Selasa, 14 Juli 2026

Mahasiswa Psikologi Unmuh Jember Kenalkan Budaya Nusantara lewat Film

    Sebuah langkah inovatif ditunjukkan oleh mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember angkatan 2025 yang tergabung dalam Aeterniapsyce Psychology. Melalui acara bertajuk IBD Cinematic Showcase, mereka sukses menyulap hasil pembelajaran mata kuliah Ilmu Budaya Dasar (IBD) menjadi sebuah karya seni visual yang sinematik. Acara ini digelar meriah di Kota Cinema Mall (KCM) Jember dengan mengundang orang tua mahasiswa serta jajaran senior.


    Sebanyak empat film pendek karya kolaborasi mahasiswa ditayangkan secara perdana, yaitu Dua Arus Satu Muara, The Mask of Konah, Dalan Mulih, dan Menari di Antara Zaman. Film-film tersebut merupakan hasil produksi intensif selama beberapa pekan terakhir yang menggambarkan dinamika sosial, nilai kemanusiaan, dan fenomena psikologis melalui lensa budaya lokal.

    Ketua Pelaksana, Tri Sudaryanto, menjelaskan bahwa media film dipilih karena sifatnya yang universal dan mudah dipahami dalam mengomunikasikan pesan psikologis. "Ini adalah wadah bagi kami untuk mengintegrasikan nilai IBD dengan perspektif psikologi, sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap budaya lokal dan mengasah kreativitas rekan-rekan," tuturnya.


    Dukungan penuh mengalir dari dosen pengampu mata kuliah, Maulana Arif Muhibbin, S.Psi., M.Si. Ia menjelaskan bahwa seluruh karya ini murni kreativitas mahasiswa angkatan 2025 yang melalui proses ketat, mulai dari penyusunan proposal hingga investigasi tim riset budaya agar sesuai dengan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK). Tiket apresiasi seharga Rp10.000 untuk umum dan Rp25.000 untuk dosen serta tenaga kependidikan pun ludes terjual.


    Dekan Fakultas Psikologi Unmuh Jember, Dr. Nurlaela Widyarini, S.Psi., M.Si., turut memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, pembelajaran yang bermakna tidak hanya berhenti di kelas, melainkan lahir dari refleksi atas realitas manusia dan kehidupan sosial. Kolaborasi ini melatih mahasiswa berempati dan membaca persoalan dari beragam sudut pandang tanpa kehilangan integritas akademiknya.


    Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor I Bidang Akademik Unmuh Jember, Dr. Bagus Setya Rintyarna, S.T., M.Kom., menilai konsep ini sangat menarik karena memberikan pengalaman mendalam terkait pelestarian budaya. Melalui showcase ini, generasi muda diharapkan dapat terus mendalami budaya leluhur agar tidak punah tergerus zaman.

Selasa, 07 Juli 2026

PANKREAS 2026 Jadi Panggung Seni dan Sastra Mahasiswa PBSI Unmuh Jember

Lobi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember berubah menjadi ruang pertunjukan yang penuh semangat pada Sabtu (4/7/2026). Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMABIN) sukses menggelar PANKREAS 2026 (Panggung Kreasi) sebagai wadah bagi mahasiswa untuk menampilkan karya terbaik di bidang seni pertunjukan.

Suara musik, lantunan puisi, dialog drama, hingga gemuruh tepuk tangan penonton mewarnai jalannya acara. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2023, 2024, dan 2025 tampil bergantian menyuguhkan beragam pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat pesan budaya, kemanusiaan, dan kreativitas.

Ketua Umum HIMABIN menjelaskan bahwa PANKREAS bukan sekadar agenda tahunan organisasi, melainkan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi sekaligus menunjukkan hasil kreativitas yang telah diasah selama proses perkuliahan.

"PANKREAS bukan hanya sekadar panggung, melainkan wadah bagi mahasiswa PBSI untuk menunjukkan bakat dan potensi dalam dirinya," ujarnya.

