Jumat, 11 September 2026

Siap Buka Fakultas Kedokteran, Unmuh Jember Gandeng RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso

Langkah besar diambil oleh Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember dalam mewujudkan berdirinya Fakultas Kedokteran. Pada Jumat (11/9/2026), Unmuh Jember resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau Perjanjian Kerja Sama dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Koesnadi Bondowoso.  

Penandatanganan kesepakatan tentang pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi Program Pendidikan dan Profesi Kedokteran ini dilangsungkan di Aula Puspa Indah RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso. Dokumen kerja sama tersebut ditandatangani langsung oleh Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, M.Pd., bersama dengan Direktur RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso, dr. Yus Priyatna Adryanto, Sp.P., FISR..  

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terwujudnya kolaborasi yang telah dipersiapkan secara matang ini. Ia menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan tonggak krusial dalam persiapan pembukaan Fakultas Kedokteran Unmuh Jember. Pihaknya berupaya bergerak cepat demi mengantisipasi adanya wacana moratorium pembukaan program studi kedokteran di akhir tahun.

"Kerja sama ini sangat kami butuhkan untuk saling bahu-membahu mewujudkan Fakultas Kedokteran yang unggul." ungkap Dr. Hanafi.

Menyambut komitmen tersebut, Direktur RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso, dr. Yus Priyatna Adryanto, Sp.P., FISR., menegaskan kesiapan institusinya untuk beralih status menjadi Rumah Sakit Pendidikan Utama bagi FK Unmuh Jember.


"Kami sudah memiliki fasilitas kelengkapan untuk semua stase pendidikan, termasuk forensik yang sudah ada di kami sendiri. Semoga proses penyusunan kurikulum lancar. Ke depannya, kami juga berharap kita sama-sama bergerak meningkatkan akreditasi, baik untuk fakultas maupun rumah sakit," ujar dr. Yus. 

Terkait detail ruang lingkup pembelajaran klinik yang disepakati, pihak rumah sakit akan memfasilitasi berbagai kebutuhan praktik peserta didik Unmuh Jember yang mencakup:  

  • Praktik Kedokteran dan Praktik Keperawatan, termasuk profesi Ners, keperawatan gawat darurat, kritis, hingga maternitas.  
  • Praktik Analisis Kesehatan di area Instalasi Laboratorium.  
  • Praktik Asuhan Kefarmasian pada Instalasi Farmasi dan Asuhan Gizi di Instalasi Gizi.  
  • Praktik Kesehatan Lingkungan, Perekaman Medis, serta Praktik Informasi dan Teknologi.  

Untuk menjamin mutu dan efektivitas pembelajaran klinik, Unmuh Jember dan RSUD dr. H. Koesnadi juga menyepakati pembatasan rasio pembimbingan. Dalam satu periode praktik, satu orang tenaga pembimbing klinis ditetapkan untuk membimbing maksimal lima orang peserta didik.

Sebagai institusi pendidikan yang mengedepankan etika dan kenyamanan belajar, Unmuh Jember mengapresiasi adanya komitmen "Anti Perundungan" yang dicantumkan secara khusus dalam perjanjian ini. Kesepakatan ini mewajibkan terciptanya lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan fisik maupun mental, lengkap dengan prosedur pelaporan yang aman, sanksi bagi pelaku, serta mekanisme dukungan bagi korban perundungan. Selain itu, jaminan perlindungan hukum juga diberikan kepada peserta didik selama masa pendidikan.  

Melalui sinergi berkelanjutan ini, Unmuh Jember optimistis dapat merealisasikan Fakultas Kedokteran yang unggul dan mencetak tenaga medis profesional untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat.

Kamis, 10 September 2026

Mahasiswa PBSI Unmuh Jember Raih Juara 1 Essay Writing 3rd ASEAN FUSION 2026


Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Faizatul Khoiriyah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, berhasil meraih Juara 1 Essay Writing dalam kompetisi 3rd ASEAN FUSION 2026 yang diselenggarakan oleh Ifugao State University (IFSU), Filipina.

Mengusung tema “Navigating Our Future, Together”, ASEAN FUSION 2026 menjadi ajang bagi mahasiswa se-ASEAN untuk menyampaikan gagasan kritis mengenai berbagai isu strategis, mulai dari diplomasi kawasan, keberlanjutan lingkungan, hingga integrasi teknologi. Selain Essay Writing, kompetisi ini juga menghadirkan cabang seni digital, pidato, dan tari budaya yang selaras dengan capaian Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.

Faizatul mengaku awalnya mengikuti kompetisi tersebut tanpa memasang target untuk menjadi juara. Dorongan dari Kaprodi menjadi langkah awal baginya untuk berani mencoba sekaligus menguji kemampuan dan keluar dari zona nyaman.

“Yang penting berani mencoba dan ambil pengalaman dulu,” ungkap Faizatul. Ia bahkan baru mengetahui dirinya meraih Juara 1 setelah mendapat kabar langsung dari Kaprodi.

Dalam kompetisi tersebut, Faizatul mengangkat isu tata kelola lingkungan dan krisis iklim di kawasan ASEAN melalui esai berjudul “Epistemological Pluralism and Epistemic Resilience: Reimagining ASEAN’s Sustainable Future Through Indigenous Knowledge Systems and Regional Governance”.

Melalui esainya, ia menekankan bahwa penyelesaian krisis lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi modern. Kearifan lokal masyarakat adat juga perlu dipandang sebagai sumber pengetahuan yang dapat melengkapi riset akademis dan teknologi dalam merumuskan kebijakan lingkungan.

Faizatul juga menawarkan gagasan AIKERP (ASEAN Indigenous Knowledge and Ecological Resilience Platform) sebagai platform regional yang menjembatani akademisi, generasi muda, dan masyarakat adat. Gagasan tersebut mendorong integrasi teknologi modern dengan pengetahuan lokal, seperti sistem Muyong di Filipina, Subak di Bali, dan Sasi di Maluku.

Menurutnya, keberlanjutan ASEAN tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga keterlibatan berbagai sistem pengetahuan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat.

Proses penyusunan esai dilakukan Faizatul secara mandiri, mulai dari riset literatur, merumuskan gagasan AIKERP, hingga menulis dalam bahasa Inggris. Tantangan tersebut semakin besar karena proses pengerjaan berlangsung bersamaan dengan kegiatan KKN MAs di Malang.

Di tengah padatnya aktivitas KKN, Faizatul memanfaatkan waktu luang untuk melakukan riset dan menyusun draf esai. Meski tidak mendapatkan bimbingan intensif, dukungan Kaprodi sejak awal menjadi motivasi baginya untuk mengikuti kompetisi tersebut.

Bagi Faizatul, pencapaian tersebut bukan sekadar memperoleh E-Certificate of Recognition tingkat internasional. Pengalaman mengatur waktu, merumuskan gagasan pada tingkat regional, serta menaklukkan keraguan terhadap kemampuan diri menjadi pelajaran penting yang ia dapatkan dari kompetisi tersebut.

Faizatul pun mengajak mahasiswa Unmuh Jember untuk tidak ragu mengambil kesempatan yang ada.

“Jangan pernah minder atau ragu dengan potensi diri sendiri. Sering kali musuh terbesar kita bukanlah persaingan yang ketat, melainkan rasa ragu sebelum mencoba.”

Menurutnya, kesibukan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Pengalaman menyelesaikan esai di tengah KKN MAs membuktikan bahwa dengan niat, kemampuan mengatur waktu, doa orang tua, dan arahan dosen, mahasiswa tetap dapat menghasilkan karya terbaik.

Mahasiswa Psikologi Unmuh Jember Raih Juara 3 Essay Internasional ASEAN FUSION 2026


Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember. Lydia Febiyanti, mahasiswa Program Studi Psikologi Unmuh Jember, berhasil meraih Juara 3 Essay Writing dalam rangkaian kegiatan internasional 3rd ASEAN FUSION 2026 yang diselenggarakan oleh Ifugao State University (IFSU), Filipina.

ASEAN FUSION merupakan salah satu rangkaian kegiatan pertukaran budaya yang dikemas dalam bentuk kompetisi dengan berbagai cabang lomba, salah satunya Essay Writing. Selain mengikuti kompetisi tersebut, Lydia juga berpartisipasi dalam program ASEAN Language and Culture Exchange (LACE).

Melalui program tersebut, peserta dari berbagai negara ASEAN melakukan pertukaran budaya melalui presentasi dan interaksi antarpeserta. Kegiatan ini juga ditutup dengan Expo Showcase sebagai wadah untuk memperkenalkan potensi budaya dari masing-masing negara ASEAN.

Lydia mengaku ketertarikannya terhadap budaya menjadi alasan utama dirinya mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Baginya, kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah untuk menyalurkan minat terhadap budaya melalui kompetisi, tetapi juga membuka kesempatan membangun relasi sosial dalam lingkup internasional.

“Hal yang membuat saya tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut adalah karena saya memiliki ketertarikan yang cukup tinggi jika berbicara terkait budaya. Program ini dapat menjadi wadah untuk menyalurkan ketertarikan saya, baik dalam bentuk kompetisi maupun membangun relasi sosial, terlebih lagi dalam lingkup internasional,” ujarnya.

