Menggali Sisi Psikologis di Balik Angka: Prof. Dwi Cahyono Resmi Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Akuntansi Keperilakuan Unmuh Jember
Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) kembali mencatatkan sejarah akademik dengan mengukuhkan Prof. Dr. Dwi Cahyono, S.E., M.Si., Akt. sebagai Guru Besar dalam bidang Akuntansi Keperilakuan pada Rapat Terbuka Senat yang digelar Selasa (14/4/2026). Dalam momentum bersejarah tersebut, Prof. Dwi menyampaikan orasi ilmiah bertajuk "Pengantar Akuntansi Keperilakuan: Sebuah Eksplorasi Model Konseptual Bagi Pemula", yang secara tajam membedah bagaimana faktor manusia dan psikologi memengaruhi pelaporan serta pengambilan keputusan keuangan.
Selama ini, ilmu akuntansi kerap dipandang secara
tradisional sebagai disiplin ilmu yang kaku, eksak, dan hanya berkutat pada
deretan angka. Namun, Prof. Dwi menegaskan bahwa lahirnya Akuntansi
Keperilakuan (Behavioral Accounting) didasarkan pada satu kesadaran
fundamental: manusia tidak selalu rasional dalam membuat keputusan keuangan.
Bidang multidisiplin ini menggabungkan ilmu akuntansi, psikologi, dan ekonomi
perilaku untuk mengkaji secara mendalam pengaruh bias kognitif (cognitive
biases), emosi, dan dinamika sosial terhadap informasi keuangan.
Dalam orasinya, Prof. Dwi memaparkan temuan dari analisis
bibliometrik selama 53 tahun terhadap perkembangan riset behavioral
accounting secara global. Data menunjukkan lonjakan publikasi yang sangat
drastis pasca-krisis keuangan global tahun 2008, yang menyadarkan dunia bahwa
kegagalan sistem keuangan sering kali bermuara pada perilaku irasional dan
tidak etis pelakunya. Dari analisis tersebut, diketahui bahwa topik Mental
Accounting menjadi subjek yang paling dominan diteliti, sementara Amerika
Serikat memimpin dominasi riset global dengan lebih dari 52% total sitasi.
Lebih lanjut, Prof. Dwi membedah evolusi fokus penelitian
akuntansi keperilakuan dari masa ke masa. Jika pada era awal (1970–1990) riset
lebih banyak berfokus pada akuntansi manajemen, penganggaran, dan audit, maka
pada era transisi (1991–2018) trennya berevolusi ke arah etika dan pengambilan
keputusan (ethics & decision making). Menariknya, pada era terkini
(2019–2023), arah riset semakin meluas menyentuh isu-isu keberlanjutan (sustainability),
Environmental, Social, and Governance (ESG), suasana hati investor (investor
mood), hingga teori perilaku terencana (planned behavior).
"Behavioral accounting bukan sekadar angka ini tentang
memahami manusia di balik keputusan keuangan," tegas Prof. Dwi. Landasan
teori seperti Prospect Theory dan Social Identity Theory kini
menjadi fondasi utama untuk memahami fenomena keuangan modern.
Sebagai penutup, Prof. Dwi Cahyono memberikan peta jalan
bagi pengembangan riset masa depan, khususnya bagi para akademisi dan praktisi.
Ia menyoroti pentingnya integrasi Artificial Intelligence (AI) dan Big
Data dalam akuntansi keperilakuan, perlunya riset di konteks negara
berkembang yang masih minim, hingga urgensi pendekatan psikologis dalam
mendeteksi kecurangan (fraud detection) dan perlindungan whistleblower.
Implikasi praktisnya jelas: pengambil keputusan bisnis harus mulai memahami
bias kognitif mereka sendiri demi membangun praktik akuntansi yang transparan
dan etis.
Tags : Berita Event Penelitian Prestasi

Posting Komentar