Rangkaian pertunjukan diawali dengan Tari Tanjung Gemilang yang memukau penonton melalui gerakan yang anggun dan penuh semangat. Penampilan pembuka tersebut menjadi simbol semangat mahasiswa dalam melestarikan seni budaya sekaligus membuka suasana pertunjukan dengan nuansa yang hangat.

Nuansa budaya kemudian semakin terasa melalui kolaborasi pembacaan puisi Dvipantara dengan tari Guardian of Nusantara. Perpaduan sastra dan seni tari menghadirkan harmoni yang memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus mengajak penonton merefleksikan pentingnya menjaga identitas bangsa.

Atmosfer acara berubah lebih energik saat kelompok Dance DNA tampil dengan koreografi modern yang dinamis. Gerakan atraktif yang dipadukan dengan iringan musik penuh semangat berhasil membangkitkan antusiasme penonton yang memenuhi area lobi FKIP.

Tak hanya menampilkan hiburan, PANKREAS juga menghadirkan ruang refleksi melalui drama Denyut Nadi dalam Rumah. Penampilan para pemain yang penuh penghayatan membuat penonton larut dalam alur cerita yang mengangkat dinamika hubungan antarmanusia. Dialog yang kuat dan konflik yang dibangun secara emosional memberikan pengalaman teater yang berkesan.

Keindahan budaya Nusantara kembali dihadirkan melalui Tari Dayak. Gerakan khas, kostum etnik, serta iringan musik tradisional memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia yang tetap relevan dan mampu memikat generasi muda.

Sebagai penutup, drama Tanah Ingkar sukses mengakhiri rangkaian pertunjukan dengan kisah yang penuh makna. Penghayatan para pemain serta penyampaian pesan yang kuat membuat drama tersebut mendapatkan apresiasi meriah dari para penonton.

Seluruh penampilan mendapat sambutan hangat dari mahasiswa, dosen, dan tamu yang hadir. Tepuk tangan dan sorak apresiasi terus mengiringi setiap pertunjukan, menunjukkan bahwa karya-karya mahasiswa mampu membangun kedekatan emosional sekaligus menjadi ruang saling menghargai kreativitas.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, PANKREAS 2026 menjadi media pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan bekerja sama, meningkatkan rasa percaya diri, melatih kepemimpinan, serta menyampaikan gagasan melalui karya kreatif.

Melalui kegiatan ini, HIMABIN Universitas Muhammadiyah Jember kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang ekspresi yang mendorong lahirnya mahasiswa kreatif, inovatif, dan berkarakter. PANKREAS 2026 pun menjadi bukti bahwa ketika mahasiswa diberi ruang untuk berkarya, seni dan sastra mampu menjadi bahasa yang menyatukan, menginspirasi, dan memperkuat kebersamaan di lingkungan kampus.

 


Mahasiswa PG PAUD Unmuh Jember Tampilkan Kreativitas Lewat Gelar Karya Bertema Etnis Pandhalungan

Suasana ceria dan penuh warna memenuhi lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Jember pada Selasa (7/7/2026). Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) menggelar Gelar Karya sebagai puncak pembelajaran selama satu semester dengan mengusung tema "Etnis Pendalungan".

Kegiatan ini menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menampilkan hasil kreativitas sekaligus mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dari berbagai mata kuliah. Beragam karya dipamerkan, mulai dari pertunjukan tari, karya seni rupa, media pembelajaran kreatif, hingga olahan makanan bergizi yang dirancang khusus untuk anak usia dini.

Dosen Seni Tari PG PAUD Universitas Muhammadiyah Jember, Misyana, menjelaskan bahwa gelar karya merupakan luaran pembelajaran dari beberapa mata kuliah, yaitu Seni Tari Dasar, Seni Tari Lanjut, Seni Rupa, Kreativitas dan Seni di PAUD, serta Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini.

"Hari ini mahasiswa menunjukkan apa yang sudah mereka pelajari selama satu semester. Kegiatan ini merupakan luaran dari beberapa mata kuliah yang saling terintegrasi dalam satu tema, yaitu Etnis Pendalungan," ujarnya.