Dalam kompetisi Essay Writing, Lydia mengangkat gagasan mengenai peran budaya dalam memengaruhi masa depan ASEAN, khususnya dalam membangun relasi dan kolaborasi untuk menjaga serta memperkuat keutuhan kawasan.

Ia menjadikan salah satu ritual adat Banyuwangi, Seblang Olehsari, sebagai pondasi dalam penyusunan esainya. Menurut Lydia, kolaborasi di era saat ini tidak seharusnya hanya terpaku pada perkembangan teknologi.

Adat, tradisi, dan budaya yang telah hidup sejak dahulu, menurutnya, juga memiliki potensi besar dalam membangun kolaborasi antarnegara ASEAN.

“This is why resilience should mean more than economic strength, technological advancement, or institutional capacity. A resilient ASEAN also needs communities with a strong sense of identity, young people who understand their roots, and cultures capable of adapting without disappearing,” tulis Lydia dalam esainya.

Melalui gagasan tersebut, ia menekankan bahwa ketahanan ASEAN tidak hanya berkaitan dengan kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi, maupun kapasitas kelembagaan, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang memiliki identitas kuat, generasi muda yang memahami akar budayanya, serta budaya yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Bagi Lydia, karya tulis tersebut juga menjadi salah satu bentuk kebanggaannya sebagai bagian dari masyarakat Banyuwangi.

Lydia menyampaikan bahwa tidak ada bimbingan khusus dalam proses penyusunan esainya. Pengalaman mengikuti berbagai kompetisi essay dan karya tulis ilmiah sejak SMA menjadi bekal yang dimanfaatkannya dalam menyusun karya tersebut.

Meski demikian, ia mengapresiasi dukungan dari Kantor Urusan Internasional (KUI) Unmuh Jember yang telah mengenalkannya pada rangkaian kegiatan ASEAN FUSION dan LACE.

Bagi Lydia, pencapaian sebagai juara bukanlah satu-satunya hal berharga yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Ia juga mendapatkan pengalaman serta kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada peserta dari berbagai negara.

“Hal yang saya dapatkan selain juara dalam kompetisi ini adalah pengalaman yang berharga dan kesempatan yang luar biasa untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada mancanegara,” ungkapnya.

Lydia pun berpesan kepada mahasiswa Unmuh Jember agar tidak takut memulai dan mencoba berbagai kesempatan.

“Don’t be afraid to start something. Awal mula dari seorang juara adalah mereka yang berani mencoba.” pesannya.

BEM Unmuh Jember Bersama BEM PTMA Kawal Aspirasi BEM PTMAI Zona V ke DPRD Jawa Timur


Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (BEM PTMAI) Zona V Jawa Timur–Bali menyampaikan aspirasi dan kritik kepada DPRD Provinsi Jawa Timur, Senin (7/9/2026).

Aksi yang berlangsung di Gedung DPRD Provinsi Jawa Timur tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa mendorong pemerintah dan DPRD agar lebih responsif terhadap berbagai persoalan masyarakat. BEM PTMAI Zona V membawa sejumlah isu utama, meliputi demokrasi dan ruang sipil, keadilan ekonomi dan agraria, transparansi pembangunan dan anggaran, serta pelayanan publik dan penanganan bencana.

Dalam manifesto perjuangannya, BEM PTMAI Zona V menyampaikan 16 tuntutan. Di antaranya adalah jaminan kebebasan menyampaikan pendapat, kebijakan ekonomi dan agraria yang berkeadilan, transparansi pengelolaan APBD, penguatan pengawasan pembangunan, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta penguatan sistem penanganan bencana di Jawa Timur.

Keterlibatan BEM Unmuh Jember dalam aksi tersebut menjadi bagian dari komitmen mahasiswa untuk mengawal aspirasi masyarakat dan mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih adil, transparan, dan berpihak pada kepentingan rakyat.

BEM PTMAI Zona V menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa tidak berhenti pada penyampaian aspirasi, tetapi akan dilanjutkan dengan mengawal tindak lanjut pemerintah dan DPRD Jawa Timur terhadap tuntutan yang telah disampaikan.

Semangat tersebut ditegaskan dalam manifesto: mahasiswa hadir sebagai bagian dari masyarakat yang turut menjaga ruang hidup dan memperjuangkan keadilan sosial.

Harga BBM Eceran Naik Drastis Saat Langka, Pakar Ekonomi Islam Unmuh Jember : Jangan Manfaatkan Kesulitan Untuk Keuntungan


Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Jember dalam beberapa waktu terakhir berdampak pada aktivitas masyarakat. Selain menghambat mobilitas, kondisi tersebut juga membuat sebagian penjual BBM eceran menaikkan harga di tengah tingginya kebutuhan masyarakat.

Fenomena ini turut menjadi perhatian dari perspektif ekonomi Islam. Kaprodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Miftahul Hasanah, S.E.I., M.E.I., mengatakan bahwa perdagangan dan pengambilan keuntungan pada dasarnya diperbolehkan dalam Islam. Namun, terdapat batasan yang harus diperhatikan agar keuntungan tidak diperoleh dengan merugikan pihak lain.

"Kalau kita melihat dalam perspektif Islam, sebenarnya berdagang dan mencari keuntungan dalam berdagang diperbolehkan. Namun, ada batasan-batasan yang harus kita pahami sebagai seorang Muslim. Kita harus mengutamakan cara yang halal dan tidak merugikan orang lain," ujarnya.

Menurutnya, BBM merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat karena berkaitan langsung dengan mobilitas dan aktivitas ekonomi, termasuk masyarakat yang menggunakannya untuk mencari nafkah. Karena itu, kondisi kelangkaan BBM seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, bukan justru dimanfaatkan untuk memperbesar kesulitan masyarakat.

Ia menjelaskan, Islam tidak menetapkan batas persentase keuntungan secara kaku, misalnya lima atau sepuluh persen. Kenaikan harga dalam perdagangan dapat dibenarkan selama dilakukan secara wajar, tidak menzalimi, serta terdapat kerelaan antara penjual dan pembeli.

"Yang menjadi prinsip adalah tidak mencederai, tidak menzalimi, dan ada ‘an tarāḍin minkum atau saling ridha," jelasnya.

Namun, menurutnya, persoalan berbeda ketika pelaku usaha sengaja memanfaatkan kondisi darurat dan kelangkaan untuk memperoleh keuntungan berlebihan. Terlebih apabila dilakukan dengan menimbun barang agar kelangkaan semakin parah dan harga dapat dinaikkan.

Dalam ekonomi Islam, praktik penimbunan tersebut dikenal sebagai ikhtikar. Miftahul menegaskan bahwa ikhtikar merupakan tindakan yang dilarang karena dapat menyulitkan masyarakat yang membutuhkan barang tersebut.

"Islam tidak membenarkan kita mengambil keuntungan atas kesulitan orang lain. Kita harus mengutamakan prinsip al-'adl, yaitu keadilan, dan aktivitas ekonomi harus memberikan manfaat, bukan justru memperbesar kesulitan yang terjadi di masyarakat," katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memperburuk kondisi dengan melakukan panic buying atau membeli BBM secara berlebihan. Penyebaran informasi yang memicu kepanikan juga dapat mendorong masyarakat melakukan pembelian impulsif sehingga kelangkaan semakin sulit dikendalikan.

Menurutnya, kondisi seperti ini menjadi ujian terhadap integritas seorang Muslim. Baik konsumen maupun penjual perlu mengedepankan nilai kejujuran (siddiq), amanah, keadilan, dan ihsan dalam aktivitas ekonomi.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa keuntungan besar tidak selalu berarti keuntungan yang baik. Dalam Islam, keberkahan menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan dalam memperoleh harta.

"Keuntungan yang besar itu belum tentu nilainya ada keberkahan di hadapan Allah. Kita tidak boleh hanya terpaku pada besarnya nominal keuntungan, tetapi bagaimana proses kita memperoleh keuntungan itu," tuturnya.

Terakhir, beliau menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan prinsip mencari keuntungan dengan segala cara. Keuntungan yang ideal adalah keuntungan yang diperoleh secara halal, jujur, adil, dan tetap memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

"Islam tidak mengajarkan profit at all cost. Islam mengajarkan keuntungan yang halal, adil, dan juga maslahah," pungkasnya.

Mahasiswa Bangladesh Pilih Unmuh Jember, Tertarik Kualitas Pendidikan dan Lingkungan Islami


Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember kembali memperkuat daya tariknya sebagai salah satu perguruan tinggi pilihan mahasiswa internasional. Tiga mahasiswa asal Bangladesh memilih melanjutkan pendidikan di Unmuh Jember karena mempertimbangkan kualitas pendidikan, biaya hidup yang terjangkau, serta lingkungan masyarakat yang ramah dan memiliki kedekatan budaya Islam.

Salah satu mahasiswa asal Bangladesh, Tamjid, mahasiswa Program Studi Akuntansi, mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi pilihannya setelah mempertimbangkan sejumlah negara lain, seperti Pakistan, Jepang, dan China.

