Optimalkan Tumbuh Kembang Anak, Mahasiswa KKN RPL Unmuh Jember Edukasi Orang Tua tentang Positive Parenting dan Screentime
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Program Studi S1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), Arista Dewi, menggelar sosialisasi pengasuhan anak bertema “Sinergi Orang Tua dan Sekolah: Pendampingan Pengasuhan Positif (Positive Parenting) dan Pengelolaan Screentime Anak Usia Dini” di PAUD KB Dewi Masyitoh, Desa Selok Anyar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan KKN Mandiri ini menyasar para wali murid sebagai upaya meningkatkan pemahaman mengenai pola pengasuhan positif sekaligus penggunaan gawai yang bijak pada anak usia dini. Sosialisasi tersebut menjadi ruang edukasi bagi orang tua untuk menghadapi tantangan pengasuhan di era digital, ketika anak semakin akrab dengan perangkat elektronik dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pemaparannya, Arista menjelaskan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan tanpa pendampingan dapat mengurangi kesempatan anak untuk berinteraksi langsung, melakukan aktivitas fisik, dan mengeksplorasi lingkungan. Padahal, berbagai pengalaman tersebut penting untuk mendukung perkembangan bahasa, kemampuan sosial emosional, konsentrasi, dan keterampilan motorik anak.
Arista juga menekankan bahwa penggunaan gawai tidak harus dilarang sepenuhnya, tetapi perlu diatur sesuai usia dan kebutuhan perkembangan anak. Mengacu pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), anak usia 2–4 tahun dianjurkan menghabiskan waktu di depan layar tidak lebih dari satu jam sehari; semakin sedikit, semakin baik. Orang tua juga perlu memastikan konten yang diakses sesuai usia serta mendampingi anak selama penggunaan gawai.
Sebagai langkah konkret, kegiatan ini memperkenalkan konsep pengasuhan positif (positive parenting), yaitu pola pengasuhan yang mengedepankan komunikasi yang baik, kasih sayang, ketegasan, dan penghargaan terhadap kebutuhan emosional anak. Orang tua diajak memahami perasaan anak sebelum memberikan arahan, menetapkan batasan secara konsisten, serta menjadi teladan dalam menggunakan gawai di rumah.
Para wali murid juga mendapatkan sejumlah strategi praktis untuk mengelola waktu layar (screentime) tanpa memperbesar konflik dengan anak. Strategi tersebut meliputi penetapan jadwal penggunaan gawai, penerapan area bebas gawai seperti meja makan dan kamar tidur, penggunaan pengingat waktu, serta penyediaan kegiatan alternatif yang menarik dan edukatif, seperti membaca buku, bermain peran, menggambar, dan melakukan aktivitas fisik bersama keluarga.
Materi ini juga membahas cara menghadapi anak yang menangis atau mengalami tantrum ketika waktu penggunaan gawai berakhir. Dalam situasi tersebut, orang tua didorong untuk tetap tenang, membantu anak mengenali emosinya, dan menerapkan aturan secara konsisten tanpa bentakan maupun hukuman fisik.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari pengelola lembaga dan para wali murid KB Dewi Masyitoh. Salah satu perwakilan wali murid mengungkapkan bahwa materi yang disampaikan relevan dengan persoalan pengasuhan yang kerap dihadapi di rumah.
“Mater


Posting Komentar