026).

Bertempat di Aula Ahmad Zainuri Universitas Muhammadiyah Jember, kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pakar teologi, serta praktisi lingkungan untuk mendiskusikan hasil penelitian mengenai kesadaran ekologis Generasi Z sekaligus membahas strategi mendorong kepedulian terhadap lingkungan agar dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.

Penelitian tersebut melibatkan tim peneliti lintas disiplin yang terdiri atas Dr. Heru Prakosa, Dr. Johanes Seno Aditya Utama, dan Dr. Nurlaela Widyarini dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember.

Dalam pemaparan hasil penelitian, tim peneliti mengungkap bahwa Generasi Z memiliki modal awal yang cukup kuat dalam membangun keterhubungan dengan lingkungan. Kepedulian terhadap alam dan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan telah tumbuh di kalangan generasi muda.

Namun, persoalan muncul ketika kesadaran tersebut harus diterjemahkan menjadi perilaku dan aksi ekologis dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua peneliti, Dr. Heru Prakosa, menjelaskan bahwa kepedulian ekologis Generasi Z tidak selalu secara otomatis menghasilkan tindakan nyata. Berbagai faktor eksternal, seperti keterbatasan fasilitas, minimnya dukungan sosial, serta belum tersedianya ruang komunitas yang memadai, dapat menjadi penghambat.


Karena itu, perubahan perilaku ekologis tidak cukup hanya dibangun melalui peningkatan pengetahuan. Diperlukan mediator sosial dan ruang praktik yang memungkinkan generasi muda menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi kebiasaan atau habitus dalam kehidupan sehari-hari.

Persoalan tersebut kemudian mendapatkan perspektif praktis dari Zahrotul Jannah, aktivis lingkungan yang hadir sebagai penanggap dalam kegiatan tersebut.

Ia membagikan pengalaman pendampingan gerakan lingkungan yang melibatkan anak muda melalui inisiatif “Besuk Sungai”. Dalam kegiatan tersebut, anak muda diajak melihat secara langsung kondisi sungai yang tercemar, melakukan brand audit terhadap sampah plastik yang ditemukan, hingga mengolah sampah menjadi eco-brick.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan langsung dapat menjadi sarana penting dalam membangun kepedulian lingkungan. Ketika anak muda diberikan ruang, kepercayaan, serta kesempatan untuk mengambil peran, mereka dapat berkembang menjadi penggerak kegiatan lingkungan di komunitasnya.

Diskusi kemudian berkembang pada pentingnya mengintegrasikan pendekatan ekologis dengan nilai budaya dan keagamaan.

Akademisi sejarah lingkungan, Gusti Ngurah Ary Kesuma Puja, mengangkat kembali nilai kearifan lokal Tri Hita Karana yang menekankan pentingnya keharmonisan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam.

Sementara itu, Prof. Fawaizul Umam menyoroti dimensi teologis dalam persoalan lingkungan. Menurut perspektif yang disampaikan dalam diskusi, krisis ekologis tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga dapat dipandang sebagai refleksi dari hubungan manusia dengan nilai-nilai ketuhanan. Karena itu, kepedulian terhadap bumi perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan sosial.


Workshop diseminasi hasil penelitian tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif akademik, pengalaman praktis, kearifan lokal, dan pendekatan teologis dalam melihat persoalan ekologis Generasi Z.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa membangun generasi yang peduli terhadap lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar penyampaian pengetahuan. Dukungan lingkungan sosial, ketersediaan fasilitas, komunitas, serta kesempatan untuk terlibat langsung menjadi bagian penting dalam proses perubahan perilaku.

Universitas Muhammadiyah Jember melalui kegiatan tersebut berupaya mendorong agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai pengetahuan akademik, tetapi dapat menjadi dasar pengembangan program dan kolaborasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Sinergi antara penelitian, praktik lapangan, nilai budaya, dan pendekatan keagamaan diharapkan mampu menciptakan ruang yang lebih luas bagi Generasi Z untuk terlibat dalam gerakan lingkungan.

Dengan demikian, generasi muda tidak hanya ditempatkan sebagai kelompok yang memiliki kepedulian terhadap krisis ekologis, tetapi juga sebagai aktor yang mampu mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan mendorong terwujudnya keadilan ekologis di Indonesia.