Menurutnya, Indonesia memiliki lingkungan yang nyaman bagi mahasiswa Bangladesh. Kesamaan sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim menjadi salah satu faktor yang membuatnya lebih mudah merasa dekat dengan kehidupan sosial dan budaya di Indonesia.

“Saya memilih Indonesia dan Unmuh Jember karena kualitas pendidikannya yang baik, biaya hidup yang terjangkau, dan budaya yang ramah,” ujarnya saat wawancara pada (4/9).

Sebelum memutuskan untuk datang ke Indonesia, Tamjid memperoleh informasi mengenai kehidupan dan pendidikan di Indonesia dari sejumlah temannya yang lebih dahulu menempuh pendidikan di Jember.

Hal serupa dialami Faizan, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro. Lulusan salah satu madrasah Islam di Chattogram, Bangladesh, tersebut memang telah memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Faizan bahkan sempat mendapatkan penerimaan dari sejumlah perguruan tinggi di negara lain. Namun, program yang ditawarkan dinilai belum sesuai dengan ambisi dan cita-citanya. Kesempatan kemudian datang ketika ia memperoleh informasi mengenai beasiswa mahasiswa asing yang ditawarkan Unmuh Jember.

“Saya mendapatkan informasi tentang beasiswa mahasiswa asing Unmuh Jember dari Dhaka Scholars Forum. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari postingan akun resmi Instagram Unmuh Jember,” ungkapnya.

Setelah memperoleh informasi tersebut, Faizan tidak langsung mengambil keputusan. Ia terlebih dahulu mencari informasi lebih jauh mengenai Unmuh Jember, khususnya Program Studi Teknik Elektro, melalui website, YouTube, serta berbagai media sosial.

Informasi mengenai Unmuh Jember juga tidak terlepas dari jejaring kerja sama pendidikan yang telah terbangun. Dhaka Scholars Forum sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan salah satu perguruan tinggi di Jember, yaitu Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) dan turut memfasilitasi penerimaan mahasiswa asal Bangladesh di kampus tersebut. Dari jejaring tersebut, staf UIN KHAS kemudian turut memberikan informasi mengenai kesempatan studi di Unmuh Jember.

Tahun ini, Dhaka Scholars Forum kembali memfasilitasi mahasiswa asal Bangladesh untuk melanjutkan pendidikan di Unmuh Jember.

Memulai kehidupan di negara baru tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Para mahasiswa Bangladesh tersebut mengaku masih berada dalam proses beradaptasi dengan bahasa, makanan, budaya, serta kebiasaan masyarakat Indonesia yang memiliki sejumlah perbedaan dengan Bangladesh.

Tamjid mengakui bahwa proses adaptasi tersebut terkadang terasa cukup berat. Namun, keramahan masyarakat dan dukungan dari lingkungan kampus membuatnya optimis dapat segera menyesuaikan diri.

“Saya masih dalam tahap adaptasi dengan budaya, bahasa, dan makanan di Indonesia karena sangat berbeda dengan Bangladesh. Kadang-kadang terasa berat, namun insyaAllah saya akan segera bisa beradaptasi,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada staf Lembaga Kerja Sama dan Urusan Internasional (LKUI) Unmuh Jember, yang menurutnya banyak membantu proses adaptasi mahasiswa internasional.

Kehadiran mahasiswa asal Bangladesh tidak hanya menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa yang bersangkutan, tetapi juga membuka peluang terbentuknya jejaring akademik dan sosial antara Indonesia dan Bangladesh.

Abdullah, mahasiswa Program Studi Manajemen, mengatakan dirinya tidak ragu untuk merekomendasikan Unmuh Jember kepada teman maupun keluarganya di Bangladesh.

Menurutnya, keramahan lingkungan kampus, kesamaan budaya Muslim, serta peluang membangun koneksi lintas negara menjadi alasan kuat untuk merekomendasikan Unmuh Jember.

“Saya pasti akan merekomendasikan berkuliah di Unmuh Jember kepada rekan dan keluarga lainnya. Alasannya adalah lingkungan yang sangat ramah dan menyambut kami dengan baik, budaya Muslim yang mirip dengan Bangladesh, dan sebagai kesempatan untuk membangun koneksi lintas negara,” jelas Abdullah.

Menurutnya, meskipun berasal dari kawasan Asia Selatan, terdapat sejumlah kesamaan budaya yang membuat mahasiswa Bangladesh lebih mudah berinteraksi dan beradaptasi dengan masyarakat Indonesia.

Menariknya, pengalaman selama berada di Indonesia mulai mengubah rencana pendidikan Tamjid. Semula, ia memiliki rencana menyelesaikan pendidikan sarjana di Indonesia, kemudian melanjutkan S2 di Australia dan S3 di Amerika Serikat atau Jerman.

Namun, setelah merasakan langsung suasana akademik dan kehidupan di Indonesia, ia mulai mempertimbangkan untuk melanjutkan pendidikan magister di Indonesia, khususnya di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah.

Bahkan, ia memiliki cita-cita untuk menjadi dosen dan berkontribusi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Sementara itu, Abdullah masih memiliki target untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di Eropa, Amerika Serikat, atau Australia. Ia ingin memperluas pengalaman akademik, melakukan berbagai penelitian, dan kelak menjadi dosen di salah satu universitas di Eropa.

Meski demikian, Indonesia tetap menjadi pilihan yang terbuka baginya.

“Jika ada kesempatan, saya akan mencoba mewujudkan cita-cita saya di negara tersebut. Namun jika tidak, dengan senang hati saya akan meneruskan S2 di sini. InsyaAllah,” ungkapnya.

Kehadiran mahasiswa Bangladesh tersebut menunjukkan bahwa internasionalisasi Unmuh Jember tidak hanya berlangsung melalui kerja sama kelembagaan, tetapi juga melalui pengalaman langsung mahasiswa lintas negara.

Keramahan lingkungan kampus, kedekatan budaya, serta akses pendidikan yang kompetitif menjadi bagian dari pengalaman yang membuat Unmuh Jember semakin dikenal di kalangan calon mahasiswa internasional.

Rabu, 09 September 2026

Mahasiswa KKN Kolaborasi UNMUH Jember dan UAD Sukses Dampingi Anak TPQ Raih Prestasi di Festival Anak Sholih

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember bersama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta turut berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang berprestasi dan berakhlak Islami melalui kegiatan Festival Anak Sholih yang digelar di Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, Ahad (6/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja kolaboratif mahasiswa KKN UAD dan Unmuh Jember yang melibatkan peserta didik dari berbagai Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) di Desa Sumberasri. Para peserta merupakan perwakilan dari TPQ yang menjadi lokasi pelaksanaan program kerja mahasiswa KKN Kolaborasi.

Festival Anak Sholih menghadirkan sejumlah cabang perlombaan keagamaan, meliputi kaligrafi, Pildacil (Pidato Anak Sholeh), adzan, dan hafalan Juz ‘Amma. Perlombaan tersebut menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan, kreativitas, keberanian tampil di depan umum, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai keislaman.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN Kolaborasi UAD dan Unmuh Jember terlibat aktif sejak tahap persiapan hingga kegiatan berakhir. Mahasiswa berperan sebagai panitia sekaligus juri yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan lomba, proses penilaian, hingga pengumuman pemenang. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Desa Sumberasri, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumberasri, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Sumberasri, serta sejumlah Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari UAD.

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Sumberasri. Menurutnya, Festival Anak Sholih menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan bakat dan potensi yang dimiliki sekaligus melatih kepercayaan diri melalui pengalaman tampil di hadapan banyak orang.

“Kami sangat mengapresiasi adanya kegiatan Festival Anak Sholeh yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Kolaborasi antara UAD Yogyakarta dan Unmuh Jember. Kegiatan ini akan menjadi wadah bagi anak-anak di Desa Sumberasri untuk menunjukkan bakat dan potensi yang selama ini mungkin belum terlihat,” ungkapnya.

Salah satu capaian membanggakan datang dari mahasiswa KKN Kolaborasi Unmuh Jember dan UAD Unit I.D.1 Sumberasri. Melalui pendampingan dan pembinaan yang dilakukan selama pelaksanaan program KKN, mahasiswa berhasil mengantarkan peserta didik dari TPQ Miftahul Jannah Sumberasri meraih prestasi pada seluruh cabang perlombaan yang diikuti.

Adapun prestasi yang berhasil diraih meliputi Juara 1 Kaligrafi, Juara 3 Pildacil, Juara 2 Adzan, dan Juara 1 Hafalan Juz ‘Amma. Capaian tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan pendampingan mahasiswa KKN dalam membina dan mengembangkan potensi anak-anak TPQ di Desa Sumberasri.

Keberhasilan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para peserta didik, tetapi juga bagi mahasiswa KKN, ustadz dan ustadzah TPQ, serta masyarakat Desa Sumberasri. Prestasi yang diraih menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun rasa percaya diri.