Menurut Misyana, khusus pada mata kuliah seni tari, mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menampilkan sebuah tarian, tetapi juga mengembangkan kreativitas melalui penciptaan karya tari anak usia dini secara mandiri.

"Kami ingin mahasiswa mampu berkreasi dan berinovasi dalam menciptakan gerakan tari untuk anak usia dini. Mereka juga belajar mendesain kostum tari hingga menyiapkan seluruh kebutuhan pertunjukan secara mandiri. Jadi bukan sekadar menari, tetapi juga menciptakan sebuah karya," jelasnya.

Seluruh karya yang dipamerkan merupakan hasil kreasi mahasiswa aktif PG PAUD. Tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, mahasiswa juga menghadirkan berbagai menu makanan sehat yang disusun berdasarkan kebutuhan gizi anak usia dini sebagai implementasi dari mata kuliah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini.

Menariknya, kegiatan ini turut mengundang sejumlah guru PAUD dan alumni PG PAUD Universitas Muhammadiyah Jember. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya berbagi praktik baik sekaligus memberikan inspirasi mengenai pembelajaran kreatif yang dapat diterapkan di sekolah.

"Kami berharap setiap mata kuliah memiliki luaran yang berdampak. Misalnya pada mata kuliah gizi, guru-guru bisa melihat contoh makanan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Begitu juga dengan tari, mahasiswa mampu menciptakan karya tari yang memang diperuntukkan bagi anak usia dini," tambah Misyana.

Melalui gelar karya ini, mahasiswa tidak hanya menunjukkan kemampuan akademik, tetapi juga mengasah keterampilan berpikir kreatif, inovatif, dan kolaboratif yang menjadi bekal penting sebagai calon pendidik anak usia dini.

Gelar Karya PG PAUD Universitas Muhammadiyah Jember menjadi bukti bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi tidak berhenti pada teori di ruang kelas. Melalui karya nyata yang berpijak pada budaya lokal Pendalungan, mahasiswa didorong untuk menghasilkan inovasi pembelajaran yang relevan, edukatif, sekaligus mampu melestarikan kearifan budaya kepada generasi sejak usia dini.

 

Rabu, 01 Juli 2026

Tebar Kepedulian untuk Lansia, BEM FISIP Unmuh Jember Gelar Program "Sharing Love" di Panti Sosial Tresna Werdha

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Jember kembali menunjukkan komitmennya dalam mengimplementasikan nilai-nilai kepedulian sosial melalui program kerja bertajuk "Sharing Love". Kegiatan pengabdian masyarakat ini akan dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werdha (PT PSTW) pada Sabtu, (27/6/2026), dengan menghadirkan berbagai aktivitas yang bertujuan memberikan kebahagiaan sekaligus dukungan psikososial bagi para lanjut usia (lansia).

Program ini merupakan salah satu agenda kerja BEM FISIP Kabinet PRISMA periode 2025–2026 yang dirancang sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui interaksi langsung dengan para penghuni panti, mahasiswa diharapkan mampu memahami realitas sosial sekaligus mengasah kemampuan komunikasi dan kepedulian terhadap kelompok rentan.

Kegiatan "Sharing Love" dilatarbelakangi oleh kepedulian terhadap kondisi lansia yang kerap menghadapi keterasingan sosial dan minimnya perhatian dari lingkungan sekitar. Sebagai organisasi kemahasiswaan, BEM FISIP memandang penting menghadirkan ruang interaksi yang humanis agar para lansia dapat merasakan perhatian, kebersamaan, dan penghargaan atas kontribusi mereka selama ini kepada masyarakat.

Tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, "Sharing Love" dikemas melalui berbagai aktivitas interaktif. Mahasiswa akan mengadakan sesi perkenalan, ice breaking, permainan sederhana, kegiatan kreatif bersama, hingga penyerahan bantuan kebutuhan pokok secara simbolis kepada penghuni panti. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk menciptakan suasana hangat yang mampu mempererat hubungan emosional antara mahasiswa dan para lansia.