 

AKURAT : Mahasiswa KKN Unmuh Jember Ciptakan Aplikasi Pembukuan Tanpa Ribet

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menghadirkan inovasi digital berupa aplikasi pembukuan bernama “Akurat” untuk membantu peternak ayam dalam melakukan pencatatan hasil panen telur. Inovasi tersebut lahir dari hasil pengamatan mahasiswa terhadap sistem pembukuan peternak yang masih dilakukan secara manual.

Sebelum adanya aplikasi tersebut, pencatatan hasil panen telur dilakukan menggunakan buku tulis. Cara ini dinilai membutuhkan waktu lebih lama dan memiliki risiko terjadinya kesalahan dalam pencatatan maupun perhitungan data. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN untuk mencari solusi yang lebih praktis dan mudah digunakan oleh peternak.

Aplikasi Akurat dirancang sebagai alat bantu pencatatan saat proses panen telur. Melalui aplikasi tersebut, data hasil panen dapat dicatat secara lebih terstruktur sehingga peternak tidak perlu lagi sepenuhnya bergantung pada pencatatan menggunakan buku.

Developer aplikasi Akurat, Bhisrofil, mengatakan ide pengembangan aplikasi tersebut berawal dari survei lapangan yang dilakukan mahasiswa. Dari hasil pengamatan, ditemukan bahwa sistem pencatatan manual masih menjadi salah satu kendala yang dihadapi peternak.

“Aplikasi ini dibuat berdasarkan hasil survei lapangan. Kami melihat peternak masih melakukan pembukuan secara manual, sehingga kami mencoba membuat aplikasi yang bisa memudahkan proses pencatatan,” ujarnya.

Menurut Bhisrofil, proses pengembangan aplikasi tersebut dilakukan selama kurang lebih satu minggu. Dalam perancangannya, mahasiswa berupaya membuat sistem yang sederhana agar dapat digunakan oleh peternak dengan berbagai tingkat pemahaman terhadap teknologi.

Aplikasi tersebut, ucap Bhisrofil, sangat efektif karena hasil panen yang tercatat di aplikasi tesebut otomatis dikoneversi menjadi dokumen dengan format pdf yang memudahkan pengguna untuk melihat data panen tiap harinya. Juga kuantitas yang terdapat pada aplikasi Akurat ini dapat disesuaikan dengan jumlah kandang dan jumlah ayam yang ada.

"Akurat ini simpel karena hasil pembukuan langsung terkonversi jadi file pdf, dan bisa disesuaikan jumlah kandang dan ayamnya" lanjutnya.

Inovasi tersebut mendapat respons positif dari pemilik peternakan, Pak Sudahnan. Ia mengaku terbantu dengan kehadiran aplikasi Akurat, terutama karena aplikasi tersebut dapat membantu mengurangi kemungkinan kesalahan dalam pencatatan hasil panen.

Selain dinilai praktis, aplikasi tersebut juga dianggap mudah digunakan oleh pengguna yang belum terbiasa dengan teknologi digital. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengembangan aplikasi agar inovasi yang dihadirkan mahasiswa benar-benar dapat diterapkan dalam aktivitas peternakan sehari-hari.

Pak Sudahnan berharap aplikasi “Akurat” tidak berhenti pada fungsi pencatatan hasil panen telur, tetapi dapat terus dikembangkan dengan fitur tambahan.

“Saya sangat terbantu dengan adanya aplikasi ini. Selain bisa meminimalisir kesalahan dalam pencatatan, penggunaannya juga mudah, termasuk bagi yang kurang memahami teknologi. Harapannya, aplikasi ini bisa terus dikembangkan sehingga nantinya dapat membantu pencatatan keuangan juga,” ungkapnya.

Kehadiran aplikasi Akurat menjadi salah satu bentuk penerapan teknologi sederhana yang dikembangkan mahasiswa KKN-T Unmuh Jember berdasarkan kebutuhan masyarakat. Inovasi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi tidak selalu harus kompleks, tetapi dapat dimulai dari solusi praktis terhadap persoalan yang ditemui secara langsung di lapangan.

Melalui inovasi ini, mahasiswa KKN-T Unmuh Jember berharap aplikasi Akurat dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan sehingga mampu mendukung pengelolaan usaha peternakan yang lebih tertib, efisien, dan akurat.

Connect