Melalui kegiatan Festival Anak Sholih, mahasiswa KKN Kolaborasi Unmuh Jember dan UAD berharap kegiatan pembinaan serupa dapat terus memberikan pengalaman positif bagi anak-anak serta mendorong mereka untuk semakin giat belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang keagamaan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa Unmuh Jember dalam mengimplementasikan ilmu dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung terbentuknya generasi muda yang religius, berprestasi, percaya diri, dan berakhlak mulia.

Senin, 07 September 2026

Mahasiswa Baru Unmuh Jember Diajak Belajar Berdemokrasi Lewat Simulasi Demo

Pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru tak selalu harus berlangsung di dalam ruangan dengan rangkaian materi dan presentasi. Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) menghadirkan pendekatan berbeda dalam kegiatan Seminaria Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKPIMB) 2026 yang digelar selama tiga hari, Senin-Rabu (7-9/9/2026).

Setelah mendapatkan pembekalan mengenai Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dan sistem kehidupan akademik di kampus, mahasiswa baru diajak mengenal berbagai isu strategis yang tengah menjadi perhatian publik. Tidak berhenti pada diskusi, mereka kemudian diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi melalui simulasi demonstrasi.

Dengan mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol solidaritas, mahasiswa baru dibagi dalam kelompok untuk menyuarakan pandangan mereka. Mereka membawa berbagai atribut aksi yang dipersiapkan secara mandiri, mulai dari poster-poster bernada kritis hingga spanduk panjang bertuliskan "ALIANSI MAHASISWA UNMUH JEMBER" yang dibentangkan di tengah lapangan.

Suasana semakin menarik ketika mereka melakukan simulasi demonstrasi tersebut di bawah terik matahari, dipimpin oleh orator berjas almamater merah tua dengan menggunakan megafon. Mereka berorasi dan menyampaikan tuntutan secara langsung di hadapan pihak “pemerintah” yang diperankan oleh panitia melalui roleplay.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam rangkaian PKKPIMB Unmuh Jember. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai bagaimana menyampaikan pendapat, tetapi juga memahami bahwa demonstrasi merupakan salah satu bentuk penyampaian aspirasi yang harus dilakukan secara tertib, kritis, dan bertanggung jawab.


Ketua Panitia PKKPIMB Unmuh Jember, Putra Kurniawan, S.Hub.Int., M.A., mengatakan bahwa konsep simulasi demonstrasi tersebut lahir dari evaluasi terhadap pelaksanaan PKKPIMB pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, kegiatan pengenalan mahasiswa baru selama ini cenderung didominasi aktivitas di dalam ruangan dan penyampaian materi melalui presentasi. Karena itu, panitia mencoba menghadirkan metode yang lebih partisipatif dan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa baru.

“Simulasi demo ini berangkat dari kejenuhan kegiatan PKKPIMB tahun-tahun sebelumnya yang terlalu banyak kegiatan indoor dan presentasi. Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada mahasiswa baru,” jelas Putra.

Melalui simulasi tersebut, mahasiswa baru diperkenalkan pada proses menyampaikan aspirasi dengan cara yang benar. Mereka belajar berkelompok di dalam ruangan untuk menyusun tuntutan dan melukis media aksi secara kreatif, sebelum akhirnya turun ke ruang publik untuk berorasi, sekaligus memahami batas-batas agar aksi tidak berkembang menjadi tindakan anarkis.

“Tujuannya juga untuk memberi tahu mahasiswa baru bagaimana melakukan demo yang baik dan benar, tidak anarkis, serta tetap menyampaikan aspirasi secara kritis dan bertanggung jawab,” lanjutnya.

Lebih jauh, Putra menyebut simulasi tersebut menjadi bagian dari upaya panitia membangun karakter mahasiswa baru sebagai agent of change. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memahami kehidupan akademik di kampus, tetapi juga didorong agar memiliki kepekaan terhadap persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kami ingin build mahasiswa baru sebagai agent of change yang peka terhadap isu dan mampu menentukan sikap terhadap isu tersebut. Salah satu bentuknya adalah bagaimana mereka bisa menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi dengan cara yang baik,” ungkap Putra.

Dalam prosesnya, mahasiswa diberikan isu-isu strategis yang sedang menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. Mereka kemudian berdiskusi, menentukan sikap, merumuskan tuntutan, serta menerjemahkannya dalam bentuk tulisan-tulisan tajam di atas karton kuning dan kain putih.

Pendekatan tersebut membuat mahasiswa baru tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi turut menjadi aktor yang mengolah informasi dan mengambil posisi terhadap persoalan yang sedang dibahas.

Salah satu isu yang menjadi materi dalam simulasi adalah persoalan penanganan bencana. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan terkait keselamatan masyarakat, respons pemerintah, distribusi bantuan, keterbukaan informasi, kesiapsiagaan, hingga mekanisme pemulihan masyarakat terdampak. Dari isu ini, mereka menuntut pemerintah untuk membuka data anggaran penanganan bencana serta menghentikan pencitraan.

Selain itu, isu ketidakadilan sosial dan hak asasi manusia juga disuarakan dengan lantang. Terlihat dari atribut aksi yang mereka buat, mahasiswa mengangkat isu konflik agraria dengan tulisan tegas, "HENTIKAN PERAMPASAN TANAH ADAT, PAPUA BUKAN TANAH KOSONG".

Kritik terhadap kinerja pemerintah secara umum juga mewarnai jalannya aksi simulasi. Beberapa poster yang dibentangkan oleh mahasiswa memuat tuntutan-tuntutan seperti "Mundur Atau Mendengar! Suara Rakyat Bukan Pajangan", "Tegakkan Keadilan", dan "Rakyat Butuh Solusi Bukan Sekedar Janji!!!".

Simulasi demonstrasi tersebut menjadi ruang belajar mengenai praktik demokrasi bagi mahasiswa baru. Mereka tidak hanya belajar bagaimana menyampaikan kritik, tetapi juga memahami pentingnya argumentasi, koordinasi, dan tanggung jawab dalam menyuarakan kepentingan publik. Kritik terhadap pemerintah, sebagaimana ditegaskan dalam dokumen sikap mereka, merupakan bagian dari tanggung jawab publik untuk memastikan negara menjalankan kewajibannya.

Namun, seluruh proses demonstrasi tetap dikemas dalam konteks edukasi. Secara teknis, kegiatan dikawal oleh panitia PKKPIMB yang merupakan gabungan mahasiswa dan BEM Universitas Muhammadiyah Jember. Panitia berperan mengarahkan jalannya simulasi, mendampingi mahasiswa yang duduk melingkar saat aksi, sekaligus memastikan aspirasi tersampaikan dengan tertib.

Bagi mahasiswa baru, pengalaman tersebut menjadi cara baru memahami bahwa kehidupan kampus tidak hanya berbicara tentang ruang kelas, organisasi, dan kegiatan akademik. Kampus juga menjadi ruang untuk belajar membaca persoalan masyarakat, berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan mengambil peran sebagai bagian dari perubahan sosial.

Melalui konsep PKKPIMB yang lebih interaktif tersebut, Unmuh Jember berupaya menanamkan sejak awal bahwa mahasiswa bukan sekadar peserta didik, melainkan bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab intelektual dan sosial.

Jumat, 04 September 2026

Presiden ke Luar Negeri di Tengah Krisis Bencana, Dosen Unmuh Jember: Prioritasnya Perlu Dipertanyakan


Perdebatan mengenai prioritas Presiden antara agenda internasional dan krisis domestik menjadi perhatian publik. Dalam perspektif ilmu pemerintahan, hal ini berkaitan dengan kemampuan Presiden menentukan prioritas, mendelegasikan kewenangan, dan memastikan pemerintahan tetap berjalan efektif.

Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Binaridha Kusuma Ningtyas, S.IP., M.IP., menilai bahwa kunjungan Presiden ke luar negeri perlu dilihat secara proporsional. Menurutnya, dalam sistem presidensial, Presiden memiliki dua fungsi sekaligus, yakni sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.

“Dalam sistem presidensial, Presiden memang memiliki dua fungsi sekaligus, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Karena itu, ketika Presiden hadir dalam forum internasional, apalagi ketika ada undangan khusus sebagai tamu kehormatan utama, tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa kunjungan tersebut tidak penting,” jelas Binaridha.

Meski demikian, menurutnya, publik tetap memiliki ruang untuk mempertanyakan dasar pertimbangan Presiden dalam menentukan agenda yang membutuhkan kehadiran langsung dan agenda yang dapat didelegasikan kepada pejabat lain.

Ia mencontohkan adanya agenda kenegaraan yang sebelumnya pernah didelegasikan Presiden kepada Menteri Luar Negeri dan Ketua MPR. Menurut beliau, perbandingan tersebut bukan untuk menentukan bahwa salah satu keputusan benar atau salah, melainkan untuk melihat bagaimana prioritas kepemimpinan ditentukan ketika terdapat berbagai agenda yang sama-sama penting.

“Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah memang agenda tersebut harus dihadiri langsung atau diwakilkan dan bagaimana Presiden mendelegasikan tugasnya kepada menteri saat beliau di luar negeri ketika ada krisis di dalam negeri,” ujarnya.