Selain memberikan manfaat bagi penghuni panti, kegiatan ini juga menjadi media pembelajaran nonformal bagi mahasiswa. Melalui pengalaman berinteraksi secara langsung, mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan karakter yang berintegritas, empatik, dan memiliki tanggung jawab sosial sebagai calon intelektual yang dekat dengan persoalan masyarakat.

BEM FISIP berharap program "Sharing Love" dapat menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat. Kehadiran mahasiswa di tengah para lansia bukan hanya untuk berbagi bantuan, tetapi juga menghadirkan kebersamaan, semangat, dan perhatian yang menjadi kebutuhan penting bagi mereka.

Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan menjadi budaya kepedulian yang terus tumbuh di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jember. Dengan semangat berbagi dan mengabdi, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman berharga di luar ruang kuliah, tetapi juga menjalankan perannya sebagai agen perubahan yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.

 

Dari Ruang Kuliah ke Aksi Nyata: Mahasiswa Unmuh Jember Serukan Perlawanan terhadap Korupsi dan NAPZA

Korupsi dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) bukan lagi sekadar isu nasional, tetapi telah menjadi ancaman nyata yang perlu dihadapi sejak di lingkungan kampus. Kesadaran itulah yang muncul dari mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan, Teknik Kimia, dan Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Jember melalui kegiatan wawancara dan diskusi dalam mata kuliah Pendidikan Antikorupsi dan NAPZA.

Kegiatan yang berada di bawah bimbingan Rohimatus Shofiyah, S.Si., M.Si. dan Miftahul Huda, S.H., M.K.N. tersebut menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami bahwa membangun integritas dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

Dalam diskusi, mahasiswa menegaskan bahwa korupsi tidak selalu identik dengan penyalahgunaan anggaran negara atau jabatan publik. Perilaku tidak jujur di lingkungan akademik, seperti menyontek saat ujian, titip absen, hingga menggunakan fasilitas kampus tanpa izin, juga merupakan bentuk penyimpangan integritas.

"Korupsi itu bukan cuma soal uang negara. Menyontek waktu ujian, titip absen, atau memakai fasilitas kampus tanpa izin juga bentuk korupsi kecil yang sering kita abaikan," ungkap salah seorang mahasiswa.

Menurut mereka, korupsi merupakan penyalahgunaan kepercayaan maupun kewenangan demi kepentingan pribadi. Oleh karena itu, upaya pemberantasannya tidak cukup hanya mengandalkan lembaga penegak hukum, tetapi juga membutuhkan kesadaran setiap individu untuk menjunjung tinggi nilai kejujuran dan tanggung jawab.

"Pendidikan antikorupsi bukan hanya soal memahami aturan hukum, tetapi membangun karakter yang jujur, disiplin, dan berintegritas sejak masih menjadi mahasiswa," ujar peserta lainnya.

Selain membahas korupsi, mahasiswa juga menyoroti berbagai bentuk penyalahgunaan NAPZA yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda. Salah satu perhatian mereka adalah meningkatnya penggunaan rokok elektronik atau vape yang masih sering dianggap lebih aman dibandingkan rokok konvensional.

"Banyak yang mengira vape itu aman karena tidak ada asap. Padahal nikotin tetap masuk ke tubuh, bahkan kadar nikotin dalam beberapa pods bisa jauh lebih tinggi daripada rokok biasa," jelas salah seorang mahasiswa.

Mahasiswa juga menyinggung fenomena penyalahgunaan zat tertentu untuk memperoleh efek euforia, termasuk konsumsi alkohol yang kerap dibungkus dengan alasan pergaulan. Padahal, penyalahgunaan zat-zat tersebut berpotensi menyebabkan ketergantungan, gangguan kesehatan, hingga memengaruhi perilaku sosial seseorang.

Mereka menilai kampus memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan melalui edukasi, penyediaan layanan konseling, serta penerapan kawasan bebas rokok. Di sisi lain, kolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) juga dipandang penting dalam mendukung edukasi, rehabilitasi, dan penegakan hukum.

