Rabu, 15 April 2026

Menggali Sisi Psikologis di Balik Angka: Prof. Dwi Cahyono Resmi Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Akuntansi Keperilakuan Unmuh Jember


Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) kembali mencatatkan sejarah akademik dengan mengukuhkan Prof. Dr. Dwi Cahyono, S.E., M.Si., Akt. sebagai Guru Besar dalam bidang Akuntansi Keperilakuan pada Rapat Terbuka Senat yang digelar Selasa (14/4/2026). Dalam momentum bersejarah tersebut, Prof. Dwi menyampaikan orasi ilmiah bertajuk "Pengantar Akuntansi Keperilakuan: Sebuah Eksplorasi Model Konseptual Bagi Pemula", yang secara tajam membedah bagaimana faktor manusia dan psikologi memengaruhi pelaporan serta pengambilan keputusan keuangan.

Selama ini, ilmu akuntansi kerap dipandang secara tradisional sebagai disiplin ilmu yang kaku, eksak, dan hanya berkutat pada deretan angka. Namun, Prof. Dwi menegaskan bahwa lahirnya Akuntansi Keperilakuan (Behavioral Accounting) didasarkan pada satu kesadaran fundamental: manusia tidak selalu rasional dalam membuat keputusan keuangan. Bidang multidisiplin ini menggabungkan ilmu akuntansi, psikologi, dan ekonomi perilaku untuk mengkaji secara mendalam pengaruh bias kognitif (cognitive biases), emosi, dan dinamika sosial terhadap informasi keuangan.

Dalam orasinya, Prof. Dwi memaparkan temuan dari analisis bibliometrik selama 53 tahun terhadap perkembangan riset behavioral accounting secara global. Data menunjukkan lonjakan publikasi yang sangat drastis pasca-krisis keuangan global tahun 2008, yang menyadarkan dunia bahwa kegagalan sistem keuangan sering kali bermuara pada perilaku irasional dan tidak etis pelakunya. Dari analisis tersebut, diketahui bahwa topik Mental Accounting menjadi subjek yang paling dominan diteliti, sementara Amerika Serikat memimpin dominasi riset global dengan lebih dari 52% total sitasi.

Lebih lanjut, Prof. Dwi membedah evolusi fokus penelitian akuntansi keperilakuan dari masa ke masa. Jika pada era awal (1970–1990) riset lebih banyak berfokus pada akuntansi manajemen, penganggaran, dan audit, maka pada era transisi (1991–2018) trennya berevolusi ke arah etika dan pengambilan keputusan (ethics & decision making). Menariknya, pada era terkini (2019–2023), arah riset semakin meluas menyentuh isu-isu keberlanjutan (sustainability), Environmental, Social, and Governance (ESG), suasana hati investor (investor mood), hingga teori perilaku terencana (planned behavior).

"Behavioral accounting bukan sekadar angka ini tentang memahami manusia di balik keputusan keuangan," tegas Prof. Dwi. Landasan teori seperti Prospect Theory dan Social Identity Theory kini menjadi fondasi utama untuk memahami fenomena keuangan modern.

Sebagai penutup, Prof. Dwi Cahyono memberikan peta jalan bagi pengembangan riset masa depan, khususnya bagi para akademisi dan praktisi. Ia menyoroti pentingnya integrasi Artificial Intelligence (AI) dan Big Data dalam akuntansi keperilakuan, perlunya riset di konteks negara berkembang yang masih minim, hingga urgensi pendekatan psikologis dalam mendeteksi kecurangan (fraud detection) dan perlindungan whistleblower. Implikasi praktisnya jelas: pengambil keputusan bisnis harus mulai memahami bias kognitif mereka sendiri demi membangun praktik akuntansi yang transparan dan etis.

Tags :

bm
Created by: News Unmuh Jember

Humas Unmuh Jember Jaya Jaya Jaya!

Posting Komentar

Connect