Dalam menentukan prioritas antara agenda internasional dan persoalan domestik, Binaridha menjelaskan setidaknya terdapat tiga pertanyaan penting yang perlu menjadi pertimbangan Presiden.

Pertama, seberapa besar dampak persoalan tersebut terhadap keselamatan dan kehidupan masyarakat. Kedua, apa konsekuensinya apabila Presiden tidak memberikan perhatian langsung pada saat itu. Ketiga, apakah agenda tersebut dapat didelegasikan tanpa mengurangi kepentingan nasional maupun kepentingan domestik.

“Kalau sebuah agenda luar negeri memang hanya efektif jika Presiden sendiri yang hadir, tentu kehadiran Presiden dapat dibenarkan. Tetapi kalau agenda tersebut secara substantif masih bisa diwakilkan, sementara di dalam negeri ada krisis yang membutuhkan keputusan dan political attention Presiden, maka menurut saya prioritasnya perlu dipertanyakan,” katanya.

Menurutnya, kekuatan seorang Presiden tidak semata-mata diukur dari seberapa sering dirinya hadir secara langsung dalam setiap persoalan. Kepemimpinan yang kuat justru ditunjukkan melalui kemampuan membangun institusi pemerintahan yang tetap mampu bekerja secara efektif ketika Presiden tidak berada di lokasi.

“Presiden yang kuat bukanlah Presiden yang harus hadir secara fisik atau secara simbolik di semua persoalan. Justru Presiden yang kuat adalah Presiden yang mampu membangun institusi yang tetap bekerja efektif ketika dirinya tidak berada di tempat,” ungkapnya.

Beliau menilai kehadiran Presiden di lokasi bencana tetap memiliki arti penting, terutama dari sisi psikologis dan politik. Masyarakat yang tengah menghadapi bencana membutuhkan kepastian bahwa pemerintah melihat, mendengar, dan hadir bersama mereka.

Namun demikian, kehadiran tersebut menurutnya tidak boleh berhenti pada aspek simbolik. Yang jauh lebih penting adalah memastikan masyarakat benar-benar merasakan kehadiran negara melalui respons yang nyata.

“Kita perlu membedakan antara kehadiran simbolik dan kehadiran substantif. Secara simbolik, kehadiran Presiden penting. Masyarakat yang sedang mengalami bencana ingin melihat bahwa pemerintah melihat, mendengar, dan hadir bersama mereka,” jelasnya.

Ia menambahkan, persoalan yang perlu menjadi perhatian adalah ketika pemerintah daerah maupun lembaga terkait seolah baru bergerak secara maksimal setelah Presiden datang ke lokasi bencana.

“Dalam pemerintahan yang kuat, sistem seharusnya tetap mampu bekerja secara efektif meskipun Presiden tidak hadir secara langsung di lokasi terdampak,” tegas Binaridha.

Dalam menghadapi bencana yang terjadi di sejumlah daerah sekaligus, Presiden menurutnya tidak harus hadir secara fisik di seluruh lokasi terdampak. Presiden justru perlu mengambil alih fungsi-fungsi yang tidak dapat ditangani secara efektif oleh pemerintahan di bawahnya.

Ketika bencana masih dapat ditangani pemerintah daerah dan kementerian terkait, Presiden tidak perlu melakukan micro management. Namun, apabila bencana telah melampaui kapasitas daerah, melibatkan persoalan lintas wilayah, membutuhkan sumber daya besar, atau terjadi kebuntuan koordinasi antarlembaga, maka keterlibatan Presiden menjadi semakin penting.

Dalam kondisi tersebut, terdapat tiga hal yang perlu dipastikan. Pertama, adanya prioritas nasional yang jelas. Kedua, adanya lembaga yang mendapatkan mandat untuk mengambil keputusan dan mengoordinasikan respons di wilayah terdampak. Ketiga, tersedianya sumber daya yang benar-benar digerakkan untuk mempercepat penanganan dan pemulihan.

Selain bantuan material, menurut beliau, masyarakat juga membutuhkan rasa aman dan kepastian bahwa pemerintah mengetahui kondisi yang sedang terjadi serta memiliki kendali dalam menangani situasi.

Apabila agenda internasional dan penanganan bencana sama-sama berada dalam kondisi mendesak, Presiden tidak harus selalu memilih salah satunya secara hitam putih. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan mana yang benar-benar membutuhkan kehadiran personal Presiden dan mana yang masih dapat didelegasikan.

Jika agenda internasional bersifat strategis dan kehadiran Presiden tidak dapat digantikan, agenda tersebut tetap dapat dijalankan dengan catatan struktur koordinasi penanganan persoalan nasional harus dipastikan berjalan kuat.

Sebaliknya, apabila situasi domestik telah mencapai tingkat krisis yang membutuhkan keputusan, legitimasi, atau koordinasi langsung Presiden, sementara agenda internasional masih memungkinkan untuk diwakilkan, maka persoalan domestik perlu menjadi prioritas.

“Jadi dalam pandangan saya, kemampuan Presiden bukan diuji dari apakah dia memilih kunjungan luar negeri atau memilih berada di Indonesia. Kemampuan kepemimpinan justru diuji dari bagaimana Presiden mengelola dua kepentingan, luar negeri dan nasional,” pungkasnya.

Wani Ngimpi, Wani Ngelakoni : Ribuan Mahasiswa Baru Unmuh Jember Antusias Ikuti Opening PKKPIMB 2026

Sebanyak 1.584 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember mengikuti Opening Pengenalan Kehidupan Kampus dan Pembinaan Ideologi Mahasiswa Baru (PKKPIMB) 2026, pada Jumat (4/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan akademik sekaligus memulai perjalanan mereka sebagai bagian dari keluarga besar Unmuh Jember.

Antusiasme peserta telah terlihat sejak pagi. Mereka datang sejak pukul 05.00 WIB untuk mengikuti persiapan dan proses checking sebelum rangkaian kegiatan dimulai. Meski harus hadir lebih awal, semangat mahasiswa baru tetap terlihat sepanjang pelaksanaan opening.

Dalam kegiatan tersebut, seluruh mahasiswa baru disambut oleh jajaran sivitas akademika Unmuh Jember, mulai dari pimpinan fakultas hingga jajaran rektorat. Kehadiran para pimpinan menjadi bentuk penyambutan sekaligus penegasan bahwa mahasiswa baru merupakan bagian penting dalam perjalanan Unmuh Jember ke depan.

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, menyampaikan kebahagiaannya atas kehadiran mahasiswa baru yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti rangkaian Opening PKKPIMB 2026.

“Selamat datang di kampus unggul, kampus yang akan menjadi tempat kalian untuk meraih mimpi. Saya bangga dengan antusias yang kalian tunjukkan,” ujarnya.

Dr. Hanafi juga berpesan agar semangat yang ditunjukkan mahasiswa baru pada hari pertama tersebut tidak berhenti setelah kegiatan PKKPIMB berakhir. Menurutnya, semangat tersebut perlu terus dijaga dan dikobarkan selama mahasiswa menjalani proses perkuliahan.

“Terus jaga semangat untuk nanti saat melaksanakan perkuliahan,” lanjutnya.

Opening PKKPIMB 2026 menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru dalam memulai kehidupan akademik di Unmuh Jember. Tidak sekadar mengenalkan kehidupan kampus, kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses membangun karakter dan menumbuhkan semangat mahasiswa dalam mempersiapkan masa depan.

Semangat tersebut selaras dengan jargon PKKPIMB 2026, “Wani Ngimpi, Wani Ngelakoni.” yang menjadi pesan bagi mahasiswa baru agar tidak pernah takut untuk bermimpi setinggi langit dan tidak ragu untuk memulai langkah nyata dalam mewujudkan impian tersebut.

Dengan semangat yang telah ditunjukkan sejak hari pertama, mahasiswa baru Unmuh Jember diharapkan mampu menjalani perjalanan perkuliahan dengan penuh optimisme, keberanian, dan kesungguhan untuk meraih cita-cita.

Rabu, 02 September 2026

PAUD Yasmin Unmuh Jember Terima Hibah Kemendikdasmen, Pembangunan Fasilitas Mulai Digarap

 


Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Yasmin Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menerima dana hibah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Hibah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan.

Program revitalisasi dilaksanakan dalam jangka waktu 120 hari, mulai 1 September hingga 31 Desember 2026, dengan total anggaran sebesar Rp506.873.000. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan ruang kelas, fasilitas sanitasi, serta penataan lingkungan sekolah.

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, menyampaikan bahwa revitalisasi tersebut merupakan buah dari perjuangan bersama dalam mewujudkan sarana pembelajaran yang lebih baik.

“Ini adalah perjuangan kita semua untuk meningkatkan fasilitas yang dari beberapa waktu lalu kita ajukan kepada Kemendikdasmen, dan akhirnya saat ini kita berhasil menerima dana hibah ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah PAUD Yasmin, Chusnul Wardani Apriyanti, S.Pd., menjelaskan bahwa ruang kelas baru yang dibangun nantinya dirancang sebagai ruang serbaguna.