"Lingkungan sangat menentukan. Kalau pergaulan kita sehat dan positif, godaan untuk mencoba NAPZA pun jauh lebih kecil," kata salah satu peserta.

Diskusi tersebut juga mengangkat pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam membangun budaya antikorupsi dan kehidupan yang bebas NAPZA. Mahasiswa memahami bahwa Indeks Persepsi Korupsi (IPK) bukan sekadar angka, melainkan cerminan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap integritas suatu bangsa.

Bagi mereka, perubahan besar dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Menolak menyontek, berani berkata jujur, menghindari penyalahgunaan zat adiktif, hingga melaporkan pelanggaran merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam membangun budaya integritas.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis dari perkuliahan, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk menjadi generasi yang menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial. Semangat tersebut diharapkan mampu menjadi fondasi dalam menciptakan masyarakat yang bebas dari korupsi dan penyalahgunaan NAPZA di masa depan.

  

Senin, 29 Juni 2026

Unmuh Jember Jadi Tuan Rumah RAKORNAS APMU PTMA 2026, Luncurkan Panduan SPMI 5.0 untuk Perkuat Mutu PTMA

Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) dipercaya menjadi tuan rumah Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) Asosiasi Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (APMU PTMA) Tahun 2026 yang digelar di Aula Fortuna Grande Jember, Minggu (28/6/2026). Forum nasional ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat sistem penjaminan mutu perguruan tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah melalui peluncuran Panduan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) 5.0.

Mengusung tema "Penguatan APMU dan Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu Menuju PTMA Unggul, Terakreditasi Internasional, dan Berdampak", kegiatan diikuti pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah dari berbagai daerah, pengurus APMU PTMA, serta Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Rektor Unmuh Jember, Dr. Hanafi, M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada kampusnya sebagai penyelenggara forum nasional tersebut. Menurutnya, penjaminan mutu tidak sekadar memenuhi tuntutan administrasi akreditasi, tetapi menjadi budaya yang harus terus dikembangkan demi menghasilkan pendidikan tinggi yang berkualitas dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

"Pengembangan mutu merupakan proses yang berkelanjutan. Budaya mutu harus terus dibangun agar perguruan tinggi mampu melahirkan lulusan yang unggul, adaptif, dan memberikan dampak bagi masyarakat," ujarnya.

Salah satu agenda penting dalam RAKORNAS adalah peluncuran Panduan SPMI 5.0, yang diharapkan menjadi pedoman baru bagi seluruh PTMA dalam memperkuat tata kelola, meningkatkan efektivitas sistem penjaminan mutu internal, sekaligus mendukung pencapaian standar pendidikan tinggi nasional maupun internasional.

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Ir. Muhammad Adam Jerusalem, Ph.D., memaparkan perkembangan mutu PTMA berdasarkan data hingga Juni 2026. Ia menekankan pentingnya percepatan peningkatan jumlah perguruan tinggi Muhammadiyah yang meraih akreditasi Unggul melalui tata kelola institusi yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas.

Menurutnya, unit penjaminan mutu memiliki peran sentral dalam memastikan seluruh proses akademik berjalan sesuai standar, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan kurikulum, hingga pemenuhan indikator akreditasi.

Selain itu, Adam juga menyoroti pentingnya penguatan kualitas Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi di lingkungan PTMA. Ia mendorong setiap perguruan tinggi untuk terus meningkatkan rasio dosen bergelar doktor, memperkuat penelitian, serta memenuhi berbagai standar yang ditetapkan pemerintah agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Ketua APMU PTMA bersama seluruh peserta RAKORNAS juga menjadikan forum tersebut sebagai ruang koordinasi untuk berbagi praktik baik dalam pengelolaan sistem penjaminan mutu di masing-masing perguruan tinggi. Melalui diskusi dan penyusunan langkah strategis bersama, diharapkan lahir berbagai inovasi yang mampu memperkuat daya saing PTMA di era global.