“Rencananya nanti ruang kelasnya juga akan dapat digunakan sebagai aula sehingga bisa dipergunakan dalam acara yang skalanya lebih besar,” jelasnya.

Menurut beliau, peningkatan fasilitas menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas proses pembelajaran. Dengan sarana dan prasarana yang lebih lengkap dan memadai, kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat berlangsung secara lebih optimal.

Selain mendukung proses pembelajaran, penambahan fasilitas tersebut juga dinilai dapat memperkuat daya tarik PAUD Yasmin dalam penerimaan peserta didik baru.

“Dengan adanya tambahan fasilitas ini, tentu akan membantu dalam promosi dan pendaftaran siswa baru,” pungkasnya.

Proses pengerjaan pembangunan sudah mulai dikerjakan sejak 1 September kemarin dan direncanakan untuk segera selesai sebelum tenggat waktu yang telah ditentukan oleh Kemendikdasmen, yaitu 31 Desember 2026.

Pihak kampus diminta untuk selalu memantau proses pembangunan fasilitas tersebut untuk memastikan proyek berjalan sesuai prosedur yang telah ditetakan.

Selasa, 01 September 2026

Doomscrolling Berlebihan, Dosen Psikologi Unmuh Jember Ungkap Dampaknya bagi Kesehatan Mental



Kebiasaan menggulir media sosial secara terus-menerus untuk mendapatkan informasi, termasuk berita negatif, dapat memberikan dampak terhadap kondisi psikologis seseorang. Fenomena yang dikenal sebagai doomscrolling tersebut dinilai berkaitan erat dengan penggunaan gawai dan media sosial yang tidak terkontrol.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Maulana Arif Muhibbin, S.Psi., M.Si., menjelaskan bahwa doomscrolling terjadi ketika seseorang terus mencari dan mengonsumsi informasi tanpa melakukan penyaringan secara sadar. Hal tersebut dapat berkembang menjadi kecanduan apabila penggunaan gawai sudah melampaui batas yang seharusnya hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Doomscrolling itu artinya kita mencari informasi dengan cara membabi buta, tidak difilter. Karena sudah tidak sadar, informasi terasa menarik dan akhirnya kita terbawa sampai menghabiskan waktu, bahkan mengabaikan tugas-tugas yang ada,” jelasnya dalam wawancara pada Selasa (1/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut juga tidak terlepas dari cara kerja media sosial yang dirancang untuk menyesuaikan informasi dengan ketertarikan penggunanya. Algoritma kemudian membuat pengguna terus mendapatkan konten yang dianggap menarik sehingga tanpa kemampuan mengontrol diri, penggunaan media sosial dapat berlangsung semakin lama.

Beliau menilai dampak doomscrolling dan penggunaan gawai berlebihan dapat berbeda pada setiap kelompok usia. Pada anak-anak, penggunaan gawai yang tidak terkontrol dapat memengaruhi perkembangan psikomotorik, kemampuan berbicara, fokus, serta kemampuan mengelola emosi.

Ia menyebut, anak yang terlalu banyak berfokus pada layar dapat kehilangan kesempatan untuk mendapatkan stimulasi dari lingkungan sekitar. Paparan konten berdurasi pendek yang terus berganti juga dapat membuat anak terbiasa menerima stimulasi secara cepat sehingga lebih mudah bosan dan mengalami gangguan fokus.

“Sedikit-sedikit ganti, sedikit-sedikit ganti. Makanya biasanya kalau kita mendampingi anak kecil itu, dia akan tahan dengan apa yang dia lihat. Itu nanti akan berdampak ke gangguan fokus, kemudian gangguan emosi. Sedikit-sedikit gampang marah,” ungkapnya.

Pada kelompok remaja, dampaknya dapat terlihat dari berkurangnya interaksi sosial dan meningkatnya kecenderungan untuk menarik diri. Remaja yang terlalu banyak mengonsumsi informasi negatif juga dapat memandang dunia secara lebih buruk dan penuh ancaman.

Akumulasi informasi negatif tersebut, menurut beliau, dapat membuat remaja menjadi terlalu waspada hingga mengalami overthinking. Kondisi tersebut bahkan dapat membuat seseorang kesulitan membedakan orang yang dapat dipercaya dan orang yang perlu diwaspadai.

Sementara pada usia dewasa, penggunaan gawai secara berlebihan dapat memengaruhi kemampuan membangun relasi sosial, hubungan interpersonal, hingga karier. Kurangnya interaksi langsung dapat membuat seseorang kesulitan membangun hubungan dengan orang lain. Bahkan, ekspektasi terhadap pasangan dapat terbentuk berdasarkan standar yang sering ditampilkan di media sosial.

Selain hubungan sosial, produktivitas juga dapat terdampak. Paparan informasi yang berlebihan membuat otak mengalami overstimulasi dan over-informasi, sehingga seseorang dapat mengalami kelelahan dan kesulitan berkonsentrasi dalam aktivitas belajar maupun pekerjaan.

Kelompok lanjut usia juga tidak luput dari dampak penggunaan media digital. Menurut beliau, keterbatasan kemampuan digital pada sebagian lansia dapat membuat mereka lebih mudah menerima informasi palsu atau hoaks. Informasi yang memicu emosi tersebut kemudian dapat meningkatkan stres dan kecemasan.

Penggunaan gawai hingga menjelang waktu tidur juga dapat mengganggu pola istirahat. Paparan berita negatif dapat membuat seseorang terus berada dalam kondisi waspada, sedangkan konten yang menyenangkan dapat mendorong seseorang terus mencari stimulasi sehingga sulit berhenti menggunakan gawai.

“Tidur ini kan sebagai pengobatan, sebagai jeda untuk rileks semua organ-organ tubuh. Ketika itu terstimulasi, orang itu ketika melihat berita buruk akan selalu siap-siaga,” jelasnya.

Gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus kemudian dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikologis. Seseorang dapat menjadi lebih mudah cemas, kemampuan menerima informasi secara positif menurun, serta kondisi fisik ikut melemah.

Kenali Tanda Ketika Membutuhkan Bantuan Profesional

Beliau menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gawai pada anak. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain perubahan perilaku menjadi antisosial, gangguan fokus, serta keterlambatan perkembangan kemampuan berbicara dan kosakata.

Jika kondisi tersebut sudah mengganggu kesehatan psikologis, bantuan profesional diperlukan. Beberapa tanda yang perlu menjadi perhatian antara lain halusinasi, kemarahan yang tidak terkendali, distorsi kognitif, serta kecemasan berlebihan.

Untuk remaja, perubahan prestasi akademik, cara bergaul, kondisi fisik, serta kebiasaan menggunakan gawai dapat menjadi indikator yang perlu diperhatikan. Menurutnya, penanganan juga membutuhkan sinergi antara orang tua dan sekolah, termasuk melalui pengaturan penggunaan gawai serta perhatian terhadap lingkungan pertemanan.

Sementara pada orang dewasa, tanda yang dapat diperhatikan antara lain meningkatnya kecemasan, perubahan emosional, dan menurunnya produktivitas. Penurunan kemampuan menyelesaikan pekerjaan atau pencapaian target dapat menjadi salah satu tanda bahwa penggunaan media sosial mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, bantuan profesional diperlukan ketika seseorang sudah tidak mampu mengendalikan diri dan kondisi tersebut mulai berdampak kepada orang-orang di sekitarnya. Misalnya, emosi yang dilampiaskan kepada pasangan atau anak.

Karena itu, kemampuan mengontrol penggunaan gawai dan media sosial menjadi hal penting. Penggunaan teknologi seharusnya tetap diimbangi dengan aktivitas fisik, interaksi sosial, waktu bersama keluarga, serta istirahat yang cukup agar tidak berkembang menjadi kebiasaan yang mengganggu kesehatan psikologis.

Enam Mahasiswa Asing Bergabung, Unmuh Jember Perkuat Langkah Menuju Kampus Go International

Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember terus memperkuat langkah menuju kampus berorientasi internasional. Tahun ini, sebanyak enam mahasiswa baru dari luar negeri resmi bergabung dan akan menempuh pendidikan di Unmuh Jember.

Keenam mahasiswa tersebut berasal dari dua negara, yakni tiga mahasiswa asal Bangladesh (Noorsanee Samae, Phidawatee Chedoloh, dan Eilham Marong) dan tiga mahasiswa asal Thailand (Faizanul Hoque, Kazi Md Abdullah, dan Md Tamjid Hossen). Kehadiran mahasiswa asing ini menjadi salah satu bagian dari upaya Unmuh Jember memperluas jejaring dan meningkatkan eksposur pendidikan tinggi di tingkat internasional.

Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) Unmuh Jember, Kristi Nuraini, M.Pd, mengatakan mahasiswa asing memiliki peran penting dalam mendukung cita-cita Unmuh Jember untuk menjadi perguruan tinggi yang semakin dikenal di kancah internasional.

“Indikator utama dari go international salah satunya adalah memiliki mahasiswa asing,” ujarnya.

Menurutnya, mahasiswa asal Thailand dapat bergabung melalui kerja sama Unmuh Jember dengan Dinas Pendidikan Thailand. Sementara itu, tiga mahasiswa asal Bangladesh mengetahui informasi mengenai pendidikan di Jember melalui senior mereka yang sebelumnya telah menempuh pendidikan di wilayah tersebut.

Keberadaan mahasiswa asing diharapkan tidak hanya menjadi capaian internasionalisasi, tetapi juga membuka peluang bagi Unmuh Jember untuk memperluas jangkauan calon mahasiswa dari berbagai belahan dunia.

“Harapannya, cakupan mahasiswa Unmuh Jember tidak hanya dari kawasan Asia, tetapi ke depan bisa semakin meluas hingga Amerika, Eropa, dan benua lainnya,” jelasnya.

Perluas Jejaring melalui Kolaborasi Internasional

Untuk menarik lebih banyak mahasiswa asing, Unmuh Jember terus membangun kerja sama dengan berbagai mitra internasional. Salah satu strategi yang dilakukan adalah melalui pelaksanaan program bersama dengan perguruan tinggi maupun institusi mitra di luar negeri.

Salah satu program yang saat ini dikembangkan adalah Collaboration Online International Learning (COIL). Program tersebut tidak hanya dilaksanakan dengan satu mitra, tetapi melibatkan beberapa mitra internasional.

Menurutnya, kolaborasi semacam ini memberikan manfaat strategis bagi Unmuh Jember, terutama dalam memperluas jaringan internasional.

“Dengan COIL, kita tidak hanya bekerja sama dengan satu mitra, tetapi beberapa mitra. Benefit-nya adalah jaringan kita semakin luas,” tuturnya.

Selain memperluas jejaring, program kolaborasi internasional juga menjadi sarana bagi sivitas akademika untuk berinteraksi dan belajar bersama dengan mitra dari berbagai negara tanpa terbatas oleh jarak.

Unmuh Jember juga memberikan perhatian terhadap proses adaptasi mahasiswa asing. Kristi menjelaskan, komunikasi dengan mahasiswa telah dilakukan secara intensif bahkan sebelum mereka tiba di Jember.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan mahasiswa asing mendapatkan informasi dan pendampingan yang memadai sejak awal, sehingga tidak mengalami kesulitan ketika mulai menjalani kehidupan akademik maupun beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Komunikasi intens dengan mahasiswa dilakukan bahkan sebelum mereka tiba di Unmuh Jember. Ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kita dalam hal layanan kepada mereka,” katanya.

Khusus bagi tiga mahasiswa asal Thailand, Unmuh Jember memberikan dukungan pembiayaan selama menjalani pendidikan. Dukungan tersebut mencakup biaya hidup, makan, hingga tempat tinggal.

Siapkan Pendaftaran Mandiri bagi Mahasiswa Asing

Ke depan, Unmuh Jember secara bertahap juga akan membuka jalur pendaftaran mandiri bagi mahasiswa internasional. Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan akses yang lebih luas bagi calon mahasiswa dari berbagai negara yang ingin melanjutkan pendidikan di Unmuh Jember.

Kehadiran enam mahasiswa asing pada tahun ini menjadi langkah awal dalam memperkuat internasionalisasi kampus. Dengan pengembangan kerja sama, program internasional, serta peningkatan layanan bagi mahasiswa asing, Unmuh Jember menargetkan jangkauan internasional yang semakin luas.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Unmuh Jember untuk tidak hanya menjadi perguruan tinggi yang berdaya saing di tingkat nasional, tetapi juga mampu berkembang dan dikenal di lingkungan pendidikan tinggi global.

Kamis, 27 Agustus 2026

Mahasiswa Unmuh Jember Edukasi Penggunaan Gawai Sehat bagi Anak PMI di Malaysia


Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Muhammad Zackakhal Wafda, memimpin workshop literasi digital tentang penggunaan gawai secara sehat bagi siswa Sanggar Bimbingan Muhammadiyah (SBM) Kampung Bharu, Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (10/8/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program International Community Service (KKN Internasional) hasil kolaborasi lima Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (5 PTMA), yakni UMJ, Unmuh Jember, UM Bandung, UNIMUGO, dan UM Bima, bersama PCIM Malaysia.

Dengan pendekatan komunikatif dan ramah anak, Wafda mengajak siswa memahami pentingnya membatasi penggunaan gawai agar tidak mengganggu waktu tidur, belajar, aktivitas fisik, ibadah, dan interaksi sosial. Para siswa juga diajak berdiskusi menentukan waktu yang sebaiknya bebas dari gawai, seperti saat belajar, makan bersama, menjelang tidur, dan waktu salat.

Selain edukasi, Wafda memperkenalkan fitur pembatas waktu aplikasi pada ponsel serta aplikasi penata rutinitas yang dikembangkannya. Ia menekankan bahwa teknologi dapat menjadi alat bantu, tetapi kebiasaan digital yang sehat tetap membutuhkan kesadaran diri, komunikasi keluarga, dan keteladanan orang dewasa.

Kegiatan mendapat sambutan positif dari para pendidik SBM Kampung Bharu. Seusai workshop, mahasiswa bersama dewan guru berdiskusi mengenai strategi penerapan kebiasaan digital sehat di lingkungan belajar.

Keterlibatan Wafda menjadi bagian dari upaya Unmuh Jember mendorong mahasiswa mengimplementasikan ilmu sekaligus berkontribusi bagi masyarakat Indonesia di luar negeri. KKN Internasional 5 PTMA yang berlangsung pada 8–13 Agustus 2026 di Malaysia dan Singapura juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, membangun kolaborasi, dan mengembangkan empati sosial.

Rabu, 26 Agustus 2026

Karhutla Tak Hanya Ancam Lingkungan, Dosen Unmuh Jember Soroti Dampaknya terhadap Kesehatan Masyarakat

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan dari kebakaran dapat membawa berbagai polutan dan menyebar dalam wilayah yang luas, sehingga masyarakat yang berada jauh dari titik kebakaran pun tetap berpotensi terdampak.

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan(Fikes) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Dr. Ns. Cipto Susilo, M.Kep., menjelaskan bahwa dampak kesehatan akibat karhutla terutama berasal dari paparan asap. Asap tersebut mengandung berbagai polutan, salah satunya partikulat halus berdiameter 2,5 mikrometer atau PM2,5 yang dapat masuk hingga bagian terdalam paru-paru.

“Karhutla tidak tepat dipandang hanya sebagai persoalan lingkungan. Ketika asap telah mencemari udara yang dihirup masyarakat, kebakaran tersebut telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat,” jelasnya dalam kajiannya mengenai dampak karhutla terhadap kesehatan.

Menurut beliau, tingkat keparahan dampak kesehatan sangat dipengaruhi oleh konsentrasi polutan, lama paparan, frekuensi paparan, hingga aktivitas masyarakat di luar ruangan. Seseorang yang bekerja di luar ruangan selama berjam-jam, misalnya, berpotensi menerima dosis paparan lebih tinggi dibandingkan masyarakat yang lebih banyak berada di dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih baik.

Gangguan Pernapasan hingga Kardiovaskular

Paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata dan tenggorokan hingga gangguan pernapasan. Keluhan yang dapat muncul antara lain mata merah dan berair, hidung tersumbat, batuk, sesak napas, mengi, hingga rasa berat di dada.

Pada masyarakat yang telah memiliki penyakit pernapasan seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), paparan asap dapat memperburuk kondisi yang sudah ada. Dalam kondisi tertentu, paparan asap juga dapat meningkatkan risiko gangguan respirasi yang lebih berat dan kebutuhan rawat inap.

Dampaknya juga tidak berhenti pada sistem pernapasan. Partikulat PM2,5 dapat memicu inflamasi dan stres oksidatif sistemik yang berpotensi memengaruhi sistem kardiovaskular. Sementara itu, paparan komponen asap tertentu seperti karbon monoksida dapat menimbulkan keluhan berupa sakit kepala, pusing, lemah, mual, kelelahan, hingga gangguan konsentrasi.

Karhutla juga berpotensi memberikan dampak psikologis, terutama bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, maupun harta benda atau harus menjalani evakuasi. Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, stres, gangguan tidur, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma.

Anak hingga Pekerja Lapangan Jadi Kelompok Rentan

Cipto menekankan bahwa kerentanan terhadap asap karhutla tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga kondisi kesehatan, tingkat paparan, pekerjaan, kondisi sosial ekonomi, dan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Anak-anak, bayi, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti asma, PPOK, dan penyakit jantung termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Pekerja luar ruangan juga memiliki risiko tinggi karena menghabiskan waktu lebih lama di lingkungan yang tercemar. Petugas pemadam kebakaran dan relawan bahkan menghadapi risiko lebih besar karena dapat berada dekat dengan sumber asap dan api.

“Kelompok rentan tidak boleh hanya ditentukan berdasarkan usia. Seorang pekerja dewasa yang sehat tetapi terpapar asap selama berjam-jam dapat mempunyai dosis pajanan yang lebih tinggi dibandingkan seorang lansia yang berada di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih,” ungkapnya.