Dengan menjadi tuan rumah RAKORNAS APMU PTMA 2026, Unmuh Jember kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi Muhammadiyah. Kehadiran para pimpinan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia diharapkan menjadi awal penguatan kolaborasi untuk mewujudkan PTMA yang unggul, berdaya saing internasional, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

 

Bangun Ruang Diskusi Akademik, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unmuh Jember Gelar Mini Conference on Local Governance


Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan (HIMATA) Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember menggelar Mini Conference on Local Governance and Kolokium di Gedung B Lantai 3 Ruang 3.3, Senin (29/6/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 51 peserta ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperdalam isu-isu tata kelola pemerintahan sekaligus mempresentasikan hasil penelitian di hadapan akademisi dan praktisi.

Kegiatan yang terlaksana atas kolaborasi Program Studi Ilmu Pemerintahan dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dr. Emi Kholifah, M.Si., Bina Rida Kusumaningtyas, S.IP., M.IP., Dr. Iffan Gallant El Muhammady, S.Sos., M.Si., serta Dr. Itok Wicaksono, M.Si.

Penyelenggaraan konferensi merupakan hasil persiapan selama kurang lebih dua bulan oleh seluruh panitia. Menurutnya, kegiatan ini dirancang untuk menjadi ruang akademik yang mempertemukan mahasiswa dengan para ahli dalam membahas berbagai persoalan pemerintahan daerah.

Dalam konferensi tersebut, peserta mendiskusikan empat tema utama, yakni pemberdayaan masyarakat, pelayanan publik, pembangunan desa, dan kebijakan publik. Melalui tema-tema tersebut, mahasiswa didorong untuk mengkaji berbagai persoalan pemerintahan secara kritis sekaligus menawarkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unmuh Jember, Dr. Sudahri, S.Sos., M.I.Kom., mengapresiasi inisiatif mahasiswa menyelenggarakan forum ilmiah yang dinilainya semakin jarang ditemukan di kalangan mahasiswa.

Menurutnya, mini conference bukan hanya menjadi sarana berbagi ilmu, tetapi juga memberikan banyak manfaat, mulai dari peningkatan kompetensi akademik mahasiswa hingga kontribusi nyata bagi masyarakat.

"Forum seperti ini sangat penting karena menjadi ruang transformasi pengetahuan. Mahasiswa tidak hanya memperoleh ilmu dan pengalaman dari para narasumber, tetapi juga menghasilkan karya ilmiah yang dapat dipublikasikan melalui prosiding sebagai bentuk rekognisi akademik," ungkapnya.

Lebih lanjut, Sudahri menilai tema-tema yang diangkat dalam konferensi sangat relevan dengan peran mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa konsep pemberdayaan masyarakat yang dibahas dalam forum tersebut sejalan dengan tugas perguruan tinggi dalam mendorong masyarakat berkembang dari kondisi kurang berdaya menuju masyarakat yang mandiri dan berdaya saing.

"Mahasiswa memiliki tanggung jawab sebagai agent of change. Melalui forum seperti ini diharapkan lahir gagasan-gagasan baru yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pembangunan daerah," katanya.

Selain menjadi ruang diskusi, kegiatan ini juga merupakan implementasi dari beberapa mata kuliah di Program Studi Ilmu Pemerintahan, di antaranya Pemerintahan Desa dan Metode Penelitian Kuantitatif. Hasil presentasi mahasiswa direncanakan akan dihimpun dalam prosiding ilmiah sebagai luaran akademik sekaligus mendukung penyusunan tugas akhir mahasiswa.

Dekan FISIP berharap Mini Conference on Local Governance dapat menjadi agenda rutin yang terus berkembang, tidak hanya melibatkan mahasiswa Ilmu Pemerintahan, tetapi juga membuka partisipasi dari program studi lain di lingkungan Universitas Muhammadiyah Jember.

"Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada penyelenggaraan pertama. Ke depan dapat diperluas menjadi forum akademik lintas program studi sehingga semakin banyak ide, gagasan, dan solusi yang lahir untuk menjawab berbagai persoalan di masyarakat," pungkasnya.

 

Connect