Risiko Tidak Berakhir Ketika Asap Menghilang

Menurut beliau, masyarakat juga perlu memahami bahwa risiko kesehatan akibat karhutla tidak selalu berakhir ketika asap sudah tidak terlihat. Risiko jangka pendek umumnya berupa iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak, mengi, peningkatan produksi dahak, serta memburuknya kondisi penderita asma dan PPOK.

Sementara itu, paparan yang berulang atau berkepanjangan dapat berkaitan dengan gangguan fungsi paru, penyakit respirasi, mortalitas, serta gangguan kesehatan mental. Karena itu, hilangnya asap secara visual tidak selalu berarti seluruh dampak kesehatan telah berakhir.

Kurangi Paparan, Jangan Hanya Mengandalkan Masker

Ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla, Cipto menyarankan masyarakat untuk memprioritaskan pengurangan paparan, terutama terhadap PM2,5.

Masyarakat perlu memantau informasi resmi mengenai kualitas udara dan perkembangan kebakaran. Aktivitas luar ruangan, khususnya olahraga dan aktivitas fisik berat, juga perlu dikurangi ketika kualitas udara berada pada kondisi tidak sehat.

Selain itu, kelompok rentan perlu mendapatkan perlindungan lebih. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai dan memiliki kecocokan dengan wajah. Namun, penggunaan masker bukan pengganti upaya mengurangi paparan.

Kualitas udara di dalam rumah juga perlu dijaga dengan mengurangi masuknya asap, menutup pintu dan jendela ketika kualitas udara luar sangat buruk, serta menghindari sumber polusi tambahan seperti merokok dan membakar sampah di dalam ruangan. Penderita penyakit kronis juga perlu memastikan obat rutin tetap tersedia dan digunakan sesuai instruksi tenaga kesehatan.

Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, napas cepat atau kesulitan bernapas, nyeri dada, penurunan kesadaran, kebingungan, bibir atau kulit kebiruan, mengi berat, serangan asma yang tidak membaik, maupun perburukan penyakit kronis.

Beliau menilai penanganan karhutla dari perspektif kesehatan masyarakat perlu dilakukan secara menyeluruh. Penanganan tidak cukup hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga perlu mencakup upaya promotif, preventif, responsif, dan rehabilitatif.

“Dalam perspektif kesehatan masyarakat, penanganan karhutla harus bergerak dari paradigma kuratif menuju pendekatan promotif, preventif, responsif, dan rehabilitatif,” tutupnya.

Senin, 24 Agustus 2026

Unmuh Jember Kembangkan TirtaSmart, Teknologi Cerdas Pantau Kualitas Air Berbasis Energi Surya


Bagaimana jika kualitas air bersih di desa bisa dipantau secara real-time, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada listrik PLN? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu persoalan yang coba dijawab Universitas Muhammadiyah Jember melalui pengembangan TirtaSmart, sebuah prototipe sistem cerdas pemantauan kualitas air berbasis Wireless Sensor Network (WSN), kecerdasan buatan, dan energi surya.

TirtaSmart dikembangkan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas – Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026 dengan pendanaan dari Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia.

Pengembangan teknologi tersebut diketuai oleh Dr. Bagus Setya Rintyarna, M.Kom. dari Universitas Muhammadiyah Jember. TirtaSmart dirancang untuk menjawab persoalan pemantauan kualitas air di wilayah perdesaan yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual dan berkala.

Kondisi tersebut membuat perubahan kualitas air berpotensi terlambat diketahui. Melalui TirtaSmart, data dari sejumlah sensor dapat dikumpulkan dan dikirim secara nirkabel sehingga kondisi air dapat dipantau secara lebih cepat dan berkelanjutan.



“TirtaSmart kami arahkan bukan sekadar menjadi alat ukur kualitas air, tetapi menjadi sistem monitoring yang dapat bekerja secara berkelanjutan dan membantu pengelola air desa memperoleh informasi berbasis data untuk mengambil keputusan,” ujar Bagus.

TirtaSmart dikembangkan sebagai sebuah sistem yang terintegrasi. Sensor yang ditempatkan pada sumber air akan mengukur sejumlah parameter kualitas air. Data hasil pengukuran kemudian dikirim melalui jaringan sensor nirkabel menuju sistem pengolahan dan ditampilkan melalui dashboard monitoring.

Pada pengembangan tahun 2026, teknologi tersebut diperkuat dengan sensor multi-parameter, sistem komunikasi WSN, gateway, sistem kendali energi surya, serta dashboard monitoring.

Pengembangan juga dilakukan pada sisi kecerdasan sistem. Jika prototipe sebelumnya menggunakan pendekatan weighted ensemble classifier, TirtaSmart kini dikembangkan dengan algoritma Neural Network untuk mengenali hubungan yang lebih kompleks dari data berbagai sensor.

Tidak hanya kualitas, sistem juga dikembangkan untuk memantau kuantitas air. Dengan demikian, TirtaSmart diharapkan dapat berkembang dari sekadar alat pembaca kondisi air menjadi instrumen pendukung pengambilan keputusan bagi pengelola air bersih desa.

Salah satu tantangan penerapan teknologi monitoring di wilayah perdesaan adalah ketersediaan sumber listrik. Terlebih, lokasi sumber air tidak selalu berada dekat dengan permukiman atau jaringan listrik.

Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan tim mengintegrasikan sistem kendali energi surya ke dalam TirtaSmart.

Dengan memanfaatkan energi matahari, perangkat monitoring diharapkan mampu bekerja lebih mandiri dan kontinu di lapangan tanpa sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik PLN.

Pengembangan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) dari prototipe sebelumnya yang telah mencapai Level 5 menuju Level 6–7. Tahapan tersebut diarahkan agar teknologi tidak hanya teruji secara teknis, tetapi juga dapat diuji dan didemonstrasikan dalam lingkungan operasional yang nyata.

Untuk memastikan teknologi benar-benar mampu bekerja di kondisi lapangan, tim peneliti menjadikan Desa Sukogidri, Kabupaten Jember, sebagai lokasi pengujian prototipe.

Pengujian dilakukan secara bertahap, mulai dari finalisasi desain, pengujian fungsional, kalibrasi ulang sensor, instalasi prototipe, hingga pengujian lapangan.

Sejumlah aspek akan menjadi perhatian, mulai dari kinerja sensor dan jaringan WSN, stabilitas sistem energi surya, kontinuitas pengiriman data, hingga keandalan sistem secara keseluruhan.

Sistem selanjutnya juga akan didemonstrasikan kepada pengelola air desa sebagai pengguna akhir. Pelibatan pengguna menjadi bagian penting dalam proses hilirisasi agar teknologi yang dikembangkan tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mudah digunakan dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Target kami adalah teknologi ini dapat digunakan oleh pengelola air desa secara mandiri. Informasi kualitas air harus bisa dibaca dengan mudah, sehingga teknologi benar-benar hadir sebagai alat bantu pengelolaan air, bukan justru menambah kerumitan bagi pengguna,” jelas Bagus.

TirtaSmart merupakan hasil pengembangan berkelanjutan, bukan teknologi yang dibangun dari nol pada 2026. Tim telah melakukan rangkaian penelitian sejak 2021, khususnya dalam bidang pemantauan kualitas air berbasis WSN, analitik data, dan sistem cerdas.


Riset sebelumnya telah menghasilkan prototipe yang melalui proses kalibrasi sensor, pengujian fungsional, serta validasi pada lingkungan relevan hingga mencapai TKT Level 5.

Sejumlah hasil penelitian tersebut juga telah menghasilkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), termasuk teknologi monitoring kualitas air berbasis WSN dan ensemble learning.

Melalui program tahun 2026, fokus penelitian kemudian bergeser lebih jauh menuju hilirisasi, yakni menyempurnakan teknologi yang telah dikembangkan agar semakin dekat dengan kebutuhan pengguna dan siap diterapkan pada lingkungan nyata.

Jika seluruh tahapan pengujian dan validasi berjalan sesuai target, TirtaSmart memiliki peluang untuk dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain.

Teknologi ini berpotensi dimanfaatkan oleh pemerintah desa, BUMDes, KPSPAMS, maupun lembaga lain yang memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan layanan air bersih perdesaan.

Penggunaan komponen teknologi yang tersedia di pasar juga menjadi salah satu pertimbangan agar sistem relatif mudah dikembangkan kembali sesuai kebutuhan di lapangan.

Dalam jangka panjang, hasil pengujian TirtaSmart dapat menjadi pijakan untuk membangun kerja sama dengan pemerintah daerah, BUMDes, maupun lembaga pengelola air bersih lainnya.

Bagi Universitas Muhammadiyah Jember, pengembangan TirtaSmart menjadi salah satu contoh bagaimana hasil riset perguruan tinggi dapat didorong keluar dari ruang laboratorium dan dihadirkan untuk menjawab persoalan masyarakat.

Melalui dukungan Program Hilirisasi Riset Prioritas Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026, TirtaSmart diharapkan tidak berhenti sebagai prototipe penelitian. Lebih jauh, teknologi ini ditargetkan menjadi teknologi tepat guna yang membantu desa mengelola layanan air bersih secara lebih cerdas, mandiri, dan berkelanjutan.


Connect